Tampilkan postingan dengan label hortikultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hortikultura. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2013

Budidaya Tomat Memakai Pupuk Enzim BSP-ELF




Menggunakan Pupuk Cair Enzim BSP-ELF ternyata terbukti meningkatkan hasil panen tanaman tomat lebih dari 100 persen, dimana budidaya tanaman tomat Bapak Cekta Sembiring di Desa Gajah Kec. Simpang Empat Kab. Karo ini setelah menggunakan Pupuk Cair BSP-ELF meningkat lebih dari 100 persen. "Tiga kali panen pertama saja, modal saya sudah balik" ujar Pak Cekta ketika diwawancarai (Senin,10/06/13)

Jumat, 03 Mei 2013

Pupuk Cair Enzim BSP-ELF meningkatkan kwantitas dan kwalitas tanaman tomat

Budidaya tanaman tomat di desa Gajah Simpang Empat Karo dengan menggunakan Pupuk Cair Enzim BSP-ELF,....satu batang tomat rata rata mencapai 32-34 tangkai bunga dan buah..satu tangkai bunga/buah antara 8-12 bunga/buah.


Kamis, 18 April 2013

Pengaruh Pupuk Cair BSP-ELF Pada Tanaman Hortikultura Lebih Cepat Bereaksi

Pengaruh Pupuk Cair BSP-ELF Pada Tanaman Hortikultura Lebih Cepat Bereaksi diantaranya akan mempercepat pertumbuhan tanaman dan mempercepat  pembungaan dan tentunya pembuahaan tanaman

Sabtu, 30 Maret 2013

500 kontainer holtikultura terancam dimusnahkan

Ngawi. Lima ratus kontainer produk holtikultura impor yang tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, karena tidak dilengkapi dokumen resmi, terancam dimusnahkan oleh pihak berwenang.

"Selain terancam dimusnahkan, produk hortikultura tersebut juga terancam dikembalikan ke negaranya (asal impor) atau return maupun terancam disita negara," kata Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan saat menghadiri sosialisasi Sensus Pertanian 2013 di Ngawi, Jumat.

Menurut dia, tertahannya produk-produk hortikultura impor tersebut karena para importir tidak dapat menunjukkan kelengkapan administrasi atau pun dokumen yang disyaratkan.

"Apapun alasannya, selama dokumen atau administrasi tersebut tidak diselesaikan dengan baik, maka semua barang dari luar yang akan masuk tanpa terkecuali dianggap ilegal. Bentuk perlakuannya ya salah satu dari tiga hal tadi," kata Rusman.

Agar barang bisa dikeluarkan, importir harus memiliki Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH), Surat Pemberitahuan Impor (SPI) dan Laporan Surveyor (LS), lalu importir masih harus mengurus Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ke Bea Cukai.

"Memang ada desakan dari DPR waktu rapat kerja untuk segera memutuskan sanksi bagi para importir tersebut. Namun, Kementerian Pertanian memilih akan berkompromi dulu dengan Kementerian Perdagangan, baru setelah itu menentukan sikap," terang dia.

Ia menambahkan 500 kontainer berisi buah impor tersebut belum termasuk ratusan kontainer bawang putih yang saat ini juga masih tertahan di Tanjung Perak.

"Sebagian produk bawang putih impor yang tertahan di Tanjung Perak memang mendapat perlakuan khusus dari pemerintah karena harga bawang putih di pasaran sedang tinggi," katanya.

Ia berharap hal tersebut tidak berlaku bagi buah-buahan impor yang tertahan tersebut. "Kalau pun ada toleransi, jangan sampai terlalu jauh melebihi peraturan di atasnya, seperti undang-undang hortikultura, peraturan menteri keuangan, ataupun peraturan menteri perdagangan," kata Rusman.

Saat ini sudah ada sekitar 10 persen atau 10.000 ton bawang putih impor ilegal diperbolehkan keluar dari pelabuhan dan dipasarkan. Ia berharap sisanya yang 90 persen nantinya akan memakai prosedur yang semestinya.

Kuota bawang putih impor yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya selama satu semester 160.000 ton.

Wamentan Rusman Heriawan dan Kepala BPS Suryamin melakukan kunjungan kerja ke Ngawi untuk menghadiri sosialisasi Sensus Pertanian 2013.

Acara sosialisasi tersebut digelar di Alun-Alun Ngawi pada Kamis (28/3) malam dari pukul 19.00 WIB-24.00 WIB. Namun, karena acara berjalan dengan suasana yang guyub maka baru berakhir pada Jumat dini hari.

Kamis, 21 Maret 2013

Pola Panen Berdasarkan Musim Buat Indonesia Impor Hortikultura

Jakarta. Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan pola panen berdasarkan musim membuat Indonesia masih harus mengimpor sejumlah komoditas hortikultura meskipun produk tersebut sudah tergolong swasembada.
Dirjen Hortikultura Kementan Hasanuddin Ibrahim di Jakarta, Selasa (19/3) mencontohkan, bawang merah, komoditas yang harganya melambung belakangan ini, hanya ditanam saat musim kering sementara periode Juli-September merupakan masa panen komoditas tersebut. "60% produksi nasional dipenuhi di periode Juli-September. Kalau sedang panen, Indonesia bahkan bisa ekspor bawang merah," katanya.

Demikian juga, lanjutnya, kebutuhan cabai besar sebagian masih harus dipasok impor karena masa panennya hanya jatuh di periode Juli-Oktober. Komoditas lainnya yang masih membutuhkan impor adalah kentang granola yang masa panennya jatuh pada Juli-September.

Oleh karena itu, menurut Dirjen Hortikultura, pihaknya merekomendasikan agar skema impor produk hortikultura  dilakukan dengan cara buka-tutup untuk melindungi petani lokal. Skema tersebut, harus disesuaikan dengan pola panen masing-masing komoditas.

"Kami merekomendasikan impor hortikultura dengan sistem buka tutup. Saat sedang panen kerannya ditutup, sedangkan saat tidak panen kerannya dibuka," kata dia.

Dengan demikian, lanjut Hasanuddin, keran impor bawang merah sebaiknya hanya dibuka sejak bulan November hingga Mei. Meskipun masih harus dilakukan impor, secara umum komoditas bawang merah, cabai merah dan kentang termasuk dalam kategori yang sudah masuk tahap swasembada.

Sementara itu khusus untuk komoditas bawang putih, pihaknya mengakui, Indonesia sulit bergantung pada pasokan dalam negeri. "Sulit untuk memenuhi kebutuhan nasional hanya dari pasokan dalam negeri. Saat ini, jumlah petani yang menanam bawang putih sudah semakin sedikit," katanya.
Menurut Hasanuddin, bawang putih harus ditanam di kondisi cuaca tertentu agar hasilnya bagus, selain itu komoditas ini harus melewati musim salju dengan suhu ekstrim agar bisa berproduksi secara maksimal.

Meski demikian, lanjutnya, bawang putih bisa diproduksi di Indonesia asalkan ditanam di ketinggian 1.000 mdpl (meter di atas permukaan laut).  Menurutnya, pasokan dalam negeri hanya mampu memenuhi 5-10 persen kebutuhan nasional. "Itu pun untuk memenuhi kebutuhan industri jamu karena aroma bawang putih Indonesia tiga  kali lebih kuat dibandingkan bawang putih impor," katanya. (ant)

Kamis, 07 Maret 2013

Pupuk Cair Enzim BSP-ELF


BSP-ELF sangat cocok diaplikasikan ke tanaman industri terutama kelapa sawit, karet dan juga sangat cocok diaplikasikan ke tanaman padi, sayuran, bunga, buah-buahan, dan tanaman palawija seperti jagung, kopi dan coklat.
BIO SYMBIOTIC & ENZYMATIC MOLEKUL
BSP-ELF merupakan nutrisi lengkap untuk tanaman yang mengandung unsur utama seperti Nitrogen (N), Posfat (P), Kalium (K), serta unsur mikro seperti Tembaga (Cu), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Mangan (Mn), Boron (B), Besi (Zn), Sulfur (S), Iron (Fe), Carbon (C), Selenium (Se), Oksigen (O), Senyawa yang mempunyai fungsi dan sifat yang sama dipilih dan dan analisis, dikumpulkan, diinkubasi dalam kondisi khusus untuk proses kestabilan, lalu dengan bantuan unsur-unsur yang alamiah diprogram dan diproses lebih lanjut (mengaplikasikan bio-teknologi modern) membentuk sel plasma (plasmid) yang berkemampuan menghasilkan protein  yang berbeda (yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan pembuahan tanaman), dengan melakukan proses pembelahan diri (self-multiplying system) sehingga memastikan pemupukan yang konstan dan progresif bagi pertumbuhan, daya tahan (kesehatan), pembuahan (melalui tingkat nutrisi yang tinggi dan lengkap) dan tingkat kesuburan tanaman dan tanah.
MEKANISME
Dinding sel plasma dalam bentuk molekul dari BSP-ELF yang reaktif akan terbuka jika bersentuhan (disemprot) terhadap sel tanaman dan masuk ke dalam sel tanaman (sel tanaman merupakan bagian dari organisme tanaman) lalu membelah diri. Molekul ini mampu hidup terus dan menetap untuk masa yang lama dalam sel tanaman selama siklus pertumbuhan dan perkembangan tanaman berlangsung, sehingga proses pemberian unsur makanan kepada tanaman tersebut PASTI terjamin.

Aplikasi BSP-ELF secara kontinyu pada mikro-organisme dalam tanah, akan meningkatkan unsur utama dan unsur mikro-organisme dalam tanah, ini disebabkan adanya unsur ENZIM dalam BSP-ELF yang akan meningkatkan unsur mikro-organisme dalam tanah maka disebut Bio Symbiotic Plurals Enzymatic Liquid Fertilizer (BSP-ELF). BSP-ELF berarti = Enzim dan nutrisi yang lengkap dan bekerja secara simbiosis dalam peningkatan:
  • Pertumbuhan,
  • Daya Tahan terhadap hama dan cuaca,
  • Pembuahan,
  • Kesuburan tanah,
  • Perbaikan lingkungan (Green & Eco Friendly Product).
Keunggulan :
  • Men-stimulan pertumbuhan akar dan batang tanaman yang lebih baik dan kuat serta tingkat kesuburan tanah.
  • Men-stimulan daya tahan menjadi lebih kuat terhadap perubahan cuaca dan penyakit tumbuhan.
  • Meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam jumlah, berat dan ukuran buah serta bunga tanaman.
  • Mudah diangkut, mudah digunakan dan mudah disimpan.
  • Tidak berbau, tidak beracun, aman digunakan dan ramah lingkungan.
BSP-ELF bereaksi dan bekerja cepat dalam waktu singkat pada tanaman, dapat dengan mudah dilihat munculnya tunas, daun baru dan perubahan warna tanaman jika dibandingkan menggunakan pupuk lain.

Kamis, 07 Februari 2013

Pelarangan impor holtikultura lindungi produk lokal

Jakarta. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa pelarangan impor 13 produk hortikultura hingga enam bulan kedepan bertujuan melindungi produk lokal.

"Kita harus memberikan perlindungan kepada produk hortikultura lokal karena menyangkut hajat hidup petani kita dimasa mendatang," kata Hatta Rajasa seusai rapat koordinasi mengenai RKP 2014 di Gedung Menko Perekonomian di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, perlindungan tersebut terkait pasar dalam negeri. Para Petani lokal kalau mengekspor produk hortikultura mereka susah. Saat ini petani lokal sedang panen sehingga kebutuhan dalam negeri bisa dipenuhi tanpa impor.

"Jadi apa salahnya kalau mereka diberikan perlindungan. Kalau ada gugatan, yah kita hadapi," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Suswono mengatakan pemerintah optimistis dapat memenangkan gugatan AS di World Trade Organization (WTO) tentang pembatasan impor produk hortikultura.

"Kalau ada celah dia (Amerika) untuk memprotes silahkan, tapi kita sudah siapkan jawabannya. Oleh karena itu kami sangat optimistis, kalau memang Amerika fair (jujur-red) bisa menerima penjelasan kita," kata Suswono di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pihak pemerintah Indonesia akan memfasilitasi konsultan. Dimana konsultan tersebut akan memberikan penjelasan kepada World Trade Organization (WTO)/organisasi perdagangan dunia.

Ia mengatakan WTO memberikan waktu 60 hari atau dua bulan kepada pemerintah Indonesia, untuk memberi balasan surat protes yang dilayangkan oleh Amerika. Jika tidak dilakukan maka akan dilakukan arbitrase, dan segera dipublikasikan dalam beberapa hari ke depan.

"Kita tunggu saja jadwalnya, tidak ada masalah," ujarnya.

Amerika Serikat menyampaikan keluhan ke WTO sehubungan dengan Indonesia melakukan pelarangan impor 13 produk hortikultura.

"Ketiga belas produk itu adalah Kentang, Kubis, Wortel, Cabai, Nanas, Melon, Pisang, Mangga, Pepaya, Durian, Bunga Krisan, Bunga Anggrek dan Bunga Heliconia," ujarnya.

Pembatasan tersebut tertuang dalam Permentan Nomor Tahun 2012 dan Permendag Nomor 60 Tahun 2012 tentang Ketentuan impor produk hortikultura.

Keluhan yang disampaikan ke WTO itu menjelaskan lisensi impor dari Indonesia dan penetapan kuota secara tidak langsung signifikan dengan perdagangan, membatasi dampak pada impor.

Senin, 05 Maret 2012

Tunda Saja Pemberlakuan Permentan














Penolakan Impor Holtikultura


JAKARTA.
Penolakan terhadap Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 88, 89,dan 90 tentang pintu masuk produk hortikultura impor kian serius. Gubernur Jawa Timur Soekarwo bahkan sudah membuat Peraturan Gubernur untuk menolaknya setelah sebelumnya mengirim surat langsung ke Presiden, pengamat meminta pemerintah menunda pemberlakuan dan mengevaluasi permentan tersebut.

"Sebaiknya ditunda dulu, pemerintah harus membuat kajian kembali soal permentan itu dan dampaknya. Setelah itu dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat," kata pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar ketika dihubungi Media Indonesia, Minggu (4/3).

Menurut Hermanto, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan dampak terhadap petani setempat yang daerahnya dijadikan pintu masuk produk impor. Penolakan dari Gubernur Jawa Timur itu menunjukkan adanya kekhawatiran permentan yang sedianya akan diberlakukan pada 19 Maret mendatang ini bakal berdampak negatif bagi petani setempat.

"Seharusnya sebelum aturan itu dikeluarkan oleh Menteri Pertanian ada kajian terhadap dampaknya, memangnya dari pemerintah khususnya Kementerian Pertanian mau mengganti jika petani merugi? Saya rasa tidak," tandas Hermanto.

Seperti diketahui, dalam Permentan nomor 88, 89, dan 90 tahun 2011 Kementan membatasi masuknya produk impor hortikultura di beberapa pintu masuk, dari 8 pelabuhan masuk barang impor produk pertanian, hanya empat pelabuhan saja yang diizinkan. Pelabuhan tersebut yakni, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Belawan Medan, dan Bandara Soekarno-Hatta Tangerang.

Alasan pemerintah membatasi produk impor hortikultura dengan membatasi sejumlah pelabuhan ini dilakukan untuk meminimalkan risiko masuk dan menyebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) yang kian meningkat. Selain itu masih ada lagi OPTK baru yang belum terdaftar dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38/ 2006. Jenisnya meliputi penyakit virus yang disebabkan oleh Tomato Infectius Chlorosis Crinivirus

Jumat, 04 Maret 2011

Berita Pertanian : Mentan: Fluktuasi Harga Hortikultura Indonesia Memprihatinkan

Kabanjahe. Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan fluktuasi harga hasil-hasil pertanian khususnya hortikultura di Indonesia sangat memprihatinkan. Ketika harga tinggi, tingginya luar biasa dan sebaliknya ketiga harga turun, turunnya signifikan.
“Kalau sebulan yang lalu harga cabai sempat melejit hingga mencapai Rp 100.000 per kg tapi sekarang di Banyuwangi, harga cabai anjlok dan saat ini hanya berkisar Rp 7.000 per kg,” kata Mentan, dalam arahannya pada Launching Ekspor Sayur dan Buah Sumatera Utara ke Singapura dalam Rangka Kerja Sama Indonesia–Singapura di Pendopo Bupati Karo, Kabanjahe.

Karena itu, kata Mentan, untuk menghindari fluktuasi harga yang sedemikian rupa pasar ekspor perlu diperluas, sehingga kestabilan harga di dalam negeri bisa diatasi. Hanya saja, kata dia, yang menjadi kendala dalam pemasaran di luar negeri adalah kualitas, kontinuitas dan harga.

“Petani kita belum siap untuk menghadapi pasar ekspor. Mutu yang dihasilkan belum memenuhi standar negara tujuan begitu juga dengan kesinambungan produk yang dihasilkan petani untuk dipasarkan para eksprotir kita. Dan, yang paling memprihatinkan lagi adalah soal harga. Kita kalah bersaing dengan negara Thailand dan Vietnam. Artinya, produk hortikultura kita lebih tinggi dari negara-negara lain karena biaya produksi petani kita sangat tinggi,” kata Mentan.

Padahal, lanjut Suswono, pasar ekspor masih terbuka lebar apalagi negara Singapura yang sangat menyenangi produk-produk hortikultura Sumut. Karena itu, Mentan berharap para eksportir dan pengusaha dapat merangkul para petani guna mengisi pasar ekspor tersebut.

Eksportir atau pengusaha harus bisa memberikan masukan soal komoditas yang diinginkan pasar, standar mutu yang ditetapkan negara tujuan dan lain sebagainya. “Sehingga petani kita bisa memproduksi produk-produk yang diinginkan pasar yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan mereka, seperti yang dilakukan oleh PT Horti Jaya Lestari terhadap petani di Kabupaten Karo ini,” ujarnya.

Petani juga, kata Mentan, harus bisa memproduksi produk yang telah disepakati dengan pihak perusahaan atau eksportir. “Jangan karena harga di pasar tradisional tinggi, kemudian petani menjualnya padahal kontrak sudah diteken dengan pihak perusahaan,” kata Mentan sembari berharap para petani harus bergabung dalam kelompok tani. Dengan begitu akan memudahkan petugas dari Dinas Pertanian dalam melakukan penyuluhan.

Mengenai pasar tani Mentan mengatakan, sangat penting. Sebab, dengan adanya pasar tani akan lebih optimal dalam mendistribusikan produk-produk segar dari petani dengan harga yang lebih berkeadilan. Melalui pasar tani juga diharapkan terjadi perubahan paradigma petani yang tadinya hanya sebagai produsen juga menjadi pemasok.

“Saat ini, telah terbangun 32 pasar tani di 16 propinsi termasuk di Sumatera Utara. Di Sumut sendiri ada dua pasar tani yakni di Kota Medan dan Kabupaten Simalungun dan tahun ini akan segera dikembangkan lagi di Pematangsiantar,” kata Suswono.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Gatot Pujonugroho mengatakan, ekspor hortikultura Sumut saat ini memang jauh tertinggal dibanding era tahun 90-an. Namun, dalam kurun waktu enam tahun terakhir, ekspor hortikultura Sumut mengalami peningkatan. Itu dapat dilihat dari volume ekspor tahun 2010 meningkat sekira 3,88% dari produksi 2009.
Produksi sayuran Sumut 2009 mencapai 966.319 ton sedangkan produksi buah-buahan sebanyak 930.213 ton. Buah-buahan potensial menurut Gatot, adalah jeruk, salak, nenas, rambutan, pisang barangan dan manggis. Dan, produk-produk tersebut sudah diekspor ke Singapura.

Sedangkan sayur-mayur Sumut yang potensial dan sudah diekspor kata Gatot adalah kubis, kentang, tomat, wortel, mentimun dan sayuran berdaun dengan pasar dominan Singapura dan Malaysia. Bahkan khusus untuk kentang, Singapura lebih memintai kentang asal Karo. “Hingga Oktober 2010, ekspor kubis Sumut mencapai19.541,5 ton,” jelasnya.(MB)