Tampilkan postingan dengan label anggrek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anggrek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

Berita Pertanian : Empat Jenis Anggrek Kalsel Telah Punah 10 Jenis Dilindungi UU

Banjarmasin. Pecinta anggrek Singapura sedang mengembangkan anggrek khas Kalimantan Selatan (kalsel) yaitu "dendrobium lowii" yang kini di daerah asalnya sudah tidak bisa ditemukan lagi akibat pembabatan hutan.

Sekretaris Persatuan Anggrek Indonesia Julianto di Banjarmasin, Minggu (24/5) mengatakan, anggrek "lowii" yang merupakan anggrek khas Banjarmasin tersebut kini sudah tidak bisa ditemui di daerah asalnya. Justru tambah dia, bunga langka asli pegunungan meratus tersebut sedang dikembangkan di Singapura. "Informasinya "dendrobium lowii" memang sangat sulit tumbuh, sehingga perkembangbiakannya tidak secepat jenis anggrek lainnya," kata Julianto.

Menurut dia, mengenang hasil alam khas Kalsel yang kini justru dikembangkan di negara tetangga tersebut, logo organisasi PAI Kalsel menggunakan simbol anggrek "dendrobium lowii".

Memastikan bahwa kini anggrek langka tersebut masih ada, tambah Julianto pihaknya telah menghubungi pihak Singapura untuk mengirimkan foto-foto bunga tersebut.

Dikatakannya, terdapat empat jenis anggrek Kalsel yang kini punah atau sulit ditemukan di pinggiran hutan Meratus antara lain "dendribium hepatikum" dan "spatoglotis aurea". Dan, untuk mengantisipasi hilangnya anggrek langka dari Kalsel, pihaknya sedang fokus mengembangbiakkan anggrek bulan atau "phalaenopsis amabillis var" asli Pelaihari.

"PAI Kalsel bersama pemerintah Kota Banjarmasin sedang serius mengembangkan anggrek bulan khas Kalsel yang kini juga mulai langka itu," katanya.

Selain itu, kata dia, sebanyak 10 anggrek khas Kalsel kini juga telah dilindungi undang-undang sehingga tidak bisa diperjualbelikan baik di dalam maupun di luar negeri. Sayangnya dari 10 jenis anggrek khas Kalsel yang telah dilindungi undang-undang itu, empat anggrek langka yang telah hilang tidak termasuk. "Mungkin karena sudah telanjur hilang, empat anggrek tersebut di atas tidak masuk sebagai anggrek yang dilindungi hukum," tambahnya.

Senin, 25 April 2011

Berita Pertanian : Singapura Kembangkan Anggrek Kalsel

Banjarmasin. Pecinta anggrek Singapura sedang mengembangkan anggrek khas Kalimantan Selatan yaitu "dendrobium lowii" yang kini di daerah asalnya sudah tidak bisa ditemukan lagi akibat pembabatan hutan.

Sekretaris Persatuan Anggrek Indonesia Julianto di Banjarmasin Minggu (24/4) mengatakan, anggrek "lowii" yang merupakan anggrek khas Banjarmasin tersebut kini sudah tidak bisa ditemui di daerah asalnya.

Justru tambah dia, bunga langka asli pegunungan meratus tersebut sedang dikembangkan di Singapura. "Informasinya "dendrobium lowii" memang sangat sulit tumbuh, sehingga perkembangbiakannya tidak secepat jenis anggrek lainnya," kata Julianto.

Menurut dia, mengenang hasil alam khas Kalsel yang kini justru dikembangkan di negara tetangga tersebut, logo organisasi PAI Kalsel menggunakan simbol anggrek "dendrobium lowii". Memastikan bahwa kini anggrek langka tersebut masih ada, tambah Julianto pihaknya telah menghubungi pihak Singapura untuk mengirimkan foto-foto bunga tersebut.

Menurut dia, terdapat empat jenis anggrek Kalsel yang kini punah atau sulit ditemukan dipinggiran hutan Meratus antara lain "dendribium hepatikum" dan "spatoglotis aurea". (ant)

Selasa, 01 Maret 2011

Berita PertanPAI Kalteng Budidaya 20 Jenis Anggrek


Palangka Raya. Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalimantan Tengah, Titik Sundari, mengatakan, PAI dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) membudidayakan 20 jenis anggrek.

"Budi daya 20 jenis anggrek itu dilakukan untuk menghindari kepunahan jenis tertentu. Apalagi, Kalteng mempunyai potensi tanaman anggrek yang tidak kalah dengan daerah lainnya," kata Titik Sundari, di Palangka Raya, Minggu.

Menurutnya, penanaman 20 jenis anggrek tersebut dilakukan di sekitar kawasan Kantor Gubernur Kalteng, dimana DPD PAI diberi tugas untuk melakukan pengembangan 20 jenis anggrek. Budi daya ini juga dibantu BKSDA Kalteng, dalam upaya melestariakan anggrek.

"Diharapkan semua spesies anggrek Kalteng ada ditempat itu, sehingga tamu dari luar yang ingin melihat semua spesies anggrek Kalteng cukup datang ke tempat budidaya saja dan tidak perlu lagi harus menyelusuri dan masuk kehutan," ujarnya.

Diutarakannya, saat ini spesies anggrek Kalteng masih belum banyak dibudidayakan. Dengan dimulainya penanaman 20 jenis anggrek tersebut, maka ia mengajak semua pihak, seperti PAI, BKSD, Instansi terkait, dan masyarakat untuk dapat bersama-sama membudidayakan dan melestarikan angrek Kalteng tersebut.

Dijelaskannya, jenis anggrek yang menjadi unggulan dan maskot bagi Kalteng, di antaranya anggrek tikus dan anggrek hitam. Kedua jenis anggrek ini kedepannya akan lebih dibudidayakan dan dikembangkan lagi.

"Untuk menjaga kelestarian anggrek, peranan dari instansi dan masyarakat juga sangat diperlukan," terangnya.

Selain itu, menurut dia, PAI dalam upaya pelestarian anggrek Kalteng berencana akan memadukan anggrek khas Kalteng dengan anggrek dari daerah lain melalui jaringan kultur, sehingga bisa lebih lama bertahan hidup dan dapat menghasilkan kembang yang lebih indah.

"Kita juga berharap pemerintah daerah bisa membentuk epengurusan PAI sampai ke tingkat Kelurahan. Ini tidak lain dalam upaya mengembangkan keanekaragaman anggrek di Kabupaten/Kota masing-masing," tegasnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalteng, Mega Hariyanto, mengatakan, pembudidayaan anggrek Kalteng sudah dilakukan masyarakat secara perorangan, kelompok masyarakat, dan PAI Kalteng. (ant)

Selasa, 25 Januari 2011

Bisnis Anggrek Tak Lekang Oleh Zaman




Bisnis tanaman hias tak ubahnya seperti tren mode. Pada saat jenis mode tertentu ngetren, saat itulah banyak peminatnya. Namun tak demikian dengan anggrek. Budidaya anggrek tidak pernah sepi. Tidak mengenal tren, seperti tanaman hias lainnya. Walaupun hanya datar-datar saja, namun bisnis anggrek tetap hidup dan tumbuh sepanjang masa.

Siapa yang tidak mengenal anggrek? Variasi bunganya bermacam-macam dan sosoknya cantik mempesona siapa saja yang melihatnya. Eksistensinya sebagai tanaman hias di Indonesia sudah cukup lama. Itu karena tanaman anggrek sudah dikenal, kira-kira sejak 200 tahun lalu dan sejak 50-an tahun terakhir mulai dibudidayakan secara luas.

I Komang Jhon Sanjaya, salah seorang penghobi anggrek asal Gianyar, Bali menyebutkan, selama ini anggrek memiliki pasar stabil dan harganya juga terus naik. Hanya saja memang sama halnya seperti tanaman hias jenis lainnya, harga tergantung dari spesies dan jenis anggrek.

Secara umum, kata Jhon , Indonesia merupakan habitat asli sekitar 6.000 spesies dari total 26 ribu spesies anggrek yang ada di dunia. Berarti spesies anggrek di Indonesia mencapai hampir 25 persen dari jumlah spesies di dunia. Hanya saja, dalam berproduksi dan berbisnis, di Indonesia masih kalah dengan negara Asia lainnya yang sudah banyak mendatangkan devisa dari anggrek.

“Secara umum, di Indonesia tanaman anggrek banyak terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Papua dan Bali . Namun, sampai saat ini hampir sekitar 80 persen lebih petani anggrek di Indonesia masih ketergantungan dengan bibit impor untuk pembudidayaannya,” tutur Jhon.

Menurut Jhon, itu adalah akibat dari belum adanya perhatian pemerintah dalam pengembangan kultur jaringan untuk mendapatkan jenis anggrek baru dengan warna yang menarik dibandingkan impor. “Padahal, pengembangan tanaman anggrek merupakan peluang bisnis yang besar, karena harga di pasaran tidak pernah anjlok seperti tanaman hias lainnya,” katanya.

Dia lantas mengungkapkan, bibit anggrek yang diimpor penghobi Indonesia adalah spesies anggrek asli Indonesia yang dikembangkan secara profesional dan besar-besaran di negara lain. Thailand, kata John, mengembangkan anggrek melalui sistem kultur jaringan, sehingga mampu menghasilkan anggrek yang bersifat identik dengan induknya.

Karena itu, lanjut Jhon, pembudidaya anggrek di Thailand mampu memenuhi permintan anggrek dengan berbagai macam warna dan bentuk sesuai pesanan konsumen. “Nah, bibit (dari Thailand) itulah yang kemudian dikembangkan oleh pengusaha anggrek di Indonesia,” bebernya.

Usaha Turun Temurun

Seperti kata Jhon, anggrek memang berbeda dibanding tanaman hias jenis lainnya. Harga anggrek di pasaran tak pernah anjlok, sehingga bisnis tanaman hias jenis ini mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Hal itu mendapat pengakuan dari Johan, pengelola sekaligus pemilik kios anggrek Sanggrila di lantai I Pasar Petisah, Medan, Sumatera Utara. Pemuda berusia 27 tahun itu mengatakan, bisnis yang dia kelola itu sudah berjalan hampir 30 tahun lebih, melampaui usianya sendiri, namun hingga kini tetap stabil.

Johan mengungkapkan, bisnis anggreknya itu merupakan bisnis keluarga yang dirintis ayahnya, Ahok, sejak tahun 1980-an. Berawal dari hobi, Ahok menjajal usaha di bidang anggrek dengan membiakkan bibit puluhan jenis anggrek yang dia beli dari Jakarta, di atas lahan seluas 500 m2, di pekarangan rumahnya

“Kebanyakan bibit anggrek tersebut merupakan bibit anggrek impor dari Bangkok yang masuk ke Indonesia melalui agen di Jakarta, lalu dibiakkan bapak sampai akhirnya berhasil begini,” ujar Johan.

Memang tidak mudah, menjalankan bisnis anggrek. Di saat-saat awal merintis usaha itu, Ahok harus banting tulang memasarkan hasil kebunnya tersebut, dari rumah ke rumah. Namun kini, usaha keluarga itu telah memiliki dua outlet anggrek, satu di Pasar Petisah dan satu lagi di samping rumah tinggal mereka di daerah Skip Ujung, Sambu Baru, Medan.

“Sejak usaha ini dijalankan orangtua saya, perkembangannya meski tidak drastis yang pasti tidak pernah menurun. Bisa dikatakan bisnis anggrek tidak akan pernah mati selagi dikelola dengan profesional,” ujar Johan meski tak mau mengungkapkan, berapa kisaran pendapatan keluarganya dari usaha itu.

Anak kedua dari empat bersaudara keturunan Ahok itu mengatakan, selama ini hasil kebun anggrek mereka banyak diserap pasar di Aceh dan Pekanbaru. Mereka juga memasok pasar tanaman hias di beberapa daerah di Sumatera seperti Padang dan Lampung.

Bicara soal omzet, Johan mengakui bahwa harga bunga anggrek tidak pernah melambung tinggi seperti usaha lainnya. Harga tergolong netral sehingga tidak ada musim untuk memetik keuntungan lebih pada musim-musim tertentu. Meskipun diakuinya, jumlah penjualan bisa lebih meningkat pada musim-musim lebaran dan tahun baru.

Untuk harga juga cukup bervariasi, beda jenis beda harga. Untuk anggrek Dendrobium biasa dijual dengan seharga Rp 30.000 per batang. Anggrek lokal dijual dijual dengan kisaran Rp 50.000 per batang, anggrek impor Rp 70.000 per batang, dan anggrek jenis Cattleya Rp 120.000 per batang. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda dijual dengan kisaran Rp 130.000-Rp 150.000 per batang.

Peluang Ekspor

Prospek bisnis anggrek tak hanya cerah di pasar domestik, peluang anggrek Indonesia di pasar lura negeri cukup benderang. Minat masyarakat Jepang akan tanaman anggrek Indonesia meningkat setiap tahun.

Tahun 2010 lalu, permintaan dari negeri para Samurai itu meningkat sampai 30% dari tahun 2009. Pertumbuhan angka ekspor anggrek dari Indonesia ke Jepang antara 2009-2010 tersebut, lebih tinggi dibanding antara 2008-2009 yang hanya sekitar 15%.

Para penggemar anggrek asal Jepang menyukai anggrek Indonesia karena lebih bervariasi dan tahan lama. Anggrek incaran mereka adalah jenis Dendrobium yang menyokong 34% total ekspor anggrek ke Jepang, Oncidium Golden Shower (26%), Cattleya (20%), Vanda (17%), serta anggrek lainnya (3%).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Anggrek dan Tanaman Hias Indonesia (Aspathias), Enny Boediardjo, menyatakan, tahun 2009, ekspor anggrek mencapai 1,08 juta kilogram dengan nilai mencapai USD 27 juta atau sekitar Rp 243 miliar.

Nilai total ekspor anggrek pada 2009 itu, meningkat sekitar 10% pada 2010. Sementara ekspor anggrek Indonesia ke Jepang, rata-rata mencapai sekitar 107.760-107.800 kg atau senilai USD 2,5 juta (lebih kurang Rp 22,5 miliar) per tahun.

Selain Jepang, tujuan ekspor lainnya adalah Taiwan 250.916 kg, Belanda 14.167 kg, dan Singapura 18.170 kg. Permintaan juga datang dari Korea Selatan, Pakistan, Hong Kong, Amerika Serikat, dan India.

Ekspor anggrek Indonesia dilakukan dalam tiga jenis, yakni benih, tanaman dan bunga potong. “Anggrek kita diminati karena Indonesia memiliki sepertiga jenis anggrek dunia,” terang Enny, September tahun lalu. Menurut Enny, saat ini di Indonesia hidup sekitar 4.000 jenis anggrek. Salah satu yang terpopuler adalah jenis Dendrobium. Pada krisis keuangan 2008, bisnis anggrek sempat goyah. Pasalnya, daya beli turun sehingga permintaan dunia juga merosot tajam. Tapi, kini permintaan mulai pulih.

Haryadi, salah satu pengusaha anggrek yang membuka toko di Sentra Taman Anggrek Ragunan (TAR) membenarkan cerita Enny. Pengusaha yang juga petani anggrek ini menuturkan, dari satu hektare produksi tanaman anggreknya, sekitar 45% di ekspor ke Jepang dan Singapura. Sedang sisanya dijual di Ragunan.

Dia juga menyatakan, kendati jumlahnya tidak banyak, terjadi peningkatan permintaan anggrek setiap tahun. “Setiap tahun langganan saya pasar Jepang. Bahkan tahun ini saya dan pengusaha anggrek di sini akan berekspansi ke Belanda,” katanya. Sejauh ini, anggrek milik Haryadi yang paling diminati adalah jenis Vanda Douglas. ins


Analisa Usaha Anggrek

Analisa usaha tani bibit anggrek botolan hasil perbanyakan secara generatif di laboratorium dihitung berdasarkan asumsi:

- Harga autoklaf dan peralatan laboratorium adalah Rp 15.000.000, dengan masa pakai 5 tahun.

- Harga entkast kayu Rp 1.000.000 dengan masa pakai selama 5 tahun.

- Harga 10 tanaman induk @ Rp 200.000: Rp 2.000.000, dengan masa produksi 5 tahun.

- Satu kali produksi (1 tahun) menghasilkan 5000 botol dengan harga Rp 25.000/botol.

- Harga berlaku di DKI Jakarta tahun 2005.

1. Biaya

a. Biaya tetap

- Sewa laboratorium dan rak selama 1 tahun: Rp 2.400.000

- Penyusutan autoklaf dan peralatan laboratorium: Rp 600.000

- Penyusutan Laminair air flow cabinet: Rp 500.000

- Penyusutan tanaman induk: Rp 200.000

- Tenaga pembibit 1 orang @ Rp 2.000.000/bln: Rp 24.000.000

- Tenaga kerja laboratorium 2 orang @ Rp 500.000/bl: Rp 12.000.000

- Biaya tidak terduga: Rp 2.000.000

Total Biaya tetap: Rp 41.700.000

b. Biaya tidak tetap

- 6.000 botol kosong @ Rp 1000: Rp 6.000.000

- Media dan kemikalia (36 x Rp 2.00.000): Rp 7.200.000

Total Biaya Tidak tetap: Rp 13.200.000

Total Biaya = Biaya tetap + biaya tidak tetap

= 41.700.000 + Rp 13.200.000

= Rp 54.900.000

2. Perhitungan Keuntungan

a. Pendapatan

Pendapatan diperoleh dari produksi bibit botolan sebanyak 5.000 botol x Rp 25.000: Rp 125.000.000

b. Keuntungan = Pendapatan - Total biaya

= Rp 125.000.000 - Rp 54.900.000

= Rp 70.100.000/tahun

= Rp 5.841.000/bulan

3. Kelayakan usaha

BEP = total biaya 54.900.000 : total produksi 5.0000 = 10.980

sumber: Yuni Astuti, Staf Pengajar Fak. Manajemen Agribisnis UMB

Kamis, 20 Januari 2011

TUMBUHAN-TUMBUHAN YANG DI LINDUNGI DI INDONESIA









  1. Bayur (Pterospermum sp)
  2. Bulian, Ulin Eusideroxylon zwageri
  3. Cendana (Santalum album)
  4. Damar, Kopal Keruling (Agathis labillardieri)
  5. Balam Suntai (Palaquium walsurifolium)
  6. Kopal Keruling (Agathis labillardieri)
  7. Durian (Durio Zibethinus)
  8. Enau (Arenga pinnata)
  9. Eucalyptus (Eucalyptus sp)
  10. Hangkang (Palaquium leiocarpum)
  11. Hongi / saya (Myristica argentea)
  12. Imba (Azadirachta indica)
  13. Jambu Monyet (Agathis Lalillardieri)
  14. Jelutung (Dyera sp)
  15. Kapur Barus (Dryobalanops camphora)
  16. Katiau (Ganna metloyauma)
  17. Kayu Bawang (Scorodocarpus borneensis)
  18. Kayu Hitam (Diospyros sp)
  19. Kayu Kuning (Cudrania sp)
  20. Kayu Manis (Cinnamomun burmannii)
  21. Kayu Sepang (Caesalpina sappan)
  22. Kemenyan (Styra sp)
  23. Kemiri ( Dipterocarpus sp)
  24. Keruling (Dipterocarpus sp)
  25. Ketimunan (Timonius sericcus)
  26. Kulit Lawang (Cinnamomun cullilawan)
  27. Ipil (Instsia amboinensis)
  28. Malam Merah (Palaquium gutta)
  29. Massoi (Cryptocaria massoi)
  30. Mata Buta / Garu (Excoecaria agallocha)
  31. Mata Kucing / Damar (Shorea sp)
  32. Purnamasada (Cordia subcordata)
  33. Sawo Kecik (Manilkata kauki)
  34. Sonolkeling (Dalbergia latifolia)
  35. Suren (Toona sureni)
  36. Taker, Benuang (Duabanga moluccana)
  37. Tembesu (Fagraea fragrans)
  38. Bunga bangkai jangkung (Amorphophallus decussilvae)
  39. Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum)
  40. Bindang, Budang (Borrassodendron borneensi)
  41. Palem raja/Indonesia (Caryota no)
  42. Palem Jawa (Ceratolobus glaucescens)
  43. Pinang merah Kalimantan (Cystostachys lakka)
  44. Pinang merah Bangka (Cystostachys ronda)
  45. Eugeissona utilis Bertan
  46. Daun payung (Johanneste ijsmaria altifrons)
  47. Palem kipas Sumatera (semua jenis dari genus Livistona) Livistona spp.
  48. Nenga gajah Palem Sumatera
  49. Korma rawa (Phoenix paludosa)
  50. Pigafatta filaris Manga
  51. Pinang Jawa (Pinanga javana)
  52. Bunga padma (semua jenis dari genus Rafflesia) Rafflesia spp. Rafflesia
  53. Anggrek kebutan Ascocentrum miniatum
  54. Anggrek hitan Coelogyne pandurata
  55. Anggrek koribas Corybas fornicatus
  56. Anggrek hartinah Cymbidium hartinahianum
  57. Anggrek karawai Dendrobium catinecloesum
  58. Anggrek albert Dendrobium d'albertisii
  59. Anggrek stuberi Dendrobium lasianthera
  60. Anggrek jamrud Dendrobium macrophyllum
  61. Anggrek karawai Dendrobium ostrinoglossum
  62. Anggrek larat Dendrobium phalaenopsis
  63. Anggrek raksasa Irian Grammatophyllum papuanum
  64. Anggrek tebu Grammatophyllum speciosum
  65. Anggrek ki aksara Macodes petola
  66. Anggrek kasut kumis Paphiopedilum chamberlainianum
  67. Anggrek kasut berbulu Paphiopedilum glaucophyllum
  68. Anggrek kasut pita Paphiopedilum praestans
  69. Anggrek bulan bintang Paraphalaenopsis denevei
  70. Anggrek bulan Kaliman Tengah Paraphalaenopsis laycockii
  71. Anggrek bulan Kaliman Barat Paraphalaenopsis serpentilingua
  72. Anggrek bulan Ambon Phalaenopsis amboinensis
  73. Anggrek bulan raksasa Phalaenopsis gigantea
  74. Anggrek bulan Sumatera Phalaenopsis sumatrana
  75. Anggrek kelip Phalaenopsis violacose
  76. Anggrek jingga Renanthera matutina
  77. Anggrek sendok Spathoglottis zurea
  78. Vanda mungil Minahasa Vanda celebica
  79. Vanda pensil Vanda hookeriana
  80. Vanda mini Vanda pumila
  81. Vanda Sumatera Vanda sumatrana
  82. Nephentes spp. Kantong semar (semua jenis dari genus Nephentes)
  83. Tengkawang Shorea stenopten
  84. Tengkawang Shorea stenoptera
  85. Tengkawang Shorea gysberstiana
  86. Tengkawang Shorea pinanga
  87. Tengkawang Shorea compressa
  88. Tengkawang Shorea semiris
  89. Tengkawang Shorea martiana
  90. Tengkawang Shorea mexistopteryx
  91. Tengkawang Shorea beccariana
  92. Tengkawang Shorea micrantha
  93. Tengkawang Shorea palembanica
  94. Tengkawang Shorea lepidota
  95. Tengkawang Shorea singkawang