Tampilkan postingan dengan label daging sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daging sapi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2011

Berita Pertanian : Mentan Sebut Harga Sapi Aneh












JAKARTA.
Menteri Pertanian Suswono menuturkan ada kejanggalan atas harga daging sapi yang beredar di masyarakat. Dia mengungkapkan pemberhentian ekspor sapi yang dilakukan oleh Australia pada dasarnya sudah mulai mempengaruhi harga sapi dalam negeri.

"Harga ini aneh, harga daging sapi tidak turun, tapi harga sapi hidup (lokal) terus turun," jelas dia di Jakarta.

Dia pun mengimbau pedagang daging sapi agar lebih banyak menggunakan sapi peternak lokal, meskipun keuntungan yang didapat akan lebih kecil. "Mengurangi sedikit keuntungan, tapi bisa mensejahterakan peternak tak apa-apa lah," ujarnya.

Dikatakannya, saat ini memang para potensi para peternak lokal masih kurang dimanfaatkan oleh para pedang, karenannya dia menghimbau agar para pedagang lebih banyak lagi menggunakan sapi dari peternak lokal.

"Cobalah juga memanfaatkan ternak lokal sedikit agar peternak lokal bisa tertawa, minimal senyum," tukasnya.

Sabtu, 11 Juni 2011

Berita Pertanian : Jangan Manfaatkan Untuk Naikkan Harga Daging

Jakarta. Pemerintah meminta importir maupun pedagang agar tidak memanfaatkan penghentian ekspor sapi oleh Australia untuk menaikkan harga daging impor.

Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Jumat mengatakan, meskipun Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, namun mereka tetap melakukan ekspor daging.

"Daging impor yang ada harganya tidak mengalami kenaikan, oleh karena itu jangan manfaatkan (penghentian ekspor sapi) untuk menaikkan harga daging (di dalam negeri)," katanya.

Pada kesempatan itu Mentan menyatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Asosiasi Importir Daging Sapi Indonesia (Aspidi) dan Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo).

Kedua asosiasi itu, tambahnya, telah menyampaikan komitmennya terkait dengan kebijakan Australia yang menghentikan untuk sementara ekspor sapi bakalan ke Indonesia selama 6 bulan menyusul dugaan adanya penyiksaaan dalam proses penyembelihan hewan tersebut.

"Mereka komitmen untuk tetap menjaga stabilitas harga sehingga tidak terjadi lonjakan akibat suspense ini," katanya.

Menyinggung upaya yang akan dilakukan untuk menjaga kestabilan harga daging sapi, Suswono menyatakan, dengan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasaran.

"Kami juga akan meminta kepada Kementerian Perdagangan untuk mengawasi agar tak ada yang menaikkan harga (daging)," katanya.

Menurut Mentan, selain sapi sebenarnya masih banyak jenis ternak lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging seperti ayam, domba, kambing, kelinci dan lain-lain.

Sementara itu menyinggung pasokan daging untuk puasa maupun hari raya, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Prabowo Respatiyo menjamin tidak akan terganggu.

Dikatakannya, kebutuhan daging pada hari raya 1431 H atau 2010 sebanyak 61 ribu ekor untuk sapi, 2.871 ekor kerbau, 274.403 kambing dan 58.941 ekor domba.

"Untuk tahun ini diperkirakan tak beda jauh dengan tahun lalu," katanya.

Sementara itu dari total kebutuhan daging setara 2,3 juta ekor sapi per tahun potensi untuk dipotong sebanyak 2,4 juta ekor.

Jumat, 29 April 2011

Berita Pertanian : DPR Sambut Baik Swasembada Daging di Soppeng

Soppeng, Sulawesi Selatan. Anggota Komisi IV DPR RI dari Partai Demokrat Mohammad Jafar Hafsah mendukung kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan untuk menjadi daerah yang berswasembada daging sapi.

Hal itu dikatakan oleh Jafar disela-sela kunjungan kerja sebagai anggota DPR RI ke Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Jumat.

"Saya mendukung kebijakan tersebut dan diharapkan Kabupaten Soppeng menjadi salah satu kabupaten penghasil daging sapi terbesar di Sulsel," kata Jafar.

Ia mengatakan, untuk mendukung kebijaksanaan swasembada daging sapi memang diperlukan impor induk sapi atau anak sapi betina untuk dikembangkan.

"Kalau kita ingin swasembada daging sapi, kita harus mengembangkan dengan memelihara sapi-sapi dari luar, jangan sapi-sapi yang ada di kabupaten sendiri, juga jangan hanya mendatangankan sapi dari kabupaten tetangga. Tapi harus didatangkan sapi dari luar provinsi, bila memungkinkan mendatangkan sapi dari Australia," kata Jafar.

Ia menyarankan, dalam rangka swasembada daging, masyarakat diminta untuk tidak menyembelih sapi betina.
"Pemda Kabupaten Soppeng diminta untuk mengawasi dan melarang masyarakat menyembelih sapi dengan memberikan ganti rugi. Kalu mendatangkan sapi dari luar, haruslah sapi betina atau anak sapi betina agar mudah dikembangbiakan," kata Jafar.

Untuk tahun 2010, Pemerintah Pusat telah menyerahkan bantuan sebesar Rp1,5 miliar kepada Pemda Soppeng dan bantuan untuk swasembada daging sapi tahun 2011 akan terus diberikan melalui APBN Perubahan.

Sementara Kepala Dinas Peternakan Kementerian Pertanian Kab Soppeng, Sugirman mengatakan, pemerintah pusat telah membuat program swasembada dagaing sapi.

"Sudah 2 kali pemerintah pusat membuat program tersebut, yakni tahun 2005 dan 2010. Tapi kebijakan itu tidak jalan," kata Sugirman.

Menurut dia, dengan mengimpor sapi asal Australia, swasembada daging sapi dipastikan bisa meningkat di Kabupaten Soppeng.

"Selama ini, daging yang dihasilkan sapi lokal sangat rendah. Kalau kita mendatangkan sapi dari Australia, bisa per ekornya mencapai 800 kilogram," katanya.

Untuk tahun 2005, kata Sugirman, jumlah sapi di Kabupaten Soppeng mencapai 15 ribu ekor. Sedangkan tahun 2010, jumlah sapi mencapai 23 ribu ekor. Sementara bantuan dari APBD Kabupaten Soppeng hanya bisa untuk memelihara 13 ekor sapi.

"Kita (Pemda Soppeng) tidak bisa mengimpor sapi sendiri, karena kebijakan impor itu ada di pusat. Maka, sebaiknya pemerintah pusat mengubah kebijakan itu demi kesejahteraan masyarakat juga," kata Sugirman.

Rabu, 13 April 2011

Berita Pertanian : Harga Pasara Sapi Madura Anjlok








PAMEKASAN.Harga jual sapi Madura dalam tiga bulan terakhir ini anjlok di pasaran.

“Harga sapi turun hingga seratus persen,” kata pedagang sapi di Pasar Keppo, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Subahri, Kamis (14/4/2011).

Untuk sapi yang sebelumnya mencapai Rp3 juta, menurut Subahri saat ini hanya sekitar Rp1,5 juta per ekor.

Ia menjelaskan anjloknya harga sapi Madura di pasaran ini akibat musin panen tembakau di Pamekasan gagal. Biasanya, sambung Subahri, pada musim panen tembakau harga sapi naik.

“Tapi faktanya tidak seperti itu. Dan sampai sekarang masih tetap rendah,” ucap.

Anjloknya harga sapi ini tidak diimbangi dengan harga daging di pasaran. Sebab, meski harga sapi anjlok, harga daging tetap mahal, yakni Rp55 ribu perkilogram.

Rabu, 06 April 2011

Berita Pertanian : Jatah Impor Naik Menjadi 72.000 Ton








Jakarta. Pemerintah menambah kuota impor daging sapi pada 2011 dari rencana awal 50.000 ton menjadi 72.000 ton untuk mengantisipasi kekurangan pasokan daging sapi di masyarakat. Kenaikan ini dilakukan karena Kementerian Pertanian belum menemukan masalah rantai distribusi sapi yang menyebabkan harga daging sapi tinggi dan terkadang tidak tersedia di pasar.

Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Rabu (6/4), usai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas terkait isu pangan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurut Suswono, data produksi sapi saat ini menunjukkan sebesar 12 juta ton. Angka itu seharusnya sudah menunjukkan bahwa Indonesia swasembada daging sapi sebab kebutuhan daging sapi Indonesia sendiri hanya mencapai 423.000 ton per tahun. Itu menunjukkan adanya kekacauan data.

”Atas dasar itu, kami sangat berharap ada data yang lengkap dari sensus ternak nasional pada Juni 2011. Bagaimanapun juga, Indonesia bisa dikatakan telah swasembada jika 90 persen kebutuhan di Indonesia telah terpenuhi dari pasokan domestik. Artinya, cukup hanya impor 10 persen dari kebutuhan daging. Kenyataannya, sekarang yang diimpor bisa mencapai 25 persen,” ujarnya.

Atas dasar itu, Suswono mengatakan, pemerintah telah menaikkan batas toleransi impor daging sapi tahun ini sebesar 22.000 ton. Hal itu menyebabkan kuota daging impor bertambah menjadi 72.000 ton.

Beberapa waktu lalu, terungkap penyelundupan impor daging sapi ilegal sebanyak 51 kontainer. Daging ilegal itu tidak dilengkapi surat izin impor atau yang disebut surat persetujuan pemasukan.

Kementerian Pertanian memutuskan memberikan sanksi kepada para importir dengan mengharuskan membawa keluar daging ilegal dari Indonesia.

Pada 2010, penyelundupan daging dan sapi bakalan juga pernah terjadi. Namun, saat itu daging ilegal dimanfaatkan untuk menambah pasokan pasar di dalam negeri. Akibatnya, harga sapi di tingkat peternak lokal jatuh.

Kamis, 17 Maret 2011

Berita Pertanian : Impor Daging Sapi Beku Dibiarkan, Swasembada Sapi Sulit Tercapai



JAKARTA. Daging beku impor masuk ke pasar tradisional dan ditengarai daging ini diusung secara ilegal ke Indonesia. Jika volume daging impor terus bertambah lantaran tingginya permintaan, maka akan merusak harga daging sapi lokal dan peternak dalam negeri juga tidak akan melirik pemeliharaan sapi karena tidak ada jaminan harga. Ujung-ujungnya, swasembada pun akan sulit tercapai.

“Ketentuan pelarangan daging beku masuk ke pasar tradisional tidak ada. Mestinya pemerintah memperketat standar; hanya daging-daging berkualitas tinggi dan tidak diporduksi di dalam negeri saja yang diimpor, sisanya dipenuhi sapi lokal,” kata Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana. Daging-daging impor itu, imbuh Teguh, sebaiknya hanya untuk memenuhi kebutuan restoran dan hotel-hotel saja.

Teguh juga mengingatkan agar pemerintah lebih jeli mencermati impor daging beku ini. Soalnya, peredaran daging sapi ilegal ini sangat terbuka lebar dengan modus yang beragam.

“Sangat mungkin daging sapi itu ditebengi dengan impor ikan yang melalui jalur hijau, karena tidak ada ketentuan yang ketat dalam impor ikan,” tandasnya.

Asal tahu saja, impor daging sapi setiap tahun terus meningkat. Menurut data yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian, impor daging sapi tahun 2009 mencapai 75.171 ton, 57.089 ton dalam bentuk daging, 18.082 ton adalah jeroan.

Volume itu lebih tinggi dibanding tahun 2008 yang hanya 70.039 ton, 49.185 ton merupakan daging nya dan 20.854 ton jeroan.

Sementara itu hingga Mei 2010 realisasi impor daging sapi mencapai 7.095 ton. Tahun ini, impor daging ditargetkan turun 5% dibanding tahun lalu.