Tampilkan postingan dengan label ekspor beras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekspor beras. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Berita Pertanian : Pemerintah Pertimbangkan Ekspor Beras Premium ke Korsel

Jakarta. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan untuk melakukan ekspor beras jenis premium asal Sulawesi Selatan sebanyak 50.000 ton ke Korea Selatan.

"Kita masih menjajaki karena permintaan itu dari Korea Selatan. Sekitar 50-an ribu ton, sedang kita evaluasi final, ada pasar lah di situ. Ini permintaan Gubernur Sulawesi(Syahrul Yasin Limpo, red) ke Menteri Pertanian(Suswono, red) , nanti kita bahas," ujarnya seusai rapat koordinasi di Jakarta, Rabu (3/8).

Hatta mengatakan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memiliki stok beras premium hingga 200.000 ton yang tidak bisa terserap pasar dan beras tersebut merupakan jenis organik yang berkualitas baik.

"Mereka punya 200-an ribu ton, tapi kita tidak ingin melepas sebanyak itu. Kita ingin menunjukkan ada beras tertentu yang produksi di tanah air memiliki kualitas sehingga kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi ke depan sebagai suplai tidak hanya negeri kita," ujar Hatta.

Sedangkan untuk pengadaan beras dalam negeri, Hatta memastikan Bulog akan meningkatkan ketersediaan stok beras hingga 1,5-2 juta ton sebagai cadangan untuk antisipasi terhadap iklim yang diperkirakan makin bergejolak tahun depan. (ant)

Minggu, 23 Januari 2011

Berita Pertanian : Berhasil Ekspor Beras Organik ke AS

TASIKMALAYA . Keberhasilan petani dari Kabupaten Tasikmalaya mengekspor beras organik ke sejumlah negara sejak 2009 semakin menguatkan tekad pemerintah setempat untuk menjadikan Tasikmalaya sebagai lumbung pangan organik Jawa Barat. Untuk itu, saat ini luas lahan sawah organik yang akan diuji sertifikasi organik terus diperluas.

Terdapat 320 hektar sawah yang dikelola secara organik lebih dari lima tahun oleh petani. Sawah ini telah mendapat sertifikat organik internasional dan perdagangan berkeadilan dari The Institute for Marketology (IMO), sebuah lembaga sertifikasi internasional yang berbasis di Swiss. Dari sawah inilah beras dieskpor ke Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Jerman, dan Uni Emirat Arab (UEA).


"Kami sekarang sedang menyiapkan 50 hektar sawah yang akan diajukan sertifikasi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemudian ada juga 30 hektar sawah yang sudah dikelola secara organik selama tiga tahun yang akan diajukan sertifikasi ke IMO bersamaan dengan perpanjangan sertifikat untuk 320 sawah terdahulu. Di luar itu sedang dikembangkan juga 30 hektar beras hitam yang juga akan dikelola secara organik," tutur Kepala Bidang Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Soni Prayatna, Minggu (23/1/2011).

Dengan modal sawah organik yang ada sekarang dan keberhasilan petani menembus pasar ekspor, kata Soni, pemerintah daerah bertekad menjadikan Kabupaten Tasikmalaya sebagai lumbung pangan organik di Jawa Barat. "Lumbung beras Jawa Barat bolehlah Karawang atau Indramayu, tapi lumbung pangan organik ya Kabupaten Tasikmalaya. Cita-cita jangka panjang kami ingin menjadikan seluruh sawah di Kabupaten Tasikmalaya yang seluas 49.565 hektar menjadi sawah organik," tuturnya.

Soni menambahkan, yang terpenting dari pengembangan sawah organik ini adalah terciptanya lingkungan ekosistem sawah yang sehat yang akan diwariskan kepada anak cucu kita.

Sementara itu, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik Tasikmalaya yang selama ini mengekspor beras organik ke sejumlah negara sedang menantikan mesin penyortir warna beras dan alat vakum bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tambahan alat penyortir warna diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan beras dan menekan biaya produksi sortasi beras secara manual.

Ketua Gapoktan Simpatik Uu Saeful Bahri mengatakan, biaya untuk tenaga kerja penyortir beras mencapai Rp 16 juta untuk 18 ton beras. "Karena proses sortir dilakukan manual, produksi beras organik dalam sebulan hanya 18 ton. Padahal, dalam sebulan permintaan bisa lebih dari itu," ujarnya.

Pengalaman petani di Kabupaten Tasikmalaya, produksi padi organik dari 1 hektar sawah bisa mencapai 12 ton, sedangkan produktivitas sawah konvensional paling tinggi 7 ton per hektar. (kompas)