Tampilkan postingan dengan label pakan ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pakan ternak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

Berita Pertanian : Harga Pakan Itik Naik akibat Hujan

Brebes. Harga pakan itik di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng), terutama nasi aking naik sekitar 20% akibat hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut sejak sepuluh hari terakhir.
Peternak warga Limbangan Kulon, Kecamatan Brebes tersebut mengatakan, setiap musim hujan peternak itik jenis ternak atau itik yang dikandangkan selalu kesulitan mendapatkan nasi aking, meskipun ada namun harganya semakin hari kian melambung.

"Kenaikan dan kelangkaan nasi aking sebagai bahan utama pakan itik disebabkan saat musim hujan proses penjemuran nasi sulit karena sinar matahari berkurang, sehingga warga tidak dapat menjemur sisa nasi mereka untuk dijadikan masi aking," katanya, Senin (7/11).

Peternak itik lainnya, Syarif (45) mengaku kesulitan mendapatkan nasi aking karena jika sudah masuk musim hujan sebagian peternak itik melakukan aksi borong nasi aking dan bekatul untuk persediaan selama musim hujan.

Biasanya kata dia, sebelum musim hujan dirinya sudah menimbun nasi aking untuk persediaan selama tidak ada panas matahari, namun karena harga pakan ternak beberapa bulan lalu sempat naik maka pada musim hujan sekarang dia tidak menimbun nasi aking.

"Kalau cuaca normal sehari rata-rata mendapat pasokan 1-1,5 kuintal nasi aking, tetapi jika sudah mulai hujan seperti sekarang sehari paling banyak satu ton, bahkan bila curah hujan sudah tinggi sehari hanya 25 kilogram dengan harga sebelumnya Rp2.100 per kilogram naik menjadi Rp2.600-Rp3.000 per kilogram," katanya. (ant)

Senin, 24 Oktober 2011

Pelepah Sawit untuk Pakan Sapi



















Mengembangkan ternak sapi ini, dijelaskan Frisda, tidaklah terlalu sulit kalau saja semua dilakukan dengan serius. Terbukti dengan mengganti pakan sapi dari rerumputan dengan pelepah kelapa sawit membuat pertumbuhan sapi menjadi berkembang.

"Bagaimana kita memanfaatkan kekayaan alam yang ada untuk kebutuhan pakan ternak sapi. Lebih ekonomis karena tidak harus mengimpor rumput atau memelihara sebelumnya hingga panen. Karena pelepah dapat terus diperoleh saat panen buah kelapa sawit setiap harinya,” jelas Frida.

Untuk penggunaan pelepah kelapa sawit dalam riset ini, diungkapnya diperlukan sebanyak 2,5 ton perhari atau 350 batang pelepah sawit. Karena kebutuhan pakan untuk sebanyak 181 ekor sapi yang ada saat ini telah mencapai 2 ton perhari.

"Pelepah diperoleh dari setiap memanen buah sawit. Biasanya pelepah yang bagus itu didapat dari usia tanaman kelapa sawit 12tahun karena proteinnya masih lengkap," ucapnya.

Seperti diceritakan Mandor Pembibitan sapi, Ilyas, di tempat pengolahan pakan Kebun Percobaan Bukit Sentang di Dusun Bukit I, Desa Securai Utara, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat itu, pelepah sawit yang dijadikan pakan ternak sebelumnya digiling ke dalam mesin penggiling. Pelepah sawit yang panjangnya sekitar 3 - 4 meter berubah menjadi serpihan-serpihan kecil hampir seperti bubuk keluar dari lubang pipih di bagian lainnya dari mesin tersebut.

Pelepah sawit yang akhirnya menjadi serpihan tersebut nantinya akan dipermentasikan selama satu hari hingga berubah bau seperti tape. Hal itu dilakukan agar aroma yang keluar nantinya bisa menimbulkan nafsu makan sapi. Untuk kebutuhan pakan yang dibutuhkan perekor sapi nya mencapai 18 kg/ekor setiap harinya tergantung berat badan sapi.

"Disini sapi tidak dibiarkan lepas mencari makannya. Karena kalau sapi dibiarkan lepas, banyak yang jadi korban, antara lain, kalau rumput dibawa habis, ia akan makan daun pelepah yang di atas, selain itu, tanah yang diinjaknya berulang kali akan menjadi padat, ini tidak menguntungkan karena buah sawit akan maksimal kalau pelepahnya cukup dan kepadatan tanahnya tidak terlalu rapat," jelas Ilyas.

Untuk memenuhi kebutuhan banyaknya pelepah sawit, setiap hari beberapa orang anggotanya mengambil pelepah sawit dari kebun meggunakan truk kemudian menempatkannya di dalam tempat pengolahan pakan. "Jadi yang di sini setiap hari habis dan berganti lagi setiap hari," katanya. Dari setiap batang pohon sawit, menurutnya yang bisa diambil tak lebih dari 3 - 4 pelepah. Dengan luas kebun sawit sekitar 493 hektar, pasokan pakan untuk sapi tentunya sangat banyak dan tidak perlu khawatir kekurangan.

Di Kebun Percobaan Bukit Sentang ini terdapat 181 ekor sapi jenis Brahman dan sapi lolal yang terbagi dengan usia bervariasi. Ia menjelaskan, pelepah sawit yang sudah dihaluskan tersebut nantinya akan dimasukkan kembali ke dalam mesin pencampur/mikser. Pelepah yang sudah halus dicampur dengan dedak padi, bungkil sawit, tetes tebu dan garam. Kemudian dimasukkan ke dalam karung-karung.

"Saat ini fermentasi baru dilakukan dengan menggunakan karung, nantinya kita akan menggunakan bak-bak fermentasi yang sudah dipersiapkan, Cuma saja untuk saat ini belum bisa digunakan karena beberapa hal," katanya.


Dikatakan Sigit, mengembangkan kegiatan integrasi sawit - sapi tidak sebatas untuk swasembada daging, namun untuk peningkatan produksi ternak sapi dalam rangka swasembada daging dan ekspor, melalui pengembangan sistem pertanian berbasis kelapa sawit.

Dengan keberhasilan riset integrasi sawit-sapi-energi ini, pemerintah dapat mengarahkan suatu model integrasi dengan pola usaha ternak dan sistem usaha perkebunan sawit. Pola usaha ternak dibagi menjadi pola usaha pembibitan dan pembesaran anak (cow calf operation/CCO) dan penggemukan (fattening). Sistem usaha perkebunan sawit dibagi menjadi hanya menghasilkan tandan buah segar dan perkebunan yang dilengkapi dengan industri pengolahan sawit. Model integrasi sawit - sapi tidak hanya memberikan nilai tambah usaha ternak sapi, namun juga terhadap peningkatan produktivitas perkebunan sawit.

Stimulan dan bantuan untuk pengembangan integrasi sawit - sapi dapat berupa soft loan, atau paket yang terkait dengan peralatan, perkandangan, atau ternak dan komponen pendukung sebagai "starter" usaha.

"Selain itu diperlukan dukungan berupa pelatihan, pengawalan, koordinasi, serta monitoring dan evaluasi. Dukungan pembiayaan yang berasal dari APBN, APBD, CSR, maupun sumber-sumber pendanaan lainnya harus disesuaikan dengan tupoksi, mandat dan urgensinya," katanya.

Timbulnya gerakan integrasi sawit - sapi secara swadaya akan dapat terwujud apabila pengembangan integrasi sawit - sapi secara teknis mudah pelaksanaannya, secara ekonomi menguntungkan, dan secara konsep pembangunan pertanian bersifat integratif. Sumberdana untuk kegiatan tersebut selain dari dana APBN/APBD juga dapat berasal dari Kredit Perbankan (KKPE dan KUPS), CSR, swadaya petani atau sumberdana lain.

Paket teknologi pembuatan pupuk organik dari limbah ternak dan limbah lainnya telah semakin berkembang, sehingga perlu didorong pengembangan pemanfaatan limbah ternak sapi pada integrasi sawit - sapi untuk pupuk organik, sehingga dapat mengurangi pemakaian pupuk an-organik di perkebunan sawit.

Hasil kunjungan ke PPKS terlihat dengan jelas bahwa teknologi inovatif pengolahan biomassa yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit dan industri sawit diantaranya daun/pelepah dan bungkil inti sawit (BIS), telah mampu menyediakan pakan lengkap yang murah, berkualitas, dan berkelanjutan. Pengolahan limbah ternak untuk biogas dan kompos/pupuk organik sangat tepat untuk mendukung usaha perbenihan.

Dalam rangka pemantapan dan sosialisasi manfaat kegiatan integrasi sawit - sapi, maka kegiatan diharapkan akan terus berlanjut baik dalam bentuk pengutuhan maupun perluasan. Melalui kegiatan ini pada waktunya nantinya timbul gerakan serupa oleh seluruh petani kelapa sawit secara swadaya, sehingga akan mampu mempersembahkan manfaat ekonomi dan sosial yang cukup besar dalam bentuk peningkatan produksi daging, pendapatan petani dan wilayah serta hemat energi, dan akhirnya menjadi kluster Desa Mandiri Energi (DME).

Pakan yang difermentasikan juga dapat membuatnya lebih lembut. Dan yang terpenting menurutnya, dari fermentasi tersebut bisa meningkatkan kandungan protein sekaligus menurunkan kadar lemak di dalamnya. "Jangan sampai sapi kelebihan lemak, karena sapi yang tubuhnya kelebihan lemak, kurang mampu menyerap protein yang dibutuhkan, akibat selanjutnya sapi bisa menjadi lemah dan kurang tenaga," jelasnya.

Kamis, 30 Juni 2011

Karo Miliki Potensi Besar Kembangkan Kambing di Kebun Jeruk











Medan
. Kabupaten Karo secara potensial dapat mengembangkan sekitar 680.000 ekor kambing mengingat luas tanaman jeruk di kabupaten itu mencapai 17.000 hektare dan merupakan milik perorangan dengan rata-rata pemilikan antara 0,5 hingga 5 hektare.

“Dengan asumsi daya tampung sekitar 40 ekor kambing per hektare lahan jeruk, maka di Karo dapat dikembangkan sekitar 680 ribu ekor kambing atau meningkatkan sekitar 91 persen populasi kambing di Sumatera Utara (Sumut),” kata staf penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut Siti Suryani, Selasa (28/6) di Medan.

Namun demikian, usaha ternak yang baik didukung oleh tersedianya sumber pakan ternak yang berlimpah dengan jumlah dan kualitas yang tepat dan berkesinambungan. Salah satu jenis pakan ternak yang murah adalah hijauan pakan ternak (HPT) yang unggul.

HPT tersebut kata dia harus bersifat spesifik oleh sebab itu perlu diketahui jenisnya secara jelas. Dan, dari hasil pengujian terhadap 6 jenis HPT campuran di bawah tanaman jeruk yang sudah berproduksi di sentra produksi jeruk di Desa Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe menunjukkan tiga jenis rumput HPT unggul, yaitu Ruzi (Brachiaria ruziziensis), Steno (Stenotaphrum secundatum), dan Paspalum (Paspalum gueonarum). “Ketiga jenis rumput ini dapat dikembangkan di kebun jeruk sebagai sumber hijauan untuk ternak kambing,” katanya.

Secara keseluruhan hasil pengujian yang dilakukan selama 2 tahun (2009-2010) ini kata dia, menunjukkan produktivitas hijauan rumput introduksi mulai stabil sejak panen ke empat atau umur sekitar 6 bulan. Di mana hasil hijauan rata-rata berkisar antara 8,76 ton bahan kering (BK) sampai 15,4 ton BK per hektare per tahun atau 54,75 ton - 96,25 ton bahan segar per hektare per tahun.

Hasil hijauan ini cukup untuk menampung 56-97 ekor kambing dewasa per hektare. Dan, berdasarkan kepemilikan lahan jeruk 0,5 hektare per KK, skala usaha ternak kambing dapat mencapai 35 ekor per KK.

Dikatakan Siti, kandungan nutrisi hijauan rumput unggul seluruhnya cukup baik, seperti kandungan protein kasar (11,4 – 13,9 %) dan energi (3,12 – 3,23 Mkal/kg). “Dari ketiga jenis rumput introduksi, rumput steno memiliki kandungan nutrisi yang sedikit lebih baik dibandingkan lainnya. Ini ditunjukkan dengan tingginya kandungan protein kasar dan rendahnya serat kasar,” jelasnya.

Sementara mengenai komposisi botanis tanaman pakan ternak, Siti mengatakan, perkembangan komposisi botanis ditunjukkan oleh perkembangan gulma yang cenderung naik pada campuran rumput paspalum/legum atau steno/legum. Namun secara konsisten dapat ditekan oleh rumput ruzi.

Komponen rumput introduksi tetap mendominasi HPT campuran rumput/legum, dominasi terlihat jelas pada rumput ruzi yang berhasil menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, rumput ini begitu agresif sehingga menekan pertumbuhan legum. Karena itu rumput Ruzi sebaiknya ditanam secara monokultur sedangkan rumput Steno semakin menunjukkan toleransinya terhadap kondisi naungan sehingga cukup sesuai ditanam campur dengan legum arachis.

Kamis, 23 Juni 2011

Berita Pertanian : BPTP Sumut Uji Daun dan Pelepah Kelapa Sawit Jadi Pakan Sapi

Medan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut telah melakukan penelitian terhadap daun dan pelepah kelapa sawit menjadi pakan ternak sapi.

Siti Suryani, staf penyuluhan BPTP Sumut, Rabu (22/6), mengatakan, daun sawit mengandung protein kasar 14,8%, lignin 27,6% dan kecernaan invitro kurang dari 50%, temasuk kualitas biologis medium. “Karena itu disarankan pemberian daun sawit kepada ternak jangan melebihi 20 persen dan sebaiknya diberi perlakuan lebih dulu. Daun sawit diketahui memiliki keambaan, daya serap air dan kelarutan yang lebih tinggi. Nilai keambaan yang tinggi merupakan karakteristik berserat tinggi," ujarnya.

Berdasarkan kriteria tersebut kata Siti, pelepah dan daun sawit termasuk ke dalam pakan dasar. “Pelepah daun sawit dapat menggantikan rumput sampai 80 persen tanpa mengurangi laju pertumbuhan bobot badan sapi yang sedang tumbuh. Pelepah dapat diberikan dalam bentuk segar atau diproses terlebih dahulu menjadi silase,” jelasnya.

Dijelaskannya, penggunaan pelepah sawit dalam bentuk silase pada sapi sebanyak 50% dari total pakan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan harian berkisar 0,62 - 0,75 kg.

Perlakuan fermentasi untuk menghasilkan silase pada prinsipnya untuk preservasi dan konservasi. Pengaruhnya terhadap nilai gizi bahan relatif kecil. Untuk meningkatkan kandungan gizi dalam proses fermentasi dapat ditambahkan urea. "Pelepah sawit menjadi produk silase tidak meningkatkan kecernaan, namun jika menambahkan urea sebanyak 3 – 6 persen akan meningkatkan kandungan protein bahan dari 5,6 menjadi 12,5 atau 20 persen,” ujar Siti.

Menurut Siti, proses pembuatan silase dilakukan dengan mencacah bahan menjadi partikel yang halus. Cacahan diberi salah satu bahan seperti tepung kanji, tepung jagung, onggok atau molases sebanyak 3-5%. Selain itu juga perlu ditambahkan urea 3 – 6 persen kemudian semua bahan dimasukkan ke dalam drum, dipadatkan dan ditutup rapat untuk mempertahankan kondisi tanpa udara (anerob) selama 2-3 minggu. Untuk kemudian bisa digunakan. “Namun, saat silase dibuka, harus dikeringanginkan terlebih dulu,” jelasnya.

Kamis, 10 Maret 2011

Berita Pertanian : Bea Masuk Impor Jagung agar Dihapuskan


Jakarta. Asosiasi Pengusaha Pakan Ternak mendesak pemerintah menghapuskan bea masuk impor jagung. Tersendatnya pasokan dalam negeri dan mahalnya harga internasional membuat kalangan pengusaha kelimpungan. Kenaikan harga bahan baku akan memicu kenaikan harga pakan dan dikhawatirkan memukul sektor peternakan.

”Harga jagung di pasar internasional terus naik. Untuk pengiriman bulan April, harganya sudah menembus Rp 3.300 per kilogram jagung pipil kering. Padahal, bulan lalu harganya masih Rp 2.400 per kilogram. Di dalam negeri pasokan jagung sudah tidak ada karena sebagian besar petani menanam padi. Mereka tak mau ambil risiko menanam jagung karena curah hujan masih tinggi,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Pakan Ternak Sudirman di Jakarta, Rabu (9/3).

Menurut dia, tahun ini impor jagung diperkirakan mencapai 2 juta ton. Padahal, tahun 2009 posisinya masih sekitar 400.000 ton. ”Tahun 2009, sekitar 93 persen kebutuhan jagung untuk pakan ternak masih dipenuhi dalam negeri, tetapi tahun 2010 kondisinya berubah drastis karena hanya sekitar 75 persen yang bisa dipenuhi. Tahun ini akan turun lagi jadi 60 persen saja,” kata Sudirman.

Makin berat

Kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak per tahun mencapai 5,5 juta ton. Jumlah tersebut dipakai untuk menyuplai 50 pabrik pakan ternak.

”Kalau bea masuk masih 5 persen, posisi kami makin berat karena biaya produksi akan membengkak tajam. Kami sudah menaikkan harga jual pakan dari Rp 4.700 per kilogram menjadi Rp 5.300 per kilogram. Kalau harus menaikkan lagi, lalu bagaimana dengan nasib peternak,” katanya.

Sudirman menambahkan, selain penghapusan bea masuk, pihaknya juga telah meminta Kementerian Pertanian untuk serius menaikkan produksi jagung. ”Kalau pasokan dalam negeri memadai, kami tak perlu impor karena impor itu merepotkan. Untuk sekali pembelian kami harus membeli setidaknya 600.000 ton,” tambahnya.

Sementara itu, kenaikan volume impor tak hanya terjadi pada jagung, tetapi juga kedelai. Menurut Ketua Umum Dewan Kedelai Nasional Benny A Kusbini, ketergantungan kedelai impor masih sangat tinggi, yakni berkisar 1,7 juta ton per tahun. Tanpa penanganan serius, target swasembada kedelai tahun 2014 tidak akan tercapai.

Untuk mencapainya, pemerintah tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada petani. ”Bagi petani, harga kedelai selama ini belum kompetitif sehingga mereka tidak menanamnya secara optimal. Harga kedelai lokal selama ini berkisar Rp 6.000-Rp 6.500 per kilogram, sementara harga kompetitifnya Rp 7.000-Rp 7.500 per kg,” ujarnya.

Jumat, 25 Februari 2011

Berita Pertanian : Mengolah limbah singkong menjadi pakan ternak bergiz


Limbah industri pengolahan singkong ternyata bisa bermanfaat sebagai pakan ternak. Tentu saja, limbah industri singkong yang sering disebut onggok ini harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu untuk menjadi pakan ternak yang mempunyai nilai gizi tinggi.

Untuk menjaga keseimbangan lingkungan di sekitar pabrik tapioka, limbah dari industri pengolahan singkong ini harus dikelola. Banyak orang memanfaatkan limbah tapioka atau sering disebut onggok untuk pakan ternak. Selain itu, onggok juga disulap menjadi bahan baku obat nyamuk bakar.

Di Lampung Barat, banyak terdapat industri pengolahan ketela kayu. Baik yang berskala kecil seperti industri rumahan hingga berbentuk badan usaha semisal CV. "Banyak pabrik tapioka yang tak memahami cara pengelolaan limbah mereka," ujar Radian, pengolah onggok.

Setelah ada penelitian tentang manfaat onggok sebagai pakan ternak, baru masyarakat sekitar pabrik ramai-ramai mengolah onggok untuk dijual ke pabrik pakan ternak.

Meski limbah, onggok masih memiliki kandungan karbohidrat sebagai sumber energi, nilai gizi, protein, lemak, dan air yang tinggi. Oleh karena itu, onggok memang cocok menjadi pakan hewan ternak.

Apalagi, ternak yang diberi asupan onggok cenderung lebih gemuk, sehat, dan bobot badannya lebih berat. "Onggok biasanya diberikan kepada ternak dengan cara ditumbuk seperti dedak," tutur Kristo Agung, Manajer CV Padang Berlian.

Proses pembuatan onggok dilakukan dengan cara fermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger. Yakni, semacam kapang atau jamur. Ada juga campuran urea dan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen anorganik. Ini akan membuat onggok memiliki kandungan energi lebih tinggi untuk pakan hewan ternak.

Proses fermentasi tersebut membutuhkan waktu lima hingga tujuh hari. Sebelum onggok akan difermentasikan, ampas singkong terlebih dahulu dijemur di bawah terik matahari.

Untuk proses fermentasinya, onggok yang telah kering dicampur dengan mineral dan diaduk rata. Ditambah dengan campuran air hangat lima-delapan liter dan biarkan beberapa menit. Ini untuk menambah unsur mineral dalam onggok.

Lalu, setelah onggok sudah dingin barulah dicampur Aspergillus niger. Campuran kapang inilah yang membuat onggok memiliki protein yang tinggi. Setelah didiamkan selama lima hingga tujuh hari, onggok diremas-remas dan dikeringkan, baru setelah itu siap dikemas dan dijual ke pabrik pakan ternak.

Tentu saja, onggok adalah pakan yang aman dengan segala asupan yang dibutuhkan hewan ternak.
Menurut Kristo, pengeringan adalah bagian penting sebelum dilakukan fermentasi pada onggok. Itu sebabnya, proses pengeringan onggok harus betul-betul sempurna dan dilakukan di bawah terik matahari.

Pengeringan yang dilakukan di bawah terik matahari tersebut akan membuat ampas limbah yang basah berubah bentuk seperti pasir kasar dan berwarna putih. Sedangkan, ampas limbah yang setengah kering atau masih basah akan berbentuk seperti batu kerikil dengan kelir coklat dan hitam.

Memasuki musim hujan seperti sekarang ini, proses pengeringan dengan bantuan oven justru akan membuat hasil onggok tidak bagus. Soalnya, "Onggok masih basah dan berwarna coklat, hitam, atau keabu-abuan" ungkap Kristo.

Inilah yang membuat harga onggok berbeda. Makin putih dan kering, harga jual onggok akan makin mahal. Jika onggok masih basah dan berwarna cokelat, hitam, atau keabu-abuan, harganya tentu saja lebih murah.

Jika musim panas dan matahari tengah terik, pengeringan hanya butuh waktu sehari. Sementara, di musim hujan bisa memakan waktu tiga hingga tujuh hari. Onggok biasanya dijemur di atas lantai atau tanah.

Onggok yang dijemur dan diangin-anginkan di atas lantai, lanjut Kristo, dilakukan bila pesanan onggok akan diolah untuk panganan manusia. "Biasanya onggok ini dipesan oleh pabrik saos botolan," kata Kristo.

Harga onggok berkisar dari Rp 750 per kilo hingga Rp 1.350 sekilo. Tentu saja, patokan harga onggok tergantung dari kualitas onggok yang dibedakan para penjualnya berdasarkan warna dan tingkat kekeringan onggok itu sendiri.

Para pembeli onggok tidak hanya datang dari Lampung, tapi juga Jakarta, Bandung, hingga Sukoharjo. Kristo menuturkan, pemesanan minimal ditetapkan sebanyak 15 ton. Meski enggan menyebut omzet yang diraih, Kristo bilang, setiap bulannya untung bersih yang didapat CV Padang Berlian bisa mencapai Rp 25 juta.

Sedangkan, Radian yang mengaku usahanya masih berskala rumahan, dalam sebulan mampu meraih omzet sekitar Rp 15 juta. Harga jual onggok Radian memang lebih murah, yaitu berkisar Rp 650 per kilogram (kg) hingga Rp 800 per kg. Namun, soal kualitas onggoknya tak jauh berbeda dengan onggok yang dibuat dengan skala industri.

Memasuki musim hujan seperti saat ini, baik Radian dan Kristo mengungkapkan, pemesanan onggok menurun. Selain itu, penjualan merosot juga lantaran kondisi onggok yang basah. Pasalnya, proses pengeringannya tak terlalu sempurna. "Sampai hari ini, kami masih mampu menjual onggok, meski jumlah onggok grade A alias onggok kering pasokannya sedikit," ungkap Kristo. (kontan)