Medan. Penurunan produksi jeruk di
Kabupaten Karo harus menjadi masalah bersama. Petani tidak bisa bekerja
sendiri menghadapi masifnya serangan lalat buah. Namun, muncul dugaan
bahwa penyebab terpuruknya produksi jeruk tidak hanya disebabkan lalat
buah.
“Harus ada tim yang mengamati
terjadinya gugur buah sebelum waktunya,” kata Koordinator Pengamat Hama
Penyakit (PHP) Karo, Rabu (6/2) di Medan.
Umumnya
kata dia, orang memahami keterpurukan produksi jeruk di Karo karena
serangan lalat buah. Padahal, yang terjadi adalah banyak buah yang jatuh
lebih cepat dari waktu pembusukannya di dahan.
“Mengetahui
penyebab terjadinya gugur buah sangat penting karena berkaitan dengan
langkah penanganannya. Jika penanganan yang diberikan mulai dari
perangkap, obat-obatan, dan perlakuan lain dikhususkan untuk lalat buah
sementara ada penybab lain yang tidak bisa diselesaikan dengan
penanganan yang diberikan, tentunya akan menjadi sia-sia,” jelasnya.
Faktor
lain seperti iklim yang seringkali berubah kata dia, sangat mungkin
menyebabkan buah jeruk jatuh lebih cepat dari waktunya. "Nah, setelah
jatuh lalu membusuk, dibiarkan menjadi tempat berkembang biaknya hama
lain, salah satunya lalat buah," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala
Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit Medan Johor, Utema Silan,
mengatakan, tidak semua buah jeruk yang gugur disebabkan lalat buah.
Penyebab lainnya adalah mati ranting, busuk tangkai buah, dan penggerek
buah.
Dikatakannya, lalat buah merupakan hama yang menjadi
perhatian secara nasional untuk dikendalikan secara cepat agar jeruk
tidak punah. Dalam satu buah jeruk yang diserang lalat buah didalamnya
terdapat 4 - 5 ekor lalat buah baik jantan maupun betina.
Lalat
buah betina bisa menelurkan 1.200 – 1.500 butir di dalam buah jeruk.
Dari jumlah tersebut yang bisa menetas sekitar 800 butir jantan dan
betina. "Itu dari satu buah saja, bisa dibayangkan berapa banyaknya jika
petani tidak mau menerapkan pola perawatan yang sehat," katanya.
Di
Sumut sendiri, lanjutnya, pengendalian lalat buah sudah dilakukan sejak
2002, dengan total pertanaman jeruk di Kabupaten Karo saat itu mencapai
11.700 hektare, 8.900 hektare merupakan tanaman produksi dan 2.800
hektare tanaman muda. Luas serangan lalat buah mencapai 426,50 hektare.
"Di
tahun 2012, pengendalian lalat buah kita pusatkan di 4 kecamatan yang
merupakan sentra produksi jeruk di Karo, yakni di Kabanjahe, Tiga
Panah, Merek, dan Simpang Empat, dengan luasan 50 hektar," tambahnya. (mb)
BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Tampilkan postingan dengan label jeruk karo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeruk karo. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Februari 2013
Selasa, 18 Desember 2012
Lalat Buah Mengganas, Petani Jeruk Gagal Panen
Kabanjahe. Tingginya curah hujan yang
terjadi khususnya dalam bulan ini membuat serangan hama lalat buah
semakin meningkat. Akibatnya, buah jeruk yang mulai masak pun menjadi
gagal.
“Saat ini merupakan panen raya bagi
para petani jeruk di Kecamatan Kabanjahe, Merek, Tiga Panah, Berastagi,
Simpang Empat, Barus Jahe dan Kecamatan Naman Teran. Namun, karena
serangan lalat buah jerukpun gagal dipanen,” kata Juna Pelawi (47)
penduduk Desa Aji Jahe, Peraturan Gurusinga (42) penduduk Desa
Gurusinga, dan Sardah Sembiring penduduk Desa Kubuculia (52) di
masing-masing lokasi ketika di temui MedanBisnis, Selasa (18/12).
Kegagalan petani untuk mendapatkan produksi buah diperparah dengan musim penghujan yang terjadi di kawasan lereng pegunungan Bukit Barisan. Sehingga buah jeruk yang seyogianya bisa dipanen gugur karena gigitan lalat buah.
Juna mengatakan, mulai bulan November, Desember sampai dengan Januari mendatang adalah merupakan panen raya jeruk manis.
“Sudah hampir dua tahun ini kami tidak lagi memiliki kesempatan untuk menikmati panen raya ini. Setiap pagi kami harus mengelus dada melihat buah jeruk berguguran akibat gigitan lalat buah,” katanya lirih.
Sardah, selain petani jeruk juga penangkar bibit jeruk siam madu ini mengatakan, mereka sudah melakukan banyak cara untuk mengendalikan lalat buah. Bahkan mengurung tanaman dengan jaring halus agar lalat tersebut tidak bisa masuk meskipun dengan biaya besar. Tapi, itupun belum membuahkan hasil yang baik. “Saat ini kami meningkatkan penyemperotan insektisida yang sebelumnya dua minggu sekali menjadi satu minggu sekali. Itu pun belum dapat mengatasi,” katanya.
Serangan lalat buah ini kata Peraturan Gurusing juga membuat harga jeruk anjlok. “Sekarang ini saat kebutuhan petani tinggi menghadapai Natal dan Tahun Baru 2013, di situ pula harga jeruk jatuh dan menjadi antara Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per kg,” sebutnya.
Pihaknya kata Juna dan Peraturan berharap keseriusan Pemkab Karo untuk mengatasi serangan hama lalat buah ini. “Kami juga meminta Pemkab Karo untuk mensubsidi harga alat pengendali lalat buah jika memang ada,” tandas Juna.(MB)
Kegagalan petani untuk mendapatkan produksi buah diperparah dengan musim penghujan yang terjadi di kawasan lereng pegunungan Bukit Barisan. Sehingga buah jeruk yang seyogianya bisa dipanen gugur karena gigitan lalat buah.
Juna mengatakan, mulai bulan November, Desember sampai dengan Januari mendatang adalah merupakan panen raya jeruk manis.
“Sudah hampir dua tahun ini kami tidak lagi memiliki kesempatan untuk menikmati panen raya ini. Setiap pagi kami harus mengelus dada melihat buah jeruk berguguran akibat gigitan lalat buah,” katanya lirih.
Sardah, selain petani jeruk juga penangkar bibit jeruk siam madu ini mengatakan, mereka sudah melakukan banyak cara untuk mengendalikan lalat buah. Bahkan mengurung tanaman dengan jaring halus agar lalat tersebut tidak bisa masuk meskipun dengan biaya besar. Tapi, itupun belum membuahkan hasil yang baik. “Saat ini kami meningkatkan penyemperotan insektisida yang sebelumnya dua minggu sekali menjadi satu minggu sekali. Itu pun belum dapat mengatasi,” katanya.
Serangan lalat buah ini kata Peraturan Gurusing juga membuat harga jeruk anjlok. “Sekarang ini saat kebutuhan petani tinggi menghadapai Natal dan Tahun Baru 2013, di situ pula harga jeruk jatuh dan menjadi antara Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per kg,” sebutnya.
Pihaknya kata Juna dan Peraturan berharap keseriusan Pemkab Karo untuk mengatasi serangan hama lalat buah ini. “Kami juga meminta Pemkab Karo untuk mensubsidi harga alat pengendali lalat buah jika memang ada,” tandas Juna.(MB)
Senin, 23 April 2012
Hingga Kini, Jeruk Karo Belum Bisa Diekspor

Medan. Hingga kini, jeruk Berastagi Sumatera Utara (Sumut) belum mampu menembus pasar ekspor. Selain banyaknya serangan hama lalat buah, produksi jeruk yang tidak seragam dari besar dan warna membuat kalah bersaing dengan jeruk luar negeri. Pelaksana tugas (Plt) BBI Kutagadung Berastagi, Jonni Akim Purba mengatakan, meski jeruk merupakan salah satu komoditas hortikultura andalan di Sumut, namun buah ini tidak sanggup menembus pasar ekspor. Kondisi ini membuat petani enggan mengembangkan tanamannya sehingga harga jual juga masih rendah meski biaya produksi mencapai Rp 70 juta per hektare.
"Selama ini jeruk kita masih dijual ke pasar domestik seperti ke Medan, Pekan Baru, Batam dan Jakarta. Kalau dari luar negeri permintaan ada saja, tapi produksi kita belum sesuai dengan yang diinginkan pasar tersebut," ujarnya kepada wartawan di Medan, Senin (23/4).
Dikatakannya, kualitas produksi jeruk lokal belum sesuai yang diinginkan pasar ekspor seperti besar dan warna buah yang tidak seragam atau jauh berbeda dengan produksi jeruk dari luar negeri. Ditambah lagi, tanaman jeruk lokal masih mengenal musiman sehingga produksi tidak bisa kontinu.
Kendala lainnya, tambah Akim, serangan hama lalat buah membuat buah jeruk tidak bagus dalam penampilan dan produksinya yang menurun. Dimana serangan hama ini merupakan momok menakutkan untuk petani lokal, karena pengendalian hama tersebut membutuhkan biaya tinggi dan perhatian ekstra dari awal tanam hingga pasca panen.
Menembus pasar luar atau menghasilkan buah sesuai yang diinginkan pasar luar ini, kata Akim tidak terlalu sulit untuk petani, asalkan harga jual tinggi dan pemasaran jelas. Karena, petani untuk mendapatkan produksi berkualitas harus menambah modal sebesar 1,5 kali lipat dari biasanya yang mencapai Rp 70 juta perhektare.
"Biaya tambahan itu untuk pengendalian hama, bibit dan perawatan lainnya sehingga buah yang dihasilkan seragam dan sesuai diinginkan pasar," jelasnya.
Selain pengendalian serangan hama lalat buah ini, ia juga menyatakan, tanaman jeruk yang sudah tua atau tidak berproduktif dengan usia rata-rata 20 hingga 25 tahun harus segera diremajakan atau sekitar 25% dari total luas areal tanaman jeruk di Tanah Karo sekitar 2.000-an hektare sudah tidak produktif. "Tanaman itu harus diganti baru. Karena tanaman tua ini dapat menjadi inang penyakit," jelasnya.
Petani Jeruk di Brastagi, Sadrah menyatakan, produksi jeruknya masih menembus pasar domestik dengan harga jual mengikuti mekanisme pasar. "Harga saat ini Rp 7.000 perkg, ini memang tinggi dan hanya bisa dijual ke Sumatera hingga Jawa. Kalau ke luar negeri belum ada yang pesan dan kita tidak sanggup memenuhi keinginan pasar tersebut," akunya.
Untuk serangan hama lalat buah, lanjutnya, belum dapat dikendalikan sehingga banyak petani yang enggan mengembangkan tanaman jeruk ini bahkan banyak yang beralih ke komoditas lain. Sebab, untuk mengendalikan hama itu membutuhkan biaya besar dan perawatan sehingga produksi tetap bertahan dan banyak.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Sumut Darwinsyah mengatakan pemasaran jeruk lokal sudah menembus pasar ekspor, yakni ke Singapura dan Malaysia. Namun memang, kualitas dan kuantitasnya belum banyak yang dapat memenuhi permintaan pasar international. “Ini karena petani belum dapat memproduksi buah jeruk secara massal sesuai permintaan. Namun, jeruk hasil olahan yang diekspor sudah banyak,” tandasnya.
Rabu, 18 Januari 2012
Deptan Selamatkan Jeruk Karo dari Serangan Lalat Buah
Kabanjahe. Direktur Perlindungan Hortikultura Departemen Pertanian (Deptan) Ir Soesilo MSi mengatakan, pihaknya siap menyelamatkan buah jeruk di Kabupaten Karo dari serangan lalat buah. Pihaknya mengajak semua pihak bersineri memerangi serangan hama tersebut.
"Kalau jeruk Karo terserang lalat buah, bukan masyarakat petani jeruk saja yang rugi. tetapi pihak Kementerian Pertanian juga "panas-dingin,". Karenanya, kami sangat memahami keluhan para petani jeruk di Tanah Karo ini," kata Soesilo, Minggu (15/1).
Dia mengatakan hal itu di sela-sela peninjauan lahan kebun jeruk milik Warta Tarigan di Desa Kacinambun, kebun jeruk milik Mimpin Ginting di Desa Manuk Mulia, Kecamatan Tigapanah dan di perkebunan jeruk milik Daniel Ginting di Desa Sukamandi, Kecamatan Merek.
Deptan, lanjutnya, menginginkan agar buah jeruk Karo tampil berkualitas mengingat kebutuhannya tidak saja dirasakan pasar lokal, tetapi juga pasar ekspor. Karenanya, Menteri Pertanian, katanya, terus mendesak agar masalah hama lalat buah ini secara intensif ditangani.
Kementerian Pertanian, lanjutnya, berniat agar lalat buah dapat diselesaikan dengan cara benar sesuai dengan jenis varitasnya dan bagaimana menanganinya secara teknologi, apa yang telah dilakukan selama ini dan bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan, apa kendalanya. "Mudah-amudahan dengan bekerja sama, serangan hama dapat terselesaikan dengan ramah lingkungan," tambahnya.
Selain soal jeruk, Soesilo juga menginginkan agar petani Karo meningkatkan produksi dan kualitas buah-buahan lainnya serta sayuran. Hal ini penting, menyusul tingginya permintaan pasar nasional maupun internasional saat ini.
Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti menyampaikan terima kasih atas perhatian pihak Deptan kepada petani Karo. Menurutnya, sebelum terjadinya serangan lalat buah jeruk, Tanah Karo tidak pernah merasakan krisis ekonomi, termasuk krisis moneter yang terjadi 1998. Namun saat ini, petani di Karo dalam kondisi terpuruk. "Beragam penyakit menyerang tanaman, termasuk jeruk," katanya.
Pemkab Karo, tambahnya, berupaya membantu kesulitan petani, terutama untuk meningkatkan produksi dan kualitas. Tahun 2011, sekitar Rp 1,25 miliar dianggarkan untuk penanganan serangan hama lalat buah secara massal. Tahun 2012, anggaran juga disediakan untuk antisipasi dan penanggulangan serangan hama.
"Kalau jeruk Karo terserang lalat buah, bukan masyarakat petani jeruk saja yang rugi. tetapi pihak Kementerian Pertanian juga "panas-dingin,". Karenanya, kami sangat memahami keluhan para petani jeruk di Tanah Karo ini," kata Soesilo, Minggu (15/1).
Dia mengatakan hal itu di sela-sela peninjauan lahan kebun jeruk milik Warta Tarigan di Desa Kacinambun, kebun jeruk milik Mimpin Ginting di Desa Manuk Mulia, Kecamatan Tigapanah dan di perkebunan jeruk milik Daniel Ginting di Desa Sukamandi, Kecamatan Merek.
Deptan, lanjutnya, menginginkan agar buah jeruk Karo tampil berkualitas mengingat kebutuhannya tidak saja dirasakan pasar lokal, tetapi juga pasar ekspor. Karenanya, Menteri Pertanian, katanya, terus mendesak agar masalah hama lalat buah ini secara intensif ditangani.
Kementerian Pertanian, lanjutnya, berniat agar lalat buah dapat diselesaikan dengan cara benar sesuai dengan jenis varitasnya dan bagaimana menanganinya secara teknologi, apa yang telah dilakukan selama ini dan bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan, apa kendalanya. "Mudah-amudahan dengan bekerja sama, serangan hama dapat terselesaikan dengan ramah lingkungan," tambahnya.
Selain soal jeruk, Soesilo juga menginginkan agar petani Karo meningkatkan produksi dan kualitas buah-buahan lainnya serta sayuran. Hal ini penting, menyusul tingginya permintaan pasar nasional maupun internasional saat ini.
Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti menyampaikan terima kasih atas perhatian pihak Deptan kepada petani Karo. Menurutnya, sebelum terjadinya serangan lalat buah jeruk, Tanah Karo tidak pernah merasakan krisis ekonomi, termasuk krisis moneter yang terjadi 1998. Namun saat ini, petani di Karo dalam kondisi terpuruk. "Beragam penyakit menyerang tanaman, termasuk jeruk," katanya.
Pemkab Karo, tambahnya, berupaya membantu kesulitan petani, terutama untuk meningkatkan produksi dan kualitas. Tahun 2011, sekitar Rp 1,25 miliar dianggarkan untuk penanganan serangan hama lalat buah secara massal. Tahun 2012, anggaran juga disediakan untuk antisipasi dan penanggulangan serangan hama.
Sabtu, 24 September 2011
Berita Pertanian : Petani Jeruk Karo Lirik Pupuk Organik

Kabanjahe. Prospek agribisnis jeruk di Sumatera Utara (Sumut), terutama di Kabupaten Karo cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Namun seiring waktu, produksinya terus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan serta inovasi petani jeruk yang masih tetap mempertahankan penggunaan pupuk pestisida.
"Namun, tidak mudah meyakinkan petani di Tanah Karo ini yang sudah bertahun-tahun bertani dengan menggunakan pupuk pestisida untuk beralih ke pupuk organik. Apalagi, rata-rata petani ini tidak banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu sulit jika menjelaskan bahwa pertanian organik itu aman bagi lingkungan. Bahkan, nutrisi tanaman yang dapat dibuat sendiri lebih baik dibandingkan pupuk pestisida," ujar Ketua Forum Pengembangan Karo, Petrus Sitepu, disela-sela acara Penanaman Perdana Penangkaran Bibit Kentang Granola G1 dan Penyerahan Green House Bantuan Bank Indonesia (BI), serta sarasehan dengan tema "Permasalahan dan Solusi dalam Budidaya Kentang", di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabanjahe, Rabu (21/9) lalu.
Hadir juga dalam acara tersebut Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti, Pemimpin BI Kantor Regional Sumut dan Aceh Nasser Atorf, Ketua DPRD Karo Siti Aminah Perangin-angin, pimpinan bank se-kabupaten Karo serta Gapoktan Tanah Karo.
Secara garis besar, terang Petrus, petani jeruk dikelompokkan menjadi dua yaitu petani kelas menengah ke atas yang memiliki karakter mandiri, mudah menerima inovasi teknologi, dan menjadikan usahatani jeruk sebagai salah satu mesin ATM (pencetak uang) sehingga pengelolaan kebun dilakukan secara optimal. Sebaliknya bagi petani kecil, permodalannya lemah, biasanya menanam jeruk karena mendapat bantuan benih dari pemerintah, pengetahuannya tentang budidaya jeruk yang baik dan benar kurang memadai dan tidak mudah menerima inovasi teknologi.
Menurut Petrus, pupuk organik bisa didapatkan dengan beternak cara alami. Tujuan utama peternakan ini adalah untuk mendapatkan kooran hewan, khususnya sapi yang digunakan sebagai bahan utama kompos. "Metode peternakan alami ini bisa dipelajari secara alami juga. Saya dan sejumlah petani lainnya di Tanah Karo ini sudah mencobanya. Saya hanya butuh 7 ekor sapi untuk mendapatkan kompos yang bisa digunakan untuk lahan tanaman jeruk seluas 1 hektare. Petani memang harus menjalani proses belajar beternak, terutama bagian-bagian mana yang harus diperbaiki dan bagian mana yang perlu adaptasi lokal. Hal ini dilakukan supaya dapat kompos yang bagus untuk tanaman jeruk," terang Petrus.
Beternak untuk mendapatkan kompos bisa dilakukan dengan memberikan pakan rumput terfermentasi atau jerami terfermentasi. Selain itu, lanjutnya, juga bisa memberikan minuman ternak nutrisi dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh kambing atau sapi.
Begitupun, diakui Petrus, untuk mendapatkan kompos dengan cara beternak ini memang butuh modal yang tidak sedikit. "Kalau petani jeruknya yang bermodal kecil, tentu harus mendapat sokongan dari pemerintah dan perbankan. Jadi tujuannya bisa tercapai," ujar Petrus.
Namun di sisi lain, kata Petrus, tumbuh kembangnya praktik bisnis benih jeruk "asalan" yang telah mencapai lingkup antar propinsi tidak lepas dari berlakunya hukum pasar, yaitu penangkar yang memproduksi benih jeruk bermutu (bebas penyakit) jumlahnya sangat terbatas, sedangkan permintaan pasar terus bertambah. Harusnya pemerintah memperhatikan kondisi tersebut sehingga produksi jeruk Tanah Karo bisa tercapai sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan Sumut.
Selasa, 07 Juni 2011
Berita Pertanian : Petani tolak pasang ‘kelambu’ jeruk

KABANJAHE. Dana Sembiring Meliala ,(54), salah seorang petani jeruk di Kabanjahe, mengaku tidak sependapat dengan pemasangan jaring atau kelambu untuk mengatasi serangan hama lalat buah, sebagaimana sekarang ini sudah banyak dilakukan petani jeruk di Karo.
“Pemasangan jaring akan berdampak kepada sistim simbiosa antara hama dengan jeruk. Sudah pasti, pemasangan jaring akan mengurangi pembuahan jeruk,” ujar petani yang memiliki kebun jeruk seluas 3 ha di Desa Lau Simomo, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, saat ditemui di kebunnya.
Menurutnya, salah satu solusi mengatasi hama lalat buah dengan berganti jenis pestisida yang akan disemprotkan maupun memperbanyak volume penyemprotan menjelang musim pembuahan. Antisipasi dini harus dilakukan.
“Bahkan cara-cara yang tradisional jauh lebih efektif, seperti membakar belerang diwaktu-waktu tertentu,” katanya.
Diakuinya, dampak hama lalat buah sangat dahsyat mempengaruhi hasil panen. Misalnya, jika buah yang siap panen sekitar 10 ton, dengan asumsi harga Rp 5000 per kg, maka akan menghasilkan Rp 50 juta. Akibat serangan hama tersebut, bisa-bisa panen hanya sekitar 4-5 ton.
“Kerugian dalam kasus ini bisa mencapai Rp 30 juta. Lebih 50 persen dari pendapatan yang seharusnya diterima. Inilah contoh kecil efek dahsyat dari serangan hama lalat buah,” tukasnya.
Sebelumnya, Kadis Pertanian Pemkab Karo, Nomi Br Sinuhaji, menyebutkan upaya penanggulangan hama lalat buah, sudah banyak yang dilakukan pihaknya. Seperti penyemprotan petrogenol secara serentak yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat di Desa Raya, Kecamatan Berastagi.
“Penyemprotan petrogenol bukan tidak memiliki kelemahan seperti kesadaran dari pihak petani, yang kadang agak sulit mengarahkannya, disamping biayanya juga cukup mahal,” katanya.
Disebutkannya, setahun belakangan untuk menanggulangi hama lalat buah, petani jeruk sudah melakukan penanggulangan alternatif, yaitu dengan memasang jaring setinggi enam sampai delapan meter disekeliling kebun tanaman jeruk, tetapi hasilnya belum diketahui secara pasti.
“Apakah efektif atau tidak menangkal hama yang menakutkan tersebut, Dinas Pertanian kini tengah melakukan penelitian akan hal itu,” pungkas Nomi.
Selasa, 08 Maret 2011
Berita Pertanian : Harga Tinggi tak Gairahkan Petani Kembangkan Jeruk

Kabanjahe. Meski harganya tinggi namun itu tidak membuat petani bergairah untuk mengembangkan tanaman jeruknya lagi. Serangan hama dan biaya produksi yang tinggi, membuat petani enggan untuk mempertahankan tanaman jeruknya. Kondisi ini pula yang membuat tanaman jeruk di Kabupaten Karo sebagai sentra holtikultura di Sumatera Utara (Sumut) banyak yang tidak produktif.
"Apalagi harga jual jeruk sempat turun sehingga petani bukannya untung tapi malah merugi. Belum lagi serangan hama yang belum bisa dikendalikan," ujarnya kepada MedanBisnis, Senin (7/3).
Dikatakannya, saat ini harga jual jeruk memang tinggi yakni berkisar Rp 7.000 hingga Rp 8.000 perkg karena persediaan barang yang sedikit. Namun, hal tersebut belum bisa membangkitkan gairah petani mempertahankan bahkan mengembangkan tanaman jeruknya. "Petani masih trauma, kalau mereka masih mengembangkan produksinya ternyata harga jual turun," katanya.
Namun, pihaknya terus berupaya melakukan penyuluhan kepada petani untuk mau mengembangkan tanaman jeruk yang biasa disebut Jeruk Medan ini karena komoditas tersebut merupakan unggulan Sumut yang sudah terkenal seantero Indonesia.
Meski memang bantuan dari pemerintah Sumut untuk mengendalikan serangan hama pada tanaman jeruk masih sangat minim bahkan belum nampak upaya mempertahankan komoditas tersebut. "Kita berharap dengan harga yang bagus saat ini dapat membangkitkan gairah petani mengembangkan tanaman jeruk. Dan, jika produksi dapat kembali meningkat, kita akan upayakan perluasan pemasaran untuk mempertahankan harga agar tetap tinggi," imbuhnya.
Sementara petani jeruk di Kabupaten Karo, Peraturan Guru Singa, mengakui, lahan tanaman jeruk yang selama ini dikembangkannya sudah beralih ke tanaman lain seperti jagung, kol bunga dan kentang. "Dulu luas tanaman jeruk yang saya kembangkan mencapai 10 hektar tapi kini bersisa 3 hektar saja. Menanam jeruk ini belum begitu menguntungkan, jadi petani kurang bergairah," akunya.
Menurutnya, tanaman jeruk sudah lama terserang hama lalat buah yang dapat menggugurkan buah bahkan mengakibatkan tanaman tidak produktif kembali. "Bayangkan saja, dari 10 ton buah yang berbuah, hanya sekitar 100 kg saja yang bisa dipanen dan dipasarkan. Ini sangat merugikan, apalagi dilihat dari biaya produksi yang begitu tinggi," jelasnya.
Harga yang bagus saat ini, diakui Peraturan, tidak membuat petani langsung berkenan kembali mengalihkan tanaman ke jeruk karena belum ada jaminan harga akan terus tinggi. Sebab, harga yang diperoleh tersebut hanya akan habis digunakan untuk membeli obat dan perawatan tanaman dari serangan hama sehingga keuntungan tidak bisa dinikmati petani.
"Kalau pemerintah mau menjamin harga jualnya dan membantu petani mengendalikan serangan hama, mungkin produksi jeruk dapat kembali ditingkatkan. Karena sampai saat ini permintaan jeruk dari luar propinsi masih banyak, tapi produksi kita yang terus menurun," imbuhnya.
Berdasarkan data, produksi jeruk di Sumut, tahun 2007 mencapai 961.918 ton. Namun turun dan menjadi 856.019 ton pada 2008. Tetapi, tahun 2009 produksi jeruk kembali naik menjadi 861.530 ton dengan tanaman jeruk yang menghasilkan 5.172.995 pohon dan produktivitas 166,54 kg per pohon nya.
Label:
buah jeruk,
jeruk karo,
jeruk mahal,
pertanian,
petani jeruk
Langganan:
Postingan (Atom)