Tampilkan postingan dengan label peluang usaha hasil pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peluang usaha hasil pertanian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Peluang Usaha Pertanian :Modifikasi Singkong Menjadi Makanan Enak dan Berkelas









"SINGKONG
? Wah itu makanan orang kampung”. Jangan antipati dulu, asal diolah dengan kreativitas tinggi, singkong bisa dimodifikasi menjadi makanan ringan berkelas yang enak untuk teman minum teh atau kopi. Coba saja.

Singkong, panganan lokal yang sudah sejak lama menjadi kawan setia saat makan pagi, khususnya bagi masyarakat yang hidup di perkampungan. Singkong goreng atau rebus juga enak disantap sore hari sambil menyesap secangkir kopi kental ataupun teh manis sepet nan hangat. Hanya, peran singkong bukan sekadar pengganjal perut lho.

Lebih dari itu, singkong mempunyai andil besar sebagai penyedia sumber karbohidrat khususnya pada zaman perang. Tepatnya saat Jepang masuk wilayah Indonesia. Ketika itu beras sangat langka dan sulit didapat. Masyarakat pun beralih ke singkong sebagai pengganti nasi yang juga mengenyangkan.

Sebenarnya, saat itu sumber karbohidrat jenisnya sangat banyak, seperti talas, ganyong,dan ubi. Namun, yang populer adalah singkong yang dimasak dengan diparut (sawut) yang bentuknya mirip nasi. Tak heran pemerintah menggiatkan program diversifikasi makan, dalam rangka mengganti nasi sebagai makanan pokok.

Lihat saja, ditinjau dari segi gizi,selain merupakan sumber kalori, singkong juga mengandung protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin B dan vitamin C. Untuk menyiasati kandungan proteinnya yang relatif kecil, singkong dapat dipadukan dengan protein dari lauk-pauk sehingga dapat melengkapi kebutuhan sehari-hari. Atau dari tambahan sayuran maupun buah.

Bahkan sekarang para ahli telah banyak memanfaatkan singkong menjadi industri seperti dibuat beras aruk yang berbentuk butiran menyerupai beras. Ini dapat diolah menjadi nasi aruk atau dicampur dengan beras dan rasanya tetap nikmat. Selain itu, juga diolah menjadi mi singkong.

Mi singkong merupakan produk olahan campuran tepung singkong dan pati singkong yang dapat dibuat dalam bentuk basah maupun kering. Salah satu produk yang terkenal adalah mi bendo, yang dihasilkan oleh pengusaha di Desa Bendo, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain lezat sebagai makanan, singkong juga memiliki khasiat bagi kesehatan. Efek farmakologis singkong adalah sebagai antioksidan, antikanker,antitumor, dan penambah nafsu makan. Sarat gizi dan bermanfaat bagi kesehatan, lengkaplah sudah.

Jadi, semakin semangat bukan ingin membuat kreasi dari singkong bagi keluarga? Singkong jangan hanya digoreng. Anda bisa membuatnya menjadi singkong isi misalnya, semacam tahu isi. Bahan yang dibutuhkan, di antaranya singkong parut yang diperas, gula pasir, margarin, meses, putih telur, tepung panir, dan tepung terigu protein sedang.

Untuk membuatnya, singkong dicampur dengan gula pasir dan margarin kemudian diaduk rata. Ambil dua sendok makan adonan ini untuk kemudian dipipihkan. Tinggal isi dengan meses, baru ditutup dan dibentuk belah ketupat. Berikutnya adonan digulingkan di atas terigu dan celup ke dalam putih telur, selanjutnya gulingkan ke dalam tepung panir. Nah,tinggal digoreng hingga kuning kecokelatan.

Jangan terpatok pada meses saja sebagai isian. Anda bisa menggunakan selai nanas, stroberi, keju, ataupun daging sapi dan ayam. Untuk menentukan isi singkong, bentuk saja adonan dengan bentuk-bentuk yang berbeda.

Ada lagi nih, singkong ala Thailand. Ini adalah singkong rebus yang disiram dengan vla santan gurih. Cara membuatnya gampang. Bahan yang dipergunakan adalah singkong yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong, gula, serta garam. Sementara untuk vla, siapkan santan kental, gula pasir, garam, tepung maizena, dan daun pandan.

Beberapa restoran ataupun gerai kopi telah mengangkat singkong menjadi salah satu snack yang ditawarkan.Jadi, tidak melulu menyeruput kopi dengan pastry ala Barat. Terbukti, kudapan ini mendapat sambutan hangat dari para pengunjung restoran atau kedai kopi tersebut.

Senin, 16 Januari 2012

Peluang Usaha Pertanian : Pisang Tahu Risol Bisa Raup Rp4,5 Juta per Hari














BERDAGANG
kuliner seakan tidak ada habisnya. Tidak perlu kuliner mahal yang bertempat di tempat mewah, rezeki juga mengalir melalui jajanan ringan. Contoh saja gorengan. Kalau berbicara mengenai gorengan, kita pasti tidak asing lagi. Hampir di setiap penjuru jalanan Ibu Kota dengan mudahnya kita akan menemui gorengan.

Contohnya salah satu warung gorengan yang banyak diburu di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dedi Setiadi adalah pemilik warung gorengan tersebut. Dia menjagokan tiga macam gorengan, yakni Pisang Tahu Lapis, dan Risoles. Dari situlah timbul ide menamakan warung gorengannya "Pistales" kepanjangan dari ketiga bahan baku gorengan tersebut.

Lahir dari racikan sang istri yang sejak awal ahli dalam membuat berbagai jenis makanan, terutama kue. Kedai yang bertempat di depan SMA 3 Setiabudi ini ternyata sudah malang melintang di dunia gorengan. Mampir dan mencoba bertanya pada Dedi, berapa lama tepatnya warungnya telah berdiri. Jawaban yang diberikan Dedi pun cukup mengejutkan. "Baru 30 tahun," katanya berseloroh.

Sebenarnya juga merasa heran, usahanya bisa bertahan hingga puluhan tahun. Maklum saja, usaha ini berawal dari ketidaksengajaan pada 1977 silam. Awalnya, Dedi didaulat menjadi seorang pengusaha kontraktor. Namun, lambat laun, bisnis kontraktornya tersebut tidak bisa lagi dilanjutkan. Dedi pun banting setir menjadi pedagang gorengan.

Dari ketidaksengajaan tersebut, dan hidup yang terus berjalan, bapak tiga orang anak ini akhirnya mencari cara bagaimana meneruskan hidup. "Awalnya memang sudah di sini (Setiabudi), dan saya jualan tahu lapis. Lambat laun saya mulai nambah dengan jual pisang cokelat dan risoles," katanya.

Saat itu, modal Dedi hanya sekira Rp250 ribu. "Awalnya itu saya sampai diledek tukang pisang. Karena waktu pertama-tama saya beli pisang hanya satu sampai dua sisir. Saya ditanya, untuk dimakan atau dijual, waktu saya jawab dijual saya diledek, dijual kok sedikit sekali," candanya.

Usaha yang awalnya kecil dan hanya mempekerjakan satu orang karyawan ini pun mulai menuai hasil. Tahun kedua, bisnisnya mulai laris manis. Bahkan, dia tidak lagi memesan pisang satu sampai dua sisir kepada penjual pisang. "Saya pesan satu pick-up, tapi mereka tidak bisa menyanggupi," tuturnya.

Diakuinya, awal usahanya ini tidaklah berjalan mulus. Gorengan yang dijual hanya berkisar antara 25-30 buah saja. Namun kini, kedai miliknya mampu menjual hingga ratusan bahkan ribuan buah gorengan setiap harinya. Kenaikan permintaan ini tentunya berpengaruh terhadap pendapatannya.

"Kalau dihitung pendapatan, tidak bisa secara gamblang. Karena tiap periode nilai uang terus berubah. Paling saya hanya bisa bebicara berapa jumlah yang terjual per hari. Dulu 100-200, meningkat sampai seribuan," katanya lagi.

Dedi membanderol harga jual Rp2.500 untuk pisang cokelat dan Rp4.500 untuk tahu lapis. Pembeli paling banyak memburu tahu lapis. Jika dihitung, maka omzet Dedi bisa mencapai Rp4,5 juta per hari hanya untuk gorengan tahu.

Kedai yang buka setiap Senin hingga Sabtu antara pukul 06.00-18.00 WIB ini, menurutnya sudah tidak asing lagi untuk sebagian orang. Bahkan, dia mengungkapkan kalangan artis pun sudah menjadi pelangganya.

"Pokoknya selebritis siapa yang tidak kenal pistales?" selorohnya sambil menyebutkan nama sejumlah artis seperti Sophia Latjuba, Krisdayanti, serta sederet artis papan artis lainnya.

Seiring berjalannya waktu, dia kian mantap berbisnis kudapan ini. Dia pun berencana akan membuka cabang baru di 2012. Loaksi yang dipilihnya masih kawasan tengah kota sekitar Blok M. "Investasinya Rp450 juta-Rp500 juta. Saya ingin konsepnya seperti cafe," harapnya.

Kesuksesannya untuk menjajakan pistales ini pun sudah dilirik beberapa investor. Mereka menawarkan dirinya untuk bermitra dengan membuka pistales dalam skala bisnis yang lebih besar atau menggunakan konsep franchise. Namun dia menolak dengan alasan yang cukup simple. "Cokelat itu mudah dibuat dan dicampurnya. Saya tidak mau karena ingin menjaga rasa dan kualitas. Istri saya memang benar-benar sangat menjaga resepnya," katanya lagi.

Terakhir, dia pun membeberkan kunci kesuksesannya dalam berusaha. Yaitu, jaga kualitas bahan serta rasa. Jaga dengan tangan sendiri dan pastikan memiliki " gaya " dari apa yang dilakukan. "Kita juga harus rajin, ulet, sabar, karena usaha kuliner baru bisa dilihat hasilnya satu sampai dua tahun kemudian," pungkasnya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Peluang Usaha Pertanian : Aneka olahan lidah buaya diekspor ke mancanegara









Selain mempunyai banyak khasiat, lidah buaya alias aloevera juga bisa diolah menjadi berbagai macam produk. Mulai dari produk perawatan wajah dan tubuh, hingga produk makanan. Bahkan, pemasaran produk olahan lidah buaya ini sudah merambah pasar ekspor. Seorang pengusaha asal Pontianak, bisa meraup omzet hingga ratusan juta sebulan dari beragam produk lidah buaya.

Di Pontianak, Sunani mengembangkan berbagai produk dari lidah buaya. Mulanya, ia hanya memproduksi jeli dan dodol dari bahan ini. Kini, perempuan 38 tahun ini juga memproduksi stik, keripik, pilus, cokelat, hingga sabun mandi. Semuanya dari lidah buaya.

Bahkan untuk kulit lidah buaya yang tadinya tidak digunakan, ia kembangkan menjadi berbagai macam kerajinan untuk suvenir. "Saya menggunakan merek usaha I Sun Vera untuk berjualan," ujar Sunani.

Untuk memproduksi berbagai produk tersebut, ia butuh dua ton lidah buaya dalam sehari. Sunani mendapat pasokan bahan baku itu dari Pontianak. Maklum, kota di ujung barat Pulau Kalimantan ini memang terkenal sebagai penghasil lidah buaya berukuran jumbo.

Selain kota-kota besar di Indonesia, kini Sunani telah mengirim produknya ke luar negeri, seperti Malaysia, Brunei, dan Jepang. "Saya harus mengirimkan sabun sebanyak 200 kotak setiap minggu untuk pasar ekspor," ujar Sunani. Dari beragam produk tersebut, ia pun bisa meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Selain Sunani di Pontianak, Pranadipa di Semarang, Jawa Tengah, juga memanfaatkan khasiat yang terkandung dalam lidah buaya, Apoteker dan produsen krim perawatan wajah dan tubuh ini juga membuat krim berbahan lidah buaya. "Lidah buaya bisa mempercepat penyembuhan luka karena merangsang pembentukan kulit baru," ujarnya.

Dengan mengusung merek Healby, Pranadipa membuat krim dari lidah buaya untuk kulit kering, bekas luka, dan krim bekas jerawat. Ia menjual produknya itu dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 70.000 per pot berukuran 10 gram hingga 15 gram. Soal pasokan lidah buaya, Pranadipa juga tak kesulitan. Beberapa pemasokselalu siap memasok.

Pranadipa memang hanya memproduksi krim. Ia tak membuat sabun, karena berbeda dengan krim yang bisa digunakan sepanjang malam, sabun hanya melekat beberapa detik.

Krim Healby pun telah dipasarkan di beberapa kota besar di Indonesia. "Permintaan selalu ada, karena orang sudah mengetahui khasiat dari lidah buaya," ujar Pranadipa. Sayang, ia enggan menyebutkan omzet yang diperoleh dari penjualannya krim lidah buaya ini.

Seperti Sunani, mengolah lidah buaya menjadi produk makanan juga dilakukan oleh Betty Nur Anisa. Ia memproduksi stick lidah buaya.

Dalam satu hari, Betty sanggup mengolah 20 kilogram (kg) lidah buaya untuk pembuatan stik. Dari bahan sebanyak itu, perempuan yang juga asal Pontianak ini bisa menghasilkan 20 kg stik per hari. Sebulan, produksi stik mencapai 480 kilogram. Ia pun bisa meraup omzet hingga Rp 24 juta tiap bulan. "Omzet dari stik memang besar," tutur Betty.

Maklum, masyarakat Pontianak sangat menggemari camilan lidah buaya ini. Namun, tak hanya terbatas di Pontianak, Betty juga memasarkan produk olahan lidah buaya ini hingga Malaysia, Belanda, dan Australia. "Setiap dua hari sekali, pelanggan saya dari Malaysia datang," katanya senang.(KONTAN)

Kamis, 29 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : AGRISBISNIS KOPI LANANG








Biar aneh bentuk bijinya, kopi lanang sungguh mantap harganya

Pamor kopi lanang memang belum setenar kopi luwak. Citarasanya yang tak kalah nikmat dibandingkan dengan kopi luwak memicu kenaikan permintaan kopi berbahan biji kopi berbentuk aneh ini. Tak heran harga kopi lanang terus melambung.

Dulu kopi luwak mungkin menjadi satu-satunya kopi khas Indonesia yang dibanggakan negeri ini. Tapi, selain kopi yang diproses melalui saluran pencernaan luwak (musang) ini, diam-diam masih ada kopi khas lain yang juga berkualitas. Namanya kopi lanang atau peaberry coffee. Sayang, belum banyak orang tahu jenis kopi ini.

Kopi ini disebut lanang lantaran bentuk bijinya berbeda dengan kopi pada umumnya. Lanang berarti laki-laki dalam bahasa Jawa. Disebut demikian karena bentuk biji kopi ini tunggal dan bulat, tidak terbelah seperti bentuk biji kopi pada umumnya. Meski demikian, sebenarnya kopi ini bukan varietas baru. Kopi lanang bisa dihasilkan oleh pohon kopi jenis robusta maupun arabika yang pada umumnya ditanam petani di Indonesia.

Menurut John M. Sianturi, pemilik CV Sukses Tani di Sidikalang, Sumatra Utara, salah satu produsen kopi, permintaan kopi lanang mulai muncul sejak tiga tahun silam. Sebagian besar berasal dari beberapa kota besar dan pusat wisata. Meski belum sebanyak kopi luwak, permintaan kopi lanang kian meningkat. Sayang dia hanya mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram (kg) kopi lanang, padahal permintaan yang masuk bisa tiga kali lipatnya.

Permintaan kopi lanang yang tinggi bukan lantaran harganya murah, lo. Asal tahu saja, harga jual kopi lanang di pasar hampir setara dengan kopi luwak. John mengaku menjual kopi lanang seharga Rp 140.000–Rp 150.000 per kg. Bandingkan dengan harga kopi biasa (arabika atau robusta) yang dijual sekitar Rp 100.000 per kg. Bahkan, di Bali, harga jual kopi lanang jauh lebih mahal. Menurut Wirawan Tjahjadi, pemilik PT Putra Bhineka Perkasa, produsen kopi di Bali, harga jual kopi lanang bisa mencapai Rp 250.000 per kg.

Di Pulau Dewata, permintaan kopi lanang memang cukup banyak. John mengaku banyak memasok kopi lanang Sidikalang ke beberapa pembeli di Pulau Bali. Biasanya, peminatnya adalah usaha yang berkaitan dengan wisatawan asing (wisman). Sejauh ini, banyak wisman dari Korea Selatan dan Taiwan yang kebetulan sedang ke Bali, mencari kopi lanang sebagai buah tangan ketika kembali ke negara asalnya.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan pasar lokal. Peminat kopi lanang di pasar lokal memang belum banyak. Maklum, jenis kopi ini belum terlalu dikenal. Wirawan bilang, baru sebagian dari masyarakat di Pulau Jawa mengetahui adanya kopi lanang. Itu pun sebatas dari kalangan para penggemar kopi.

Nah, para penggemar kopi dari luar negeri yang jauh lebih paham akan citarasa kopi lebih mengenal jenis kopi ini. Mereka bahkan rela membeli dengan harga mahal untuk mendapatkan citarasa tertinggi. Menurut John, kopi lanang cukup banyak penggemar lantaran rasanya mirip dengan kopi luwak.

Selain sarat dengan kandungan kafein, yakni sekitar 2,1%, banyak orang yakin kopi lanang berkhasiat menambah vitalitas kaum pria. Namun, hingga saat ini memang belum ada penelitian yang sudah membuktikan klaim tersebut.

Karena kelebihan yang dimiliki oleh kopi lanang ini, permintaan jenis kopi ini terus meningkat. John bilang, permintaan dari Bali masih sangat tinggi. “Sebenarnya, berapa pun kami mampu produksi pasti akan ditampung,” ujarnya.

Wirawan menambahkan, harga jual kopi lanang yang sedemikian tinggi bukan menjadi halangan bagi para konsumen. John mengaku sampai kewalahan memenuhinya. “Permintaannya sampai satu ton per bulan. Tetapi, kami belum sanggup memenuhi,” ujarnya.

Permintaan ini baru datang dari wisatawan, belum dari kedai-kedai kopi premium yang kini menjamur di beberapa kota besar, seperti Jakarta.


Produksi minim

Selama empat bulan terakhir, Wirawan mengaku hanya mendapatkan pasokan sebanyak 250 kg sebulan. Pasokan sesedikit ini sudah mencakup hasil panen di perkebunan kopinya di daerah Kintamani, Bali, dan kiriman dari beberapa petani di Sumatra Utara. John juga menuturkan pengalaman serupa. Produksi kopi lanang dari kebun kopinya hanya sebanyak 300 kg sebulan.

Volume produksi kopi lanang yang sangat minim ini memang cukup beralasan. Kopi lanang bukan dihasilkan oleh budidaya biasa. Layaknya perlakuan pada kopi luwak yang harus spesifik, kopi ini sebenarnya tak bisa dibudidayakan secara khusus.

Kopi lanang sebenarnya hasil sortiran kopi biasa saat panen. Kalau Anda berminat membudidayakan pohon kopi yang bisa menghasilkan biji kopi lanang, ada banyak syarat yang harus dipenuhi. Pertama, lokasi penanaman harus berada di ketinggian minimal 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Daerah dingin, menurut John, akan menghasilkan biji kopi terbaik. Padahal, tidak semua petani kopi memiliki lahan di ketinggian tersebut.

Syarat kedua, petani harus mengurangi serangga penyerbuk. Ini bertujuan agar bunga kopi mengalami stres sehingga menghasilkan biji kopi yang tidak normal. Tapi, kata John, cara budidaya ini belum banyak dilakukan lantaran berisiko merugikan petani yang berharap panen kopi normal.

Ketiga, kopi lanang biasanya banyak dihasilkan dari pohon kopi tua. Sayangnya, pohon kopi yang sudah tua sering ditebang karena dianggap tidak menghasilkan biji kopi terbaik. Padahal, menurut John, pada saat berusia 10 tahun, pohon kopi tersebut berpeluang menghasilkan biji kopi lanang terbaik. Sebab, bunga kopi di pohon kopi tua sering tidak mendapatkan penyerbukan yang sempurna. Akibatnya, lebih mungkin akan berbentuk banyak biji kopi lanang.

Karena itu, John menyarankan, para petani yang di kebunnya terdapat pohon kopi berumur tua mempertahankan pohon tersebut. “Justru itu akan memberi nilai tambah pada petani,” ungkapnya. Meski hasil kopi tidak banyak, nilai jualnya malah mungkin jauh lebih tinggi ketimbang kopi biasa.

Senin, 26 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : Emping berkembang berkat usaha Sumini













SENTRA EMPING MELINJO, KLATEN


Desa Kuncen di Kabupaten Klaten adalah salah satu sentra produksi emping melinjo. Lebih dari 100 perajin memproduksi emping melinjo dengan peralatan yang masih sederhana. Marak sejak 1980-an, Sumini membawa keberhasilan usaha emping melinjo sehingga ditiru penduduk desa.

Klaten adalah salah satu kabupaten yang terletak di antara Yogyakarta dan Surakarta atau Solo. Selain terkenal sebagai salah satu lumbung padi di Provinsi Jawa Tengah, Klaten juga memiliki produk unggulan lain, yaitu emping melinjo.

Sentra produksi emping melinjo di Klaten terletak di Desa Kuncen, Kecamatan Ceper. Dari ibu kota kabupaten, Kuncen berada sekitar 10 kilometer ke arah Solo. Cukup mudah untuk menemukan lokasi sentra pembuatan emping melinjo ini, letaknya cukup strategis berada di pinggir sebelah kiri Jalan Raya Yogya-Solo.

Di Desa Kuncen, kurang lebih ada 100 perajin emping melinjo. Mereka memproduksi emping di rumahnya masing-masing dengan menggunakan peralatan tradisional dan sederhana.

Walau menjadi sentra industri emping melinjo, kondisi Desa Kuncen tak jauh beda dibandingkan dengan desa lain di Jawa Tengah. Hanya saja, di rumah-rumah penduduk biasanya memiliki bagian lain untuk memproduksi emping melinjo.

Tempat produksi tersebut dibuat semi permanen dari anyaman bambu serta berlantai tanah. "Membuat emping melinjo menjadi kegiatan sehari-hari," kata Tri Wijilestari, salah satu perajin emping, sambil terus sibuk menjemur emping basah di atas anjang atau anyaman bambu.

Hampir di seluruh pinggir jalan Desa Kuncen, berjejer anjang berukuran 1 meter (m) x 1 m. Anjang tersebut dipakai untuk menjemur melinjo yang sudah digepengkan. Kegiatan produksi emping melinjo di sentra ini memang masih dilakukan secara rumahan atau home industry. Para perajin masih mengandalkan anggota keluarga inti untuk membuat emping. Kalau pun mempekerjakan karyawan, biasanya mereka hanya merekrut tetangga sendiri.

Seperti keempat karyawan Tri yang semuanya masih tetangga dekat. Mereka memproduksi rata-rata 30 kg emping melinjo tiap hari. Dengan harga jual per kilogram mencapai Rp 28.000 sampai Rp 29.000, menurut Tri, perajin emping di Desa Kuncen rata-rata bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 20 juta setiap bulan.

Omzet yang diraih para perajin cukup membantu ekonomi masyarakat yang kebanyakan bergantung pada pertanian. "Usaha ini bisa dikerjakan di sela-sela kesibukan bertani," ujar Tri. Bahkan untuk mendukung perkembangan usaha pembuatan emping melinjo, saat ini para perajin emping melinjo mendirikan kelompok usaha emping melinjo bernama Mekar Sari.

Tri menceritakan, usaha pembuatan emping melinjo Desa Kuncen mulai marak tahun 1980-an. Saat itu ada salah satu warga yang berhasil berbisnis emping melinjo, namanya Sumini. Sebelum mendirikan usaha sendiri, Sumini dulunya merupakan karyawan pabrik pembuatan emping di Solo. "Saya capek jadi pekerja, akhirnya saya putuskan berhenti dan membuat emping sendiri," ujar Sumini.

Sumini mengajak para tetangganya untuk membantu membuat emping. Melihat keberhasilan Sumini membuat dan memasarkan emping melinjo sendiri, banyak masyarakat desa mengikuti.

Karena itulah kebanyakan perajin emping melinjo Desa Kuncen dulunya adalah pekerja Ibu Sumini. "Saya dulunya juga hanya pekerja biasa," kata Inuk Saminem, salah satu perajin di Desa Kuncen. Ia memutuskan untuk memulai usaha sendiri setelah beberapa tahun berselang bekerja di Ibu Sumini.

Walaupun jumlah pengusaha emping melinjo di Desa Kuncen semakin bertambah, namun tiap perajin memiliki pangsa pasar sendiri-sendiri. Contohnya Tri, setiap satu minggu sekali ia mengirim emping melinjo mentah ke pasar-pasar di Klaten. Ada 10 pelanggan yang siap untuk menampung produksi emping Tri dengan permintaan bervariasi mulai 10 kg hingga 40 kg. "Kita tidak ada rebutan lahan," ungkapnya.

Bahkan menurut Tri, jika ada warga yang produksinya berlebih, antar perajin saling bantu penjualan. Sebab, dengan jumlah produksi yang terbatas, permintaan permintaan di pasaran banyak.


Jaga stok bahan baku agar laba tidak layu

Dengan harga jual cuma Rp 28.000-Rp 29.000 per kilogram (kg), perajin hanya bisa memetik laba Rp 4.000 per kg. Namun, keuntungan yang tak seberapa itu bakal terkikis habis bila perajin tak pandai-pandai menyediakan stok bahan baku di saat paceklik biji melinjo.

Menjadi perajin emping melinjo merupakan pekerjaan sambilan yang bisa menjadi tumpuan penghasilan bagi warga di Dukuh Metukan, Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dan kebanyakan perajin emping melinjo itu adalah ibu rumah tangga.

Di sana, para ibu rumah tangga mengolah biji melinjo menjadi emping seusai membantu sang suami menggarap sawah. Meski pekerjaan sambilan, ibu-ibu ini tampak serius menggarap emping melinjo. Lihat saja, agar pekerjaan lebih fokus, mereka sengaja mendirikan bilik kecil dari bambu sebagai "pabrik" pengolahan melinjo.

Seperti yang dilakukan Tri Wijilestari. Perajin emping melinjo asal Kuncen ini membuat bilik persis di sebelah rumahnya. Tujuan Tri membuat bilik agar lebih konsentrasi dalam memproduksi emping. "Kalau ada tempat sendiri, kami juga bisa lebih fokus bekerja," terang Tri.

Dengan modal Rp 1 juta, Tri membangun bilik sederhana itu. Di bilik itulah Tri memproduksi emping dibantu beberapa pekerja yang masih tetangganya sendiri.

Nah, agar kerja mereka lebih efektif, Tri pun membuat pembagian tugas, yakni ada pekerja yang khusus mengupas kulit melinjo, menyangrai melinjo, hingga menggeprak hasil sangraian melinjo itu menjadi emping.

Untuk memproduksi emping melinjo terbilang sederhana. Biji melinjo harus disangrai terlebih dahulu dengan menggunakan pasir agar kulit arinya terkelupas. Setelah itu, biji melinjo dibentuk menjadi emping dengan cara digeprak hingga pipih. "Mengepreknya butuh alat bantu," kata Inuk Saminem yang juga perajin emping melinjo di Kuncen.

Alat bantu mengeprek biji melinjo itu terbuat dari besi berbentuk alu yang beratnya 3 kilogram (kg)- 3,5 kg.

Setelah biji melinjo digeprak, selanjutnya di jemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Setelah itu baru dikemas dalam plastik dan dipasarkan.

Ketekunan perajin membuat emping melinjo itu sempat dilirik pemerintah. Sebagian perajin pernah mencicipi bantuan pemerintah berupa kompor, wajan serta anyaman bambu berbentuk kotak berukuran 1 meter 2. "Bantuan modal yang belum ada," ungkap Tri.

Sama dengan bisnis lainnya, perajin emping melinjo juga mengalami masa susah. Terutama saat pasokan biji melinjo menipis sehingga membuat harga bahan baku membubung. Agar tetap bisa produksi, biasanya perajin harus selalu siap dengan stok bahan baku. Kalau tidak punya stok, perajin tentu harus keluar ongkos lebih besar untuk membeli biji melinjo.

Padahal, harga emping melinjo cuma Rp 28.000-Rp 29.000 per kg. Setelah dikurangi ongkos produksi, perajin biasanya mengantongi laba bersih sebesar Rp 4.000 per kg.

Namun saat harga biji melinjo melejit, keuntungan yang diperoleh perajin menipis. Bahkan, sebagian perajin pernah merugi karena biaya produksi tak sepadan dengan harga jual. "Kami sulit naikkan harga karena pembeli sudah langganan," ujar Tri.


Bentuk paguyuban untuk perkuat modal



Para perajin emping itu tak cuma rajin menggeprak buah melinjo. Sebagian dari mereka juga aktif berorganisasi dengan membentuk paguyuban Mekar Sari. Sayang, dari 100 perajin emping, hanya 25 orang saja yang ikut bergabung dalam paguyuban Mekar Sari.

Seiring makin banyaknya jumlah perajin emping melinjo di Dukuh Metukan, Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, perajin pun berinisiatif membentuk organisasi pada 2001 lalu. Organisasi perajin ini mereka beri nama paguyuban Mekar Sari.

Dengan paguyuban ini, para perajin emping ini terbantu dari sisi permodalan. "Kalau ada anggota yang membutuhkan dana, paguyuban siap membantu," kata Sumini, Ketua Paguyuban Mekar Sari.

Namun, lebih penting dari soal modal adalah rasa persaudaraan di antara perajin terpelihara dengan adanya paguyuban ini. Sayangnya, dari sekitar 100 warga yang memproduksi emping melinjo, hanya 25 orang saja yang ikut bergabung.

Inuk Saminem, salah satu anggota paguyuban Mekar Sari ini menilai, dengan adanya paguyuban koordinasi lebih mudah. Alhasil, jika ada bantuan, sasarannya pun lebih jelas.

Paguyuban ini tidak mengikat anggota soal jumlah produksi atau penyeragaman harga. "Susah kalau dibatasi seperti itu," terang Inuk.

Seminggu sekali, para perajin ini selalu mengadakan pertemuan. Mereka juga dikutip iuran wajib sebesar Rp 2.000 per minggu, untuk kas organisasi.

Dari uang kas inilah, bantuan permodalan mengalir. Tentunya nilainya juga tak seberapa. Tetapi setidaknya mengurangi kesulitan perajin memperoleh modal.

Masalahnya, bantuan modal dari paguyuban itu tak pernah cukup bisa perajin sedang menghadapi kurangnya pasokan bahan baku.

Meski populasi tanaman melinjo di Klaten masih tinggi, namun tetap belum bisa mengimbangi permintaan industri emping. "Produksi emping lokal sangat terbatas, sehingga kami sering membeli melinjo dari Banten," ujar Tri Wiji Lestarai, perajin emping.

Kondisi inilah yang memberatkan para produsen emping ini. Jika harga biji melinjo asli Klaten hanya Rp 9.000 per kilogram (kg), harga biji melinjo dari Banten bisa lebih mahal Rp 3.000.

Pasokan bahan mentah dan sulitnya permodalan, sejatinya memang kendala utama para perajin itu. Padahal industri rumahan emping melinjo ini adalah pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja. Lihat saja, mulai dari panen melinjo, pengupasan kulit buah, proses pembuatan emping, pemasakan (oven) dan pengemasan hingga pemasaran, semuanya memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang tidak sedikit.

Itulah sebabnya, petani berharap, pemerintah mau campur tangan membentu kesulitan para perajin emping ini. Selain bantuan teknis berupa cara memproduksi emping yang lebih baik dan lebih higienis, para perajin itu jelas membutuhkan bantuan permodalan. Setidaknya ada petunjuk bagaimana cara memperoleh modal kerja itu.

Tanpa modal yang memadai, perajin jelas bakal kesulitan mengembangkan usaha. "Seperti saya yang membutuhkan modal tambahan untuk mengantisipasi kenaikan harga biji melinjo," keluh Tri.

Ya, begitulah nasib perajin di negeri ini.

Kamis, 15 September 2011

Pemerintah Harus Menbuat Standar Mutu Jamu

JAKARTA. Pemerintah diminta membuat standar mutu jamu. Sehingga dengan demikian, industri jamu nasional bisa bersaing dengan industri sejenis dari luar negeri.

Kalau standar itu tidak segera dibuat, industri jamu nasional yang 90 persen merupakan usaha kecil dan menengah (UKM) lambat laun akan kolaps. Sebab negara-negara pesaing saat ini telah memiliki standar mutu yang diminta negara importir jamu atau bahan baku jamu.

"Terutama negara-negara di Eropa, mereka ketat sekali dalam menerapkan mutu. Pernah ada kasus, jamu dan bahan baku jamu kita ditotak di Inggris, karena kita tak punya standar mutu,” kata Ketua Umum Charles Saerang pada acara pengukuhan pengurus Gabungan Pengusaha (GP) Jamu periode 2011-2015 di Jakarta, Kamis (15/9/2011).

Saat ini, lanjutnya, yang ada hanya proses pembuatan jamu yang dibuat oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Namun, standar bahan-bahannya dari bibit tanaman bahan bakunya sampai jadi produk belum ada.

Hal itu seharusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Pertanian (Kementan). Sementara perdagangan ke luar negeri harusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan proses pembuataannya jadi tanggung-jawab Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

“Perlu kerja sama semuanya itu. Pasalnya, jumlah spesies tanaman bahan baku jamu makin banyak berkurang setiap tahun. Siapa yang bertanggung jawab? Mungkin perlu ada Bulog-Bulog (badan urusan logistik) jamu,” kata Charles.

GP Jamu, menurut Charles, berharap setidaknya Kementan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan BPOM bertanggung jawab mengangkat citra jamu sebagai produk warisan budaya bangsa yang dapat diandalkan. GP Jamu juga meminta kepada BPOM ikut memberikan standar pembuatan jamu dari hulu ke hilir yang berstandar internasional.

Terkait itu, kata Charles, selama ini pengusaha kecil terkendala dalam hal Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sehingga diperlukan lembaga konsorsium yang dapat mewadahi para pengusaha kecil. "Mau tidak mau pengusaha kecil akan mengikuti standar mutu internasional itu, maka perlu konsorsium,” ujarnya.

Konsorsium tersebut, tambahnya, diharapkan tak hanya beranggotakan GP Jamu, tetapi juga Kadin dan perbankan. Industri jamu Indonesia saat ini dan ke depan memang masih harus bekerja keras untuk menghadapi beberapa kendala, salah satunya dalam usaha mengembangkan pasar global.

Pemerintah harus segera menunjuk kementerian terkait untuk menangani permasalahan akan kebutuhan standar mutu yang sudah sangat mendesak, dengan semakin meningkatnya permintaan pasar herbal dunia akan bahan jamu.

Rabu, 07 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : Meraup laba dari usaha pembekuan buah segar kupas












Banyak orang malas membuat jus buah karena enggan mengupas kulit buah. Tapi tak perlu risau, kali ini, ada produsen buah beku yang menawarkan buah beku yang sudah dikupas dan siap untuk diblender menjadi jus. Selain rumah tangga, pelanggan buah beku itu datang dari restoran.

Bagi sebagian orang, mengonsumsi jus buah tidak lagi sekadar kebutuhan tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Agar bisa menikmati jus buah, tentu bisa membuat jus sendiri, atau memesan di warung-warung penyedia jus atau di restoran.

Tapi, kalau Anda ingin mempertahankan hiegienitas, tak ada salahnya membuat jus sendiri. Masalahnya, membuat jus sendiri juga ribet karena harus mengupas buah sendiri yang jelas membutuhkan waktu.

Namun tak perlu risau. Sebab sekarang ada gerai Frozen Fruit yang khusus menjual buah beku tanpa kulit. Jadi, begitu beli bisa, potong-potong sesuai kebutuhan, dan langsung diblender. "Buah kami tinggal diblender dan diminum," kata Stanley, pemilik gerai Frozen Fruit di Semarang, Jawa Tengah.

Stanley memulai membuka gerai Frozen Fruit pada 2010 lalu. Ketika itu, ia melihat saat panen buah banyak buah yang tak bisa terjual lantaran membusuk sehingga terbuang sia-sia. "Saat itu saya membeli mesin pendingin agar buah petani bisa tersimpan lebih lama," kata Stanley.

Dengan modal mesin pendingin senilai Rp 15 juta itulah Stanley memulai bisnis dengan menjual lima jenis buah beku tanpa kulit yang sering dikonsumsi, seperti mangga, apel, jambu, stroberi, dan melon. "Usaha ini belum banyak pemain," ungkap Stanley.

Stanley menjual buah beku itu seharga Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram (kg). Ternyata, jualan itu laris manis. Bahkan dalam sebulan Stanley bisa menjual hingga 400 kg buah beku, dengan omzet sekitar Rp 16 juta. "Buah beku lebih tahan lama, bisa bertahan di lemari es hingga tiga bulan," kata Stanley yang juga pemilik usaha mebel di Semarang itu.

Menurut Stanley, permintaan buah beku itu datang dari kalangan rumah tangga hingga restoran di Semarang dan sekitarnya. Selain Stanley, Flegon Koen juga memproduksi buah beku merek Buabeku. Flegon membuka gerai Buabeku-nya di Jakarta. Ia terbilang pemain baru di bisnis buah beku ini. Namun begitu ia sudah memiliki pelanggan dari kalangan restoran di Jakarta.

Seperti halnya Stanley, Flegon yang baru membuka usaha kurang lebih dua bulan silam itu juga menjual buah beku yang sudah dikupas dan sudah siap untuk dijus. "Hasil observasi kami, pasar buah beku ini adalah restoran," ungkap Flegon.

Untuk membekukan buah itu, Flegon mendinginkan dalam alat bernama blast frezzer. Mesin pendingin ini diklaim memiliki kemampuan mendinginkan hingga beku sampai ke sari buah. Karena itu, "Buah beku kami mampu bertahan hingga tiga bulan atau lebih," klaim Flegon.

Meski baru buka dalam kurun dua bulan ini, Flegon mengaku sukses meraih 20 restoran yang menjadi pelanggan tetap buah bekunya. Untuk setiap restoran pelanggannya, Flegon memasok 3 kg sampai 4 kg buah beku setiap pekan.

Saat ini, Flegon sudah memproduksi 320 kg buah beku dalam sebulan. "Ini selalu habis setiap bulan untuk langganan saya dari restoran di Kelapa gading," terang Flegon.

Saat ini, Flegon menjual sembilan jenis buah yang laris, yakni alpukat, sirsak, mangga, jambu, stroberi, nanas, melon jepang, dan kedondong. "Harga jual buah beku itu mulai Rp 25.000 - Rp 58.000 per kg," kata Flegon yang mengaku mampu meraih omzet hingga Rp 15 juta saban bulannya itu. (KONTAN)

Sabtu, 23 Juli 2011

Peluang Usaha Pertanian : Meneguk laba dari minuman sari wortel

Pola hidup sehat adalah sebuah kebutuhan. Nah, agar hidup kita tetap sehat, tentu banyak caranya. Yang sudah kita kenal adalah berolah raga teratur dan mengudap makanan bergizi. Tetapi, olah raga dan asupan makanan saja belum cukup. Minuman yang sehat dan penuh vitamin juga perlu untuk menyempurnakan kebutuhan gizi di badan kita.

Itulah sebabnya banyak produsen makanan dan minuman berlomba-lomba membuat minuman nikmat namun tetap kaya gizi dan vitamin. Salah satunya adalah Guntoro Joko Santoso.

Pria asal Kediri, Jawa Timur, ini mempunyai produk minuman bernama Mr Carrot. Menilik namanya, kita bisa menduga, minuman ini berbahan baku wortel (Daucus carota).

Menurut Guntoro, selain dijual di gerai Mr Carrot, minuman wortel itu juga dikemas dalam bentuk bubuk instan yang dijual di beberapa apotek atau melalui sistem kemitraan. Walaupun baru berdiri tahun ini, Mr Carrot sudah mendapatkan dua mitra di Madiun dan Surabaya. Guntoro sendiri memasarkan produknya ini di pusat perbelanjaan Ramayana di Kediri dan di Paragon, Semarang.

Guntoro mengungkapkan, dia membuat Mr Carrot itu karena minuman berbahan baku sayuran belum banyak dijajakan. "Saya melihat minuman dari wortel itu belum ada," kata Guntoro.

Karena berbahan baku wortel, dia mengklaim bahwa Mr Carrot mengandung banyak vitamin A. "Survei kami menyebutkan, minuman wortel dikonsumsi oleh mereka yang sadar kesehatan, seperti dokter," klaim Guntoro.

Untuk memproduksi Mr Carrot dalam bentuk instan, Guntoro bekerja sama dengan pabrik jamu. Karena itu, dia mengemas bubuk instan Mr Carrot sesuai dengan standar industri jamu.

Guntoro menjual Mr Carrot di rentang harga Rp 3.500 hingga Rp 5.000 per gelas. Mr Carrot sendiri mempunyai tiga varian, yakni wortel polos, wortel campur jeruk, dan wortel dengan tambahan jeli.

Untuk investasi kemitraan, Guntoro menawarkan investasi terendah sebesar Rp 7,5 juta. Dengan investasi sebesar ini, mitra akan mendapatkan booth, seragam, banner, pemanas, blender, bahan baku, dan perlengkapan kerja plus biaya pelatihan karyawan.

Selain itu, Guntoro menyediakan paket investasi Rp 40 juta. Dengan paket ini, mitra mendapat lima booth, pemanas, seragam, banner, blender, bahan baku serta perlengkapan kerja. Investasi sebesar itu sudah termasuk biaya pelatihan bagi para calon karyawan. Agar mitra lebih tertarik, Guntoro membebaskan mitra dari kewajiban membayar royalty fee.

Guntoro bilang, setiap booth bisa menjual 40 gelas sehari. Jika harga segelasnya hanya Rp 5.000, dalam sebulan omzet booth minuman ini bisa mencapai paling tidak Rp 6 juta.

Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, Amir Karamoy, menilai positif kemitraan minuman berbahan sayuran ini. Ia bilang, minuman berbahan sayuran boleh dikatakan belum ada. "Kalau minuman yang menggunakan bahan baku buah sudah banyak, namun dari wortel belum ada," kata dia.

Namun demikian Amir mengingatkan, karena usaha ini pionir, ia meminta calon mitra harus hati-hati melihat segmen pasar. "Lihat dahulu pasarnya bagaimana, apakah ada peminat atau tidak? Walau investasinya murah tetap sayang kalau usaha kita merugi," ujar Amir.(KONTAN)

Jumat, 01 Juli 2011

Peluang Usaha Pertanian : Kreasi Boneka Tepung dan Sabun













Percampuran sabun mandi dan tepung terigu, ternyata mampu menghasilkan karya unik dan bernilai ekonomis. Di tangan Nurmawati, bahan yang murah meriah itu dibentuk menjadi aneka boneka labonte nan lucu.

Nama Nurmawati (42) warga asal jalan Sembilang no 31 C Polowijen, mulai dikenal sejak ia mengikuti sebuah pameran kerajinan di Malang Olympic Garden (MOG) empat bulan lalu.

Karyanya, boneka-boneka mungil yang dilengkapi pakaian daerah. Boneka ini terlihat menarik dan unik karena bahannya sederhana: sabun mandi dan tepung terigu. Usai pameran dan meraup untung lumayan besar, Nurmawati menerima banyak pesanan boneka itu.

“Saat ini, dari membuat boneka, kami bisa menambah penghasilan rumah tangga sekitar RP 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan,” jelas ibu dua anak ini.

Perempuan yang juga mengajar ekstrakurikuler Pramuka di tiga SD dan SMP di Malang ini lantas mulai memproduksi boneka itu secara rutin di sebuah bengkel berukuran 2 x 2 meter di rumahnya. Sekitar 20 pasang boneka per hari itu dibuat secara rutin di sela-sela aktivitasnya yang padat. Sebab, selain memberi pelatihan pramuka di sore hari, sehari-hari Nurmawati bekerja di bagian pelayanan loket pembayaran listrik di PLN Polowijen.

“Membuat boneka ini sebenarnya mudah dan tidak membutuhkan bahan yang mahal. Yang terpenting harus bisa telaten,” ujarnya.

Ditambah Pewarna Kue

Dikatakan, tiap hari, ia hanya menghabiskan satu batang sabun mandi dan 0,5 kg tepung terigu untuk membuat puluhan boneka labonte tersebut. “Semula, sabun batangan dicacah dan direndam air selama 2-3 jam, hingga sabun yang direndam tersebut tercampur dengan air dan menjadi halus,” jelas Nurma yang terlihat cekatan membuat adonan.

Setelah itu, sabun yang telah menjadi halus tersebut dicampur dengan tepung terigu secukupnya hingga adonan benar-benar lembut seperti lilin malam. Adonan tersebut lantas dicampur dengan pewarna kue untuk mendapatkan warna sesuai dengan bentuk boneka yang akan dibuat.

Setelah boneka dibuat, boneka itu dikeringkan kemudian disemprot pernis atau cat agar tahan lama dan tidak berjamur.

“Untuk mendapatkan kesan yang lebih cantik, biasanya saya menambahkan kain perca, gliter, ataupun pernak-pernik yang bisa melahirkan kesan hidup untuk boneka saya,” kata Nurma.

Setelah terlihat cantik, Nurma mulai mengemasi boneka tersebut. Namun masalah kemasan, Nurma menyerahkannya pada suaminya, Revizal. Sang suami yang mahir dalam dalam kreasi kemasan, berupaya agar boneka bikinan istrinya dilirik orang. Salah satu yang ia lakukan adalah membuat ‘api unggun’. Dalam paket boneka bertema pramuka, di tengah boneka diselipkan lampu agar menyerupai api unggun sehingga hasilnya terlihat unik.

Genjot Produksi, Siap Ajarkan Keterampilan

BUSANA DAERAH - Kreasi boneka berbahan larutan sabun dan terigu (La Bunte) ini juga dibuat dengan model busana khas beberapa daerah di Nusantara.

Kreasi Nurmawati ini tidak melulu pada boneka. Ia juga mahir membuat hiasan bunga dan buah-buahan. Bahkan ia juga menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan.

Ia pernah mendapat pesanan khusus dari dokter gigi berupa boneka berbentuk gigi. “Boneka gigi ini sebagai suvenir pasien yang datang dari luar negeri,” jelasnya.

Semula, Nurmawati tak menyangka jika hasil kreasinya itu sangat diminati warga di Kota Malang. Terlebih usaha membuat boneka ini berawal dari coba-coba. “Saat itu saya masih mengajar pelajaran keterampilan di sebuah sekolah. Saya harus mengasah ide agar siswa tidak bosan. Melalui teman, saya mendapatkan ide membuat boneka labunte,” terang Nurma, mengisahkan kejadian enam tahun lalu.

Setelah serius berguru membuat boneka labunte pada seorang teman, akhirnya ia berkreasi sendiri.

Kreasinya kian beragam hingga akhirnya ia tuangkan dalam buku keterampilan tingkat SD yang diterbikan oleh Dinas Pendidikan. “Akan tetapi, tampaknya tidak ada orang yang tertarik membuat boneka labunte. Alasan yang muncul karena boneka gampang berjamur,” terangnya.

Mendapati keluhan ini, Nurma tergelitik untuk bereksperimen agar boneka itu tidak bisa berjamur. Setelah coba sana sini, akhirnya ia menemukan cara bahwa boneka itu harus dicat semprot guna menangkal jamur. Atas temuan inilah, lantas ia tertarik memproduksi boneka mini itu.

Sebagai industri rumahan skala kecil, Nurma baru bisa memasarkan boneka buatannya saat ada undangan pameran dari satu tempat ke tempat lain saja. Namun, seiring waktu, Nurma mulai bisa menitipkan karyanya di galeri UMKM yang ada di kantor Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang, di jalan Panji Suroso Malang. dari situlah para pengunjung yang menginginkan produknya bisa menghubungi melalui kartu nama yang di tinggalkan di samping hasil produksinya.

Kini, dengan permintaan yang makin tinggi, Nurma mengaku kewalahan karena keterbatasan tenaga kerja permodalan. Ia pun membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang tertarik untuk belajar bersama membuat boneka ini.

Senin, 13 Juni 2011

Warga Katibung Aktif Berbisnis Sabut Kelapa






MERBAUMATARAM. Warga Kecamatan Merbaumataram, Kecamatan Katibung, dan Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan, sejak beberapa tahun terakhir aktif berbisnis jual beli sabut kelapa. Terutama sejak berdirinya beberapa pabrik pengolahan sabut kelapa di daerah tersebut.

Menurut beberapa pedagang pengumpul sabut kelapa, kendati tidak terlalu besar, bisnis ini cukup menguntungkan. Mereka membeli dari pemilik kebun kelapa atau juragan kelapa dan langsung menjualnya ke pabrik pengolahan.

Sedangkan untuk harga pembelian, para pedagang langsung membeli sabut kelapa kepada pemiliknya di kebun dengan harga Rp9.000 hingga Rp10 ribu per meter kubik, tergantung jarak pembelian dengan tempat penjualan atau tempat pengolahan sabut tersebut.

"Saya langsung menjual hasil pembelian dari warga ke pabrik pengolahan. Untuk mengangkutnya dari lokasi pembelian ke tempat penjualan saya menggunakan sepeda motor yang dibuatkan gerobak dari kayu dan bambu pada jok bagian belakang," kata Misdi yang mengaku sebelum menekuni jual beli sabut kelapa berprofesi sebagai tukang ojek.

Sedangkan pedagang lainnya, Sunarto, mengatakan dirinya tidak perlu khawatir akan kehabisan stok dari pekebun karena kebun kelapa di wilayahnya masih cukup luas. Hampir setiap desa terdapat kebun kelapa yang biasanya dipanen minimal satu bulan sekali oleh pemiliknya.

"Untuk tempat penjualan kami juga tak perlu khawatir karena di Kecamatan Katibung saja terdapat tidak kurang dari tiga pabrik pengolahan sabut kelapa," ujarnya. Namun, para pedagang pengumpul tersebut enggan menyebutkan berapa harga jual mereka ke pabrik.

Sementara para pemilik kebun kelapa juga merasa ikut bersyukur dengan berdirinya pabrik pengolahan sabut kelapa di daerah ini. Jika dulu limbah tersebut terbuang percuma, kini mempunyai nilai rupiah meskipun tidak terlalu mahal harga jualnya. "Kalau dulu paling untuk dibakar sebagai pengusir nyamuk di ladang atau di kebun. Kini sudah dapat dijual walaupun tidak terlalu mahal," kata pemilik kebun, Safei.

Untuk informasi, saat ini luas areal kebun kelapa di Kecamatan Katibung dan Way Sulan lebih kurang 1.459,50 hektare. Sementara pabrik pengolahan sabut kelapa sebagai penampung paling tidak sebanyak empat buah.

Selasa, 24 Mei 2011

Peluang Usaha Pertanian : Ternyata kemitraan sari tebu masih manis


Manis alami sari tebu membuat konsumen bisa melepas dahaga. Kian hari, peminat sari tebu ini pun terus meningkat. Tidak heran, gerai sari tebu terus beranak-pinak, mulai dari gerai kelas gerobak hingga gerai paling mahal yang mengambil lokasi gerai di mal.

Hendrawan Buntaram, pemilik Sari Tebu Jojo Cup di Bandung mengatakan, lima tahun belakangan usaha minuman berbahan dasar tebu terus naik daun. Sementara, Doddy Sularso, pemilik Raja Tebu juga terus menambah mitra yang sudah melewati hitungan seribu.

Kali ini kita akan mengulas tiga kemitraan sari tebu yang pernah ditulis sebelumnya yaitu Sari Tebu Murni, Jojo Cup, dan Juragan Tebu. Ketiga kemitraan ini mendapat penambahan mitra meski jumlahnya bervariasi.


Raja Tebu

Jaringan kemitraan Raja Tebu berdiri tahun 2005 dengan nama usaha CV Raja Tebu. Dulunya, gerai sari tebu ini mengusung nama Sari Tebu Murni. Pemiliknya, Doddy Sularso, hanya memiliki lima gerai sari tebu. Pada April 2010 lalu, total gerai Raja Tebu mencapai 800 gerai.

Kini, jumlah gerai Raja Tebu terus bertambah. Doddy mengatakan, saat ini. ada sekitar 1.000 gerai Raja Tebu yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Doddy mengatakan, pertumbuhan gerai yang pesat ini karena semakin banyaknya calon investor yang tertarik untuk berinvestasi dalam minuman tebu. "Konsumennya terus bertambah karena secara umum masyarakat Indonesia sangat menyukai rasa manis tebu yang menyegarkan," ujar Doddy berpromosi.

Pertumbuhan mitra yang tinggi ini, klaim Doddy, juga karena kemudahan berinvestasi Raja Tebu. Doddy memang tidak memungut biaya royalti. Ia hanya mengharuskan para mitra membeli pasokan tebu darinya agar kualitas sari tebunya tetap terjaga.

Saat ini, Doddy sudah menaikkan biaya investasi untuk setiap paket yang ditawarkannya. Kenaikan biaya investasi ini untuk menyeimbangkan dengan kenaikan harga. Selain itu, Doddy pun menambah produk bakso di dalam paket yang sudah ada. Ia pun akan memasok bakso untuk para mitra. Tambahan bakso ini hanya untuk mitra baru.

Sebelumnya Doddy membanderol paket Kaki Lima Rp 21,5 juta, paket Gerai Motor Rp 39,5 juta, dan paket Mal Rp 28,5 juta. Saat ini Doddy menawarkan paket Kaki Lima dengan investasi Rp 28,5 juta, Gerai Motor Rp 45,5 juta, dan paket Mal Rp 58,5 juta.

Selain itu masih ada dua paket baru yakni paket Gerai Mobil dengan investasi awal Rp 64,5 juta dan paket Cafe dengan investasi Rp 99,75 juta. "Untuk paket mobil dan Cafe memang untuk kalangan ekonomi yang sedikit lebih mapan," ujarnya.

Satu gerai Raja Tebu mampu menjual rata-rata 75 gelas sari tebu per hari dengan harga Rp 8.000 per gelas. Selain itu, Doddy menghitung mitra bisa menjual rata-rata 20 mangkuk bakso per hari dengan harga Rp 5.000. Dengan hitungan itu, menurut Doddy, mitra bisa balik modal antara 6 bulan hingga 10 bulan.


Sari Tebu Jojo Cup

Saat terakhir diliput KONTAN pada Maret 2010, Hendrawan Buntaram memiliki 15 outlet Jojo Cup di Bandung. Hendrawan memulai usaha sari tebu Jojo Cup ini sejak 2008. Saat ini, sudah ada penambahan lima gerai yang ada di Jakarta dan Bandung. Hingga kini, Hendrawan masih belum menaikkan biaya kemitraan dari angka semula.

Hendrawan tetap menawarkan balik modal lima bulan dengan dua paket kemitraan. Pertama, paket Regular dengan investasi Rp 30 juta untuk kerjasama dua tahun. Kedua, paket Premium dengan nilai investasi awal Rp 60 juta untuk masa kerjasama lima tahun.

Untuk kedua paket, mitra mendapat booth, mesin giling tebu, mesin penutup cup, paket promosi, seragam, dan pelatihan. Booth tipe Regular untuk penempatan di ruko dan di depan hipermarket atau minimarket. Paket ini hanya menjual sari tebu asli dan variasi sari tebu.

Sementara, tipe Premium untuk lokasi di foodcourt atau mal. Paket ini menjual sari tebu asli, variasi sari tebu, dan minuman lain seperti teh kesehatan.

Hendrawan mengatakan, satu gerai bisa menjual antara 80 hingga 100 gelas sari tebu per hari. Hendrawan mematok harga Rp 5.000 hingga
Rp 10.000 per gelas. Perkiraannya, jika mitra bisa mengantongi omzet Rp 15 juta hingga Rp 30 juta sebulan, si mitra akan balik modal dalam waktu lima bulan. Hendrawan mengutip biaya royalti 10% dari omzet tiap bulan.

Menurut Hendrawan, biasanya permintaan akan minuman tebu akan meningkat drastis saat bulan puasa. Maka ia pun memperkirakan mendekati bulan puasa, jumlah pebisnis sari tebu ini akan melonjak. "Biasanya naik hampir 50%," ujarnya.

Tentu saja Hendrawan bakal memanfaatkan peluang ini untuk menjaring mitra sebanyak mungkin. Targetnya, di bulan puasa tahun ini ia mampu merambah wilayah Jabodetabek.


Juragan Tebu

Galuh Ikhwansyah, pemilik Juragan Tebu yang menawarkan kemitraan sejak Juni 2010 mengatakan dia mampu bersaing dengan sari tebu yang lain karena rasa sari tebu bikinan Juragan Tebu tidak kalah dari yang lain. Galuh juga bekerja sama dengan petani tebu di Cirebon sehingga dia dapat memasok mitra sepanjang tahun.

Belum lewat satu tahun menawarkan kemitraan, Galih sudah menggaet 25 mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Magelang, dan Bekasi. Galih menghitung mitranya dapat menjual 1.500 sampai 2.000 gelas per bulan. Dengan harga Rp 4.000 per gelas, mitra bisa mengantongi omzet rata-ratanya Rp 6 juta sampai Rp 8 juta.

Galih menawarkan empat paket kemitraan mulai dari yang termurah Rp 8 juta, Paket Gerobak Rp 12 juta, Gerobak Tenda Rp 17,5 juta, dan Paket Booth Rp 22,5 juta.

Mitra Galuh kebanyakan memilih paket gerobak dengan investasi Rp 12 juta. Dengan nilai investasi itu, calon mitra akan mendapatkan peralatan lengkap, mesin giling tebu, tiga pasang seragam, bahan baku tebu untuk 30 porsi, dan 100 gelas.

Setelah beroperasi, mitra harus membeli bahan baku dari Juragan Tebu. Galih memperkirakan, biaya bahan baku ini sekitar setengah dari total omzet mitra per bulan. "Mitra akan balik modal lebih cepat bila ia turun tangan sendiri," ujar Galih.

Seperti usaha lain, syarat penting bagi kemitraan ini adalah lokasi. Galih menganjurkan mitra mangkal di tempat ramai, seperti tempat wisata, sekolah atau tempat lalu lalang kendaraan.

Dengan hitungan mitra bisa menjual 1.500 gelas dan harga jual Rp 4.000, omzet mitra Rp 6 juta per bulan. Ingat, dari jumlah itu, mitra harus mengeluarkan biaya bahan baku setengah dari omzet, biaya operasional sekitar Rp 500.000 dan upah pegawai Rp 1,2 juta. Dengan laba bersih cuma Rp 1 juta, mitra ada baiknya memiliki lebih dari satu gerobak.

Agar omzet lebih besar, Galuh menyarankan mitra rajin berjualan ke tempat seperti konser musik dan pasar malam. Dengan gerai yang mobile, mitra bisa memindahkan lokasi dagangan di pusat keramaian.

Mitra juga bisa bermain di harga jual dengan memperhitungkan kemampuan ekonomi warga sekitar gerai. Di Cirebon, Galih menjual sari tebu Rp 2.500 per gelas. Mitra bisa menyesuaikan harga jual sendiri. Di Jakarta atau Bandung, mitra bisa menjual sari tebu Rp 5.000 atau Rp 6.000 per gelas.