Selasa, 16 April 2013

Presiden berdialog dengan petani Cilamaya

Cilamaya, Karawang - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdialog dengan para petani di Dusun Jeruk Simer, Desa Rawa Gempol Wetan, Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, Selasa.

"Kami datang untuk melihat langsung kehidupan petani dan nelayan, padi beras dan perikanan, apakah program pemerintah dilaksanakan baik atau tidak. Setelah itu saya mendengar usul dari masyarakat kita, termasuk yang baru saja disampaikan," kata Presiden.

Ia mengatakan permasalahan pertanian yang ada harus segera diselesaikan oleh seluruh kementerian dan dinas terkait supaya semua kebijakan dan program pemerintah berjalan baik dan membawa kebaikan bagi rakyat.

"Demikian juga jika semua pemimpin mendengarkan harapan rakyat maka program akan baik dan tekad, kami datang melihat permasalahan dan dipecahkan bersama," tegasnya.

Selama dialog, para petani antara lain menyampaikan keluhan soal harga komoditas yang turun saat panen, kesulitan pemasaran produk, pola tanam dan keinginan meningkatkan keterampilan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Sementara petugas penyuluh lapangan komponen tenaga harian menyampaikan keluhan soal kepastian untuk menjadi pegawai negeri sipil dan fasilitas untuk meningkatkan kemampuan.

"Itu menjadi pemikiran kami untuk bantu kesejahteraan, saya katakan bertahap sesuai kemampuan negara dan kita akan mengusahakannya. Saya berdoa presiden pengganti saya bisa meneruskan program dan mari kita pilih presiden yang lebih baik dari saya," kata Presiden.

Dalam kesempatan itu Presiden juga memberikan arahan agar pemanfaatan sarana irigasi dan waduk di sekitar Cilamaya dioptimalkan.

Presiden menugaskan Bupati Karawang Ade Swara, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Pertanian untuk meninjau langsung sarana irigasi sekaligus menginventarisir permasalahan yang ada dan menyampaikan laporan dua pekan mendatang.

Dalam acara itu Presiden antara lain didampingi oleh Menteri Pertanian Suswono, Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hassan, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, dan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf. (ant)

Petani Kurang Tertarik Kembangkan Padi Organik

Palembang. Pertani kurang tertarik mengembangkan produk padi organik, karena sulit meninggalkan cara-cara lama.
"Tantangan terbesar, sebenarnya pada pola pikir petani sendiri karena ada keengganan untuk mengubah yang selama ini sudah ada, mengingat telah turun-temurun," ujar Konsultan Bidang Pemberdayaan Masyarakat PT Medco E&P Indonesia Wahyudin di Palembang, Senin (15/4).

Seusai menghadiri seminar "Kemitraan dalan pengembangan agribisnis sumber daya lokal dan display hasil karya gemilang binaan Tanggung Jawab Sosial PT Medco E&P", ia mengemukakan, petani tetap saja berpegang teguh pada cara konvensional meskipun telah diinformasikan bahwa pengelolaan lahan dengan cara organik akan lebih menguntungkan.

Selain produk yang sehat dan ramah lingkungan, pertanian jenis organik ini juga menghasilkan delapan ton padi untuk setiap hektarenya atau unggul sekitar enam ton, serta panen sebanyak dua kali dalam setahun.

"Saat pertama kali dikenalkan di Kabupaten Banyuasin tahun 2009, masih banyak petani yang ragu sehingga hanya mencoba-coba, semisal memiliki total lahan tiga hektare maka yang diperuntukkan organik hanya setengah hektare saja. Namun setelah melihat keberhasilan maka setiap tahun terjadi penambahan lahan," ujarnya.

Meski awalnya sangat lambat yakni hanya menjangkau 5 hektare, namun pada 2012 telah menjadi 40 hektare setelah terjadi penambahan secara bertahap yakni 14 hektare pada 2010 dan 23 hektare pada 2011.

Hasil itu membuat pihaknya optimistis mencapai 60 hektare pada 2013, apalagi kesadaran masyarakat setempat mulai membaik seperti  membuat pupuk kompos dari jerami dan kotoran sapi.
Terkait dengan pemasaran produk padi organik itu, menurutnya sama sekali tidak terdapat kendala berarti. "Para petani biasanya melepas ke pasaran dengan harga Rp9.000 per kilogram, sementara harga itu hanya berselisih Rp1.000 dari beras jenis biasa. Meski relatif lebih mahal tapi permintaan tetap tinggi karena masyarakat telah memahami keunggulan jenis organik," katanya.

Pengembangan padi organik terus diupayakan untuk menekan ketergantungan petani terhadap pestisida.  Pertanian jenis ini merupakan sistem budidaya yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis.(ant)

Pupuk Cair BSP-ELF mempercepat Tanaman Untuk Panen


Pupuk Cair Enzim BSP-ELF terbukti mempercepat pertumbuhan tanaman dan mempercepat waktu untuk panen tanaman.

Kamis, 11 April 2013

Petani Hadapi Musim Tak Bersahabat

Jakarta. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mengungkapkan pada tahun 2013 ini petani akan menghadapi musim yang tidak bersahabat karena adanya fenomena anomali iklim. Ketua Umum KTNA Winarno Tohir di Jakarta, Selasa (9/4) mengatakan  anomali iklim itu akan menyebabkan mundurnya musim tanam 2012/2013.     "Musim tanam 2012/2013 mengalami kemunduran dua bulan, harusnya Oktober tapi nanti baru Desember," kata Winarno dalam diskusi tentang pengadaan gabah oleh Bulog tahun 2013 yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Menurut Winarno, sinyalemen anomali iklim itu sudah diungkapkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak 2010 bahwa waktu musim hujan akan lebih singkat, sementara musim kemarau akan lebih lama. "Perkiraan akhir April atau Mei sudah memasuki musim kemarau," katanya.

Menurut dia, budidaya tanaman padi membutuhkan air yang relatif banyak, namun dengan berpatokan pada prediksi BMKG itu, secara hitung-hitungan petani terutama di Jawa, akan kesulitan memperoleh air.

"Dari 283 zona musim di Indonesia, sekitar 82,7 persen sudah memasuki musim kemarau. Petani menghadapi musim tanam yang kurang bersahabat," katanya.

Dia menambahkan, pemerintah baik pusat maupun daerah perlu secepatnya mengatasi fenomena anomali iklim ini antara lain dengan memperbaiki saluran irigasi dan pembuatan embung untuk menampung air.

Selain itu, apabila memungkinkan modifikasi cuaca di sekitar waduk dengan bantuan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT).    Sedangkan untuk petani, tambahnya, diharapkan melakukan penyesuaian pola tanam sesuai karakter daerah apakah dalam satu tahun petani terus menanam padi atau diselingi palawija.

Winarno mengingatkan kebutuhan beras di Jawa berkontribusi lebih dari 60 persen dari total kebutuhan nasional, apabila budidaya tanam terganggu maka hal itu tentunya akan menganggu ketahanan pangan nasional.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Usaha Dinas Pertanian Jawa Barat (Jabar) Dody FN mengatakan pihaknya tetap optimistis masalah iklim tidak menganggu produksi beras tahun 2013.

Menurutnya, produktivitas padi Jabar mencapai 7,49 ton per hektare gabah kering giling, melebihi standar nasional sebesar 6,86 ton per hektare. Meski begitu, tambahnya, pemerintah senantiasa mengantisipasi segala potensi gangguan dan puso tanaman padi. Upaya yang dilakukan antara lain dengan memfasilitasi sarana dan prasarana seperti bantuan traktor ke masing masing kabupaten/kecamatan.(ant)

Selasa, 02 April 2013

Gula Aren Lebak Bersertifikat Pangan Organik Internasional

Lebak. Gula aren produksi perajin Kabupaten Lebak yang diekspor ke Belanda dan negara lain di Benua Eropa
Dengan sertifikat internasional itu tentu omzet penjualan ke luar negeri meningkat," kata Anwar, penampung gula aren di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, saat dihubungi di Rangkasbitung, Minggu (31/3).

Ia mengatakan bahwa pihaknya saat ini memasok gula aren ke Belanda sekitar 20 ton dengan menggunakan angkutan dua kontainer. Pasokan ini dilakukan secara rutin per bulan sesuai dengan permintaan.

Selama ini, produksi gula cetak asal Kabupaten Lebak diminati masyarakat Belanda sebab gula aren masuk kategori makanan organik dan tidak terdapat bahan-bahan kimia. Meningkatnya permintaan itu, menurut dia, karena dilengkapi dengan sertifikat pangan organik internasional yang dikeluarkan pemerintah. "Kami terbantu dengan keluarnya sertifikat pangan organik internasional sehingga kepercayaan konsumen cukup tinggi," katanya.

Anwar mengatakan, masyarakat Belanda sangat menyukai gula aren Kabupaten Lebak sebagai bahan pemanis minuman maupun aneka jenis makanan. Bahkan, gula aren bisa dicampur pemanis makanan roti. "Kami menjamin gula aren ini alami dan menyehatkan karena tidak terdapat bahan kimia," katanya.

Menurut dia, gula aren Lebak memiliki kelebihan dibandingkan dengan gula aren dari Pulau Sumatera. Keunggulan gula aren Kabupaten Lebak, selain rasanya manis dan beraroma, juga bertahan lama. Oleh karena itu, lanjut dia, wajar jika permintaan ekspor meningkat karena kualitasnya cukup bagus.

Anwar juga menampung produk dari enam kelompok pembuat gula aren binaannya di Kecamatan Sobang, Cigemblong, dan Panggarangan. "Kami bisa memasok gula aren ke perusahaan eksportir di Jakarta sebanyak 20 ton per bulan. Perusahaan itu kemudian mengekspornya ke Belanda," katanya.

Maman, pedagang warga Rangkasbitung, mengaku bahwa dirinya memiliki 200 perajin dan setiap pekan produksinya ditampung. "Kami memasok produk gula aren itu ke luar daerah juga ke luar negeri melalui agen di Jakarta," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong perajin gula aren agar bisa berkembang sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah daerah juga melakukan pembinaan terhadap perajin agar kualitas gula aren yang dihasilkan lebih bagus, dan memiliki nilai jual di pasar lokal maupun mancanegara.
Produksi gula aren saat ini menjadikan andalan ekonomi masyarakat Lebak karena terdapat perkebunan tanaman aren. Hampir sebagian wilayah Lebak terdapat perkebunan aren sebagai bahan baku gula cetak tersebut.

Pemerintah daerah terbantu dengan banyaknya perajin gula aren sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. "Kami melihat perajin gula aren berkembang karena permintaan pasar lokal dan ekspor cukup tinggi," katanya.     

Ia menjelaskan bahwa sentra perajin gula aren di Kabupaten Lebak tersebar di Kecamatan Sobang, Panggarangan, Cibeber, Cilograng, Lebakgedong, Muncang, Cigemblong, dan Cijaku.
Diperkirakan perajin gula aren di Kabupaten Lebak terhimpun dalam 300 kelompok, dengan anggota antara 30--40 orang per kelompok. "Saat ini, kehidupan ekonomi para perajin gula aren lebih sejahtera," katanya. (ant)
bersertifikat pangan organik internasional sehingga permintaan masyarakat

2500 pohon ditanam di bantaran Sungai Ciwulan

Tasikmalaya.
Sebanyak 2500 bibit pohon di tanam sepanjang bantaran aliran Sungai Ciwulan, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagai upaya mengatasi bencana longsor atau abrasi sungai yang sudah mengancam permukiman penduduk.

Penanaman pohon tersebut dilakukan bersama-sama oleh relawan bencana, lingkungan, masyarakat, dan Pemerintah Kota Tasikmalaya, yang berhasil ditanam seluruhnya dalam Kegiatan Kali Bersih Serta Reboisasi Sungai Ciwulan (KEKASIH SRIWULAN), Minggu.

Ketua Panitia KEKASIH SRIWULAN, Ismet mengatakan penanaman pohon tersebut untuk menguatkan kondisi tanah dipinggiran sungai agar tidak mudah longsor atau terjadi abrasi.

"Kegiatan tanam pohon sebanyak 2500 bibit di bantaran sungai ini supaya tidak terjadi abrasi dan longsor," katanya.

Menurut dia, kondisi sungai Ciwulan cukup memprihatinkan dengan banyaknya sampah dan beberapa titik yang sudah abrasi dan mengancam rumah warga tergerus air sungai.

Jika kondisi sungai Ciwulan terus dibiarkan, ia khawatir bencana alam seperti banjir dan longsor terjadi dan merugikan masyarakat, terutama yang tinggal dekat sekitaran aliran sungai.

"Makanya kami lakukan kegiatan membersihkan Sungai Ciwulan dari sampah, dan melakukan reboisasi di bantaran sungai, tujuannya untuk kepentingan kita semua," katanya.

Ia berharap, seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah ikut menjaga dan memelihara aliran Sungai Ciwulan agar tetap asri dan bersih dari sampah.

Bibit pohon jenis picung, trembesi, pilisium, mahoni, dan ketapang, kata Ismet, akan terus dipantau agar dapat tumbuh dengan baik.

"Di bantaran sungai ini minim tumbuhan pengikat tanah, sehingga mudah terjadi longsor," katanya

Inflasi pada Maret tidak murni karena pangan

Jakarta . Inflasi Maret 2013 yang merupakan inflasi tertinggi (year on year) dalam lima tahun terakhir dinilai tidak murni hanya karena kenaikan harga pangan tetapi juga akibat wacana kenaikan harga BBM, kata pengamat ekonomi dari INDEF Enny Sri Hartati.

"Saya tidak yakin inflasi Maret ini "pure" karena bahan makanan, pasti ada dampak dari rentetan ekspektasi inflasi akibat wacana kenaikan harga BBM juga," ujar Enny saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Enny mencontohkan dengan kejadian tingginya inflasi pada awal tahun 2012 akibat pada tahun sebelumnya ada wacana kenaikan harga BBM.

"Mestinya kita kan belajar dengan kejadian 2012. Jadi ketika 2011 lalu kita hiruk pikuk mewacanakan kenaikan BBM, pada Januari Februari 2012 inflasinya tinggi," ujar Enny.

Menurutnya, hal tersebut menjadikan ekspektasi inflasi yang berlebihan di masa yang akan datang.

"Jadi ini yang menyebabkan harga bahan-bahan makanan ini hampir semuanya naik pasti ada kaitannya dengan wacana kenaikan harga BBM itu. Orang juga kalau sudah naikkan harga, susah turunnya kan," katanya.

Selain itu, lanjut Enny, kenaikan harga Tarif Dasar Listrik (TDL) secara bertahap juga dinilai akan menyebabkan terjadinya inflasi berantai.

"TDL ini kan ditentukan tiga kali juga dilema sebenarnya. Kalau kemarin langsung 15 persen itu memang akan sangat menghantam daya beli tetapi dengan bertahap begini ini inflasinya akan berantai terus," kata Enny.

Enny mengatakan, ketika April ini TDL dinaikkan lagi maka pengusaha akan menaikkan harga lagi untuk sektor-sektor industri, begitu pula ketika kenaikan pada tahap ketiga.

"Inflasinya jauh lebih besar kalau dibikin bertahap tiga kali begini kenaikan TDL-nya. Kalau kenaikannya sekali saja pengusaha tidak punya alasan lagi untuk menaikkan harga," ujar Enny.