Tampilkan postingan dengan label buah-buahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah-buahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

Tips Ampuh : Camilan Buah Terbaik dan Terburuk













Semua buah-buahan memang menyehatkan
. Tetapi jika Anda tengah mencoba menurunkan berat badan, mengemil buah-buahan sepanjang hari bisa jadi kurang menguntungkan.

Selain karena kadar gulanya yang tinggi, buah bisa sangat merugikan rencana penurunan berat badan Anda. Maka, berikut kami berikan rekomendasi buah terbaik dan terburuk untuk dijadikan camilan.
Buah terbaik sebagai camilan:

1. Buah beri
Blueberry, stroberi, raspberry, blackberry, semua buah itu dikemas dengan antioksidan dan vitamin. Selain kaya serat, buah beri paling kaya akan gizi.

2. Ceri
Buah ceri memang mirip dengan beri, terutama dari kandungan antioksidannya. Ceri mengandung gula alami, tapi rendah karbohidrat dan sumber serat yang sangat baik.

3. Apel dan pir
Tak hanya rendah gula, tapi juga kaya serat. Sementara itu, dengan antioksidannya yang menyehatkan, apel dan pir merupakan camilan yang baik untuk memuaskan keinginan memakan yang manis-manis.

4. Persik dan aprikot
Dengan nilai gizi yang sama seperti apel dan pir, buah-buahan ini adalah camilan cerdas untuk mendapatkan vitamin C dan serat yang baik.
Makanan terburuk untuk camilan :

1. Melon dan semangka
Melon dan semangka sangat tinggi gula. Disarankan agar Anda tak terlalu sering memakan buah-buahan tersebut.

2. Mangga dan pepaya
Meskipun tidak semanis nanas, buah-buahan ini sebaiknya tak terlalu sering dinikmati. Pilihan yang lebih baik adalah pisang yang bisa menumbangkan energi bagi tubuh.
3. Nanas
Nanas sangat tinggi gula, tapi penuh dengan nutrisi sehat yang berharga selain bromelain. Jadi nikmatilah nanas sekali-kali saja.

Apa pun tujuan Anda memakan buah, baik itu sebagai energi atau menurunkan berat badan, buah memang baik bagi kita, untuk memberi makan kulit dan menjaga rasa lapar. Pilihlah buah-buahan secara bijaksana sehingga Anda akan sehat dan bahagia.(MI)

Senin, 09 Mei 2011

Salak Pondoh Kualuh Leidong











Meski bukan di daerah asalnya, namun salak pondoh dapat dibudidayakan di daerah mana saja, dengan tidak mengurangi rasa aslinya. Hanya saja perlu sedikit perawatan khususnya untuk menghasilkan salak dengan kualitas yang baik.15 tahun yang lalu di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) tepatnya di Dusun Tiga, Desa Pangkalan Lunang, Kecamatan Kualuh Leidong, budidaya salak pondoh telah dikembangkan.

Piter Salim (53), adalah orang pertama yang mengembangkan komoditas hortikultura tersebut di Kualuh Leidong. Warga Desa Pangkalan Lunang ini tertarik menanam salak saat ia melihat keberhasilan beberapa petani salak di Air Joman, Kabupaten Asahan. Dari sana Piter termotivasi untuk ikut mengembangkan tanaman tersebut.

Meski awalnya menuai kegagalan, namun Piter tidak lantas menyerah begitu saja. Ia terus berusaha untuk bias berhasil mengembangkan salak pondoh. "Bibit yang saya bawa dari petani salak di Air Joman, Kabupaten Asahan tidak berhasil saya kembangkan. Tanaman banyak yang mati," ucap Piter, belum lama ini di lokasi kebun salaknya.

Hingga seorang temannya yang kebetulan pulang dari Jawa Tengah membawakan bibit salak pondoh sebanyak lima pokok, sebagai oleh-oleh untuk dirinya. Pria turunan Tionghoa bermarga Lim ini kemudian mencangkoknya dan hingga sekarang bibit salak tersebut telah berkembang hingga jumlahnya mencapai seribu-an pokok. Dan, pohon-pohon salak itu ditanamnya di atas lahan seluas 15 rante.

Bahkan menurut keterangan Piter, sekarang ini sudah ada dua orang lagi temannya petani ikut membudidayakan salak tersebut. "Semenjak ditanam, saya telah memanen salak ini selama empat tahun. Dari seribu pokok yang saya tanam, rata-rata buah salak yang bisa dipanen setiap harinya berkisar 15 kg," ujarnya.

Salak tersebut dijualnya seharga Rp 10.000 per kg atau dengan kata lain Piter dapat memetik rupiah sekitar Rp 150 ribu dari hasil penjualan buah salaknya sebanyak 15 kg. "Setiap hari saya memanen 15 kilogram. Dalam satu janjang salak tersebut rata-rata satu kilogram," jelas bapak enam anak ini.

Rasanya yang manis dan renyah membuat salak tersebut diminati dari berbagai kalangan. Bahkan menurut pengakuan Piter, dirinya kewalahan untuk memenuhi permintaan. Pasalnya, poduksi salaknya masih 15 kg per hari.

"Untuk memenuhi permintaan di sekitaran Tanjung Leidong saja sudah kewalahan. Banyak orang dari Asahan dan Tanjung Balai yang datang untuk membeli dalam jumlah yang lumayan banyak. Namun karena produksi masih sedikit, permintaan tersebut tidak terpenuhi," kata Piter lagi. Umumnya, para pembeli langsung datang ke lokasi tanaman untuk membeli salak tersebut.

Sehingga ia tidak perlu lagi menjajakan atau memasarkan salaknya ke pasar. Begitupun, "Sebenarnya saya sangat berniat untuk memperluas tanaman salak ini, namun karena keterbatasan lahan jadinya ya begini," jelas Piter.

Menurutnya, Pemkab Labura melalui Dinas Pertanian pernah mengunjungi kebun salaknya, namun sampai sekarang belum ada tidak lanjut seperti apa peranan atau partisipasi dari pihak pemerintah. "Semenjak menanam salak ini, 15 tahun yang lalu hingga sekarang, belum ada bantuan dari pemerintah," akunya.

Padahal menurut pengakuan Camat Kualuh Leidong, Sofyan Yusma, salak yang ditanam Piter bisa menjadi salah satu komoditas unggulan dari sekian banyaknya potensi yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), sehingga perlu dikembangkan. "Salak ini sudah dipromosikan di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) tahun 2011 sebagai salah satu potensi pertanian yang dimiliki Kabupaten Labura. Dan hasilnya, banyak orang yang meminati," jelas Sofyan.
Tanaman bernama latin Salacca zalacca ini merupakan tanaman palma seperti halnya tanaman kelapa sawit atau sejenisnya. Menurut Piter, salah satu cara pembibitan yang dilakukannya adalah dengan cara mencangkok. Sedangkan untuk pembuahan, dilakukan dengan cara penyerbukan, antara serbuk jantan (tongkol bunga jantan) dengan serbuk betina. "Dan ini dilakukan secara terus-menerus agar pembuahan tetap lancar," jelasnya.

Karena itu, di sekeliling lahan milik Piter yang digunakan menanam salak seluas 15 rante tersebut ditanami salak jantan untuk diambil serbuknya untuk kemudian dikawinkan dengan serbuk betina. Sedangkan untuk pemupukan dilakukan tiga kali dalam setahun atau sekali dalam empat bulan. Di mana pupuk yang digunakan hanya pupuk buah. "Kalau masalah gangguan hama, mudah-mudahan sampai sekarang ini gangguan hama terhadap salak belum ada," aku Piter sembari menambahkan panen perdana, dapat dilakukan setelah tanaman berumur empat tahun.

Perbandingan dengan Sawit

Jika dibandingkan dengan kelapa sawit, salak Leidong jauh lebih menjanjikan. Seperti yang dikatakan salah seorang pembeli, W. Simanjuntak, yang kebetulan datang pada saat itu, Minggu (17/4), ke Desa Panglalan Lunang untuk membeli salak Pak Piter.

Dirinya mengatakan, dengan tanaman salak yang hanya 15 rante sanggup mengalahkan hasil kelapa sawit lebih kurang tiga hektare. Dengan perkiraan harga TBS (tandan buah segar) rata-rata Rp 1.000 per kg. "Dengan hanya lima belas rante lahan bisa ditanami seribu pokok salak, dan penghasilannya berkisar Rp 150.000 per hari atau Rp 4,5 juta per bulan. Sementara kelapa sawit dalam satu hektare,paling bisa menghasilkan Rp 3 jutaan per bulan, sementara biaya perawatan sawit jauh lebih mahal dibanding salak," jelasnya.

Begitu juga dengan tenaga kerja. Menurut pengakuan Piter Salim untuk mengerjakan tanaman sebanyak 1.000 pokok dirinya tidak menggunakan tenaga orang lain. "Saya sendiri sudah cukup untuk mengelelola tanaman sebanyak itu. Tidak seperti kelapa sawit, untuk tiga hektare saja harus membutuhkan beberapa tenaga kerja bahkan risiko kerjanya lebih besar dibanding tanaman salak," ucapnya.

Terhadap perawatan, Piter yang juga memiliki tanaman kelapa sawit, mengaku lebih ringan merawat tanaman salak ketimbang merawat tanaman kelapa sawit, terutama masalah menggunaan pupuk dan pestisidanya. "Untuk tanaman salak cukup menggunakan pupuk buah dan itupun diberikan sekali dalam empat bulan," jelasnya.

Sementara itu, Dinas Pertanian Kabupaten Labura melalui Kabid Agrobisnis, Paimin mengatakan, salak yang tumbuh di Sumatera Bagian Utara berasal dari jenis yang berbeda. Dari beberapa sumber yang dihimpun, berdasarkan kultivarnya, di Indonesia orang mengenal sekitar 20 sampai 30 jenis di bawah spesies. Beberapa yang terkenal di antaranya adalah salak Sidimpuan dari Sumatera Utara, salak condet dari Jakarta, salak pondoh dari Yogyakarta dan salak Bali. Salak condet merupakan flora Propinsi DKI Jakarta.

"Nah, salak pondoh yang ada di Kualuh Leidong itu merupakan salak pondoh dari Jawa Tengah. Sebab, selain dibudidayakan di Leidong, di Kecamatan Merbau tepatnya di Desa Babusalam juga sudah ada yang telah membudidayakan salak tersebut atas nama Mulyono dan luasnya lebih kurang setengah hektare," aku Paimin.

Menurutnya, budidaya salak di Kabupaten Labura sangat tepat mengingat salak tersebut juga merupakan jenis tanaman palma seperti halnya kelapa sawit. "Jika kelapa sawit tumbuh bagus, berarti salak juga bisa tumbuh bagus. Masalahnya hanya tergantung perawatannya agar bisa menghasilkan buah yang manis atau lebih baik," jelasnya.

Dibandingkan dengan hasil kelapa sawit, menurut Paimin, bagi petani yang hanya memiliki luas lahan kurang dari satu hektare, lebih tepat jika menanam atau membudidayakan salak seperti yang dilakukan Piter. Dengan lahan hanya 15 rante ia mampu berpenghasilan Rp 150.000 per hari. Sedangkan jika ditanam kelapa sawit di atas lahan kurang dari satu hektare belum tentu dapat memperoleh hasil yang demikian.

Namun sekarang, lanjutnya, bibit salak yang digunakan beberapa petani salak di Labura sudah perlu "dimuliakan". Artinya perlu dikembalikan dengan sifat induknya, misalnya dari F10 menjadi F 1. Dengan tujuan, untuk memperoleh hasil yang lebih memuaskan.

"Melalui Dinas Pertanian Labura sudah berencana untuk melakukan pembudidayaan salak pondoh tersebut. Kami akan melakukan pembinaan kepada para petani salak yang sudah menggeluti. Dan, akan dikembangkan lagi terutama kepada petani yang berminat menanam salak terutama yang memiliki lahan sempit atau di bawah satu hektare," jelasnya.

Jumat, 04 Februari 2011

Berita Pertanian : Asosiasi Sayur dan Buah Indonesia Dibentuk


Medan. Asosiasi Sayur dan Buah Indonesia, yang tergabung di dalamnya pengusaha hortikultura dari dalam dan luar negeri, akan dibentuk Maret 2011. Asosiasi yang akan dibentuk tersebut bertujuan meningkatkan ekspor komoditas hortikultura Sumut ke Singapura.
Kepala Dinas Pertanian Sumut, Muhammad Roem, mengatakan, selama ini Sumut memang telah melakukan ekspor komoditas buah dan sayur ke Singapura. Namun tidak terorganisir sehingga banyak kegiatan yang tidak terdata. "Sudah ada ekspor kita ke Singapura, tapi dilakukan sendiri oleh masing-masing pengusaha. Tapi dengan adanya asosiasi diharapkan kegiatan ekspor dapat meningkat," ujarnya kepada wartawan, Rabu (2/1).

Menurutnya, asosiasi dibentuk untuk membangun pertumbuhan ekonomi di bidang pemasaran. Jadi, jangan hanya dilakukan di dalam negeri saja, tapi juga dipasarkan di luar negeri sehingga pendapatan petani dapat terus meningkat.

Ekspor komoditas hortikultura ini memang banyak dipasarkan ke Singapura, karena secara geografis jaraknya dekat dengan Sumut. Meskipun ekspor telah banyak berkembang di negara-negara lain. "Kegiatan ekspor ke Singapura sudah lama terjadi," katanya.

Diakuinya, ekspor memang ada tapi anjlok sebelumnya. Padahal potensi komoditas Sumut ada, tapi begitu terlena sehingga lupa kalau negara lain memiliki produk yang sama dan bahkan lebih memiliki kualitas tinggi. "Seperti RRC, Thailand, Vietnam dan Filipina lebih bagus kualitasnya dan memiliki produk yang sama," imbuhnya.

Dalam asosiasi sayur dan buah Indonesia, lanjut Roem, merupakan working group pemerintah dan swasta untuk kerja sama agribisnis, yang di dalamnya terdapat lima propinsi yakni Sumut, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Riau yang masing-masing daerah memiliki komoditas unggulan yang berbeda.

"Komoditasnya berbeda-beda agar masing-masing daerah memiliki khas dan unggulan sendiri. Hal ini harus dilakukan guna meningkatkan nilai ekspor hortikultura bukan hanya di Sumut tapi juga di Indonesia," ungkapnya.

Untuk komoditas hortikultura unggulan yang akan ditingkatkan ekspornya seperti jeruk, kubis, sawi putih, sawi botol, bawang daun, kentang, ubi jalar, lobak, jahe gajah, terung, buncis, pisang barangan dan manggis. Sedangkan daerah yang berpotensi memproduksi komoditas tersebut yakni Kabupaten Karo, Simalungun, Langkat, Sergai, Tapanuli Tengah, Tapsel, Madina dan Tobasa serta daerah potensi lainnya.

Menyukseskan kegiatan ekspor hotirkultura ini, Roem meminta kabupaten/kota dapat segera meregister lahan-lahan budidaya untuk kepentingan pasar dalam negeri dan luar negeri. Setelah itu, mengurus sertifikasi produk agar terjamin kualitasnya seperti jaminan bahan kimia. "Kualitas residu nya harus bagus dan diperhatikan penggunaan pestisida karena pasar luar negeri tidak suka dengan penggunaan pestisida tinggi," ucapnya.

Selanjutnya, kata dia, petani akan dihubungkan atau dipertemukan dengan pengusaha ekspor tersebut. Sementara Distan hanya sebagai penghubung sehingga kegiatan ekspor dapat terorganisir. Untuk selanjutnya tergantung pengusaha dan petani masing-masing.

Petani juga diminta untuk menerapkan pola tanam dan budidaya dengan sistem Standard Operational Procedure (SOP) dan Good Agriculture Practices (GAP). Dimana, tambahnya, penerapan GAP dengan SOP ini dimulai dari penyiapan lahan, bibit, penananam, pembentukan arsitektur pohon, pemangkasan pemeliharaan, pemupukan, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), panen hingga pascapanen.

"Jika ini diterapkan secara maksimal, daya saing dan peluang pasar domestik dan internasional dapat tercapai serta memberikan jaminan keamanan pangan terhadap konsumen," jelasnya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut, Irfan Mutyara mengatakan, komoditas hortikultura Sumut sudah banyak diekspor ke Singapura, Malaysia dengan harga bagus dan kualitas baik. "Meski terjadi gangguan tanaman karena perubahan iklim sehingga mengakibatkan penurunan produksi, tapi harga juga semakin bagus dan ini berdampak positif bagi pendapatan petani," katanya.(MB)

Selasa, 01 Februari 2011

Berita Pertanian : Melirik Keunikan Belimbing Sembiring




Belimbing, bisa jadi hampir semua orang mengenalnya. Selain familiar, buah ini sangat mudah ditemukan. Apalagi, saat ini, buah yang berasa manis, asam dan sedikit sepat ini banyak diolah jadi minuman segar dalam bentuk segar. Tapi, tunggu dulu, buah yang kaya akan vitamin C ini ternyata tidak semua lahan bisa ditumbuhinya apalagi dengan hasil yang baik. Dan, untuk pertumbuhan yang baik dengan hasil yang baik pula, hanya bisa Anda temukan di Desa Namoriam, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deliserdang. Desa ini juga sebagai sentra belimbing yang sangat terkenal di Sumatera Utara (Sumut) dengan belimbing sembiringya.

Belimbing berbentuk bulat panjang dengan rusuk tajam berjumlah lima ini memang sudah umum dikenal masyarakat. Untuk mendapatkannya tidaklah sulit, cukup menyambangi pasar-pasar tradisional di Medan kita sudah bisa langsung mendapatkannya. Rasanya manis menyegarkan dengan aroma khas yang membangunkan selera. Apalagi kalau sudah didinginkan dan dimakan di hari yang panas.

Belimbing yang paling terkenal di Sumatera Utara (Sumut) adalah belimbing sembiring. Belimbing sembiring merupakan belimbing varietas unggul yang umum ditanaman masyarakat di Desa Namoriam, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deliserdang. Desa ini merupakan sentra produksi belimbing terbesar di Sumatera, di mana 90% penduduknya adalah petani belimbing.

Kepala Desa Namoriam Subur Tarigan yang juga seorang petani belimbing, kepada MedanBisnis baru-baru ini menuturkan, desa yang dipimpinnya tergolong maju perekonomian penduduknya berkat hasil dari penjualan belimbing. Desa berpenduduk 480 kepala keluarga tersebut kini kerap dikunjungi para peneliti dan mahasiswa yang ingin mengetahui lebih dalam tentang belimbing varietas sembiring ini.

Nama belimbing sembiring awalnya diambil dari marga orang pertama yang menanam belimbing di Desa Namoriam ini. Sekira tahun 1980, ada seorang warga bernama Teguh Sembiring Pandia yang menanam belimbing.

Menurut penuturan Subur, Teguh Sembiring pertama sekali menanam belimbing dari biji belimbing yang dibelinya dari pajak. Dia kemudian menanamnya di ladang dan hasilnya tumbuh dengan baik. Setelah berbuah dengan baik, akhirnya dia mengembangkan di lahan yang lebih luas lagi dan beberapa warga lainnya juga mulai bertanam belimbing yang dikembangkan Teguh.

"Kami mendapat pelajaran berharga dari Pak Teguh, dia menjadi tokoh yang akan dikenang sepanjang masa di desa ini. Berkat usaha dia mengembangkan belimbing, desa kami menjadi maju seperti sekarang ini," pujinya.

Ada keunikan tersendiri pada belimbing sembiring ini. Belimbing ini hanya tumbuh subur serta menghasilkan buah yang berkualitas hanya di Desa Namoriam saja, sedangkan jika ditanam di daerah lain, kualitasnya langsung menurun. Warga di desa tetangga Namoriam pernah mencoba mengembangkan belimbing sembiring ini, namun pertumbuhannya kurang baik dan hasilnya tidak maksimal.

Ini juga menjadi keuntungan besar bagi penduduk Desa Namoriam. "Unik memang, jika 3 kilometer saja ke arah Kota Medan dan 3 kilometer ke arah Karo, kualitas belimbing ini langsung menurun. Jadi, tak salah kalau kami menyebutnya bahwa belimbing hanya berjodoh dengan desa kami saja," tutur Subur.

Laki-laki berusia 47 tahun ini juga menyebutkan pH atau tingkat kemasan tanah di desanya yang rata-rata 4 sangat baik untuk pertumbuhan belimbing sembiring. Hal itulah yang mendorong warganya untuk memilih bertanam belimbing daripada tanaman kebun lainnya.

Sementara, tanaman lain, hanya sebagian kecil dan hanya tanaman sampingan untuk penghasilan tambahan. "Jika lahan di sini kita tanami padi dan tanaman sayuran atau jenis tanaman yang lain, hasilnya kurang baik. Tapi kalau untuk belimbing, wah...langsung tumbuh subur. Senang rasanya melihat desa ini maju dari hasil komoditas unggulan yang sangat jarang ditemui di desa lain," imbuhnya.

Kini, belimbing sembiring tidak hanya terkenal di Sumatra saja. Varietas sembiring ini telah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul nasional. Kelebihan varietas unggul adalah buahnya yang relatif lebih besar, warnanya lebih menarik, berserat halus, banyak mengandung air, dan rasanya manis menyegarkan. "Sejarah telah mencatat, belimbing sembiring adalah belimbing terbaik di Sumatra Utara yang pernah ada," pungkas Subur. (MB)

Sabtu, 22 Januari 2011

Mengenal Tanaman Markisa


Tanaman Markisa Jenis Passiflora edulis f. flavicarpa

Tanaman markisa jenis Passiflora edulis f. flavicarpa ini berasal dari Australia, dikenal dengan nama The Yellow Passion Fruit. Tanaman markisa jenis ini dapat tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah. Warnanya hijau pada saat muda kemudian berubah kuning berbintik-bintik putih setelah matang. Buahnya berbentuk bulat lonjong, berukuran sebesar bola tenis, beraroma sangat berat, bunganya tunggal, membuka pada waktu sore dan menutup pada waktu petang, berbunga sempurna berkelopak lima helai dan tajuk bunga lima helai.

Tanaman markisa ini memiliki batang yang dapat memanjang 5 m hingga 25 m. Letak daun berselang seling. Tanaman ini dapat berbunga setiap waktu, berputik tiga, bakal buahnya beruang satu, biji banyak yang melekat pada tiga bingkai pada dinding buah dibungkus dengan selaput penuh berisi sari buah yang manis rasanya bila matang dan harum semerbak baunya.

Tanaman markisa jenis ini lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan tanaman markisa jenis lain seperti jenis :
- Passiflora quadrangularis
- Passiflora ligularis
- Passiflora futida

Tanaman markisa Passiflora edulis f. flavicarpa ini merupakan tanaman herba yang dapat tumbuh di dataran tinggi dan rendah, batangnya dapat memanjang karena dilengkapi dengan sulur-sulur cabang. Tanaman markisa jenis ini diduga berasal dari Australia dan banyak dikembangkan di Taiwan dan Hawaii di dataran rendah, sedangkan tanaman markisa jenis lainnya berasal dari benua Amerika.

Di Indonesia, tanaman markisa jenis ini banyak diusahakan di Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan terutama di sentra produksi markisa Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.

Tanaman markisa jenis Passiflora edulis f. flavicarpa ini diklasifikasikan :
  • Divisi : Spermatophyta
  • Subdivisi : Angiospermae
  • Kelas : Dicotyledoneae
  • Ordo : Violales
  • Famili : Passifloraceae
  • Genus : Passiflora
  • Species : Passiflora edulis f. flavicarpa
Tanaman markisa umumnya tumbuh dengan baik pada dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 1000 m dari permukaan laut tetapi tanaman markisa jenis Passiflora edulis f. flavicarpa ini dapat juga tumbuh dengan baik di dataran rendah.

Tanaman markisa memerlukan tanah yang gembur, drainase baik, banyak mengandung humus, diperlukan tempat yang cerah atau penyinaran matahari yang langsung dan menghendaki banyak air dengan curah hujan 1500-2000 mm per tahunnya.

Syarat Tumbuh
Tanaman markisa merupakan tanaman subtropis, sehingga jika ditanam di Indonesia harus di daerah-daerah yang mempunyai ketinggian antara 800 - 1.500 m dpl dengan curah hujan minimal 1.200 mm per tahun, kelembaban nisbi antara 80 - 90%, suhu lingkungan antara 20 - 30oC, tidak banyak angin.

Tanaman markisa dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, terutama pada yang gembur, mempunyai cukup bahan organik, mempunyai pH antara 6,5 - 7,5 dan berdrainase baik. Jika tanah tersebut masam, maka perlu ditambahkan kapur pertanian (dolomit). Pada umumnya lokasi yang sesuai untuk tanaman markisa adalah dataran tinggi, sehingga kondisi lahannya banyak yang berlereng. Sebaiknya kemiringan lahan tidak lebih dari 15%, jika lebih harus dibuat terasering untuk memudahkan pemeliharaan tanaman.

Pembibitan
Tanaman jenis tanaman yang umum dibudidayakan oleh petani adalah jenis markisa ungu (edulis), tetapi jenis ini mempunyai batang yang kecil, perakaran yang dangkal dan tidak tahan terhadap nematoda. Kemudian ada jenis lain, markisa kuning (flavicarpa) yang mempunyai batang yang cukup besar, perakaran yang dalam, tahan terhadap nematoda, tetapi buahnya kurang disukai karena rasanya lebih asam dan sari buahnya sedikit. Oleh karena itu telah dikembangkan teknik sambungan antara markisa ungu sebagai batang atas dan markisa kuning sebagai batang bawah. Teknik sambungan tersebut telah dikembangkan di Sulawesi Selatan dan ternyata hasilnya cukup memuaskan.

Pengolahan Tanah
Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan pengolahan tanah, yaitu kegiatan mulai dari land clearing sampai lahan siap tanam. Untuk kegiatan tersebut diperlukan tenaga kerja sekitar 95 HOK per ha. Selanjutnya di buat lubang tanaman dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm.

Penanaman
Jarak tanam yang digunakan adalah 2 x 5 m, yaitu 2 m jarak antara baris tanaman dan 5 m jarak antar tanaman. Dengan demikian jumlah tanamannya adalah 1.000 pohon per ha.

Tanaman markisa adalah tanaman merambat, untuk itu perlu dibuatkan tiang rambatan. Tiang rambatan dapat dibuat dari pohon hidup, misalnya lamtoro, tonggak kayu atau bambu. Cara rambatan lain dengan menggunakan kawat yaitu diantara dua tiang disambungkan sebuah kawat rambatan yang berdiameter berkisar 3 mm.

Sesuai hasil penellitian yang dilakukan oleh Sub Balai Penelitian Hortikultura Berastagi, penggunaan tiang rambatan dengan pucuk bambu (tanpa kawat) memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan tanaman markisa serta jumlah buah dan berat buah per pohon dibandingkan dengan tiang rambatan dengan penggunaan kawat (sistem para-para tiang jemuran dan sistem memakai kawat).

Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan interval 3 kali per tahun pada bulan November s/d Mei. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk makro, yaitu urea dengan dosis 800 - 900 gram/pohon/tahun, TSP yaitu 60 - 120 gram/pohon/tahun dan KCl dengan dosis 800 - 1.200 gram/pohon per tahun, tergantung dari umur tanaman. Untuk tanah yang masam sebaiknya diberi dolomit dengan dosis 200 - 500 gram per pohon per tahun. Selain itu diperlukan juga pupuk organik yang diberikan dengan dosis 40 kg per pohon per tahun. Pupuk organik biasanya di berikan sebagai pupuk dasar diberikan sebagai pupuk dasar.

Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan adalah kegiatan penyiangan, pengairan dan pemangkasan tanaman. Penyiangan tanaman dilakukan secara berkala untuk menggemburkan tanah dan mencabut rumput yang ada disekitar tanaman.

Pembersihan air secara teratur pada tanaman sangat dianjurkan, terutama pada saat tanaman berbunga dan berbuah. Kebutuhan air akan meningkat pada saat mendekati pemasakan buah. Jika pada saat buah itu tanaman kekurangan air, buah akan berkerut dan jatuh sebelum masak.

Pemangkasan tanaman diperlukan untuk menumbuhkan tunas-tunas baru tempat dimana bunga akan muncul. Kegiatan ini dilakukan segera setelah selesai panen.

Panen
Tanaman markisa yang berasal dari buah mulai berbuah setelah berumur 9 – 10 bulan, sedangkan yang berasal dari stek, mulai berbuah lebih awal, yaitu sekitar 7 bulan. Warna buah yang pada mulanya berwarna hijau muda, akan berubah menjadi ungu tua (edulis) atau kuning (flavicarpa) ketika masak. Sejak pembungaan diperlukan waktu 70 – 80 hari untuk menjadi buah masak. Buah yang masak akan terlepas dengan sendirinya dari tangkainya dan jatuh di atas tanah. Untuk mendapatkan kualitas sari buah yang baik, buah markisa harus dipanen minimal 75% tingkat kematangan Sari buah markisa ungu mempunyai rasa lebih manis dan beraroma lebih kuat dari pada markisa kuning.

Manfaat dan Pengolahan
Markisa memiliki manfaat yang banyak bagi kesehatan karena mengandung beta karoten, potasium, serat, dan vitamin C. Bahkan, buah ini diyakini bisa meringankan penyakit tekanan darah tinggi.

Berikut manfaat dan khasiat buah markisa bagi tubuh kita:
-Menangkal kanker
-Mengatasi insomnia
-Mengatasi batuk
-Anti alergi
-Menenangkan anak hiperaktif
-Melancarkan ASI
-Menjaga kecantikan wajah
-Menurunkan kolesterol
-Memperlebar saluran pembuluh darah yang mengalami penyempita
-Melancarkan peredaran darah
-Anti peradangan
-Penurun panas (anti piretik)
-Mencegah hipertensi
-Penghilang nyeri (analgesik)
-Antiseptik
-Penghilang kerut pada wajah
-Menjaga kebugaran tubuh
-Antibodi.

Saat ini di negara maju, konsumsi markisa semakin tinggi dan buah ini semakin popular, baik konsumsi domestik maupun untuk bisnis, seperti kebutuhan restoran, café, toko confectionery, dan lain-lain. Disamping konsumsi sebagai buah segar, markisa sangat popular sebagai bahan pengharum minuman dalam seperti jus dan smoothie . Juga dipake untuk campuran makanan misalnya untuk pudding, kue-kue, yoghurt maupun es-cream.

Sekarang buah markisa paling banyak diolah menjadi minuman sirup markisa dan pemasaran sirup markisa sangat menjanjikan terutama di saat bulan ramadhan, Idul Fitri, Natal, Tahun Baru dan perayaan perayaan lainnya karena rasa dari sirup buah markisa...mmm..buktikan sendiri.