BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Selasa, 13 Maret 2012
Berita Pertanian : beras organik Agam dapat diekspor
"Kita akan fasilitasi kalau sudah ada produksi beras oragnik di Sumbar untuk diekspor ke sejumlah negara terutama ke Jerman," kata Mentan Suswono dalam dialog pada forum rapat koordinasi kepala daerah se-Sumbar di Padang, Senin.
Mentan menyampaikan hal itu menjawab aspirasi dari Bupati Agam Indra Catri yang membutuhkan dukungan Kementan dalam pemasaran produksi beras organik petani di daerahnya.
Indra Catri menyampaikan sudah ada Kelompok Tani Lurah Sepakat di Simarasok mengembangkan beras organik yang telah menembus pasar nasional.
Lahan beras organik yang diusahakan keltan tersebut sekitar 10 hektare dengan produksi 6-7 ton per hektarenya.
Mentan mengatakan, daerah sentra beras yang telah melakukan ekspor di antaranya Tasikmalaya ke Amerika Serikat, tetapi jumlahnya belum banyak.
Justru itu, menurut dia, langkah serupa dapat diikuti petani di Agam dengan mengekspor produksi beras organik yang dihasilkan.
Suswono mengatakan, permitaan dari pemerintah Jerman tidak hanya beras organik tetapi juga produk pangan lainnya serta buah-buahan sesuai dengan standar negara tersebut. Kemudian Singapura juga membutuhkan pasokan sayur-sayuran organik.
Mentan juga menyampaikan bahwa di Jerman dana kebijakan pemberian bantuan pendapatan bagi petani sebesar 300 euro per hektare per tahun.
Kemudian juga pemberian fasilitas kredit dari Bank Pertanian dengan bunga yang lebih rendah serta bantuan pembiayaan untuk kegiatan-kegiatan khusus seperti pertanian organik.
Menurut dia, di luar negeri pemberian bantuan pertanian secara langsung dapat dilakukan karena pertaniannya sudah mapan. Namun dalam konteks Indonesia bantuan langsung masih belum dapat diterapkan secara utuh meski telah mulai dilakukan.
Kementan sendiri, menurut dia, memberikan perlindungan terhadap petani yang mengalami puso lahan padinya senilai Rp2,7 juta per hektare.
"Makanya kalau ada terjadi di daerah ini silakan lakukan verifikasi di provinsi dan selanjutnya ajukan ke pusat," ujarnya
Selasa, 19 April 2011
Berita Pertanian : Serapan dan Pemasaran Pupuk Organik di Sumut Masih Minim
"Sosialisasi terus dilakukan kepada petani untuk menggunakan pupuk organik dan memproduksinya. Sejak pelita I tahun 1979 hingga pelita IV pemerintah sudah mendorong petani menggunakan pupuk organik," ujarnya kepada wartawan ketika membuka Reksa Fine Compost di Mabar Hilir, Sabtu sore (16/4).
Menurutnya, kondisi tanah pertanian saat ini sudah rusak baik dari sifat kimia, fisika dan biologis sehingga produksi tidak meningkat. Untuk itu, tanah perlu diperbaiki dengan menggunakan pupuk organik. "Petani wajib menggunakan pupuk organik. Seperti di Tanah Karo, sudah mengaplikasikannya dengan penggunaan sebanyak 200 ton per hari. Dan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut pupuk diambil dari daerah lain," ucapnya.
Diakui Roem, pemahaman masyarakat tentang penggunaan pupuk semakin baik. Terbukti pemerintah telah menambah alokasi pupuk organik di tahun ini menjadi 70.000 ton atau naik dari tahun lalu sebanyak 58.644 ton.
"Kita tahu sampai saat ini posisi tertinggi permintaan masih pupuk kimia yaitu Urea kemudian NPK. Akan tetapi pupuk organik telah menduduki posisi ketiga setelah itu ZA dan SP-36," imbuhnya.
Anggota DPRD Sumut, Brilian Mokhtar mengatakan usaha rakyat dalam memperjuangkan peningkatan produksi areal tanamnya haruslah dikembangkan. "Kita mendukung dan mendorong agar pemerintah dapat memfasilitasinya baik dalam kucuran dana pengembangan, pelatihan, bahkan pemberian izin edar yang layak digunakan oleh petani-petani lainnya," katanya.
Ia juga meminta kepada petani agar membentuk kelompok ataupun plasma agar penyaluran pupuk-pupuk bersubsidi dari pemerintah menjadi jelas dan tepat sasaran. Hal ini untuk menghindari pemanfaatan bagi individu yang mementingkan dirinya sendiri.
"Kita juga menekankan kepada usaha kecil untuk memperhatikan pemasarannya. Pemegang merek harus memegang prinsip bisnis dengan berdiri di tengah antara sosial dan bisnis sehingga ke depannya lebih baik," lanjut Brilian.
Sementara Ketua Pupuk Organik Reksa Fine Compost, Supriyanto didampingi Pemilik Pengolahan Pupuk Reksa Fine Compost Mabar Hilir, Yudhi Lesmana mengatakan, pembentukan usaha ini dimulai dari sebuah kelompok usaha tani dan kini berkembang membentuk kelompok-kelompok kecil di setiap daerah seperti Stabat, Binjai, Deliserdang, dan beberapa daerah lainnya.
“Kini pemasarannya telah menjajaki memenuhi beberapa permintaan di daerah Sumatera Utara, Aceh, Riau, dan beberapa daerah pinggiran sebagai pengganti pupuk kimia yang saat ini sudah mengalami kekurangan,” katanya.
Saat ini, total produksi dari masing-masing kelompok kecil Reksa Fine Compost mencapai antara 500 ton hingga 1.000 ton lebih pertahun.
Namun mengingat kebutuhan tinggi hal ini masih dirasakan sangat kurang.(MB)
Minggu, 17 April 2011
Manfaatkan Limbah Rumah Tangga
Limbah adalah nama lain dari sampah, biasanya dianggap barang yang tidak dapat dipakai lagi. Diperkiran satu rumah tangga akan menghasilkan limbah tidak kurang satu kantongan plastik besar setiap hari, karena dipastikan setiap rumah melakukan kegiatan memasak, cuci, dan mandi. Kegiatan tersebut akan menyisakan limbah, berupa sisa sayuran,
nasi, kemasan shampo, sabun, kecap, detergen dan lain-lain. Kalikan sendiri betapa banyaknya limbah rumah tangga yang setiap bulan dihasilkan dalam satu rumah saja.
Limbah rumah tangga tersebut hingga saat ini belum mendapat perhatian dari masyarakat, karena menganggap produksi sampah rumah tangga masih dianggap wajar dan aman untuk tidak dikelola. Padahal sisa buangan rumah tangga tersebut dapat membahayakan manusia karena pencemaran lingkungan akan semakin parah. Di tempat pembuangan akhir, limbah basah akan terbuka begitu saja, dihinggapi lalat, kemudian lalat tersebut akan hingga di meja makan.
Ada beberapa cara yang bisa dipergunakan untuk mengelola limbah rumah tangga, menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk manusia dan lingkungan. Sampah organik, bisa diubah menjadi pupuk kompos setelah melalui proses. Sampah seperti sisa nasi dan sayuran dapat dimanfaatkan untuk budidaya cacing tanah.
Cacing tanah berwarna merah atau dalam bahasa latin di sebut Lumbricus Rubellus merupakan hewan pengurai yang sangat baik, cacing dapat mengurai sampah organik dan mengubah menjadi pupuk yang yang sangat bermanfaat untuk tanah. Cacing kaya protein, sehingga sangat baik diolah menjadi pakan ternak.
Budidaya cacing dapat dilakukan dengan cara memasukkan cacing ke dalam kotak tertutup bersama dengan sampah organik yang telah membusuk. Sampah tersebut adalah sisa-sisa memasak seperti potongan sayur, buah, dan sisa nasi yang tidak terpakai. Pastikan sampah organik telah membusuk terpotong kecil sebelum dicampur dengan cacing.
Media tempati hidup cacing harus lembab, karena cacing tidak suka tempat panas. Pastikan keseimbangan populasi cacing dengan ketersediaan sampah organik setiap harinya.
Satu kilo cacing dewasa sanggup menghabiskan bahan makan seberat bobot tubuh mereka setiap harinya, cacing akan terus bertelur dan berkembang biak.
Saat populasi cacing tidak seimbang dengan ketersediaan sampah organik, cacing dapat dipanen, untuk diolah menjadi pakan ternak. Ketika dipanen, media hidup cacing diganti dan media yang lama dipanen menjadi pupuk.
Di pasaran, cacing dijual dengan harga tinggi. Budidaya cacing selain mendukung pengelolaan limbah rumah tangga juga memiliki potensi ekonomis apabila dikembangkan dalam skala besar.
Sedangkan sampah non organik adalah seperti, bungkus detergen, botol kecap, bungkus shampo maupun sabun dan yang lainnya. Kebanyakan sampah tersebut terbuat dari bahan yang bagus dengan tampilan yang cantik dan menarik. Kemasan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi barang berguna dan tidak sekedar wadah produk isi ulang saja. Dengan berkreasi, kemasan plastik bisa diolah menjadi barang yang berguna dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, seperti dijadikan tas, taplak meja, tikar, kantung serbaguna, tirai kamar mandi, bahkan kursi.
Air juga merupakan limbah yang tidak sedikit pada rumah tangga. Biasanya air sehabis mandi dan cucian akan terbuang begitu saja. Air tersebut bisa dipergunakan untuk berbagai hal yang bermanfaat. Contoh sederhana sisa mencuci piring dapat dipergunakan sebagai air pencuci kendaraan atau penyiram tanaman.
Namun jika limbah air tersebut ingin dimanfaatkan untuk sesuatu yang menambah penghasilan, lahan sekitar rumah bisa dimanfaatkan untuk membuat kolam ikan, air kolam diambil dari air buangan kamar mandi yang dialirkan melalui saluran yang telah dipasang saringan pembersih air (bebatuan, arang, jerami, serabut kelapa dan lain-lain).
Setelah melalui proses penyaringan ini, air bilasan yang sudah tercampur detergen dan pewangi, akan menjadi bersih dan bisa dipergunakan sebagai media hidup ikan. Cacing yang telah dibudidaya tadi, juga bisa diberikan sebagai pakan ikan dalam kolam.
Dari sekarang, mulailah memanfaatkan limbah rumah tangga, sekecil apapun kontribusi kita untuk menjaga lingkungan, itu merupakan warisan paling berharga untuk anak cucu kelak.
Selasa, 05 April 2011
Prospek Pertanian Organik di Indonesia
Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan �Back to Nature� telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Peluang Pertanian Organik di Indonesia
Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.
Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.
Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.
Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.
Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002
No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)
- Australia dan Oceania 7,70
- Eropa 4,20
- Amerika Latin 3,70
- Amerika Utar 1,30
- Asia 0,09
- Afrika 0,06
Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.
Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.
Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.
Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.
Pertanian Organik Modern
Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.
Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.
Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:
a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.
b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.
Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.
Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik
No. Kategori Komoditi
- Tanaman Pangan Padi
- Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
- Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
- Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
- Peternakan Susu, telur dan daging
Kamis, 17 Maret 2011
Berita Pertanian : Petani Organik Kewalahan Penuhi Permintaan
Gapoktan itu beranggota 84 petani setempat terdiri atas lima kelompok. Mereka secara khusus memproduksi beras organik jenis mentik wangi susu untuk memenuhi kebutuhan pasar baik di Magelang maupun beberapa kota lainnya.
Sejumlah daerah yang mendapat pasokan beras organik produksi gapoktan itu antara lain Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Cirebon, Klaten, Purwokerto, dan Wonogiri.
Ia mengatakan, hingga saat ini total kemampuan produksi petani gapoktan itu masih sekitar tiga ton beras per panen. Kebutuhan pasar, katanya bisa mencapai puluhan ton beras per panen. Pihaknya berupaya menambah kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar. "Semua anggota memang hanya menanam jenis mentik wangi," katanya.
Wartono mengatakan, pengolahan tanaman dan produksi padi jenis itu secara organik untuk mempertahankan kualitas yang ramah lingkungan. Misalnya, petani memproduksi sendiri pupuk secara organik. Gapoktan itu, katanya, hingga saat ini juga telah mengembangkan usaha jasa perontok padi dan pengolahan tanah.(ant)
Selasa, 01 Februari 2011
Berita Pertanian : Cuaca Buruk Hambat Produksi Pupuk Organik di Sumatera Utara
“Seminggu belakangan, di daerah kami hujan turun terus-menerus. Bahkan hampir sepanjang hari, setidaknya gerimis atau mendung, sehingga kami tak bisa menjemur bahan baku pupuk. Padahal, pesanan yang harus dipenuhi cukup banyak,” kata Romi Calmaria, pengusaha pupuk organik POST dari CV BTS.
Dia menjelaskan, pupuk organik POST produksi mereka menggunakan bahan baku tandan kosong kelapa sawit yang dicampur kotoran sapi. Jadi, setelah matang, pupuk tersebut harus diangin-anginkan di tempat terbuka agar tidak menggumpal. Setelah itu barulah digiling untuk menghaluskannya.
“Tandan kosong kelapa sawit notabene memiliki kandungan ligmin yang mudah menggumpal. Jika tidak benar-benar kering, sulit diaplikasi ke lapangan,” sambungnya.
Biasanya, CV POST menggunakan pekarangan rumah yang sekaligus tempat produksi mereka untuk menjemur. Walau luasnya hanya sekitar 800 m2, namun luasan ini sudah cukup untuk menjemur bahan baku dengan skala produksi mereka yang relatif masih kecil.
“Sekali produksi sebanyak 750 kg, bisa ditampung di luas pekarangan tersebut. Biasanya paling lama cuma butuh waktu dua sampai tiga hari untuk menjemur bahan baku pupuk tersebut. Kini, dengan kondisi terus-menerus hujan, kami hanya menggunakan naungan yang tentu kapasitasnya terbatas,” sambung Romi.
Ditambahkan rekannya, Arief Irvan, saat ini CV BTS yang mempunyai cabang pemasaran di Kawasan Sei Mencirim, Deli Serdang, tengah “memburu” produksi pupuk organik POST sebanyak 10 ton, guna memenuhi pesanan konsumen mereka petani hortikultura di daerah Sipirok. Juga pelanggan lainnya dari Medan, Deli Serdang, dan Asahan.
“Khusus order dari Sipirok, sebenarnya sudah harus dikirim pertengahan Februari, namun kami minta tenggang waktu hingga awal Maret mendatang. Tapi kalau keadaan cuaca terus seperti ini, kami khawatir tenggat waktu itu pun tidak bisa tercapai. Setidaknya pesanan tidak bisa terpenuhi seluruhnya,” jelas Arief.
Sebelumnya, Balai Besar Metereologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I Medan memperkirakan, sebagian besar daerah di Sumatera Utara akan mengalami curah hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dalam satu minggu ke depan.
Curah hujan ringan hingga sedang terjadi di daerah perkotaan dan wilayah pesisir pantai. Sementara di daerah pegunungan Sumut, diperkirakan intensitasnya masih tinggi.(medan bisnis)
Minggu, 23 Januari 2011
Berita Pertanian : Berhasil Ekspor Beras Organik ke AS
TASIKMALAYA . Keberhasilan petani dari Kabupaten Tasikmalaya mengekspor beras organik ke sejumlah negara sejak 2009 semakin menguatkan tekad pemerintah setempat untuk menjadikan Tasikmalaya sebagai lumbung pangan organik Jawa Barat. Untuk itu, saat ini luas lahan sawah organik yang akan diuji sertifikasi organik terus diperluas.
Terdapat 320 hektar sawah yang dikelola secara organik lebih dari lima tahun oleh petani. Sawah ini telah mendapat sertifikat organik internasional dan perdagangan berkeadilan dari The Institute for Marketology (IMO), sebuah lembaga sertifikasi internasional yang berbasis di Swiss. Dari sawah inilah beras dieskpor ke Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Jerman, dan Uni Emirat Arab (UEA).
"Kami sekarang sedang menyiapkan 50 hektar sawah yang akan diajukan sertifikasi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemudian ada juga 30 hektar sawah yang sudah dikelola secara organik selama tiga tahun yang akan diajukan sertifikasi ke IMO bersamaan dengan perpanjangan sertifikat untuk 320 sawah terdahulu. Di luar itu sedang dikembangkan juga 30 hektar beras hitam yang juga akan dikelola secara organik," tutur Kepala Bidang Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Soni Prayatna, Minggu (23/1/2011).
Dengan modal sawah organik yang ada sekarang dan keberhasilan petani menembus pasar ekspor, kata Soni, pemerintah daerah bertekad menjadikan Kabupaten Tasikmalaya sebagai lumbung pangan organik di Jawa Barat. "Lumbung beras Jawa Barat bolehlah Karawang atau Indramayu, tapi lumbung pangan organik ya Kabupaten Tasikmalaya. Cita-cita jangka panjang kami ingin menjadikan seluruh sawah di Kabupaten Tasikmalaya yang seluas 49.565 hektar menjadi sawah organik," tuturnya.
Soni menambahkan, yang terpenting dari pengembangan sawah organik ini adalah terciptanya lingkungan ekosistem sawah yang sehat yang akan diwariskan kepada anak cucu kita.
Sementara itu, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik Tasikmalaya yang selama ini mengekspor beras organik ke sejumlah negara sedang menantikan mesin penyortir warna beras dan alat vakum bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tambahan alat penyortir warna diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan beras dan menekan biaya produksi sortasi beras secara manual.
Ketua Gapoktan Simpatik Uu Saeful Bahri mengatakan, biaya untuk tenaga kerja penyortir beras mencapai Rp 16 juta untuk 18 ton beras. "Karena proses sortir dilakukan manual, produksi beras organik dalam sebulan hanya 18 ton. Padahal, dalam sebulan permintaan bisa lebih dari itu," ujarnya.
Pengalaman petani di Kabupaten Tasikmalaya, produksi padi organik dari 1 hektar sawah bisa mencapai 12 ton, sedangkan produktivitas sawah konvensional paling tinggi 7 ton per hektar. (kompas)