Pemerintah diminta menyediakan kebutuhan pangan masyarakat dengan harga terjangkau di tengah ancaman kerawanan pangan dunia, dengan melakukan sejumlah program darurat dan jangka pendek.
"Pemerintah harus melakukan penajaman prioritas dengan fokus stabilisasi pangan sepanjang 2011 ini," kata Anggota Badan Anggaran DPR-RI Bambang Soesatyo dalam surat elektroniknya kepada ANTARA, di Jakarta, Senin (17/1).
Ia menilai stabilisasi pangan menjadi pilihan yang sulit dihindari, karena produksi bahan pangan di dalam negeri diperkirakan turun cukup tajam, akibat panen tanaman pangan yang gagal di sejumlah daerah menyusul anomali iklim.
Untuk itu, Bambang yang juga menjadi salah satu wakil ketua umum Kadin Indonesia mengusulkan agar pemerintah melakukan dua aksi dalam stabilisasi pangan yaitu `crash programme" ketersediaan pangan dan program jangka pendek untuk menjaga produktivitas pertanian, khususnya tanaman pangan, di tengah perubahaan iklim.
"Aksi `crash programme` sebaiknya dimulai pemerintah sejak sekarang, dengan menjajaki kontrak impor, terutama beras," kata Bambang. Sedangkan komoditas pangan lainnya, lanjut dia, seperti tepung terigu, susu atau minyak goreng, pemerintah perlu berkoordinasi dengan asosiasi produsen untuk mengetehui volume kebutuhan yang harus diimpor, jika produksi dalam negeri tidak mencukupi permintaan.
"Untuk program antisipasi perubahan iklim guna mengamankan produktivitas sektor pertanian dan tanaman pangan sebaiknya pemerintah mulai merealisasikan sejak Januari ini. Tujuannya, agar tahun mendatang kita lebih siap mencegah gagal panen," katanya.
Ia mengimbau agar kementerian Pertanian segera turun ke lapangan untuk menjelaskan kepada komunitas petani tentang perubahan iklim dan bagaimana antisipasinya agar produktivitas tidak terganggu. "Tentu saja faktor sarana produksi yang tepat harus diperkenalkan kepada petani," ujarnya.
Bambang meminta pemerintah tidak menyederhanakan masalah pangan. Menurut dia, tahun ini situasi yang dihadapi rakyat akan jauh lebih buruk dibanding tahun 2010, dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan. Hal itu ditandai dengan lonjakan beruntun harga bahan pangan saat ini. "Saya yakin, stabilitas sosial politik akan terjaga, jika ketersediaan bahan pangan selalu pada tingkat yang aman dengan harga terjangkau," ujarnya. BM atas Pangan Pokok dan Bahan Terkait Akan Dibebaskan
Pemerintah siap membebaskan bea masuk pangan pokok dan bahan terkait pangan sebagai langkah antisipatif untuk membendung kenaikan yang terus berlanjut. Pembebasan bea masuk pangan ini diharapkan bisa membantu stabilisasi harga. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan upaya stabilisasi yang dilakukan pemerintah adalah memberikan pembebasan bea masukuntuk produk-produk beras, gandum, dan hal-hal yang terkait pakan ternak.
"Ini dalam upaya kita untuk membuat stabilisasi pangan dan juga inflasi yang harus kita jaga," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (17/1). Untuk pembebasan bea masuk ini, Hatta mengatakan, dibutuhkan beberapa peraturan menteri keuangan (PMK) yang terkait dengan pembebasan bea masuk.
Langkah stabilisasi lain yang diupayakan pemerintah adalah menerbitkan instruksi presiden (Inpres) yang mengatur upaya antisipasi Indonesia terhadap kondisi iklim ekstrim. Inpres ini terkait pembagian benih dan pupuk serta pengadaan subsidi benih.
"Penting juga diatur mengenai reaksi dan respons yang diperlukan bila terjadi sesuatu. Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa menteri terkait dan dilanjutkan Rabu (19/1/2011) tentang stabilisasi pangan. Hari ini kami melakukan rapat mendengarkan masukan terkait dengan keputusan sebelumnya tentang pentingnya kita merespons suatu keadaan pangan dunia dan implikasinya terhadap pangan kita," urai Hatta.
Terakhir, pemerintah akan segera merumuskan penggunaan dana kontigensi senilai Rp 3 triliun dimana Rp 1 triliun aakan digunakan untuk stabilisasi pangan dan Rp 2 triliun untuk antisipasi iklim ekstrim. Saat ini Inpres sedang dirampungkan dan diharapkan selesai pada bulan ini.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menambahkan pemerintah akan fokus pada bahan pokok dan bahan terkait panngan dalam upaya mengantisipasi kenaikan pangan dunia. "Intinya mengacu pada perlindungan stabilisasi harga pangan juga memperhatikan pemasukan-pemasukan agar hal ini menjadi perhatian kita secara keseluruhan," imbuh Mari. (antara news)
BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Tampilkan postingan dengan label antara news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antara news. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Januari 2011
Minggu, 16 Januari 2011
Berita Pertanian : Arang Kayu di Palembang Semakin Laris
Menurut Sofyan, pedagang di pasar Kelurahan 7 Ulu Palembang, Senin bahwa harga arang kayu Rp10 ribu per karung (ukuran karung beras 20 kiloram-red).
Menurut dia, sekarang ini peminat arang kayu cukup banyak, karena sebagian warga beralih dari menggunakan bahan bakar minyak tanah ke jenis bahan bakar tersebut.
Menurut Ny Tatik, warga yang tinggal di Kelurahan 7 Ulu bahwa membeli arang kayu jauh lebih hemat, karena dalam satu karung cukup untuk kebutuhan memasak selama lima hingga enam hari hanya mengeluarkan biaya Rp10 ribu, sedangkan kalau memakai minyak tanah dua liter seharga Rp14 ribu hanya cukup selama dua hari.
Hanya saja, perbedaannya menggunakan arang kayu harus melalui proses menghidupkan bara api dalam beberapa menit, sedangkan minyak tanah begitu disulut dengan api langsung hidup.
Di samping itu, menggunakan arang kayu banyak mengeluarkan polusi asap, sehingga untuk mengatasinya harus memasak di ruangan terbuka di luar rumah, katanya lagi.
Ia menambahkan, selain arang kayu, bahan bakar alternatif lainnya adalah kayu bakar, tetapi harganya lebih mahal kisaran Rp2.000 per ikat, kalau untuk kebutuhan selama sepekan paling tidak diperlukan sebanyak sepuluh ikat atau mencapai Rp20 ribu.
Sedangkan harga minyak tanah sekarang ini dipatok pedagang kisaran Rp7.000 per liter.
Khusus permintaan minyak tanah, sampai sekarang ini juga masih banyak, karena sebagian warga masih belum berani menggunakan kompor yang berbahan bakar gas.
Label:
antara news,
arang,
arang kayu,
berita,
bertani,
indonesia,
palembang,
pertanian
Berita Pertanian : Petani Kerinci Lestarikan Koloni Burung Kuntul
Himpunan Pramuwisata Indonesia Jambi menilai para petani di Kabupaten Kerinci bersikap ramah terhadap koloni burung kuntul dan bangau dengan turut menjaga kelestarian serta populasinya.
(antaranews)
"Itu sangat baik. Salah satu pesona wisata Kerinci adalah burung kuntul dan bangau yang hingga kini tetap terjaga keberadaannya, seperti yang terlihat di sawah-sawah petani setempat. Petani tidak mengusik apalagi memburunya," kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jambi Ir Guntur di Jambi, Senin.
Guntur yang mengaku telah menjadi pemandu wisata sejak berumur 12 tahun, yakni saat duduk di kelas I SMP menyatakan, sejak dulu keberadaan koloni burung kuntul dan bangau di tengah sawah menjadi salah satu pesona pariwisata Kerinci yang banyak menarik minat dan perhatian para pelancong.
Sejak dulu dulu hingga kini keberadaan koloni burung kuntul berwarna putih pemakan cacing dan serangga di sawah dan tubuh kerbau, serta burung bangau berwarna coklat dan berbadan lebih besar ternyata tetap ada di saat banyak aset dan potensi lainnya secara perlahan telah menghilang dari bumi Kerinci, seperti spesies beberapa satwa dan tumbuhan di hutan yang semula lebat hijau dan rimbun.
Menurut catatan Guntur, sepuluh tahun lalu diperkirakan ada ribuan burung kuntul yang mencari makan di sawah-sawah di Kerinci khususnya saat musim panen tiba, dan ratusan burung bangau yang biasanya lebih ramai ketika musim panen tiba.
Kini jumlah tersebut diperkirakan telah meningkat sampai dua atau tiga kali lipat dari sebelumnya.
"Ada beberapa faktor yang menyebabkan terus lestarinya keberadaan burung kuntul dan bangau. Meskipun diketahui masyarakat daging burung kuntul gurih dan halal dikonsumsi, namun sikap burung kuntul terlihat jinak dan bersahabat ditambah bentuk tubuh dan bulunya yang indah membuat burung ini justeru menimbulkan empati bagi petani," ujarnya.
Apalagi burung ini sangat bermanfaat bagi pembasmi hama seperti wereng, belalang atau jenis serangga lainnya yang merusak tanaman.
Selain itu, Kerinci merupakan salah satu daerah pelintasan burung-burung imigran dari belahan utara ke selatan pada setiap musim dingin termasuk jenis bangau. Saat singgah di Kerinci mereka justeru menetap karena tertinggal koloninya atau lebih tertarik terhadap kekayaan dan ketersedian mineral dan nutrisi serta pakan di daerah tersebut.
Yang terpenting, para petani di Kerinci tidak memburu burung kuntul tersebut seperti halnya burung-burung imigran lainnya seperti belibis, bahkan mereka percaya pada mitos bahwa keberadaan burung kuntul justeru akan menandakan hasil panen. Ssemakin banyak koloni burung kuntul di sawah semakin besar hasil panen yang akan diperoleh petani.
Karena telah menjadi sebagai salah satu pesona wisata yang unik dan asri, HPI menilai ke depan pemerintah melalui dinas dan instansi terkait perlu memprogramkan pelestarian burung tersebut.
Bahkan bila perlu masyarakat setempat bisa didorong untuk melestarikannya dengan program-program penangkaran. Petani bisa kembali berternak burung tersebut dengan metoda yang jauh lebih profesional dan modern. Burung tersebut juga layak jadi bahan produk kuliner, tambahnya.
Guntur yang mengaku telah menjadi pemandu wisata sejak berumur 12 tahun, yakni saat duduk di kelas I SMP menyatakan, sejak dulu keberadaan koloni burung kuntul dan bangau di tengah sawah menjadi salah satu pesona pariwisata Kerinci yang banyak menarik minat dan perhatian para pelancong.
Sejak dulu dulu hingga kini keberadaan koloni burung kuntul berwarna putih pemakan cacing dan serangga di sawah dan tubuh kerbau, serta burung bangau berwarna coklat dan berbadan lebih besar ternyata tetap ada di saat banyak aset dan potensi lainnya secara perlahan telah menghilang dari bumi Kerinci, seperti spesies beberapa satwa dan tumbuhan di hutan yang semula lebat hijau dan rimbun.
Menurut catatan Guntur, sepuluh tahun lalu diperkirakan ada ribuan burung kuntul yang mencari makan di sawah-sawah di Kerinci khususnya saat musim panen tiba, dan ratusan burung bangau yang biasanya lebih ramai ketika musim panen tiba.
Kini jumlah tersebut diperkirakan telah meningkat sampai dua atau tiga kali lipat dari sebelumnya.
"Ada beberapa faktor yang menyebabkan terus lestarinya keberadaan burung kuntul dan bangau. Meskipun diketahui masyarakat daging burung kuntul gurih dan halal dikonsumsi, namun sikap burung kuntul terlihat jinak dan bersahabat ditambah bentuk tubuh dan bulunya yang indah membuat burung ini justeru menimbulkan empati bagi petani," ujarnya.
Apalagi burung ini sangat bermanfaat bagi pembasmi hama seperti wereng, belalang atau jenis serangga lainnya yang merusak tanaman.
Selain itu, Kerinci merupakan salah satu daerah pelintasan burung-burung imigran dari belahan utara ke selatan pada setiap musim dingin termasuk jenis bangau. Saat singgah di Kerinci mereka justeru menetap karena tertinggal koloninya atau lebih tertarik terhadap kekayaan dan ketersedian mineral dan nutrisi serta pakan di daerah tersebut.
Yang terpenting, para petani di Kerinci tidak memburu burung kuntul tersebut seperti halnya burung-burung imigran lainnya seperti belibis, bahkan mereka percaya pada mitos bahwa keberadaan burung kuntul justeru akan menandakan hasil panen. Ssemakin banyak koloni burung kuntul di sawah semakin besar hasil panen yang akan diperoleh petani.
Karena telah menjadi sebagai salah satu pesona wisata yang unik dan asri, HPI menilai ke depan pemerintah melalui dinas dan instansi terkait perlu memprogramkan pelestarian burung tersebut.
Bahkan bila perlu masyarakat setempat bisa didorong untuk melestarikannya dengan program-program penangkaran. Petani bisa kembali berternak burung tersebut dengan metoda yang jauh lebih profesional dan modern. Burung tersebut juga layak jadi bahan produk kuliner, tambahnya.
Label:
antara news,
berita,
berita pertanian,
bertani,
burung,
burung kuntul,
indonesia,
jambi,
petani,
sawah
Jumat, 14 Januari 2011
Berita Pertanian : Ilmuwan Kembangkan Ayam Antiflu Burung
Para ilmuwan dari Universitas Cambridge dan Edinburgh mengatakan bahwa untuk sementara anak ayam transgenik itu masih bisa terkena sakit dan mati jika mereka terkena flu burung H5N1, namun ayam-ayam ini taka akan menularkan virus ke ayam lainnya.
"Mencegah menyebarnya virus ke anak ayam semesetinya n eengurangi dampak ekonomi dari penyakit itu dan mengurangi risiko yang ditimbulkan kepada manusia," kata Laurence Tiley dari Departemen Kedokteran Hewan Universitas Cambridge, yang mengetuai penelitian itu.
Flu burung H5N1 telah menyebar di Asia dan Timur Tengah, serta pernah menjadi wabah besar di Eropa, sejak 2003 dan telah membunuh atau memaksa pemusnahan ratusan juta burung, demikian organisasi dunia untuk kesehatan hewan OIE.
Virus ini jarang menginfeksi orang tetapi manakala menginfeksi dampaknya akan sangat mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia sendiri telah mendokumentasikan 516 kasus virus ini pada manusia sejak 2003 dan virus itu telah menewaskan 306 orang.
Para ahli mengatakan bahayanya adalah virus ini bisa berkembang menjadi satu bentuk yang dapat merasuk ke manusia untuk kemudian ditularkan ke manusia lainnya. Kecenderungan ini menyebabkan laju penyebaran virus melonjak dan menciptakan pandemi di mana jutaan orang bisa mati karenanya.(antaranews)
Label:
antara news,
ayam,
berita,
bertani,
flu burung,
indonesia,
peternakan
Berita Pertanian : Konsumsi Ikan Indonesia Capai 30 Kg per Kapita per Tahun
Tingkat konsumsi ikan di Indonesia 2010 mencapai 30,47 kilogram per kapita per tahun, meningkat 29% dibanding tingkat konsumsi 2009. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam siaran pers-nya yang diterima di Jakarta, Jumat (14/1) menyebutkan, dukungan konsumsi dalam negeri sangat diperlukan untuk membangun alur pemasaran produk yang kuat sehingga juga membangun kepercayaan diri pelaku usaha sektor perikanan dari hulu sampai ke hilir.
Akibatnya, peningkatan tingkat konsumsi ikan diyakini tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan makanan, khususnya pelaku usaha. Selain itu, peningkatan konsumsi ikan juga dinilai berarti penting bagi ketahanan pangan dan kemandirian bangsa karena peningkatan konsumsi ikan akan mengurangi ketergantungan terhadap impor protein hewani lainnya.Sementara produksi ikan dalam negeri diyakini dapat mencukupi baik kebutuhan ekspor maupun domestik. Pada tahun 2011, KKP memperkirakan jumlah ketersediaan stok ikan yang dapat dikonsumsi masyarakat mencapai 7,76 ton. Sedangkan sasaran target produksi ikan pada 2011 adalah sebesar 12,26 juta ton.
Sasaran target tersebut berarti terdapat peningkatan 13% dari produksi 2010 sebesar 10,85 juta ton. Sementara itu, neraca perdagangan ekspor-impor perikanan Indonesia 2010 masih mengalami surplus sebesar US$ 2,3 miliar atau meningkat sekitar 7,06% dibanding tahun 2009. Neraca tersebut, menurut KKP, berbeda dengan kondisi ketersediaan sumber protein hewani lainnya yang masih perlu diimpor untuk memenuhi kebutuhan domestik. (antara news)
Label:
antara news,
berita,
bertani indonesia,
ikan,
perikanan,
pertanian
Berita Pertanian : Bank Dunia: Waspadai Kenaikan Pangan Pada 2011
Bank Dunia dalam proyeksi ekonomi global meminta negara-negara berkembang untuk mewaspadai adanya kenaikan harga pangan terhadap kemungkinan gangguan iklim dan kuatnya permintaaan pada 2011.
"Kami sangat prihatin dengan kenaikan harga-harga pangan, dan ini berlangsung di seluruh dunia. Kami melihat beberapa kesamaan dengan situasi dua tahun lalu pada 2008, hanya sesaat sebelum krisis," ujar Direktur Prospek Pembangunan Bank Dunia Hans Timmer dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, kenaikan harga pangan ini dapat mempengaruhi pasar internasional. Untuk itu setiap negara harus menjamin keberlangsungan perdagangan komoditas dan menyiapkan cadangan pangan stok dalam negeri agar harga tidak merambat naik.
"Krisis pangan global tidak berhenti secara langsung. Ini sudah berlangsung hampir sepanjang tahun dan membutuhkan situasi ketat agar gangguan ini dapat diatasi dan harga-harga kembali normal," ujarnya.
Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Enrique Blanco Armas menambahkan kenaikan harga beras yang terjadi di Indonesia disebabkan kurangnya pasokan dan untuk menstabilkan harga, pemerintah perlu melakukan operasi pasar secara intensif sebelum masa panen pada Februari.
"Operasi pasar yang dilakukan pemerintah harus diinsentifkan agar sebelum masa panen untuk menjamin kepastian harga," ujarnya.
Selain itu, menurut dia, pemerintah juga perlu untuk memberikan insentif kepada petani untuk meningkatkan produktivitas beras serta menjamin kelancaran distribusi.
Untuk itu, sepanjang tahun ini diperlukan upaya untuk mengatasi perubahan iklim dan cuaca yang mempengaruhi produktivitas harga komoditas seluruh dunia dan berdampak inflasi secara keseluruhan.
"Bukan hanya Indonesia yang mengalami ini, apalagi harga beras Indonesia lebih tinggi dari harga internasional. Apabila tidak menyiapkan cadangan pangan, secara keseluruhan bisa mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Bank Dunia mencatat gangguan yang berhubungan dengan cuaca terhadap produksi bahan pangan menggerakan inflasi menjadi 6,9 persen yoy pada Desember, 6,3 persen yoy pada November dari 5,7 persen yoy pada Oktober.
Harga padi-padian (termasuk beras) meningkat sebesar 25 persen yoy, dan menjadi tingkat tertinggi sejak krisis bahan pangan pada 2006 karena kelas menengah ke bawah mengkomsumsi porsi bahan pangan yang lebih besar dalam susunan konsumsi mereka.
Inflasi inti masih tetap bertahan pada 4,3 persen dan meskipun meningkat secara bertahap, masih dibawah tingkat yang tercatat pada 2008 sehingga BI tidak mengubah suku bunga acuan (BI Rate) pada angka 6,5 persen.
Sementara, harga-harga komoditas dunia mulai meningkat pada beberapa bulan terakhir. Pada November, harga komoditas non energi dalam dolar AS, harga pangan dan bahan mentah masing-masing meningkat sebesar 3,4 persen, 4,9 persen dan 7,6 persen.
Pendorong dan faktor utama adalah kuatnya permintaan dari ekonomi-ekonomi baru, terutama China serta gangguan pasokan pada sektor pertanian.(antaranews)
"Kami sangat prihatin dengan kenaikan harga-harga pangan, dan ini berlangsung di seluruh dunia. Kami melihat beberapa kesamaan dengan situasi dua tahun lalu pada 2008, hanya sesaat sebelum krisis," ujar Direktur Prospek Pembangunan Bank Dunia Hans Timmer dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, kenaikan harga pangan ini dapat mempengaruhi pasar internasional. Untuk itu setiap negara harus menjamin keberlangsungan perdagangan komoditas dan menyiapkan cadangan pangan stok dalam negeri agar harga tidak merambat naik.
"Krisis pangan global tidak berhenti secara langsung. Ini sudah berlangsung hampir sepanjang tahun dan membutuhkan situasi ketat agar gangguan ini dapat diatasi dan harga-harga kembali normal," ujarnya.
Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Enrique Blanco Armas menambahkan kenaikan harga beras yang terjadi di Indonesia disebabkan kurangnya pasokan dan untuk menstabilkan harga, pemerintah perlu melakukan operasi pasar secara intensif sebelum masa panen pada Februari.
"Operasi pasar yang dilakukan pemerintah harus diinsentifkan agar sebelum masa panen untuk menjamin kepastian harga," ujarnya.
Selain itu, menurut dia, pemerintah juga perlu untuk memberikan insentif kepada petani untuk meningkatkan produktivitas beras serta menjamin kelancaran distribusi.
Untuk itu, sepanjang tahun ini diperlukan upaya untuk mengatasi perubahan iklim dan cuaca yang mempengaruhi produktivitas harga komoditas seluruh dunia dan berdampak inflasi secara keseluruhan.
"Bukan hanya Indonesia yang mengalami ini, apalagi harga beras Indonesia lebih tinggi dari harga internasional. Apabila tidak menyiapkan cadangan pangan, secara keseluruhan bisa mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Bank Dunia mencatat gangguan yang berhubungan dengan cuaca terhadap produksi bahan pangan menggerakan inflasi menjadi 6,9 persen yoy pada Desember, 6,3 persen yoy pada November dari 5,7 persen yoy pada Oktober.
Harga padi-padian (termasuk beras) meningkat sebesar 25 persen yoy, dan menjadi tingkat tertinggi sejak krisis bahan pangan pada 2006 karena kelas menengah ke bawah mengkomsumsi porsi bahan pangan yang lebih besar dalam susunan konsumsi mereka.
Inflasi inti masih tetap bertahan pada 4,3 persen dan meskipun meningkat secara bertahap, masih dibawah tingkat yang tercatat pada 2008 sehingga BI tidak mengubah suku bunga acuan (BI Rate) pada angka 6,5 persen.
Sementara, harga-harga komoditas dunia mulai meningkat pada beberapa bulan terakhir. Pada November, harga komoditas non energi dalam dolar AS, harga pangan dan bahan mentah masing-masing meningkat sebesar 3,4 persen, 4,9 persen dan 7,6 persen.
Pendorong dan faktor utama adalah kuatnya permintaan dari ekonomi-ekonomi baru, terutama China serta gangguan pasokan pada sektor pertanian.(antaranews)
Berita Pertanian : Pengadaan Beras Dalam Negeri Andalkan 11 Provinsi
Dinas Pertanian dan Divisi Regional Perum Bulog 11 provinsi tersebut di Jakarta, Kamis, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dalam pengadaan beras atau gabah tersebut.
Pengadaan itu akan diperoleh dari sebelas provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Selatan (Sumsel), Lampung, Jawa Barat (Jabar), Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), DI Yogyakarta, Banten, NTB, Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Sulawesi Selatan (Kalsel) dengan total areal 2,7 juta ha.
Sementara itu, rincian pengadaan 3,5 juta ton tersebut diperoleh dari Banten 50 ribu ton, Jabar 650 ribu ton, Jateng 620 ribu ton dan Yogyakarta 50 ribu ton.
Selain itu, Jatim 1,2 juta ton, Aceh 65 ribu ton, Sumsel 125 ribu ton, Lampung 165 ribu ton, Kalsel 25 ribu ton, Sulsel 370 ribu ton, dan NTB 150 ribu ton.
"Ukuran keberhasilan sinergi pada 2011 harus mampu melaksanakan pengadaan dalam negeri 3,5 juta ton. Ini sudah menjadi tuntutan publik dan keputusan presiden kepada jajaran di bawahnya," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udoro Kasih Anggoro usai menyaksikan penandatanganan MoU antara Dinas Pertanian dan Divre Perum Bulog tersebut.
Untuk itu, lanjutnya, Kementan juga menambah lima provinsi yang akan berpartisipasi dalam pengadaan beras 3,5 juta ton, yaitu Riau, Bengkulu, Sumatera Utara, Jambi, dan Sumatera Barat.
Dia mengatakan, apa yang terjadi di 2010 menjadi titik tolak untuk memperbaiki kinerja tahun ini.
"Berdasarkan analisa tren, jika kinerja masih biasa-biasa saja, neraca pangan mulai September bisa negatif," ujar dia.
Menurut Anggoro, tahun ini pihaknya akan mengejar pertumbuhan produksi beras sebesar 5 persen atau mencapai 70,01 juta ton setara 43,9 juta ton beras.
Untuk meraih target tersebut dilakukan sejumlah langkah terobosan, yaitu percepatan realisasi tanam sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SLPTT) yang semula rata-rata dilakukan pada Oktober-Maret (musim kering II) menjadi musim kering I. Selain itu, percepatan penyiapan benih dan kepastian penyediaan pupuk.
Sedangkan upaya-upaya untuk menstabilkan pasokan dan harga beras, diantaranya produksi naik 5 persen atau 70 juta ton gabah kering giling (GKG), tanggap dan reaksi cepat terhadap kondisi lapangan atau perubahan iklim.
Kemudian realisasi pengadaan beras dalam negeri oleh Perum Bulog sebesar 2,5 juta ton harus terealisasi pada Juni 2011, melakukan langkah-langkah pengendalian harga beras dan penyaluran raskin tepat waktu (Januari-April), dan terus melakukan operasi pasar hingga harga betul-betul aman.
"Kami juga melakukan pendampingan untuk mendukung ketahanan pangan meliputi diversifikasi pangan dan cadangan pangan masyarakat," katanya.(antaranews)
Label:
antara news,
beras,
berita pertanian,
bertani,
hasil pertanian,
indonesia,
pangan,
pengadaan beras
Kamis, 13 Januari 2011
Berita Pertanian : Kementerian Pertanian Canangkan Gerakan Massal Tanam Cabai
Kementerian Pertanian mencanangkan gerakan massal menanam cabai yang akan dimotori oleh tim penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga serta Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB).
Menteri Pertanian, Suswono, sebelum mengikuti rapat kabinet paripurna di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa dalam waktu dekat Kementerian Pertanian akan membagikan benih gratis untuk gerakan massal menanam cabai tersebut.
"Pada 2011 segera kami lakukan. Yang jelas, lebih awal dilakukan, lebih baik," ujarnya,
Saat ini, menurut Suswono, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian sedang menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan untuk gerakan awal yang melibatkan seratus ribu kepala keluarga.
Untuk langkah awal, lanjut dia, gerakan massal menanam cabai akan dilakukan di beberapa daerah di antaranya Lampung, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Gerakan menanam itu pada dasarnya memanfaatkan lahan-lahan pekarangan sempit di perumahan karena cabai adalah jenis tanaman yang mudah tumbuh baik langsung di tanah maupun menggunakan pot.
"Kami juga akan melakukan langkah antisipasi, tanaman ini kan baru tiga bulan kemudian menghasilkan. Ketika sudah menghasilkan sebetulnya dalam satu sampai dua tahun bisa panen terus. Oleh karena itu nanti kira-kira tiga bulan sebelum Lebaran misalnya, gerakan ini akan lebih diintensifkan lagi," tuturnya.
Mentan mengatakan kementeriannya sudah menyiapkan anggaran untuk pembagian bibit gratis dalam gerakan massal menanam cabai.
"Memang nanti kalau toh tidak mencukupi kami bisa men"switch" anggaran mana yang kira-kira lebih prioritas," ujarnya.
Suswono mengatakan melonjaknya harga cabai saat ini murni disebabkan oleh faktor cuaca karena pada 2010 memang hanya ada satu musim, yaitu musim hujan, sedangkan cabai baru bisa tumbuh baik dalam keadaan kering atau sedikit air.
Pada 2010, menurut Mentan, produksi cabai di Indonesia turun hingga 30 persen. Karena itu Kementerian Pertanian akan terus menggenjot produksi cabai untuk menurunkan harga.
Sebenarnya, lanjut dia, harga cabai bisa menurun apabila masyarakat menahan diri tidak mengonsumsi cabai selama dua atau tiga hari karena cabai adalah produk yang tidak tahan lama untuk disimpan.
"Sebetulnya cabai bukan makanan pokok. Ini mudah rusak, artinya kalau saja konsumen kurangi saja sedikit, mengerem, katakanlah tidak makan cabai dua atau tiga hari, langsung harganya jatuh karena tidak mungkin disimpan lama," jelasnya.
Mentan berharap pada Januari 2011 harga cabai akan menurun karena ia telah mendapatkan informasi bahwa pada Januari di beberapa daerah akan panen.
"Sebenarnya Januari ini akan ada banyak panen di beberapa tempat sehingga mudah-mudahan pasokan semakin banyak. Dengan pasokan yang semakin banyak ini Insya Allah harga akan pulih kembali," katanya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan saat ini tidak banyak yang bisa dilakukan terkait harga cabai yang melambung kecuali memikirkan antisipasi di masa depan dalam bidang pertanian agar tanaman cabai tidak membusuk apabila curah hujan sangat tinggi.
"Kami dari perdagangan menjaga agar distribusi tidak ada gangguan. Jadi penyesuaian akan terjadi sementara harga tinggi. Tentu ini adalah sesuatu yang akan kami coba perbaiki dari segi produksinya maupun menjamin distribusi tidak ada gangguan," ujarnya.
Mendag memperkirakan penyesuaian harga cabai akan terjadi dalam waktu dua atau tiga bulan lagi. (antaranews)
Menteri Pertanian, Suswono, sebelum mengikuti rapat kabinet paripurna di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa dalam waktu dekat Kementerian Pertanian akan membagikan benih gratis untuk gerakan massal menanam cabai tersebut.
"Pada 2011 segera kami lakukan. Yang jelas, lebih awal dilakukan, lebih baik," ujarnya,
Saat ini, menurut Suswono, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian sedang menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan untuk gerakan awal yang melibatkan seratus ribu kepala keluarga.
Untuk langkah awal, lanjut dia, gerakan massal menanam cabai akan dilakukan di beberapa daerah di antaranya Lampung, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Gerakan menanam itu pada dasarnya memanfaatkan lahan-lahan pekarangan sempit di perumahan karena cabai adalah jenis tanaman yang mudah tumbuh baik langsung di tanah maupun menggunakan pot.
"Kami juga akan melakukan langkah antisipasi, tanaman ini kan baru tiga bulan kemudian menghasilkan. Ketika sudah menghasilkan sebetulnya dalam satu sampai dua tahun bisa panen terus. Oleh karena itu nanti kira-kira tiga bulan sebelum Lebaran misalnya, gerakan ini akan lebih diintensifkan lagi," tuturnya.
Mentan mengatakan kementeriannya sudah menyiapkan anggaran untuk pembagian bibit gratis dalam gerakan massal menanam cabai.
"Memang nanti kalau toh tidak mencukupi kami bisa men"switch" anggaran mana yang kira-kira lebih prioritas," ujarnya.
Suswono mengatakan melonjaknya harga cabai saat ini murni disebabkan oleh faktor cuaca karena pada 2010 memang hanya ada satu musim, yaitu musim hujan, sedangkan cabai baru bisa tumbuh baik dalam keadaan kering atau sedikit air.
Pada 2010, menurut Mentan, produksi cabai di Indonesia turun hingga 30 persen. Karena itu Kementerian Pertanian akan terus menggenjot produksi cabai untuk menurunkan harga.
Sebenarnya, lanjut dia, harga cabai bisa menurun apabila masyarakat menahan diri tidak mengonsumsi cabai selama dua atau tiga hari karena cabai adalah produk yang tidak tahan lama untuk disimpan.
"Sebetulnya cabai bukan makanan pokok. Ini mudah rusak, artinya kalau saja konsumen kurangi saja sedikit, mengerem, katakanlah tidak makan cabai dua atau tiga hari, langsung harganya jatuh karena tidak mungkin disimpan lama," jelasnya.
Mentan berharap pada Januari 2011 harga cabai akan menurun karena ia telah mendapatkan informasi bahwa pada Januari di beberapa daerah akan panen.
"Sebenarnya Januari ini akan ada banyak panen di beberapa tempat sehingga mudah-mudahan pasokan semakin banyak. Dengan pasokan yang semakin banyak ini Insya Allah harga akan pulih kembali," katanya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan saat ini tidak banyak yang bisa dilakukan terkait harga cabai yang melambung kecuali memikirkan antisipasi di masa depan dalam bidang pertanian agar tanaman cabai tidak membusuk apabila curah hujan sangat tinggi.
"Kami dari perdagangan menjaga agar distribusi tidak ada gangguan. Jadi penyesuaian akan terjadi sementara harga tinggi. Tentu ini adalah sesuatu yang akan kami coba perbaiki dari segi produksinya maupun menjamin distribusi tidak ada gangguan," ujarnya.
Mendag memperkirakan penyesuaian harga cabai akan terjadi dalam waktu dua atau tiga bulan lagi. (antaranews)
Label:
antara news,
berita pertanian,
bertani,
cabai,
indonesia,
pertanian
Langganan:
Postingan (Atom)