Tampilkan postingan dengan label bisnis kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis kopi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : AGRISBISNIS KOPI LANANG








Biar aneh bentuk bijinya, kopi lanang sungguh mantap harganya

Pamor kopi lanang memang belum setenar kopi luwak. Citarasanya yang tak kalah nikmat dibandingkan dengan kopi luwak memicu kenaikan permintaan kopi berbahan biji kopi berbentuk aneh ini. Tak heran harga kopi lanang terus melambung.

Dulu kopi luwak mungkin menjadi satu-satunya kopi khas Indonesia yang dibanggakan negeri ini. Tapi, selain kopi yang diproses melalui saluran pencernaan luwak (musang) ini, diam-diam masih ada kopi khas lain yang juga berkualitas. Namanya kopi lanang atau peaberry coffee. Sayang, belum banyak orang tahu jenis kopi ini.

Kopi ini disebut lanang lantaran bentuk bijinya berbeda dengan kopi pada umumnya. Lanang berarti laki-laki dalam bahasa Jawa. Disebut demikian karena bentuk biji kopi ini tunggal dan bulat, tidak terbelah seperti bentuk biji kopi pada umumnya. Meski demikian, sebenarnya kopi ini bukan varietas baru. Kopi lanang bisa dihasilkan oleh pohon kopi jenis robusta maupun arabika yang pada umumnya ditanam petani di Indonesia.

Menurut John M. Sianturi, pemilik CV Sukses Tani di Sidikalang, Sumatra Utara, salah satu produsen kopi, permintaan kopi lanang mulai muncul sejak tiga tahun silam. Sebagian besar berasal dari beberapa kota besar dan pusat wisata. Meski belum sebanyak kopi luwak, permintaan kopi lanang kian meningkat. Sayang dia hanya mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram (kg) kopi lanang, padahal permintaan yang masuk bisa tiga kali lipatnya.

Permintaan kopi lanang yang tinggi bukan lantaran harganya murah, lo. Asal tahu saja, harga jual kopi lanang di pasar hampir setara dengan kopi luwak. John mengaku menjual kopi lanang seharga Rp 140.000–Rp 150.000 per kg. Bandingkan dengan harga kopi biasa (arabika atau robusta) yang dijual sekitar Rp 100.000 per kg. Bahkan, di Bali, harga jual kopi lanang jauh lebih mahal. Menurut Wirawan Tjahjadi, pemilik PT Putra Bhineka Perkasa, produsen kopi di Bali, harga jual kopi lanang bisa mencapai Rp 250.000 per kg.

Di Pulau Dewata, permintaan kopi lanang memang cukup banyak. John mengaku banyak memasok kopi lanang Sidikalang ke beberapa pembeli di Pulau Bali. Biasanya, peminatnya adalah usaha yang berkaitan dengan wisatawan asing (wisman). Sejauh ini, banyak wisman dari Korea Selatan dan Taiwan yang kebetulan sedang ke Bali, mencari kopi lanang sebagai buah tangan ketika kembali ke negara asalnya.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan pasar lokal. Peminat kopi lanang di pasar lokal memang belum banyak. Maklum, jenis kopi ini belum terlalu dikenal. Wirawan bilang, baru sebagian dari masyarakat di Pulau Jawa mengetahui adanya kopi lanang. Itu pun sebatas dari kalangan para penggemar kopi.

Nah, para penggemar kopi dari luar negeri yang jauh lebih paham akan citarasa kopi lebih mengenal jenis kopi ini. Mereka bahkan rela membeli dengan harga mahal untuk mendapatkan citarasa tertinggi. Menurut John, kopi lanang cukup banyak penggemar lantaran rasanya mirip dengan kopi luwak.

Selain sarat dengan kandungan kafein, yakni sekitar 2,1%, banyak orang yakin kopi lanang berkhasiat menambah vitalitas kaum pria. Namun, hingga saat ini memang belum ada penelitian yang sudah membuktikan klaim tersebut.

Karena kelebihan yang dimiliki oleh kopi lanang ini, permintaan jenis kopi ini terus meningkat. John bilang, permintaan dari Bali masih sangat tinggi. “Sebenarnya, berapa pun kami mampu produksi pasti akan ditampung,” ujarnya.

Wirawan menambahkan, harga jual kopi lanang yang sedemikian tinggi bukan menjadi halangan bagi para konsumen. John mengaku sampai kewalahan memenuhinya. “Permintaannya sampai satu ton per bulan. Tetapi, kami belum sanggup memenuhi,” ujarnya.

Permintaan ini baru datang dari wisatawan, belum dari kedai-kedai kopi premium yang kini menjamur di beberapa kota besar, seperti Jakarta.


Produksi minim

Selama empat bulan terakhir, Wirawan mengaku hanya mendapatkan pasokan sebanyak 250 kg sebulan. Pasokan sesedikit ini sudah mencakup hasil panen di perkebunan kopinya di daerah Kintamani, Bali, dan kiriman dari beberapa petani di Sumatra Utara. John juga menuturkan pengalaman serupa. Produksi kopi lanang dari kebun kopinya hanya sebanyak 300 kg sebulan.

Volume produksi kopi lanang yang sangat minim ini memang cukup beralasan. Kopi lanang bukan dihasilkan oleh budidaya biasa. Layaknya perlakuan pada kopi luwak yang harus spesifik, kopi ini sebenarnya tak bisa dibudidayakan secara khusus.

Kopi lanang sebenarnya hasil sortiran kopi biasa saat panen. Kalau Anda berminat membudidayakan pohon kopi yang bisa menghasilkan biji kopi lanang, ada banyak syarat yang harus dipenuhi. Pertama, lokasi penanaman harus berada di ketinggian minimal 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Daerah dingin, menurut John, akan menghasilkan biji kopi terbaik. Padahal, tidak semua petani kopi memiliki lahan di ketinggian tersebut.

Syarat kedua, petani harus mengurangi serangga penyerbuk. Ini bertujuan agar bunga kopi mengalami stres sehingga menghasilkan biji kopi yang tidak normal. Tapi, kata John, cara budidaya ini belum banyak dilakukan lantaran berisiko merugikan petani yang berharap panen kopi normal.

Ketiga, kopi lanang biasanya banyak dihasilkan dari pohon kopi tua. Sayangnya, pohon kopi yang sudah tua sering ditebang karena dianggap tidak menghasilkan biji kopi terbaik. Padahal, menurut John, pada saat berusia 10 tahun, pohon kopi tersebut berpeluang menghasilkan biji kopi lanang terbaik. Sebab, bunga kopi di pohon kopi tua sering tidak mendapatkan penyerbukan yang sempurna. Akibatnya, lebih mungkin akan berbentuk banyak biji kopi lanang.

Karena itu, John menyarankan, para petani yang di kebunnya terdapat pohon kopi berumur tua mempertahankan pohon tersebut. “Justru itu akan memberi nilai tambah pada petani,” ungkapnya. Meski hasil kopi tidak banyak, nilai jualnya malah mungkin jauh lebih tinggi ketimbang kopi biasa.

Senin, 14 Maret 2011

Berita Pertanian : Produksi Kopi Turun 50 Persen

Bandarlampung. Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Sekjen APEKI) Amiruddin Hamidi mengakui produksi kopi tahun ini turun hingga 50 persen lebih.

"Penyebabnya jelas yakni cuaca yang terhitung tak ada panas pada tahun 2010 sehingga tak ada buah untuk tahun ini. Dan itu terjadi hampir di semua tempat, tidak hanya di Lampung," kata dia, di Pulaupanggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Senin.

Ia mengakui, saat ini harga kopi sedang tinggi sekitar Rp16 ribu dan pekan lalu sempat Rp17 ribu-Rp18 ribu per kilogram, namun petani tidak memiliki simpanan lagi sehingga tidak bisa menikmatinya.

"Mau dibilang apa karena memang tidak ada panen. Harga tinggi pun tak berpengaruh," kata dia.

Menyinggung upaya yang dilakukan, ia mengatakan semestinya pemerintah memberikan informasi jauh hari soal kondisi cuaca atau iklim.

"Pemerintah kan punya alat yang canggih untuk memprakirakan iklim. Semestinya disampaikan bahwa tahun depan tidak ada panas atau tidak ada hujan, sehingga kami bisa menyiasati," ujarnya.

Hamidi pun menjelaskan, pihaknya telah memberikan informasi ke seluruh petani tentang paradigma "uang harus ke luar dari kebun".

"Artinya, petani tidak hanya mengandalkan kopi dari kebunnya. Tetapi harus bisa memanfaatkan seperti menanam pisang atau pohon yang bisa diambil kayunya. Dan itu dilakukan tumpang sari," ujarnya.

Terkait dengan maraknya petani yang menanam kakao di sela-sela tanaman kopi, ia pun mengaku sudah banyak dan kini mulai menutupi tanaman utama.

"Mau diapakan karena dari kakao lebih menghasilkan bagi petani. Saat ini saja harga kakao Rp22 ribu-Rp24 ribu per kilogram," katanya.

Ia menjelaskan, tiga tahun lalu sudah diinformasikan bahwa ada sebagian petani menanam kakao di sela tanaman kopi, dan kini tajuknya mulai menutupi tanaman kopi dan tak lama lagi akan ditebang untuk memberikan ruang bagi tanaman kakaonya.

Selain kakao, lanjutnya, petani pun seperti di Kabupaten Waykanan sudah mengalihkan ke tanaman karet sehingga produksi kopi Lampung kian menurun.

Berita Pertanian : Harga Kopi Terus Naik Cuaca Buruk Jadi Kambing Hitam


Jakarta. Harga kopi terus mengalami kenaikan dan menyentuh harga US$2 per kg untuk jenis kopi robusta dan lebih dari US$4 untuk jenis arabika.

Harga ini pun terus berubah setiap harinya tergantung produksinya yang terpengaruh cuaca ekstrem.

Hal ini disampaikan Sekjen Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Rahim Kartabrata kepada detikfinance Minggu (13/3). "Faktor cuaca membuat produksi turun dan supply kurang sehingga harga naik," katanya.

Menurutnya kopi-kopi berjenis arabika dari Indonesia lebih mahal 30% dari kopi sejenis asal New York. "Kalau harga arabika dari New York itu sekitar US$ 4 per kg nya, berarti kopi dari Indonesia lebih mahal 30% tiap kg nya," ujarnya. Rahim menambahkan, kopi jenis arabika asal Indonesia memiliki kualitas yang lebih bagus dari arabika, New York.

"Arabika Indonesia itu termasuk arabika spesialty, kalau di New York itu arabika generik," ungkapnya.

Ia juga mengatakan perubahan iklim yang tidak menentu membuat pasar kopi tidak bisa memprediksi sampai kapan harga kopi terus meningkat. Perubahan iklim telah membuat menurunnya produksi kopi dan menyebabkan harga kopi terus beranjak naik.

"Kalau ada yang punya bola kristal, pasti mereka sudah ambil posisi," katanya.

Menurutnya daerah penghasil kopi di Sumatra seperti Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung terlalu banyak turun hujan, sehingga produksinya berkurang. Namun, hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, negara lain seperti Kolombia sebagai negara penghasil kopi terkena imbas juga.

"Kalau di Sumatra kebanyakan hujan, di Kolombia malah kepanasan," tegasnya. Menurutnya, kopi itu tidak boleh terkena cuaca yang terlalu panas atau dingin. "kepanasan atau banyak kehujanan ya sama saja mengurangin produksi," tambahnya.

Kamis, 10 Maret 2011

Berita Pertanian : Kopi "Sigararutang" Tembus Pasar Internasional


Medan. Kopi varietas "Sigararutang" asal Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, kini sudah mampu menembus pasar internasional.

"Kami sekarang sanggup mengekspor hingga 200 ton kopi Sigararutang ke Amerika Serikat setiap bulan," kata Ahmad Lopes, Humas PT Sumatera Speciality Coffeess (SSC) Siborongborong, selaku perusahaan eksportir di Tapanuli Utara, Kamis.

Menurutnya, kopi yang diekspor tersebut didominasi hasil perkebunan petani kopi Kabupaten Tapanuli Utara, selain berasal dari petani Toba Samosir, Humbang Hasundutan dan Kabupaten Dairi.

Ia mengatakan, setiap bulan pihaknya membeli sekitar 200 ton kopi untuk diekspor ke berbagai negara melalui pelabuhan Belawan, termasuk perusahaan Starbuck di Amerika Serikat yang merupakan tujuan ekspor terbesar.

"Hampir 80 persen bahan baku ekspor tersebut hasil perkebunan petani daerah Tapanuli Utara, dibeli dari sejumlah kelompok tani yang menjadi binaan PT. SSC dalam wadah koperasi," ujarnya.

Dikatakannya, harga beli kopi di tingkat petani berkisar hingga Rp290 ribu per kaleng dan tergantung kualitas kopi yang dihasilkan.

"Kualitas paling bagus, bisa mencapai Rp290 ribu per kaleng, ditambah bonus sebesar Rp200 per liter bagi petani kopi yang sudah terdaftar sebagai langganan," ujar Lopes.

Ia menyebutkan, pihaknya telah melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan kopi Starbucks di Amerika Serikat.

Luas kebun kopi varietas Sigararutang di Tapanuli Utara mencapai 20.000 hektare, dengan produksi rata-rata sembilan ton per hektare. Komoditas itu dibudidayakan oleh hampir 9.000 lebih kepala keluarga. Tanaman rusak atau tidak menghasilkan hanya berkisar 300 hektare. (ant)

Jumat, 04 Maret 2011

Berita Pertanian : Tahun ini, pertumbuhan ekspor kopi masih negatif



JAKARTA. Ekspor kopi nampaknya masih negatif di tahun ini. Penyebabnya, lagi-lagi faktor cuaca yang kurang mendukung panen kopi.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, ekspor kopi tahun ini masih belum menandakan pertumbuhan yang baik. Padahal beberapa ekspor komoditas mengalami peningkatan. Oleh karena itu, tahun ini, pemerintah akan lebih mendorong peningkatan ekspor kopi.

Data BPS menunjukkan, total nilai ekspor kopi di 2010 hanya US$ 0,81 miliar, turun dibanding 2009 yang senilai US$ 0,82 miliar. Jadi, pertumbuhan ekspor kopi selama 2009 hingga 2010 justru minus 1,2%.

Walaupun ekspor kopi kian merosot, namun tak menyurutkan usaha para eksportir. Ketua Kompartemen Promosi Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Suyanto Husein mengatakan, tahun ini akan melakukan berbagai cara agar ekspor kopi tidak turun lagi. "Setidaknya, ekspor kita tetap dipertahankan seperti tahun lalu, jangan sampai turun lagi," ujarnya.

Suyanto bilang, oleh karena itu, para pengusaha berusaha meningkatkan produksi kopi serta memperluas pangsa pasar ke Rusia dan wilayah Timur tengah. Selama ini, memang ekspor kopi Indonesia terbesar ke negara Amerika Serika, Jepang, dan Eropa.

Terkait krisis Mesir

Adapun, kerusuhan yang sebelumnya terjadi di Mesir bisa berimbas pada ekspor Indonesia. Pasalnya, pasca kerusuhan, Mesir mengalami krisis. Padahal, Mesir menjadi salah satu importir kopi jenis robusta dari Indonesia.

Namun, Suyanto bilang, dampak ekspor kopi robusta tidak terlalu signifikan saat ini. "Pengaruh tetap ada, tapi tidak besar. Sebab, ekspor kopi ke sana juga tidak terlalu besar, dan sampai sekarang ekspor ke Mesir tetap lancar selama terusan Suez tidak bermasalah," jelasnya.

Data AEKI total ekspor kopi pada 2010 mencapai 400.000 ton. Adapun untuk jumlah ekspor tahun ini menurut Suyanto baru bisa dihitung setelah panen raya di bulan Maret hingga April. Sebab, sejak awal tahun asosiasi masih mengekspor kopi dari persedian hasil panen tahun lalu. "Dan kami berharap ekspor tahun ini minimal dapat mencapai angka yang sama seperti tahun lalu," imbuhnya.

Sementara, Mari menyebut, karena kapasitas produksi kopi dalam negeri belum cerah, sedangkan pasar Timur Tengah sangat penting, maka tahun ini pihaknya akan bekerja sama dengan eksportir kopi untuk mendorong ekspor ke wilayah Timur Tengah.

Jumat, 25 Februari 2011

Tips Ampuh : Untuk Apa Mencampur Kopi ke Dalam Cucian?







Ada sejumlah bahan dapur yang bisa membuat warna gelap pada pakaian tetap pekat.



Bubuk deterjen yang disediakan di pasaran kini menawarkan solusi untuk membuat pakaian putih tetap putih cemerlang atau warna lain tetap seperti ketika pertama kali dibeli. Namun, kita juga bisa membuat sendiri bahan pemutih atau pencerah warna dari bahan-bahan yang bisa kita temukan di dapur.


Agar pakaian putih tetap cemerlang
Setelah lama dipakai dan dicuci, pakaian putih bisa berubah menjadi krem atau bahkan abu-abu. Kaus kaki putih tetap terlihat kotor, tak peduli berapa lama Anda merendamnya. Untuk mencegah perubahan warna ini, gunakan:

1. "Baking soda"
Rendam pakaian Anda ke dalam 4 liter air yang sudah dicampur dengan secangkir baking soda.

2. Cuka
Tambahkan secangkir cuka putih ke dalam air bilasan yang masih berputar di dalam mesin cuci.

Agar pakaian gelap tetap gelap
Pakaian berwarna gelap bisa pudar dan membuat pakaian jadi terlihat murahan. Namun, ada caranya untuk membuat warna gelap pada pakaian Anda tetap pekat.

3. Kopi atau teh
Untuk pakaian berwarna hitam, tambahkan dua cangkir kopi atau teh yang baru diseduh ke dalam bilasan air.

4. Garam
Untuk warna-warna gelap seperti biru navy atau plum, tambahkan secangkir garam meja ke dalam air bilasan.

5. Cuka dan garam
Untuk mencegah jeans menjadi pudar, rendam jeans ke dalam air garam atau campuran setengah-setengah dari air dan cuka putih sebelum dicuci pertama kali. Balikkan dulu celana jeans sebelum Anda memasukkannya ke dalam mesin cuci dan atur suhunya tetap dingin.

Jumat, 18 Februari 2011

PRODUKSI KOPI INDONESIA Terganggu cuaca, produksi kopi Indonesia mungkin turun hingga 25%

HAMBURG. Produksi kopi Indonesia hasil panen baru-baru ini berpotensi turun 20% hingga 25%. Proyeksi ini disampaikan broker kopi Eugen Atte GmbH, dengan mengutip perkiraan dari para eksportir.

"Seringnya tanaman terguyur hujan selama periode musim berbunga bisa merusak bunga sebelum dimulainya masa pemekaran," kata Atte dalam laporannya yang dirilis kemarin, di Hamburg.

Atte menyebut, panen pun telah dimulai sekitar tiga minggu sebelum periode musim petik biasanya.

Menurut Departemen Pertanian AS, Indonesia adalah produsen terbesar ketiga biji kopi robusta. (kontan)

TAWARAN KEMITRAAN KULINER



Nikmatnya Menyeduh Laba dari Usaha Gerai Kopi

Kopi menjadi minuman yang banyak penggemar, baik tua maupun muda. Pasar yang luas ini membuat banyak tawaran kemitraan kopi dengan nilai investasi awal besar ataupun kecil. Salah satunya, Frosty Blend Coffee.

Frosty Blend Coffee berdiri pada 2009 di bawah bendera PT Tatacipta Mega Pelangi. Henny, pemilik Frosty Blend Coffee, mengatakan, dirinya mulai menawarkan kemitraan gerai kopi tahun lalu. "Gerai kopi kami menyediakan blend coffee khas dengan racikan sendiri termasuk makanan ala kafe," katanya.

Kekuatan Frosty Blend Coffee ada pada varian es kopi yang mereka tawaran yang mencapai 15 macam. Di antaranya, cookies and cream, java chocochip, hazelnut chocochip, dan tiramisu. Selain es kopi, Frosty Blend Coffee juga menyediakan kopi hangat dengan aneka rasa, seperti espresso, tiramisu latte, dan caramel latte.

Untuk makanan, mereka menjual pancake dengan pelbagai rasa, semisal, blackpepper and cheese fries, sosis bakar BBQ dan blackpepper, serta spaghetti carbonara. Harga aneka kopi dan makanan tersebut berkisar Rp 9.000 hingga Rp 25.000 per porsi.


Tiga tawaran kemitraan

Untuk menjadi mitra Frosty Blend Coffee, Henny menawarkan tiga paket kemitraan: tipe bar, booth, dan counter. "Sudah ada 10 mitra yang bergabung," ujar Henny.

Semua mitra Frosty Blend Coffee tersebar di Jakarta, Bandung, Medan, dan Samarinda. Dari ke-10 mitra itu, Henny mengungkapkan, paling banyak mengambil tipe bar dan booth.

Nilai investasi awal tipe counter Rp 28 juta. Tipe ini, menurut Henny, cocok bagi mitra yang ingin membuka usaha di pinggir jalan atau di depan pusat perbelanjaan. Dengan kebutuhan lahan hanya 1,2 x 0,6 meter, mitra bisa memperoleh omzet hingga Rp 7 juta sebulan. Dengan begitu, mitra bakal mendapat untung bersih Rp 2,8 juta dan balik modal dalam 10 bulan.

Untuk tipe booth, investasi awalnya Rp 38 juta. Tipe ini mengharuskan mitra menyediakan lahan 1,5 x 0,6 meter untuk tempat booth dan beberapa kursi. Henny menghitung, dengan penjualan mencapai 45 produk per hari, maka mitra bisa mengantongi omzet sekitar Rp 13 juta tiap bulan. Dengan omzet sebesar ini, "Balik modalnya enam bulan," ujar Henny.

Sedangkan investasi awal untuk mitra yang mengambil kemitraan tipe bar adalah Rp 58 juta. Luas lahan untuk membuka gerai Frosty Blend Coffee 2 x 2 meter untuk tenda, meja, dan kursi. Menurut hitungan Henny, mitra tipe bar bisa mendulang omzet Rp 24 juta per bulan, dengan keuntungan Rp 9 juta dan balik modal 6 bulan.

Meski nilai investasinya berbeda-beda, tapi semua mitra akan mendapatkan bahan baku awal dan pelatihan karyawan. Kemitraan Frosty Blend Coffee juga berlaku seumur hidup dan semua mitra bebas dari biaya royalti dan biaya pemasaran.

Untuk menjaring lebih banyak, saat ini Henny menerapkan jurus promosi berupa buy 1 get 1 free. "Jadi, cukup bayar satu outlet saja, mitra bisa dapat dua outlet," katanya. Ia menargetkan, tahun ini, Frosty Blend Coffee bisa menjaring 20 mitra baru.

Pengamat Waralaba Erwin Salim mengingatkan, Frosty Blend Coffee punya banyak pesaing. Soalnya, waralaba atau kemitraan kopi sudah banyak. "Jadi, kalau ingin menyedot banyak mitra, mereka harus memiliki keunikan produk seperti menjual kopi luwak," katanya.

Untuk bisa mencapai target menjaring 20 mitra baru tahun ini, Erwin juga menyarankan, agar Frosty Blend Coffe gencar berpromosi dan ikut pameran waralaba. Tak hanya itu, imbuhnya, tidak ada salahnya jika Frosty Blend Coffe juga bergabung dengan asosiasi waralaba.