Tampilkan postingan dengan label buah buahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah buahan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : Meraup laba dari usaha pembekuan buah segar kupas












Banyak orang malas membuat jus buah karena enggan mengupas kulit buah. Tapi tak perlu risau, kali ini, ada produsen buah beku yang menawarkan buah beku yang sudah dikupas dan siap untuk diblender menjadi jus. Selain rumah tangga, pelanggan buah beku itu datang dari restoran.

Bagi sebagian orang, mengonsumsi jus buah tidak lagi sekadar kebutuhan tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Agar bisa menikmati jus buah, tentu bisa membuat jus sendiri, atau memesan di warung-warung penyedia jus atau di restoran.

Tapi, kalau Anda ingin mempertahankan hiegienitas, tak ada salahnya membuat jus sendiri. Masalahnya, membuat jus sendiri juga ribet karena harus mengupas buah sendiri yang jelas membutuhkan waktu.

Namun tak perlu risau. Sebab sekarang ada gerai Frozen Fruit yang khusus menjual buah beku tanpa kulit. Jadi, begitu beli bisa, potong-potong sesuai kebutuhan, dan langsung diblender. "Buah kami tinggal diblender dan diminum," kata Stanley, pemilik gerai Frozen Fruit di Semarang, Jawa Tengah.

Stanley memulai membuka gerai Frozen Fruit pada 2010 lalu. Ketika itu, ia melihat saat panen buah banyak buah yang tak bisa terjual lantaran membusuk sehingga terbuang sia-sia. "Saat itu saya membeli mesin pendingin agar buah petani bisa tersimpan lebih lama," kata Stanley.

Dengan modal mesin pendingin senilai Rp 15 juta itulah Stanley memulai bisnis dengan menjual lima jenis buah beku tanpa kulit yang sering dikonsumsi, seperti mangga, apel, jambu, stroberi, dan melon. "Usaha ini belum banyak pemain," ungkap Stanley.

Stanley menjual buah beku itu seharga Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram (kg). Ternyata, jualan itu laris manis. Bahkan dalam sebulan Stanley bisa menjual hingga 400 kg buah beku, dengan omzet sekitar Rp 16 juta. "Buah beku lebih tahan lama, bisa bertahan di lemari es hingga tiga bulan," kata Stanley yang juga pemilik usaha mebel di Semarang itu.

Menurut Stanley, permintaan buah beku itu datang dari kalangan rumah tangga hingga restoran di Semarang dan sekitarnya. Selain Stanley, Flegon Koen juga memproduksi buah beku merek Buabeku. Flegon membuka gerai Buabeku-nya di Jakarta. Ia terbilang pemain baru di bisnis buah beku ini. Namun begitu ia sudah memiliki pelanggan dari kalangan restoran di Jakarta.

Seperti halnya Stanley, Flegon yang baru membuka usaha kurang lebih dua bulan silam itu juga menjual buah beku yang sudah dikupas dan sudah siap untuk dijus. "Hasil observasi kami, pasar buah beku ini adalah restoran," ungkap Flegon.

Untuk membekukan buah itu, Flegon mendinginkan dalam alat bernama blast frezzer. Mesin pendingin ini diklaim memiliki kemampuan mendinginkan hingga beku sampai ke sari buah. Karena itu, "Buah beku kami mampu bertahan hingga tiga bulan atau lebih," klaim Flegon.

Meski baru buka dalam kurun dua bulan ini, Flegon mengaku sukses meraih 20 restoran yang menjadi pelanggan tetap buah bekunya. Untuk setiap restoran pelanggannya, Flegon memasok 3 kg sampai 4 kg buah beku setiap pekan.

Saat ini, Flegon sudah memproduksi 320 kg buah beku dalam sebulan. "Ini selalu habis setiap bulan untuk langganan saya dari restoran di Kelapa gading," terang Flegon.

Saat ini, Flegon menjual sembilan jenis buah yang laris, yakni alpukat, sirsak, mangga, jambu, stroberi, nanas, melon jepang, dan kedondong. "Harga jual buah beku itu mulai Rp 25.000 - Rp 58.000 per kg," kata Flegon yang mengaku mampu meraih omzet hingga Rp 15 juta saban bulannya itu. (KONTAN)

Minggu, 15 Mei 2011

Berita Pertanian : Diserbu Apel Impor, Harga Apel Malang Anjlok







MALANG. Petani apel di Malang, Jawa Timur, diresahkan dengan serbuan apel impor yang mengakibatkan harga apel Malang anjlok. Bahkan, eksistensi apel lokal menjadi terancam kelangsungannya.

Hal itu diresahkan Sugiman, Ketua Kelompok Tani Makmur Abadi, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Menurutnya, akibat serbuan apel impor, apel lokal semakin tersisih, karena kalah bersaing baik dari sisi harga maupun kualitas.

Menurutnya, persaingan harga tersebut sulit dihindari. Kalau apel lokal dipaksa menurunkan harga, jelas tidak mungkin, mengingat tingginya biaya produksi. Karena itu, petani berharap Pemerintah juga ikut memikirkan kelangsungan hidup para petani yang ada kota apel itu.

"Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, kemungkinan besar petani apel lokal Kota Batu akan tenggelam. Karena tidak bisa bertahan hidup," katanya, Senin (16/5/2011).

Kini, harga apel impor seperti apel Washington merah misalnya, mencapai Rp 1.500 per ons atau Rp 15.000 per kilogram. Sedangkan, harga apel lokal jenis Manalagi, dari tingkat petani hanya sebesar Rp 10.000 per kilogram dan masuk pasar harganya bisa mencapai Rp 17.000-Rp 20.000 per kilogram.

Salah satu pedagang apel, Ajeng (35) mengatakan, apel impor dari sisi kemasan maupun harga jauh lebih menarik dibanding apel lokal. "Karena itu saya berharap agar apel lokal juga menarik dari sisi kemasannya. "Sebenarnya, dari sisi harga bisa bersaing karena apel lokal mempunyai ciri rasa yang khas dibanding apel impor. Hanya saja dari sisi kemasan apel lokal penampilannya tidak semenarik apel impor," tambah dia.

Sementara itu, secara terpisah, berdasarkan data yang dimiliki Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI), sedikitnya ada enam komoditi pertanian nasional yang terancam produk impor. Komoditi itu adalah, durian, pisang, jeruk, semangka, cabe, dan apel.

Menurut Sekretaris Eksekutif KPPI Djoko Mulyono, KPPI saat ini sedang mendata kerugian para petani akibat maraknya produk pertanian impor untuk selanjutnya dilaporkan ke Menteri Perindustrian dan Perdagangan maupun Menteri Keuangan.

Rabu, 04 Mei 2011

Vitamin C di Kiwi 5 Kali Lebih Efektif Diserap Tubuh



Vitamin C di kiwi 5 kali lebih efektif diserap tubuh. (Foto: Dok Zespri)
Vitamin C di kiwi 5 kali lebih efektif diserap tubuh. (Foto: Dok Zespri)

KIWI, sebagai buah yang memiliki vitamin C tinggi dibanding buah-buah lainnya tak hanya baik untuk tubuh, namun vitamin C yang terdapat di kiwi juga terbukti lima kali lebih efektif diserap oleh tubuh.

Bukti ini diperkuat dengan hasil uji pra klinis yang dilakukan oleh University of Otago New Zealand, mengenai ketersediaan alami (bioavailibility) dan efikasi (kemanjuran) vitamin C dari sumber alami dibandingkan dengan vitamin C dari suplemen. Sumber alami yang digunakan dalam studi ini adalah buah kiwi Zespri Green dan Gold. Hasil studi ini telah dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition (pertama kali dipublikasi online pada Desember 2010).

Uji pra klinis ini menggunakan tikus putih pada percobaannya. Satu kelompok tikus putih diberi buah kiwi Zespri dalam bentuk gel dan kelompok lainnya diberi vitamin C yang berasal dari suplemen ke dalam air minumnya, selama satu bulan. Hasilnya, kelompok tikus yang diberi buah kiwi Zespri menunjukkan penyerapan vitamin C yang lebih efektif dan vitamin C tersebut mampu bertahan lebih lama di dalam tubuh.

"Vitamin C sangat berperan dalam tubuh, yaitu sebagai antioksidan, kofaktor untuk pembentukan kolagen dan berbagai hormon, dan peningkat sistem imun tubuh untuk mencegah berbagai penyakit. Namun, kadar vitamin C di tubuh sangat cepat menurun. Vitamin C mudah hilang dari jaringan lebih cepat dari yang dibayangkan, walaupun gejala kekurangan vitamin C tidak terlihat. Sehingga penting untuk mengonsumsi buah yang merupakan sumber vitamin C, secara teratur, agar dapat membantu menjaga kebutuhan vitamin C," kata Dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Fiastuti Witjaksono MS SpGK, dalam siaran persnya.

Lebih lanjut Dr Fiastuti mengungkapkan, "Salah satu buah yang terbukti memiliki kandungan vitamin C yang tinggi adalah buah kiwi. Mengonsumsi dua buah kiwi sehari mencukupi lebih dari kebutuhan harian vitamin C untuk orang dewasa, di mana kandungan vitamin C pada buah kiwi dua kali lebih tinggi dibandingkan jeruk dengan perbandingan berat (gram) yang sama. Keunggulan lain kiwi, adalah kaya akan asam folat yang bermanfaat bagi ibu yang ingin hamil, juga memiliki glycaemic indeks yang rendah sehingga aman bagi penderita diabetes."

Dengan manfaat yang terkandung di dalamnya, Zespri selalu mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat melalui uji klinis.

"Setiap tahunnya Zespri International konsisten mengadakan riset untuk mengembangkan kualitas buah kiwi Zespri. Tahun ini kami menyambut baik, suatu uji pra klinis yang diadakan oleh University of Otago dengan menggunakan vitamin C dari buah kiwi Zespri pada riset ini. Hasil riset ini tentunya menjadi bekal kami untuk meningkatkan penjualan buah kiwi Zespri di Indonesia pada tahun ini. Di Indonesia sendiri, buah kiwi Zespri dengan dua varian, Zespri Gold dan Zespri Green menjadi semakin popular," papar Judy Lee, Marketing Manager Zespri Asia.

Senada dengan Judy Lee, Yuyuh Sukmana selaku Market Development Manager untuk Indonesia mengatakan, "Penjualan tahun 2010 sekitar 1,5 juta ton, naik signifikan dari penjualan tahun 2009, sehingga tahun ini kami tingkatkan target penjulan menjadi sekitar 2,45 juta ton. Program edukasi kepada masyarakat masih menjadi andalan kami, di mana kami terus menggandeng media dalam pelaksanaan programnya. Tahun ini kami banyak melakukan program yang langsung menjangkau masyarakat."

"Tahun ini, musim ketersediaan buah kiwi Zespri di pasaran sejak bulan Mei hingga bulan September untuk buah kiwi Zespri Gold dan hingga bulan Desember untuk buah kiwi Zespri Green. Kami juga memiliki target untuk menjangkau seluruh Jawa, Bali, dan sebagian Sumatera khususnya Sumatera Utara, sebagai area distribusi buah kiwi Zespri," sambungnya.

Senin, 02 Mei 2011

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Kripik Buah Menggiurkan

Keripik Buah Yang Sudah Dikemas Siap

Beberapa jenis buah memiliki musim sendiri, yang suatu saat ada kalanya tidak bisa dinikmati. Namun, di Dusun Kandangan, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Madiun, segala macam buah bisa dinikmati tanpa melihat musimnya.

Semua itu berkat ide kreatif Lambang Wijayanto (35), dengan mengeringkan berbagai jenis buah-buahan agar bisa dikonsumsi setiap saat. Warga RT 30, RW 10 ini, terinspirasi setelah melihat melimpahnya buah nangka pada setiap musim buah ini.
Ia mulai memproduksi keripik buah sekitar tahun 2000 silam. Dengan berjalannya waktu, kini Lambang tidak hanya membuat keripik nangka saja. Tetapi juga memroduksi keripik dari berbagai jenis buah lainnya, seperti keripik pisang, salak, nanas, apel, semangka, melon, mangga, bahkan durian.

“Awalnya, memang saya menggeluti usaha ini karena melimpahnya buah nangka di sekitar sini, setiap masim nangka. Lama kelamaan, justru semakin berkembang. Pasalnya, dari hasil produksi keripik buah ini, orang tidak perlu kesulitan mencari buah jika tidak pada musimnya,” terang lulusan MIPA Universitas Brawijaya Malang pada 1999 ini, pekan lalu.
Lambang mengakui, usaha yang digelutinya ini seringkali mengalami kesulitan bahan baku, yaitu buah musiman yang dibutuhkan untuk setiap produksi. Buah nangka misalnya, terpaksa hanya produksi saat musim buah itu tiba. Seandainya tidak pada musimnya, ia mau tidak mau harus memroduksi buah lainnya.

“Untuk buah musiman ini, kami terkadang juga menyiasati dengan memroduksi keripik sebanyak-banyaknya lalu menimbunnya. Agar sampai musimnya datang, stok keripik buah musiman masih ada,” jelasnya.

Sejak menggeluti usaha ini, selama hampir 11 tahun terakhir, lelaki yang telah dikaruniai 4 orang anak itu, mampu memroduksi 1 hingga 2 ton keripik buah setiap bulannya. Hal itu, bergantung persediaan bahan baku buah-buahan yang dapat diperoleh dalam setiap produksi.
Keripik buah aneka jenis itu kemudian dikemas dengan aluminium foil berukuran 250 gr, yang ditawarkan antara Rp 8.500-10.000. Untuk memroduksi keripik buah itu, Lambang mempekerjakan sebanyak 30 karyawan. Mereka terbagi dalam karyawan yang digaji secara borongan, harian, dan bulanan.

“Untuk karyawan pengupas buah, biasanya kami gaji Rp 1.700 per jam, kalau operator mesin pengering buah kami gaji bulanan,” ungkap Enggar, salah seorang adik kandung Lambang, yang dipercaya mengurusi masalah karyawan dan keuangan di usaha keripik buah ini.
Menurut perempuan alumnus ITN Malang tahun 2004 ini, uang yang bergulir dalam usaha produksi keripik buah berkisar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan. Namun, dana itu belum terhitung atas sejumlah pelanggan atau toko yang tagihannya seringkali tidak membayar tepat waktu. “Semua itu, termasuk kebutuhan untuk gaji karyawan, beli bahan baku, dan tagihan yang masuk dari para pelanggan,” jelasnya.

Untuk pemasarannya, Enggar menuturkan, produksi keripik buah ini telah merambah Karesidan Madiun, Karasidenan Kediri, Malang, dan Surabaya. Kemudian, merambah Solo, Jogjakarta, Semarang, juga pasar di Jakarta, Bandung, dan Bogor. Sementara untuk luar Jawa, ia memasarkan di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. “Ekspor ke luar negeri pernah kami lakukan, tetapi sekarang tidak berjalan lagi,” kata Enggar.

Menurut Lambang, ekspor ke Jerman dengan jumlah permintaan sebanyak 900 kilogram per bulan sekali kirim, terhenti karena adanya krisis global yang terjadi awal 2009. Padahal, potensi pasar negara itu sangat besar, ini dilihat dari permintaan rutin setiap bulannya.
“Sebenarnya saya sempat kecewa karena ekspansi ke luar negeri yang sudah saya rintis sejak 2007 lalu harus terhenti sejak terjadi krisis global. Jerman menghentikan permintaannya. Beruntung permintaan dalam negeri terus meningkat,” urai Lambang.

Guna melayani permintaan pelanggan dari berbagai daerah, selain di rumahnya sendiri, Lambang juga menyediakan sebuah outlet dan toko di Kota Ponorogo. Sebab, selain ada pelanggan perorangan, selama ini ada juga pelanggan dari toko oleh-oleh makanan khas dan pelanggan yang tergolong sebagai tengkulak. Mereka akan menjual produk keripik buahnya lagi.
Salah seorang karyawan usaha kripik buah ini, Marwanto (44) mengaku, mendapatkan gaji Rp 1 juta lebih per bulan. Hal itu cukup membantunya, setelah sebelumnya harus merantau ke Malaysia dan Hongkong. Sehari-hari, ia membantu proses pembersihan kulit dan pemotongan buah, kemudian menjalankan mesin pengering buah mulai dari memasukkan buah hingga mengentas setelah kering.

“Untuk buah yang kadar airnya rendah membutuhkan waktu selama 1 jam dalam mesin pengiring (oven). Sedangkan buah yang kadar airnya tinggi, seperti semangka dan melon butuh waktu selama 1,5 jam untuk proses pengeringannya,” jelas lekaki yang dipercaya Lambang untuk menjaga stabilitas produksi setiap hari ini.

Hal yang sama diungkapkan pekerja kupas buah lainnya, Ny Nuryati (48). Perempuan ini justru sudah bekerja selama 10 tahun terakhir. “Usaha lainnya masih tetap sebagai buruh tani. Hal itu saya lakukan saat musim buah belum datang,” ujar Nuryati.

Selasa, 05 April 2011

Peluang Usaha Pertanian : Mengecap manisnya laba bisnis manisan buah


Pepaya, cabai, dan pala bisa disantap manis dan segar. Caranya, buah-buahan ini diolah menjadi manisan buah. Proses pembuatannya sederhana. Dari berniaga manisan buah ini, seorang perajin manisan di Bogor bisa menikmati omzet Rp 10 juta sebulan dari penjualan ke berbagai kota. Pasar manisan buah semakin segar ketika bulan puasa dan Lebaran tiba.

Mulyaningsih belajar membuat manisan buah dari nenek dan ibunya. Tahun 1980, sang nenek mendirikan usaha manisan buah di Desa Cimahpar. Ia adalah satu-satunya pengrajin manisan buah di desa yang terletak di Kecamatan Bogor Utara, Jawa Barat itu.

Sekarang, perajin manisan buah di Cimahpar berkembang menjadi 10 orang. Tahun 2005, usaha manisan buah bernama Mawar Sari itu diwariskan ke tangan Mulyaningsih. Ia mengurus produksi sampai distribusi manisan buah.

Mulyaningsih mempekerjakan 10 pegawai yang memproduksi tujuh varian manisan Mawar Sari. Ketujuh varian itu adalah pepaya, cabai, ceremai, pala, mangga, leunca, dan kolang-kaling. Produksi Mawar Sari paling besar adalah manisan pepaya. "Sepekan saya bisa menghasilkan 30 kilogram (kg) manisan pepaya," kata Mulyaningsih.

Perempuan 31 tahun ini memproduksi manisan pepaya berbentuk belimbing, jambu, dan stroberi. Tapi, rasanya tetap pepaya. Mulyaningsih menjual manisan pepaya seharga Rp 45.000 per kg.

Manisan cabai juga banyak peminatnya. "Kalau saya ikut pameran banyak orang cenderung pilih manisan cabai karena unik," kata Mulyaningsih. Meski namanya manisan cabai, tak ada rasa pedas di manisan ini. Rasa pedas ini tertutup rasa manis segar.

Sebulan Mulyaningsih mampu menghasilkan 40 kg manisan cabai. Harga manisan ini Rp 70.000 per kg. Pernah harga manisan cabai melonjak jadi Rp 80.000 per kg ketika harga cabai naik pada Januari 2011. Setelah harga cabai berangsur pulih, harga manisan cabai turun kembali.

Serupa manisan pepaya, manisan ceremai pun dijual Rp 45.000 per kg, sementara harga manisan pala Rp 35.000 per kg dan manisan kolang-kaling Rp 45.000 per kg. Dari penjualan seluruh varian manisan selama satu bulan, Mawar Sari bisa meraup omzet Rp 10 juta. Omzet akan melonjak tajam saat bulan puasa dan Lebaran. "Bisa sampai 50 kg manisan pepaya terjual dalam sehari," kata Mulyaningsih.

Manisan keluaran Mawar Sari tak hanya merambah Bogor. Produk berasa manis segar ini sudah melanglang ke Jakarta, Bengkulu, dan Batam. "Permintaan pemesan paling banyak dari Pulau Jawa," kata Mulyaningsih.

Para pemesan mengenal manisan Mawar Sari dari Facebook. Mulyaningsih bilang ia hanya mengandalkan situs jejaring sosial itu untuk memasarkan manisan Mawar Sari.

Ia menghitung, penjualan manisan buah Mawar Sari via pemasaran online bisa mencapai 50% dari seluruh penjualan dalam sebulan. Selain lewat dunia maya, Mulyaningsih menjual manisan buahnya ke banyak toko oleh-oleh di Bogor. "Saya ingin membuka toko tapi modalnya belum cukup," kata dia.

Pembuatan manisan ini cukup sederhana. Misalnya manisan cabai. Langkah pertama, biji dibuang dari tubuh cabai. Setelah tak ada lagi biji, kulit cabai direndam dalam air kapur sirih semalam. Setelah direndam, cabai itu dicuci bersih. "Kemudian cabai direbus dengan air biasa biar tak ada lagi sisa kapur sirih dan jernih," kata Mulyaningsih.

Setelah itu kulit cabai direbus dalam air gula. Dua kali sehari selama lima hari kulit cabang direbus agar gula meresap dan rasa pedas lenyap. "Cara membuat manisan lain sama saja. Hanya saja, kalau buah itu semakin asam, masa merebus di air gula lebih lama," tutur Mulyaningsih.

Perajin manisan juga dapat ditemui di Jakarta. Salah satunya, Imam Bastori, pemilik Bio Agrofarm Sarana. Ia mengolah buah carica, buah khas Dieng menjadi manisan carica. Dulu, manisan carica sempat diminati banyak orang. Sayang, belakangan ini pesanan manisan carica terus menurun.

Di Tanah Air, olahan buah mirip pepaya ini kurang begitu digemari. Padahal rasanya lumayan enak dan terasa menyegarkan, apalagi bila dikonsumsi saat cuaca terik.

Lagi pula, carica mengandung vitamin B kompleks dan vitamin E. Manisan buah ini juga aman dikonsumsi anak-anak dan orang dewasa, serta dipercaya memiliki berbagai manfaat lai. "Bahkan, carica mampu menghancurkan sel kanker bagi yang mengalami penyakit kanker payudara," klaim Imam memuji kehebatan manfaat carica dagangannya.

Nyatanya, kendati memiliki seabrek kelebihan dan terasa segar, permintaan carica dan manisan carica semakin merosot. Kalaupun ada penambahan penjualan produk, paling banyak ketika Lebaran tiba. Ketika itulah pesanan membeludak.

Imam merasa heran lantaran penurunan pesanan carica semenjak krisis moneter 2008 sampai saat ini belum juga pulih. Jika dulu Imam bisa mengekspor manisan carica ini hingga Eropa dan Meksiko, sekarang ini Bio Agrofarm hanya bergantung pada pasar lokal.

Imam bisa menjual manisan carica 150 botol tiap pekan. Imam memproduksi produk sirup dan manisan dari buah carica ini. Harganya Rp 15.000 per botol.

Selama ini Imam memasarkan produk manisan carica ke Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Untuk mengantisipasi penurunan penjualan, Imam kerap memasok manisan carica ke berbagai supermarket, toko, serta koperasi.

Senin, 28 Maret 2011

Berita Pertanian : Pedagang Lebih Pilih Jual Buah Impor

Jakarta. Peredaran buah-buahan impor kian menjamur di pasar dalam negeri karena para distributor dan pedagang eceren lebih tertarik menjualnya.

Selain berharga murah, suplai buah impor sangat berlimpah sehingga tak sulit untuk memasarkannya.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Sayur dan Buah Indonesia Hasan Johnny Widjaja, Minggu (27/3)

"Hancur, hancur kita, lihat buah-buah kita dikuasai semua oleh barang luar. Barang kita terlalu mahal, sehingga pedagang sampai konsumen lebih senang buah impor," katanya.

Hasan menambahkan saat ini ada fenomena menarik, yaitu para pedagang sudah mengemas penjualan buah impor dengan menggunakan kendaraan pick-up (mobil bak terbuka), tersebar banyak di pinggir-pinggir jalan.

Bukan hanya itu, peredaran buah impor kini sudah menyebar ke banyak pelosok di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa dan wilayah lainnya.

"Sekarang ini sudah bukan hanya fenomena kota, di Sumatera juga banyak, tapi masih mending tak separah di Jawa.

Misalnya saya ke Jawa Tengah, dari Semarang hingga Banjarnegara, sampai-sampai di Ciwidey (Bandung) saja sudah banyak buah impor," katanya.

Ia mengestimasi saat ini perederan buah impor seperti jeruk, apel, pear, anggur, duren monthong sudah menguasai pasar lebih dari 80%, di pasar moderen maupun tradisional. Distribusi buah-buah ini sangat sistematis oleh para importir maupun pemasok. Sehingga suplainya tak pernah kurang.

"Mengapa pedagang senang jual buah impor? Pedagang itu yang penting bagi mereka melihatnya barang murah, lebih menarik, berkesinambungan suplai-nya," katanya.

Masalah yang dihadapi oleh buah lokal saat ini, lanjut Hasan, selain suplai yang tak menentu, juga tampilan yang tak menarik.

Suplai yang tak menentu ini membuat harga buah lokal sering fluktuatif bahkan cenderung harganya tinggi.

"Kasihan petani kita, jika ini dibiarkan menjadi kecelakaan bangsa," katanya.

Ia mengatakan, membanjirnya buah impor bukan lah fenomena baru. Masalah ini sudah berlangsung lama dan semakin membesar setelah adanya perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA).

Selama ini ia melihat belum ada langkah nyata dari pemerintah untuk mengatasi membanjirnya buah impor di pasar dalam negeri. "Saya melihatnya semakin bingung dan takut," katanya.

Seperti diketahui ACFTA telah ditandatangani pada November 2002, dalam jadwal penurunan tarif tahap pertama yaitu early harvest programme (EHP), dilakukan penurunan atau penghapusan bea masuk impor untuk produk-produk pertanian (termasuk diantaranya buah-buahan), kelautan perikanan, makanan dan minuman.

Minggu, 13 Maret 2011

Berita Pertanian : Jepang Jajaki Impor Stroberi Asal Purbalingga


PURBALINGGA. Pengusaha agrobisnis asal Prefektur Iwate, Jepang, menjajaki peluang impor buah stroberi dari Desa Serang, Kecamatan Karangreja Purbalingga, Jawa Tengah. Produksi stroberi dari dataran tinggi di kaki Gunung Slamet tersebut diharapkan dapat memenuhi kekurangan kebutuhan di Jepang yang mencapai 4.000 ton per bulan.

Dalam kunjungannya ke Purbalingga, akhir pekan lalu, Takashi, pemilik Ichigo House (distributor stroberi terkemuka di Jepang) mengatakan, produksi stroberi di Jepang pada bulan-bulan tertentu menurun akibat pengaruh iklim. Untuk mencukupi kebutuhan domestik, para pelaku bisnis stroberi terpaksa mengimpor buah tersebut dari Amerika Serikat, meski kualitasnya kurang bagus.

Takashi mengemukakan, pada bulan Juli hingga Oktober, produksi stroberi di Jepang menurun. Sementara kebutuhan konsumen tetap tinggi. Pada bulan-bulan tersebut, Jepang harus mengimpor sekitar 4.000 ton buah stroberi dari Amerika Serikat.

Anggota Gabungan Kelompok Tani Desa Serang, Buchori, mengatakan, produksi stroberi di wilayahnya sebenarnya masih bisa ditingkatkan. Saat ini, dari lahan 1.500 meter persegi hanya dihasilkan sekitar 650 gram stroberi per hari, atau 4-5 kilogram per hektar. Padahal, di perkebunan stroberi Ciwidey dan Lembang di Jabar produktivitasnya sudah bisa mencapai 20-25 kg per hektar.

Kepala Desa Serang Sugito menuturkan, sejak diperkenalkan pada 2003, tanaman stroberi menjadi komoditas andalan petani di wilayahnya. Saat ini, separuh lebih petani di desa ini menanam buah stroberi dengan luasan lahan total mencapai 50 hektar. Harga jual yang tinggi membuat sebagian petani memilih menanam stroberi sebagai pengganti tanaman sayur-mayur dan jagung. (kompas)

Kamis, 10 Maret 2011

Berita Pertanian : Cuaca Ekstrem, Musim Buah ‘Menghilang’









JAKARTA. Cuaca ekstrem telah mengubah pola produksi pertanian termasuk perkebunan di Tanah Air. Musim buah-buahan seperti musim rambutan, durian, bahkan mangga, yang biasanya muncul setiap tahun, setahun terakhir ini tak tampak.

“Tahun 2010 iklim begitu merugikan petani, di samping padi yang banyak rusak terkena hujan dan penyakit, buah-buahan juga nggak ada yang tampil. Dulu rambutan menggunung-gunung, sekarang mana? Juga durian,” kata Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir dalam acara diskusi Bulog di Jakarta, Kamis (10/3)

Ia menambahkan secara pribadi ia sudah merasa tak menemukan mangga lokal beredar di pasar dalam negeri. Justru yang banyak muncul saat ini adalah buah-buah impor. “Kalau mangga, ketika sudah berbunga terus kena hujan siang, jadi rontok dan nggak bisa berbuah deh,” katanya.

Winarno menuturkan pada 2010 tidak ada sama sekali musim kemarau, yang ada hanya kemarau basah. Hal ini karena adanya fenomena iklim El Nino yang terjadi begitu sering dalam tempo waktu yang lama sehingga mempersulit siklus produksi pangan yang membawa penyakit “Apa pun tanamannya, kalau kurang penyinaran, produksi turun,” katanya.

Menurut Winarno, sektor pertanian dan perkebunan sangat tergantung pada musim, sehingga jika musim sulit diprediksi, dipastikan akan menggangu produksi pertanian khususnya pangan.

Rabu, 02 Maret 2011

Berita Pertanian : Masyarakat Humbahas Mulai Budidayakan Terung Belanda


Doloksanggul. Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) merupakan daerah penghasil terung belanda atau lazim disebut tiung. Namun, hingga sekarang tanaman tersebut masih ditanam secara tumpang sari di antara tanaman kopi. Padahal, terung belanda dapat mendukung bahkan mendongkrak perekonomian masyarakat setempat terutama di Desa Parsingguran.

B Lumban Gaol (46), warga Desa Parsingguran I, mengatakan, setiap hari Jumat dirinya akan mejual buah terung belanda ke pasar tradisional Doloksanggul rata-rata 100 kg per minggu.
“Hampir setiap kebun kopi milik masyarakat yang ada di daerah ini ditumpangsarikan dengan tanaman terung belanda,” kata Lumban Gaol.

Menurutnya, menanam terung belanda tidak terlalu sulit karena setiap ditanam selalu tumbuh. Dan, hanya membutuhkan 5 bulan perawatan secara intensif, selebihnya bila tiung sudah bercabang, perawatannya sudah ringan karena tumbuhnya di sela-sela pokok kopi.

“Tanaman terung belanda juga berfungsi sebagai tanaman pelindung buat kopi agar tidak terlalu banyak disinari matahari dan juga membantu kami petani ini dalam hal menyiangi rumput. Kalau sudah ditanami terung belanda rumput di sekitar batang kopipun akan berkurang,” akunya.

Kepala Desa Parsingguran I, T Banjarnahor ketika dijumpai MedanBisnis, mengatakan, Desa Parsingguran merupakan desa yang areal pertaniannya banyak ditumbuhi terung belanda. Bahkan era 90-an Desa Parsingguran I terkenal dengan desa penghasil tiung. Tiung dari desa tersebut sering menjadi oleh-oleh (buah tangan) bagi yang berkunjung ke Desa Parsingguran ataupun anak rantau yang hendak pulang ke perantauannya.

Namun, lanjut Banjarnahor, seiring bergulirnya waktu, tanaman terung belanda milik masyarakat sudah semakin tua sehingga produksinya berkurang. Warga parsingguran sudah mulai melakukan pembibitan sendiri hingga ke penanaman dengan bibit varietas lokal.

“Saat ini petani sangat menginginkan bibit unggul yang buahnya besar dan banyak serta dagingnya lebih tebal sehingga terung belanda yang dihasilkan semakin diminati orang,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang Pangan dan Hortikultura, Jhon Harlen Sitompul, mengatakan, tahun anggaran 2009 dan 2010 pengadaan bibit terung belanda selalu ada. Bibit tersebut disalurkan kepada masyarakat melalui kelompok tani. “Kami membagikan bibit tersebut kepada masyarakat dengan tujuan terung belanda ini dapat menjadi tanaman khas di Humbahas serta meningkatkan pendapatan masyarakat setempat,” jelasnya.

Sementara untuk tahun 2011, kata dia, Dinas Pertanian Humbahas merencanakan penangkaran bibit terung belanda di tiga kecamatan. Penangkaran ini akan dikelola oleh kelompok tani yang terbaik di kecamatan tersebut dengan cara melakukan kawin silang antara varietas lokal dengan varietas unggul hingga menghasilkan varietas baru yang diharapkan produksinya semakin baik.

“Program penangkaran bibit ini kita rencanakan untuk mengurangi biaya pengadaan bibit terung belanda sekaligus memandirikan Humbahas dalam pengadaan bibit sesuai dengan visi misi Humbahas yaitu menjadikan Humbahas mandiri dan sejahtra,”

14 Ramuan Jambu Biji Berkhasiat


Jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung berbagai zat gizi yang dapat digunakan sebagai obat. Menurut catatan Parimin S.P. dalam Jambu Biji: Budi Daya dan Ragam Pemanfaatannya (Penebar Swadaya, 2007), dalam tiap 100 gram jambu biji masak segar terdapat 0,9 g protein, 0,3 g lemak, 12,2 g karbohidrat, 14 mg kalsium, 28 mg fosfor, 1,1 mg besi, 25 SI vitamin A, 0,02 mg vitamin B1, 87 mg vitamin C, dan 86 g air, dengan total kalori sebanyak 49 kalori.

Kandungan vitamin C jambu biji dua kali lipat jeruk manis yang hanya 49 mg per 100 g buah. Vitamin C itu terkonsentrasi pada kulit dan daging bagian luarnya yang lunak dan tebal. Kandungan vitamin C jambu biji memuncak saat menjelang matang.

Kandungan vitamin C pada jambu biji sanggup memenuhi kebutuhan harian anak berusia 13-20 tahun yang mencapai 80-100 mg per hari, atau kebutuhan vitamin C harian orang dewasa yang mencapai 70-75 mg per hari. Dengan demikian, sebutir jambu biji dengan berat 275 g per buah dapat mencukupi kebutuhan harian akan vitamin C pada tiga orang dewasa atau dua anak-anak.

Menurunkan Kolesterol

Jambu biji juga kaya serat, khususnya pektin (serat larut air). Manfaat pektin antara lain menurunkan kolesterol dengan cara mengikat kolesterol dan asam empedu dalam tubuh serta membantu mengeluarkannya. Penelitian yang dilakukan Singh Medical Hospital and Research Center Morrabad, India, menunjukkan bahwa jambu biji dapat menurunkan kadar kolestreol total dan trigliserida darah serta tekanan darah pada penderita hipertensi.

Ada pun tanin yang menimbulkan rasa sepat pada jambu biji bermanfaat memperlancar sistem pencernaan dan sirkulasi darah, serta menyerang virus. Kalium yang terkandung pada buah ini berfungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat gizi ke sel tubuh, serta menurunkan kadar kolesterol total dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Menurut penelitian, memakan jambu biji 0,5-1 kg/hari selama empat minggu, risiko terkena sakit jantung dapat berkurang hingga 16. persen.

Dalam jambu biji juga ditemukan likopen, yaitu zat karotenoid (pigmen penting dalam tanaman) yang memiliki aktivitas antioksidan, sehingga bermanfaat memberikan perlindungan pada tubuh dari serangan beberapa jenis kanker. Dalam jambu biji merah, kandungan likopen ini tersedia dalam jumlah melimpah.

Kemudian daun jambu biji yang juga sering dimanfaatkan sebagai obat, diketahui mengandung tanin, eugenol (minyak asiri), minyak lemak, damar, zat samak, triterpinoid, dan asam apfel. Biji jambu mengandung 14 persen minyak atsiri, 15 persen protein, dan 13 persen tepung.

Untuk catatan, jambu biji juga punya nama sebutan lain. Di antaranya glima breueh, glimeu beru, galiman, masiambu, biawas, jambu biawas, jambu batu (Sumatera); jambu klutuk, jambu krutuk, jhambu bhender, bayawas, tetokal, tokal (Jawa); jambu klutuk (Sunda); kojabas (Nusa Tenggara); kayawese (Maluku); fan shi liu gan (Cina).

Ragam Pemanfaatan Jambu Biji

Menurut dokumentasi Parimin S.P. dan PDII–LIPI, di berbagai tempat, jambu biji lazim digunakan sebagai pengobatan dengan penyajian sebagai berikut:

1. Penguat jantung, membantu sistem pencernaan, dan antikanker

Jus jambu biji 200 ml Jus apel 400 ml Jus melon 200 ml Madu murni 100 cc Blender semua bahan sampai halus kemudian simpan di lemari pendingin. Minum secara teratur setiap pagi dan sore masing-masing 300 cc.

2. Demam berdarah dengue (DBD)

Ramuan 1: Jambu biji matang dan mengkal 3 buah dicuci bersih. Jambu yang sudah matang diblender sampai halus lalu disaring sehingga diperoleh jus jambu biji.

Jus jambu biji diminum tiga kali sehari sampai DBD sembuh. Buah yang mengkal dimakan langsung bersama kulitnya. Biji buah tidak perlu ikut dimakan.

Ramuan 2: Daun jambu biji segar 1 kg dicuci bersih, kemudian dipotong kecil-kecil (rajang). Blender dengan air secukupnya hingga halus. Saring dan endapkan, sehingga ekstrak daun terpisah dengan air. Oven ekstrak daun tersebut agar tahan lama.

Cara pemakaian: - Masukkan ekstrak ke dalam kapsul lalu minum dua kali sehari, setiap pagi dan sore. - Minum ekstrak daun bersama sirop jambu biji dengan takaran 1 sendok teh untuk 1/2 liter sirop yang diencerkan. Minum secara teratur sampai keluhan sembuh.

3. Diare

Ramuan 1: Daun jambu biji 30 gr ditambah segenggam tepung beras direbus dengan 1-2 gelas air. Larutan diminum 2 kali sehari.

Ramuan 2: Tiga lembar daun jambu biji muda segar dikunyah dengan sedikit garam, lalu ditelan. Lakukan sehari 2 kali.

Ramuan 3: Enam lembar daun jambu biji dicuci bersih lalu ditumbuk sambil diberi 1 cangkir air matang, peras, minum airnya. Cukup untuk diminum 2 kali sehari. Minum air perasannya. Lakukan setiap hari secara teratur, sampai benar-benar sembuh.

4. Maag

Delapan helai daun jambu biji dicuci, rebus dengan 1,5 liter air. Minum 3 kali sehari.

5. Disentri

Siapkan akar daun jambu biji secukupnya dan daun jambu 10 lembar. Potong-potong akar dan daun, cuci bersih, lalu rebus dengan air secukupnya selama 20 menit pada suhu 90 derajat Celsius. Saring air rebusan lalu minum secukupnya secara teratur sampai keluhan hilang.

6. Luka

Tiga pucuk daun jambu biji dicuci, kunyah sampai lumat. Tempelkan pada luka. Kandungan astringent-nya dapat menghentikan perdarahan.

7. Keputihan

Dua genggam daun jambu biji muda dan 7 helai daun sirih dicuci, rebus dengan segelas air, saring. Tunggu agak dingin lalu minum. Cukup untuk diminum 2 kali sehari.

8. Perut kembung pada anak

Tiga helai daun jambu biji, 2 cm kulit batang pulasari, 5 butir adas direbus dengan 1,5 gelas air sampai airnya tinggal setengah, saring. Minum 3 kali sehari. Dosis untuk anak di bawah umur 3 tahun sesendok makan, di atas 3 tahun 2 sendok makan.

9. Sakit kulit

Ramuan 1: Segenggam daun jambu biji muda dan 7 kuntum bunga jambu biji dicuci, lumatkan sampai halus. Gosokkan pada kulit yang sakit.

Ramuan 2: Daun jambu biji segar 500 gram dipotong-potong lalu direbus dengan air panas 90 derajat Celsius selama 20 menit. Saring air rebusan lalu gunakan untuk mandi selagi airnya masih hangat. Lakukan secara teratur sampai penyakit kulit hilang.

10. Diabetes

Satu buah jambu biji yang masih mengkal dipotong-potong, rebus dengan 3 gelas air hingga tinggal 1 gelas, saring. Minum 2 kali sehari.

11. Beser (sering buang air kecil)

Tiga pucuk daun jambu biji dicuci, lalap dengan sedikit garam dan merica. Makan setiap siang dan malam selama 2 hari.

12. Sariawan

Ramuan 1: Rebus 1 genggam daun jambu biji segar ditambah 1 jari kulit batangnya dengan 1 liter air, saring. Minum 2 kali sehari.

Ramuan 2: Daun jambu biji muda 2 lembar, daun sirih segar 1 lembar, daun saga segar satu genggam dicuci sampai bersih. Tumbuk semua bahan sampai halus lalu tambahkan air. Peras adonan itu lalu gunakan airnya untuk kumur-kumur 2-3 kali sehari.

13. Luka berdarah atau borok di sekitar tulang

Lumatkan daun jambu biji segar, tempelkan di tempat yang sakit. Lakukan beberapa kali sehari.

14. Ambeien

Ramuan 1: Daun jambu biji muda atau pucuknya dan sebuah pisang batu dicuci, lalu ditumbuk. Minum air perasannya. Lakukan setiap hari secara teratur, sampai benar-benar sembuh.

Ramuan 2: Buah jambu biji segar 500 gram direbus menggunakan air secukupnya hingga menjadi cairan kental. Oleskan cairan itu ke bagian tubuh yang sakit.

Jumat, 25 Februari 2011

Berita Pertanian : Manggis Australia Dikhawatirkan Geser Produk Indonesia

Jakarta. Kementerian Pertanian mengungkapkan, saat ini Australia terutama di kawasan Northern dan Western Australia mengembangkan perkebunan manggis secara besar-besaran untuk mengisi pasar buah tersebut di sejumlah negara yang selama ini dipasok Indonesia.
Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim di Jakarta, Jumat (25/2) mengatakan, manggis yang saat ini merupakan buah tropis dan salah satu unggulan ekspor Indonesia sangat disukai konsumen buah-buahan di Timur Tengah maupun Jepang.

"Ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk lebih mengembangkan buah manggis. Oleh karena itu perlu strategi (menjaga pasar ekspor)," katanya.

Menurut dia, budidaya manggis memiliki potensi ekonomi yang sangat menguntungkan apalagi di pasar dunia seperti Jepang buah yang memiliki kulit kecoklatan dan daging berwarna putih tersebut dihargai Rp50.000 per kg.

Pohon manggis, lanjutnya, dapat berumur ratusan tahun dan ketika sudah berusia lebih dari 30 tahun mampu menghasilkan buah hingga 1 ton per batang sehingga dengan harga manggis Rp10.000 per kg maka satu pohon dapat memberikan penghasilan Rp10 juta kepada petani.

Sehari sebelumnya ketika membuka Festival Hortikultura Propinsi Jawa Tengah di Soropadan Kabupaten Temanggung dia menyatakan, salah satu tantangan besar pengembangan hortikultura Indonesia saat ini adalah mewujudkan daya saing produk lokal.

Sebagai salah satu target empat sukses dalam Renstra Kementerian Pertanian, sehingga produk lokal dapat sejajar dengan produk hortikultura impor.

Menurut dia, hortikultura dalam negeri memiliki prospek yang terbuka luas, karena Indonesia memiliki kekayaan plasma nutfah berlimpah. Variasi agroklimat beragam sebagai berkah negara kepulauan yang membentang dari Timur ke Barat, jumlah penduduk yang besar dan budaya yang beragam. "Namun harus diakui bahwa saat ini hortikultura Indonesia masih perlu dipacu lebih maju lagi untuk menangkap peluang pasar, baik di dalam negeri maupun pasar mancanegara," katanya.

Hasanuddin mencontohkan, China yang berpenduduk lebih kurang 1,3 miliar jiwa, sangat menyukai manggis dan salak, salah satu kelompok buah unggulan yang asli Indonesia.

Di sisi lain, tambahnya, volume produksi dua produk andalan ekspor tersebut masih relatif terbatas dan diperparah pula dengan masih minimnya infrastruktur perhubungan sehingga seringkali menjadi faktor pembatas pengiriman buah-buahan yang ada di pelosok negeri.

Sementara itu produk hortikultura memiliki sifat yang cepat rusak (perishable). "Oleh karena itu diperlukan upaya untuk lebih mendekatkan lokasi pengembangan produksi dengan konsumen serta upaya penanganan pasca panen yang baik dan memenuhi standar," katanya.

Dirjen juga menyatakan, saat ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk meningkatkan areal pertanaman dan produksi hortikultura dengan menggunakan bibit-bibit bermutu. "Jika berhasil , dalam lima-sepuluh tahun yang akan datang, Indonesia akan menjadi salah satu produsen hortikultura tropis yang penting di dunia," katanya. (ant)

Berita Pertanian : Buah Impor Sesaki Pasar Makassar



MAKASSAR . Tidak hanya peralatan elektronik dan mainan dari China yang menyerbu Makassar, buah-buahan segar juga banyak merambah daerah ini. Padahal, Sulsel adalah daerah yang subur dan mengandalkan produknya pada pertanian dan perkebunan.

Di toko Segar Buah Jalan Arief Rate misalnya, berbagai buah-buahan segar asal negeri China terpajang rapi, seperti lengkeng, jeruk Shantong (jeruk kecil) persimon Korea, apel kingstone, apel Jepang, pear pacham, apel USA, jeruk sunkist, ponkam dan lain-lain.

Seorang pelayan toko buah yang mengaku bernama Yanti mengungkapkan, buah-buahan tersebut diimpor dari China dan diperlakukan khusus sehingga masih segar sampai di Makassar. Menurutnya, toko tempatnya menjual sudah memiliki pelanggan khusus, sehingga buah-buahan mereka tidak pernah tinggal lama.

Wati, salah seorang pembeli yang ditemui di Segar Buah mengaku lebih suka dengan buah impor, selain harganya murah, buahnya juga lebih segar dengan kemasan yang menarik. "Saya kira pedagang buah kita harus bisa mengemas buah-buahan mereka semenarik ini. Selain itu, pedagang buah kita juga harus bisa mengedepankan kejujuran, karena biasanya kalau kita beli buah-buahan, bagian luar disimpan yang masih segar, sementara di bagian dalam disimpan yang agak membusuk," ujarnya.

Safar, salah seorang penjual buah di pinggir jalan Perintis Kemerdekaan yang ditemui kemarin mengaku, memasok buah-buahannya dari daerah Malino. Dia mengaku tidak terlalu terganggu dengan buah-buahan impor dari China. "Mereka punya pelanggan sendiri, kita juga punya pembeli sendiri. Kita mungkin kalah karena mereka berada di dalam ruangan ber-AC, sementara kita di pinggir jalan," ungkapnya.

Dari sisi harga, buah impor lebih murah. Lengkeng Bangkok misalnya dijual Rp29 ribu per kilogram, jeruk Shantong (jeruk kecil) dijual dengan harga Rp17 ribu per kilogram, sementara di pinggir jalan dijual dengan harga Rp20 ribu per kilogram.

Selain itu, juga ada Persimon Korea Rp35 ribu per kilogram, Apel Kingstone Rp29.500 per kilogram, sementara apel Jepang Rp95 ribu per kilogram. Pear Pacham Rp25 ribu per kilogram, Apel USA Rp19.500 per kilogram, jeruk Sunkist Novel Rp16.500 per kilogram, jeruk

Ponkam Super Rp18.500 per kilogram, pear Cokelat Rp18.500 per kilogram, Nactarin Rp95 ribu per kilogram, Apel Sunmoon Kecil Rp24.500 per kilogram, juga Pear Xianglie Rp19.500 per kilogram. Harga-harga tersebut masih jauh di bawah harga buah-buahan yang dijual di pinggir jalan. (Fajar)

Kamis, 24 Februari 2011

Berita pertanian : Indonesia Kembangkan Tanaman Buah Besar-besaran

Temanggung. Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Hasanudin Ibrahim mengatakan, Indonesia akan mengembangkan tanaman buah secara besar-besaran, khusunya untuk komoditas ekspor.
“Jenis tanaman yang akan dikembangkan adalah buah mangga, manggis, alpukat, dan jeruk keprok batu 55,” kata Hasanudin di Temanggung, Kamis (24/2).

Hasanudin mengatakan hal tersebut usai meninjau Festival Hortikultura Jawa Tengah di Subterminal Agribisnis Soropadan, Kabupaten Temanggung.

Menurut dia, pengembangan tanaman buah tersebut pada 2011 kurang dari 1.000 hektar, namun tahun 2012 akan mencapai ribuan hektar. "Untuk tahun ini masih sedikit, namun pada 2012 akan dikembangkan pada ribuan hektar, terutama di dataran tinggi," katanya.

Ia mengatakan, tujuan ekspor buah dari Indonesia, antara lain Malaysia, Singapura, Hongkong, Cina, dan Eropa. Pasar ekspor buah dan tanaman hortikultura dari Indonesia ke sejumlah negara di luar negeri masih terbuka lebar. "Cina dengan jumlah penduduk 1,3 miliar hanya bisa satu kali musim tanam. Hal ini merupakan potensi besar bagi Indonesia untuk mengekspor hasil hortikultura ke negara tersebut," katanya.

Selain empat jenis buah tersebut, katanya, Indonesia juga mengekspor jenis hortikultura lainnya, antara lain buah salak, pepaya, pisang, sayur-sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat.

Menyinggung masuknya buah impor ke Indonesia, dia mengatakan, volumenya relatif kecil kecuali jeruk. "Untuk mengantisipasi masuknya buah impor maka perlu mengembangkan buah lokal," katanya. (ant)