Tampilkan postingan dengan label harga daging sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harga daging sapi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Pemerintah siap antisipasi harga daging saat puasa

Jakarta . Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menegaskan pemerintah siap mengantisipasi agar tidak terjadi pelonjakan harga daging sapi karena tingginya permintaan saat menyambut puasa pada awal Juli nanti dan Lebaran di awal Agustus.

"Kami sudah bekerja sekarang ya, udah mengantisipasi persiapan puasa dan Lebaran ya," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.

Pemerintah menyadari, konsumsi daging sapi oleh masyarakat pada saat puasa dan menyambut lebaran lebaran jauh lebih tinggi dari biasanya. Hal ini mengingat budaya masyarakat muslim yang lebih memilih konsumsi daging sapi di saat puasa dan Lebaran.

"Ya biasanya kalau Lebaran itu kan orang yang tidak biasa makan daging jadi makan daging, apalagi nanti menjelang Lebaran ya. Semua orang pasti kayak hukumnya wajib beli daging. Jadi demannya waktu itu kan ada `demand shock` (kejutan permintaan) ya namanya," katanya

Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan berbagai opsi untuk mengantisipasi melonjaknya permintaan akan daging sapi pada masa puasa dan Lebaran.

Diantaranya dengan menarik kuota impor daging sapui di triwulan tiga lebih cepat darai seharusnya, untuk memenuhi persedian daging. Diperkirakan kuota di triwulan III sebesar 20 ribu ton dari total impor tahun 2013 sebesar 80 ribu ton.

"Yang kedua kita apa, kita akan memberikan lagi ke Bulog, untuk bisa mengimpor (daging sapi)," katanya.

Selain itu, pemerintah juga akan memperbaiki dan mengatasi hambatan distribusi pasokan di dalam negeri, diantaranya terkait sarana dan prasarana transportasi.

Sementara itu, menurut Rusman, untuk persedian beras menjelang puasa dan Lebaran sangat mencukupi, sehingga tidak perlu dikhawatirkan. "Kalau beras, cukuplah, malah Bulog itu sekarang menghadapi problem pemeliharaan beras karena stoknya terlalu banyak," katanya.

Sabtu, 11 Juni 2011

Berita Pertanian : Jangan Manfaatkan Untuk Naikkan Harga Daging

Jakarta. Pemerintah meminta importir maupun pedagang agar tidak memanfaatkan penghentian ekspor sapi oleh Australia untuk menaikkan harga daging impor.

Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Jumat mengatakan, meskipun Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, namun mereka tetap melakukan ekspor daging.

"Daging impor yang ada harganya tidak mengalami kenaikan, oleh karena itu jangan manfaatkan (penghentian ekspor sapi) untuk menaikkan harga daging (di dalam negeri)," katanya.

Pada kesempatan itu Mentan menyatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Asosiasi Importir Daging Sapi Indonesia (Aspidi) dan Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo).

Kedua asosiasi itu, tambahnya, telah menyampaikan komitmennya terkait dengan kebijakan Australia yang menghentikan untuk sementara ekspor sapi bakalan ke Indonesia selama 6 bulan menyusul dugaan adanya penyiksaaan dalam proses penyembelihan hewan tersebut.

"Mereka komitmen untuk tetap menjaga stabilitas harga sehingga tidak terjadi lonjakan akibat suspense ini," katanya.

Menyinggung upaya yang akan dilakukan untuk menjaga kestabilan harga daging sapi, Suswono menyatakan, dengan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasaran.

"Kami juga akan meminta kepada Kementerian Perdagangan untuk mengawasi agar tak ada yang menaikkan harga (daging)," katanya.

Menurut Mentan, selain sapi sebenarnya masih banyak jenis ternak lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging seperti ayam, domba, kambing, kelinci dan lain-lain.

Sementara itu menyinggung pasokan daging untuk puasa maupun hari raya, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Prabowo Respatiyo menjamin tidak akan terganggu.

Dikatakannya, kebutuhan daging pada hari raya 1431 H atau 2010 sebanyak 61 ribu ekor untuk sapi, 2.871 ekor kerbau, 274.403 kambing dan 58.941 ekor domba.

"Untuk tahun ini diperkirakan tak beda jauh dengan tahun lalu," katanya.

Sementara itu dari total kebutuhan daging setara 2,3 juta ekor sapi per tahun potensi untuk dipotong sebanyak 2,4 juta ekor.