Tampilkan postingan dengan label gunung merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung merapi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Gunung Merapi Tak Lagi Ditakuti


Yogyakarta. Gunung Merapi di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta kini tidak lagi ditakuti pascaerupsi atau letusan yang menimbulkan bencana besar di penghujung 2010.

Banjir lahar dingin di sejumlah sungai di kawasan gunung itu yang luapannya menerjang permukiman dan lahan pertanian, tidak menyurutkan keinginan wisatawan untuk melihat dari dekat wilayah bencana tersebut.

Seperti di objek wisata "lava tour" Merapi di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), selama libur panjang akhir pekan terkait Hari Raya Waisak 2011 dipadati pengunjung.

Koordinator petugas "lava tour" Desa Umbulharjo Maryatin, di Sleman, Selasa, mengatakan, banyak wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi objek wisata ini.

Kondisi itu, menurut dia, hampir sama dengan saat setelah kawasan setempat kembali dibuka untuk umum pascabencana erupsi atau letusan Merapi 2010.

Menurut dia, wisatawan yang datang ke Dusun Kinahrejo yang luluh lantak akibat terjangan awan panas Merapi sebagian besar ingin melihat rumah mantan juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan.

"Mayoritas wisatawan ingin melihat kondisi bekas rumah Mbah Maridjan, dan sebagian lagi melihat-lihat kawasan yang rusak parah akibat terjangan awan panas Merapi," katanya.

Ia mengatakan pada hari libur panjang ini banyak pengunjung dari luar DIY, dan mereka datang secara perorangan dengan kendaraan pribadi maupun secara rombongan dengan menggunakan bus besar.

"Jika dilihat dari plat nomor kendaraan yang digunakan sebagian besar pengunjung atau wisatawan berasal dari luar daerah seperti Jakarta, Semarang dan Solo," katanya.

Maryatin mengatakan, setiap hari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Dusun Kinahrejo rata-rata 1.000 orang.

"Jumlah wisatawan sebanyak itu jauh meningkat dibandingkan hari biasa yang rata-rata hanya ratusan orang. Bahkan, terkadang hanya puluhan orang," katanya.

Memang, menurut dia, beberapa waktu lalu saat kawasan itu mulai dibuka pascabencana erupsi Merapi, jumlah pengunjung setiap hari rata-rata 1.000 orang, namun beberapa waktu kemudian jumlahnya menurun drastis," katanya.

Salah seorang pengunjung asal Pekalongan, Jawa Tengah, Hendra Setiawan mengatakan dirinya sengaja mengisi waktu liburan dengan berkunjung ke Kinahrejo untuk melihat kondisi kawasan yang terdampak langsung erupsi Merapi.

"Selama ini kami hanya melihat dari tayangan televisi, makanya liburan ini kami sengaja ingin melihat langsung kawasan itu dari dekat. Baru sekarang bisa lihat langsung rumah Mbah Maridjan, biasanya hanya di televisi," katanya.

Kaliurang dipadati wisatawan
Begitu pula dengan objek wisata alam Kaliurang di kawasan Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, DIY, pada libur panjang akhir pekan terkait Hari Raya Waisak 2011 setiap harinya dipadati ribuan pengunjung.

"Objek wisata Kaliurang yang sempat terpuruk akibat bencana erupsi Gunung Merapi pada akhir 2010, pada libur panjang Hari Raya Waisan sejak Sabtu (14/5) hingga Selasa (17/5) dipadati ribuan pengunjung," kata salah seorang petugas yang juga staf Bagian Pendapatan Dinas Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Kabupaten Sleman Suraji.

Ketika ditemui saat bertugas di TPR Kaliurang, ia mengatakan, apabila dilihat dari retribusi kunjungan wisatawan ke Kaliurang, bisa dikatakan objek wisata andalan Kabupaten Sleman ini berangsur pulih.

"Lebih dari enam ribu pengunjung datang pada liburan panjang sejak akhir pekan lalu hingga Selasa ini. Sejumlah lokasi wisata di Kaliurang, seperti Tlogo Putri, Gardu Pandang, dan taman rekreasi dipenuhi pengunjung," katanya.

Ia mengatakan wisatawan lokal maupun dari luar daerah sejak akhir pekan lalu selalu memadati kawasan Kaliurang d selatan Gunung Merapi itu.

"Pengunjung masih didominasi wisatawan lokal dan rombongan keluarga, yakni dari Yogyakarta, Sleman dan daerah-daerah sekitarnya. Mayoritas mereka datang dengan menggunakan sepeda motor," katanya.

Namun, menurut Suraji, tidak sedikit pula wisatawan dari luar daerah yang datang secara berombongan dengan menggunakan bus besar maupun mobil pribadi.

"Kalau rombongan besar dengan bus memang mayoritas dari sekolah-sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, sedangkan untuk wisatawan dengan kendaraan pribadi jika dilihat dari plat nomor kendaraan, banyak di antaranya dari Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya dan Semarang," katanya.

Ia mengatakan jumlah pengunjung objek wisata Kaliurang berdasarkan penjualan tiket masuk tercatat pada Sabtu (14/5) sebanyak 998 orang, Minggu (15/5) sebanyak 2.755 orang, Senin (16/5) sebanyak 1.602 orang.

"Sedangkan pada Selasa (17/5) hingga pukul 12.00 WIB jumlah pengunjung sudah 1.000 orang lebih," katanya.

Jelajah wisata
Terkait dengan upaya pemulihan citra pariwisata di wilayah DIY khususnya Kabupaten Sleman, sekaligus untuk memberi kesan bahwa daerah ini aman dikunjungi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman berencana menggelar kegiatan wisata spektakuler, yaitu Jelajah Wisata dan Reli Foto di kawasan wisata "Rumah Teletubies" atau "Rumah Domes".

"Kegiatan yang terbuka untuk umum ini akan dilaksanakan pada Minggu 10 Juli 2011. Kegiatan wisata dan olah raga tersebut mengusung tema `Trail to Domes`," kata Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi.

Menurut dia, kegiatan tersebut sangat menarik karena lokasi penyelenggaraannya dipusatkan di kawasan wisata yang memiliki keunikan tersendiri, yaitu "Rumah Domes" bercorak rumah Teletubies di Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

"Rumah Domes ini merupakan rumah-rumah relokasi tahan gempa, setelah akibat bencana gempa bumi besar pada 27 Mei 2006 rumah-rumah warga di dusun itu rusak parah," katanya.

Ia mengatakan jelajah wisata merupakan kegiatan tahunan untuk menarik minat wisatawan domestik maupun manca negara agar berkunjung ke DIY khususnya ke objek-objek wisata di Sleman.

"Saat ini wisata `trekking` sudah menjadi salah satu wisata alternatif yang mulai dilirik banyak kalangan, karena menawarkan panorama alami yang asri, serta menjadi wahana olah raga sekaligus berwisata," katanya.

Shavitri mengatakan jelajah wisata merupakan salah satu kegiatan wisata yang sudah memiliki pangsa pasar, dan pecintanya tersendiri, sehingga diharapkan pemilihan lokasi di kawasan wisata "Rumah Domes" atau "Rumah Teletubies" akan menambah daya tarik tersendiri bagi para peserta.

"Lebih menarik lagi, dalam kegiatan yang sama juga akan diadakan lomba Reli Foto yang terbuka untuk umum, dan juga jelajah wisata bagi peserta lomba itu," katanya.

Kepala Seksi Promosi Wisata Disbudpar Kabupaten Sleman Mayawati Jati Lestari selaku ketua panitia mengatakan, Jelajah Wisata "Trail to Domes" dikemas berupa "trekking" atau jalan kaki menyusuri perbukitan dengan jalur yang cukup ekstrem di kawasan wisata "Rumah Domes", dengan menempuh jarak delapan kilometer.

"Peserta akan menempuh jalur jalan setapak melalui perbukitan, persawahan, pekarangan dan perkampungan penduduk selama kurang lebih 2,5 jam. Bahkan peserta juga akan dapat melihat berbagai aktivitas warga masyarakat setempat, Tugu Belanda, pemandangan `Rumah Domes`, Candi Ijo, dan pemandangan alam lainnya dari ketinggian dan jarak jauh," katanya.

Ia mengatakan peserta ditargetkan sebanyak 1.000 orang, dengan sistem perseorangan dari berbagai daerah, baik dari masyarakat DIY maupun luar daerah.

"Informasi dan pendaftaran peserta dimulai 2 Mei hingga 7 Juli 2011 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, telepon/faximile (0274) 869613, Website:www.tourismsleman.com, Email dan Facebook prtourismsleman@yahoo.co.id," katanya.

Selain itu, bisa juga di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sleman, Jalan Parasamya Beran Sleman Telp.0274-868512, Kantor Kecamatan Prambanan Telp.0274-496388, "Tourist Information Center" (TIC) Malioboro, Sekretariat Rumah Domes, dengan biaya pendaftaran Rp30.000 per orang untuk peserta jelajah wisata dan Rp50.000 untuk peserta reli foto.

"Setiap peserta akan memperoleh sebuah kaos cantik, makanan ringan dan minum, asuransi serta kupon undian doorprize untuk memperebutkan hadiah dua sepeda motor, sepeda gunung, televisi, handphone, minicompo dan puluhan hadiah lainnya," katanya.

Penilaian reli foto dilakukan tiga juri yang profesional di bidangnya, yaitu wartawan foto Reuters Dwi Oblo, dosen fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Pamungkas WS, dan fotografer pariwisata Widodo Kushartoyo.

"Peserta reli foto akan memperebutkan hadiah, yaitu Juara I Rp1,5 juta, Juara II Rp1 juta, Juara III Rp750 ribu, Juara IV Rp500 ribu, dan Juara V Rp350 ribu," katanya.

Jadi fokus utama
Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, penanganan pascabencana erupsi Gunung Merapi menjadi fokus utama pembangunan yang dilakukan pemerintah kabupaten ini.

"Fokus utama saat ini adalah penanganan pascabencana erupsi Gunung Merapi, dan untuk itu kami mengharapkan peran semua pihak dalam membangun kembali kawasan Merapi yang luluh lantak akibat bencana itu," katanya.

Menurut dia, penanganan pascabencana Merapi meliputi penataan wilayah yang masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) III yang merupakan kawasan paling berbahaya, sampai penanganan dan antisipasi bencana sekunder seperti banjir lahar dingin.

"Selain itu, juga dampak lainnya seperti sektor pertanian yang terganggu akibat lahan terkena material Merapi maupun akibat rusaknya infrastruktur di antaranya saluran irigasi dan bendungan air," katanya.

Ia mengatakan saat ini sektor layanan publik sudah mulai dibangun, dan akan dipercepat. "Untuk itu, kami meminta kepada aparat Pemerintah Kabupaten Sleman agar lebih profesional dalam menjalankan tugasnya," katanya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan relokasi warga korban bencana erupsi Merapi masih menunggu rapat bersama dengan Wakil Presiden Boediono.

"Setelah ada keputusan dari rapat tersebut, akan dilakukan komunikasi dengan warga yang berada di KRB III Merapi," katanya.

Sultan mengatakan hasil kerja tim teknis yang merupakan gabungan dari Pemerintah Provinsi DIY dan Pemerintah Kabupaten Sleman telah dikirim ke pusat.

"Hasil kerja tim teknis sudah dikirim, sekarang tinggal menunggu koordinasi dengan Wapres," katanya.(ant)

Jumat, 18 Maret 2011

Berita Pertanian : Status Gunung Karangetang Jadi Awas











JAKARTA.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa status Gunung Karangetang di Sulawesi Utara meningkat dari siaga menjadi awas.

"Status Gunung Karangetang meningkat dari siaga menjadi awas sejak pukul 16.45 Wita," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho yang tengah berada di Manado, Sulawesi Utara (Sulut), saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (18/3).

Penetapan status awas tersebut disebabkan aktivitas Gunung Karangetang meningkat. Menurut Sutopo, penduduk di Kampung Kinali, Winangun, dan Mini perlu dievakuasi ke tempat yg aman.

Ia menambahkan, masyarakat diminta mewaspadai luncuran awan panas yang diprediksi mengalir ke Kali Nanitu, Kali Pangi, dan Kali Beha Barat. Selain itu, ia juga meminta masyarakat mewaspadai banjir lahar di semua sungai yang berhulu di puncak Gunung Karangetang.

Pada saat ini tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi serta pemerintah daerah telah melakukan rapat koordinasi guna mengambil langkah-langkah penanganan erupsi Gunung Karangetang. Sebelumnya, status siaga mulai diberlakukan pada 11 Maret dari semula waspada. (ant)

Minggu, 06 Februari 2011

Berita Pertanian : Pemerintah Siap Susulkan Penggantian Sapi Merapi

Sleman. Menteri Pertanian, Suswono, menyatakan bahwa pemerintah siap menyalurkan dana susulan untuk penggantian ternak sapi milik warga yang mati akibat bencana erupsi Gunung Merapi yang selama ini belum terdata dan mendapatkan ganti.

"Ternak sapi yang mati akibat bencana Merapi yang belum terdata dan diganti, bisa disusulkan untuk mendapat ganti karena saat ini dana pengganti sapi korban erupsi Merapi masih tersisa Rp5 miliar," kata Suswono saat menyerahkan bantuan sapi perah di Dusun Ngipiksari, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Minggu.

Menurut dia, pemerintah sebenarnya menyiapkan dana penggatian ternak sapi tersebut sebesar Rp100 miliar, tetapi, Kementrian Pertanian hanya mengajukan Rp35 miliar.

"Dana yang diajukan tersebut hingga saat ini telah terpakai untuk mengganti sapi sebesar Rp30 miliar sehingga masih ada sisa Rp5 miliar," katanya.

Ia mengatakan, para peternak yang sapinya mati namun belum terdata bisa segera membuat laporan dan akan segera diproses.

"Jika proses selesai, maka kami akan langsung membuat rekening tambahan untuk penggantian ternak sapi. Namun, saya tanya terus ke Bupati Sleman, ternyata tidak ada data susulan," katanya.

Sedangkan, ia mengemukakan, bantuan sapi perah yang disalurkan ini merupakan sapi milik warga lereng Merapi yang dibeli pemerintah.

"Setelah dipelihara dengan baik, ternyata sapi yang sempat stres sudah bisa pulih kembali. Sapi ini dulu waktu dievakuasi masih hidup. Ada 291 ekor yang kami beli dan sehat semuanya. Makanya, banyak peternak Merapi yang tidak menjual sapinya dan ingin dipelihara sendiri," katanya.

Ia mengatakan, diharapkan para peternak agar membuat kandang sapi komunal karena akan sangat menguntungkan bagi peternak itu sendiri.

"Jika sewaktu-waktu Merapi kembali erupsi, maka akan mudah dievakuasi dan dipelihara kembali. Meskipun semua tidak berharap adanya erupsi namun semua juga perlu waspada dan mengantisipasi sebaik mungkin," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, selain Menteri Pertanian, hadir juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Menkokesra Agung Laksono, Mensos Salim Segaf Aljufri dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum. (ant)

Selasa, 25 Januari 2011

Berita Pertanian : DPD: Relokasi Korban Merapi ke Perkebunan Sawit Kaltim

Jakarta. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Kalimantan Timur Luther Kombong mengusulkan agar penduduk yang terdampak letusan Gunung Merapi direlokasi ke area-area perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.

"Mereka nantinya menjadi bagian pola inti-plasma, terutama pengungsi yang tidak lagi memiliki sumber penghidupan," ujarnya ketika membaca Laporan Kegiatan Anggota DPD asal Kalimantan Timur di Sidang Paripurna DPD, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Dia mengatakan, setiap kepala keluarga (KK) menerima 2 hektar dengan gaji di atas Upah Minimum Regional (UMR). Istrinya bisa juga kerja di perkebunan. "Mereka akan diperlakukan manusiawi," katanya.

Selain itu, ada juga tunjangan seperti kesehatan dan pendidikan atau bonus lainnya serta fasilitas perumahan atau fasilitas lainnya bagi karyawan pimpinan (staf), karyawan pelaksana atau karyawan biasa.

Gaji, tunjangan, bonus, perumahan dan fasilitas lainnya tersebut bisa menjadi pertimbangan pengungsi Gunung Merapi untuk bekerja. Menurut Luther, jika 100 dari 200 perusahaan perkebunan di Kalimantan Timur menerima 50 KK, maka total 5.000 KK bisa direlokasi ke Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Luther mengaku, gagasannya sempat diutarakan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Radjasa dan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi saat bersama rombongan di Seoul, Korea Selatan, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 (The Group of Twenty) pada 11-12 November 2010.

"Pak Presiden sangat responsif. Beliau bilang, `ide bagus, tolong DPD tindaklanjuti`. Pak Sudi juga mengingatkan saya, karena Pak Presiden mengulanginya waktu bicara dengannya," ujarnya.

Untuk merealisasikannya, kata dia, DPD RI harus bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bila berhasil, relokasi akan mendukung revitalisasi perkebunan, yaitu program pemerintah untuk mempercepat pengembangan perkebunan melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan.

Area terdampak sekitar Gunung Merapi, menurut Luther, jangan lagi dijadikan sebagai area kegiatan manusia. "Lebih baik dikosongkan. Dijadikan sebagai kawasan hutan melalui program reboisasi yang pembiayaannya dibantu negara-negara yang `concern` mencegah global warming. Jika dikembalikan seperti awal, kawasan hutan menjadi sumber air yang mendukung siklus hidrologi," katanya.

Wakil Ketua DPD Laode Ida (Sulawesi Tenggara) dan Wakil Ketua DPD sekaligus Ketua Tim Task Force DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, menunjuk Luther mengkoordinasikan realisasinya.

Sedangkan I Kadek Arimbawa, anggota DPD asal Bali menyatakan dukungannya atas ggasan itu. Hanya saja, dia mengingatkan agar realisasinya dimatangkan bersama kementerian atau instansi terkait. "irip masalah tahun 1963 setelah letusan Gunung Agung di Bali. Penduduk di sekitarnya ditransmigrasikan ke Lampung. Di sana mereka berhasil," katanya.

Berdasarkan laporan kegiatan Gusti Kanjeng Ratu Hemas selaku anggota DPD asal DIY, mencatat bahwa letusan Gunung Merapi mengakibatkan dampak langsung yang besar terhadap kegiatan ekonomi, seperti di empat kecamatan, yaitu Turi, Pakem, Cangkringan dan Ngemplak. Pertanian salah satu pendukung kegiatan ekonomi yang paling terpukul. "Dampak langsungnya terutama di kecamatan yang radiusnya hingga 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi," katanya.

Dampak tidak langsungnya adalah terhadap kegiatan jasa, perdagangan dan industri yang kait-mengait dengan kegiatan ekonomi. Misalnya, kegiatan 900 dari 2.500 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Sleman untuk sementara terhenti, karena kebanyakan mengolah hasil peternakan, holtikultura dan kerajinan.

Selain itu, 3.913 pedagang di pasar tradisional diperkirakan rugi Rp3,2 miliar. Di sekitar lereng Gunung Merapi banyak diperuntukan sebagai desa wisata.(antara)