BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Kamis, 07 Maret 2013
Penuh Masalah, Produksi Pisang Barangan Sumut Menurun
Kasubbag Program Dinas Pertanian Sumut, Lusiantiny mengatakan, penurunan produksi tersebut menyentuh angka 15,49%. Di tahun 2011 misalnya, produksinya mencapai 429.627,9 ton.
Sedangkan di tahun 2012, berkurang menjadi 363.060,7 ton. "Beberapa petani mulai beralih ke pisang banten, bahkan ada juga yang berlaih bertanam salak pondoh," katanya, Rabu (6/3) di Medan.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan petani pisang barangan beralih. Misalnya harga jual pisang yang kadang rendah, hingga di bawah Rp 5.000 per sisir. Dengan harga tersebut, sedikit keuntungan yang bisa dinikmati petani. Jika pun terjadi kenaikan, lanjutnya, yang menikmati umumnya pedagang.
Padahal, selama ini pisang barangan asal Sumut, yang sentranya berada di Deliserdang dan Serdang Bedagai, sudah berhasil menembus pasaran internasional seperti di Singapura, Malaysia dan Brunei. "Sebenarnya potensinya sangat bagus, jadi akan sayang sekali kalau sampai terus berkurang," katanya.
Penyebab lain yang membuat petani beralih ke tanaman lain, serangan hama dan fusarium sangat berpengaruh terhadap kemauan petani mempertahankan tanamannya. "Masih adanya serangan fusarium ini yang menyulitkan petani," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Petani Buah dan Hortikultura Deliserdang, Nasional Ginting di Dusun Kampung Dalam, Desa Talun Kenas, Kecamatan STM Hilir, mengatakan serangan hama penyakit dan virus pada pisang barangan memang memusingkan petani.
Pasalnya, serangannya bisa membuat jelas membuat produksi pisang barangan menurun. Banyak tanaman pisang barangan petani yang terserang penyakit Bunchy Top, yang mana pertumbuhannya tidak maksimal sehingga kerdil. "Kalau sudad kerdil, mana bisa lagi tumbuh, ini sudah dihitung mati, lagi pula harus dimusnahkan," katanya.
Selain itu, ada juga serangan penyakit jamur fusarium. Jamur ini, kata dia, yang menyebabkan daun pelepah pisang mengering satu per satu jika tidak segera dimusnahkan bisa merembet ke pelepah lainnya. Dalam skala yang lebih kritis, bisa menyebabkan pokok mengalami kematian dan menular ke pokok lainnya. "Karena itu, kalau sudah ada fusarium, kita langsung memusnahkannya, biar tidak sampai menular ke pokok lainnya," tambahnya.
Ia mengakui, saat ini beberapa petani mulai beralih ke tanaman lain seperti pisang varietas lain ataupun tanaman lain seperti salak pondoh, bahkan beberapa petani juga menggantinya dengan kelapa sawit. "Kami pun di sini terus mengimbau petani pisang agar merawat tanamannya agar tidak diserang penyakit ataupun jamur. Sehingga produksi bisa tetap tinggi dan harga jualnya pun meng
Senin, 16 Januari 2012
Peluang Usaha Pertanian : Pisang Tahu Risol Bisa Raup Rp4,5 Juta per Hari

BERDAGANG kuliner seakan tidak ada habisnya. Tidak perlu kuliner mahal yang bertempat di tempat mewah, rezeki juga mengalir melalui jajanan ringan. Contoh saja gorengan. Kalau berbicara mengenai gorengan, kita pasti tidak asing lagi. Hampir di setiap penjuru jalanan Ibu Kota dengan mudahnya kita akan menemui gorengan.
Contohnya salah satu warung gorengan yang banyak diburu di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dedi Setiadi adalah pemilik warung gorengan tersebut. Dia menjagokan tiga macam gorengan, yakni Pisang Tahu Lapis, dan Risoles. Dari situlah timbul ide menamakan warung gorengannya "Pistales" kepanjangan dari ketiga bahan baku gorengan tersebut.
Lahir dari racikan sang istri yang sejak awal ahli dalam membuat berbagai jenis makanan, terutama kue. Kedai yang bertempat di depan SMA 3 Setiabudi ini ternyata sudah malang melintang di dunia gorengan. Mampir dan mencoba bertanya pada Dedi, berapa lama tepatnya warungnya telah berdiri. Jawaban yang diberikan Dedi pun cukup mengejutkan. "Baru 30 tahun," katanya berseloroh.
Sebenarnya juga merasa heran, usahanya bisa bertahan hingga puluhan tahun. Maklum saja, usaha ini berawal dari ketidaksengajaan pada 1977 silam. Awalnya, Dedi didaulat menjadi seorang pengusaha kontraktor. Namun, lambat laun, bisnis kontraktornya tersebut tidak bisa lagi dilanjutkan. Dedi pun banting setir menjadi pedagang gorengan.
Dari ketidaksengajaan tersebut, dan hidup yang terus berjalan, bapak tiga orang anak ini akhirnya mencari cara bagaimana meneruskan hidup. "Awalnya memang sudah di sini (Setiabudi), dan saya jualan tahu lapis. Lambat laun saya mulai nambah dengan jual pisang cokelat dan risoles," katanya.
Saat itu, modal Dedi hanya sekira Rp250 ribu. "Awalnya itu saya sampai diledek tukang pisang. Karena waktu pertama-tama saya beli pisang hanya satu sampai dua sisir. Saya ditanya, untuk dimakan atau dijual, waktu saya jawab dijual saya diledek, dijual kok sedikit sekali," candanya.
Usaha yang awalnya kecil dan hanya mempekerjakan satu orang karyawan ini pun mulai menuai hasil. Tahun kedua, bisnisnya mulai laris manis. Bahkan, dia tidak lagi memesan pisang satu sampai dua sisir kepada penjual pisang. "Saya pesan satu pick-up, tapi mereka tidak bisa menyanggupi," tuturnya.
Diakuinya, awal usahanya ini tidaklah berjalan mulus. Gorengan yang dijual hanya berkisar antara 25-30 buah saja. Namun kini, kedai miliknya mampu menjual hingga ratusan bahkan ribuan buah gorengan setiap harinya. Kenaikan permintaan ini tentunya berpengaruh terhadap pendapatannya.
"Kalau dihitung pendapatan, tidak bisa secara gamblang. Karena tiap periode nilai uang terus berubah. Paling saya hanya bisa bebicara berapa jumlah yang terjual per hari. Dulu 100-200, meningkat sampai seribuan," katanya lagi.
Dedi membanderol harga jual Rp2.500 untuk pisang cokelat dan Rp4.500 untuk tahu lapis. Pembeli paling banyak memburu tahu lapis. Jika dihitung, maka omzet Dedi bisa mencapai Rp4,5 juta per hari hanya untuk gorengan tahu.
Kedai yang buka setiap Senin hingga Sabtu antara pukul 06.00-18.00 WIB ini, menurutnya sudah tidak asing lagi untuk sebagian orang. Bahkan, dia mengungkapkan kalangan artis pun sudah menjadi pelangganya.
"Pokoknya selebritis siapa yang tidak kenal pistales?" selorohnya sambil menyebutkan nama sejumlah artis seperti Sophia Latjuba, Krisdayanti, serta sederet artis papan artis lainnya.
Seiring berjalannya waktu, dia kian mantap berbisnis kudapan ini. Dia pun berencana akan membuka cabang baru di 2012. Loaksi yang dipilihnya masih kawasan tengah kota sekitar Blok M. "Investasinya Rp450 juta-Rp500 juta. Saya ingin konsepnya seperti cafe," harapnya.
Kesuksesannya untuk menjajakan pistales ini pun sudah dilirik beberapa investor. Mereka menawarkan dirinya untuk bermitra dengan membuka pistales dalam skala bisnis yang lebih besar atau menggunakan konsep franchise. Namun dia menolak dengan alasan yang cukup simple. "Cokelat itu mudah dibuat dan dicampurnya. Saya tidak mau karena ingin menjaga rasa dan kualitas. Istri saya memang benar-benar sangat menjaga resepnya," katanya lagi.
Terakhir, dia pun membeberkan kunci kesuksesannya dalam berusaha. Yaitu, jaga kualitas bahan serta rasa. Jaga dengan tangan sendiri dan pastikan memiliki " gaya " dari apa yang dilakukan. "Kita juga harus rajin, ulet, sabar, karena usaha kuliner baru bisa dilihat hasilnya satu sampai dua tahun kemudian," pungkasnya.
Kamis, 02 Juni 2011
Berita Pertanian : Petani Minta Pemerintah Bantu Bibit Pisang Barangan Kultur Jaringan

"Membudidayakan pisang barangan ini sangat menguntungkan, karena pasarnya selalu ada. Tapi gangguan penyakit layu fusarium yang sudah lama menyerang tanaman pisang membuat petani enggan mengembangkannya lagi," ujarnya Selasa (31/5).
Dikatakannya, untuk wilayah Desa Peria-ria, Dusun II, Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deliserdang petani telah mendapatkan bibit pisang barangan kultur jaringan dari pihak Amarta-USAID, sekitar 17.000 bibit. Bantuan bibit tersebut diperuntukkan kepada anggota dalam kelompok tani menanam pisang barangan.
"Itu bantuan untuk semua anggota kita. Bibit kultur jaringan sangat membantu petani mendapatkan produksi yang bagus dan terhindar dari serangan penyakit fusarium," ucapnya.
Namun, lanjut Serasi didampingi petani pisang lainnya Rosaria dan Sabarkita, bibit pisang kultur jaringan dapat menghasilkan produksi yang sangat berkualitas dengan isi tandan mencapai 18 sisir. "Memang dari bibit kultur jaringan yang dibantu ini bisa dikembangkan lagi bibit baru dari anakan nya. Tapi kualitas sedikit menurun," kata Serasi.
Dijelaskannya, kultur jaringan tanaman adalah teknik budidaya sel, jaringan, dan organ tanaman dalam suatu lingkungan yang terkendali dan dalam keadaan bebas mikroorganisme. Dengan teknik kultur jaringan, maka mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dan Kesehatan bibit lebih terjamin.
Untuk itu, petani mengharapkan pemerintah dapat memberikan bantuan bibit pisang kultur jaringan serta persediaan obat pestisida pembasmi penyakit layu fusarium. "Sampai saat ini penyakit layu fusarium belum dapat dikendalikan. Tapi dengan bibit kultur jaringan dapat mengendalikan perkembangan siklus penyakit pada tanaman," katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Sumut, produksi pisang diprediksi mengalami peningkatan ditahun 2010 sebanyak 242.575 ton dan ditahun 2011 248.984 ton. Ini merupakan sasaran produksi buah di Sumut. “Bantuan dan pembinaan akan kita berikan kepada petani untuk mengembangkan produksi ini," tutur Kepala Dinas Pertanian Sumut, Muhammad Roem.(MB)
Selasa, 05 April 2011
Peluang Usaha Pertanian : Pisang Kapik yang Legit Menjepit
Pisang Kapik
Menikmati hangatnya pisang kapik yang legit di Kota Bukittinggi nan sejuk sambil memandang Jam Gadang dan Gunung Singgalang, ah... itulah sensasi rasa dan mata komplet.
Pisang kepok biasanya digoreng, lantas dijadikan teman suguhan kopi atau teh hangat. Tapi di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, pisang kepok disajikan dengan cara dibakar di atas bara arang dari tempurung kelapa. Saat dibakar, pisang dikepit dengan alat penjepit. Itu mengapa dinamakan pisang kapik karena pisang disajikan dengan cara dikepit, untuk menghasilkan bentuk pisang yang gepeng membulat.
Pisang dibubuhi parutan kelapa yang sudah diolah dengan gula merah yang dimasak. Kombinasi rasa manis-asam, sensasi bau arang terbakar, dan rasa sepat berpadu dalam legitnya pisang kapik. Wuah... sungguh sebuah pengalaman lidah yang mengesankan.
Kita bisa menemukan salah satu penganan khas Kota Bukittinggi itu di kawasan Pasar Atas. Salah satu tempat untuk membeli penganan itu berada di Blok C Pasar Atas yang berjarak sekitar 70 meter arah timur Masjid Raya Kota Bukittinggi.
Adalah empat orang yang masih terhitung kerabat dekat yang kini menjalankan usaha pembuatan dan penjualan pisang kapik di kawasan Pasar Atas, Kota Bukittinggi. Mereka adalah kakak beradik Anik (44) dan Ita Afnita (42) serta sepupu-sepupu jauh mereka, Zulsafni (47) dan Asni (55).
”Awalnya ibu kami memulai usaha ini pada tahun 1980-an setelah sebelumnya menjual jagung panggang,” kata Anik, Minggu (13/3).
Kini, dari tujuh bersaudara, hanya Anik dan Ita yang meneruskan usaha itu bersama sepupu-sepupu jauh mereka. Kesulitan mendapatkan jagung membuat Juniarti, ibu kandung Anik, mulai beralih pada pisang kepok. Mulanya, pisang kepok panggang yang dikepit itu disajikan dengan parutan kelapa biasa.
”Tapi, karena cepat basi, parutan kelapa itu lalu dikasih larutan gula merah supaya tahan lama. Sekarang pisang kapik ini bisa tahan sampai dua hari,” kata Anik.
Menurut Zulsafni, terhitung sudah lima kali mereka pindah lokasi berjualan. Perpindahan lokasi berjualan yang masih dalam kawasan Pasar Atas itu, kata Zulsafni, tergantung dari kebijakan penataan pasar oleh pengelola.
Memasang merek Pisang Panggang Sari Rayo, kini terdapat tiga tempat berjualan yang dikelola Zulsafni, Asni, dan sebuah tempat yang dikelola Anik dan Ita. Tiap-tiap tempat itu membubuhkan nama di bawah merek itu, seperti ”Uni Jun” dan ”Anik”.
Tak ada tempat duduk khusus untuk menikmati salah satu penganan khas itu di tempat-tempat berjualan tersebut. Pembeli hanya bisa memesan, melihat langsung proses pembuatannya satu per satu, kemudian membayar harga sesuai banyaknya pesanan.
Namun, jangan khawatir, sekitar 300 meter dari tempat itu, kita bisa bersantai di pelataran Jam Gadang sembari menikmati pemandangan Kota Bukittinggi, berikut Gunung Marapi dan Gunung Singgalang yang jelas terlihat. Jadi, bayangkanlah pisang-pisang yang masih hangat mengepul itu dinikmati bersamaan dengan hawa dingin pegunungan yang menyentuh pipi pada ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut.
Kota Bukittinggi berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Padang dan bisa ditempuh selama dua jam perjalanan kendaraan bermotor dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam. Dari Kota Padang, pengunjung bisa memilih untuk menumpang sejumlah kendaraan umum atau menyewa kendaraan bermotor untuk mencapai Kota Bukittinggi.
Jadi, selain Gunung Singgalang, Gunung Marapi, dan Jam Gadang, Bukittinggi juga punya kekhasan berupa penganan pisang kapik yang hangat legit.
Kamis, 24 Maret 2011
Resep Makanan : Kolak Campur
Selain kaya zat gizi, buah pisang tumbuh subur di Indonesia dan cocok diolah menjadi aneka kudapan lezat dan mengenyangkan. Beragam jenis pisang bisa didapat dengan mudah di negeri ini. Sebut saja pisang kepok, pisang susu, pisang emas, pisang barangan, pisang raja, pisang tanduk, pisang kapas, pisang raja, dan pisang ambon.
Manisnya pisang juga cocok diolah menjadi beragam kudapan. Mulai dari pisang goreng, kolak pisang, banana cake, muffin pisang, kue bolu pisang, bahkan bisa diolah menjadi kue tradisional seperti nagasari dan putri noong.
Khasiat buah ini juga dapat menurunkan level stres dari dalam tubuh Anda. Pasalnya, ketika tubuh dalam kondisi stres, tingkat metabolisme pun akan menjadi naik. Akibatnya, terjadi pengurangan kadar potasium di dalam tubuh. Kondisi ini dapat Anda atasi dengan melahap pisang yang kaya potasium. Potasium sendiri merupakan mineral penting yang dapat menormalkan detak jantung, mengirim oksigen ke otak, dan mengendalikan kadar cairan tubuh.
Nah, bila ingin minum yang segar-segar di waktu sore, Anda bisa membuat camilan berupa kolak istimewa. Tak hanya lezat, namun juga bisa menjadi makanan pengganti di malam hari bila Anda sedang diet.
Bahan-bahan yang digunakan :
Manisnya pisang juga cocok diolah menjadi beragam kudapan. Mulai dari pisang goreng, kolak pisang, banana cake, muffin pisang, kue bolu pisang, bahkan bisa diolah menjadi kue tradisional seperti nagasari dan putri noong.
Khasiat buah ini juga dapat menurunkan level stres dari dalam tubuh Anda. Pasalnya, ketika tubuh dalam kondisi stres, tingkat metabolisme pun akan menjadi naik. Akibatnya, terjadi pengurangan kadar potasium di dalam tubuh. Kondisi ini dapat Anda atasi dengan melahap pisang yang kaya potasium. Potasium sendiri merupakan mineral penting yang dapat menormalkan detak jantung, mengirim oksigen ke otak, dan mengendalikan kadar cairan tubuh.
- 1 liter santan dari 1 butir kelapa
- 150 gr gula pasir
- 2 lembar daun pandan, simpulkan, sobek-sobek
- 2 cm jahe, memarkan
- 5 buah pisang barangan, iris melintang 1 cm
- 200 gr kolang-kaling, iris membujur tipis
- 150 gr tapai ketan hitam yang manis, siap pakai es batu jika akan disajikan dingin
Bola-bola Talas
- 250 gr talas ketan
- 25 gr tepung maizena
- 0,50 sdt garam
- 2 tetes pewarna merah
- Air untuk merebus
Cara membuat:
- Bola-bola Talas: Kupas talas, cuci dengan air bergaram agar getahnya hilang, tiriskan. Kukus talas dalam dandang panas hingga matang dan empuk. Angkat, haluskan selagi panas. Tambahkan tepung maizena, garam, dan pewarna merah. Aduk rata hingga menjadi adonan yang tidak lengket. Bentuk adonan menjadi bola-bola sebesar kelereng, rebus dalam air mendidih hingga matang dan mengapung. Angkat, tiriskan, sisikan.
- Didihkan santan, gula dan daun pandan, dan jahe sambil aduk-aduk agar santan tidak pecah dan gula larut. Masukkan pisang dan kolang-kaling, rebus sambil aduk-aduk hingga pisang matang dan santan agak kental. Angkat.
- Penyajian : Dalam mangkuk saji, taruh bola-bola talas dan tapai ketan hitam. Siram dengan kolak pisang panas, sajikan segera. Jika ingin disajikan dingin, siram dengan kolak pisang yang telah dingin, beri es batu menurut selera.
Minggu, 06 Maret 2011
Berita Pertanian : Boneka Limbah Pisang Menembus Eropa

Di tangan Supartini atau lebih dikenal dengan nama Tien Soebandiri, limbah pelepah pisang bisa disulap menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.
”Pada dasarnya saya suka berkreasi dengan kerajinan dari bahan apa pun. Kalau kelobot atau kulit jagung dan daun kering rasanya sudah sering, saya iseng coba pelepah pisang waktu itu,” kata wanita dengan empat cucu ini.
Idenya sederhana, menjadikan pelepah pisang sebagai produk kerajinan khas lokal yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. ”Suami saya kalau ke luar negeri sering beli kerajinan khas negara tersebut. Kebanyakan berupa boneka. Saya terinspirasi dari situ, menjadikan pelepah pisang sebagai boneka yang mudah ditenteng wisatawan,” kata wanita berusia 66 tahun ini.
Awalnya, ia hanya bermodal satu gedebok pisang yang sudah dikeringkan untuk diuji coba. Bahannya, kawat sebagai kerangka, lem dan benang untuk rambut. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm, kerangkanya dari botol. Baju boneka bisa di-mix pelepah pisang kering, kelobot, kepompong, dan daun kering. Untuk rambutnya, bisa terbuat dari serabut jambe atau potongan tali karung.
”Saya bikin 2–4 boneka sebagai contoh. Setelah direspons, barulah bikin dalam jumlah banyak. Order terbanyak ekspor ke Jepang dan Eropa, tapi tidak ekspor langsung melainkan lewat buyer dari Jakarta yang mengirimkan ke sana,” ujar Tien saat ditemui di rumahnya di Jalan Ciliwung, Surabaya.
Untuk boneka yang kecil-kecil setinggi 20 cm, harganya berkisar Rp 50.000–Rp70.000, sedangkan yang berukuran besar antara Rp 100.000–Rp 150.000. Harga bisa menyesuaikan sesuai order dan tingkat kerumitan pembuatan baju. ”Saya tidak ready stock, hanya by order. Stok yang ada ini hanya untuk contoh. Tiap bulan tak selalu ada order karena kerajinan saya tak hanya boneka, tapi ada bunga kering dan kerajinan lainnya. Kalau order boneka sepi, omzet di-cover dari kerajinan yang lain,” lanjut mantan Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan Bunga Buatan (Aspringta) Surabaya ini.
Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka limbah ini untuk dijadikan sebagai suvenir. Untuk kebutuhan gedebok pisang, ia pesan langsung dari Yogyakarta, Mojokerto, dan Sidoarjo.
”Kalau pas musim kemarau, saya beli gedebok banyak untuk stok saat musim hujan karena susah dapat gedebok bagus, rata-rata gampang busuk dan rusak,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 14 Maret ini.
Sekali mengirim gedebok kering sampai 10 kg dengan harga Rp 175.000–Rp 200.000. Ia sengaja tidak memesan gedebok basah karena proses pengeringannya harus secara manual dan itu memakan waktu lama. ”Tak semua gedebok kering itu bisa dipakai, saya pilih serat yang bagus, yang cacat dibuang. Jadi 10 kg gedebok kering bisa menghasilkan 50 boneka kalau ukurannya besar, tapi untuk boneka ukuran kecil bisa 100 boneka. Itu jatah sebulan,” kata Tien yang melibatkan puluhan ibu-ibu perajin untuk pembuatannya.
Proses pembuatan boneka pelepah pisang tidak terlalu rumit. Gedebok kering direndam 60 menit dengan cairan H2O2 (hidrogen peroksida). Harga cairan ini Rp 350.000 per galon. Jangan terlalu lama direndam karena bisa getas. Angkat, lalu cuci bersih, diangin-angin sebentar, jangan dijemur di bawah terik matahari. Masuk proses pewarnaan dengan sitrun selama 20 menit. Angkat, lalu keringkan secara manual. Setelah itu baru disetrika, lalu digunting sesuai kebutuhan.
”Dari unsur kepompong kering dan daun kering, seperti daun sirsak, saya buat untuk aksesori boneka berupa bros cantik. Proses pengeringannya hampir sama, cuma harus lebih telaten karena gampang rusak,” kata wanita yang tiap bulannya bisa meraup omzet Rp 5 juta dari usaha ini.Jumat, 21 Januari 2011
Berita Pertanian : Keripik Pisang, Olah-oleh Khas Lampung
LAMPUNG. Melancong ke Lampung sangat menyenangkan. Provinsi paling selatan di Pulau Sumatera ini selain kaya berbagai objek wisata alam dan laut juga dikenal memiliki aneka ragam makanan khas.
Untuk mencari oleh-oleh khas Lampung pun tidaklah sulit. Khususnya Bandar Lampung sebagai ibu kota provinsi. Aneka makanan, seperti pempek, keripik pisang, keripik singkong, lempok, manisan lampung, kerupuk ikan, kemplang, sambal lampung, hingga tempoyak ini menjadi oleh-oleh andalan khas lampung.
Dari aneka kuliner tersebut yang menjadi andalan makanan khas Lampung adalah keripik pisang dan singkong. Camilan ini memiliki aneka rasa mulai dari manis, gurih, asin, keju, ataupun cokelat.
Untuk mendapatkan camilan murah meriah ini sangat mudah. Selain dijual di supermarket dan toko-toko makanan, kita juga dapat mengunjungi sentra produksi keripik di Jalan Pagar Alam, Gang Purnawirawan (Gang PU), Segalamider, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung.
Butuh waktu sekitar 15 menit untuk mencapai daerah ini dari Terminal Rajabasa.
Di sepanjang areal 2 km ini, kita dapat melihat di sebelah kanan dan kiri jalan, banyak aneka jenis keripik olahan. Mulai dari pagar dan ruko yang disulap menjadi tempat berdagang keripik, hingga warung-warung buatan baik dari geribik dan papan yang menjajakan produk olahan hasil bumi tersebut.
Jika kita juga ingin mencicipi keripik yang lain, Anda tidak perlu khawatir, di sini juga ada keripik lain, seperti keripik sukun, talas, keripik ubi jalar, keripik nangka, dan tentunya dengan harga yang sangat terjangkau dan kualitasnya tidak diragukan lagi.
Varian rasanya pun—terutama keripik pisang—relatif menyesuaikan dengan selera, mulai dari rasa balado, bumbu jagung bakar, cokelat, keju, stroberi, melon, dan asin-manis.
Salah seorang produsen sekaligus pedagang keripik, Suheri mengatakan pelanggan keripik olahannya bukan saja berasal dari Bandar Lampung, melainkan juga daerah lain di Lampung, seperti Natar, Lampung Selatan. Bahkan, jika sedang musim liburan, pengunjung yang datang kebanyakan berasal dari luar Lampung, seperti Palembang, Jambi, dan Jakarta.
Suheri mengatakan untuk memenuhi kebutuhan produksinya, dalam satu hari rata-rata membutuhkan bahan baku untuk membuat olahan keripik jenis singkong sebanyak 7 kuintal, sedangkan untuk keripik pisang memerlukan bahan baku 250 sisir pisang.
Adapun jenis hasil produksi, kata Suheri, untuk keripik singkong, di antaranya bervariasi rasa balado dan bumbu jagung bakar. Sedangkan untuk keripik pisang, di antaranya rasa cokelat, keju, stroberi, melon, balado, jagung bakar, dan asin-manis.
Dari sisi pembuatan, Suheri mengatakan meski secara umum masih menggunakan peralatan tradisional dan manual. Namun soal kualitas dan rasa menjadi jaminan dan prioritas barang dagangannya tersebut. "Soal kualitas dan rasa nomor satu. Yang penting, pembeli puas dan mau kembali belanja ke sini," ujar dia saat ditemui
Mengenai harga, Suheri mengaku menjualnya secara grosir dan eceran. Untuk harga keripik singkong dijual grosir Rp10 ribu/kg mininal membeli 10 kg. Sedangkan untuk keripik pisang, harganya bervariatif bergantung rasa berkisar Rp25 ribu—Rp35 ribu/kg. "Tapi untuk harga eceran, harganya lebih mahal sekitar Rp5.000/kg," kata Suheri.
Sementara itu, Ketua Kelompok Usaha Bersama Telo Rezeki, Sucipto Adi mengatakan saat ini di kawasan sentra produksi keripik Lampung sudah banyak pedagang dan produsen yang menjajakan cemilan ini. Namun, yang resmi terdaftar di dalam kelompoknya baru 26 produsen dan 16 pedagang keripik.
Sucipto menjelaskan daya beli masyarakat terhadap produk olahan keripik setiap waktu meningkat, terutama saat hari libur atau ada momen khusus seperti hari raya. Dalam momen tersebut, rata-rata pedagang dalam sehari bisa menghasilkan pendapatan Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta. (lampung post)