Tampilkan postingan dengan label organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label organik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

Banyumas Kembangkan Agrowisata Pertanian Organik

Banyumas. Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), mengembangkan agrowisata berbasis pertanian organik khususnya tanaman sayur di lereng Gunung Slamet.
"Dalam agrowisata ini kami mendorong pengembangan pertanian organik khususnya tanaman sayuran," kata Kepala Desa Melung Budi Satrio di Melung, Banyumas, Minggu (8/1).

Oleh karena lebih difokuskan untuk kegiatan padat karya yang melibatkan masyarakat, kata dia pihaknya memanfaatkannya untuk budi daya tanaman sayur organik pada lahan milik desa seluas dua hektare. "Kami melibatkan masyarakat, mulai dari pembuatan pupuk organik, pengolahan lahan, hingga perawatan tanaman," katanya.

Dalam hal ini, kata Budi, pupuk organik yang dibuat berasal dari kotoran ternak dan daun-daunan. Lebih lanjut mengenai pengembangan agrowisata tanaman sayur organik ini, dia mengatakan, hal itu ditujukan untuk menyadarkan masyarakat akan arti penting menjaga keseimbangan alam dan merawat lingkungan secara lestari.

Kendati demikian, Budi mengakui, pihaknya tidak berniat untuk memperluas lahan yang dimanfaatkan sebagai agrowisata tanaman sayur organik ini. "Cukup dua hektare itu saja. Kita memasok kebutuhan sesuai kemampuan kita," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya menutup diri jika ada investor yang ingin mengembangkan agrowisata di Melung. Menurut dia, hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam Desa Melung yang merupakan kawasan penyangga kebutuhan air bagi daerah di kaki Gunung Slamet terutama Purwokerto. (ant)

Selasa, 11 Oktober 2011

Kentang Organik



















Kabanjahe. Budidaya kentang di Simpang Empat Kabupaten Karo Sumut, menggunakan
100 % pupuk organik yaitu Pupuk Organik NPK Plus Daunic. Tanaman kentang ini tanpa menggunakan pupuk lainnya mulai pengolahan tanah sampai panen kentang dan hasilnya
cukup memuaskan dimana produksi naik dari biasanya sekitar 40 %.

Senin, 11 April 2011

Pupuk Organik Diolah dari Limbah Pabrik Kelapa Sawit Indonesia








Contoh pupuk organik dari limbah kelapa sawit, Pupuk NPK Organik Plus dengan nama dagang Daunic

Mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela, dunia perpupukan akan bergeser ke pupuk organik dan/atau pupuk hayati. Demikian pula untuk perkebunan besar seperti kebun sawit. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini lebih dari 7juta Ha. Di industri perkebunan, biaya pupuk dan pemupukan dapat mencapai 60% dari total biaya. Jumlah yang sangat besar. Oleh karena itu industri perkebunan sawit harus bersiap-siap untuk menghadapi pergeseran ini.

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menghasilkan limbah yang sangat besar, baik limbah padat maupun limbah cair. Perhatikan gambar neraca massa pabrik kelapa sawit di bawah ini.

neraca massa sawit


Limbah PKS tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik. Dengan sedikit pengohalan dan sentuhan teknologi, limbah-limbah PKS bisa diolah menjadi pupuk organik untuk perkebunan kelapa sawit itu sendiri.

Limbah PKS dapat dibuat menjadi pupuk organik granul maupun curah.

Tabel 1. Kandungan hara/nutrisi pupuk organik dari kompos dan limbah pabrik kelapa sawit

Parameter

Kandungan

Nitrogen (%)

1.17

Carbon (%)

14.55

C-Organik (%)

28.53

Rasio C/N

12.45

Fosfat (%P)

2.50

P2O5 (%)

5.76

K (%)

1.35

K2O

1.62

Pupuk Organik Granul dari Limbah Sawit (Formula 001)
Pupuk Organik Granul dari Limbah Sawit (Formula 001)

POG formula 002
Pupuk Organik Granul dari Limbah Sawit (Formula 002)

POG formula 003
Pupuk Organik Granul dari Limbah Sawit (Formula 003)

Potensi pupuk organik yang bisa dihasilkan dari limbah pabrik kelapa sawit ini cukup besar. Misalkan saja di sebuah PKS dengan limbah TKKS 100 ton/hari (kapasitas kecil sebenarnya). Pupuk organik granul (POG) yang bisa dihasilkan kurang lebih 10-15 ton/hari. (catatan: hanya pog yang dihitung, sebenarnya ada pupuk organik curah juga yang dihasilkan). Maka dalam satu tahun bisa mencapai 3000 – 45000 ton POG/tahun.

Nilai hara POG bervariasi (tergantung formulasi dll). Misalkan saja bisa diperoleh POG dengan kandungan hara sebagai berikut:

N = 2%, P2O5 = 0.6%, dan K2O = 10%.

Makan nilai hara POG dalam satu tahun setara dengan
Urea = 133 – 200 ton
Pupuk Fosfat (18% P2O5) = 100 – 150 ton
MOP = 500 – 750 ton

Misalkan dosis POG untuk sawit adalah 30 kg/pk/th, maka POG ini dapat digunakan untuk memupuk lahan sawit seluas 730 – 1095 ha kebun.

Jumlah penghematan yang cukup besar untuk kebun sawit disekitarnya.

Jika ide ini terealisasi, sebenarnya kebun sawit bisa memenuhi sebagian besar kebutuhan pupuknya dari limbah PKS.

Sumber : http://isroi.wordpress.com

Pertanian Organik di Jepang

Jepang dikenal sebagai negara paling maju di Asia. Namun tahukah anda, bahwa pertanian disana ternyata masih kuat nuansa 'tradisional'nya? Bagaimana itu? Mari kita simak selengkapnya!

Begitu kita berada di luar Tokyo, terjadilah anomali. Ini terjadi karena ternyata Negeri matahari terbit ini juga merupakan negeri para petani lokal/kecil. Di Fukuoka, kota terbesar nomor tujuh di Jepang, ladang padi yang damai terselip diantara rumah dan candi, dalam bayang-bayang pencakar langit yang hanya berjarak 10 mil.

Di iklim yang sangat kondusif ini, pertanian keluarga menanam buat dan sayuran dalam siklus tahunan, untuk memproduksi bahan pangan bagi kota berpenduduk 1,3 juta ini. Di daerah suburban, dimana pertanian lokal jauh lebih banyak, konsumen sering mendapatkan sayuran yang baru dipetik tadi pagi untuk makan malam. Di supermarket pada jantung kota Fukuoka, adalah umum untuk mendapatkan sayuran yang dipanen sehari sebelumnya.

Hasil pertanian segar

Jika anda menggigit tomat atau stroberi disini, maka efek dari kesegarannya akan segera terasa. Mereka sangat penuh cita rasa, sehingga tidak perlu dipersiapkan lebih lanjut lagi. Bahkan anak-anak menyukai sayuran, termasuk juga yang dianggap tidak enak seperti bayam atau kacang-kacangan.

Jepang memiliki istilah untuk hasrat terhadap makanan lokal dan segar: chisan, chishou, yang berarti, 'produksi lokal, dan konsumsi lokal'.

Preservasi chisan-chisou pada salah satu negara yang paling terurbanisasi di dunia merupakan teladan yang baik, bahwa di negara lain yang terurbanisasi hal ini juga dapat diterapkan.

Dengan perkecualian Hokkaido, pulau Jepang yang paling utara dan paling rural, sebagian besar pertanian di Jepang adalah operasi skala kecil yang dijalankan oleh beberapa anggota keluarga. Hasilnya tidak hanya pada kesegaran makanan lokal, namun juga dedikasi untuk terhadap produk. Anggur dan peach, diantara buah lain, mereka lindungi dengan pelindung, sewaktu masih tumbuh, untuk melindungi mereka dari serangga dan gangguan lain. Tanah pun dipetakkan dengan baik, sehingga sayuran akan tumbuh dari dalam beberapa kaki. Dengan bantuan dari rumah kaca, hal ini membantu pasokan tanaman dari musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh tangan. Petani Jepang memproduksi semangka kotak, dari trik bonsai dengan membentuk semangka menjadi kubus sewaktu ia tumbuh, sehingga ia dapat dimasukkan kedalam kulkas. Ini menunjukkan dedikasi mereka terhadap pertanian.

Bantuan Pemerintah

Dalam era modern ini, generasi muda sudah mulai tidak tertarik atau mengapresiasi pertanian chisan chishou. Namun, pemerintah Jepang tidak tinggal diam. Mereka memberikan insentif-insentif, untuk mengakselerasi pertanian lokal. Di 20 tahun terakhir ini, pemerintah telah memfasilitasi pertanian lokal untuk memasuki pasar. Menjual tanah pertanian kepada kepentingan komersial, akan dipajaki sangat tinggi oleh pemerintah, sementara memberikan tanah tersebut ke anak untuk pertanian hanya dipajaki sangat minim. Pusat pertanian juga mengundang anak-anak sekolah untuk menanam dan memanen, untuk meningkatkan minat mereka. Pertanian kadang menjadi bagian dari kurikulum sekolah.

Minoru Yoshino dari Pusat Penelitian Pertanian Fukuoka menjabarkan peran pemerintah pada chisan-chishou dalam tiga hal. Makanan lokal yang segar adalah lebih sehat, dan rasa yang nikmat akan meningkatkan konsumsi sayuran. Sementara, pertanian lokal adalah lebih baik bagi kelestarian lingkungan, karena hanya memerlukan air dan pestisida lebih sedikit.

Diterjemahkan secara bebas dari http://www.livescience.com/health/060905_bad_farming.html

Sumber foto: http://genkijacs.com/images/

Kamis, 31 Maret 2011

Berita Pertanian : Kelompok Tani Sukses Kembangkan Pupuk Organik

SLEMAN. Kelompok Tani Peternak Ngudi Makmur Dusun Plumbon Kidul, Desa Mororejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil mengembangkan produksi pupuk organik yang dibuat dari kotoran ternak.

"Unit usaha produksdi pupuk organik ini merupakan pengembangan dari kegiatan utama ternak sapi, setelah sebelumnya limbah kotorannya yang melimpah tidak banyak dimanfaatkan," kata Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur Suwarman, di Sleman, Rabu (30/3).

Menurut dia, kelompoknya saat ini memiliki 30 kandang permanen, empat sapi jantan dan 30 sapi betina, serta 17 pedet atau anak sapi.

"Dalam memproduksi pupuk organik kami menggunakan satu mesin giling, dengan bimbingan dari Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta," katanya.

Ia mengatakan saat ini kelompoknya telah memproduksi pupuk organik yang siap dipasarkan sebanyak lima ton. Masih dalam proses fermentasi sebanyak lima ton, dan berupa bahan mentah dua ton.

"Kami berharap ke depan untuk pemasaran dapat dibuka lebih luas lagi, dan jumlah produksi juga meningkat, sehingga dapat menambah kesejahteraan bagi anggota Kelompok Tani Ngudi Makmur," katanya.

Suwarman mengatakan pihaknya terus menjalin kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dalam upaya meningkatkan produksi pupuk organik di Kecamatan Tempel.

"Dengan bimbingan dari perguruan tinggi tersebut, kami sangat berharap ada peningkatan produksi pupuk organik, maupun pengembangan jenis usaha lainnya yang berkaitan dengan usaha kelompok tani peternak ini," katanya.

Ia mengatakan apabila di masa lalu pupuk organik banyak dimanfaatkan orang dari luar daerah karena warga di daerah ini merasa jijik, bau, dan bahkan hanya dibuang percuma, maka saat ini pihaknya memulai merintis usaha pengolahan limbah kotoran ternak.

"Melalui kelompok petani ternak ini limbah kotoran ternak dimanfaatkan dan diolah menjadi pupuk organik yang berguna untuk menyuburkan tanah, sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman pertanian, serta di sisi lain menambah pendapatan anggota melalui hasil penjualan pupuk organik," katanya. (Ant)

Kamis, 17 Maret 2011

Berita Pertanian : Petani Organik Kewalahan Penuhi Permintaan

Magelang. Para petani anggota Gabungan Kelompok Tani Permatasari, Desa Tirtosari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang memproduksi beras organik jenis mentik wangi susu hingga saat ini kewalahan memenuhi permintaan pasar.

"Kami terus mendorong anggota meningkatkan produksi karena permintaan pasar begitu besar. Sampai sekarang kami belum mampu memenuhi semua permintaan," kata Ketua Gapoktan Permatasari Desa Tirtosari, Wartono, di Magelang, Kamis (17/3).

Gapoktan itu beranggota 84 petani setempat terdiri atas lima kelompok. Mereka secara khusus memproduksi beras organik jenis mentik wangi susu untuk memenuhi kebutuhan pasar baik di Magelang maupun beberapa kota lainnya.

Sejumlah daerah yang mendapat pasokan beras organik produksi gapoktan itu antara lain Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Cirebon, Klaten, Purwokerto, dan Wonogiri.

Ia mengatakan, hingga saat ini total kemampuan produksi petani gapoktan itu masih sekitar tiga ton beras per panen. Kebutuhan pasar, katanya bisa mencapai puluhan ton beras per panen. Pihaknya berupaya menambah kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar. "Semua anggota memang hanya menanam jenis mentik wangi," katanya.

Wartono mengatakan, pengolahan tanaman dan produksi padi jenis itu secara organik untuk mempertahankan kualitas yang ramah lingkungan. Misalnya, petani memproduksi sendiri pupuk secara organik. Gapoktan itu, katanya, hingga saat ini juga telah mengembangkan usaha jasa perontok padi dan pengolahan tanah.(ant)

Rabu, 16 Maret 2011

Berita Pertanian : Petani organik keluhkan harga jual

SLEMAN: Petani di Sleman mengeluhkan rendahnya harga jual gabah organik. Di tengkulak, gabah penanan organik masih dianggap sama dengan gabah biasa sehingga tidak menguntungkan petani.

"Kami menjual ke tengkulak, harganya sama dengan gabah biasa. Kami juga belum tahu gabah organik dijual kemana," kata Noto Sumarjono, petani dusun Jodag, Sumberadi Mlati . Rabu (16/3).

Noto menjelaskan sebagian petani di Sumberadi mulai berlaih ke sistem organik. Selain menyehatkan, ongkos tanam dan pemeliharaan jauh lebih murah. Pasalnya kebutuhan pupuk urea dipangkas.

Sebagai gantinya, petani menggunakan pupuk organik. Mereka mendapat bantuan dari pemerintah yang disalurkan lewat kelompok tani. Selain itu, petani juga membeli pupuk organik sendiri untuk kebutuhan tambahan.

Selain lebih hemat, lanjut Noto,petani tergiur iming iming tingginya harga jual gabah dan beras organik. Sayangnya hingga kini belum ada pembeli khusus gabah organik yang menghampiri mereka.

"Dipasar beras organik juga belum populer. Masih kalah dengan beras biasa. Beras organik hanya ada di supermarket saja," tandasnya.

Petani lainnya, Mbah Dul menjelaskan, tengkulak umumnya membedakan beras dari kualitas fisik saja. Perbedaan ini yang akan menentukan harga beli gabah. Sedangkan beras organik baru bisa dibedakan saat dimasak.

Minggu, 16 Januari 2011

Berita Pertanian : Urin pun Bisa Jadi Ladang Fulus

Banyak cara untuk menghasilkan fulus atau uang. Asal ada kemauan dan tekad yang kuat semuanya akan menguntungkan. Seperti yang dilakukan Ponikin.Pria ini berhasil ‘menyulap’ air kencing (urine) ternak sapi dan domba menjadi sumber penghasilan yang lumayan. Sementara biaya produksi relatif ringan.
Berawal dari membaca buku berjudul “Panduan Tanaman Organik dan Penerapan Pertanian Organik”, Ponikin, kelahiran Sidomulyo 11 Maret 1967 ini , mencoba membuat pupuk kompos padat dan pupuk organik cair dari limbah ternak.

Ponikin yang berstatus PNS, dan memegang jabatan sebagai Kepala Cabang Dinas (KCD) Pertanian, di wilayah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat, tidak bisa tinggal diam. Pria berbadan kecil ini, memiliki nalar untuk melakukan percobaan termasuk pembuatan pupuk kompos padat dan pupuk organik cair dari libah ternak dan limbah tanaman.

Dan, untuk pembuatan pupuk organik cair dari urin ternak, ia sudah melakukan percobaan tahun 2009 lalu. Hasilnya lumayan baik meskipun percobaan dilakukan pada tanaman skala kecil. Hasil percobaan itupun terbukti mampu mengatasi hama tanaman serta mengurangi biaya produksi tanaman. Hingga akhirnya petani ikut menggunakan pupuk buatannya.

Namun, sebelumnya Ponikin telah membuat pupuk kompos padat dari limbah ternak dan limbah tanaman. Pengolahan pupuk kompos yang diterapkan mendapat respon positif dari petani. Sehingga pesananpun mulai berdatangan. Bahkan tahun 2010, petani setempat sudah menghabiskan sebanyak 6,5 ton pupuk organik (pupuk kompos) yang diaplikasikan ke tanaman padi.

Selain dimanfaatkan petani Sambi Rejo, permintaan pupuk sebanyak 20 ton juga diminati petani di Kecamatan Secanggang. “Permintaan pupuk kompos juga banyak dari petani Berastagi, Kabupaten Karo. Namun permintaan tersebut tak dapat dipenuhi karena produksi masih untuk petani lokal,” jelasnya kepada MedanBisnis, Kamis, pekan lalu di Stabat.

“Permintaan pupuk kompos 10 ton setiap bulan baru akan bisa kami penuhi di akhir tahun 2011 ini,” katanya lagi.

Teknik Pembuatan
Pembuatan pupuk organik cair dari urin ternak tidak begitu rumit. Selain bahan mudah didapat, biaya juga tidak begitu besar. Para petani hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 580.000 untuk menghasilkan pupuk cair sebanyak 200 liter.

Umumnya pupuk oganik cair dibuat dari urin ternak sapi yang diproduksi petani di Desa Sambi Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat. Selain urin ternak ada juga bahan tambahan lain seperti tauge, kacang kedelai, bawang putih dan bahan pengurai bakteri. Semua bahan itu dijadikan satu untuk kemudian difermentasi selama 7-10 hari.

Sementara peralatan yang dibutuhkan untuk memproses pembutan pupuk itu juga sangat gampang. Para petani cukup menyediakan ember/baskom, tong plastik, gilingan batu/blender, jerigen/drum plastik, serta gayung atau literan.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menyediakan bahan pengurai bakteri, seperti Com A dan air tetes gula yang diaktifkan ke dalam tong/ember selama 5-10 jam yang berisikan air sebanyak 20 liter. Selanjutnya, urin ternak yang berasal dari domba atau sapi sebanyak 120 liter dicampurkan dengan tauge yang sudah digiling sebanyak 10 kg, kacang kedelai yang sudah direndam selama satu malam sebanyak 5 kg, dan selanjutnya digiling serta di tambahkan bawang putih sebanyak 2 kg , yang juga sudah dihaluskan atau digiling.

Campuran yang sudah jadi satu itu kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik yang berukuran 200 liter, sambil diaduk sehingga campuran merata. Setelah merata, ditututup dengan plastik tebal dan diikat sekelilingnya dengan karet ban hingga diperkirakan tidak ada lagi udara yang keluar dari drum.

Begitupun, penutup yang terbuat dari plastik itu harus tetap dalam keadaan longgar sehingga bisa terlihat ruang gas yang akan mengelembung (membengkak). Jika bergelembung, itu pertanda adanya proses gas yang dihasilkan dari fermentasi tersebut.

Umumnya, proses fermentasi berlangsung selama 7 – 10 hari, setalah selesai penguraian. Pada hari ke-2, akan terlihat bentukan gas, sehingga akan tampak penutup drum dalam keadaan membengkak oleh tekanan gas. Selanjutnya penutup dibuka selama 15 menit agar gas yang di hasilkan terbuang untuk selanjutnya ditutup kembali.

Pengecekan kondisi gas dilakukan setiap hari untuk membuang gas dalam drum. Pada hari 3-6, akan terjadi puncak pengairan (proses) sehingga memerlukan 2 kali pengecakan untuk membuang gas dengan membuka tutup drum seperti biasa.

Apabila pada hari ke 8 – 10 tidak terdapat lagi tekanan gas maka proses fermentasi berhasil dan selesai dilakukan. Dengan begitu pupuk organik cair bisa digunakan.

Menurut Ponikin, untuk menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 200 liter biaya digunakan berkisar Rp 590.000. Biaya tersebut antara lain untuk pembelian urin ternak sebanyak 120 liter Rp180.000, tauge 10 kg Rp 60.000, kacang kedelai 10 kg Rp Rp 70.000, com A di tambah gula tetes Rp 40.000, bawang putih 2 kg Rp 40.000, dan biaya upah giling bahan dan biaya tambahan kenaikan harga dari bahan pembutan pupuk cair berkisar Rp 200.000.
(medanbisnis.com)

Sabtu, 01 Januari 2011

Aneka Jenis Tanaman Sebagai Bahan Pestisida Organik

Ada banyak jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pestisida organik. Tanaman-tanaman tersebut mengandung zat anti serangga dan umumnya tanaman tanaman ini terasa pahit. Bagian dari tanaman yang diambil untuk digunakan sebagai bahan pestisida organik adalah ekstrak daun tanaman tersebut tetapi ada juga ekstrak akar, umbi atau buah tanamannya. Jenis-jenis tanaman tersebut yang digunakan sebagai bahan pembuatan pestisida organik adalah sebagai berikut :
- Srikaya ; bijinya
- Sirsak ; biji dan daunnya
- Mulwa ; bijinya
- Bunga Mentega ; daun dan kulit kayunya
- Bunga Krisan ; bunganya
- Tuba ; akar, kulit dan daunnya
- Gamal ; daun dan batangnya
- Tembakau ; batang dan daunnya
- Rumput Mala ; tangkainya
- Tembelekan ; daun dan cabangnya
- Dlingo ; akarnya
- Kemangi ; daunnya
- Sudu ; getahnya
- Kenikir ; daunnya
- Mint ; daunnya
- Kucai ; semuanya
- Kunir ; semuanya
- Nimba ; biji dan daunnya
- Bawang Putih ; semuanya
- Cabai merah ; buah dan bijinya
- Mahoni ; buah dan daunnya
- Kumis Kucing ; daunnya
- Mangkokan ; daunnya
- Bunga Matahari ; daunnya
- Ketepeng Kebo ; daunnya
- Mengkugu ; daun dan buahnya
- Sampang ; daunnya
- Awar-awar ; daunnya
- Senggugu ; daunnya
- Mindi ; daun dan buahnya
- Kelor ; daunnya
- Lerak ; buahnya
- Brotowali ; batang dan daunnya
- Pepaya ; buah dan daunnya
- Mahkota Dewa ; buah dan daunnya

Berbagai jenis tanaman di atas dapat digunakan sebagai bahan pestisida organik. Jika dicampurkan jenis-jenis tanaman di atas maka semakin banyak jenis-jenis tanaman di atas yang dicampurkan akan semakin baik hasilnya sebagai pestisida organik.

Kamis, 30 Desember 2010

Mengolah Sampah RT Jadi Kompos

Skema Wadah Kompos Dapur

Siapa yang tak pusing dengan limbah atau sampah rumah tangga yang semakin hari semakin bertambah? Bahkan pemerintah daerah sekelas ibukota pun kewalahan menanganinya. Tak ada salahnya sebagai warga yang baik kita bantu pemerintah mengurangi sampah hasil rumah tangga dengan cara mengolahnya menjadi kompos, suatu pupuk organik yang merupakan hasil penguraian atau dekomposisi bahan organik (tanaman, hewan, sampah) yang dilakukan oleh mikroorganisme aktif (bakteri dan jamur).

Kompos memiliki kegunaan, antara lain,

  • memperbaiki struktur tanah;
  • memperbesar daya ikat tanah berpasir;
  • menambah daya ikat air tanah;
  • memperbaiki drainase dan tata udara tanah, serta
  • mengandung hara (tergantung bahan bakunya).

Namun tak semua sampah rumah tangga bisa dibuat kompos. Hanya Sampah yang berasal dari dapur seperti kulit buah, sisa sayur, sisa buah, sisa makanan dan sampah kebun (dedaunan, rumput dll) yang dapat dibuat kompos.

Langkah awal membuat kompos adalah sediakan wadah untuk pengomposan. Tempat pengomposan dapat bermacam-macam, seperti lubang dalam tanah, bak, drum, baskom, dan sebagainya. Syaratnya adalah wadah tidak terkena hujan secara langsung. Jika wadah yang dipergunakan berupa drum atau baskom plastik, hendaknya dilubangi pada bagian dasar sebanyak lima lubang dan diletakkan di atas susunan batu bata.

Cara Membuat Kompos

Tidaklah sulit untuk membuat kompos dari limbah dapur tersebut. Berikut ini langkah-langkah pembuatannya.

1. Pemisahan sampah

Pisahkan sampah organik dari sampah anorganik (plastik, kaleng, karet). Sampah organik berupa sisa makanan, kulit buah, sisa sayuran. Sampah yang berukuran besar sebaiknya dipotong/dicacah terlebih dahulu.
2. Pencampuran

Isi wadah dengan kompos lama setinggi 1/3, selanjutnya sampah dapur dimasukkan. Aduk bahan secara merata. Bahan bisa ditambah serbuk gergaji atau pupuk kandang dan organisme perombak limbah/ragi kompos (Tricholant). Tutup wadah dengan karung/plastik.
3. Pematangan

Aduk sampah setiap 7 hari, selama proses berlangsung suhu bahan berkisar 30-70 oC. Memasuki minggu ke-5 atau ke-6, kompos sudah jadi. Cirinya adalah tidak berbau busuk, berbau tanah, warna coklat kehitaman dan suhu 30-32 oC.
4. Pengayakan dan Pengemasan

Kompos yang sudah matang diayak untuk memperoleh hasil seragam, lalu dikemas dalam plastik.
Untuk mendapatkan pupuk kompos yang baik, beberapa fisik bahan yang dapat dilihat secara visual dan dirasakan, antara lain,
  • warna kompos coklat kehitaman;
  • tidak berbau busuk atau menyengat, tetapi berbau tanah tanah;
  • berbutir halus, lunak ketika dihancurkan dengan jari-jari tangan;
  • delama dalam pengomposan suhu bahan organik berkisar 30-70 oC;
  • kelembaban bahan organik berkisar 40-60 oC; dan
  • derajat kemasaman pH kompos berkisar antara 6,5-7,5.

Tak sulit bukan untuk bisa membantu pemerintah menanggulangi masalah sampah? Jadi, mulai saat ini marilah kita sediakan dua tempat sampah di dapur kita. Satu untuk sampah dapur organik, dan satu lagi untuk yang anorganik. (Sumber : Deptan)

Biji Srikaya Dan Biji Mahoni Sebagai Bahan Pestisida Nabati Yang Ramah Lingkungan

Pestisida Nabati

Peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur telah melakukan pengkajian terhadap beberapa jenis tanaman maupun biji sehingga dapat dimanfaatakan sebagai pestisida nabati. Biji srikaya mengandung bahan aktif asetogenin dan squamosin untuk sasaran hama ulat maupun hama penghisap polong. Sedangkan biji mahoni mengandung bahan aktif swietenin dan limonoid dapat menghambat perkembangbiakan ulat, hama penghisap, penyakit karat pada daun kopi.

Cara kerja pestisida nabati ini adalah dapat mengendalikan serangga hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggul. Cara kerja yang sangat spesifik yaitu merusak perkembangan telur, larva dan pupa, penolak makan, mengurangi nafsu makan, menghambat reproduksi serangga betina dll.

Keunggulannya adalah biaya yang murah karena mudah didapat, relatif aman bagi lingkungan, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, tidak menimbulkan kekebalan pada hama, kompatible bila digabungkan dengan cara pengendalian lain dan yang tidak kalah pentingnya adalah hasil pertanian yang sehat dan bebas residu pestisida.

Sedangkan kelemahannya adalah daya kerja relatif lambat, tidak membunuh langsung ke jasad sasaran, tidak tahan terhadap sinar matahari, kurang praktis, tidak tahan disimpan dan penyemprotan dilakukan secara berluang-ulang. Informasi di bawah ini perlu anda ketahui untuk menambah pengetahuan atau mungkin mencobanya di lahan pertanian anda, karena dilengkapi dengan cara pembuatan pestisida nabati dengan cara sederhana.

(Sumber : Deptan)

Rabu, 29 Desember 2010

Teknik Pembuatan Pupuk Kandang

Umumnya pembuatan pupuk kandang dilakukan dengan cara menyimpan atau menimbun kotoran hewan selama sekitar 3 bulan. Namun pembuatan pupuk kandang ini sebenarnya dapat dipercepat proses penguraiannya dengan penambahan bio-aktivator sebagai bahan pemacu mikroorganisme.

Tahap pembuatan pupuk kandang adalah sebagai berikut :
Bahan-bahan yang digunakan
  • kotoran hewan 1 ton,
  • bio-aktivator 1 liter,
  • molase (larutan gula) 1 liter,
  • air sumur 100 l.
Alat-alat yang digunakan
  • karpet atau terpal plastik,
  • cangkul,
  • sarung tangan,
  • ember,
  • termometer.
Cara pembuatan pupuk kandang
  • tentukan lokasi pembuatan pupuk kandang kemudian tempat tersebut dibersihkan. Diusahakan alas tempat pembuatan pupuk kandang terbuat dari lantai atau alas plastik,
  • dibuat galangan atau sekat disekeliling kotoran hewan agar air atau rembesan air tidak masuk ke kotoran hewan,
  • dicampur atau disiram kotoran hewan dengan campuran air, bio-aktivator dan molase, kemudian diaduk merata,
  • dihamparkan bahan kotoran hewan tadi di atas lantai dengan ketinggian tumpukan 15-20 cm dan dibuat segi empat atau persegi panjang,
  • mengingat pembuatan pupuk kandang ini secara anaerobik, tutup bahan kotoran hewan dengan plastik atau terpal. Suhu ideal proses pembuatan pupuk kandang ini adalah 50-60 derajat Celcius dan jika suhu lebih maka dibuka terpal sewaktu-waktu untuk menurunkan suhu,
  • dibiarkan proses penguraian berlangsung selama 7-14 hari,
  • setelah itu, diperiksa kotoran hewan apakah sudah matang dengan ciri tidak lagi berbau tajam, terasa dingin dipegang dan warnanya gelap,
  • jika sudah berciri-ciri seperti itu maka dapat dikatakan sudah menjadi pupuk kandang,
  • dibuka terpal penutupnya dan pupuk kandang diaduk merata,
  • dikeringkan di bawah sinar matahari untuk proses pengeringan, dikeringkan selama 2 hari dengan sinar matahari penuh tidak mendung atau pupuk kandang sudah berkadar air 30 %,
  • diayak pupuk kandang untuk membuang partikel kasar atau besar,
  • pupuk kandang sudah siap digunakan.
Perlu diingat bahwa kotoran hewan bukanlah pupuk kandang namanya jika belum terjadi proses penguraian atau dekomposasi pada kotoran hewan tersebut. Proses dekomposasi baru terjadi jika kotoran hewan ditimbun atau disimpan 3 bulan atau dipercepat prosesnya dengan bio-aktivator, baru kemudian dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.

Selasa, 02 November 2010

Mengenali Jenis-Jenis Pupuk Dan Aplikasinya

Berdasarkan bahan atau asal pembuatannya, pupuk terdiri dari dua jenis yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik.

1. Pupuk Organik
Pupuk organik adalah pupuk yang didapatkan dari hasil pelapukan bahan-bahan organik berupa sisa-sisa, kotoran, limbah dan fosil dari tanaman, hewan maupun manusia.

Pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap karena di dalamnya terkandung unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Namum kadar unsur-unsurnya sedikit sehingga pemakaiannya harus dengan jumlah yang banyak dan jenis pupuk ini lebih sering dimanfaatkan sebagai pupuk dasar bagi tanaman.

Pupuk organik memiliki beberapa kelebihan dari pupuk lainnya yaitu :
  1. Memperbaiki struktur tanah
  2. Meningkatkan daya serap tanah terhadap air
  3. Menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah
  4. Mengurangi dan membebaskan tersekatnya unsur hara terutama fosfat sehingga mudah diserap oleh tanaman
  5. Meningkatkan persediaan zat makanan menjadi lebih lengkap.
Jenis pupuk organik ditentukan oleh asal bahan terbentuknya pupuk tersebut diantaranya :
  • Pupuk kandang : berasal dari kandang ternak berupa kotoran dan sisa makanan ternak.
  • Humus : berasal dari proses pelapukan atau penguraian bahan organik daun, akar, cabang, batangnya tanaman dengan bantuan mikroorganisme dan cuaca yang umumnya banyak terdapat di hutan.
  • Kompos : berasal dari sampah organik seperti dedaunan, jerami, alang-alang, sayuran, rerumputan, kotoran hewan dan sampah kota yang telah mengalami proses pelapukan atau dekomposisi
  • Pupuk hijau : berasal dari bagian tanaman seperti daun, tangkai dan batang tanaman tertentu yang masih hijau atau segar yang bertujuan menambah bahan organik tanah dan unsur hara yaitu nitrogen. Tanaman yang digunakan adalah jenis tanaman yang mampu mengikat N dari udara bebas yaitu tanaman kacang-kacangan (Leguminosae)
  • Guano : berasal dari kotoran burung liar dan kelelawar yang ada di gua-gua
  • Kascing : berasal dari proses penguraian bahan organik yang dilakukan oleh cacing.
Namun sekarang berdasarkan perkembangan teknologi telah dikembangkan pupuk organik buatan yang mana proses teknologi tinggi atau proses pabrikan, tetapi bahan dasarnya masih berupa bahan organik tetapi kandungan unsur haranya tidak tergantung dari bahan organiknya tetapi disesuaikan dengan keinginan pabrikan dan kebutuhan konsumen.

2. Pupuk Anorganik

Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat di pabrik dengan menggunakan ramuan bahan kimia, bukan dari sisa-sisa mahluk hidup atau bahan organik.

Kelebihan dan keuntungan penggunaan dari pupuk anorganik adalah sebagai berikut :
  1. Kadar unsur haranya tinggi
  2. Kandungan unsur haranya dapat diatur dengan takaran yang tepat
  3. Mudah larut dalam air sehingga mudah diserap tanaman
  4. Efek kerjanya cepat dan pengaruh pada tanaman cepat juga dilihat
  5. Pemakaian dan pengangkutannya lebih praktis dan hemat
  6. Banyak tersedia di pasaran pertanian
Namun perlu diketahui bahwa pemakaian pupuk anorganik dalam jangka panjang dapat merusak tanah karena mengandung bahan kimia yang menyebabkan tanah cepat mengeras, cepat asam, tidak gembur dan mengandung racun bila berlebihan di dalam tanah.

Berdasarkan jenis haranya, pupukanorganik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
  1. Pupuk tunggal : unsur hara yang dikandung jenis pupuk ini hanya satu, contoh : Urea, TSP, KCl, dan lain-lain.
  2. Pupuk majemuk : unsur hara yang dikandungnya berupa campuran dua atau lebih dengan beragam komposisi haranya, contoh : NPK, Dekaforan, PK, Suburin, dan lain-lain.
Berdasarkan aplikasi pada tanaman pertanian, pupuk dikelompokkan menjadi jenis yaitu :

1. Pupuk Akar

Pupuk akar diberikan lewat akar. Semua jenis pupuk dapat diberikan lewat akat, baik pupuk organik, anorganik, padat maupun cair.

Aplikasi pemupukan melalui akar dapat dilakukan dengan :
  • ditebar ke permukaan tanah
  • dibenamkan ke dalam tanah
  • dikocorkan dekat batang tanaman
Pemberian pupuk melalui akar sering dan mudah kehilangan unsur hara akibat penguapan dan tercuci oleh air hujan.

2. Pupuk Daun

Pupuk daun diberikan lewat daun. Aplikasi pemupukan melalui daun lebih cepat penyerapan haranya dibanding pemupukan melalui akar, efek pemupukan lebih cepat tampak dan tanah pertanian tidak mengalami kerusakan.

Di dalam kandungan pupuk daun terdapat unsur hara mikro di dalamnya dibanding pupuk akar yang jarang memiliki unsur hara mikro.

Pemberian pupuk daun hanya sebagai pelengkap untuk mengatasi kekurangan melalui pemupukan akar atau tidak dapat disuplainya pupuk akar karena unsur hara yang dapat digunakan dari pemupukan daun terbatas.

Pengaplikasian pupuk daun dilakukan dengan melarutkan pupuk daun dan disemprotkan ke permukaan daun. Namun perlu diperhatikan dosis pemupukannya karena tanaman bisa mati keracunan, kerusakan, terbakar jika kelebihan dosis saat penyemprotan pada tanaman.

Dan pemupukan dengan penyemprotan melalui daun mudah menguapkan air pada saat matahari terik. Oleh karena itu penyemprotan pupuk daun sebaiknya dilakukan saat matahari tidak terik yaitu antara jam 07.00 - 10.00 pagi atau 15.00 - 18.00 sore hari.

Senin, 11 Oktober 2010

Memahami Kesuburan Tanah Dengan Mengetahui Jenis Struktur Tanahnya


Struktur tanah adalah gumpalan kecil dari partikel-partikel tanah dan terjadi jika partikel-partikel saling terikat oleh perekatnya yaitu bahan organik atau oksida besi. Struktur tanah terbagi atas beberapa jenis yakni tanah liat yang berpartikel halus , tanah pasir yang berbutir kasar dan tanah gembur yang berpartikel remah.

1. Tanah Liat

Tanah yang tersusun atas partikel-partikel yang sangat kecil dan halus sehingga cenderung tersusun rapat, padat dan saling melekat. Dengan tanah yang berkarakteristik seperti ini hanya memiliki sedikit celah atau rongga untuk sirkulasi air, unsur hara dan udara didalamnya sehingga sulit diserap akar tanaman.

Hujan atau penyiraman berlebih akan menahan air dengan ketat sehingga becek dan lembab dan sirkulasi udara lambat sehingga kemungkinan akar tanaman rusak dan membusuk. Sedangkan pada kondisi kering menjadi menggumpal, padat, mengeras dan kedap terhadap udara sehingga akar tidak dapat menembus struktur atau lapisan tanahnya.

Dengan sifat-sifat tersebut maka akan dapat dikatakan tanah liat merupakan tanah yang tidak subur bagi tanaman.

2. Tanah Berpasir

Tanah yang memiliki partikel sangat kasar dan besar, memiliki banyak rongga atau berporous dan tidak saling merekat satu sama lain. Sehingga air dan unsur hara mudah merembes jauh ke dalam tanah dan sulit untuk disimpan akibatnya tidak terjangkau dan terserap akar tanaman.

Dengan sifat-sifat tanah berpasir tersebut dapat dikatakan juga merupakan tanah atau media yang tidak baik dan subur bagi tanaman.

3. Tanah Gembur

Tanah yang memiliki partikel remah, campuran antara debu, liat dan pasir serta memiliki rongga rongga yang baik dan cukup untuk menyimpan air dan udara.

Didalam tanah, air dan udara mendukung mikroorganisme tanah dalam proses dekomposisi mineral dan zat organik sehingga zat hara yang dibutuhkan tanaman mudah diserap oleh akar tanaman.

Dengan sifat atau karakteristik tersebut maka tanah gembur merupakan tanah yang baik dan subur bagi tanaman.

Jadi struktur tanah ada bermacam-macam tetapi yang baik bagi tanaman adalah struktur tanah yang remah atau gembur yang mengandung zat organik, anorganik, air dan udara yang cukup bagi tanaman.