Tampilkan postingan dengan label lalat buah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lalat buah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

Lalat Buah Mengganas, Petani Jeruk Gagal Panen

Kabanjahe. Tingginya curah hujan yang terjadi khususnya dalam bulan ini membuat serangan hama lalat buah semakin meningkat. Akibatnya, buah jeruk yang mulai masak pun menjadi gagal. “Saat ini merupakan panen raya bagi para petani jeruk di Kecamatan Kabanjahe, Merek, Tiga Panah, Berastagi, Simpang Empat, Barus Jahe dan Kecamatan Naman Teran. Namun, karena serangan lalat buah jerukpun gagal dipanen,”  kata Juna Pelawi (47) penduduk Desa Aji Jahe, Peraturan Gurusinga (42) penduduk Desa Gurusinga, dan Sardah Sembiring penduduk Desa Kubuculia (52) di masing-masing lokasi ketika di temui MedanBisnis, Selasa (18/12).

Kegagalan petani untuk mendapatkan produksi buah diperparah dengan musim penghujan yang terjadi di kawasan lereng pegunungan Bukit Barisan. Sehingga buah jeruk yang seyogianya bisa dipanen gugur karena gigitan lalat buah.

Juna mengatakan, mulai bulan November, Desember sampai dengan Januari mendatang adalah merupakan panen raya jeruk manis.

“Sudah hampir dua tahun ini kami tidak lagi memiliki kesempatan untuk menikmati panen raya ini. Setiap pagi kami harus mengelus dada melihat buah jeruk berguguran akibat gigitan lalat buah,” katanya lirih.

Sardah, selain petani jeruk juga penangkar bibit jeruk siam madu ini mengatakan, mereka sudah melakukan banyak cara untuk mengendalikan lalat buah. Bahkan mengurung tanaman dengan jaring halus agar lalat tersebut tidak bisa masuk meskipun dengan biaya besar. Tapi, itupun belum membuahkan hasil yang baik. “Saat ini kami meningkatkan penyemperotan insektisida yang sebelumnya dua minggu sekali menjadi satu minggu sekali. Itu pun belum dapat mengatasi,” katanya.

Serangan lalat  buah ini kata Peraturan Gurusing juga membuat harga jeruk anjlok. “Sekarang ini saat kebutuhan petani tinggi menghadapai Natal dan Tahun Baru 2013, di situ pula harga jeruk jatuh dan menjadi antara Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per kg,” sebutnya.

Pihaknya kata Juna dan Peraturan berharap keseriusan Pemkab Karo untuk mengatasi serangan hama lalat buah ini. “Kami juga meminta Pemkab Karo untuk mensubsidi harga alat pengendali lalat buah jika memang ada,” tandas Juna.(MB)

Rabu, 18 Januari 2012

Deptan Selamatkan Jeruk Karo dari Serangan Lalat Buah

Kabanjahe. Direktur Perlindungan Hortikultura Departemen Pertanian (Deptan) Ir Soesilo MSi mengatakan, pihaknya siap menyelamatkan buah jeruk di Kabupaten Karo dari serangan lalat buah. Pihaknya mengajak semua pihak bersineri memerangi serangan hama tersebut.

"Kalau jeruk Karo terserang lalat buah, bukan masyarakat petani jeruk saja yang rugi. tetapi pihak Kementerian Pertanian juga "panas-dingin,". Karenanya, kami sangat memahami keluhan para petani jeruk di Tanah Karo ini," kata Soesilo, Minggu (15/1).

Dia mengatakan hal itu di sela-sela peninjauan lahan kebun jeruk milik Warta Tarigan di Desa Kacinambun, kebun jeruk milik Mimpin Ginting di Desa Manuk Mulia, Kecamatan Tigapanah dan di perkebunan jeruk milik Daniel Ginting di Desa Sukamandi, Kecamatan Merek.

Deptan, lanjutnya, menginginkan agar buah jeruk Karo tampil berkualitas mengingat kebutuhannya tidak saja dirasakan pasar lokal, tetapi juga pasar ekspor. Karenanya, Menteri Pertanian, katanya, terus mendesak agar masalah hama lalat buah ini secara intensif ditangani.

Kementerian Pertanian, lanjutnya, berniat agar lalat buah dapat diselesaikan dengan cara benar sesuai dengan jenis varitasnya dan bagaimana menanganinya secara teknologi, apa yang telah dilakukan selama ini dan bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan, apa kendalanya. "Mudah-amudahan dengan bekerja sama, serangan hama dapat terselesaikan dengan ramah lingkungan," tambahnya.

Selain soal jeruk, Soesilo juga menginginkan agar petani Karo meningkatkan produksi dan kualitas buah-buahan lainnya serta sayuran. Hal ini penting, menyusul tingginya permintaan pasar nasional maupun internasional saat ini.

Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti menyampaikan terima kasih atas perhatian pihak Deptan kepada petani Karo. Menurutnya, sebelum terjadinya serangan lalat buah jeruk, Tanah Karo tidak pernah merasakan krisis ekonomi, termasuk krisis moneter yang terjadi 1998. Namun saat ini, petani di Karo dalam kondisi terpuruk. "Beragam penyakit menyerang tanaman, termasuk jeruk," katanya.

Pemkab Karo, tambahnya, berupaya membantu kesulitan petani, terutama untuk meningkatkan produksi dan kualitas. Tahun 2011, sekitar Rp 1,25 miliar dianggarkan untuk penanganan serangan hama lalat buah secara massal. Tahun 2012, anggaran juga disediakan untuk antisipasi dan penanggulangan serangan hama.

Kamis, 02 Desember 2010

DNA PENCIUMAN LALAT BUAH

by : Sciencedaily

Suatu penelitian baru mengidentifikasi potongan sel DNA gen lalat buah yang dapat mengaktifkan atau menonaktifkan penciuman sehingga membuka jalan bagi penolak serangga yang lebih baik.

Dengan mengacu pada "hidung" lalat buah, ilmuwan Yale telah menemukan sebuah penolak serangga baru yang dapat mengurangi penyebaran penyakit menular dan kerusakan pada tanaman pertanian. Hal ini dikarenakan untuk pertama kalinya mereka meneliti bagaimana mengaktikan atau mengnonaktifkan sekelompok gen yang digunakan dalam membedakan bau sehingga membuka kesempatan menemukan pengendalian serangga yang baru. Sama halnya dalam pengembangan obat baru, peneliti dapat menciptakan zat yang membuat tanaman dan orang-orang "tak terlihat" oleh serangga. Serangga akan menyerang seseorang atau tanaman kemungkinannya menjadi jauh lebih kecil jika kemampuan penciumannya salah, seperti halnya dengan nyamuk akan terganggu oleh bahan aktif dalam penolak serangga, DEET yang memiliki bau asam laktat. Temuan ini dilaporkan dalam edisi 2010 September jurnal Genetics.

Menurut Carson Miller, seorang peneliti yang bekerja Departemen Molekuler, Seluler dan Perkembangan Biologi di Yale University, "Salah satu pertanyaan mendasar dalam biologi adalah, bagaimana sel memilih gen mana yang diaktifkan atau harus non aktifkan? Dengan mempelajari syaraf penciuman lalat buah, kami berharap dapat mempelajari bagaimana sel membuat pilihan-pilihan, serta untuk mengembangkan penolak serangga lebih efektif berdasarkan penciuman bau."

Para ilmuwan mempelajari empat gen dari sekelompok gen reseptor bau di lalat buah. Gen ini mampu membuat lalat memiliki kemampuan untuk mendeteksi aroma yang berbeda. Bagian DNA di depan gen ini berisi informasi yang cukup untuk memberitahu lalat bagaimana mengaktifkan gen pada sel tertentu. Miller membuat gen pelapor penciuman buatan sebuah gen reseptor pada aturan DNA untuk mengendalikan uji gen yang dapat dengan mudah dimonitor perkembangannyai. Dalam sebuah gen reporter yang diciptakan, masing-masing berisi kurang dari aturan DNA yang berlaku. Tujuannya adalah untuk menentukan bagaimana lama waktu terpendek pada batasan aturan namun masih bisa mengontrol pengujian gen normal. Ini membantu Miller dalam mengidentifikasi di mana elemen kontrol yang penting tersebut terletak pada peraturan DNA , dan bagaimana mengaktifkan atau menon aktifkan gen di dalam sel tempat yang membutuhkan pada tempatnya masing masing.

"indera penciuman bau adalah kelemahan bagi banyak serangga," kata Mark Johnston, Editor Kepala jurnal GENETICS, "dan semakin kita belajar tentang reseptor bau maka akan memudahkan dalam melibatkan mereka untuk penanggulangan hama penyakit serangga dan kehancuran tanaman. Penelitian ini merupakan langkah maju dalam melakukan identifikasi mekanisme sangat selektif dari 'gen penciuman bau'

Sumber : Deptan