Jakarta. Kamar Dagang dan Industri
(Kadin) Indonesia mengharapkan pemerintah tidak salah melakukan
diagnosis soal pangan agar masalah klasik yang terjadi dari tahun ke
tahun dapat ditemukan solusinya.
"Kemendag dan Kementan terlalu percaya
diri dalam mengelola manajemen pangan nasional, di mana persoalan klasik
pangan, seperti produksi, distribusi dan perdagangannya setiap tahunnya
masih saja berkutat dengan masalah yang sama," kata Wakil Ketua Umum
Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur di Jakarta,
dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (5/2).
Kementan dan
Kemendag, kata Natsir, sudah banyak memiliki jurus untuk menangani
masalah tersebut, namun kenyataannya jurus-jurus pemerintah tersebut tak
kunjung menyelesaikan persoalan, sehingga, pihaknya mengimbau
pemerintah agar bisa berkoordinasi lebih baik lagi dengan para pengusaha
terkait.
Natsir mencontohkan, persoalan klasik setiap tahun
khususnya pangan strategis itu antara lain gula, daging, beras, jagung,
kedelai, bawang, dan pangan lainnya merupakan ritual tahun yang sulit
ditangani pemerintah.
Ia menilai hal itu terjadi karena selama
ini pemerintah tidak mempunyai perencanaan jangka panjang, menangani
masalah secara "ad hoc" dan tidak mempunyai penunjang logistik pangan.
(ant)
BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Kamis, 07 Februari 2013
ips Ampuh : Anak Sulit Makan Sayuran? Coba Tambahkan Gula
KEBIASAAN sehat perlu ditanamkan sejak dini. Ini
penting mengingat adanya rutinitas yang dilakukan setiap hari yang akan
menjadi kebiasaan hingga dewasa. Salah satu kebiasaan yang perlu
diberikan pada anak-anak adalah pola makan sehat.
Memang sulit bagi para orangtua untuk mengajarkan pola makan sehat pada anak-anaknya. Terutama mengonsumsi buah atau sayur. “Kebanyakan anak enggan makan sayur karena mereka tidak menyukai rasanya. Khususnya sayuran berdaun hijau. Sangat sulit membujuk anak agar mau mengonsumsi sayuran ini,” ungkap Fendy Susanto, S.TP dari Nutrifood Research Center, dalam diskusi media bertema Healthy Habit Since Young di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (7/2/2013).
Masa kanak-kanan tentu sangat memerlukan asupan nutrisi yang baik terutama vitamin dan mineral yang membantu pertumbuhan anak Anda. “Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak Anda menyukai sayuran, terutama sayuran berdaun hijau. Salah satunya dengan menambahkan sedikit gula pada sayuran yang Anda masak,” ujar Fendy.
Fendy menjelaskan bahwa gula terbukti ampuh sebagai alternatif bagi anak untuk mau mengonsumsi sayuran. “Dari penelitian di Belanda, anak memang gemar dengan sesuatu yang manis. Misalnya, buah-buahan. Untuk membujuk anak agar mau makan sayuran, gula bisa ditambahkan agar rasa sayuran lebih lezat,” tutur Fendy.
Setelah dua hingga tiga pekan ditanamkan kebiasaan mengonsumsi sayuran dengan gula, Anda bisa mulai mengurangi asupan gula pada makanan tersebut. Lama kelamaan anak akan terbiasa dengan sayuran yang diberikan dan akan makan tanpa menggunakan gula lagi.
“Satu hal yang perlu diingat adalah penggunaan gula yang disesuaikan. Jangan terlalu banyak menambahkan gula pada makanan, karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya, “ tegas Fendy.
Memang sulit bagi para orangtua untuk mengajarkan pola makan sehat pada anak-anaknya. Terutama mengonsumsi buah atau sayur. “Kebanyakan anak enggan makan sayur karena mereka tidak menyukai rasanya. Khususnya sayuran berdaun hijau. Sangat sulit membujuk anak agar mau mengonsumsi sayuran ini,” ungkap Fendy Susanto, S.TP dari Nutrifood Research Center, dalam diskusi media bertema Healthy Habit Since Young di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (7/2/2013).
Masa kanak-kanan tentu sangat memerlukan asupan nutrisi yang baik terutama vitamin dan mineral yang membantu pertumbuhan anak Anda. “Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak Anda menyukai sayuran, terutama sayuran berdaun hijau. Salah satunya dengan menambahkan sedikit gula pada sayuran yang Anda masak,” ujar Fendy.
Fendy menjelaskan bahwa gula terbukti ampuh sebagai alternatif bagi anak untuk mau mengonsumsi sayuran. “Dari penelitian di Belanda, anak memang gemar dengan sesuatu yang manis. Misalnya, buah-buahan. Untuk membujuk anak agar mau makan sayuran, gula bisa ditambahkan agar rasa sayuran lebih lezat,” tutur Fendy.
Setelah dua hingga tiga pekan ditanamkan kebiasaan mengonsumsi sayuran dengan gula, Anda bisa mulai mengurangi asupan gula pada makanan tersebut. Lama kelamaan anak akan terbiasa dengan sayuran yang diberikan dan akan makan tanpa menggunakan gula lagi.
“Satu hal yang perlu diingat adalah penggunaan gula yang disesuaikan. Jangan terlalu banyak menambahkan gula pada makanan, karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya, “ tegas Fendy.
Harus Ada Tim Pengamat Gugur Buah Jeruk Karo
Medan. Penurunan produksi jeruk di
Kabupaten Karo harus menjadi masalah bersama. Petani tidak bisa bekerja
sendiri menghadapi masifnya serangan lalat buah. Namun, muncul dugaan
bahwa penyebab terpuruknya produksi jeruk tidak hanya disebabkan lalat
buah.
“Harus ada tim yang mengamati terjadinya gugur buah sebelum waktunya,” kata Koordinator Pengamat Hama Penyakit (PHP) Karo, Rabu (6/2) di Medan.
Umumnya kata dia, orang memahami keterpurukan produksi jeruk di Karo karena serangan lalat buah. Padahal, yang terjadi adalah banyak buah yang jatuh lebih cepat dari waktu pembusukannya di dahan.
“Mengetahui penyebab terjadinya gugur buah sangat penting karena berkaitan dengan langkah penanganannya. Jika penanganan yang diberikan mulai dari perangkap, obat-obatan, dan perlakuan lain dikhususkan untuk lalat buah sementara ada penybab lain yang tidak bisa diselesaikan dengan penanganan yang diberikan, tentunya akan menjadi sia-sia,” jelasnya.
Faktor lain seperti iklim yang seringkali berubah kata dia, sangat mungkin menyebabkan buah jeruk jatuh lebih cepat dari waktunya. "Nah, setelah jatuh lalu membusuk, dibiarkan menjadi tempat berkembang biaknya hama lain, salah satunya lalat buah," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit Medan Johor, Utema Silan, mengatakan, tidak semua buah jeruk yang gugur disebabkan lalat buah. Penyebab lainnya adalah mati ranting, busuk tangkai buah, dan penggerek buah.
Dikatakannya, lalat buah merupakan hama yang menjadi perhatian secara nasional untuk dikendalikan secara cepat agar jeruk tidak punah. Dalam satu buah jeruk yang diserang lalat buah didalamnya terdapat 4 - 5 ekor lalat buah baik jantan maupun betina.
Lalat buah betina bisa menelurkan 1.200 – 1.500 butir di dalam buah jeruk. Dari jumlah tersebut yang bisa menetas sekitar 800 butir jantan dan betina. "Itu dari satu buah saja, bisa dibayangkan berapa banyaknya jika petani tidak mau menerapkan pola perawatan yang sehat," katanya.
Di Sumut sendiri, lanjutnya, pengendalian lalat buah sudah dilakukan sejak 2002, dengan total pertanaman jeruk di Kabupaten Karo saat itu mencapai 11.700 hektare, 8.900 hektare merupakan tanaman produksi dan 2.800 hektare tanaman muda. Luas serangan lalat buah mencapai 426,50 hektare.
"Di tahun 2012, pengendalian lalat buah kita pusatkan di 4 kecamatan yang merupakan sentra produksi jeruk di Karo, yakni di Kabanjahe, Tiga Panah, Merek, dan Simpang Empat, dengan luasan 50 hektar," tambahnya. (mb)
“Harus ada tim yang mengamati terjadinya gugur buah sebelum waktunya,” kata Koordinator Pengamat Hama Penyakit (PHP) Karo, Rabu (6/2) di Medan.
Umumnya kata dia, orang memahami keterpurukan produksi jeruk di Karo karena serangan lalat buah. Padahal, yang terjadi adalah banyak buah yang jatuh lebih cepat dari waktu pembusukannya di dahan.
“Mengetahui penyebab terjadinya gugur buah sangat penting karena berkaitan dengan langkah penanganannya. Jika penanganan yang diberikan mulai dari perangkap, obat-obatan, dan perlakuan lain dikhususkan untuk lalat buah sementara ada penybab lain yang tidak bisa diselesaikan dengan penanganan yang diberikan, tentunya akan menjadi sia-sia,” jelasnya.
Faktor lain seperti iklim yang seringkali berubah kata dia, sangat mungkin menyebabkan buah jeruk jatuh lebih cepat dari waktunya. "Nah, setelah jatuh lalu membusuk, dibiarkan menjadi tempat berkembang biaknya hama lain, salah satunya lalat buah," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit Medan Johor, Utema Silan, mengatakan, tidak semua buah jeruk yang gugur disebabkan lalat buah. Penyebab lainnya adalah mati ranting, busuk tangkai buah, dan penggerek buah.
Dikatakannya, lalat buah merupakan hama yang menjadi perhatian secara nasional untuk dikendalikan secara cepat agar jeruk tidak punah. Dalam satu buah jeruk yang diserang lalat buah didalamnya terdapat 4 - 5 ekor lalat buah baik jantan maupun betina.
Lalat buah betina bisa menelurkan 1.200 – 1.500 butir di dalam buah jeruk. Dari jumlah tersebut yang bisa menetas sekitar 800 butir jantan dan betina. "Itu dari satu buah saja, bisa dibayangkan berapa banyaknya jika petani tidak mau menerapkan pola perawatan yang sehat," katanya.
Di Sumut sendiri, lanjutnya, pengendalian lalat buah sudah dilakukan sejak 2002, dengan total pertanaman jeruk di Kabupaten Karo saat itu mencapai 11.700 hektare, 8.900 hektare merupakan tanaman produksi dan 2.800 hektare tanaman muda. Luas serangan lalat buah mencapai 426,50 hektare.
"Di tahun 2012, pengendalian lalat buah kita pusatkan di 4 kecamatan yang merupakan sentra produksi jeruk di Karo, yakni di Kabanjahe, Tiga Panah, Merek, dan Simpang Empat, dengan luasan 50 hektar," tambahnya. (mb)
Selasa, 05 Februari 2013
Peternak Minta Pemerintah Perbaiki Tata Niaga Daging
Jakarta. Perhimpunan Peternak Sapi dan
Kerbau Indonesia (PPSKI) meminta pemerintah memperbaiki tata niaga
daging di Indonesia agar kepentingan rakyat termasuk enam juta peternak
sapi dan kerbau di Indonesia tidak terabaikan.
"Hal yang harus dilakukan saat ini
adalah memperbaiki tata niaga daging di Indonesia," kata Ketua Umum
PPSKI Teguh Boediyana di Jakarta, Senin (4/2). Menurut dia, seluruh
kebijakan pemerintah harus selalu mengedepankan kepentingan rakyat kecil
termasuk enam juta peternak sapi dan kerbau di seluruh Indonesia. Ia
mengatakan, saat ini rantai pemasaran daging dari tingkat peternak
konsumen terlampau panjang yang menyebabkan harga daging semakin mahal namun keuntungan peternak tidak sebanding. "Saat ini ada penggemuk, pejagal, pengumpul, hingga pedagang yang menyebabkan jalur tata niaga daging menjadi semakin panjang. Ini harus diperpendek," katanya.
Pihaknya juga meminta pemerintah untuk memperbaiki sarana dan infrastruktur transportasi dari daerah sentra sapi dan kerbau khususnya yang berada di Luar Jawa ke wilayah konsumen daging terbesar di Indonesia yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. "Selama ini ongkos angkut adalah komponen yang paling mahal jadi ini juga harus menjadi perhatian pemerintah," katanya.
Teguh menilai peluang pasar daging dalam negeri harus dimaksimalkan dari produk daging sapi lokal. Sedangkan impor daging, kata dia, seharusnya hanya dilakukan untuk sekadar menutupi kekurangan semata.
PPSKI memproyeksikan produktivitas sapi dan kerbau dari para peternak di seluruh Indonesia akan mencapai 17 juta hingga 18 juta ekor sampai 2014, khusus untuk sapi potong jumlahnya berkisar 15 juta ekor. (ant)
konsumen terlampau panjang yang menyebabkan harga daging semakin mahal namun keuntungan peternak tidak sebanding. "Saat ini ada penggemuk, pejagal, pengumpul, hingga pedagang yang menyebabkan jalur tata niaga daging menjadi semakin panjang. Ini harus diperpendek," katanya.
Pihaknya juga meminta pemerintah untuk memperbaiki sarana dan infrastruktur transportasi dari daerah sentra sapi dan kerbau khususnya yang berada di Luar Jawa ke wilayah konsumen daging terbesar di Indonesia yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. "Selama ini ongkos angkut adalah komponen yang paling mahal jadi ini juga harus menjadi perhatian pemerintah," katanya.
Teguh menilai peluang pasar daging dalam negeri harus dimaksimalkan dari produk daging sapi lokal. Sedangkan impor daging, kata dia, seharusnya hanya dilakukan untuk sekadar menutupi kekurangan semata.
PPSKI memproyeksikan produktivitas sapi dan kerbau dari para peternak di seluruh Indonesia akan mencapai 17 juta hingga 18 juta ekor sampai 2014, khusus untuk sapi potong jumlahnya berkisar 15 juta ekor. (ant)
FPKB minta pemerintah revisi aturan impor pangan
Jakarta. Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI minta pemerintah
untuk meninjau ulang peraturan impor pangan karena menyebabkan impor
bahan pangan ke Indonesia tidak terkontrol.
Ketua FPKB DPR RI Marwan Ja'far dalam pernyataan pers di Jakarta, Senin malam, mengatakan,
Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 59/2012 sebagai pengganti Permendag No. 27 Tahun 2012 tentang Angka Pengenal Impor (API) harus ditinjau ulang karena menyebabkan impor bahan pangan ke Indonesia tidak terkontrol.
"Pemerintah harus menindak tegas importir nakal yang mengakibatkan sengsaranya para petani saat ini," katanya.
Marwan juga minta pemerintah segera membuat peraturan perundang-undangan yang melindungi industri pangan nasional, petani dan rakyat Indonesia, seperti RUU tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani juga harus segera disahkan.
"Pemerintah juga harus melakukan audit kebutuhan bahan pangan nasional yang melibatkan pihak independen," ujarnya.
Menurut dia, audit tersebut diperlukan karena data kebutuhan pangan nasional masih terjadi simpang siur antara lembaga negara yang satu dengan yang lain.
Selain itu, kata Marwan, semua pemangku kepentingan (stake holder) pemerintah, yaitu Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Badan Pusat Statistik, Bulog, dan lain-lain harus duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan pangan Indonesia.(ant)
Ketua FPKB DPR RI Marwan Ja'far dalam pernyataan pers di Jakarta, Senin malam, mengatakan,
Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 59/2012 sebagai pengganti Permendag No. 27 Tahun 2012 tentang Angka Pengenal Impor (API) harus ditinjau ulang karena menyebabkan impor bahan pangan ke Indonesia tidak terkontrol.
"Pemerintah harus menindak tegas importir nakal yang mengakibatkan sengsaranya para petani saat ini," katanya.
Marwan juga minta pemerintah segera membuat peraturan perundang-undangan yang melindungi industri pangan nasional, petani dan rakyat Indonesia, seperti RUU tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani juga harus segera disahkan.
"Pemerintah juga harus melakukan audit kebutuhan bahan pangan nasional yang melibatkan pihak independen," ujarnya.
Menurut dia, audit tersebut diperlukan karena data kebutuhan pangan nasional masih terjadi simpang siur antara lembaga negara yang satu dengan yang lain.
Selain itu, kata Marwan, semua pemangku kepentingan (stake holder) pemerintah, yaitu Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Badan Pusat Statistik, Bulog, dan lain-lain harus duduk bersama untuk menyelesaikan permasalahan pangan Indonesia.(ant)
Sabtu, 02 Februari 2013
Palembang segera miliki taman kupu-kupu
Palembang - Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kota Palembang, Sumatera Selatan, sedang mempersiapkan taman kupu-kupu di kawasan Gandus yang menurut rencana dibuka secara resmi akhir Februari mendatang.
"Taman kupu-kupu tersebut saat ini memasuki proses tahap akhir sehingga secepatnya akan beroperasi," kata Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kota Palembang, Sudirman Tegoeh, Sabtu.
Ia menjelaskan, pemerintah kota mendatangkan tenaga ahli dari Bogor, Jawa Barat, untuk membantu penyiapan taman kupu-kupu yang pada tahap awal akan menjadi tempat hidup tujuh jenis kupu-kupu itu.
Menurut dia, taman kupu-kupu seluas 500 x 500 meter persegi yang sudah dibangun sejak bulan November tahun lalu itu akan disambungkan dengan kebun anggrek yang sudah ada supaya pengunjung bisa menyaksikan keindahan kupu-kupu dan aneka bunga sekaligus.(ant)
Langganan:
Postingan (Atom)


