BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Sabtu, 21 Mei 2011
Berita Pertanian : 9.000 Hektare Tanaman Sawit Dilahap Ulat Api
"Serangan sudah berlangsung semenjak awal Mei, dan kini dampaknya telah 9.000 hektare lahan milik rakyat habis digunduli oleh ulat api, warga pun kini bingung tak tahu harus berbuat apa lagi," kata Sunarto, Kasubag Umum kantor Kecamatan Pemenang Selatan Sunarto, di Bangko, Jumat.
Ia menjelaskan, berbagai upaya dan tindakan telah dilakukan warga seperti melakukan foging atau pengasapan, namun tindakan itu tidak cukup bisa membendung kerakusan ulat api tersebut.
Selain itu, tambahnya, pihak pemerintahan desa dan kecamatan juga sudah melaporkan kejadian serangan hama ulat api tersebut kepada Bupati H Nalim dan kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan.
"Namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari dinas instansi terkait, buktinya belum ada satupun petugas dari dinas tersebut yang turun ke lapangan melihat telah gundulnya pohon-pohon sawit produktif warga ini," terang Sunarto.
Lebih jauh dia merinci, adapun kecamatan yang terserang adalah Pemenang Selatan, Renah Pemenang dan Pemenang Barat, bahkan diketahui serangan ulat api tersebut juga sudah sampai menyerang di kecamatan Bangko Barat.
"Belasan desa eks-transmigrasi telah jadi korbannya, diantaranya yang paling parah Desa Bukit Bungkul, Tambang Mas, Meranti, Tanjung Benuang, Pasan, Pulai, Sungai Kapas, Bukit Bening, dan Sungai Putih. Di Pemenang Selatan Sendiri ada enam desa yang terparah," katanya.
Serangan ulat api adalah yang kedua kali terjadi setelah pada Februari lalu serangan serupa juga menyerang kecamatan pemenang barat dengan telah menghabiskan belasan ribu hektare lahan sawit warga di Pemenang Barat.
Saat itu, tingkat serangan dapat dihentikan setelah tim dari Provinsi Jambi dengan peralatan penanganan canggih turun tangan bersama perusahaan yang menaungi perkebunan tersebut turun tangan.
"Serangannya sangat ganas, ulat-ulat api itu melahap habis dedaunan sawit dan `pupus` atau pucuk daun sawit, sehingga sawit jadi gundul tinggal batang dan lidi," katanya.
Meskipun ulat-ulat tersebut tidak menyerang tandan buah, namun tetap saja akibat serangannya terhadap daun dan pupus tersebut mengakibatkan terganggung perkembangan pohon.
"Ulat api tersebut memang tidak mengganggu buah, namun akibat serangannya baru akan bisa dipulihkan setelah minimal satu tahun pasca serangan, ini kan sangat merugikan bagi petani, karena itu kita sangat mengharapkan pihak Dihutbun segera turun tangan membantu,`` tandas Sunarto.(ant)
Rabu, 30 Maret 2011
Berita Pertanian : SERANGAN ULAT. Dampak Cuaca dan Gangguan Ekosistem
Jakarta. Fenomena serangan ulat bulu di permukiman dan lahan pertanian desa-desa di Probolinggo, Jawa Timur, mengindikasikan terganggunya keseimbangan ekosistem setempat. Pola tanam monokultur, hilangnya predator dan parasit, serta cuaca ekstrem menyebabkan populasi herbivora itu tak terkontrol.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nuramaliati Prijono dan ahli serangga LIPI, Hari Sutrisno, serta Asisten Deputi Kehati dan Pengendalian Kerusakan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup Antung Deddy Radiansyah, Selasa (29/3).
Siti, yang juga ahli burung, menjelaskan, penebangan pohon dan perburuan burung menjadi salah satu sebab jumlah burung pemakan ulat berkurang. Dampaknya adalah populasi ulat tidak mengalami tekanan alami.
Selain itu, ledakan populasi ulat juga bisa dipicu kondisi cuaca. Saat kondisi panas, kupu-kupu bertelur hingga ratusan butir. Saat hujan, telur tersebut menetas bersama-sama.
Hari Sutrisno menjelaskan, cuaca panas mendorong makhluk hidup melepaskan karbon dioksida dalam jumlah lebih besar. Karbon dioksida yang melimpah merangsang tanaman giat berfotosintesis. Ulat meresponnya dengan menambah porsi makan.
Hari menyebut parasit ulat, yaitu lebah tabuhan, dapat mengontrol laju populasi ulat. Saat ini, populasi lebah kecil tersebut jauh berkurang karena ekosistemnya tertekan pertanian intensif.
Lebah pengisap madu di rumput liar itu mati karena penggunaan pestisida antihama. ”Ini konsekuensi manusia yang tidak menjaga keseimbangan ekosistem,” katanya.
Kontrol lebah tabuhan terhadap ulat bulu, menurut Hari, lebih efisien dibandingkan dengan hewan predator burung, yang memiliki sifat pemilih makanan. Keberadaan bulu-bulu pada ulat mengurangi selera makan burung.
Hari menjelaskan, ciri berbulu pada ulat yang menyerang desa di Probolinggo menunjukkan spesiesnya dari famili Lymantriidae. Bulu ulat menyebabkan iritasi pada permukaan kulit luar karena kandungan biokimia pada bagian ujungnya. Ini menyebabkan rasa gatal dan panas.
Terkait penanganan ledakan ulat, Hari menyarankan petugas hati-hati saat menggunakan pestisida berbahan kimia. Ia khawatir pestisida juga mematikan serangga lainnya.
Antung Deddy belum banyak mendapatkan informasi dan laporan kasus ledakan populasi ulat itu. Namun, ia memprediksi salah satu penyebabnya pola tanam monokultur.
Pola tanam itu menurunkan keanekaragaman hayati lingkungan. Dampaknya, hewan/tanaman pengendali spesies tertentu musnah.
Antung menyarankan pola tanam dikembalikan ke heterogen. ”Tanaman heterogen lebih tahan serangan hama daripada monokultur,” katanya.Minggu, 06 Maret 2011
Berita Pertanian : Hama Ulat dan Bakteri Ancam Tanaman Jamur Tiram
MOJOKERTO. Hama ulat, mrutu dan bakteri menjadi ancaman serius tanaman budidaya jamur tiram, jika tidak diantisipasi dengan sterilisasi kandang dan penyemprotan pestisida."Kalau untuk hama ulat tanaman budidaya jamur timar masih bisa diatasi dengan pestisida, tapi kalau bakteri saya tidak tahu harus dengan cara apa. Jika tanaman budidaya jamur tiram sudah terserang bakteri, tanaman jamur membusuk dan keluar ulatnya," kata Ainul Karim (34), Petani Tanaman Budidaya Jamur Tiram, hari Minggu (6/3/2011), di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
Ia mengatakan, jika tanaman budidaya jamur tiram sudah terserang hama ulat, mrutu dan bakteri, hasil tanaman pun bisa dipastikan bakal gagal panen. "Hasilnya bisa merosot lebih dari lima puluh persen dan tidak layak jual," katanya.
Agar tanaman budidaya jamur tiram minimal tercegah dari serangan hama ulat, mrutu dan bakteri, menurut Ainul, setidaknya kandang tanaman jamur tiram harus steril. Artinya, sehabis panen jamur sepanjang empat-lima bulan, sisa-sisa tanaman harus dibersihkan dan kandang pun harus disemprot dengan formalin.
Ainul mengatakan, tanaman budidaya jamur tiram sangat prospektik, karena harganya stabil tidak seperti harga gabah yang kerapkali hancur saat musim panen.
"Selama lebih dari sepuluh tahun menjadi petani tanaman budidaya jamur tiram harganya stabil Rp 7.000-Rp 8.000 per kilo, dan menguntungkan kalau tanaman budidaya jamur tiram tidak diserang hama ulat, mrutu dan bakteri," katanya.
Ia mengatakan, jika tanaman budidaya jamur timar berhasil, pihaknya bisa meraup penghasilan Rp 3,2 juta per-1000 tanaman jamur tiram. "Sekarang ini saya punya dua kandang tanaman budidaya jamur tiram masing-masing 5.000 biji dan 3.500 biji," ujarnya.
Rabu, 16 Februari 2011
Berita Pertanian : 1.000 Hektar Sawit Digunduli Hama Ulat Api
"Sekurang-kurangnya sudah 1.000 hektar lahan sawit di Tabir Timur dan Tabir Selatan telah gundul karena daunnya habis dimakan hama ulat api semenjak tiga pekan belakangan," ungkap Kadishutbun Ir. Syafri, di Bangko, Senin.
Semenjak mulai kasus serangan ulat api yang melahap habis daun-daun sawit hingga hanya menyisakan batang, buah dan sedikit lidi tersebut, pihak Dishutbun bersama petugas dari PT SAL dan Disbun Provinsi Jambi sudah melakukan tindakan pemberantasan hama.
"Kita semenjak sepekan lalu sudah menurunkan tim menangani serangan hama ulat api tersebut. Kita sudah melakukan tindakan Fogging (pengasapan) dan penyemprotan insektisida. Sudah 500 hektare sudah tertangani," terang Syafri.
Lebih jauh dia merinci, serangan ulat api tersebut adalah kasus pertama yang terjadi terhadap perkebunan sawit setidak di Kabupaten Merangin. Dia juga merinci 1.000 hektare lahan yang diserang tersebut berada di Desa Sungai Durian, Seri Sembilan, dan Bukit-bukit, serta beberapa desa yang berada dalam kawasan Betung Berdarah yang merupakan wilayah administratif Kabupaten Tebo.
Kasus tersebut, menurut Syafri sudah langsung mendapat respon dari pihak Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi dengan langsung memberikan peralatan fogging dan penyemprotan insektisida.
Menurut Syafri, serangan hama ulat tersebut memang hanya menyerang daun sawit dan tidak menyerang bagian lain seperti buah, sehingganya buah sawit tetap aman dan bisa diproduksi.
"Pohon sawit yang diserang tetap hidup atau tidak mati, hanya saja akibat serangan ulat api ini mengakibatkan pohon sawit mengalami kegundulan sehingga mengakibatkan tanaman kesusahan untuk melakukan fotosintesa memasak makanan di klorofil daunnya yang berguna untuk pertumbuhan sawit itu sendiri," terangnya.
Ditegaskan Syafri, akibat serangan ulat api yang menyebabkan kegundulan tersebut, tanaman sawit akan mengalami kegundulan terus-menerus hingga situasi kembali normal.
"Menurut analisa tim ahli kita, kondisi kegundulan itu tidak bisa kembali pulih dalam waktu singkat, minimal baru bisa kembali tumbuh normal dalam jangka waktu setahun. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap kemampuan berproduksi pohon-pohon sawit itu sendiri dalam jangka panjang," tandasnya.(ant)