Tampilkan postingan dengan label Balai Karantina Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balai Karantina Pertanian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

Berita Pertanian : Balai Karantina Pertanian Soekarno-Hatta Kekurangan SDM

Jakarta. Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta (Soetta) Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga tak mampu mengantisipasi masuknya produk pertanian impor ilegal secara maksimal.
"Tenaga SDM Balai Besar Soetta hanya 118 orang yang dikerahkan untuk mengawasi penerbangan domestik dan internasional. Jadi, kalau kami kecolongan mohon dimaklumi," kata Kepala Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP), Soekarno-Hatta Musyaffak Fauzi, di depan anggota Komisi IV DPR di, Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Kamis (28/4).

Sejumlah anggota DPR tersebut yakni Wakil Ketua Komisi IV, Herman Khaeron (FPD), Sri Hidayati (FPD), Siswono Yudo Husodo (FPG), I Wayan Sugiana (FPD), Hardisusilo (FPG) dan Yusran Aspar (FPD) menyaksikan pemusnahan produk pertanian impor ilegal yang berlangsung di Instalasi Karantina Pertanian Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

Menurut data, jumlah penerbangan domestik di Bandara Soekarno Hatta mencapai 247.541 dan jumlah penerbangan internasional mencapai 63.405 pada 2010. Dari penerbangan tersebut, diketahui jumlah penumpang mencapai 44 juta per tahun atau 3,7 juta penumpang per bulan.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Banun Harpini membenarkan minimnya tenaga SDM di BBKP Soekarno-Hatta tersebut. Dia mengakui kekurangan SDM tersebut juga karena kurangnya jurusan karantina di Universitas yang ada sehingga akan diambil dari SMK kejuruan peternakan ataupun pertanian. "Nantinya akan kami sekolahkan lagi di Ciawi, D3 dan D2 sebagai lanjutan sekolah di bawah Kementerian pertanian," katanya.

Menurut dia, pihaknya juga akan mengupayakan terus menambah jumlah SDM yang saat ini ada. "Jumlah SDM kami tambah 624 orang dari sarjana pertanian," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV, Herman Khaeron mengharapkan agar jumlah dan kualitas SDM Karantina Pertanian Kementerian Pertanian ditingkatkan. Selain kurangnya tenaga SDM, Musyaffak juga mengeluhkan minimnya anggaran untuk karantina. Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta pada 2010 mendapat anggaran Rp21,8 miliar dan pada 2011 turun menjadi Rp18,86 miliar. (ant)

Rabu, 02 Maret 2011

Berita Pertanian : Ribuan Benih Sayuran Ilegal Diamankan

BANDUNG BARAT. Ribuan kantung benih sayuran yang diduga ilegal berhasil diamankan Badan Karantina Pertanian dari sebuah rumah di Jalan M Adiwarta, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (3/3/2011). Benih sayuran yang masuk tanpa lewat karantina itu diduga sebagai penyebab menyebarnya penyakit tanaman yang sebelumnya belum terdata di Indonesia.

Pemilik rumah tersebut adalah seorang warga berkebangsaan Taiwan, Iwan Yang (61), saat ini tengah dibawa ke mapolsek Lembang untuk dimintai keterangan. Sementara itu, ribuan kantung benih yang disimpan dalam kardus disita petugas.

Menurut Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta, Drh Wawan Sutian, penggerebekan ini didapatkan dari penyitaan sebanyak 200 kantong di Bandara Soekarno-Hatta dari tangan Iwan yang datang dari Taiwan.

"Iwan mengaku sudah beroperasi selama sepuluh tahun dan konsumennya tersebar hingga Sumatera maupun luar Jawa," kata Wawan.

Ia menuturkan, benih tersebut masuk ke Indonesia tanpa melalui Balai Karantina dan tidak disertai dokumen yang diharuskan. Akibatnya, benih tersebut tidak terjamin kesehatannya.

Salah satu penyakit yang dikhawatirkan tersebar dari kegiatan ini adalah Turnip Mosaic Virus yang menyebabkan daun sawi seperti terbakar. Padahal, penyakit ini dinyatakan belum pernah masuk Indonesia pada tahun 2006. Penyakit ini sudah dideteksi pada tahun 2007.

Sementara, Iwan mengaku, benih yang dipunyai hanya untuk kepentingan sendiri saja. Dia bersikeras tidak pernah menjual benih tersebut secara terbuka. Namun, dia tidak berkutik saat petugas mengamankan puluhan buku nota penjualan, termasuk papan peraga benih sayuran yang ditempeli label harga, termasuk belasan kardus berisi benih masih dengan kemasan pengiriman antarnegara.

Dari paspor yang disita, Iwan yang memiliki nama asli Chi Yuan Yang sudah bolak balik sebanyak 10 kali dari Indonesia ke luar negeri. Wawan Sutian, Kabid Pencegahan dan Penindakan Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, menuturkan bahwa Iwan diduga menjual benihnya melalui internet.