BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Selasa, 29 Oktober 2013
Informasi perubahan iklim belum sampai ke desa
Jakarta - Informasi yang memadai tentang perubahan iklim dan dampaknya belum sampai ke masyarakat yang tinggal di pedesaan, demikian menurut hasil survei BBC Media Action di Indonesia.
Saat memaparkan hasil survei "Climate Asia" di Jakarta, Selasa, tim peneliti BBC Media Action menyatakan bahwa 61 persen masyarakat pedesaan mengaku tidak mendapat informasi tentang perubahan iklim seperti masyarakat perkotaan.
Masyarakat desa umumnya juga belum mengetahui sumber-sumber informasi yang tersedia untuk membantu mereka merespon perubahan iklim.
"Tingkat kekhawatiran masyarakat di pedesaan lebih rendah," kata Sonia Whitehead, manager peneliti BBC Media Action.
Agar informasi lebih dapat menjangkau masyarakat pedesaan, peneliti Syarifah Dalimunthe mengatakan, strategi kampanye perubahan iklim harus diubah.
"Mereka ingin informasi disampaikan Ketua RT daripada hanya selebaran. Mereka bisa dapat informasi dan bertanya langsung apa yang bisa mereka lakukan saat itu juga," katanya.
BBC Media Action melakukan survei skala nasional dengan sampel 4.985 orang di Indonesia.
Menurut hasil survei itu, 32 persen responden termasuk ke dalam golongan "willing", yakni mereka yang mau berubah namun belum melakukan apa-apa.
Sementara 27 persen responden masuk dalam grup "unaffected", mereka yang merasa tidak perlu melakukan apa pun, dan 24 persen responden masuk kelompok "struggling", yang berusaha berbuat namun merasa kesulitan.
Kesadaran
Hasil survei itu juga menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia menyadari perubahan iklim dan perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar mereka.
Sebanyak 52 persen responden mengatakan suhu telah meningkat dan 58 persen responden menyadari curah hujan menurun.
Selain itu, ada 63 persen responden mengatakan jumlah pohon berkurang, dan 25 persen lainnya berpendapat cuaca ekstrim telah meningkat.
Orang-orang Indonesia pun merespon terhadap perubahan tersebut.
Menurut Whitehead, 15 persen responden mengaku mengganti mata pencarian dan 33 persen mengganti gaya hidup.
"Mengganti gaya hidup seperti mengubah pola makan, mengggunakan listrik secara efisien, penghematan air," katanya.(ant)
Minggu, 05 Juni 2011
Hutan Dibabat Habis, Banjir Datang, Panas Meradang

Oleh: Ir. Fadmin Prihatin Malau
Terkadang kita hanya bisa berkeluh-kesah bila banjir telah datang melanda. Kita hanya bisa prihatin bila melihat korban jiwa, harta benda akibat banjir bandang datang menghantam. Kita hanya mampu memaki dalam hati bila kondisi udara panas meradang dan boleh jadi kita semua saling bertanya mengapa udara semakin panas, sepertinya dunia ini mau kiamat.
Semua keluh kesah, memaki dalam hati, merasa prihatin dan saling bertanya mengapa bumi (alam) tidak mau bersahabat lagi dengan manusia. Semua ini jawabnya akibat ulah dari manusia. Jangan pernah menyalahkan bumi (alam) karena sesungguhnya alam (bumi) ingin bersahabat dengan manusia, tetapi manusia yang tidak mau bersahabat dengan alam (bumi), manusia argon, mementingkan diri sendiri, memperjuangkan kelompok masing-masing, hanya itu.
Coba kita cermati, renungkan kondisi udara di kota Medan misalnya. Tiba-tiba sudah mendung dan hujan turun dengan lebatnya, datanglah banjir. Lantas, tanpa diduga matahari bersinar dengan teriknya, udara panas datang meradang, semua warga gerah kepanasan. Bila udara panas di kota Medan datang, pada siang hari bisa mencapai 35,4 derajat Celcius sehingga suhu udara terasa sangat menyengat. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabnya karena dampak dari siklon tropis (pusaran angin) di Pilipina kata Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika wilayah Sumatera Utara, Hendra Swarta (Analisa,10 Mei 2011)
Kondisi ini banyak pihak menyebutnya sebagai perubahan cuaca ekstrem dari panas ke hujan dan banyak juga yang berpendapat udara panas yang terjadi merupakan fenomena alam. Bila bicara fenomena alam maka muncul pertanyaan lanjutan mengapa terjadi fenomena alam itu?
Fenomena alam akan terjadi bila unsur dari alam itu sudah tidak alami lagi. Artinya, alam yang ada sekarang ini kondisinya sudah berubah dan perubahan itu begitu cepat terjadi. Bila perubahan itu tidak begitu cepat terjadi maka sesungguhnya fenomena alam adalah hal yang biasa dari alam itu sendiri.
Masalahnya perubahan itu begitu cepat terjadi. Mengapa perubahan itu begitu cepat terjadi? Jawabnya karena paru-paru alam (bumi) ini sudah dirusak. Apa itu paru-paru alam (bumi) ini? Jawabnya singkat yakni hutan.
Kerusakan hutan di dunia terus terjadi setiap detik dan terus menyusut setiap tahun, begitu juga dengan luas hutan di Indonesia setiap tahun menyusut. Data dari Kementrian Kehutanan mencatat kerusakan hutan hingga 2009 di Indonesia mencapai lebih dari 1,08 juta hektar per tahun. Laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1,87 juta hektar dalam kurun waktu hanya lima tahun yakni dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005. Laju kerusakan hutan Indonesia ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-2 dari sepuluh negara yang laju kerusakan hutannya tertinggi dunia.
Organisasi pemerhati lingkungan Greenpeace menyebutkan selama 30 tahun terakhir, pola pembangunan Indonesia dengan melakukan eksploitasi sektor kehutanan untuk bisnis sawit, kertas dan bubur kertas, pertambangan dan lainnya sehingga pola pembangunan seperti ini memacu laju tingkat deforestasi di Indonesia.
Lingkungan Rusak
Kita selalu bertanya. Mengapa udara begitu panas? Mengapa terjadi banjir? Mengapa terjadi longsor? Banyak pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan perubahan kondisi alam. Dari banyak pertanyaan itu jawabnya sangat sederhana karena lingkungan sudah rusak, hutan sudah gundul sehingga ekosistem alam berubah. Misalnya mengapa banjir terjadi? Jawabnya karena hutan tidak mampu lagi menahan, menampung curah hujan yang turun dari langit ke bumi.
Mengapa udara tidak dingin lagi sebab hutan telah hilang sehingga sinar matahari tidak lagi ditahan oleh lebatnya dedaunan tanaman di dalam hutan rimba. Sesungguhnya semua kita (Anda) mengetahuinya itu sebab sejak dari sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) sampai SMA ilmu ini telah dipelajari yakni hutan adalah ekosistem alam yang harus dijaga kelestariannya.
Ilmu dasar dari alam semua kita (Anda) telah mempelajarinya dan pada tingkat ilmu yang lebih tinggi kita (Anda) akan mempelajari bahwa sesungguhnya hutan itu berfungsi sebagai pencegah terjadinya pemanasan global, efek rumah kaca dan lainnya.
Namun, ketika ekosistem hutan terganggu seperti sekarang ini kita (Anda) seperti lupa bahwa semuanya itu terjadi akibat dari ulah tangan kita (manusia) yang menempati alam (bumi) ini, maka sesungguhnya kurang (tidak) adil bila kita (Anda) mengatakan apa yang terjadi sekarang ini sepenuhnya akibat dari fenomena alam.
Alam itu adalah ilmu pasti maka sesungguhnya alam itu tidak akan berubah, bila manusia tidak mengubahnya. Allah SWT telah mengatakan manusia sebagai pemimpin (kafilah) di permukaan bumi ini dan telah memperingatkan bahwa kerusakan di bumi dan di langit akibat ulah tangan manusia.
Jelas dan tegas serta pasti janji Allah SWT itu. Tidak perlu marah karena faktanya memang manusia yang merusak ekosistem hutan. Siapa lagi? Tidak ada selain manusia yang merusak, mengganggu ekosistim hutan.
Manusia membabat hutan akibat manusia itu serakah, mengingkari kata hati dan ilmu yang dimilikinya maka yang terjadi adalah kesewenang-wenangan, hutan dieksploitasi sesuka hati oleh sekelompok orang atas nama kesejahteraan rakyat mencari keuntungan, kekayaan sendiri, biarlah generasi nanti mati.
Ironinya bukan saja generasi nanti yang mati akan tetapi semua kita (Anda) akhirnya susah, semua kita (Anda) kepanasan bila matahari bersinar dan hujan turun banjir datang menghantam.
Dahulu, banyak kota-kota di Indonesia yang dijuluki sebagai kota dingin, umumnya yang berada di daerah pegunungan dan daerah yang bukan di daerah pegunungan juga tidak sepanas dan seterik sekarang ini.
Dua puluh lima tahun yang lalu udara di kota Medan jelas tidak sepanas yang ada sekarang ini. Begitu juga dengan kota Jakarta, Surabaya dan lainnya.
Begitu beranjak sedikit dari padat kota sudah sejuk seperti ketika dari Jakarta ke Bogor misalnya sudah sejuk. Begitu juga bila beranjak sedikit dari kota Medan misalnya ke Tanjung Morawa, Pancur Batu, Deli Tua sudah dapat merasakan udara yang sejuk. Bila terus beranjak semakin jauh ke daerah Bandar Baru terus ke Berastagi sudah dingin.
Dahulu, kota-kota satelit Medan seperti Tebing Tinggi, Pematang Siantar udaranya sejuk dan bila terus ke Parapat, Porsea, Balige dan tarutung sudah dingin. Kini, kota-kota yang dahulu berudara sejuk sudah panas dan kota-kota yang dahulu berudara dingin kini sudah tidak dingin lain.
Buktinya kota-kota dingin di Sumatera Utara yang tahun 1995 sampai tahun 2000 dapat dirasakan bila pagi hari, minyak makan atau minyak goreng yang ada di dalam botol atau jerigen pasti beku seperti margarine.
Masyarakat di daerah itu boleh dikatakan rata-rata satu kali dalam satu hari mandi, biasanya mandi siang menjelang petang bahkan ada yang tidak mandi, cukup cuci muka sudah beres. Faktanya memang demikian, dari pagi hingga petang terlihat orang terus memakai jeket dan bila minum teh manis panas, begitu cepatnya teh manis yang ada di dalam gelas itu menjadi dingin.
Dari kondisi yang ada ini dapat dikatakan Sumatera Utara tidak lagi memiliki kota dingin, hanya ada kota sejuk, itu pun terkadang sudah panas. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini yang disebut banyak orang sebagai fenomena alam? Jawabnya bukan sepenuhnya fenomena alam akan tetapi kondisi alam yang ada sudah berubah.
Perubahan itu begitu cepat dan signifikan sehingga membuat kondisi fenomena alam berubah cepat. Mengapa? Jawabnya karena hutan telah dibabat habis maka banjir pun datang tanpa dapat diprediksi, begitu juga dengan udara panas membuat semua orang meradang.
Semuanya ini salah siapa? Semuanya ini salah apa? Jawaban yang pasti adalah salah kita semua. Mari semua kita memperbaiki kesalahan itu dan jangan mengulangi kesalahan lagi.
Selasa, 05 April 2011
Mangrove Perisai Penting Hadapi Pemanasan Global
MANGROVE merupakan suatu perisai penting melawan pemasan global, namun keberadaan hutan bakau itu telah turun sekira separuh dalam 50 tahun terakhir.
Masalah itu disorot untuk pertama kalinya dalam sebuah penelitian yang disiarkan pada 3 April.
Kehancuran hutan di kawasan pesisir pantai tropis tercatat kira-kira 10 persen dari emisi karbon dioksida akibat deforestasi, sumber terbesar kedua CO2 setelah pembakaran bahan bakar fosil.
Makin sedikitnya pohon tidak hanya berarti kian sedikit CO2 yang diserap dari udara tapi juga lepasnya stok karbon yang telah terakumulasi dalam sedimen air dangkal selama seribu tahun.
Mangrove -- hutan bakau yang telah menghiasi garis-garis pantai di lebih 100 negara -- memberikan banyak manfaat kepada manasia yang tinggal di tengah-tengah mereka.
Air pasang-surut yang menyuburkan pertumbuhan pohon-pohon bakau merupakan pemelihara alami belasan species ikan dan udang yang penting bagi perikanan komersial di seluruh dunia.
Layanan Besar
"Layanan ekosistem" besar lain, dalam jargon sains lingkungan, adalah perlindungan dari badai dan terjangan topan.
Topan Nargis, yang menewaskan 138.000 orang di Myanmar pada 2008 lalu, mungkin tidak akan semaut itu andaikata separuh hutan bakau di negara tadi tidak ditebangi untuk kayu bakar atau dibersihkan untuk membuat tambak-tambak udang.
Daniel Donato dari US Departmen of Agriculture’s Forest Service di Hilo, Hawai dan tim periset internasional meneliti konten karbon di 25 mangroves yang tersebar di seluruh wilayah Indo-Pasifik.
Pohon-pohon bakau itu menyimpan CO2 dari atmosfer serta hutan tropis di darat. Di bawah garis air itu, pohon-pohon tersebut bahkan lebih efisien, menyimpan lebih lima kali lipat karbon daripada area permukaan sama.
"Mangroves tercatat di antara hutan paling kaya karbon di daerah tropis," ungkap Donato dan para koleganya dalam sebuah studi yang dipublikan dalam Nature Geoscience.
"Data kami menunjukkan bahwa pembahasan soal peranan kunci hutan tanah basah daerah tropis dalam perubahan iklim dapat diperluas secara signifikan yang meliputi hutan bakau."
Dalam sebuah komentar menyertai laporan hasil penelitian itu, Steven Bouillon dari Katholieke Universiteit Leuven dai Belgia mengatakan inventaris karbon yang diungkap riset tersebut "membeikan insentif kuat untuk mempertimbangkan ekosistem mangrove sebagai area prioritas konservasi."