Tampilkan postingan dengan label Bea Masuk Impor Kedelai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bea Masuk Impor Kedelai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

KEDELAI Tahu dan Tempe Nonlokal

Produksi kedelai domestik saat ini tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan nasional. Untuk mencukupi kebutuhan kedelai yang terus meningkat, Indonesia semakin tergantung pada impor. Kejayaan sebagai produsen besar dunia pun memudar.

Pada awal 1960-an, Indonesia merupakan produsen kedelai ketiga terbesar dunia, hanya kalah oleh Amerika Serikat dan China. Kini, hanya Amerika Serikat yang bisa bertahan.

Posisi China, dan terlebih Indonesia, telah digeser oleh Argentina, Paraguay, Kanada, dan Bolivia. China kini di peringkat keempat. Indonesia dengan produksi tahunan di bawah 1 juta ton tidak berada dalam kelompok sepuluh besar.

Dominasi benua Amerika, yang awalnya ditopang oleh Amerika Serikat dan Brasil, semakin kuat setelah Argentina masuk menjadi produsen utama kedelai. Sementara Asia, yang ditopang oleh China dan India, hanya mampu memproduksi sepertujuh dari produksi negara-negara di Amerika.

Dalam dekade terakhir, produksi kedelai Indonesia tidak bisa melampaui 1 juta ton per tahunnya. Padahal pada masa jaya tahun 1991-1996, Indonesia memproduksi lebih dari 1,5 juta ton per tahun. Angka ini hanya untuk menutup sekitar 80 persen kebutuhan lokal. Kini, kebutuhan kedelai nasional sekitar 2,4 juta ton setahun.

Penurunan produksi kedelai terjadi karena berkurangnya luas areal tanam dan panen serta minat petani dalam menanam kedelai yang merupakan bahan baku industri makanan seperti tahu dan tempe ini. Kedelai pun harus diimpor.

Dalam lima tahun ini, nilai impor kedelai Indonesia naik 30 persen per tahun. Naiknya impor dikarenakan adanya kemudahan tata niaga impor terkait liberalisasi produk pertanian.

Upaya meningkatkan produktivitas kedelai lokal diperlukan. Jika tidak, Indonesia tidak akan mempunyai mekanisme untuk melindungi petani dari serbuan impor pangan. Pengembangan kedelai nasional, terutama yang berbasis kewilayahan, perlu mendapat perhatian.

Produksi kedelai nasional dalam 40 tahun terakhir masih mengandalkan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Aceh, dan Lampung juga menjadi pusat produksi kedelai.

Produktivitas kedelai di daerah-daerah yang sudah menjadi produsen utama ini dapat ditingkatkan melalui kebijakan insentif sehingga meningkatkan minat petani menanam kedelai. Dukungan penguasaan teknologi mulai budidaya hingga pascapanen serta pendanaan juga diperlukan.

Jika upaya tersebut tidak dilakukan, pada masa depan masyarakat Indonesia, yang membelanjakan sekitar 5 persen dari belanja makannya untuk mengonsumsi tahu dan tempe, mungkin tidak lagi menemukan tahu dan tempe dari kedelai Indonesia.

Rabu, 13 April 2011

Berita Pertanian : Usul Bea Masuk Impor Kedelai Perlu Kajian Matang







Jakarta. Usul Kementerian Pertanian agar bea masuk impor kedelai kembali diterapkan perlu dikaji ulang. Hal itu karena pasokan dalam negeri masih belum mencukupi. Dikhawatirkan, penerapan bea masuk akan membebani industri yang mengandalkan bahan baku utama kedelai.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh menanggapi usul Kementerian Pertanian agar bea masuk impor kedelai diterapkan. ”Kami harus hati-hati dalam menilai pasokan sudah normal dan aman. Apakah dilihat dari harga atau jumlah pasokan yang tersedia,” kata Deddy di Jakarta, Rabu (13/4).

Menurut dia, kehatian-hatian tersebut sangat penting mengingat kedelai menjadi bahan baku utama industri rumah tangga (tahu, tempe, kecap), serta industri pakan ternak. ”Bila harga kedelai tinggi, biaya produksi naik sehingga otomatis harga jual ikut naik,” katanya.

Naiknya harga jual akan membebani konsumen dan mendongkrak inflasi. Inflasi tinggi membuat angka kemiskinan naik. ”Dampak ikutannya bisa banyak. Misalnya saja pakan ternak, kalau harganya naik otomatis peternak ayam akan teriak. Belum lagi konsumen tahu-tempe yang selama ini mendominasi. Makanya butuh kajian matang dan mendalam,” tambah Deddy.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono mengatakan, pihaknya tengah mengkaji penerapan kembali bea masuk kedelai Saat ini, tarif bea masuk impor kedelai 0 persen.

Sementara itu, mantan Kepala Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang, Prof Dr Subandi, mengatakan, petani tidak akan pernah tertarik menanam kedelai jika harganya tidak mencapai kondisi 2,5 kali harga jagung atau 1,5 kali harga beras karena kompetisi tiga tanaman padi, kedelai, dan jagung di atas tanah sawah. Artinya, kebutuhan kedelai nasional sekitar 2 juta ton bagi Indonesia harus dipenuhi dari impor.

”Penyebab terus terpuruknya produksi kedelai nasional bukan karena keluhan soal mutu, melainkan karena banjir impor yang terjadi sejak dekade 1990-an,” katanya.