Tampilkan postingan dengan label bisnis jamur tiram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis jamur tiram. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

Peluang Usaha Pertanian : Usaha pembuatan log jamur makin mengembang


Makanan berbahan baku jamur makin diminati masyarakat. Itulah sebabnya pembudidaya jamur semakin berkembang, sehingga meningkatkan kebutuhan media tanam atau log jamur. Sejak awal tahun lalu, produsen log mengalami peningkatan 20% penjualan.

Semakin diminatinya makanan berbahan baku jamur membuat bisnis pembuatan media tanam jamur mengembang. Media tanam jamur atau sering disebut log dibuat dari bahan baku serbuk gergaji. Log nantinya menjadi tempat tumbuh bibit jamur yang dikenal dengan sebutan F1, F2 dan F3.

Salah satu tempat produksi log jamur ada di Cisarua, Jawa Barat. Log produksi Cisarua terkenal karena memiliki kualitas baik. "Kami menjaga kualitas sesuai standar dan steril sehingga jamur tumbuh tanpa cacat," terang Ujang, Staf Pemasaran Citi Mandiri Agritech yang memproduksi log jamur di Cisarua.

Setiap hari, Citi Mandiri Agritech yang memiliki 30 pegawai mampu membuat 4.000 log dengan tinggi 35 cm dan beratnya 1,8 kg. "Kira-kira beratnya 1 ton log tiap hari," terang Ujang. Tiap bungkus log dijual dengan harga Rp 2.500.

Selain Ujang, ada juga Masturi Ade yang pembuat log jamur perseorangan. Ia setiap hari mampu memproduksi sekitar 3 kuintal log jamur. Hasil produksinya kemudian dijual seharga Rp 2.000 per bungkus yang rata-rata memiliki berat 1,8 kg tiap satuannya.

Tak hanya untuk dijual, Masturi juga memakai log hasil buatannya untuk memproduksi jamur sendiri. "Saya juga petani jamur," katanya. Jumlah yang dijual hanya separuh produksi karena hampir separuhnya dipakai sendiri.

Baik Ujang maupun Masturi mengakui kalau sejak awal tahun permintaan log jamur mengalami peningkatan. "Peningkatan sekitar 20%. Banyak orang yang tertarik membudidayakan jamur," kata Ujang.

Setiap dua hari sekali ujang mengirimkan log ke Garut, Cipanas, Kuningan dan Cianjur. "Kalau ke Lampung, Dumai dan Kalimantan setiap sebulan sekali," tuturnya. Walau pesanan meningkat, namun karena terkendala tenaga kerja dan modal, pihaknya sampai saat ini belum akan meningkatkan produksi.

Untuk membuat log jamur, serbuk gergaji dicampur dengan jagung yang telah ditumbuk. Selain itu juga dicampurkan dedak, abu dengan tambahan air. Campuran itu kemudian diayak dan dibungkus dalam plastik.

Dalam proses pengepakan ini, harus benar-benar diperhatikan steril tidaknya kantong plastik. Jika tutup kantong plastik kurang rapat maka biasanya media tanam akan rusak dan tidak bisa ditumbuhi bibit jamur dengan baik.

Setelah dikemas, log kemudian dikukus selama 12 jam. Pengukusan dengan boiler mencapai suhu 90-100 derajat celcius. Itu dilakukan agar bakteri yang tak berguna mati.

Setelah dikukus, log kemudian didinginkan. Cara mendinginkannya dengan mengangin-anginkan dalam ruang tertutup berventilasi udara.

Setelah didinginkan satu hari, barulah log siap diberi bibit F1, F2 dan F3. "Semua proses harus steril," tambah Ujang. Agar sterilisasi bisa terjaga, pekerja dibagi tiap bagian meliputi pengadukan, pengukusan hingga pembibitan.

Menurut Masturi untuk mendapatkan log berkualitas juga tergantung dari cuaca dan iklim. "Kalau cuaca tak menentu seperti ini, log yang kami buat sering rusak," terangnya. Perlu cuaca yang mendukung agar bisa membuat log yang bagus, yakni cuaca tidak boleh terlalu panas dan terlalu dingin.(kontan)

Selasa, 03 Mei 2011

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Jamur Tiram Tak Butuh Perawatan Khusus

Medan. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendongkrak pendapatan. Seperti yang dilakukan M Iskandar Pasaribu seorang guru yang membudidayakan jamur tiram di pekarangan rumahnya.
Usaha budidaya jamur yang dilakoninya ini berawal karena sederhananya pengembangan jamur. "Waktu itu saya melihat budidaya jamur yang dilakukan adik saya ini tak ada perawatan khusus, simpel, dan nggak ada risikonya, sepulang dari situ, saya tertarik ingin mencobanya," kata Iskandar yang ditemui, Senin (2/5) di rumahnya Jalan Lukah Blok V Ujung No 65B Komplek Astra Medan Amplas.

Setelah memperbincangkan ide untuk pengembangan jamur tiram kepada sang istri, Iskandar kemudian memutuskan untuk memulai, dan membangun ruang tertutup berukuran 9 x 16 meter per segi sebagai tempat pembiakan jamur. "Untuk modal awal habislah sekira Rp 42 juta, untuk modal bangunan fisik dan 4.000 baglog (bonggol) yang jadi medium jamur," ujarnya.

Setelah berjalan tak kurang dari setahun, bisnis yang dilakoninya mulai menuai hasil. Setiap hari sedikitnya 10 kg- 15 kg jamur tiram siap dipanen yang dijual Rp 20.000 per kg. "Kalau yang beli biasanya datang langsung ke kita, mereka umumnya yang menjual jamur crispy," katanya.

Untuk perawatan, Iskandar yang dibantu seorang pekerjanya mengaku pengembangan jamur tidaklah membutuhkan perawatan yang special. Baglog yang dibeli Rp 4.000 per buah cukup diberikan air secukupnya selama 3 kali sehari, dan tidak boleh terkena langsung cahaya matahari. Untuk suhu yang baik dijaga pada kisaran 25-27 derajat Celsius. "Kalau itu sudah bisa dijaga, jamur pasti berkembang cepat. Untuk baglog yang dijadikan medium jamur bisa bertahan 4-6 bulan," ujarnya.

Dikatakannya, selain untuk meningkatkan pendapatannya, pengembangan jamur yang diusahakannya kini juga dicita-citakannya agar mampu membuka lapangan kerja. "Alhamdulillah, paling tidak lepas untuk uang jajan anak-anak. Ke depan saya ingin lebih serius mengembangkan ini. Rencananya dalam waktu dekat kita mau buat koperasi pengembang jamur," kata bapak 3 anak yang hobi membaca ini.

Diakuinya, kendala yang dihadapinya dalam menggeluti bisnis ini adalah pemasaran produksinya yang masih sedikit. Karena jamur belum cukup banyak dikenal luas sebagai makanan yang enak dan bergizi bagi kesehatan. "Untuk pemasaran, kita sangat mengharapkan pemerintah berperan aktif utamanya dalam membantu pengenalan jamur kepada masyarakat luas," katanya berharap.

Meski begitu, ia mengaku cukup optimis untuk serius mengembangkan jamur ke depan. "Kalau bicara peluang, 3-5 tahun kedepan saya masih cukup yakin, karena sekarang ini baru mungkin 30 persen masyarakat mengenal dan mengonsumsi jamur, di situ peluang bisnisnya. Asal memang kita giat memperkenalkannya," tukasnya.(MB)

Selasa, 12 April 2011

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Burger Jamur

Bisnis jamur olahan kian menjamur. Ceruk pasarnya pun masih cukup besar. Jika selama ini bisnis ini lebih banyak di dataran tinggi seperti, Bogor, Bandung dan Bantul Jogjakarta, kini secara perlahan merambah ke kota-kota di Jatim, di antaranya Surabaya, Sidarjo dan sekitarnya.

Bikin Burger Jamur, Bidik Vegetarian

Bagi Fachri Munif Lahdji, jamur olah memiliki nilai jual jauh lebih tinggi ketimbang menjual jamur mentah kering maupun basah.
“Perhatikan, lima tahun lalu makanan dari bahan dasar jamur belum banyak di Surabaya. sekarang di mal-mal, restoran vegetarian, serta pinggir jalan, mulai banyak yang jual. Masyarakat semakin sadar tentang makanan sehat,” kata Fachri, ditemui di tempat produksinya di Tanjung Sadari Colombo, Surabaya, Kamis (7/4).

Fachri (21) bersama kawannya, Syarif, memproduksi jamur olah yang dibikin serupa daging untuk bahan isi burger dan kebab. Ia menyuplai ke beberapa resto vegetarian, penjual burger dan kebab jamur di pinggir jalan. Agennya saat ini tercatat ada delapan, yang tersebar tidak hanya di Surabaya, tetapi juga hingga Jakarta, Solo, dan Pekalongan.
“Saya sengaja tidak menjual burger jamur di toko-toko moderen dan mal karena cost-nya tinggi, sistem keagenan lebih menguntungkan. Untuk menjadi agen minimal harus beli 20 kilogram (kg), tanpa dikenai biaya apapun,” kata arek Suroboyo kelahiran 26 Juni 1990 ini.
Jamur olah yang ia jual dikemas serupa daging burger Bernardi, dengan tiap kemasan seberat 500 gram. Ia menjual dengan merek dagang Bano seharga Rp 25.000 per pack, harga grosir dengan pemesanan lebih dari 20 kg akan diberikan lebih murah.

“Saya memulai bisnis ini awal 2009, sebetulnya sejak di bangku kuliah di Jurusan International Business Management Universitas Ciputra, tiap mahasiswa harus bikin project wirausaha. Waktu itu saya bikin project trading rempah-rempah tetapi nggak bertahan lama. Akhirnya setelah kenalan dengan petani jamur, saya terinspirasi bikin daging burger jamur dan kebab ini,” jelas anak kedua dari empat bersaudara putra pasangan Munif Lahdji dan Jamilah Bawazeer, pemilik perusahaan pasta gigi dan lotion Siwak-F.
Sebagian ia produksi di Surabaya dan sebagian lagi di Bangil, Pasuruan. Untuk pemasaran, ia mempercayakan pada kawan sebayanya Syarif Husin Baridwan yang juga karib semasa SMP dan SMA di Al Hikmah.

“Saat ini, saya masih promosikan secara online di jejaring sosial dan jejaring social commerce seperti kaskus.com,” ujar Syarif menambahkan.
Sistem pemasarannya bisa pesan antar gratis untuk wilayah Surabaya saja, dengan sistem minimum order. Kini, setiap minggunya rata-rata ia bisa menjual 75 pack.

“Kalau omzetnya masih kecil, tiap minggu Rp 2–2,5 juta tetapi kadang juga tak ada pembeli sama sekali. Belum balik modal sih, karena dulu beli mesin olahnya lumayan mahal Rp 20 jutaan, semua pakai modal pribadi. Tetapi yang namanya bisnis memang harus telaten,” sambung Fachri lagi, yang berniat membuat rombong sendiri untuk mengembangkan bisnisnya.
Ia berkiblat terhadap bisnis pasta gigi milik kedua orangtuanya yang dibangun sejak 1994, baru bisa terasa hasilnya setelah 10 tahun. “Yang penting ada kemauan dan tetap inovatif menangkap selera konsumen,” akunya.

Gampang Dibuat, Bahan Baku Berlimpah

Bisnis makanan memang tak pernah ada matinya. Ketimbang bisnis garmen dan aksesoris, makanan kategori produk yang fast moving.
“Kalau niat berbisnis, cari yang bahan bakunya melimpah dan murah. Jamur tergolong komoditi yang harganya cukup terjangkau, budidayanya juga mudah. Tidak harus di dataran tinggi karena sudah bisa direkayasa,” jelas Fachri.

Untuk membuat daging burger jamur, caranya tak terlalu sulit. Jamur kancing (champignon) basah diblender jadi satu, lalu dicampur bahan pembunuh bakteri, diamkan selama satu hari. Setelah itu aduk dengan tepung gluten basah, tepung tapioka, minyak dan ragam bumbu penyedap rasa. Gulung adonan, lalu masukkan dalam mesin kukus.
“Setelah berwarna kecoklatan, angkat lalu diiris tipis menggunakan mesin potong khusus. Daging burger jamur siap dimasukkan plastik dan divakum,” urainya.
Jika dimasukkan freezer, lanjut Fachri, bisa bertahan sampai satu tahun. Namun jika dimasukkan lemari es hanya bisa bertahan satu bulan. Sementara, burger jamur yang disimpan dalam suhu ruangan hanya bisa bertahan 30 jam.

“Modalnya bisa berapa saja, pakai cara manual juga bisa. Tapi kalau produksinya sudah besar tentu penggunaan mesin-mesin khusus akan sangat membantu. Misalnya mesin blender, mesin kukus dan mesin potong,” jelasnya.
Menurut Fachri, jika ingin produk burger jamur ini cepat diserap pasar, tinggal menggali pasar dan bikin inovasi. Inovasi bisa terletak pada rasa, kemasan hingga merek dagang yang eye catching.

Minggu, 06 Maret 2011

Berita Pertanian : Hama Ulat dan Bakteri Ancam Tanaman Jamur Tiram

MOJOKERTO. Hama ulat, mrutu dan bakteri menjadi ancaman serius tanaman budidaya jamur tiram, jika tidak diantisipasi dengan sterilisasi kandang dan penyemprotan pestisida.

"Kalau untuk hama ulat tanaman budidaya jamur timar masih bisa diatasi dengan pestisida, tapi kalau bakteri saya tidak tahu harus dengan cara apa. Jika tanaman budidaya jamur tiram sudah terserang bakteri, tanaman jamur membusuk dan keluar ulatnya," kata Ainul Karim (34), Petani Tanaman Budidaya Jamur Tiram, hari Minggu (6/3/2011), di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur

Ia mengatakan, jika tanaman budidaya jamur tiram sudah terserang hama ulat, mrutu dan bakteri, hasil tanaman pun bisa dipastikan bakal gagal panen. "Hasilnya bisa merosot lebih dari lima puluh persen dan tidak layak jual," katanya.

Agar tanaman budidaya jamur tiram minimal tercegah dari serangan hama ulat, mrutu dan bakteri, menurut Ainul, setidaknya kandang tanaman jamur tiram harus steril. Artinya, sehabis panen jamur sepanjang empat-lima bulan, sisa-sisa tanaman harus dibersihkan dan kandang pun harus disemprot dengan formalin.

Ainul mengatakan, tanaman budidaya jamur tiram sangat prospektik, karena harganya stabil tidak seperti harga gabah yang kerapkali hancur saat musim panen.

"Selama lebih dari sepuluh tahun menjadi petani tanaman budidaya jamur tiram harganya stabil Rp 7.000-Rp 8.000 per kilo, dan menguntungkan kalau tanaman budidaya jamur tiram tidak diserang hama ulat, mrutu dan bakteri," katanya.

Ia mengatakan, jika tanaman budidaya jamur timar berhasil, pihaknya bisa meraup penghasilan Rp 3,2 juta per-1000 tanaman jamur tiram. "Sekarang ini saya punya dua kandang tanaman budidaya jamur tiram masing-masing 5.000 biji dan 3.500 biji," ujarnya.

Jumat, 25 Februari 2011

Resep Makanan : Kakap Tim Saus Jamur





Bahan-bahan yang digunakan :
  • Ikan kakap ukuran 300 gr
  • Jahe 15 gr
  • Bawang putih 20 gr
  • Batang seledry 10 gr
  • Bawang prey 10 gr
  • Jamur sitake 20 gr
  • Sesame oil (minyak wijen) 2 sdm
  • Oyster sauce (saus tiram) 2 sdm
  • Angciu 1 sdm
  • Tumbu penyedap secukupnya
  • Tepung maizena
  • Telur ayam 1 butir
Cara membuatnya :
  • Dibersihkan ikan kakap dari sisik, perut dan insangnya, lalu ditiriskan.
  • Dipotong bawang putih, dicampurkan bersama angciu, kemudian diolesi ikan kakapnya dengan garam dan air jeruk nipis.
  • Ditambahkan angciu, serta saus tiram dan minyak wijen, lalu dimasukkan potongan jamur, bawang prey, dan batang seledry.
  • Diaduk secara bersamaan semua bumbu lalu tutup dengan aluminium foil, dikukus dalam panci tertutup selama 20menit.
  • Diangkat dan kentalkan air sari ikan yang ada dalam kukusan, kemudian tambahkan kocokan telur lalu siram ikan dengan saus tersebut.
  • Dan dihidangkan dengan nasi putih, mm..enakkk..

Senin, 21 Februari 2011

Untung Jamur Tidak Pernah Luntur

PANEN - Masaul Jihadan, pembudidaya jamur tiram menunjukkan sebagian baglog jamur siap panen di kumbung jamur miliknya di kawasan Desa Gunung Rejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

BANYAKNYA ragam makanan olahan dengan bahan utama jamur tiram (pleurotus ostreatuss) serta mudahnya pembudiayaan menjadi salah satu faktor maraknya usaha budidaya jamur berwarna putih ini di wilayah Malang Raya. Labanya pun bisa berlipat meski dibudidayakan dalam skala kecil.

Seperti yang dilakukan Masaul Jihadan (36) warga Jl Masjid, Kecamatan Singosari. Pria yang profesi aslinya sebagai tukang pangkas rambut di kawasan Pasar Burung Singosari ini, sejak lima tahun terakhir memutuskan nyambi menanam jamur tiram karena terbukti menghasilkan keuntungan cepat yang menggiurkan.

“Menamam jamur tiram itu tidak rumit, hasilnya cepat dan bisa ditinggal sehingga bisa beraktivitas atau bekerja yang lain,” kata Saul mengenai alasannya menerjuni usaha jamur tiram.

Saat ditemui di lahan jamur miliknya, Gubuk Jamur di Dusun Mluwo, Desa Gunung Rejo, Kecamatan Singosari, Rabu (9/2) lalu, Saul menuturkan, dari 4.000 lebih baglog (media penanaman jamur), ia bisa memanen sekitar 20 kg jamur tiram segar.

Dengan harga jual Rp 10.000 per kg, Saul setidaknya mengantongi uang Rp 200.000 per hari dari panenan 4.000 baglog.

Itu pun Saul tidak perlu mengeluarkan biaya bensin untuk mengantar jamur-jamur tersebut, karena setiap pagi sudah ada pembeli yang mengantre. Padahal, Saul saat ini setidaknya memiliki lebih dari 9.000 lebih baglog dari dua kumbung (rumah penyimpanan baglog jamur) berukuran 4 x 12 meter dan 4 x 25 meter.

Selama lima tahun menggeluti usaha jamur tiram, Saul memastikan belum pernah menemui jamur tiram miliknya tidak terserap pasar. Bahkan sejauh ini, pasokan untuk pasar di kawasan sekitar Singosari selalu kurang, meski sudah banyak yang membudidayakan jamur ini.

Bagi Saul, budidaya ini tidak sulit dan meyakini semua orang bisa melakukannya. “Tanaman ini minim perawatan dan minim hama. Kalaupun ada, sekadar menjaga suhu kumbung tetap ideal yakni 25-26 derajat Celcius dengan melakukan penyiraman, dan menghindari masuknya lalat atau klelet (jenis siput tanpa cangkang) ke kumbung. Artinya, tinggal menaruh baglog jamur akan tumbuh,” ucapnya.

Mengaku otodidak dan hanya bermodal nekat, Saul juga memproduksi baglog. Selain dipakai sendiri, ia jual ke petani-petani lain yang membutuhkan. Bagi Saul, membuat baglog sendiri artinya menekan biaya pembelian baglog serta menjaga kualitas media tanam.

Selain jamur tiram yang murah meriah, Saul juga bisa memproduksi jenis jamur lain yang memiliki harga premium di pasaran, seperti jamur jenis Lingzhi atau Reishi. Namun, untuk jenis jamur yang satu kilogramnya dijual dengan harga Rp 200.000 tersebut, Saul mengaku masih sulit menemukan pasar. Untuk itu, ia berharap ada campur tangan pemerintah yang bisa mencarikan pasar jamur Lingzhi bagi puluhan petani jamur sepertinya.

“Jamur Lingzhi bisa juga dimakan, tapi jarang ada yang beli makanan semahal itu. Jamur ini lebih digunakan untuk bahan farmasi.

Namun sejauh ini, kami, petani jamur kesulitan dan tidak tahu harus menjual ke mana jika memproduksi jamur Lingzhi,” papar Saul yang juga berpatner dengan saudaranya untuk memproduksi keripik jamur tiram.