BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Minggu, 05 Juni 2011
Berita Pertanian : Mentan Tak Khawatir Australia Hentikan Ekspor Sapi
"Kalau mereka (Australia, red.) memang mau menyetop silakan, masih ada pilihan negara-negara lain yang mau ekspor sapi," katanya, usai Peringatan Hari Susu Nusantara 2011, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Sabtu.
Menurut dia, dugaan adanya RPH yang tidak memenuhi "animal welfare" (kaidah kesejahteraan hewan) hingga melakukan penyiksaan terhadap sapi sebelum disembelih memang perlu dibuktikan benar atau tidaknya.
Saat ditanya adanya tayangan video penyiksaan sapi yang diputar di Australia, ia mengatakan masih perlu dibuktikan kebenarannya, dan hal itu menjadi masukan yang sangat berharga untuk membenahi RPH-RPH yang ada.
Ia mengatakan kalaupun ternyata ada satu-dua RPH yang berlaku semacam itu terhadap hewan, tentunya tidak bisa digeneralisasi terhadap seluruh RPH sampai memutuskan kegiatan ekspor sapi yang selama ini berjalan.
"Keberadaan RPH-RPH ini menjadi kewenangan penuh pemerintah daerah, karena itu kami meminta pemda-pemda untuk aktif mengawasi kegiatan pemotongan hewan di RPH agar sesuai dengan kaidah yang ditetapkan," katanya.
Untuk rencana Australia yang akan menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, ia mengatakan tidak perlu ditanggapi dengan penuh kekhawatiran dan akan membicarakan persoalan itu dengan pemerintah Australia dalam waktu dekat.
Ia mengakui Indonesia pernah negara pengekspor sapi ke negara-negara lain, termasuk ke Hong Kong sekitar tahun 1976, namun mulai 1990 Indonesia justru menjadi negara yang mengimpor sapi dari negara lain.
"Indonesia mengimpor pertama kali sekitar 18 ribu ekor sapi pada 1990, sampai sekarang yang mencapai 500-600 ribu ekor. Namun, impor ini hanya dilakukan untuk menutup kekurangan daya dukung pasokan dalam negeri," katanya.
Karena itu, kata dia, pemerintah akan menghitung kembali daya dukung ternak dalam negeri, terutama sapi, mengingat saat ini dilakukan sensus ternak untuk mengetahui berapa kekurangan yang perlu dicukupi melalui impor.
"Kalau tingkat konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia selama ini berkisar dua kilogram/kapita/tahun. Kami menargetkan pada 2014 mendatang volume impor sapi menjadi hanya 10 persen," kata Suswono.
Selasa, 31 Mei 2011
Australia Stop Suplai Sapi ke Indonesia
Setelah melihat tayangan tersebut, otoritas eksportir ternak hidup Australia, LiveCorp, mengaku telah memberitahukan kepada otoritas industri Indonesia untuk penghentian suplai sapi ternak Australia ke tempat pemotongan hewan itu."Kekejaman terhadap binatang-binatang Australia jelas tidak bisa diterima," ujar Chief Executive LiveCorp, Cameron Hall, dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP.
Dia mengatakan, pihaknya menganut strategi keselamatan hewan yang difokuskan untuk menjamin sapi ternak disuplai ke fasilitas-fasilitas di mana rantai suplai memenuhi standar keselamatan hewan global.
Ekspor ternak sapi Australia kini mencapai AU$ 652 juta atau sekitar US$ 697 juta pada tahun 2008-2009, dengan Indonesia sebagai pangsa pasar terbesar. Industri ternak sapi Australia tercatat mempekerjakan sekitar 10.000 karyawan.
Australia juga tercatat mendanai sejumlah proyek yang bertujuan untuk memperbaiki infrastruktur dan pelatihan guna meningkatkan perbaikan penanganan dan praktik-praktik pemotongan hewan.
Kalangan peternak sapi dan kerbau di Indonesia menganggap penghentian pengiriman sapi hidup dari Australia ke Indonesia hanyalah perang dagang belaka. Mereka menganggap kabar ini dihembuskan untuk memperkuat posisi tawar masuknya daging beku impor ke Indonesia.
"Ini hanya kompetisi perdagangan," kata Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf.
Dugaan perang dagang ini, menurut Rochadi, erat kaitannya dengan kepentingan para importir daging beku. Penghentian atau pengurungan suplai sapi hidup akan berimbas pada suplai impor daging sapi beku yang bisa saja bertambah.
Rochadi menuturkan, kabar semacam ini jangan terlalu digubris karena pernyataannya berasal dari otoritas asosiasi setempat bukan pernyataan resmi dari pemerintah.
Selain itu, dia menilai kabar semacam ini terkesan dipaksakan misalnya terkait eksportir Australia yang mengirim sapi ke rumah potong hewan karena biasanya sapi dikirim harus melalui perusahaan feedlot untuk dibesarkan terlebih dahulu.
Dikatakannya, dengan adanya kabar ini justru bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk meningkatkan pengawasannya pada rumah potong hewan yang ada. Rumah potong hewan harus didorong untuk memiliki sertifikasi pengelolaan rumah potong hewan yang baik.
"Kalau jumlah rumah potong hewan, jumlahnya tidak tahu, tapi yang disertifikasi bisa dihitung dengan jari, nggak sampai 20% itu kebanyakan punya swasta," katanya.
Regulasi di Indonesia terkait pemotongan hewan sudah tertuang dalam UU No 18 Tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan yang tertuang dalam Bab VI Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.
Pada pasal 61 (1) Pemotongan hewan yang dagingnya diedarkan harus dilakukan di rumah potong dan mengikuti cara penyembelihan yang memenuhi kaidah kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan.
Rabu, 06 April 2011
Berita Pertanian : Jatah Impor Naik Menjadi 72.000 Ton

Jakarta. Pemerintah menambah kuota impor daging sapi pada 2011 dari rencana awal 50.000 ton menjadi 72.000 ton untuk mengantisipasi kekurangan pasokan daging sapi di masyarakat. Kenaikan ini dilakukan karena Kementerian Pertanian belum menemukan masalah rantai distribusi sapi yang menyebabkan harga daging sapi tinggi dan terkadang tidak tersedia di pasar.
Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Rabu (6/4), usai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas terkait isu pangan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.
Menurut Suswono, data produksi sapi saat ini menunjukkan sebesar 12 juta ton. Angka itu seharusnya sudah menunjukkan bahwa Indonesia swasembada daging sapi sebab kebutuhan daging sapi Indonesia sendiri hanya mencapai 423.000 ton per tahun. Itu menunjukkan adanya kekacauan data.
”Atas dasar itu, kami sangat berharap ada data yang lengkap dari sensus ternak nasional pada Juni 2011. Bagaimanapun juga, Indonesia bisa dikatakan telah swasembada jika 90 persen kebutuhan di Indonesia telah terpenuhi dari pasokan domestik. Artinya, cukup hanya impor 10 persen dari kebutuhan daging. Kenyataannya, sekarang yang diimpor bisa mencapai 25 persen,” ujarnya.
Atas dasar itu, Suswono mengatakan, pemerintah telah menaikkan batas toleransi impor daging sapi tahun ini sebesar 22.000 ton. Hal itu menyebabkan kuota daging impor bertambah menjadi 72.000 ton.
Beberapa waktu lalu, terungkap penyelundupan impor daging sapi ilegal sebanyak 51 kontainer. Daging ilegal itu tidak dilengkapi surat izin impor atau yang disebut surat persetujuan pemasukan.
Kementerian Pertanian memutuskan memberikan sanksi kepada para importir dengan mengharuskan membawa keluar daging ilegal dari Indonesia.
Pada 2010, penyelundupan daging dan sapi bakalan juga pernah terjadi. Namun, saat itu daging ilegal dimanfaatkan untuk menambah pasokan pasar di dalam negeri. Akibatnya, harga sapi di tingkat peternak lokal jatuh.