Jambi
- Seekor buaya dilaporkan masuk ke perkampungan di Kabupaten Tanjung
Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi dan menggegerkan warga setempat.
"Keberadaan buaya ini sudah ada sejak tiga hari terakhir di daerah
Parit 15, RT 04, Dusun Bhakti Utama, Desa Karya Bhakti, Kecamatan
Rantau," ujar Sekretaris Desa (Sekdes), Karya Bhakti, Ngatijo di
Muarasabak, ibukota Kabupaten Tanjabtim, Selasa.
Ia memperkirakan panjang buaya itu sekitar tiga meter lebih.
Apalagi, keberadaanya di sebuah parit menyebabkan warga sekitar menjadi
resah.
Menurut dia, awal masuknya buaya tersebut, yakni pada Minggu
(31/3). Saat itu, jarak buaya masih jauh dari pemukiman warga. Bertambah
hari, sang buaya diketahui makin mendekati pemukiman warga.
"Diperkirakan buaya ini berasal dari Sungai Batanghari. Namun belum diketahui penyebabnya apa," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya bersama warga lain sudah
melaporkan kejadian itu ke camat setempat. Agar buaya itu segera
dipindahkan, sehingga tidak meresahkan warga, meski tidak menyerang.
"Keberadaan buaya ini sekarang menjadi tontonan warga. Ada juga
salah seorang warga yang memberikan makan telur, tapi tidak dimakan,"
ujarnya lagi.
Sementara itu, Camat Rantau Rasau, Rusdan Tanjung mengatakan, bahwa
pihaknya telah menghubungi Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam
(BKSDA) Jambi agar buaya tersebut segera dipindahkan.
"Apalagi lokasi dimana buaya berada sering digunakan warga untuk
aktifitas mandi dan mencuci pakaian. Karena ada buaya warga jadi tidak
berani beraktifitas," ujarnya.
Dirinya mengimbau agar warga sekitar lebih berhati hati meski buaya
tidak menyerang. Warga untuk sementara dilarang melakukan aktifitas
diseputaran parit dimana buaya berada.
Dihubungi terpisah, Kasi Wilayah III, BKSDA Jambi, Nurasman membenarkan adanya buaya di Desa Karya Bhakti.
"Kami dapat dari laporan kades dan camat," ujarnya.
Menurut dia, keberadaan buaya masih disekitar kawasan sungai. Hanya
saja, jika sudah memasuki perkampungan warga, BKSDA Jambi akan
menurunkan tim untuk menangkap dan memindahkan buaya tersebut.(ant)
BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Selasa, 30 April 2013
Pupuk Cair BSP-ELF pada tanaman cabai
Penggunaan pupuk cair enzim pada tanaman cabai meningkatkan hasil panen seperti yang telah diterapkan petani di Desa Singgaranggarang Karo.
Banyak Petani Terjerat Ijon karena Terpaksa
Medan. Hingga kini, masih banyak petani
di Sumatera Utara (Sumut) yang terjerat dengan sistem ijon. Ini
dilakukan karena petani tidak memiliki uang yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari. “Banyak petani yang terpaksa menjual
hasil tanamannya sebelum bisa dipanen. Di sisi lain, fasilitas kredit
dari perbankan yang bisa dimanfaatkan petani tidak terserap secara
maksimal,” kata seorang petani di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut
Sei Tuan, Deliserdang, Sutiman, Senin (29/4) di
Medan.
Menurutnya, kurun waktu 3 bulan, yakni
dari saat penanaman sampai panen, petani harus mengeluarkan biaya yang
tidak sedikit. Misalnya untuk beli pupuk atau obat, mereka terpaksa
minjam. “Bahkan harus jual ijon, kalau tidak, kita makan apa," katanya.
Dikatakanya, untuk mendapatkan hutang/pinjaman, tidak terlalu rumit. Peminjam biasanya menawarkan pinjaman dengan beberapa persyaratan diantaranya besaran persen dari pelunasan. "Kalau bayar, kita kena bunga bisa sampai 10 persen," katanya.
Yang lebih muddah, menurutnya, dengan menjual hasil tanamannya sebelum bisa dipanen. Dengan begitu, biasanya persentasenya lebih kecil namun konsekuensinya, ketika panen, berarti panennya sudah bukan menjadi miliknya lagi. "Kita hanya memanen punya orang," katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sumatera Utara, John A Sinaga mengatakan, sistem ijon sangat merugikan petani karena besarnya persentase yang harus dibayar petani. Padahal, sebenarnya petani bisa meminjam ke perbankan, karena ada fasilitas untuk membantu petani.
Selama ini, kata dia, sekira Rp 2 triliun kredit yang bisa diakses petani untuk melanjutkan usahanya dengan persentase bunga yang lebih kecil. Menurutnya, masih sedikitnya petani yang mengakses kredit di perbankan dikarenakan minimnya sosialisasi. Padahal, di perbankan, misalnya untuk Bank Rakyat Indonesia, bunganya hanya 4%, sedangkan selama ini petani berani dengan pinjaman yang bunganya bisa sampai 10 - 15 persen.
Dikatakanya, untuk mendapatkan hutang/pinjaman, tidak terlalu rumit. Peminjam biasanya menawarkan pinjaman dengan beberapa persyaratan diantaranya besaran persen dari pelunasan. "Kalau bayar, kita kena bunga bisa sampai 10 persen," katanya.
Yang lebih muddah, menurutnya, dengan menjual hasil tanamannya sebelum bisa dipanen. Dengan begitu, biasanya persentasenya lebih kecil namun konsekuensinya, ketika panen, berarti panennya sudah bukan menjadi miliknya lagi. "Kita hanya memanen punya orang," katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sumatera Utara, John A Sinaga mengatakan, sistem ijon sangat merugikan petani karena besarnya persentase yang harus dibayar petani. Padahal, sebenarnya petani bisa meminjam ke perbankan, karena ada fasilitas untuk membantu petani.
Selama ini, kata dia, sekira Rp 2 triliun kredit yang bisa diakses petani untuk melanjutkan usahanya dengan persentase bunga yang lebih kecil. Menurutnya, masih sedikitnya petani yang mengakses kredit di perbankan dikarenakan minimnya sosialisasi. Padahal, di perbankan, misalnya untuk Bank Rakyat Indonesia, bunganya hanya 4%, sedangkan selama ini petani berani dengan pinjaman yang bunganya bisa sampai 10 - 15 persen.
Wagimin, Petani Rimbang yang Tak Pernah Bimbang
Langkat. Banyak petani sayur yang
kondisinya memprihatinkan saat ini akibat banyak faktor, di antaranya
harga jual yang tidak sebanding dengan biaya tanam, pemupukan, perawatan
tanaman maupun pembelian pestisida. Tetapi petani yang mengembangkan
tanaman rimbang (cepokak) mereka tidak pernah bimbang akan anjloknya
harga maupun tingkat kematian tanaman tersebut.
“Harga jual rimbang saat ini lumayan
bagus. Kami menolak ke penampung paling rendah Rp 9.000 per kilogram.
Memang harga sebelumnya mencapai Rp 12.000 per kilogram.
Saat ini mengalami penurunan menjadi berkisar Rp 9.000 – Rp 10.000 per kilogram,” kata Wagimin ( 55), seorang petani rimbang di dusun Kelantan Desa Pasar Rawa Kecamatan Gebang, Langkat ketika ditemui
Menurut petani rimbang yang pernah meraih sukses ini, keberhasilan menanam rimbang dikarenakan ketekunan dan menjiwai tanaman tersebut.
“Jika selama ini banyak petani yang kurang beruntung dengan tanaman rimbang, dengan alasan mati ketika tanaman berusia 4 bulan, mereka menduga unsur hara pada tanah tidak cocok untuk tanaman rimbang. Itu salah besar,” kata Wagimin.
Perlu diketahui, kata dia, rimbang merupakan tanaman liar di hutan dan semak belukar, yang biasa tumbuh dengan sendirinya akibat biji buah rimbang dibawa burung dan hewan pemakan buah-buahan.
Tetapi tanaman liar itu bisa dikembangkan, jika perawatannya cukup, sepohon rimbang jika sudah berusia 3-4 bulan bisa memproduksi buah rimbang hampir 1 kilogram untuk sekali panen.
Artinya, setiap 10 hari buah rimbang yang ada dalam satu pohon bisa dipanen antara 6 – 9 ons. Karena bunga dan putik rimbang terus muncul tanpa henti dan tidak mengenal musim. Asal saja, tanaman rimbang diperoleh dari hasil stek.
Untuk keberhasilan tanaman lanjut Wagimin, pohon rimbang yang subur dan menghasilkan banyak buah, bisa dipotong batang mudanya untuk disemaikan dalam polybag yang sudah berisi tanah gembur bercampur dolomit dan kotoran ternak.
Setelah tumbuh setinggi 25 centi meter atau selama 1 bulan, bisa dipindah ke lahan yang sudah disediakan.
“Perawatannya ringan, dan jangan terlalu banyak menggunakan pupuk kimia, usahakan pupuk kandang. Tetapi penyemprotan pada daun menggunakan pupuk daun dan racun hama jangan sempat terlambat, setiap pekan harus dilakukan penyemprotan,” terangnya.
Sebab lanjut Wagimin, daun pohon rimbang sangat disukai berbagai macam hama dan ulat. Jadi, kalau petaninya lalai, daun akan kering, tergulung dan layu serta gundul, hingga menuju kematian.
“Jika ini terjadi masih bisa diselamatkan dengan menghentikan pemberian pupuk pada batang atau akar tanaman, tetapi berikan penyemprotan meyeluruh pada pohon rimbang.
Sepuluh hari kemudian daun akan bertunas dan bercabang baru hingga mengeluarkan bunga dan putik buah. Asalkan jangan lupa melakukan penyemprotan dan perawatan rutin. Tanaman rimbang bisa bertahan hingga 4 tahun,” jelasnya.
Dengan jumlah tanaman 100 pohon saja, jika satu pohon menghasilkan rata-rata 6 ons, setiap sepuluh hari bisa panen 60 kg, sekali jual bisa berpenghasilan Rp 500 ribu.
Berarti jika sebulan berpenghasilan Rp 1,5 juta. “Jika ada lahan seluas 8 rante kan tanaman rimbangnya sudah bisa mencapai 350 pohon lebih, maka petani itu bisa meraup uang sebanyak Rp 5 juta setiap bulannya. Petani kelapa sawit saja tidak sampai demikian penghasilannya,” ungkap Wagimin.
, Senin (29/4).
Saat ini mengalami penurunan menjadi berkisar Rp 9.000 – Rp 10.000 per kilogram,” kata Wagimin ( 55), seorang petani rimbang di dusun Kelantan Desa Pasar Rawa Kecamatan Gebang, Langkat ketika ditemui
Menurut petani rimbang yang pernah meraih sukses ini, keberhasilan menanam rimbang dikarenakan ketekunan dan menjiwai tanaman tersebut.
“Jika selama ini banyak petani yang kurang beruntung dengan tanaman rimbang, dengan alasan mati ketika tanaman berusia 4 bulan, mereka menduga unsur hara pada tanah tidak cocok untuk tanaman rimbang. Itu salah besar,” kata Wagimin.
Perlu diketahui, kata dia, rimbang merupakan tanaman liar di hutan dan semak belukar, yang biasa tumbuh dengan sendirinya akibat biji buah rimbang dibawa burung dan hewan pemakan buah-buahan.
Tetapi tanaman liar itu bisa dikembangkan, jika perawatannya cukup, sepohon rimbang jika sudah berusia 3-4 bulan bisa memproduksi buah rimbang hampir 1 kilogram untuk sekali panen.
Artinya, setiap 10 hari buah rimbang yang ada dalam satu pohon bisa dipanen antara 6 – 9 ons. Karena bunga dan putik rimbang terus muncul tanpa henti dan tidak mengenal musim. Asal saja, tanaman rimbang diperoleh dari hasil stek.
Untuk keberhasilan tanaman lanjut Wagimin, pohon rimbang yang subur dan menghasilkan banyak buah, bisa dipotong batang mudanya untuk disemaikan dalam polybag yang sudah berisi tanah gembur bercampur dolomit dan kotoran ternak.
Setelah tumbuh setinggi 25 centi meter atau selama 1 bulan, bisa dipindah ke lahan yang sudah disediakan.
“Perawatannya ringan, dan jangan terlalu banyak menggunakan pupuk kimia, usahakan pupuk kandang. Tetapi penyemprotan pada daun menggunakan pupuk daun dan racun hama jangan sempat terlambat, setiap pekan harus dilakukan penyemprotan,” terangnya.
Sebab lanjut Wagimin, daun pohon rimbang sangat disukai berbagai macam hama dan ulat. Jadi, kalau petaninya lalai, daun akan kering, tergulung dan layu serta gundul, hingga menuju kematian.
“Jika ini terjadi masih bisa diselamatkan dengan menghentikan pemberian pupuk pada batang atau akar tanaman, tetapi berikan penyemprotan meyeluruh pada pohon rimbang.
Sepuluh hari kemudian daun akan bertunas dan bercabang baru hingga mengeluarkan bunga dan putik buah. Asalkan jangan lupa melakukan penyemprotan dan perawatan rutin. Tanaman rimbang bisa bertahan hingga 4 tahun,” jelasnya.
Dengan jumlah tanaman 100 pohon saja, jika satu pohon menghasilkan rata-rata 6 ons, setiap sepuluh hari bisa panen 60 kg, sekali jual bisa berpenghasilan Rp 500 ribu.
Berarti jika sebulan berpenghasilan Rp 1,5 juta. “Jika ada lahan seluas 8 rante kan tanaman rimbangnya sudah bisa mencapai 350 pohon lebih, maka petani itu bisa meraup uang sebanyak Rp 5 juta setiap bulannya. Petani kelapa sawit saja tidak sampai demikian penghasilannya,” ungkap Wagimin.
, Senin (29/4).
Label:
budidaya rimbang,
petani rimbang,
rimbang
Jumat, 26 April 2013
Bengkulu Tengah dijadikan sentra kacang hijau
Bengkulu - Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, akan dijadikan sentra produksi kacang hijau di Bengkulu karena lahannya sangat cocok dan dekat dengan ibukota provinsi.
Pengembangan tanaman kacang hijau itu dilakukan setiap desa dan hasilnya dapat menjadi pendapatan petani di luar tanaman tahunan seperti tanaman kopi, kayu manis dan kelapa sawit, kata Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bengkulu Tengah Durani, Jumat.
Ia menjelaskan, mulai 2013 instansinya membagikan bibit kacang hijau di beberapa sentra produksi antara lain di Kecamatan Talang Empat, Taba Penanjung dan Kecamatan Merigisakti.
Areal tanaman kedelai terluas berada di Kecamatan Talang Empat yaitu mencapai 87 hektare pada 2010 dan produksinya hanya 85 ton. Namun bisa ditingkatkan menjadi 114,70 ton pada 2012.
Saat ini produksi kacang hijau di daerah itu sudah ditingkatkan rata-rata 13 ton per hektare, sedangkan luas tanaman kacang hijau di wilayah itu seluruhnya sekitar 750 hektare dan tersebar disetiap desa dan kecamatan.
Sentra tanaman kacang hijau sangat cocok ditanam pada lahan berpasir di sepanjang bantaran sungai daerah itu, berbeda dengan perkembangannya pada lahan daratan.
Di Bengkulu Tengah terdapat beberapa sungai besar termasuk Sungai Bengkulu dan Sungai Rinduhati. Selain itu terdapat aliran sungai baru yaitu Sungai Susup.
Di sepanjang bantaran sungai itu, tidak hanya berpotensi menjadi areal tanaman kacang hijau, tapi bisa menjadi kolam air deras dan areal persawahan irigasi teknis, ujarnya.
Produksi kacang hijau daerah itu sebagian besar dipasok ke Kota Bengkulu dan kabupaten tetangga, sedangkan permintaan dari provinsi tetangga juga sudah banyak.
Saat ini pedagang membeli kacang hijau langsung ke petani karena mutu kacangnya cukup baik untuk bahan makanan ringan dan industri. Sementara harga jual pada tingkat petani rata-rata Rp2.500 per kilogram, ujarnya. (ant)
Kamis, 25 April 2013
Sulut ekspor ikan segar ke AS dan Belanda
Manado - Sulawesi Utara (Sulut) mengekspor ikan segar ke Amerika dan Belanda sebanyak 21,16 ton, pekan ketiga April 2013.
"Ekspor ikan segar ke dua negara tersebut, mendatangkan devisa sebesar 304.496 dolar Amerika ke daerah ini," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut Sanny Parengkuan di Manado, Selasa.
Dia menyebutkan, kedua negara tersebut menjadi tujuan utama ekspor Sulut, karena banyak mengajukan permintaan ikan ke daerah ini.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut Hanny Wajong, merinci untuk Belanda ikan yang diekspor sebanyak 2,70 ton dengan nilai devisa sebesar 43.537 dolar AS.
"Sedangkan Amerika ikan segar volume ikan yang diekspor sebanyak 18,46 ton, dengan devisa sebesar 260.959 dolar AS," kata Hanny.
Menurut dia, permintaan ikan dari Amerika dan Belanda lumayan tinggi, yang ditandai dengan terus meningkatkan ekspor ikan dari daerah ini keluar, setiap bulan.
Ia mengatakan, hal tersebut harus menjadi perhatian para pengusaha ikan serta nelayan, jika mau meningkatkan pendapatannya harus bisa memaksimalkan hasil tangkapan, walaupun itu bukan hal yang mudah, karena nelayan masih sering terkendala cuaca.
"Dengan tingginya permintaan ekspor, maka nelayan di daerah ini, harus bisa berpacu meningkatkan hasil tangkapannya, supaya bisa meningkatkan kesejahteraan mereka nantinya," kata Hanny. (ant
)
Label:
ekspor ikan,
ikan segar,
perikanan sulut
Langganan:
Postingan (Atom)





