Selasa, 24 Mei 2011

Sektor Pertanian Sebagai Lapangan Kerja Utama

Sebagai negara perkembangan, pertanian tetap sebagai lapangan kerja utama dalam menyerap tenaga kerja. Hingga Februari 2011 persentase jumlah penduduk Sumatera Utara yang bekerja pada di sektor pertanian menjadi 50,90 persen. Hal ini dikarenakan, sektor ekspor utama dari Sumatera Utara berupa CPO, hasil dari perkebunan sawit.

Kepala bidang Integrasi pengolahan dan Diseminasi Statistik BPS Sumut Didik Koesbianto mengatakan, sektor lain yang mengalami peningkatan persentase adalah sektor transportasi (0,13 poin), keuangan (0,03 poin), jasa kemasyarakatan (2,76 poin) dan sektor lainnya yang terdiri dari sektor pertambangan, listrik dan air (0,42 poin).

Dari 5.953.336 orang yang bekerja di Sumatera Utara pada bulan Februari 2011, status pekerjaan utama yang terbanyak sebagai buruh atau karyawan sebesar 1.744.484 orang (29,30 persen), diikuti pekerja tidak dibayar sebesar 1.474.624 orang (24,77 persen), dan berusaha dibantu buruh tidak tetap sejumlah 1.284.280 orang (21,57 persen), sedangkan yang terkecil adalah pekerja bebas non pertanian sebesar 163.622 orang (2,75 persen).

Secara umum komposisi jumlah orang yang bekerja menurut jam kerja perminggu tidak mengalami perubahan berarti dari waktu ke waktu. Februari 2011, pekerja dengan jumlah jam kerja kurang dari 8 jam perminggu relatif kecil yaitu hanya 51.226 orang (0,86 persen).

Sementara itu, penduduk yang dianggap sebagai pejkerja penuh waktu (full time worker) yaitu pekerja pada kelompok 35 jam ke atas jumlahnya mencapai 3.970.900 orang (66,70 persen).

Sedangkan pekerjaan menurut pendidikan tertinggi, tamatan Universitas atau sarjana mengalami kenaikan, walaupun secara jumlah keseluruhan masih relatif kecil. Jumlah pekerja dengan pendidikan diploma hanya sebesar 167.338 orang (2,81 persen), dan pekerja dengan pendidikan Sarjana sebesar 291.254 orang (4,89 persen). Sedangkan pekerja dengan pendidikan SD ke bawah masih mendominasi yaitu sebesar 2.421.103 orang (40,67 persen).

Berita Pertanian : Takalar Kembangkan Udang Vannamei Organik









MAKASSAR
. Petani di Kabupaten Takalar mulai mengembangkan udang vannamei organik. Uji coba budidaya dilakukan di tambak seluas 70 hektare dan disebari 30 ribu bibit udang. Hasilnya cukup memuaskan hanya dalam waktu dua bulan.

Panen perdana percontohan udang vannamei organik dilakukan oleh binaan Mapasona Sulawesi Selatan, di Kelurahan Lengkese, Takalar, akhir pekan lalu.

Kadir Kelautan dan Perikanan Sulsel, Iskandar yang menghadiri panen perdana mengatakan, percontohan udang vannamei tersebut patut dicontoh. "Ke depannya hal ini akan kita terapkan, apalagi saat ini pasar dunia menginginkan udang yang non kimia," kata Iskandar.

Untuk penyebaran komoditas tersebut, Iskandar mengharapkan pembenihan dilakukan dengan baik. Dia menyerankan petani menerapkan pembibitan udang dengan memberi makanan pelepah batang pisang dicampur pupuk super biota plus. "Kita berharap dengan cara ini mampu mendongkrak produksi udang kita," ucapnya.

Sementara Ketua Mapasona Sulsel Arifin Sarsa mengatakan bahwa produksi udang dengan cara memberi makan batang pelepah pohon ternyata jauh lebih baik dibanding menggunakan pupuk kimia. Mereka telah membuktikannya dengan panen cepat dan hasil melimpah di lahan percontohannya.

"Kalau sebelumnya kita hanya bisa memanen 10 sampai 20 kilogram, dengan pola pembeian makanan dari batang pelepah pisang tersebut, hasilnya bisa sampai 30 kg," jelasnya.

Berita Pertanian : Petani Sambut Gembira Kenaikan Harga Gabah di Aceh

ANDA ACEH. Sejak dua pekan terakhir harga gabah di berbagai kabupaten/kota wilayah Aceh mulai merangkak naik. Kenaikan itu disambut baik para petani gabah di provinsi paling barat Indonesia tersebut.

Di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, misalnya harga eceran Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat tengkulak dari sebelumnya Rp3.100/kg, sekarang naik menjadi Rp3.400/kg.

Sedangkan harga borongan dari sebelumnya Rp 3.200/kg, kini naik menjadi Rp 3.600/kg.

Kemudian, di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur, harga eceran Gabah Kering Panen dari dua pekan lalu Rp 3.000/kg sekarang naik menjadi Rp3.300/kg. Adapun harga borongan dari Rp 3.100/kg, sekarang naik menjadi Rp 3.400/kg.

Hal itu disambut baik para petani padi di Aceh, karena penjualan hasil panen mereka semakin dekat dengan biaya modal atau ongkos produksi.

"Harapan kami harga gabah lebih terkendali agar tidak ada permainan pasar oleh pengusaha besar," kata M Ali petani padi di Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Selasa (24/5).

Informasi diperoleh Media Indonesia dari para tengkulak di Aceh, kenaikan harga itu berkaitan dengan berakhir masa panen. "Seiring berakhirnya musim panen sekarang memang harga semakin tinggi," kata Ibnu tengkulak di Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.

Seperti tahun-tahun sebelumnya para pengusaha besar di Medan, Sumatera Utara, yang membeli gabah dari Aceh, mereka sering membeli gabah dengan harga lebih murah pada saat musim panen. Setelah panen berakhir baru harga itu dinaikkan secara bertahap.

Catatan Media Indonesia, daerah lumbung gabah terbesar di Aceh di antaranya, adalah Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.

Hasil panen di daerah tersebut mampu menutupi kebutuhan lokal dan dipasok untuk pasar nasional.(MI)

Berita Pertanian : Pemerintah Siapkan Insentif Hilirisasi Kopi

JAKARTA. Kementerian Perindustrian tengah mempersiapkan insentif hilirisasi industri kopi. Pemberlakuan insentif tersebut mengacu kepada keberhasilan insentif dan disinsentif industri kakao tahun lalu yang berhasil mengundang investor industri hilir kakao.

"Kita sedang siapkan insentif untuk kopi, ini masih belum diumumkan. Kita ingin agar kopi dimasukkan sebagai bagian dari program hilirisasi sektor agro. Karena kami melihat kopi ini punya prospek untuk produk turunannya. Kalau kita memberi policy untuk downstream, orang lain akan masuk. Saya optimis succes story kita di kakao," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat ditemui di kantornya, Selasa (24/5).

Hidayat mengaku, bentuk insentif tersebut saat ini masih dibahas pejabat Kemenperin. Ia pun belum dapat memastikan akan ada disinsentif dengan bentuk bea keluar seperti yang telah diberlakukan untuk kakao.

Dihubungi terpisah, Dirjen Industri Agro Kemenperin Benny Wachyudi mengatakan, pihaknya tengah menyusun roadmap untuk sektor kopi. Salah satu program yang menjadi bahasan merupakan pengembangan specialty coffee.

"Kita sedang meng-update sejumlah kondisi yang dialami sektor kopi. Programnya menyeluruh mulai dari hulu yakni peningkatan produksi petani, sampai ke hilir, termasuk memperhitungkan aspek perdagangannya," kata Benny.

Persoalan yang dihadapi sektor kopi, lanjut Benny, berbeda dengan sektor industri agro lainnya seperti kakao dan minyak kelapa sawit mentah (CPO). Oleh karenanya, perlakuannya juga akan berbeda. "Investasi di sektor kopi itu berbeda, karena berupa barang konsumsi, ekspansinya bergantung pada arah pasar," tambahnya.

Yayuk mengubah pola pikir petani di desanya


Niat membantu sesama memang tidak bisa diduga kapan datangnya. Sadar akan kemampuannya bisa meningkatkan kesejahteraan petani, Yayuk Sri Rahayu (37) membantu mereka dengan membeli gabah kering, menyediakan bibit dan melatih membuat kompos. Tujuannya: agar petani tidak selalu lebih besar pasak daripada tiang.

Yayuk Sri Rahayu tak pernah mengira akan kembali ke tanah kelahirannya setelah merantau di Jakarta. Pada tahun 2006, Yayuk memutuskan menetap di Desa Putren, Nganjuk, setelah puluhan tahun pergi meninggalkan desanya.

Perempuan yang memiliki latar belakang pendidikan cukup tinggi, yakni sarjana elektro dari Universitas Brawijaya dan master manajemen dari Universitas Gadjah Mada ini kembali ke desanya untuk mengelola tanah pertanian milik keluarganya, bersama suami.

Seiring berjalannya waktu, Yayuk menyadari adanya sesuatu yang mengganggu benaknya. Ia melihat jumlah penduduk yang terus bertambah, namun kondisi ekonomi masyarakat masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Yayuk melihat, penyebab utama adalah banyak petani mengalami kerugian lantaran modal untuk membeli pupuk, obat dan tenaga kerja lebih besar ketimbang uang yang diperoleh dari hasil panen mereka. Hal ini merupakan akibat dari kebiasaan bercocok tanam petani yang kurang produktif.

Kebiasaan para petani yang kurang produktif itu, menurut Yayuk, adalah petani yang langsung menjual hasil panennya yang masih ada di sawah kepada para tengkulak. Dengan sistem ini, sebenarnya, petani tidak mengetahui berapa banyak padi yang mereka hasilkan.

Selain itu, harga jual hasil panen juga lebih rendah daripada harga gabah ketika dalam kondisi kering. Mereka melakukan tindakan ini karena hanya memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk modal cocok tanam musim berikutnya.

Pada tahun 2007, Yayuk dan suami membangun fasilitas penjemuran padi dan gudang padi. Awalnya, fasilitas ini hanya dipakai untuk menjemur hasil sawah milik keluarganya. Namun, karena kapasitasnya cukup besar, tahun 2009, Yayuk pun mulai membeli gabah kering dari para petani.

Ternyata cara ini bisa mengangkat perekonomian petani. Yayuk menghitung, dengan cara penjualan yang lama petani hanya mendapat Rp 12 sampai Rp 13 juta dari satu hektare sawah. Sementara, dengan menjual gabah kering petani mampu mendapat Rp 16 juta sampai Rp 18 juta per satu hektare sawah. Sejak saat itu, Yayuk mempunyai pemikiran untuk membantu para petani.

Pada tahun 2010, Yayuk mulai mewujudkan niatnya untuk memperbaiki tingkat perekonomian para petani. Dengan bantuan petugas penyuluh lapangan setempat, Yayuk menyediakan bibit kepada para petani. Pembayaran bibit ini dapat dilakukan setelah panen. Dengan cara ini para petani pun tidak perlu meminjam dari para tengkulak.

Tak berhenti di situ. Yayuk pun mengajarkan pertanian organik dengan menggunakan kompos, termasuk cara pembuatan kompos.

Maklum, banyak warga Desa Putren yang memelihara ternak sebagai sarana investasi, yang akan dijual ketika panen mereka gagal. "Saya melihat kotorannya kok dibuang begitu saja, padahal bisa diolah menjadi pupuk kompos untuk pertanian organik," ujar Yayuk.

Namun, saat dia memberikan pelatihan pembuatan kompos, banyak petani yang enggan mengikuti pelatihan. Yayuk pun cukup kaget, karena sebelumnya para petani antusias mengikuti program-program yang dia berikan.

Yayuk menduga para petani sudah merasa nyaman dengan pupuk kimia yang tinggal pakai meski mereka harus mengeluarkan modal besar.

Selain itu, para petani menilai hasil panen dengan penggunaan pupuk kompos lebih sedikit. "Padahal bila menggunakan pupuk kompos, petani tinggal mengolahnya saja kotoran hewan dan tak perlu membeli," ujarnya.

Oleh karena itu, kini, Yayuk menyediakan lahan seluas dua hektare sebagai model pertanian organik yang terintegrasi dengan ternak sapi. Pakan sapi diolah dari jerami, sedangkan kotorannya diolah menjadi kompos dan bio-urine.

Yayuk pun berharap, dengan melihat langsung lahan percontohan ini, petani bisa belajar. "Karena kalau mendapatkan teori saja susah bagi para petani" ujar Yayuk.Dengan cara ini, dia yakin banyak petani yang akan tergerak untuk mengikuti langkahnya.

Yayuk juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada ibu-ibu petani yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di rumah. Yayuk mengajarkan mereka sulam pita, benang, pembuatan tas, sarung bantal dan aksesori rumah tangga lainnya.

Bersama seorang pembatik Nganjuk bernama Sri Winarni, Yayuk juga mengajarkan cara membatik pada para ibu rumah tangga. Banyak yang telah dihasilkan kemudian di jual dengan merek Nusantara Indah.

Namun, lantaran bukan fokus utama, pemasaran produk kerajinan dan batik masih terbatas di Nganjuk saja. "Ke depannya, saya akan membuat website khusus," ujar Yayuk.

Dalam usaha mengembangkan desanya ini, Yayuk mengakui, tantangan terberatnya adalah mengubah kebiasaan masyarakat. Tapi, dia tidak menyerah begitu saja karena motivasinya bukan uang semata.

Yayuk ingin melakukan semua ini karena ingin melihat kemajuan di desanya yang masih didera kemiskinan. Sementara, Yayuk dan suami, sampai saat ini masih bekerja sebagai konsultan kualitas untuk sebuah produk kecantikan. "Yang kita lakukan sekarang adalah investasi yang sangat berharga bagi anak cucu kita di masa yang akan datang," ujar Yayuk. (kontan)

Peluang Usaha Pertanian : Ternyata kemitraan sari tebu masih manis


Manis alami sari tebu membuat konsumen bisa melepas dahaga. Kian hari, peminat sari tebu ini pun terus meningkat. Tidak heran, gerai sari tebu terus beranak-pinak, mulai dari gerai kelas gerobak hingga gerai paling mahal yang mengambil lokasi gerai di mal.

Hendrawan Buntaram, pemilik Sari Tebu Jojo Cup di Bandung mengatakan, lima tahun belakangan usaha minuman berbahan dasar tebu terus naik daun. Sementara, Doddy Sularso, pemilik Raja Tebu juga terus menambah mitra yang sudah melewati hitungan seribu.

Kali ini kita akan mengulas tiga kemitraan sari tebu yang pernah ditulis sebelumnya yaitu Sari Tebu Murni, Jojo Cup, dan Juragan Tebu. Ketiga kemitraan ini mendapat penambahan mitra meski jumlahnya bervariasi.


Raja Tebu

Jaringan kemitraan Raja Tebu berdiri tahun 2005 dengan nama usaha CV Raja Tebu. Dulunya, gerai sari tebu ini mengusung nama Sari Tebu Murni. Pemiliknya, Doddy Sularso, hanya memiliki lima gerai sari tebu. Pada April 2010 lalu, total gerai Raja Tebu mencapai 800 gerai.

Kini, jumlah gerai Raja Tebu terus bertambah. Doddy mengatakan, saat ini. ada sekitar 1.000 gerai Raja Tebu yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Doddy mengatakan, pertumbuhan gerai yang pesat ini karena semakin banyaknya calon investor yang tertarik untuk berinvestasi dalam minuman tebu. "Konsumennya terus bertambah karena secara umum masyarakat Indonesia sangat menyukai rasa manis tebu yang menyegarkan," ujar Doddy berpromosi.

Pertumbuhan mitra yang tinggi ini, klaim Doddy, juga karena kemudahan berinvestasi Raja Tebu. Doddy memang tidak memungut biaya royalti. Ia hanya mengharuskan para mitra membeli pasokan tebu darinya agar kualitas sari tebunya tetap terjaga.

Saat ini, Doddy sudah menaikkan biaya investasi untuk setiap paket yang ditawarkannya. Kenaikan biaya investasi ini untuk menyeimbangkan dengan kenaikan harga. Selain itu, Doddy pun menambah produk bakso di dalam paket yang sudah ada. Ia pun akan memasok bakso untuk para mitra. Tambahan bakso ini hanya untuk mitra baru.

Sebelumnya Doddy membanderol paket Kaki Lima Rp 21,5 juta, paket Gerai Motor Rp 39,5 juta, dan paket Mal Rp 28,5 juta. Saat ini Doddy menawarkan paket Kaki Lima dengan investasi Rp 28,5 juta, Gerai Motor Rp 45,5 juta, dan paket Mal Rp 58,5 juta.

Selain itu masih ada dua paket baru yakni paket Gerai Mobil dengan investasi awal Rp 64,5 juta dan paket Cafe dengan investasi Rp 99,75 juta. "Untuk paket mobil dan Cafe memang untuk kalangan ekonomi yang sedikit lebih mapan," ujarnya.

Satu gerai Raja Tebu mampu menjual rata-rata 75 gelas sari tebu per hari dengan harga Rp 8.000 per gelas. Selain itu, Doddy menghitung mitra bisa menjual rata-rata 20 mangkuk bakso per hari dengan harga Rp 5.000. Dengan hitungan itu, menurut Doddy, mitra bisa balik modal antara 6 bulan hingga 10 bulan.


Sari Tebu Jojo Cup

Saat terakhir diliput KONTAN pada Maret 2010, Hendrawan Buntaram memiliki 15 outlet Jojo Cup di Bandung. Hendrawan memulai usaha sari tebu Jojo Cup ini sejak 2008. Saat ini, sudah ada penambahan lima gerai yang ada di Jakarta dan Bandung. Hingga kini, Hendrawan masih belum menaikkan biaya kemitraan dari angka semula.

Hendrawan tetap menawarkan balik modal lima bulan dengan dua paket kemitraan. Pertama, paket Regular dengan investasi Rp 30 juta untuk kerjasama dua tahun. Kedua, paket Premium dengan nilai investasi awal Rp 60 juta untuk masa kerjasama lima tahun.

Untuk kedua paket, mitra mendapat booth, mesin giling tebu, mesin penutup cup, paket promosi, seragam, dan pelatihan. Booth tipe Regular untuk penempatan di ruko dan di depan hipermarket atau minimarket. Paket ini hanya menjual sari tebu asli dan variasi sari tebu.

Sementara, tipe Premium untuk lokasi di foodcourt atau mal. Paket ini menjual sari tebu asli, variasi sari tebu, dan minuman lain seperti teh kesehatan.

Hendrawan mengatakan, satu gerai bisa menjual antara 80 hingga 100 gelas sari tebu per hari. Hendrawan mematok harga Rp 5.000 hingga
Rp 10.000 per gelas. Perkiraannya, jika mitra bisa mengantongi omzet Rp 15 juta hingga Rp 30 juta sebulan, si mitra akan balik modal dalam waktu lima bulan. Hendrawan mengutip biaya royalti 10% dari omzet tiap bulan.

Menurut Hendrawan, biasanya permintaan akan minuman tebu akan meningkat drastis saat bulan puasa. Maka ia pun memperkirakan mendekati bulan puasa, jumlah pebisnis sari tebu ini akan melonjak. "Biasanya naik hampir 50%," ujarnya.

Tentu saja Hendrawan bakal memanfaatkan peluang ini untuk menjaring mitra sebanyak mungkin. Targetnya, di bulan puasa tahun ini ia mampu merambah wilayah Jabodetabek.


Juragan Tebu

Galuh Ikhwansyah, pemilik Juragan Tebu yang menawarkan kemitraan sejak Juni 2010 mengatakan dia mampu bersaing dengan sari tebu yang lain karena rasa sari tebu bikinan Juragan Tebu tidak kalah dari yang lain. Galuh juga bekerja sama dengan petani tebu di Cirebon sehingga dia dapat memasok mitra sepanjang tahun.

Belum lewat satu tahun menawarkan kemitraan, Galih sudah menggaet 25 mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Magelang, dan Bekasi. Galih menghitung mitranya dapat menjual 1.500 sampai 2.000 gelas per bulan. Dengan harga Rp 4.000 per gelas, mitra bisa mengantongi omzet rata-ratanya Rp 6 juta sampai Rp 8 juta.

Galih menawarkan empat paket kemitraan mulai dari yang termurah Rp 8 juta, Paket Gerobak Rp 12 juta, Gerobak Tenda Rp 17,5 juta, dan Paket Booth Rp 22,5 juta.

Mitra Galuh kebanyakan memilih paket gerobak dengan investasi Rp 12 juta. Dengan nilai investasi itu, calon mitra akan mendapatkan peralatan lengkap, mesin giling tebu, tiga pasang seragam, bahan baku tebu untuk 30 porsi, dan 100 gelas.

Setelah beroperasi, mitra harus membeli bahan baku dari Juragan Tebu. Galih memperkirakan, biaya bahan baku ini sekitar setengah dari total omzet mitra per bulan. "Mitra akan balik modal lebih cepat bila ia turun tangan sendiri," ujar Galih.

Seperti usaha lain, syarat penting bagi kemitraan ini adalah lokasi. Galih menganjurkan mitra mangkal di tempat ramai, seperti tempat wisata, sekolah atau tempat lalu lalang kendaraan.

Dengan hitungan mitra bisa menjual 1.500 gelas dan harga jual Rp 4.000, omzet mitra Rp 6 juta per bulan. Ingat, dari jumlah itu, mitra harus mengeluarkan biaya bahan baku setengah dari omzet, biaya operasional sekitar Rp 500.000 dan upah pegawai Rp 1,2 juta. Dengan laba bersih cuma Rp 1 juta, mitra ada baiknya memiliki lebih dari satu gerobak.

Agar omzet lebih besar, Galuh menyarankan mitra rajin berjualan ke tempat seperti konser musik dan pasar malam. Dengan gerai yang mobile, mitra bisa memindahkan lokasi dagangan di pusat keramaian.

Mitra juga bisa bermain di harga jual dengan memperhitungkan kemampuan ekonomi warga sekitar gerai. Di Cirebon, Galih menjual sari tebu Rp 2.500 per gelas. Mitra bisa menyesuaikan harga jual sendiri. Di Jakarta atau Bandung, mitra bisa menjual sari tebu Rp 5.000 atau Rp 6.000 per gelas.

Salak Indonesia Diekspor ke China



SEBUAH berita gembira kepada petani salak Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, tiap minggu jumlah buah salak dari Indonesia mendarat di China mencapai 12 ton, yang selama ini rata-rata tercatat delapan ton lebih per-minggu.

Terlepas dari penggunaan buah salak di daratan China antara lain karena dianggap dapat meningkatkan "libido lelaki", namun bagi eksportir Indonesia, hal terpenting adanya salah satu komoditi buah-buahan dari Indonesia yang mendapat tempat dalam pasar di China. Kabar gembira ini diharapkan akan menggugah para pemilik kebun salak di Tanah Air untuk terus melakukan penanaman salak. Atau, jika sudah berproduksi, agar senantiasa melakukan pemeliharaan yang maksimal, supaya hasilnya makin meningkat termasuk kualitas buah, teristimewa rasanya.

Meski demikian, dua hal patut digarisbawahi yang terkait ekspor buah salak yakni: Pertama, mengenai kemampuan memenuhi jumlah yang dipesan importir China yang disepakati. Untuk hal ini, eksportir diharapkan menjalin kerjasama yang erat dengan petani buah salak di berbagai daerah. Terdapat beberapa sentra penghasil buah salak terkenal dengan mutu cukup baik, seumpama dari kawasan Padangsidimpuan (Tapanuli Selatan) Sumatera Utara, dari Pulau Bali juga Jawa Barat dan sebagainya. Kesepakatan antara eksportir dengan petani buah salak sangat penting, guna menjaga atau menjamin persediaan (stock) buah salak yang akan dikirim ke China. Ketidakmampuan dalam pemenuhan jumlah yang tercantum dalam perjanjian antara eksportir dan importir, akan melahirkan ketidakpercayaan importir dan ini berakibat tidak baik dalam hubungan bisnis.

Kedua, terkait mutu buah salak. Termasuk dalam hal ini citarasa. Ini penting, sebab akan turut mempengaruhi lidah konsumen maupun hasil akhir dalam proses untuk dijadikan sirop atau aneka produk lain dengan bahan baku buah salak tersebut. Kualitas buah salak tentu erat hubungannya dengan proses penanaman sejak dari pembenihan/pembibitan, pemeliharaan perawatan hingga panen dalam usia yang cukup, bukan dipetik mentah. Jangan terjadi prilaku curang seumpama panen awal sebelum waktu, hanya untuk mengejar angka ekspor, tetapi mengabaikan bahkan tidak peduli mengenai mutu buah salak. Begitu pula sisi pengepakan (pengemasan) secara khusus untuk mempertahankan kualitas buah selama dalam perjalanan dari Indonesia ke China, hingga sampai ke konsumen.

Sesungguhnya, dampak positif atas ekspor buah salak ini akan melebar ke sejumlah buah-buahan lainnya. Indonesia yang kaya dengan bermacam buah-buahan, diharapkan dapat mengikuti jejak buah salak yang memasuki pasar luar negeri. Guna perluasan ekspor terhadap buah-buahan lainnya diperlukan kerjasama dan perhatian instansi terkait, pelaku bisnis serta para petani buah-buahan. Dalam era pasar bebas dewasa ini yang makin mengglobal, hubungan dagang bilateral antar negara yang dilakukan antar pemerintah (government to government atau G to G) dapat pula diselenggarakan melalui jalur bisnis (business to business atau B to B).

Berbagai bentuk kontak-kontak bisnis dapat diwujudkan. Tentu kemampuan dalam "networking" sektor ini sangat menjadi salah satu faktor penentu terwujudnya ekspor buah-buahan ke mancanegara. Jadi "link" yang sudah ada sepatutnya dimanfaatkan secara maksimal, sehingga perdagangan antar negara makin berkembang yang mencakup berbagai komoditas. Kalau begitu, keberhasilan ekspor buah salak kiranya dapat menyentuh buah-buahan lainnya. Mari kita lakukan bersama, karena selain diyakini dapat meningkatkan pendapatan rakyat, juga akan menambah devisa negara. Mari meningkatkan produksi buah salak untuk konsumsi dalam negeri, sekaligus untuk ekspor. Pada saat bersamaan, ekspor jenis buah-buahan lainnya juga akan dapat dilakukan.