Tampilkan postingan dengan label minum teh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label minum teh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Februari 2011

Berita Pertanian : Industri Teh Milik Rakyat Terus Bertumbangan


Buruh memetik pucuk daun teh di perkebunan rakyat di Pasirangin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (25/2). Harga jual pucuk daun teh tak sebanding dengan ongkos produksi.

Purwakarta. Panjangnya rantai distribusi yang menekan harga pucuk daun teh di tingkat petani selama bertahun-tahun membuat usaha teh rakyat di Purwakarta, Jawa Barat, kian terpuruk. Ratusan hektar kebun beralih fungsi dan sejumlah pabrik pengolah skala kecil tutup karena bangkrut.

Kebun-kebun di sejumlah titik di empat kecamatan sentra, yakni Darangdan, Bojong, Wanayasa, dan Kiarapedes, Jumat (25/2), telah beralih fungsi menjadi kandang ternak, rumah, atau ditanami komoditas lain, seperti rumput gajah, sengon, singkong, cabai, jagung, atau kepulaga.

Enan (56), petani teh di Desa Linggasari, Kecamatan Darangdan, memperkirakan sedikitnya 300 hektar kebun teh rakyat di Linggasari, Cilingga, dan Neglasari telah beralih fungsi sejak 2000.

Timpangnya harga jual pucuk daun teh dan ongkos produksi mendorong sejumlah petani menjual kebunnya atau beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan.

Enan mencontohkan, harga pucuk daun teh basah dari kebun rakyat saat ini Rp 1.150 per kilogram di tingkat petani. Padahal, ongkos produksinya sekitar Rp 1.700 per kg, termasuk ongkos petik Rp 400 per kg dan ongkos angkut dari kebun ke tepi jalan Rp 100 per kg.

Imron (31), Sekretaris Kelompok Teh Rakyat Purwakarta, menambahkan, di Desa Nangewer dan Pasirangin, Kecamatan Darangdan, saja pernah ada 27 pabrik pengolah teh skala kecil. Sebanyak 9 unit di antaranya bangkrut, 6 unit menganggur dan mangkrak, dan 12 unit masih jalan meski dengan kapasitas olah yang cenderung turun.(kompas)

Jumat, 04 Februari 2011

Efek Samping Minum Teh

Minum teh sudah menjadi bagian dari ritual pagi hari sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain teh manis hangat, teh pahit juga banyak disukai orang untuk menemani menu sarapan.

Bagi sebagian orang, minum teh tak afdol rasanya jika warnanya tidak pekat. Bila dilakukan terlalu sering, kebiasaan ini ternyata bisa membuat urusan ke belakang menjadi terganggu.

“Teh yang terlalu pekat dan juga pahit seperti diketahui bisa mengatasi diare. Karena itu, jika dikonsumsi terlalu sering tentu bisa menyebabkan konstipasi atau sembelit,” kata Rina Poerwadi, ahli kuliner sehat.

Karena itu, Rina menyarankan agar proses penyeduhan teh sebaiknya tidak lebih dari 3 menit. “Diseduh selama 3 menit sudah cukup untuk merilis polifenol yang ada dalam teh. Kalau diseduh terlalu lama ibaratnya ‘nyawanya’ sudah tidak ada lagi,” paparnya.

Polifenol merupakan antioksidan dalam teh. Senyawa antioksidan ini mampu menyingkirkan radikal bebas yang menjadi penyebab utama penuaan dan penyakit pada manusia. Selain teh polifenol juga bisa ditemukan pada minyak zaitun, anggur merah dan teh hijau. Polifenol hanya bisa bertahan selama 3 jam.