Tampilkan postingan dengan label pestisida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pestisida. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Biaya Produksi Petani Karo 50% untuk Pestisida


Medan. Hingga kini, masih banyak petani yang menggunakan pestisida dalam jumlah mengkhawatirkan guna memacu produksi tinggi khususnya di Kabupaten Karo. Hal tersebut bisa dilihat dari porsi biaya produksi untuk pestisida mencapai 50%.
“Karena itu, peran penyuluh pertanian sangat diharapkan memberikan penyadaran tentang bahaya penggunaan pestisida secara berlerbihan,” kata Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP USU), Prof Maryani Cyccu Tobing dalam seminar nasional Peranan Pers dalam Pembangunan Pertanian Berwawasan Lingkungan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan di Aula Soeratman FP USU, Kamis (21/2) di Medan.

Dikatakannya, ketergantungan petani di Karo sebagai sentra produksi hortikultura Sumatera Utara (Sumut) terhadap pestisida sangat besar. Dalam pengendalian hama dan penyakit pada tanaman sayuran, petani menghabiskan 50% biaya produksi hanya untuk pestisida.

Bahkan dalam penggunaannya, dosisnya melebihi dari yang direkomendasikan. Dari masa penanaman hingga panen, petani bisa memberikan pestisida sebanyak 16 kali. Banyaknya dosis yang digunakan bisa ditemukan di buah-buah yang saat ini dijual di pasar ataupun di supermarket di Medan.

“Produk yang dipasarkan itu masih ‘berbedak’. Mungkin banyak yang tak tahu kalau itu adalah fungisida, bayangkan kalau itu dikonsumsi masyarakat," ujarnya.

Selain itu, kata Cyccu tak jarang petani melakukan pencampuran 3 jenis pestisida sekaligus padahal jika dilihat dari sisi fungsinya memiliki kesamaan. Dengan banyaknya penggunaan pestisida, yang paling dirugikan adalah petani. Sementara yang mendapatkan keuntungan paling besar, adalah perusahaan pembuat pestisida.

"Petani juga seringkali salah, hamanya di atas, yang disemprot di bawah. Bahkan ada juga yang walaupun tidak tahu ada penyakit atau tidak, tetap saja diberi pestisida," katanya.
Ia menjelaskan, ada kesalahan pemahaman di tingkat petani yang menganggap bahwa produk yang baik adalah yang cantik, mulus dan tanpa cacat. Padahal, produk yang demikian menunjukkan adanya penggunaan pestisida.

Pihaknya pernah melakukan penelitian terhadap 500 orang petani cabai di Karo berkaitan penggunaan pestisida. Dalam temuannya, penggunaan pestisida untuk cabai mencapai 100%. Sementara, untuk tomat 98%, kentang 89% dicampur dengan bahan lain.

Menurutnya, situasi tersebut cukup mengkhawatirkan karena sangat berpengaruh terhadap masa depan pertanian hortikultura di Kabupaten Karo, yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi hortikultura yang sangat penting di Indonesia, khususnya di Sumut.

Untuk mengajak petani agar tidak terus menggunakan pestisida, harus ada peran aktif dari penyuluh dalam memberikan pengetahuan dan berbagi pemahaman dengan petani tentang dampak penggunaan pestisida. Pasalnya, penyuluh memiliki fungsi yang langsung bersentuhan dengan petani di lapangan untuk memberikan pendampingan kepada petani.

Jumat, 18 November 2011

Berita Pertanian : Pemakaian Pestisida Hortikultura Dapat Ditekan hingga 20%



















Jakarta
. Penelitian menunjukkan pemakaian benih hortikultura berkualitas mampu mengurangi penggunaan pestisida sampai dengan 20%.
"Kalangan petani seharusnya dapat memahami ini karena akan menghemat penggunaan pestisida yang berarti akan memberi keuntungan sangat signifikan," kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Kementerian Pertanian, Witono Adiyoga di Litbang Hortikultura Jakarta, Selasa (15/11), pada pertemuan "Train the Chain".

Witono mengatakan, kenyataan di lapangan petani beranggapan dengan memperbanyak penggunaan pestisida justru akan menghasilkan sayuran dan buah yang optimal. "Petani kita mungkin terlalu kreatif menggunakan pestisida berlebih padahal penggunaan bahan kimia seperti itu ada ambang batasnya," kata Witono.

Dia menunjuk hasil penelitian terhadap tanaman bawang merah dan cabai merah antara yang menggunakan pupuk dan pestisida menunjukkan penggunaan pupuk dan pestisida yang tidak bijaksana hanya menimbulkan pemborosan.

Produksi untuk bawang merah dan cabai merah sama-sama naik antara yang menggunakan pupuk dan pestisida secara bijak dengan yang berlebih, akibatnya terjadi perbedaan keuntungan masing-masing 10% dan 20%.

Penggunaan insektisida untuk hama serangga dan fungisida untuk hama tumbuhan harus dilakukan dengan bijaksana agar selain tidak boros juga hama tidak resistant (kebal).

Petani harus dibekali pengetahuan kalau hama itu masih dibawah ambang batas maka penggunaan pestisida dapat dipergunakan, selain itu tidak semua penyakit dapat menggunakan pestisida, untuk itu petani harus terbiasa mengidentifikasikan penyakit.

"Mereka harus melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum memutuskan pestisida seperti apa," ujar dia.

Dikatakannya, kasus ledakan ulat buah di Brebes menunjukkan hama tersebut sudah resistant terhadap pestisida. “Penggunaan pestisida secara bijak dikalangan petani dapat dimulai dari kebijakan pemerintah dalam hal ini inisiatif dapat dilaksanakan melalui komisi pestisida,” ujar Witono.

Witono mengatakan, produsen benih seperti PT East West Seed Indonesia (Ewindo) telah memproduksi produk unggul yang dirancang tahan terhadap penyakit. "Hasil penelitian Balitsa di beberapa tempat benih-benih unggul dapat menghemat penggunaan pestisida," ujar dia.

Kenyataan petani di sejumlah daerah kata dia, seringkali tidak memanfaatkan benih baru, mereka lebih suka menggunakan anakan yang kualitasnya sulit dipertanggungjawabkan. Dia mengatakan, penggunaan bibit seharusnya terus diperbarui sehingga menghasilkan bibit unggul yang tahan terhadap hama.

Sementara itu Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Glenn Pardede mengatakan, penggunaan pestisida selain mengganggu kesehatan juga membuat hama menjadi resistan.

Glenn mengatakan, Ewindo terus melakukan pembinaan terhadap petani untuk bercocok tanam sayuran yang berkualitas, saat ini sudah ada 7.000 petani binaan di seluruh Indonesia.
Glenn mengatakan, saat ini Indonesia telah menghasilkan 6.000 sampai 7.000 ton benih hortikultura berkualitas atau naik rata-rata 10 sampai 15 persen per tahun. “Ewindo saat ini telah memproduksi 160 varietas sayuran dengan produksi 3.000 ton per tahun,” katanya optimis pertumbuhan 15% benih sayuran akan tercapai mengingat masyarakat mulai menyadari pola hidup sehat, sementara pada tahun lalu konsumsi sayuran masyarakat Indonesia masih rendah. (ant)

Minggu, 29 Mei 2011

Pestisida, Salah Satu Perusak Lingkungan

Oleh: Wenti Juliana

Selama ini petani sangat tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman sehingga lahan pertanian bebas dari serangan hama. Dengan meningkatnya hasil pertanian akan membuat hidup para petani bergerak lebih baik.

Sayangnya, penggunaan pestisida memiliki dampak yang cukup merugikan. Berdasarkan penelitian, pestisida dapat merusak ekosistem air yang berada di sekitar lahan pertanian. Ketika pestisida disemprotkan pada tanaman, angin akan menerbangkan sebagian pestisida sehingga bercampur dengan udara.

Pestisida yang menempel pada tanaman akan bercampur dengan air ketika terkena hujan. Air hujan yang mengandung pestisida ini akan mengalir melalui sungai atau aliran irigasi dan dapat menyuburkan ganggang di perairan tempat sungai atau irigasi tadi bermuara.

Keberadaan ganggang yang terlalu banyak di permukaan muara tadi mengakibatkan cahaya matahari sulit masuk ke dalam air. Hal ini mengakibatkan hewan-hewan ataupun fitoplankton tidak mendapat cahaya. Jika fitoplankton tidak mendapat cahaya, maka tidak akan dapat berfotosintesis dan tidak dapat lagi menghasilkan makanan untuk hewan-hewan air.

Selain itu, dampak negatif penggunaan pestisida dapatkan mengakibatkan kebalnya hama terhadap pestisida, munculnya hama baru, penumpukan sisa bahan kimia di dalam hasil panen, terbunuhnya musu alami dari hama, dan kecelakaan bagi pengguna, merusak kulit dan paru-paru.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun pasal 4 tercantum: setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun wajib mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Bahan berbahaya dan beracun adalah bahan-bahan karena sifat, konsentrasi ataupun jumlahnya, secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan merusak lingkungan sehingga membahayakan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Pestisida Organik

Yang dimaksud dengan pestisida organik adalah racun bagi hama tumbuhan, terbuat dari dari bahan alami tanpa campuran zat kimia berbahaya. Dengan penggunaan pestisida organik keselamatan ekosistim terjaga dengan baik.

Penggunaan pestisida organik hama terusir dari tanaman petani tanpa mematikannya. Penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia. Pembuatan pestisida sangat mudah dan terbukti hemat biaya daripada penggunaan pestisida kimia.

Beberapa jenis pestisida organik yang dapat dipergunakan adalah:

1. Ikan Mujair. Pestisida dari ikan mujair dapat mengatasi hama pada tanaman terong dan pare. Caranya adalah dengan menyimpan 1 kg ikan mujair di dalam plastik selama tiga hari. Kemudian direbus dengan dua liter air selama dua jam lalu disaring.

2. Kunyit, jahe, biji mahoni,cabe dan serai. Pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring, kemudian disemprotkan pada tanaman. Bahan-bahan diatas tidak dicampur, melainkan cukup dipilih salah satunya. Pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare. Kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman dan buah. Cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.

3. Akar tuba. Akar tuba direbus dengan air dan disemprot kepada tanaman. Akar tuba mengandung senyawa retenon yang bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat, menyebabkan serangga dan tungau berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jama sampai beberapa hari kemudian.

4. Tembakau. Tembakau termasuk pestisida organik karena mengandung nikotin. Daun tembakau mengandung 2-8 persen nikotin dan berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti ulat perusak daun dan pengendali jamur.

Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah dapat dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman. Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama tanaman tertentu.

Mari, selamatkan lingkungan dengan bersikap arif dan memahami alam.

Minggu, 01 Mei 2011

Berita Pertanian : Pemahaman Residu Pestisida dan Pengenalan OPT Penting bagi Petani

Medan. District Sales Manager DuPont Crop Protection (DCP)–PT DuPont Agricultural Products Indonesia (DAPI) Sumut – Aceh, Marihot Pakpahan, mengatakan, sudah saatnya para petani di tanah air khususnya di Sumatera Utara (Sumut) diberi pemahaman tentang residu pestisida, pengenalan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan pengenalan agen hayati.

Dengan begitu, para petani dapat memahami efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida. ”Salah satu tahapan yang efektif dalam pengendalian hama dan penyakit pada tanaman produksi khususnya padi dan sayuran adalah pemahaman teknik identifikasi terhadap hama dan penyakit itu sendiri. Sehingga dapat ditentukan cara yang tepat pengendalian secara terpadu,” jelasnya kepada wartawan, Jumat (29/4), di Medan.

Sekaitan dengan itu juga, lanjut Marihot, pihaknya telah memfasilitasi sekitar 90 orang petani untuk mendalami ilmu hama dan penyakit ke Laboratorium Hama dan Penyakit Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Medan, Dinas Pertanian Sumut, pada tanggal 5 April lalu. ”Di laboratorium itu, para petani diberi pengetahuan tentang residu pestisida, pengenalan OPT dan pengenalan agen hayati,” jelasnya.

Marihot yang saat itu didampingi SSR DCP Naheson Ginting, Tanjung Siahaan, David Manurung, Sabda Eko Paksi, para Field Asisten, Marketing Development, Research & Development, serta beberapa staf lapangan di kabupaten mengatakan, pertemuan yang berlangsung sehari itu diikuti beberapa perwakilan dari beberapa kabupaten di Sumut seperti Kabupaten Langkat, Deliserdang, Serdang Bedagai, Simalungun, Batubara, Asahan, Tobasa, Humbang Hasundutan, Dairi, serta perwakilan dari Aceh.

”Mereka adalah para petani yang sudah sering menggunakan produk unggulan DuPont seperti insektisida Prevathon 50 SC, Lannate 25 WP, Lannate 40 SP, dan Meothrin. Fungisida Nustar 400 EC, Delsene MX-80 WP, Equation Pro, Kocide 54 WG serta herbisida Ally 20 WG, Ally Plus 77 WP, Sindax 8.6/1.8 WP dan Ally 10/10 WP yang telah dipasarkan di Indonesia sebagai insektisida di padi, kacang panjang, cabai, semangka dan lainnya,” ujar Marihot.

Karena itu, ia berharap para ambassador yang mengikuti pelatihan dapat menjadi penyambung lidah bagi petani lainnya tentang apa yang sudah di dapatkan pada pelatihan tersebut.

Dikatakannya, adapun materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut seperti pengenalan OPT yang di bawakan oleh Ruth Tarigan, pemahaman residu pestisida oleh Ely Martona, dan pengendalian OPT dengan agen hayati oleh Utema.Sedangkan dari pihak DuPont sendiri presentasi produk knowledge dibawakan oleh Market Development Officer Jimmy Purba.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Sumut M Roem S mengatakan, penggunaan pestisida bersifat ramah lingkungan sangat mendukung program pertanian yang sedang gencar digalakkan untuk mencapai pertanian yang lebih baik.

Dengan harapan PT DAPI dapat menciptakan teknologi baru seiring dengan program saat ini. ”Melihat perkembangan kedepannya, pertanian di Sumut harus bisa menjaga ketersediaan hasil beras yang cukup. Untuk itu sangat diharapkan peranan dari DuPont Crop Protection dalam memberi suport guna meningkatkan produksi hasil pertanian,” kata Roem.

Sementara Kepala BPTPH Medan Gunawan Ajas mengatakan, baru kali ini ada perusahaan pestisida yang membawa petaninya ke Laboratorium BPTPH, yaitu DuPont Crop Protection. Hal ini sangat membantu petani mengenal dan menambah pengetahuan tentang efek residu pestisida terhadap hasil pertanian, serta pengenalan OPT yang lebih jelas.(MB)

Kamis, 10 Maret 2011

Berita Pertanian : Produksi Beras di Asia Terancam oleh Penggunaan Pestisida Berlebihan

PRODUKSI dan penggunaan pestisida yang tidak terkendali di Asia menurut para ilmuwan kini menimbulkan momok “badai-badai hama” yang melanda lahan-lahan pertanian di wilayah ini sehingga mengancam keselamatan pangan.

Meningkatnya produksi pestisida murah di China dan India, lemahnya regulasi dan tidak memadainya pendidikan petani dewasa ini menghancurkan ekosistem di sekitar sawah. Akibatnya, bermacam hama jadi berkembang dan semakin banyak.

Problema itu telah muncul dalam sedekade terakhir dan -- jika dibiarkan saja-- hama-hama dapat menghancurkan lahan pertania sangat luas di Asia, papar para ilmuwan yang ambil bagian dalam lokakarya di Singapura baru-baru ini.

“Kini muncul keprihatinan kian besar bahwa makin banyak kita menggunakan pestisida di lahan pertanian maka langkah itu justru membuat problema hama jadi lebih parah,” tegas ilmuwan Australia George Lukacs kepada AFP dalam sebuah wawancara. Karena mendapat tekanan untuk meningkatkan hasil agar bisa memenuhi permintaan yang tambah besar, para petani kurang terlatih cenderung terlalu mengandalkan zat-zat kimia.

“Kini terjadi ledakan-ledakanan besar hama atau apa yang mereka sebut di China sebagai ‘badai hama’ akibat penggunaan pestisida,” tegas Lukacs. Beras merupakan bahan pangan pokok di banyak daerah Asia, termasuk dua negara terpadat di dunia China dan India, sehingga menjadikan wilayah tadi rawan lonjakan harga pangan dan problema pasokan, papar ahli-ahli ekonomi.

Rekor

Badan pangan PBB mengemukakan harga pangan di dunia telah mencatat harga rekor tinggi dan memperingatkan kenaikan harga minyak disebabkan pergolakan di Timur Tengah dapat menyebabkan harga bahkan jadi lebih tinggi. Indeks Harga Pangan (FPI), yang memantau rata-rata perubahan harga bulanan berbagai bahan pangan pokok, naik jadi 236 poin dalam Pebruari dari 231 pada Pebruari, ungkap badan pangan PBB Food and Agriculture Organisation (FAO).

Itu merupakan level harga tertinggi sejak FAO mulai memantau harga-harga dalam 1990. Lukacs mengatakan pasokan beras di Asia jadi lebih rentan dibuat ketergantungan pada sejumlah kecil varietas. Itu artinya jika hama-hama tertentu mendapat pijakan pada suatu jenis tanaman maka hama tersebut dapat menyebar sangat cepat.

“Di sejumlah negara, mayoritas produksi padi didasarkan pada sekira dua atau tiga varietas padi, jadi sikap tersebut sesungguhnya meningkatkan risiko terhadap keamanan pangan internansional jika suatu penyakit besar sampai muncul,” ungkapnya. Seminar di Singapura itu dihadiri para ilmuwan dari semua daerah itu, termasuk Australia, India, Jepang, Malaysia, Pilipina, Singapura, Korea Selatan dan Vietnam.

Resistensi

Seminar tadi digelar sebagai bagian persiapan pertemuan Ramsar Convention di Bukarest tahun depan. Ramsar merupakan traktat antarpemerintah mengenai konservasi dan penggunaan arif atas daerah rawa-rawa di dunia -- termasuk lahan padi -- dan sumber dayanya.

Lukacs, anggota panitia seminar tersebut, menjelaskan bahwa di China dan beberapa daerah di Asia, penggunaan zat-zat kimia tanpa regulasi telah menyebabkan berbagai hama jadi memiliki kekebalan terhadap racun. Problema itu diperburuk aplikasi membabibuta yang telah menghancurkan ekosistem di sekitar sawah, termasuk predator seperti laba-laba dan capung yang biasanya menekan jumlah hama. “Tekanan predator sudah hilang dan berbagai hama tak merespon (terhadap pestisida) karena mereka memiliki resistensi sangat cepat,” papar Lukacs.

Tanggungjawab

Lukacs, ilmuwan riset terkemuka dari Australian Cenre for Tropical Freshwater Research di James Cook University, menjelaskan tanggungjawab terletak pada perusahaan pestisida, pemerintah dan komunitas lokal. Begitu pestisida didaftar pada pihak otorita nasional sebuah negara, tidak ada pemantauan tentang cara-cara penggunaannya, tegas pakar tadi. “Industri itu sangat tidak diregulasi. Setelah pendaftaran, penggunaannya bebas total,” tandas Lukacs, yang juga pakar pertanian untuk Panel Peninjauan Ilmiah dan Teknis Ramasar Convetion.

Lukacs dan para ilmuwan koleganya mengimbau kerjasama erat di antara para pembuat pestisida, pihak regulator pemerintah dan berbagai komunitas lokal untuk menemukan “berbagai praktik terbaik” dalam produksi dan penggunaan zat kimia.

Para pembuat pestisida mesti memiliki “pekerjaan pengurus” produk-produk mereka, sementara para pemerintah dan komunitas hendaknya bertanggungjawab atas regulasinya serta pelatihan dan pendidikan para petani, lanjut ilmuwan senior tadi.

Berita Pertanian : Pestisida Dikaitkan dengan Penyakit Parkinsons












SEBUAH penelitian AS menemukan orang-orang yang menggunakan dua jenis pestisida khusus berpeluang 2,5 kali lipat terserang penyakit Parkinson’s.

Pestisida, paraquat dan rotenone, tidak boleh digunakan di rumah dan kebun. Riset terdahulu terhadap binatang mengaitkan paraquat dengan penyakit Parkinson’s, karena itu racun tersebut dibatasi penggunaannya. Rotenone disetujui hanya untuk digunakan membunuh species ikan penyerbu.

“Rotenone secara langsung mengganggu fungsi mitochondria, struktur yang bertanggungjawab membuat energi dalam sel,” ujar wakil ketua tim studi Freya Kamel, periset dari National Institute of Environmental Health Sciences. “Paraquat meningkatkan produksi derivatif oksigen tertentu yang bisa merusak struktur sel. Orang yang menggunakan pestisida ini atau lainnya dengan mekanisme aksi serupa berpeluang lebih besar menderita penyakit Parkinson’s.”

Riset tadi meneliti 110 orang penderita Parkinson’s dan 358 orang yang masuk kelompok kontrol dari studi Farming and Movement Evalution (FAME). FAME merupakan bagian penelitian lebih besar Agricultural Health Study yang meneliti kesehatan sekira 90.000 aplikator pestisida berizin dan pasangan mereka. Hasil penelitian itu disiarkan dalam Jurnal Environmental Health Perspectives beberapa waktu lalu.

Minggu, 16 Januari 2011

Berita Pertanian : Urin pun Bisa Jadi Ladang Fulus

Banyak cara untuk menghasilkan fulus atau uang. Asal ada kemauan dan tekad yang kuat semuanya akan menguntungkan. Seperti yang dilakukan Ponikin.Pria ini berhasil ‘menyulap’ air kencing (urine) ternak sapi dan domba menjadi sumber penghasilan yang lumayan. Sementara biaya produksi relatif ringan.
Berawal dari membaca buku berjudul “Panduan Tanaman Organik dan Penerapan Pertanian Organik”, Ponikin, kelahiran Sidomulyo 11 Maret 1967 ini , mencoba membuat pupuk kompos padat dan pupuk organik cair dari limbah ternak.

Ponikin yang berstatus PNS, dan memegang jabatan sebagai Kepala Cabang Dinas (KCD) Pertanian, di wilayah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat, tidak bisa tinggal diam. Pria berbadan kecil ini, memiliki nalar untuk melakukan percobaan termasuk pembuatan pupuk kompos padat dan pupuk organik cair dari libah ternak dan limbah tanaman.

Dan, untuk pembuatan pupuk organik cair dari urin ternak, ia sudah melakukan percobaan tahun 2009 lalu. Hasilnya lumayan baik meskipun percobaan dilakukan pada tanaman skala kecil. Hasil percobaan itupun terbukti mampu mengatasi hama tanaman serta mengurangi biaya produksi tanaman. Hingga akhirnya petani ikut menggunakan pupuk buatannya.

Namun, sebelumnya Ponikin telah membuat pupuk kompos padat dari limbah ternak dan limbah tanaman. Pengolahan pupuk kompos yang diterapkan mendapat respon positif dari petani. Sehingga pesananpun mulai berdatangan. Bahkan tahun 2010, petani setempat sudah menghabiskan sebanyak 6,5 ton pupuk organik (pupuk kompos) yang diaplikasikan ke tanaman padi.

Selain dimanfaatkan petani Sambi Rejo, permintaan pupuk sebanyak 20 ton juga diminati petani di Kecamatan Secanggang. “Permintaan pupuk kompos juga banyak dari petani Berastagi, Kabupaten Karo. Namun permintaan tersebut tak dapat dipenuhi karena produksi masih untuk petani lokal,” jelasnya kepada MedanBisnis, Kamis, pekan lalu di Stabat.

“Permintaan pupuk kompos 10 ton setiap bulan baru akan bisa kami penuhi di akhir tahun 2011 ini,” katanya lagi.

Teknik Pembuatan
Pembuatan pupuk organik cair dari urin ternak tidak begitu rumit. Selain bahan mudah didapat, biaya juga tidak begitu besar. Para petani hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 580.000 untuk menghasilkan pupuk cair sebanyak 200 liter.

Umumnya pupuk oganik cair dibuat dari urin ternak sapi yang diproduksi petani di Desa Sambi Rejo Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat. Selain urin ternak ada juga bahan tambahan lain seperti tauge, kacang kedelai, bawang putih dan bahan pengurai bakteri. Semua bahan itu dijadikan satu untuk kemudian difermentasi selama 7-10 hari.

Sementara peralatan yang dibutuhkan untuk memproses pembutan pupuk itu juga sangat gampang. Para petani cukup menyediakan ember/baskom, tong plastik, gilingan batu/blender, jerigen/drum plastik, serta gayung atau literan.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menyediakan bahan pengurai bakteri, seperti Com A dan air tetes gula yang diaktifkan ke dalam tong/ember selama 5-10 jam yang berisikan air sebanyak 20 liter. Selanjutnya, urin ternak yang berasal dari domba atau sapi sebanyak 120 liter dicampurkan dengan tauge yang sudah digiling sebanyak 10 kg, kacang kedelai yang sudah direndam selama satu malam sebanyak 5 kg, dan selanjutnya digiling serta di tambahkan bawang putih sebanyak 2 kg , yang juga sudah dihaluskan atau digiling.

Campuran yang sudah jadi satu itu kemudian dimasukkan ke dalam drum plastik yang berukuran 200 liter, sambil diaduk sehingga campuran merata. Setelah merata, ditututup dengan plastik tebal dan diikat sekelilingnya dengan karet ban hingga diperkirakan tidak ada lagi udara yang keluar dari drum.

Begitupun, penutup yang terbuat dari plastik itu harus tetap dalam keadaan longgar sehingga bisa terlihat ruang gas yang akan mengelembung (membengkak). Jika bergelembung, itu pertanda adanya proses gas yang dihasilkan dari fermentasi tersebut.

Umumnya, proses fermentasi berlangsung selama 7 – 10 hari, setalah selesai penguraian. Pada hari ke-2, akan terlihat bentukan gas, sehingga akan tampak penutup drum dalam keadaan membengkak oleh tekanan gas. Selanjutnya penutup dibuka selama 15 menit agar gas yang di hasilkan terbuang untuk selanjutnya ditutup kembali.

Pengecekan kondisi gas dilakukan setiap hari untuk membuang gas dalam drum. Pada hari 3-6, akan terjadi puncak pengairan (proses) sehingga memerlukan 2 kali pengecakan untuk membuang gas dengan membuka tutup drum seperti biasa.

Apabila pada hari ke 8 – 10 tidak terdapat lagi tekanan gas maka proses fermentasi berhasil dan selesai dilakukan. Dengan begitu pupuk organik cair bisa digunakan.

Menurut Ponikin, untuk menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 200 liter biaya digunakan berkisar Rp 590.000. Biaya tersebut antara lain untuk pembelian urin ternak sebanyak 120 liter Rp180.000, tauge 10 kg Rp 60.000, kacang kedelai 10 kg Rp Rp 70.000, com A di tambah gula tetes Rp 40.000, bawang putih 2 kg Rp 40.000, dan biaya upah giling bahan dan biaya tambahan kenaikan harga dari bahan pembutan pupuk cair berkisar Rp 200.000.
(medanbisnis.com)

Kamis, 30 Desember 2010

Biji Srikaya Dan Biji Mahoni Sebagai Bahan Pestisida Nabati Yang Ramah Lingkungan

Pestisida Nabati

Peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur telah melakukan pengkajian terhadap beberapa jenis tanaman maupun biji sehingga dapat dimanfaatakan sebagai pestisida nabati. Biji srikaya mengandung bahan aktif asetogenin dan squamosin untuk sasaran hama ulat maupun hama penghisap polong. Sedangkan biji mahoni mengandung bahan aktif swietenin dan limonoid dapat menghambat perkembangbiakan ulat, hama penghisap, penyakit karat pada daun kopi.

Cara kerja pestisida nabati ini adalah dapat mengendalikan serangga hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggul. Cara kerja yang sangat spesifik yaitu merusak perkembangan telur, larva dan pupa, penolak makan, mengurangi nafsu makan, menghambat reproduksi serangga betina dll.

Keunggulannya adalah biaya yang murah karena mudah didapat, relatif aman bagi lingkungan, tidak menyebabkan keracunan pada tanaman, tidak menimbulkan kekebalan pada hama, kompatible bila digabungkan dengan cara pengendalian lain dan yang tidak kalah pentingnya adalah hasil pertanian yang sehat dan bebas residu pestisida.

Sedangkan kelemahannya adalah daya kerja relatif lambat, tidak membunuh langsung ke jasad sasaran, tidak tahan terhadap sinar matahari, kurang praktis, tidak tahan disimpan dan penyemprotan dilakukan secara berluang-ulang. Informasi di bawah ini perlu anda ketahui untuk menambah pengetahuan atau mungkin mencobanya di lahan pertanian anda, karena dilengkapi dengan cara pembuatan pestisida nabati dengan cara sederhana.

(Sumber : Deptan)

Kamis, 16 September 2010

BEBERAPA ISTILAH DALAM PESTISIDA

Terdapat beberapa istilah yang digunakan dalam penamaan pestisida yaitu nama dagang, nama umum, nama kimia dan bahan aktif. Nama dagang atau nama formulasi adalah nama yang dipilih pabrikan atau formulator yang membedakan produknya dengan produk pabrik lain, terdiri dari satu kata yang tidak berhubungan dengan nama umum atau nama kimia dan bahan aktif pestisida (kecuali untuk Diazinon). Biasanya nama dagang merupakan milik perusahaan dan tidak boleh digunakan pihak lain untuk produk sejenis. Hal ini diperkuat oleh peraturan internasional, contoh: Gramoxone. Nama dagang tidak boleh berbentuk kode dan yang mengandung hasutan (misalnya 235A, atau Baycarb Super 500EC). Nama dagang diikuti dengan angka dan huruf kode yang menunjukkan kadar bahan aktif dan bentuk formulasi.

Di belakang beberapa nama pestisida terdapat tanda-tanda khusus yang berarti
sebagai berikut :
*
: Mengedarkan dan menggunakan pestisida ini harus dengan izin Menteri Pertanian atau pejabat yang ditunjuk.
**
: Menggunakan pestisida ini dengan pesawat terbang harus dengan izin Menteri Pertanian.
***
: Penggunaannya dengan metode vakum dan tekanan menurut cara full cell process.

Nama umum
adalah nama yang relatif pendek dan telah disepakati secara internasional untuk diberikan pada bahan aktif tertentu. Pabrikan dapat menggunakan bahan aktif yang sama, karena itu nama umum disebutkan pada label, sehingga petani atau konsumen dapat mengenali daya kerja berbagai produk yang berbeda nama dagangnya. Sesuai dengan peraturan, label harus memuat nama dagangnya dan nama umum, contoh: parakuat.

Nama kimia adalah nama yang cukup rumit yang secara tepat menjelaskanstruktur kimia dari molekul bahan aktif. Nama ini tidak begitu bermanfaat bagi penjual ataupun petani, contoh: 1,1'-dimethyl-4.4'-bipyridinium ion.

Bahan aktif adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan bahan formulasi pestisida yang mematikan atau mengendalikan hama sasaran. Biasanya bahan aktif selalu tercampur dan susah dipisahkan dari senyawa-senyawa lain misalnya isomer dari bahan aktif. Campuran bahan aktif dan senyawa lain dikenal sebagai bahan teknis. Bahan teknis tidak dapat digunakan secara langsung untuk pengendalian OPT karena terlalu beracun dan biasanya kristal yang sulit diaplikasikan. Perlu diaplikasikan dengan menambahkan bahan pembawa dan perekat agar dapat bekerja dengan baik dan aman.

- Penggolongan Pestisida Berdasarkan Organisme Sasaran

Berdasar organisme sasarannya, maka pestisida dapat dibedakan atas beberapa kategori diantaranya adalah:
  1. Insektisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT serangga (insektisida)
  2. Fungisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT cendawan (fungus)
  3. Akarisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT tungau (akarina)
  4. Nematisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT cacing kecil(nematoda)
  5. Rodentisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT tikus (rodentia)
  6. Herbisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT gulma (herba)
  7. Arborisida yaitu pestisida yang digunakan untuk mematikan atau membunuh pohon.
Organisme Pengganggu Tanaman sasaran yaitu jenis yang direkomendasikan untuk dikendalikan secara efektif menggunakan pestisida tertentu. Suatu pestidida ada yang dapat digunakan pada lebih dari satu sasaran, misalnya: insektisida, nematisida dan fungisida.

- Penggolongan Pestisida berdasarkan Asal Bahan Pestisida

Berdasarkan asal bahan yang digunakan untuk membuat pestisida dapat dibedakan dalam 4 kategori yaitu:
  1. Pestisida Sintetik yaitu pestisida yang diperoleh dari hasil sintesa kimia
  2. Pestisida Nabati yaitu pestisida yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
  3. Pestisida Biologi yaitu pestisida yang berasal dari jasad renik atau mikroba yaitu jamur, baktri dan virus
  4. Pestisida Alami yaitu pestisida yang berasal dari bahan alami, contohnya Bubur Bordeaux.

- Penggolongan Pestisida Berdasarkan Cara Kerja Pestisida

Berdasarkan cara kerja maka pestisida dibedakan ke dalam beberapa golongan yaitu:
  1. Pestisida Kontak, yaitu pestisida yang dapat membunuh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) bila OPT terkena pestisida secara kontak langsung atau bersinggungan dengan residu pada permukaan tanaman
  2. Pestisida Sistemik, yaitu pestisida yang dapat ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman. OPT dapat mati setelah menghisap atau memakan bagian tanaman, atau dapat membunuh gulma sampai ke akarnya
  3. Pestisida Fumigan, yaitu pestisida yang memiliki daya bunuh jika OPT menghisap uap atau gasnya
  4. Pestisida Lambung, yaitu pestisida yang memiliki daya bunuh jika OPT memakan pestisida
  5. Herbisida Kontak, yaitu herbisida yang hanya dapat mempengaruhi permukaan tumbuhan yang dibasahi hasil semprotan dan dibedakan menjadi senyawa selektif dan tidak selektif
  6. f. Herbisida Kontak Selektif, yaitu herbisida yang dapat mengendalikan gulma tanpa mengganggu tanaman tertentu
  7. Herbisida Kontak Tidak Selektif, yaitu yaitu herbisida yang dapat mengendalikan dan membunuh gulma dan mengganggu tanaman tertentu lainnya kecuali dihindari tanaman dari kontak herbisida
  8. Herbisida yang dapat di Translokasikan, yaitu herbisida yang bila diaplikasikan pada daun, dan akan terserap ke dalam tumbuhan dan bergerak kebagian lain tanaman termasuk ke akar
  9. Herbisida Residual, yaitu herbisida yang diaplikasikan pada tanah terbuka sebelum gulma berkecambah, tetapi aktif di dalam dan di atas tanah dalam beberapa minggu. Senyawa herbisida residu ini dicampurkan sebelum penanaman dan diaplikasikan sebelum penyebaran benih
  10. Defoliant, adalah zat yang digunakan untuk menggugurkan daun agar dapat memudahkan panen
  11. Zat Pengatur Tumbuh, yaitu zat yang bisa memperlambat, menghentikan atau mempercepat pertumbuhan tanaman
  12. Sterilan Tanah, yaitu zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma,
  13. Stimulan Tanaman, adalah zat untuk memacu pertumbuhan dan pemasakan buah.
- Bahan Peningkatan Efikasi

Beberapa bahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan efikasi pestisida adalah sebagai berikut:
  1. Bahan Perekat (sticker), yaitu bahan kimia yang dapat ditambahkan ke dalam pestisida untuk menambah daya rekat pada tanaman agar pestisida tahan dari hujan dan angin
  2. Bahan Perata (surfaktan), yaitu bahan kimia yang dapat ditambahkan ke dalam pestisida untuk meratakan pestisida pada permukaan daun,
  3. Bahan Pembasah (wetting agent), yaitu bahan kimia yang dapat ditambahkan ke dalam pestisida untuk meningkatkan penetrasi herbisida ke dalam jaringan gulma sasaran.
(Sumber Pestisida Untuk Bidang Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan)