Tampilkan postingan dengan label harga hasil pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harga hasil pertanian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Petani Harus Mengetahui Perkembangan Harga

 
Bantul. Petani dididik  untuk mampu  membudidayakan tanaman serta mampu mengembangkan usaha bisnis. "Oleh sebab itu petani harus bisa mengetahui perkembangan harga untuk menentukan kapan akan menjual komoditas," kata staf Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Tomi Setiawan saat Bimbingan Teknis (Bimtek) pelaksanaan Sistem Resi Gudang di Gudang Komoditas Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (10/12).

Menurut Tomi, petani harus belajar bagaimana bisa melihat pergerakan harga komoditas yang terpantau saat ini dibanding harga sebelumnya, begitu juga membaca situasi di pasar kapan harga akan mengalami kenaikan. "Intinya petani bisa mengetahui informasi perkembangan harga, entah itu dari website, melalui pesan singkat (sms) maupun minta tolong kepada pengelola gudang komoditas bahkan dari pemerintah," katanya.

Ia mengatakan, jika petani mengetahui harga, maka bisa menjadi patokan untuk memulai melangkah dalam berbisnis, karena akan tahu hitung-hitungan keuntungan, sehingga bisa dihindari kerugian. "Dengan menyimpan komoditas di gudang SRG saat panen raya yang umumnya harganya rendah, kemudian menjualnya ketika harga tinggi, melalui resi gudang ini juga memudahkan jual-beli," katanya.

Ia juga mendorong, petani untuk berusaha secara berkelompok sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya dan posisi tawar petani tinggi.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Sahadi mengatakan, gudang komoditas SRG di Niten yang telah dibangun sejak 2007 sampai tahun ini fungsinya masih belum optimal.

Menurut dia, belum optimalnya fungsi gudang komoditas khususnya untuk gabah ini diketahui karena setiap tahun dari produksi gabah sebanyak 150.000 ton se Kabupaten Bantul, hanya sekitar 100.000 ton gabah yang tersimpan di gudang.

"Selebihnya atau sekitar 50.000 sampai 60.000 ton ke mana, kami memang belum tahu, tampaknya sosialisasi perlu ke petani langsung, " katanya. (ant)

Rabu, 15 Juni 2011

Berita Pertanian : Harga Lada dan Kopra di Kendari Naik

Kendari. Harga berbagai komoditi andalan khususnya kakao, lada dan kopra di pasaran di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) cenderung bergerak naik namun masih dalam batas yang wajar.

Pantauan di pusat penjualan hasil bumi di Kota Kendari, Rabu, harga kakao kini menjadi Rp18.500 per kilogram yang sebelumnya Rp18.300 per kilogram, kopra Rp9.200 per kilogram yang sebelumnya Rp9.000 per kilogram dan lada dari Rp40.000 per kilogram menjadi Rp40.500 per kilogram.

Sementara cengkeh kini mencapai Rp80.000 per kilogram yang sebelumnya hanya berkisar antara Rp65.000 per kilogram. Kenaikan harga cengkeh itu cukup signifikan menyusul permintaan pasar akhir-akhir ini cukup tinggi, sementara masa panen petani belum tiba.

"Permintaan pasar selama sepekan terakhir ini cukup tinggi, sementara persediaan ditingkat petani dan pengumpul sangat kurang menyebabkan harga langsung naik cukup tinggi," kata Ny Lenny, pedagang pengumpul hasil bumi di Kota Kendari.

Pedagang pengumpul hasil bumi mengatakan, meski stok dua komoditi andalan perkebunan itu masih tergolong kurang, menyebabkan transaksi permintaan pasar dari luar daerah maupun ekspor juga sedikit sepi.

"Sebenarnya permintaan pasar cukup besar akhir-akhir ini, sementara stok yang ada ditingkat petani relatif kurang sehingga menimbulkan gejolak harga," kata Ny Leni pedagang hasil bumi lainnya di kawasan Pasar Wuawua Kota Kendari.

Sementara jenis komoditi andalan lainnya seperti mete gelondongan kopi belum mengalami perubahan yang berarti dan stabil seperti pada pekan sebelumnya.

Para pedagang mengatakan, naiknya harga sejumlah komoditi andalan itu menyusul perminta pasar lokal maupun untuk kebutuhan ekspor mulai meningkat.

Dikatakan, pedagang kini mulai banyak yang langsung membeli ditingkat petani disejumlah daerah sentra di Sultra. sehingga harganya pun terkadang lebih rendah dibanding dengan membeli pada tingkat pengumpul yang sudah mencari keuntungan dari petani.

Begitu pula dengan pedagang dari kabupaten Konawe Selatan, Asman mengatakan, secara umum harga hasil perkebunan akhir-akhir ini belum menunjukkan kenaikan yang berarti karena pedagang dari luar belum ramai yang datang membeli.

Setiap kabupaten di Sultra, katanya, berbeda-beda harga penjualan hasil komoditinya. Di Kabupaten Buton dan Bombana misalnya harga kopra yang biasanya Rp6.000 per kilogram sementara di Kabupaten Konawe dan Kota Kendari ditawarkan Rp5.000 per kilogram.

Kasubdin Perdagangan dalam negeri Dinas Perindag Sultra, H Sahibo, mengatakan perbedaan harga yang terjadi dipasaran merupakan hal biasa dan sudah merupakan mekanisme pasar.

"Jika kualitas yang dihasilkan para petani itu baik, maka tentu nilai jualnya pun akan mahal. begitu pula sebaliknya bila hasil yang djual itu tidak memenuhi standar pasar maka haarganya pun akan dibeli sesuai dengan mutu" katanya Aldi.

Ia menambahkan, harga komoditi andalan yang di jual di Kota Kendari dengan beberapa kabupaten lain di Sultra tidak sama karena dipengaruhi faktor kualitas.

Rincian harga komoditas perkebunan sebagai berikut:
==============================================
Jenis komoditas Harga (Rp)/Kg per tanggal 15/6-2011
--------------------------------------------------------

1. KAKAO:
  • Kakao biji kering Rp. 18.500
  • Kakao biji setengah kering Rp. 15.500
2. KOPI:
  • Kopi biji kering robusta Rp. 18.200
  • Kopi biji kering campuran Rp. 14.000
  • Kopi bubuk robusta Rp. 40.500
  • Kopi bubuk campuran Rp. 30.000
3. KOPRA:
  • Kopra kualitas baik Rp. 9.200
  • Kopra kualitas sedang Rp. 6.700
4. KACANG METE:
  • Biji mete kupas super Rp. 70.000
  • Biji mete biasa Rp. 50.000
  • Kacang mete goreng Rp. 80.000
  • Mete gelondongan Rp. 9.300
5. CENGKEH : Cengkeh kering Rp. 80.000

6. LADA Rp. 40.500

Rabu, 18 Mei 2011

Berita Pertanian : Harga Beras Merangkak Naik Rp200/Kg di Lampung

KOTABUMI. Harga beras di Kabupaten Lampung Utara merangkak naik antara 3%—4% per kilonya. Akibatnya, omzet penjualan beras pedagang di Pasar Sentral Kotabumi merosot tajam 30%—50% dari omzet semula.

Hal tersebut dikatakan Narti, salah satu pedagang beras di Pasar Sentral Kotabumi, saat ditemui di kiosnya, Selasa (17-5). Narti mengatakan kenaikan terjadi untuk jenis beras asalan dan beras kualitas sedang. Sedangkan untuk jenis beras kualitas pertama, harganya relatif stabil.

Secara terperinci, jenis beras kualitas asalan dari Rp5.800/kg naik menjadi Rp6.000/kg, kualitas sedang jenis IR.64 dari Rp6.000/kg menjadi Rp6.200/kg, dan Pandan Wangi dari Rp6.500/kg menjadi Rp6.700/kg.

"Kenaikan harga terjadi untuk jenis beras kualitas asalan dan kualitas sedang dengan persentase kenaikan harga antara 3%—4% per kilo. Sedangkan untuk beras kualitas pertama di Pasar Sentral Kotabumi, harganya saat ini relatif stabil berkisar Rp8.000/kg," katanya.

Dampak kenaikan ini menjadikan omzet penjualannya menurun 30%—50% dari omzet semula. Kondisi ini juga dikeluhkan pedagang beras lainnya. "Dulu dalam sehari paling tidak beras yang terjual berkisar 4—5 kuintal. Sejak kenaikan harga dalam dua pekan terakhir, beras yang terjual per harinya turun drastis berkisar 2—3 kuintal saja," katanya.

Menurut Narti, naiknya harga beras kemungkinan karena jumlah pasokan beras di Kotabumi berkurang. Di tempat terpisah, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Lampung Utara Nourel Islamy saat dihubungi via telepon membenarkan hal tersebut.

Menurut dia, selain dipicu kurangnya jumlah pasokan, juga dipicu oleh telah berlalunya panen raya padi di Lampura. "Kenaikan harga beras yang terjadi dalam dua pekan terakhir masih dalam taraf wajar dan belum mengarah ke kejadian yang luar biasa" ujar Nourel.

Rabu, 04 Mei 2011

Berita Pertanian : Panen Cabe Melimpah, Harga Cabe Jadi Murah!







MAGELANG. Harga cabe di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dalam sepekan terakhir menurun tajam. Harga di tingkat petani hanya berkisar Rp 10 ribu per kilogram, padahal sebelumnya bisa mencapai lebih dari Rp 80 ribu per kilogram.

Menurut Haryono, petani cabe asal Sewukan Dukun Kabupaten Magelang, kondisi tersebut terjadi karena banyak petani di lereng merapi yang sebelumnya mengungsi pasca erupsi kemarin, kini tengah panen raya. Akibatnya, stok melimpah sementara permintaan stabil. "Ini sudah menjadi hukum pasar," kata Haryono, Rabu (4/5/2011).

Diakui, lahan pertanian di wilayahnya yang sebelumnya rusak 'tertimbun' abu merapi, kini sudah bersih dan kembali dapat ditanami. Bahkan, banyak petani yang saat ini tengah menikmati hasil panennya. Sayangnya, komoditas sayuran yang dipanen tersebut, mayoritas sama. "Akibatnya stok melimpah dan harga turun," ujarnya.

Untuk cabe kriting merah yang sebelumnya mencapai Rp 80 ribu per kilogram, kini hanya 5 ribu per kilogram. Untuk cabe keriting hijau dari Rp 50 ribu per kilogram, kini hanya Rp 3 ribu per kilogram.

Hal yang sama juga untuk cabe rawit merah dan hijau. Jika sebelumnya mencapai Rp 100 ribu per kilogram, kini hanya Rp 20 ribu per kilogram untuk rawit merah. Rp 6-7 ribu dari Rp 60 ribu per kilogram rawit hijau.

Sementara, beberapa komoditas sayuran yang kini naik, adalah tomat, kacang panjang dan buncis. Untuk tomat dari Rp 500 per kilogram, kini mencapai Rp 2 ribu. Sedang kacang panjang dari Rp 1.000 menjadi Rp 2-3 ribu per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada buncis dari Rp 750 per kilogram, kini menjadi Rp 2 ribu per kilogram.

"Kenaikan ini akibat banyak tanaman yang rusak terkena hama dan penyakit. Seperti tomat, banyak tanaman yang mati karena diserang hama. Padahal, tanaman yang mati itu, kebanyakan sudah siap panen," kata Ratmi, petani sayuran dari Sengi Dukun Magelang.

Senin, 02 Mei 2011

Berita Pertanian : Harga Kacang Tanah Merosot, Petani Resah









ACEH BARAT DAYA.
Petani kacang tanah di Kabupaten Aceh Baratdaya, Aceh, resah. Pasalnya, memasuki musim panen--sejak satu bulan terakhir--harga kacang tanah kering panen tingkat tengkulak di kawasan setempat merosot tajam.

Dari harga sebelumnya berkisar Rp8.000-Rp9.000/kg sekarang trurun menjadi Rp7.000-Rp6.000/kg. Di Desa Alue Pade, Kecamatan Kuala Batee, misalnya, harga jual kacang tanah kering panen ke tengkulak Rp7.000/kg dari sebelumnya Rp9.500.

Di Kabupaten Aceh Barat Daya, salah satu kawasan penghasil kacang tanah di Provinsi Aceh yang memiliki ribuah hektare (ha) lahan kacang tanah. Petani kacang tanah di Desa Alue Pade, Kecamatan Kuala Batee, Ismail, 53, Sabtu (30/4) mengatakan, turunnya harag tersebut sangat mempengaruhi penghasilan petani kacang tanah. Apalagi, biaya produksi dan ongkor kerja semakin tinggi dari tahun ke tahun.

Minggu, 27 Maret 2011

Berita Pertanian : Petani Desak Pemerintah Naikkan HPP

Jember. Petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), mendesak pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras karena dinilai sudah tidak layak.
Ketua Forum Komunikasi Petani Jember, Jumantoro, Jumat (25/3), mengatakan pemerintah tidak meninjau ulang HPP selama dua tahun terakhir karena HPP masih berdasarkan Inpres Nomor 7 Tahun 2009. "Selama ini pemerintah hanya berjanji menyejahterahkan kehidupan petani, namun realisasinya banyak kebijakan yang tidak berpihak kepada petani," tuturnya.

Menurut Jumantoro, berdasarkan Inpres Nomor 7 Tahun 2009 menyebutkan bahwa HPP untuk gabah kering panen (GKP) sebesar Rp2.640 perkg, gabah kering giling (GKG) Rp3.300 perkg, dan beras Rp5.060 per kg. "HPP sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi di lapangan karena biaya produksi menanam padi semakin meningkat akibat anomali cuaca," ucap petani asal Kecamatan Arjasa itu.

Harga beras di pasaran, lanjut dia, sebesar Rp5.500 hingga Rp6.000 per kg, sehingga pemerintah harus meninjau ulang HPP beras, agar tidak merugikan petani.

Ia menjelaskan, tidak naiknya HPP juga menyebabkan Perum Bulog Sub Divre XI Jember tidak bisa menyerap gabah dan beras petani karena harga di pasaran lebih tinggi dibandingkan HPP.

"Banyak petani yang menjual gabah dan berasnya kepada pengusaha beras dengan harga di atas HPP, sehingga stok beras di Bulog menipis," ujarnya menambahkan. (ant)

Selasa, 08 Maret 2011

Berita Pertanian : CUACA EKSTREM , Produksi Jeruk Pamelo Merosot Tajam



Magetan. Produksi jeruk pamelo (Citrus maxima) di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tahun ini merosot tajam hingga 75 persen akibat cuaca ekstrem dan serangan hama penyakit. Sebagian besar petani jeruk terpaksa memanen dini.

Di sentra perkebunan jeruk pamelo di Kecamatan Bendo, misalnya, produksi buah rata-rata turun 50-75 persen per pohon. Namun menurut data Dinas Pertanian Magetan, penurunan produksi rata-rata hanya berkisar 30 persen per pohon.

Petani jeruk pamelo asal Desa Dukuh, Sanah (73), Senin (7/3), mengatakan, pada tahun lalu rata-rata setiap pohon mampu menghasilkan 50-100 buah jeruk. Namun tahun ini hanya menghasilkan paling banyak 25 buah.

”Banyak bunga yang rontok karena diguyur hujan. Waktu pembuahan seharusnya pada musim kemarau. Kemarin masih hujan sehingga proses pembuahan kurang berhasil,” ujarnya.

Suparno, petani lainnya, menambahkan, jika satu hektar tanaman biasanya mampu menghasilkan 6.000 buah jeruk pamelo, saat ini hanya sekitar 2.000 buah. Itu pun harus disertai dengan usaha lebih keras, seperti merawat buah dengan cara membungkus satu per satu.

Petani jeruk pamelo kian dipusingkan dengan serangan hama penyakit, seperti lalat buah dan penyakit bintil-bintil pada lapisan kulit jeruk. Untuk meminimalkan kerugian, petani melakukan panen dini buah.

Kepala Dinas Pertanian Magetan, Eddy Suseno, menyebutkan, penurunan produktivitas terjadi secara merata di seluruh sentra produsen yang tersebar di Kecamatan Bendo, Sukomoro, Takeran, dan Kawedanan.

Di sentra perkebunan jeruk di Desa Cinta Asih, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, curah hujan yang tinggi memicu timbulnya tumbuhan liar kemuning dan babadotan. Menurut Entang, Ketua Kelompok Tani Karya Tani, Kecamatan Samarang, tumbuhan liar itu menjadi tempat berkembang biak kutu loncat jeruk yang menjadi perantara penyakit citrus vein phloem degeneration (CVPD).

Senin, 07 Maret 2011

Berita Pertanian : Pasarkan Lewat E-Market, Produk Pertanian Perlu Standardisasi

JAKARTA - Produk pertanian perlu menggunakan konsep electronic market (e-market) dalam hal pemasaran. Hal ini dilakukan guna meningkatkan daya saing dengan produk pertanian luar negeri.

Demikian disampaikan oleh Ketua Yayasan Coop Indonesia, Adi Sasono, di sela acara Agrinex Expo 2011 di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (6/3).

'E-market merupakan sistem pemasaran yang dilakukan secara elektronik. Produknya langsung dilihat melalui sistem, sehingga jarak antara produsen dan konsumen menjadi lebih dekat,' ujar Adi.

Supaya ada kepercayaan di kedua belah pihak, lanjut Adi, maka harus ada beberapa syarat yang harus dilakukan. 'Karena orang tidak dapat melihat wujud barangnya, maka perlu beberapa syarat, misalnya ada standar produk yang dijamin lembaga surveyor independen, terjaminnya ketersediaan produk, dan proses pembayarannya pun juga harus terjamin, tidak boleh ada gagal bayar,' terangnya.

Sebelum menggunakan konsep e-market, ujar Adi, perlu diterapkan adanya standardisasi bagi produk-produk pertanian yang ingin dipasarkan. 'Hanya sayur dan buah-buahan yang nilai ekspornya masih kecil dibandingkan impor. Padahal, negara kita adalah negara penghasil buah terbesar di Indonesia,' kata Adi.

Menurut dia, permasalahan tersebut terjadi karena produk sayur dan buah lokal masih belum memiliki standardisasi yang jelas. Padahal, untuk masuk ke dalam e-market diperlukan terlebih dahulu adanya standardisasi sebuah produk.

Senada dengan Adi, Dirjen P2HP Kementerian Pertanian, Zaenal Bachrudin mengatakan, dengan adanya e-market dapat memberikan keuntungan yang baik bagi para petani. Hal tersebut dirasa dapar memutus tata niaga yang panjang, serta membuat tata niaga baru yang berkeadilan kepada produsen atau petani.

'Tata niaga atau transaksi yang berkeadilan tersebut memiliki beberapa ciri, yakni adanya keikhlasan dimana antara penjual dan pembeli, ada transparansi yang di dalamnya terdapat standarisasi, serta ada harga yang ditawarkan juga sesuai dengan kualitas produk terkait,' terang Zaenal.

Mahal di Ongkos

Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa a mengungkapkan, buruknya kondisi infrastruktur di Indonesia membuat biaya pengangkutan logistik menjadi sangat mahal. Ini yang membuat harga pangan di petani dan di pasar berbeda sangat jauh.

"Sebanyak 14,8% ongkos logistik di Indonesia dibebankan ke harga. Jadi harga di petani dan harga di pasar gap-nya (perbedaan) jauh," kata Hatta ketika membuka acara Agrinex Expo 2011 di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (4/3).

Hatta mengatakan, di Jepang ongkos logistik cuma 4% yang dibebankan ke harga. Jadi perbedaannya cukup jauh dengan kondisi infrastruktur yang berbeda. Karena itu, lanjut Hatta, pemerintah mencanangkan program enam koridor ekonomi yang antara lain tujuannya adalah pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan konektivitas. Tujuan program ini adalah pembenahan infrastruktur sehingga gap harga di sektor pertanian tadi bisa diminimalisir.

Sementara itu, Dirjen Hortikultura Hasanudin Ibrahim mengatakan, luasnya lahan pertanian yang dimiliki Indonesia seharusnya bisa dijadikan pendorong majunya sektor pertanian. Apalagi pasar dalam negeri luas dengan jumlah penduduk terbesar nomor 4 di dunia.

“Jumlah penduduk Indonesia terbesar keempat di dunia. Di Indonesia lahannya luas. Jadi, sudah seharusnya menempatkan pertanian di pilar perekonomian sebagai sumber pendapatan bangsa. Apalagi saat ini perdagangan di Indonesia 80% merupakan perdagangan bahan mentah, dan 20% barang jadi. Ini membuat potensi komoditas pertanian sangat besar," kata Hasanudin di sela acara Agrinex Expo 2011 di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (4/3). "Ada empat yang menjadi tolak ukur kesuksesan di pertanian, yakni swasembada, diversifikasi pangan, peningkatan daya saing dan ekspor, lalu kesejahteraan petani," jelas Hasanudin.

Jumat, 04 Maret 2011

Berita Pertanian : Tahun ini, pertumbuhan ekspor kopi masih negatif



JAKARTA. Ekspor kopi nampaknya masih negatif di tahun ini. Penyebabnya, lagi-lagi faktor cuaca yang kurang mendukung panen kopi.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, ekspor kopi tahun ini masih belum menandakan pertumbuhan yang baik. Padahal beberapa ekspor komoditas mengalami peningkatan. Oleh karena itu, tahun ini, pemerintah akan lebih mendorong peningkatan ekspor kopi.

Data BPS menunjukkan, total nilai ekspor kopi di 2010 hanya US$ 0,81 miliar, turun dibanding 2009 yang senilai US$ 0,82 miliar. Jadi, pertumbuhan ekspor kopi selama 2009 hingga 2010 justru minus 1,2%.

Walaupun ekspor kopi kian merosot, namun tak menyurutkan usaha para eksportir. Ketua Kompartemen Promosi Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Suyanto Husein mengatakan, tahun ini akan melakukan berbagai cara agar ekspor kopi tidak turun lagi. "Setidaknya, ekspor kita tetap dipertahankan seperti tahun lalu, jangan sampai turun lagi," ujarnya.

Suyanto bilang, oleh karena itu, para pengusaha berusaha meningkatkan produksi kopi serta memperluas pangsa pasar ke Rusia dan wilayah Timur tengah. Selama ini, memang ekspor kopi Indonesia terbesar ke negara Amerika Serika, Jepang, dan Eropa.

Terkait krisis Mesir

Adapun, kerusuhan yang sebelumnya terjadi di Mesir bisa berimbas pada ekspor Indonesia. Pasalnya, pasca kerusuhan, Mesir mengalami krisis. Padahal, Mesir menjadi salah satu importir kopi jenis robusta dari Indonesia.

Namun, Suyanto bilang, dampak ekspor kopi robusta tidak terlalu signifikan saat ini. "Pengaruh tetap ada, tapi tidak besar. Sebab, ekspor kopi ke sana juga tidak terlalu besar, dan sampai sekarang ekspor ke Mesir tetap lancar selama terusan Suez tidak bermasalah," jelasnya.

Data AEKI total ekspor kopi pada 2010 mencapai 400.000 ton. Adapun untuk jumlah ekspor tahun ini menurut Suyanto baru bisa dihitung setelah panen raya di bulan Maret hingga April. Sebab, sejak awal tahun asosiasi masih mengekspor kopi dari persedian hasil panen tahun lalu. "Dan kami berharap ekspor tahun ini minimal dapat mencapai angka yang sama seperti tahun lalu," imbuhnya.

Sementara, Mari menyebut, karena kapasitas produksi kopi dalam negeri belum cerah, sedangkan pasar Timur Tengah sangat penting, maka tahun ini pihaknya akan bekerja sama dengan eksportir kopi untuk mendorong ekspor ke wilayah Timur Tengah.