Tampilkan postingan dengan label pelepah pisang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelepah pisang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2011

Peluang Usaha Pertanian : Mebel unik berhiaskan pelepah pisang


Tak hanya menjadi buah atau camilan, pisang juga bisa mempercantik sebuah furnitur. Di tangan Miftahul dan Tubagus, furnitur unik dan berkesan alami dengan bahan baku pisang, menuai banyak peminat. Karena dibuat tangan, furnitur ini punya nilai seni tinggi.

Boleh dibilang, tren gaya minimalis sebuah rumah tinggal menginspirasi lahirnya furnitur minimalis. Bahkan, ketika minimalis identik dengan tren go green atau ramah lingkungan, muncullah produk-produk ramah lingkungan.

Nah, jika nuansa minimalis telah menjadi tren, penggunaan furnitur ramah lingkungan bagaikan pasangan yang serasi. Boleh jadi, pilihan Anda akan jatuh pada perabot berbahan baku pelepah pisang ini.

Buah pisang dan pohonnya sendiri memiliki keunikan dan kelebihan untuk menjadi berbagai macam kerajinan. Tekstur dan warna tanaman ini tak hanya unik, tapi juga menonjolkan kesan alami.

Kombinasi furnitur berbahan baku pelepah pisang pun jauh lebih menarik dibandingkan dengan furnitur kayu biasa. Bahkan, furnitur jenis ini memiliki nilai jual yang tinggi.

Miftahul Ulum, pemilik dari Dewa Ruci Handycraft menuturkan, bahan baku ini membuat harga furniturnya tinggi. "Karena dibuat dengan tangan, maka nilai seninya pun tinggi," kata Miftahul.

Jika biasanya furnitur dari pelepah pisang dianyam, Miftaful menggunakan teknik tempel. "Kalau bentuk anyaman sudah banyak. Saya memilih cara yang lain yaitu dengan menempelkan bonggol pisang berikut dengan pelepahnya menjadi potongan kecil," papar Miftahul.

Alhasil, kerajinan pelepah pisang ala Miftahul ini tidak hanya terlihat unik tapi juga nyentrik. Meja, kursi dan kaca dari kejauhan terlihat seperti tumpukan buah pisang yang telah dipotong kecil-kecil. Bahkan beberapa pengunjung yang singgah di galeri Miftahul saat pameran UKM PKBL di Jakarta Hall Convention Center pada 24 Maret 2011 pun terkagum-kagum akan kreasi pria berusia 40 tahun ini.

Berbagai macam perabot, seperti meja, kaca, kursi, rak hingga berbagai lampu bonggol pisang mampu membuat pengunjung berdecak kagum. Miftaful memberi sebutan produknya ini mebel pisang mozaik.

Disebut mozaik karena Miftahul menekankan sisi menempel pada produknya. "Inilah ciri khas dari furnitur pisang dari Dewa Ruci. Pisang sebagai bahan baku terlihat nyata sama seperti pisang yang kita makan," kata pria yang memulai usaha furnitur dengan pelepah pisang sejak tahun 2007 ini.

Selain Miftahul, Tubagus Sarjon juga membuat lampu meja, kursi, hingga set furnitur ruang tamu dan keluarga dengan bahan baku pelepah pisang. Ia tak hanya membuat sebuah furnitur dengan konsep alam, namun juga menambahkan nuansa modern pada produknya.

Ini dapat dilihat dari hasil kerajinannya yang dapat diletakkan diberbagai gaya disain, mulai dari yang bergaya etnik atau ruang tamu bergaya modern. "Bahkan furnitur dari pelepah pisang mampu menghadirkan atmosfer interior yang hangat dan elegan," kata Tubagus. Ini karena kami menonjolkan tekstur dan warna dari pelepah pisang yang alami.

Baik Miftahul dan Tubagus sepakat bahwa furnitur dari pelepah pisang amat cocok untuk rumah bergaya minimalis yang menonjolkan nuansa alam. "Tidak harus bergaya minimalis tapi juga cocok untuk rumah biasa," ujar Miftahul. Furnitur dari pelepah pisang cocok untuk rumah dengan ventilasi terbuka yang memungkinkan udara dari tiap sudut masuk.

Proses pembuatan furnitur pelepah pisang dimulai dengan pemilihan kayu dan ranting dari sebuah pohon, serta buah pisang dari pohon pisang muda. Ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil furnitur yang kuat dan awet.

Lalu, kayu dan ranting dikupas kulitnya terlebih dulu. Untuk buahnya dipotong kecil-kecil. "Semua bahan baku tersebut kemudian dijemur di bawah terik panas matahari atau dioven selama satu minggu," jelas Miftahul.

Proses selanjutnya adalah tahap pemotongan bahan menjadi bagian kecil-kecil dan setebal 1 cm berbentuk bola. Baru setelahnya potongan kecil-kecil itu diamplas untuk menghilangkan serabut-serabut yang tersisa.

Sebelum masuk proses penempelan ada baiknya rangka model yang diinginkan telah dibuat, entah ingin dibuat meja, kursi atau cermin. Kemudian barulah ditempel pada rangka dan dicat melamin agar terlihat lebih mengkilap.

Selama ini Miftahul belum menemui kesulitan dalam pengadaan bahan baku. Ia mendapatkan pasokan dari sekitar Yogyakarta untuk pelepah pisang. Adapun Tubagus memperoleh bahan baku berupa pelepah pisang dari kakaknya di Solo yang memiliki kebun pisang seluas satu hektar. "Jadi saya tidak perlu khawatir akan pasokan bahan mentah," ujarnya.

Bahan baku pelepah pisang yang akan dibuatnya, tidak diambil secara sembarangan. "Pelepah itu jangan dipilih yang mengandung terlalu banyak air karena akan menghambat proses pengeringannya," kata Tubagus.

Pasar furnitur dari pelepah pisang saat ini terbilang bagus. Miftahul rutin mengirimkan kerajinannya ke Eropa dan Amerika Serikat setiap bulannya. Meski begitu, ia tetap menuai banyak permintaan dari pasar lokal.

Ia menjual produknya, mulai dari harga Rp 75.000 untuk cermin. Sementara, kursi dan meja dijual dengan harga Rp 550.000 dan Rp 1,5 juta untuk harga rak. Tak heran, dalam sebulan, Miftahul bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 50 juta.

Begitu pula dengan Tubagus yang setiap bulannya bisa meraup omzet Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Ia yang menjual produknya mulai dari harga Rp 100.000 hingga Rp 5 juta. Tubagus mengaku bisa menjual hingga 100 barang untuk furnitur satuan dan sekitar lima set paket furnitur ruang tamu.

Minggu, 06 Maret 2011

Berita Pertanian : Boneka Limbah Pisang Menembus Eropa


Di tangan Supartini atau lebih dikenal dengan nama Tien Soebandiri, limbah pelepah pisang bisa disulap menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.

”Pada dasarnya saya suka berkreasi dengan kerajinan dari bahan apa pun. Kalau kelobot atau kulit jagung dan daun kering rasanya sudah sering, saya iseng coba pelepah pisang waktu itu,” kata wanita dengan empat cucu ini.

Idenya sederhana, menjadikan pelepah pisang sebagai produk kerajinan khas lokal yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. ”Suami saya kalau ke luar negeri sering beli kerajinan khas negara tersebut. Kebanyakan berupa boneka. Saya terinspirasi dari situ, menjadikan pelepah pisang sebagai boneka yang mudah ditenteng wisatawan,” kata wanita berusia 66 tahun ini.

Awalnya, ia hanya bermodal satu gedebok pisang yang sudah dikeringkan untuk diuji coba. Bahannya, kawat sebagai kerangka, lem dan benang untuk rambut. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm, kerangkanya dari botol. Baju boneka bisa di-mix pelepah pisang kering, kelobot, kepompong, dan daun kering. Untuk rambutnya, bisa terbuat dari serabut jambe atau potongan tali karung.

”Saya bikin 2–4 boneka sebagai contoh. Setelah direspons, barulah bikin dalam jumlah banyak. Order terbanyak ekspor ke Jepang dan Eropa, tapi tidak ekspor langsung melainkan lewat buyer dari Jakarta yang mengirimkan ke sana,” ujar Tien saat ditemui di rumahnya di Jalan Ciliwung, Surabaya.

Untuk boneka yang kecil-kecil setinggi 20 cm, harganya berkisar Rp 50.000–Rp70.000, sedangkan yang berukuran besar antara Rp 100.000–Rp 150.000. Harga bisa menyesuaikan sesuai order dan tingkat kerumitan pembuatan baju. ”Saya tidak ready stock, hanya by order. Stok yang ada ini hanya untuk contoh. Tiap bulan tak selalu ada order karena kerajinan saya tak hanya boneka, tapi ada bunga kering dan kerajinan lainnya. Kalau order boneka sepi, omzet di-cover dari kerajinan yang lain,” lanjut mantan Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan Bunga Buatan (Aspringta) Surabaya ini.

Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka limbah ini untuk dijadikan sebagai suvenir. Untuk kebutuhan gedebok pisang, ia pesan langsung dari Yogyakarta, Mojokerto, dan Sidoarjo.

”Kalau pas musim kemarau, saya beli gedebok banyak untuk stok saat musim hujan karena susah dapat gedebok bagus, rata-rata gampang busuk dan rusak,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 14 Maret ini.

Sekali mengirim gedebok kering sampai 10 kg dengan harga Rp 175.000–Rp 200.000. Ia sengaja tidak memesan gedebok basah karena proses pengeringannya harus secara manual dan itu memakan waktu lama. ”Tak semua gedebok kering itu bisa dipakai, saya pilih serat yang bagus, yang cacat dibuang. Jadi 10 kg gedebok kering bisa menghasilkan 50 boneka kalau ukurannya besar, tapi untuk boneka ukuran kecil bisa 100 boneka. Itu jatah sebulan,” kata Tien yang melibatkan puluhan ibu-ibu perajin untuk pembuatannya.

Proses pembuatan boneka pelepah pisang tidak terlalu rumit. Gedebok kering direndam 60 menit dengan cairan H2O2 (hidrogen peroksida). Harga cairan ini Rp 350.000 per galon. Jangan terlalu lama direndam karena bisa getas. Angkat, lalu cuci bersih, diangin-angin sebentar, jangan dijemur di bawah terik matahari. Masuk proses pewarnaan dengan sitrun selama 20 menit. Angkat, lalu keringkan secara manual. Setelah itu baru disetrika, lalu digunting sesuai kebutuhan.

”Dari unsur kepompong kering dan daun kering, seperti daun sirsak, saya buat untuk aksesori boneka berupa bros cantik. Proses pengeringannya hampir sama, cuma harus lebih telaten karena gampang rusak,” kata wanita yang tiap bulannya bisa meraup omzet Rp 5 juta dari usaha ini.

Minggu, 06 Februari 2011

Sukses Dari Pelepah Pisang


Lamongan. Sebagian masyarakat masih menganggap pohon pisang tidak banyak nilai manfaatnya. Ini menyebabkan pelepah pisang belum banyak disentuh. Padahal, dari bahan baku ini bisa dihasilkan karya kerajinan yang unggul dan punyai nilai jual cukup tinggi.

Batang pisang atau pelepah pisang yang mudah didapatkan dan tak mengenal musim itu mengilhami H Romli (37) warga Dusun Pengaron, Desa Pangumbulandadi, Kecamatan Tikung, Lamongan, untuk memanfaatkan menjadi kerajinan.

Ketertarikannya mengolah pelepah pisang ini sebenarnya bukan kebetulan saja. Perajin tas yang sehari-hari berkutat dengan enceng gondok ini, memang tengah mencari bahan baku alternatif untuk pembuatan tas.
“Pasar kerajinan tas dari enceng gondok terus menurun pasarnya. Karena itu, saya mencoba mencari alternatif bahan baku yang mudah didapat dan harga yang murah,” terang Romli, yang mengaku telah mempertahankan usaha tas dari enceng gondok sejak 2000 silam.

Menurutnya, enceng gondok tidak mudah didapatkan. Biasanya hanya ada pada musim penghujan saja, selain pengolahannya terlalu susah. Beda dengan pelepah pisang, yang cara mendapatkannya juga lebih mudah.

Inisiatif mendesain tas dari pelepah pisang dimulainya sejak 2007. Pengalaman membuat tas dari enceng gondok, ia kembangkan ke bahan baku dari pelepah pisang. “Ternyata, peminat tas pelepah pisang lebih banyak dan berkembang,” tutur Romli, yang akhirnya mengurangi pembuatan tas dari enceng gondok dan dialihkan ke tas pelepah pisang.
Bukan hanya bahan baku yang beralih, perajin yang mendirikan Pengaron Craft ini, juga memanfaatkan tenaga kerja yang sebelumnya membantunya membuat tas dari enceng gondok. Bahan baku banyak dipasok dari warga sekitarnya yang mengambil dari Desa Pelang, Cekel dan Kalikapas.
Ingin praktis, ia hanya menerima pelepah pisang kering dengan harga Rp 1.500/kg. Namun jika musim penghujan, harganya meningkat hingga Rp 2.500/kg. “Kalau penghujan kan petani repot mengeringkan dan butuh waktu lama. Jadi wajar jika ada kenaikan harga saat musim penghujan,” ujar suami Nurhayati ini.
Pelepah pisang kering itu ia beli dalam kondisi bersih, tinggal menganyam dan membentuk tamparan. Besar kecilnya tamparan tergantung dari bentuk dan ukuran tas. Romli memang tidak menempatkan pekerja di rumahnya, tapi bahan baku diambil perajin selanjutnya dikerjakan di rumah masing-masing.

Mereka terbagi, penganyam 20 orang, 4 tukang jahit dan vanishing 4 pekerja. Cara kerjanya, sama dengan pembuatan tas dari enceng gondok. Bentuk tas sudah ditentukan sesuai ukuran yang terbuat dari kain, spon topi, busa angin dan juga benang.

Sementara 20 pekerja anyaman khusus mengerjakan anyaman pelapah pisang yang dibentuk menjadi bahan setengah jadi atau tamparan. Jahitan tas dan tamparan disetor para pekerja yang kemudian dikirim oleh Romli ke tenaga vanishing.

Di tempat ini, tamparan pelepah pisang dan spon, serta tas setengah jadi, dibalut atau dililitkan dengan anyaman pelepang pisang menggunakan lem dan sebagian dijahit. “Kalau perlu agar tampil lebih cantik, tas-tas itu ditambah borji berbagai ukuran dan warna,” jelas Romli.

Dulu kali pertama membuat, pelepah hanya berbentuk lembaran yang langsung ditempel. Tapi setelah dilinting menjadi berbentuk tamparan menghasilkan motif lebih bagus dan peminatnya lebih banyak.

Ia mengakui, tidak ada cara teknis mengawetkan pelepah pisang sebelum dianyam, hanya sebatas pengeringan dengan memanfaatkan sinar matahari. Sebenarnya ada cara pengawetan dengan bahan kimia, namun belum dicoba.
Hanya, para pemasok ‘diwajibkan’ setor pelepah pisang yang benar-benar sudah kering. Selama ini tidak ada pemasok yang mengelabuinya dengan setor pelepah masih setengah basah.
”Dari awal saya tekankan kalau masih belum kering betul akan saya kembalikan,” tegas bapak dua putra ini. Selain pelepah kering, untuk pengawetan biasanya disemprot dengan milamin untuk menghasilkan tas agar tahan jamur dan mengkilat.

Penggajian pada pekerja secara borongan, atau tergantung dari jumlah yang mereka kerjakan. Dengan harga tas bervariasi mulai Rp 15.000 hingga Rp 70.000, saat ini omzet yang berhasil dikantongi rata–rata mencapai Rp 20 juta per bulan.

Tas–tas cantik produksi Pengaron Craft hingga kini belum dipasarkan ke mancanegara. Pasalnya, Romli masih fokus memenuhi pesanan domestik. Hasil kerajinannya 70 persen di kirim ke Bali, selebihnya ke Bandung, Tarakan, Kalimantan dan Surabaya.