Tampilkan postingan dengan label pupuk kandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pupuk kandang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Peluang Usaha Pertanian : Andi mendirikan bank kotoran ternak untuk kesejahteraan petani














Prihatin melihat nasib petani yang terimpit harga pupuk kimia, Andi Muhammad Arif Hidayatullah menggagas pendirian Bank Kotoran Ternak. Selanjutnya, kotoran itu diolah menjadi pupuk organik yang dijual kepada para petani dengan harga murah. Alhasil, petani pun akan terbebas dari pupuk kimia yang harganya semakin mahal.

Hasrat kuat untuk meningkatkan kesejahteraan para petani di sekitar tempat tinggalnya, membawa Andi Muhammad Arif Hidayatullah terlibat dalam pendirian dan pengelolaan Koperasi Syariah Bangun Tani Mandiri di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada tahun 2009.

Di koperasi yang fokus pada pemberdayaan kelompok tani ini, Arif demikian sapaan akrabnya, menggagas pendirian Bank Kotoran Ternak (BKT) sejak April 2011 lalu. Menurutnya, ide ini tercetus lantaran ia prihatin melihat nasib para petani yang terus terbebani oleh kenaikan harga pupuk kimia. Selain itu, pengetahuan soal pengolahan dan pemakaian pupuk organik dari kotoran ternak di kalangan petani juga masih minim.

Bukan itu saja, niat Arif ini makin kuat karena koperasi membeli tabung biogas yang bisa memproduksi pupuk organik dari kotoran ternak di koperasinya. "Setelah melakukan penyuluhan dengan anggota kelompok tani, akhirnya kami membantuk bank (kotoran ternak) ini sebagai wadah pengumpul bahan pembuat pupuk," ujarnya.

Arif ingin BKT tak hanya bermanfaat bagi petani. Ia juga ingin anak-anak petani bisa mendapatkan uang tambahan dengan ikut menyetor kotoran ternak yang kemudian ditukar dengan uang.

Setiap satu kilogram kotoran ternak itu, penyetor akan mendapat Rp 200 dari BKT. "Biasanya mereka akan mengambil uang pada akhir bulan, saat sudah terkumpul banyak," ujar pria yang kini berusia 30 tahun ini.

Sayang, dari sekitar 20 kelompok tani di Kecamatan Tanralili, baru dua kelompok yang aktif menyetor kotoran ternak di BKT. Padahal, jika 18 kelompok tani yang menjadi anggota koperasi, jumlah kotoran ternak akan lebih banyak.

Dengan setoran dua kelompok tani itu, BKT mampu memproduksi hingga empat ton pupuk organik, baik dalam bentuk cair maupun padat.

Untuk pupuk cair, Arif tidak menggunakan bahan baku kotoran dalam bentuk padat. Ia hanya memakai air seni hewan ternak serta air hasil pembersihan kandang hewan ternak.

Adapun untuk satu kilogram pupuk padat, diperlukan 700 gram kotoran kering. Sisanya adalah limbah padi. Semua bahan itu lantas difermentasi menjadi pupuk.

Dengan harga jual ke para petani sekitar Rp 1.000 per kg, Arif bilang, bank baru bisa meraup omzet Rp 4 juta per bulan. Ia pun menegaskan, kalau bank memang bukan mencari keuntungan.

Arif menjelaskan, tujuan BKT adalah membantu para petani yang terjepit harga pupuk yang kian melangit. "Kami bisa menghasilkan pupuk yang dijual dengan harga 300% lebih murah dari pupuk kimia," ujarnya.

Hanya saja, produksi pupuk organik belum bisa mencapai skala komersial karena keterbatasan bahan dan sumber dana manusia. Maklum, sebagian besar proses pembuatan pupuk ini dikerjakan secara manual.

Karena itu, BKT masih fokus pada penjualan pupuk untuk petani di Tanralili. "Saat ini, kami masih menyosialisasikan manfaat bank ini sehingga nanti bisa menarik lebih banyak kelompok tani untuk bergabung," ujar Arif optimistis.

Sebab, Arif yang memiliki cita-cita membangun pertanian di tanah kelahirannya itu ingin BKT benar-benar memberi keuntungan maksimal untuk petani. Arif pun tak pernah berhenti berkampanye tentang berbagai manfaat pupuk organik dan bagaimana membuatnya.

Menurut Arif, hasil penjualan pupuk organik yang ditampung dalam BKT juga akan dibagikan secara merata sesuai kontribusi anggotanya. "Komposisi pembagiannya adalah 70% untuk anggota dan 30% untuk biaya operasional bank ini," tutur lelaki yang menjadi finalis Community Entrepreneurs dari British Council pada 2011 ini.

Untuk mempersiapkan pasar bagi pupuk organiknya, Arif juga rajin memberi penyuluhan pada petani-petani yang berada di luar Kecamatan Tanralili. Alhasil, ketika produksi pupuk sudah makin besar, pasar akan siap menerima pupuk organik dari BKT.

Kini, meski masih dalam porsi mungil, pupuk organik memang telah dijual di luar Tanralili. "Namun, kami menjualnya dengan harga dua kali lipat untuk warga di luar Tanralili. Itu pun, dengan catatan, stok pupuk untuk kebutuhan petani Tanralili harus terpenuhi lebih dulu," jelas Arif.

Ia pun menghitung, jika seluruh kelompok tani yang berjumlah 20 unit di Tanralili ikut serta dalam pembuatan pupuk organik di BKT, maka bisa dihasilkan pupuk organik senilai Rp 92 juta per bulan. "Bayangkan, begitu besar potensi ekonomi dari kotoran yang dianggap tak berguna ini," tandasnya.

Untuk itu, ia berharap usaha pupuk organik ini akan memperoleh dukungan penuh, baik dari kelompok tani maupun pemerintah daerah setempat.

Arif pun percaya, idenya bisa diterapkan pada semua areal pertanian sehingga petani bisa merasakan manfaat yang lebih banyak. "Kami berharap pola seperti ini bisa membantu pola pertanian berkelanjutan serta menumbuhkan kesadaran petani tentang manfaat pupuk organik," imbuhnya,

Pria yang juga kini sedang menyusun rencana pembuatan wisata edukasi bagi para anak sekolah untuk berkunjung ke pabrik beras dan peternakan di Kabupaten Maros ini juga menyatakan, dengan menghasilkan pupuk organik sendiri, petani akan terhindar dari permainan harga pupuk yang selama ini membelenggu mereka.(KONTAN)

Senin, 11 April 2011

Integritas Ternak dan Pertanian



Pupuk kompos yang diproduksi Hasyim hingga saat ini masih tergolong kecil, berkisar tiga ton per bulan dengan merek Reksa. Sementara pemasarannya juga masih terbatas, selain lokal juga sebagian dipasarkan ke Aceh dengan harga jual Rp 1.000 per kg.

Produksi pupuk kompos itu masih bersumber dari kotoran padat sapi saja, sementara Hasyim juga sudah memproduksi pupuk cair organik dari ternak, baik sapi maupun domba. Yang tiap bulannya dapat memproduksi pupuk cair sebanyak 50 – 70 liter atau tergantung permintaan. Dan, tiap liternya pupuk cair organik itu dijualnya seharga Rp 10.000-an.

Namun, menurut Hasyim, permintaan akan urine sapi dan domba dalam bentuk segar artinya belum diolah sama sekali, cukup banyak. “Bisa mencapai ribuan liter untuk tiap kali pengambilan. Biasanya, urine segar tersebut dibeli oleh petani dari Kabupaten Karo seharga Rp 500 per liter,” katanya.

Dalam sehari domba yang dimiliki Hasyim sebanyak 48 ekor tersebut dapat menghasilkan urine sebanyak 10 – 15 liter. Inilah yang dikumpulkan Hasyim untuk selanjutnya diolah untuk pupuk cair organik dan sebagian lagi dijual dalam segar.

Mengenai proses pengolahan pupuk cair organik, menurut Hasyim tidak terlalu sulit bahkan bahan baku yang digunakan sangat mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Sebut saja, bawang putih dan daun sirsak. Kedua bahan tersebut dihaluskan kemudian disaring dan dicampur dengan urine.

Namun, sebelumnya urine ternak tersebut telah dicampur dengan Kom A yang fungsinya sama dengan EM4. Kemudian dilakukan fermentasi sekitar satu minggu. Untuk kemudian, pupuk siap digunakan. “Jadi, produk ini tidak hanya berfungsi sebagai pupuk saja tapi juga sebagai pestisida nabati,” jelasnya.

Menanggapi pengolahan dan penggunaan pupuk kompos dari kotoran ternak yang dilakukan Hasyim, Kepala Dinas Pertanian Sumut, M Roem melalui Kabid Pengelolaan Lahan, Air (PLA) dan Sarana Adam Brayun Nasution, sangat mengapresiasinya. Bahkan menurut Adam, petani lain harus bisa memberdayakan potensi yang ada untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan.

Apalagi pemerintah pusat telah mencanangkan pertanian Go Organik. Sehingga untuk menunjang program tersebut banyak bantuan yang telah diberikan pemerintah kepada petani, seperti pengadaan alat pengolahan pupuk organik (APPO) dan unit pengolahan pupuk organik (UPPO). Khusus untuk UPPO, di dalamnya ada pengadaan ternak sapi sebanyak 33 ekor yang diberikan kepada kelompok tani.

Dengan harapan, petani dapat memproduksi sendiri pupuk kompos dari kotoran sapi tersebut. “Yang jelas, pupuk kompos yang mereka produksi untuk dipakai sendiri pada tanaman padinya atau komoditas lainnya dan sisanya kalau memang ada dan memungkinkan untuk dipasarkan mengapa tidak. Dengan begitu, ada peningkatan pendapatan petani,” jelas Adam kepada MedanBisnis.

Terciptanya sinergi atau integritas antara peternakan dan pertanian memang sangat diharapkan, seperti yang dilakukan Hasyim dan petani lainnya. “Hasil pertaniannya bagus dalam hal ini ada peningkatan produksi dan penurunan biaya produksi dari pengurangan pemakaian pupuk anorganik yang akhirnya pendapatan petani meningkat. Bukan itu saja, petani juga bisa menjual pupuk kompos yang diproduksinya sendiri serta menjadi peternak,” ucapnya.

Adam juga sangat menyayangkan minimnya kemampuan dan kemauan petani dalam menggunakan pupuk organik. Petani masih tetap menginginkan produk yang instan dalam bercocok tanam. Padahal, sebagaimana diketahui harga pupuk anorganik di luar dari subsidi sangat mahal. Dan, yang lebih parah lagi kata Adam, kondisi tanah pertanian secara umum sudah mengalami degradasi.

Tanah sudah gersang dan tidak gembur lagi. Sehingga untuk merangsang kesuburan tanah, petani harus mengunakan pupuk dalam jumlah yang lebih. “Kondisi ini bukan membantu tingkat kesuburan tanah melainkan sebaliknya makin memperparah. Biaya produksi juga makin tinggi.

Kecuali, petani menggunakan pupuk organik, maka lambat laun tingkat kesuburan tanah makin baik, produksi pertanian makin tinggi dan yang paling penting lagi pendapatan petani makin bertambah,” terangnya.

Begitupun, pihaknya akan tetap menyosialisasikan penggunaan pupuk organik tersebut sehingga petani benar-benar mengerti dan memahami pentingnya penggunaan pupuk organik dalam pertanian serta bagi kesehatan manusia.

Hasyim yang hanya memiliki ternak sapi satu ekor saja namun memiliki domba sebanyak 48 ekor itu tidak mau menyerah begitu saja. Tiap hari ia mengangkut sekitar 100-an kilogram kotoran sapi dari rumah-rumah tetangga yang memiliki ternak sapi. Kotoran sapi dalam bentuk padat itu kemudian dimasukkan ke dalam kolam khusus yang memang sudah dirancang sedemikian rupa.
Ada empat kolam yang disediakan dan masing-masing kolam memiliki ukuran dan kedalaman yang berbeda tergantung kegunaannya. Kolam pertama yang sebagai penampungan kotoran sapi dibuat berukuran 2,5 x 4 meter persegi, kolam kedua 3 x 1,5 meter persegi, kolam ketiga berukuran 60 x 60 cm2 dan kolam terakhir berukuran 1,5 x 1 m2.

“Jadi, kotoran-kotoran sapi yang saya angkut sebanyak 100 kg itu saya masukkan ke dalam kolam pertama hingga penuh. Untuk selanjutnya akan terjadi pemisahan kotoran dan air yang memang mengandung gas. Cairan yang mengandung gas ini akan mengalir ke dalam bak satunya.

Begitulah selanjutnya, yang akhirnya gas yang dikeluarkan akan dialirkan melalui pipa hingga ke dalam rumah atau tempat yang akan kita gunakan untuk pemanfaatannya,” papar Hasyim.

Dari 100 kg kotoran sapi yang diangkut itu, gas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk memasak selama tujuh jam non stop. “Itu kalau masakan kita banyak. Tapi kalau untuk skala rumah tangga dua atau tiga jam saja sudah cukup dalam sehari. Dan, sisanya bisa digunakan untuk keperluan memasak besok harinya atau kapan saja kita perlu,” ucapnya.

Sedangkan untuk pengadaan sarana tersebut investasi yang dikeluarkan menurut Ketua Kelompok Tani Bangun Tani ini berkisar Rp 14 jutaan. Namun, untungnya sarana yang digunakan Hasyim untuk menampung gas kotoran sapi tersebut merupakan bantuan dari Dinas Peternakan Sumut tahun 2008 lalu.

Begitupun, Hasyim mengaku alangkah indahnya bila sarana tersebut bisa juga dimanfaatkan peternak lainnya. Karena menurut Hasyim dengan investasi yang lumayan besar, gas yang dialirkan bisa dibagi ke warga atau tetangga lainnya. Hanya saja, pengaturannya harus dirancang sedemikian rupa antara kolam penampung kotoran dengan kandang ternak. “Antara kandang ternak dengan bak penampungan harus berdekatan, sehingga system kerjanya bisa lebih efektif,” ujarnya.

Sayangnya, Hasyim sendiri tidak memiliki ternak sapi yang memadai. Karena idealnya, untuk menghasilkan sekitar 100 kg kotoran sapi paling tidak harus ada sapi dewasa sekitar lima ekor. Sementara Hasyim sendiri hanya memiliki satu ekor sapi. Dan, untuk menghasilkan gas ia harus mengangkut kotoran sapi milik tetangga.

Karena itu, untuk melengkapi biogas yang dihasilkannya, ia berharap Dinas Pertanian baik Kabupaten Langkat maupun Propinsi Sumut dapat memberikan bantuan UPPO atau unit pengolahan pupuk organik yang di dalamnya ada pengadaan ternak sapi.

Memang, kata dia, dirinya pernah mendapat bantuan dari Dinas Pertanian berupa pengadaan rumah kompos satu unit, hand tractor dan alat mesin pertanian lainnya. “Tahun 2009-2010, saya memperoleh bantuan tersebut. Tapi, kalau masih dibolehkan, saya berharap ada bantuan UPPO diberikan guna melengkapi biogas yang saya hasilkan. Itu juga kalau ada dan boleh,” katanya tertawa namun penuh harap.

Hasyim lebih jauh mengatakan, ampas atau sisa kotoran sapi yang telah terbebas dari kandungan gas tadi dapat langsung digunakan sebagai pupuk kompos. “Jadi, kita tidak perlu repot lagi mengolahnya seperti biasa. Karena dengan sendirinya, kotoran yang sudah habis kandungan gasnya bisa langsung dijadikan pupuk,” ujarnya.

Minggu, 27 Maret 2011

Beda Tanamannya, Beda Asal Komposnya


Dalam pengolahan kompos, H Rusmin mengambil bahan baku berupa kotoran ternak baik sapi, domba, ayam maupun itik dari pemilik ternak yang ada di daerahnya. Tentu saja dengan cara membeli. Untuk kotoran sapi misalnya, harga tiap truk atau sekitar 6 ton berkisar Rp 400 ribu, dalam keadaan basah atau segar.
Sedangkan dalam pembuatan kompos yang dilakukan Rusmin bersama anggota kelompok taninya, tidaklah rumit. Menurutnya, bahan-bahan berupa kotoran ternak dipisahkan masing-masing jenisnya. Kemudian kotoran ternak sebanyak satu ton dicampur dengan serbuk kayu, abu sekam, jerami, dedaunan atau rumput dan biostater berupa stardec.

Untuk bahan campuran sebanyak satu ton, stardec yang digunakan sebanyak 3 kilogram yang ditaburkan ke dalam campuran tadi. Kemudian diperam selama 21 hari untuk selanjutnya dianginkan antara 3 – 4 hari. Kemudian digiling dengan alat mesin pencacah kompos. Selanjutnya, kompos siap dipasarkan atau digunakan. “Biasanya, kompos yang dihasilkan dari bahan sebanyak satu ton menjadi 600 – 700 kg,” jelas Rusmin.

Dalam pemasaran, kompos yang mereka produksi dijual seharga Rp 1.000 per kg dengan catatan diambil di tempat. Itu berarti, dengan produksi sebanyak 700 kg, omset yang diperoleh Rusmin bersama anggota kelompok taninya sebesar Rp 700.000. Sementara dalam sebulan, kompos yang mereka produksi berkisar antara 600 – 700 ton. Dengan begitu, omset yang terkumpul berkisar antara Rp 600 juta hingga 700 juta per bulan.

Sementara biaya produksi yang mereka keluarkan dalam memproduksi satu ton berkisar Rp 200 ribu dan itu belum termasuk upah kerja. Dalam sehari, upah kerja yang dibayarkan Rp 40.000 per hari per orang. Sedangkan pekerja yang dipakai sebanyak enam orang dalam sehari. “Memang, pekerja yang kita pakai adalah anggota kelompok tani sendiri tapi tetap kita bayar,” jelas Rusmin.

Rusmin yang telah meraih berbagai penghargaan dari pemerintah baik kabupaten, propinsi maupun pusat termasuk Kementerian Pertanian ini mengaku keuntungan yang diperoleh lumayan banyak. Dan, keuntungan itu dibagikan ke anggota kelompok taninya. “Jadi, penghasilan yang diperoleh dari pengolahan kompos ini sangat membantu petani dan warga sekitarnya dalam penambahan pendapatan,” akunya.

Rusmin juga mengatakan tiap pupuk kompos organik yang dihasilkan dari kotoran ternak, tidak semua bisa dugunakan untuk tanaman. Kompos yang dihasilkan dari kotoran sapi misalnya, sangat baik digunakan untuk tanaman padi, cabai, kakao dan kelapa sawit. “Untuk tanaman cabai, kompos yang digunakan dari kambing juga baik,” jelasnya.

Sedangkan dari kotoran ayam, untuk tanaman cabai menurut Rusmin tidak terlalu baik karena dapat menyebabkan daun tanaman cabai menjadi keriting. Karena kandungan N atau nitrogen dari kotoran ayam sangat tinggi. Tetapi untuk sayuran lainnya, kompos dari kotoran ayam sangat baik. “Jadi, kompos yang dihasilkan dari kotoran ternak tidak semua dapat digunakan untuk tanaman. Beda kotoran beda tanamannya,” kata Rusmin.

Jumiran adalah salah seorang petani di Desa Tanjung Ibus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat yang mendapat pembinaan dari H Rusmin tentang pembuatan kompos organik. Kegiatan itu dimulainya sejak tahun 2008. Selain memanfaatkan kotoran ternak sapi miliknya ia juga memanfaatkan kotoran ternak sapi milik warga sekitarnya yang memang tidak dimanfaatkan.
Dari kemampuannya dalam mengolah kotoran tersebut menjadi pupuk kompos, Jumiran pun mendapat bantuan dari Dinas Pertanian Langkat berupa satu unit alat pengolah pupuk organik (APPO). Tidak hanya itu, tahun 2010 Jumiran yang juga Ketua Kelompok Tani Sri Sari Wangi yang berjumlahkan 28 orang itu kembali mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian Sumut berupa satu unit APPO multi guna.

Kemudian di tahun yang sama, melalui APBN-P, Jumiran mendapat bantuan lagi. Kali ini, bantuan yang diterima pun tidak tanggung-tanggung, yakni satu unit pengolah pupuk organik (UPPO), yang terdiri dari alat angkut tiga roda sebanyak satu unit, mesin APPO satu unit, rumah kompos ukuran 8 x 10 meter persegi, sapi dara sebanyak 35 ekor.

Tapi, oleh Jumiran dan anggota kelompok taninya lewat swadaya mereka sendiri menukar sapi dara bantuan tadi ke sapi induk. Bahkan saat berkunjung ke lokasi pengolahan komposnya, sebagian sapi-sapi induk tadi sudah ada yang melahirkan. “Ada enam ekor anak sapi yang sudah lahir, sehingga sekarang jumlah sapi bertambah menjadi 41 ekor,” jelasnya.

Mengenai produksi kompos yang mereka hasilkan, Jumiran mengatakan, hingga sekarang mereka bisa memproduksi sekitar 25 ton per hari. Namun, dengan adanya bantuan tersebut mereka menargetkan produksi ditingkatkan menjadi 30 ton per bulan. Pupuk kompos tersebut selain digunakan anggota kelompok juga dijual. “Untuk anggota kelompok, kompos dijual seharga Rp 500 per kg sedangkan di luar anggota Rp 1.000 per kg,” jelasnya.

Setelah dikurangi biaya produksi, 10% dari keuntungan yang diperoleh dibagi ke anggota kelompok dengan memasukkan dana tersebut ke dalam kas kelompok tani mereka. “Rata-rata kenutungan yang kami peroleh dari penjualan kompos organik ini berkisar Rp 3 jutaan,” kata Jumiran sembari menambahkan bantuan yang mereka terima sangat bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan petani.

Rabu, 29 Desember 2010

Teknik Pembuatan Pupuk Kandang

Umumnya pembuatan pupuk kandang dilakukan dengan cara menyimpan atau menimbun kotoran hewan selama sekitar 3 bulan. Namun pembuatan pupuk kandang ini sebenarnya dapat dipercepat proses penguraiannya dengan penambahan bio-aktivator sebagai bahan pemacu mikroorganisme.

Tahap pembuatan pupuk kandang adalah sebagai berikut :
Bahan-bahan yang digunakan
  • kotoran hewan 1 ton,
  • bio-aktivator 1 liter,
  • molase (larutan gula) 1 liter,
  • air sumur 100 l.
Alat-alat yang digunakan
  • karpet atau terpal plastik,
  • cangkul,
  • sarung tangan,
  • ember,
  • termometer.
Cara pembuatan pupuk kandang
  • tentukan lokasi pembuatan pupuk kandang kemudian tempat tersebut dibersihkan. Diusahakan alas tempat pembuatan pupuk kandang terbuat dari lantai atau alas plastik,
  • dibuat galangan atau sekat disekeliling kotoran hewan agar air atau rembesan air tidak masuk ke kotoran hewan,
  • dicampur atau disiram kotoran hewan dengan campuran air, bio-aktivator dan molase, kemudian diaduk merata,
  • dihamparkan bahan kotoran hewan tadi di atas lantai dengan ketinggian tumpukan 15-20 cm dan dibuat segi empat atau persegi panjang,
  • mengingat pembuatan pupuk kandang ini secara anaerobik, tutup bahan kotoran hewan dengan plastik atau terpal. Suhu ideal proses pembuatan pupuk kandang ini adalah 50-60 derajat Celcius dan jika suhu lebih maka dibuka terpal sewaktu-waktu untuk menurunkan suhu,
  • dibiarkan proses penguraian berlangsung selama 7-14 hari,
  • setelah itu, diperiksa kotoran hewan apakah sudah matang dengan ciri tidak lagi berbau tajam, terasa dingin dipegang dan warnanya gelap,
  • jika sudah berciri-ciri seperti itu maka dapat dikatakan sudah menjadi pupuk kandang,
  • dibuka terpal penutupnya dan pupuk kandang diaduk merata,
  • dikeringkan di bawah sinar matahari untuk proses pengeringan, dikeringkan selama 2 hari dengan sinar matahari penuh tidak mendung atau pupuk kandang sudah berkadar air 30 %,
  • diayak pupuk kandang untuk membuang partikel kasar atau besar,
  • pupuk kandang sudah siap digunakan.
Perlu diingat bahwa kotoran hewan bukanlah pupuk kandang namanya jika belum terjadi proses penguraian atau dekomposasi pada kotoran hewan tersebut. Proses dekomposasi baru terjadi jika kotoran hewan ditimbun atau disimpan 3 bulan atau dipercepat prosesnya dengan bio-aktivator, baru kemudian dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.