Tampilkan postingan dengan label agroindustri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agroindustri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2011

Peluang Usaha Pertanian : Syam menyulap kotoran sapi menjadi fulus


Tak hanya bisa menjadi pupuk kandang, kotoran sapi bisa diolah menjadi kerajinan yang menguntungkan. Syammahfuz Chazali membuktikannya. Mendapat ide ketika di kamar mandi, ia mengolah kotoran sapi menjadi bahan baku membuat keramik, gentong, bata, dan genteng. Pasar lokal dan luar negeri menyukainya.

Ide memang bisa muncul dari mana saja. Termasuk saat di kamar mandi. Itulah yang dialami Syammahfuz Chazali, pemilik merek Faerumnesia7G. Tahun 2006, saat ia di kamar mandi terlintas di benaknya: apakah kotoran manusia bisa bermanfaat bagi orang lain dan sekitarnya. Pertanyaan itu terus menghantuinya selama berhari-hari.

Agar memperoleh jawaban, Syam, panggilan akrab pria ini lantas berselancar di dunia maya. Syam yang kala itu baru berusia 22 tahun dan berstatus mahasiswa jurusan agribisnis di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta juga terus mencari jawaban lewat berbagai buku.

Jawaban itu sedikit terkuak ketika ia datang ke pameran yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup di Yogyakarta. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat gas dari kotoran manusia bisa menjadi bahan bakar kompor dan bisa mendidihkan air.

Sepulang dari workshop itu, ia lantas mencoba mengolah tinja menjadi bahan bakar. Sayang, kegiatan itu hanya bertahan tiga bulan. "Ibu kos saya jijik," ujar Syam. Padahal, Syam bertekad menjadikan hasil sekresi tubuh manusia ini menjadi bahan bakar rumah tangga.

Meski aksi coba-coba itu terhenti, Syam masih menyimpan bara di benaknya. Ia bertekad mewujudkan mimpinya, mengolah kotoran menjadi sumber bahan bakar.

Keinginan itu semakin menguat kala seorang kawan menyemangati ide itu. Kawan ini yakin ada perumahan yang mau menggunakan bahan bakar dari tinja. "Tapi, sampai sekarang belum ada yang mau," ujarnya diselingi dengan tawa.

Kotoran manusia belum terwujud, Syam lalu mencoba dengan kotoran hewan. Suatu hari, ia melihat kawannya mengerjakan tugas orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek). Tugasnya itu adalah membuat karya dari kotoran sapi. Salah seorang kawannya ini menjemur kotoran sapi di bawah sengatan matahari sampai keras. Dari situ, terbersit ide Syam untuk membuat keramik, genteng atau bata dari kotoran sapi.

Ide ini didukung pula oleh material di sekitar tempat tinggal Syam di Yogyakarta. Tak jauh dari tempat tinggal Syam, yakni di Godean, banyak peternak sapi. Limbah sapi oleh peternak selama ini hanya dipakai untuk pupuk kandang.

Berbeda dengan tanah liat, Syam yakin kotoran sapi lebih ramah lingkungan untuk membuat keramik, bata, dan genteng. "Kalau pakai tanah harus ambil dari sawah. Ini bisa merusak lingkungan," ujarnya.

Satu tahun Syam dan empat kawannya melakukan penelitian terhadap kotoran sapi. Syam ingin kotoran sapi tidak menimbulkan bau dan bisa liat seperti tanah dan mudah dibentuk sesuai dengan keinginan.

Tahun 2007, Syam dan kawan-kawannya menemukan hasil sesuai keinginan. Ia pun bergegas menjual hasil karyanya. Syam lantas menjalin kerjasama dengan seorang perajin di Kasongan yang bersedia menggunakan kotoran sapi sebagai bahan baku. Dalam jualan gentong, keramik, tak lupa ditulis kalau produk tersebut terbuat dari kotoran sapi.

Benar saja, banyak orang tertarik dengan produk tersebut. "Saya ingat, pembeli pertama membeli gentong," ujar Syam yang yakin bahwa keramik dari kotoran sapi ada pasarnya.

Ia pun lantas memproduksi keramik dan genteng secara masal di tahun 2008. Sejak saat itu, secara konsisten, pesanan datang. Tak hanya dari pasar lokal tapi juga luar negeri. "Produk yang kerap diminta yakni gentong dan lampu aladin," ujar Syam.

Mematok lampu aladin dengan harga Rp 250.000 per lampu dan gentong seharga Rp 100.000 hingga Rp 300.000 tergantung ukuran, pasar terbesar dari produk kerajinan Syam di Jakarta. "Dorce Gamalama dan Wulan Guritno pernah jadi pembeli saya," kata Syam yang pernah membuat gentong berukuran besar seharga Rp 600.000. Pasar ekspor datang dari Belanda yang meminta pot dalam ukuran kecil.

Dari sekian produk yang mampu dihasilkan Syam, permintaan terbesar adalah bata. Bulan ini saja, Syam dapat pesanan membuat 3.000 bata dari Jakarta. "Sebulan, omzet saya bisa Rp 100 juta," ujar Syam yang dapat order lebih besar di bulan berikutnya.


Syam ditampik bank, modal dari penghargaan

Tiada uang, Syammahfuz Chazali mengawali usahanya akhir 2007. Proposal pinjamannya ditolak bank. Modal dia peroleh dari berbagai penghargaan yang menghampirinya. Kini, setelah 3,5 tahun berlalu, pemuda ini bisa menghasilkan puluhan juta rupiah sebulan. Ia pun banyak dicari perusahaan luar negeri yang tertarik pada idenya.

Nama Faerumnesia 7G sengaja dipilih Syammahfuz Chazali sebagai bendera usaha. Farumnesia adalah akronim dari feses (kotoran), ruminansia (lambung sapi), dan Indonesia. Adapun, 7G singkatan dari 7 orang Gigabyte. “Artinya, karya Indonesia dari kotoran sapi. Tujuh orang terdiri dari lima mahasiswa dibantu dua dosen,” tutur Syam, panggilan karibnya.

Syam tak sendiri mendirikan Farumnesia 7G ini. Ia dibantu 4 kawan kampusnya serta dua dosen dari jurusan agribisnis dan jurusan tanah.

Bila bulan ini ia berkutat hanya memproduksi 3.000 bata, bulan depan, kapasitas produksinya meningkat 10 kali lipat. Ia harus membuat 30.000 bata seharga Rp 3.000 per buah. Alhasil, Syam pun bisa mengantongi omzet Rp 90.000.000, Juli nanti.

Selain sibuk memproduksi bata, Syam juga harus meladeni permintaan beberapa perusahaan dari dalam dan luar negeri. Perusahaan-perusahaan itu hendak mengadopsi ide pemanfaatan kotoran sapi.

Perusahaan-perusahaan di luar negeri itu, antara lain dari Kenya, India, Meksiko, Venezuela, Italia, Belanda, dan Amerika Serikat. “Yang paling berminat itu perusahaan dari India. Dia sudah hubungi saya berkali-kali,” kata Syam yang lahir di Medan, 5 November 1984 itu.

Tentu saja, perusahaan itu tidak datang begitu saja. Mereka mengetahui adanya produk bata Syam ketika Tim Prasetiya Mulya Businees School (PMBS) meraih juara pertama di Global Social Venture Competition, April 2009. Kompetisi rencana bisnis pemanfaatan limbah ini digelar di Universitas Berkeley, Amerika Serikat.

Kala itu PMBS mengajak EcoFaeBrick sebagai objek rencana bisnisnya. EcoFaeBrick adalah nama produk bata dari Faerumnesia 7G. Batu bata dari kotoran sapi ini lebih ringan dari batu bata tanah liat. Namun, daya tekan EcoFaeBrick 20% lebih kuat.

Bata buatan Syam menggunakan kotoran sapi dengan kadar 75%. Sisanya, proses pemanasan biogas. Proses ini mampu menggantikan emisi CO2 yang dihasilkan dari pembakaran saat memproduksi bata dari tanah liat. “Saat menang itu, saya dan teman-teman diliput media massa di sana. Akhirnya banyak perusahaan mengenal kami,” tutur Syam.

Di AS, banyak orang mengomentari EcoFaeBrick. “Alhamdulilah, bagus. Mereka berpikir kotoran sapi bisa jadi solusi bagi negara yang menghasilkan CO2 tinggi,” ungkap Syam.

Sepulangnya ke Indonesia, beberapa perusahaan mengontak Syam. Mereka minta ilmu pemanfaatan kotoran sapi kepadanya. Namun, informasi itu tak diberinya lengkap. Sebab, penggunaan kotoran sapi jadi kerajinan bermerek Farumnesia 7G sudah dipatenkan pada 2007.

Berkat kotoran sapi, Syam meraih banyak penghargaan. Ia pernah masuk delapan besar nominator Wirausaha Muda Mandiri Regional Jateng-DIY dan 50 besar peserta Intensive-Student Technopreneurship Program RAMP.

Syam juga menggondol juara I Lomba Bisnis Plan Pemuda dan Olahraga pada 2007. Syam pun pernah menerima penghargaan Rektor UGM sebagai Mahasiswa Berprestasi di Bidang Kewirausahaan pada 2007.

Sayangnya, penghargaan itu cuma jadi lambang. Syam tak pernah menerima dana untuk mengembangkan usahanya. Tidak dari perusahaan swasta, tidak juga dari pemerintah. “Padahal, kalau pemerintah mau membantu, kami bisa menembus pasar luar negeri,” kata Syam.

Saat Faerumnesia 7G baru lahir, Syam menghampiri sebuah bank. Ia minta pinjaman modal. Tapi, bank itu menolak permintaannya dengan berbagai alasan. Akhirnya, dengan tertatih-tatih, Syam mengumpulkan modal dari kemenangannya di berbagai kompetisi.

Hingga akhirnya terkumpul Rp 4,5 juta sebagai modal awal, yang digunakan untuk membeli bahan baku dan menyewa alat. Syam pun bekerja sama dengan seorang perajin di Godean. “Sekarang saat saya sudah produksi, sudah punya omzet besar, bank-bank itu datang ke saya menawarkan bantuan. Saya tolak semuanya,” kata Syam.

Syam benar-benar membangun usaha dari nol. Ia tak mengeluarkan sepeser pun dari kantong pribadinya. Hanya ide yang ia tawarkan. “Saya bertarung sendiri sejak awal,” ujarnya.


Syam sebarkan ilmu wirausaha ke banyak pemuda

Syammahfuz Chazali tidak lupa membagikan motivasi berwirausaha. Ia keluar masuk universitas memberi semangat para mahasiswa untuk membuka usaha. Bahkan, awal tahun ini Syam membuka YES!, lembaga pelatihan bisnis bagi pemuda.

Pemilik merek Faerumnesia 7G, Syammahfuz Chasali tengah didera kesibukan. Bulan ini, ia harus mengurus produksi 3.000 batu bata di Godean, Yogyakarta. Ia juga harus meladeni pertanyaan dari beberapa perusahaan luar negeri tentang penggunaan kotoran sapi.

Lalu, ia juga harus mendatangi beberapa universitas untuk bertukar pikiran soal kewirausahaan. Tiga hari ini saja, ia berada di Semarang, Jawa Tengah, untuk memberi motivasi kewirausahaan di Universitas Diponegoro dan IAIN Walisongo.

Menurutnya, banyak mahasiswa punya ide kreatif. Sayangnya kurang dukungan. "Jadi mahasiswa haru mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dari ide-ide kreatifnya," ujar Syam.

Dalam hitungannya, ongkos yang harus dikeluarkan mahasiswa selama kuliah dan gaji yang mereka dapatkan setelah bekerja habis begitu saja. Dengan gaji Rp 2 juta, uang mereka akan habis untuk sewa kos, makan, transportasi, komunikasi dan hiburan. "Habis uangnya. Kapan mereka punya tabungan?” ujarnya.

Dari situ, Syam bersama dua kawannya, Fauzan Teguh Hananto dan Ghozali bertekad mengajak mahasiswa menjadi entrepeneur dengan mendirikan YES!. Ini adalah lembaga pelatihan bisnis bagi pemuda-pemudi berusia 18 hingga 19 tahun.

Walau masih berusia lima bulan, YES! sudah tersebar di 25 kota di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Markasnya ada di Jalan Kayun, Surabaya, Jawa Timur. YES! pusat mengirimkan standard operating procedure (SOP) ke pengelola di masing-masing kota.

Berbekal SOP itu, pengelola bisa menjalankan visi misi YES! Siswa akan mendapat kursus singkat selama tiga bulan. Sejak awal masuk, siswa ditanya bentuk usaha seperti apa yang ingin dipilihnya.

Selama kursus itulah, materi dan diskusi akan membahas bentuk usaha itu. Setiap kelas diisi maksimal 20 orang, agar setiap siswa punya ruang besar mengasah jenis usaha yang akan digelutinya.

Kursus berisi mentoring dari berbagai pengusaha yang mau berbagi ilmu kewirausahaan selama enam minggu. Sisa waktu untuk magang. “Ada siswa YES! yang sudah punya omzet sampai Rp 40 juta per bulan," ujarnya.

Ide-ide kreatif mengalir di YES! "Ada yang mau buka usaha kopi celup dan nasi sego klopo, ” kata lulusan Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada ini.

Yang menarik, Syam bakal mengembalikan biaya kursus sebesar Rp 3 juta bila siswa gagal membangun usaha. Makanya, selesai masa kursus, Syam dan kawan-kawan tetap membimbing siswa. Bagi Syam, YES! harus mengambil peran bagi perekonomian Indonesia lewat usaha kecil dan menengah.

Ia menargetkan mendirikan YES! di 20 kota di Indonesia. Malah, ia bercita-cita YES! ada di Malaysia dan Australia.

Tekadnya mencetak pemuda menjadi wirausahawan yang membuka lapangan kerja buat orang lain. “Saya ingin memberi motivasi ke banyak pemuda untuk bangun bisnis tanpa modal," ujarnya. Baginya masalah bisnis bukanlah modal, tapi mental.

Meski sibuk, Faerumnesia 7G tetap harus berkibar. Saat ini, Syam tengah menggelar riset untuk mencari bahan lain serupa tekstur kotoran sapi yang bisa dijadikan bata, lantai dan genteng.

Ia melihat, Indonesia punya kebutuhan pembangunan rumah yang luar biasa banyaknya. "Saya ingin bikin bata, lantai, dan genteng yang ekonomis karena berasal dari bahan ramah lingkungan,” kata Syam.

Dua bulan ini, ia akan meriset serius soal itu. Setelah itu, Syam akan mendatangi Kementerian Pekerjaan Umum untuk melakukan ujicoba.

Ia menargetkan produknya nanti bisa kedap suara, tahan gempa dan tahan air. Dari usaha ini, Syam ingin memberi contoh bagi banyak pemuda bahwa anak-anak muda bisa menjadi bos untuk dirinya sendiri.

Anak-anak muda bisa menjalankan usaha sekaligus menikmati hidup. Itu pula yang dilakukan Syam. “Keinginan terbesar saya jadi pengusaha," ujarnya. Ia ingin punya uang dan waktu luang banyak. "Saya tak ingin menggadaikan hidup hanya untuk gajian,” ujar Syam diiringi tawa membahana. (kontan)

Berita Pertanian : Pemkot Balikpapan Pusatkan Usaha Tahu/Tempe di Karingau












BALIKPAPAN.
Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur menghentikan izin pembangunan usaha tahu/tempe di luar wilayah kawasan Industri Karingau (KIK). Hal ini dilakukan untuk menghindari pencemaran lingkungan sekitar akibat limbah yang dihasilkan.

"Mulai tahun ini tidak ada izin usaha tahu/tempe di luar kawasan Karingau. Ini dilakukan untuk memusatkan kegiatan industri di KIK," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Balikpapan Suryanto, Rabu (22/6).

Dia mengatakan tahun ini juga akan dilakukan pendataan ulang jumlah usaha tahu/tempe yang ada di Kota Balikpapan. Hal ini dilakukan dalam rangka menindaklanjuti program relokasi seluruh usaha tahu/tempe Karingau yang sudah diprogramkan sejak 2005 lalu.

Dari jumlah 136 usaha tahu/tempe baru sekitar 70 yang sudah berpindah ke Karingau. "Semuanya akan ditempatkan di KIK, dan mulai tahun ini akan dilakukan relokasi," tuturnya.

Kepala Disperindakop Balikpapan Achmad Ilhamsyah mengatakan pihkanya telah memberikan batas waktu kepada pngusaha tahu/tempe pindah ke Karingau hingga Juli. "Kita Masih koordinasi dengan instansi terkait, untuk kita tindak lanjuti dan kita kasih waktu hingga Juli, sebagai upaya dalam meminimalisir pencemaran lingkungan di kawasan padat pemukiman warga," ujarnya.

Selasa, 24 Mei 2011

Peluang Usaha Pertanian : Ternyata kemitraan sari tebu masih manis


Manis alami sari tebu membuat konsumen bisa melepas dahaga. Kian hari, peminat sari tebu ini pun terus meningkat. Tidak heran, gerai sari tebu terus beranak-pinak, mulai dari gerai kelas gerobak hingga gerai paling mahal yang mengambil lokasi gerai di mal.

Hendrawan Buntaram, pemilik Sari Tebu Jojo Cup di Bandung mengatakan, lima tahun belakangan usaha minuman berbahan dasar tebu terus naik daun. Sementara, Doddy Sularso, pemilik Raja Tebu juga terus menambah mitra yang sudah melewati hitungan seribu.

Kali ini kita akan mengulas tiga kemitraan sari tebu yang pernah ditulis sebelumnya yaitu Sari Tebu Murni, Jojo Cup, dan Juragan Tebu. Ketiga kemitraan ini mendapat penambahan mitra meski jumlahnya bervariasi.


Raja Tebu

Jaringan kemitraan Raja Tebu berdiri tahun 2005 dengan nama usaha CV Raja Tebu. Dulunya, gerai sari tebu ini mengusung nama Sari Tebu Murni. Pemiliknya, Doddy Sularso, hanya memiliki lima gerai sari tebu. Pada April 2010 lalu, total gerai Raja Tebu mencapai 800 gerai.

Kini, jumlah gerai Raja Tebu terus bertambah. Doddy mengatakan, saat ini. ada sekitar 1.000 gerai Raja Tebu yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Doddy mengatakan, pertumbuhan gerai yang pesat ini karena semakin banyaknya calon investor yang tertarik untuk berinvestasi dalam minuman tebu. "Konsumennya terus bertambah karena secara umum masyarakat Indonesia sangat menyukai rasa manis tebu yang menyegarkan," ujar Doddy berpromosi.

Pertumbuhan mitra yang tinggi ini, klaim Doddy, juga karena kemudahan berinvestasi Raja Tebu. Doddy memang tidak memungut biaya royalti. Ia hanya mengharuskan para mitra membeli pasokan tebu darinya agar kualitas sari tebunya tetap terjaga.

Saat ini, Doddy sudah menaikkan biaya investasi untuk setiap paket yang ditawarkannya. Kenaikan biaya investasi ini untuk menyeimbangkan dengan kenaikan harga. Selain itu, Doddy pun menambah produk bakso di dalam paket yang sudah ada. Ia pun akan memasok bakso untuk para mitra. Tambahan bakso ini hanya untuk mitra baru.

Sebelumnya Doddy membanderol paket Kaki Lima Rp 21,5 juta, paket Gerai Motor Rp 39,5 juta, dan paket Mal Rp 28,5 juta. Saat ini Doddy menawarkan paket Kaki Lima dengan investasi Rp 28,5 juta, Gerai Motor Rp 45,5 juta, dan paket Mal Rp 58,5 juta.

Selain itu masih ada dua paket baru yakni paket Gerai Mobil dengan investasi awal Rp 64,5 juta dan paket Cafe dengan investasi Rp 99,75 juta. "Untuk paket mobil dan Cafe memang untuk kalangan ekonomi yang sedikit lebih mapan," ujarnya.

Satu gerai Raja Tebu mampu menjual rata-rata 75 gelas sari tebu per hari dengan harga Rp 8.000 per gelas. Selain itu, Doddy menghitung mitra bisa menjual rata-rata 20 mangkuk bakso per hari dengan harga Rp 5.000. Dengan hitungan itu, menurut Doddy, mitra bisa balik modal antara 6 bulan hingga 10 bulan.


Sari Tebu Jojo Cup

Saat terakhir diliput KONTAN pada Maret 2010, Hendrawan Buntaram memiliki 15 outlet Jojo Cup di Bandung. Hendrawan memulai usaha sari tebu Jojo Cup ini sejak 2008. Saat ini, sudah ada penambahan lima gerai yang ada di Jakarta dan Bandung. Hingga kini, Hendrawan masih belum menaikkan biaya kemitraan dari angka semula.

Hendrawan tetap menawarkan balik modal lima bulan dengan dua paket kemitraan. Pertama, paket Regular dengan investasi Rp 30 juta untuk kerjasama dua tahun. Kedua, paket Premium dengan nilai investasi awal Rp 60 juta untuk masa kerjasama lima tahun.

Untuk kedua paket, mitra mendapat booth, mesin giling tebu, mesin penutup cup, paket promosi, seragam, dan pelatihan. Booth tipe Regular untuk penempatan di ruko dan di depan hipermarket atau minimarket. Paket ini hanya menjual sari tebu asli dan variasi sari tebu.

Sementara, tipe Premium untuk lokasi di foodcourt atau mal. Paket ini menjual sari tebu asli, variasi sari tebu, dan minuman lain seperti teh kesehatan.

Hendrawan mengatakan, satu gerai bisa menjual antara 80 hingga 100 gelas sari tebu per hari. Hendrawan mematok harga Rp 5.000 hingga
Rp 10.000 per gelas. Perkiraannya, jika mitra bisa mengantongi omzet Rp 15 juta hingga Rp 30 juta sebulan, si mitra akan balik modal dalam waktu lima bulan. Hendrawan mengutip biaya royalti 10% dari omzet tiap bulan.

Menurut Hendrawan, biasanya permintaan akan minuman tebu akan meningkat drastis saat bulan puasa. Maka ia pun memperkirakan mendekati bulan puasa, jumlah pebisnis sari tebu ini akan melonjak. "Biasanya naik hampir 50%," ujarnya.

Tentu saja Hendrawan bakal memanfaatkan peluang ini untuk menjaring mitra sebanyak mungkin. Targetnya, di bulan puasa tahun ini ia mampu merambah wilayah Jabodetabek.


Juragan Tebu

Galuh Ikhwansyah, pemilik Juragan Tebu yang menawarkan kemitraan sejak Juni 2010 mengatakan dia mampu bersaing dengan sari tebu yang lain karena rasa sari tebu bikinan Juragan Tebu tidak kalah dari yang lain. Galuh juga bekerja sama dengan petani tebu di Cirebon sehingga dia dapat memasok mitra sepanjang tahun.

Belum lewat satu tahun menawarkan kemitraan, Galih sudah menggaet 25 mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Magelang, dan Bekasi. Galih menghitung mitranya dapat menjual 1.500 sampai 2.000 gelas per bulan. Dengan harga Rp 4.000 per gelas, mitra bisa mengantongi omzet rata-ratanya Rp 6 juta sampai Rp 8 juta.

Galih menawarkan empat paket kemitraan mulai dari yang termurah Rp 8 juta, Paket Gerobak Rp 12 juta, Gerobak Tenda Rp 17,5 juta, dan Paket Booth Rp 22,5 juta.

Mitra Galuh kebanyakan memilih paket gerobak dengan investasi Rp 12 juta. Dengan nilai investasi itu, calon mitra akan mendapatkan peralatan lengkap, mesin giling tebu, tiga pasang seragam, bahan baku tebu untuk 30 porsi, dan 100 gelas.

Setelah beroperasi, mitra harus membeli bahan baku dari Juragan Tebu. Galih memperkirakan, biaya bahan baku ini sekitar setengah dari total omzet mitra per bulan. "Mitra akan balik modal lebih cepat bila ia turun tangan sendiri," ujar Galih.

Seperti usaha lain, syarat penting bagi kemitraan ini adalah lokasi. Galih menganjurkan mitra mangkal di tempat ramai, seperti tempat wisata, sekolah atau tempat lalu lalang kendaraan.

Dengan hitungan mitra bisa menjual 1.500 gelas dan harga jual Rp 4.000, omzet mitra Rp 6 juta per bulan. Ingat, dari jumlah itu, mitra harus mengeluarkan biaya bahan baku setengah dari omzet, biaya operasional sekitar Rp 500.000 dan upah pegawai Rp 1,2 juta. Dengan laba bersih cuma Rp 1 juta, mitra ada baiknya memiliki lebih dari satu gerobak.

Agar omzet lebih besar, Galuh menyarankan mitra rajin berjualan ke tempat seperti konser musik dan pasar malam. Dengan gerai yang mobile, mitra bisa memindahkan lokasi dagangan di pusat keramaian.

Mitra juga bisa bermain di harga jual dengan memperhitungkan kemampuan ekonomi warga sekitar gerai. Di Cirebon, Galih menjual sari tebu Rp 2.500 per gelas. Mitra bisa menyesuaikan harga jual sendiri. Di Jakarta atau Bandung, mitra bisa menjual sari tebu Rp 5.000 atau Rp 6.000 per gelas.