Tampilkan postingan dengan label ubi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ubi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2011

Manisnya Bisnis Donat Ubi


Selain kentang, kini ubi juga bisa menjadi campuran bahan baku pembuatan donat. Potensi bisnisnya masih besar karena ubi yang mempunyai rasa manis alami cocok untuk penderita diabetes. Pemain usaha ini juga masih sedikit.

Ubi (Ipomoea batatas) sering diolah menjadi makanan kecil atau camilan. Tak hanya disajikan dalam bentuk gorengan, kini ubi juga bisa menjadi bahan baku donat layaknya kentang.

Sebagai bahan baku donat, ubi mempunyai tekstur lebih lembut. Tak heran, donat yang terbuat dari ubi kini banyak peminatnya. "Kini ubi bisa menjadi alternatif bahan baku donat," ucap Halim Wibowo, pemilik Oishii Donut, pembuat kue yang tengahnya bolong itu dengan memakai ubi.

Produsen donat asal Surabaya, Jawa Timur, ini bahkan mengklaim sebagai pembuat donat pertama berbahan ubi. "Kami menemukan ubi sebagai alternatif bahan baku donat," ujar Halim. Selain di Surabaya, pembuatan donat ubi juga berkembang di Cimahi, Jawa Barat. Satu pemainnya, Donat Ubi Doni.

Bukan cuma menjadi camilan yang hangat di mulut dan mengenyangkan perut, ubi juga memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan. Selain kaya akan serat, Halim mengatakan, donat ubi memiliki kandungan beta karoten, vitamin A, dan antioksidan yang menangkal radikal bebas.

Tak ketinggalan, Halim pun berpromosi donat buatannya kaya akan kandungan serat larut yang berguna untuk mengikat kolesterol dalam darah. Selain itu, ada juga kandungan oligosakarida yang berfungsi sebagai prebiotik dan kandungan vitamin A, B6, E, serta K.

Berbeda dengan donat kentang, pembuatan donat ubi memiliki beberapa keunikan, seperti tekstur dan warna. Tekstur donat berbahan dasar ubi lebih lembut dari donat kentang. "Warna yang dihasilkan juga lebih beragam tergantung pada jenis ubi yang dipakai," tutur Dian Firdaus, pemilik Donut Ubi Doni.

Aroma donat ubi pun lebih khas. Bahan baku ubi juga memberikan rasa manis alami. "Rasanya tak terlalu manis sehingga penikmatnya tak cepat enek," tutur Halim.

Seperti donat kentang, dalam proses produksi donat ubi, para produsen juga masih menggunakan tepung terigu. "Untuk membuat 1 kilogram bahan donat, biasanya digunakan 200 gram ubi dan 800 gram tepung terigu," ujar Dian. Ubi yang dipakai bisa ubi yang dagingnya berwarna ungu dan kuning.

Dalam satu kali proses produksi donat donat ubi, Donat Ubi Doni bisa membuat hingga 200 donat. Mereka membanderol harga donatnya antara Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per buah.

Harga ini tergantung pada ukuran dan jenis topping-nya. Contohnya, harga donat dengan topping gula halus hanya dipatok Rp 2.500. Adapun harga donat berbalut cokelat Rp 3.500 dan donat bertabur keju Rp 4.000.

Dian juga menjual donat berisi selai dengan harga Rp 5.000 per buah. Selain di Cimahi, Dian juga sudah memasarkan donat ubi di Bandung dan Jakarta. "Banyak juga teman saya di luar kota yang memesannya," tutur Dian.

Meski skala usahanya masih mungil, dalam sebulan Dian bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 15 juta. Adapun Halim, yang hanya menjual donatnya di Surabaya, bisa meraup omzet antara Rp 10 juta sampai Rp 12 juta.

Halim juga menjamin donatnya bisa bertahan hingga 36 jam. Melihat potensi pasar donat ubi yang besar, ia pun berniat membuat cabang baru. (kompas)

Jumat, 04 Februari 2011

Berita Pertanian : Bappenas: Food Estate Jangan Gusur Pangan Lokal

Jakarta. Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Lukita D Tuwo mengingatkan agar pengembangan food estate atau kawasan pertanian pangan di wilayah Indonesia timur seperti Papua dan Maluku tidak menggusur keberadaan pangan yang sudah ada di wilayah itu seperti sagu dan ubi.

"Diversifikasi pangan juga penting sehingga jangan sampai dengan adanya pengembangan tanaman padi kemudian yang dulu sudah ada seperti sagu menjadi hilang," kata Lukita di Gedung Bappenas Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan, pemerintah saat ini merencanakan pengembangan produksi pangan nasional dan kawasan Timur Indonesia mendapat perhatian cukup besar.

Penduduk di wilayah Indonesia timur, kata Lukita, saat ini sudah banyak yang juga mengkonsumsi beras sehingga pemerintah mulai mengembangkan kawasan itu untuk dapat juga memproduksi beras.

"Sekarang dengan makin banyak penduduk yang makan beras (nasi), maka masalah yang muncul kemudian adalah bagaimana menjaga ketersediaan dengan harga terjangkau sehingga bisa mengendalikan inflasi," katanya.

Ia menyebutkan, kawasan timur memang memiliki potensi menjadi produsen pangan nasional terutama dilihat dari lahan yang masih tersedia.

"Lahan sudah ada, infrastruktur juga, tapi orang yang bisa menanam belum tentu ada sehingga tidak bisa serta-merta," katanya.

Ketika ditanya apakah kawasan Indonesia Timur memang rawan pangan, Lukita mengatakan, hal itu sebenarnya terkait dengan masalah manajemen logistik. "Ini harus semakin diperbaiki, kondisi buruk harus diantisipasi supaya harga bisa lebih rata," katanya.

Menurut dia, pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan di wilayah itu juga dalam rangka agar wilayah itu tidak terlalu tergantung pada kawasan lain.

"Perlu pengembangan produksi di sana, sekarang ini hampir semua dari luar kawasan itu termasuk dari Jawa," kata Lukita. (ant)

Senin, 31 Januari 2011

Resep Makanan : Kue Ubi Balut Gula


Bahan-bahan :
  • 150 gr ubi jalar, kukus hingga matang, kupas, haluskan
  • 75 gr tepung terigu
  • 1/8 sdt garam
  • 2 sdm gula pasir
  • 2 sdm air
  • 600 ml minyak goreng untuk menggoreng
Cara membuat:
  • Campur ubi jalar, tepung terigu, dan garam. Uleni hingga kalis. Ambil satu sendok makan adonan, bentuk bulat berlubang di tengah seperti donat. Lakukan hingga adonan habis.
  • Panaskan minyak goreng, goreng hingga matang. Angkat dan tiriskan.
  • Campur gula pasir dan air di atas wajan antilengket, masak hingga gula mengental. Masukkan kue, aduk hingga seluruh bagian terbalut gula. Angkat.
  • Tata di atas wadah saji yang bernuansakan perayaan Imlek.

Untuk 4 porsi

Nilai gizi per porsi:
  • Energi: 207 Kkal
  • Protein: 3,4 gr
  • Lemak: 5,6 gr
  • Karbohidrat: 37,0 gr