BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Sabtu, 14 Mei 2011
Gubernur: 90 Persen Hutan Bakau Sumut Rusak
"Dari laporan Badan Lingkungan Hidup, sekitar 90 persen rusak," katanya usai melepas rombongan penelusuran ekowisata hutan bakau dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011 di Medan, Kamis.
Gatot mengatakan, dari pemantauan yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut, hutan bakau di pesisir pantai provinsi semakin berkurang.
Tentu saja, kata dia, kondisi sangat mengkhawatirkan karena berpotensi menimbulkan masalah dan hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain menimbulkan abrasi pantai, habisnya hutan bakau itu juga mengakibatkan kesulitan bagi masyarakat sekitarnya yang umumnya berprofesi sebagai nelayan.
Dengan menyusutnya jumlah hutan bakau itu, maka semakin sedikit pula lokasi pertumbuhan dan pengembangbiakan biota laut seperti ikan dan udang.
Hal itu disebabkan hutan bakau (mangrove) yang menghasilkan unsur hara yang dibutuhkan biota laut semakin sulit didapatkan.
Menurut Gatot, masih banyak lagi manfaat hutan bakau tersebut seperti menjadi bersosialisasi dan rekreasi masyarakat perkotaan serta dapat menjadi lokasi penelitian.
Sedangkan untuk kepentingan global, hutan bakau juga menyerap karbon dibandingkan dengan hutan tropis.
Karena itu, punahnya hutan bakau tersebut dapat semakin mengurangi kemampuan alam dalam mengurangi efek buruk emisi gas rumah kaca.
Namun pihaknya mengharapkan semua pihak tidak berputus asa dulu sebelum melakukan tindakan konkrit meski keberadaan hutan bakau di Sumut sangat mengkhawatirkan.
"Kita harus dapat mengubah krisis menjadi peluang," katanya.
Sementara itu, Kepala BLH Sumut Hidayati mengatakan, kegiatan penelusuran ekowisata hutan bakau ini dilaksanakan sebagai bentuk keprihatinan terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup, khususnya ekosistem di kawasan pesisir pantai timur.
Kegiatan penelusuran itu akan dimulai dari desa Nelayan Indah Belawan Kecamatan Medan Labuhan hingga ke kawasan Paluh Merbau dan berakhir di Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.
Dalam kegiatan itu, pihaknya akan menyerahkan bantuan bibit bakau kepada masyarakat serta menyampaikan informasi tentang pentingnya keberadaan tumbuhan pantai tersebut.(ant)
Selasa, 05 April 2011
Mangrove Perisai Penting Hadapi Pemanasan Global
MANGROVE merupakan suatu perisai penting melawan pemasan global, namun keberadaan hutan bakau itu telah turun sekira separuh dalam 50 tahun terakhir.
Masalah itu disorot untuk pertama kalinya dalam sebuah penelitian yang disiarkan pada 3 April.
Kehancuran hutan di kawasan pesisir pantai tropis tercatat kira-kira 10 persen dari emisi karbon dioksida akibat deforestasi, sumber terbesar kedua CO2 setelah pembakaran bahan bakar fosil.
Makin sedikitnya pohon tidak hanya berarti kian sedikit CO2 yang diserap dari udara tapi juga lepasnya stok karbon yang telah terakumulasi dalam sedimen air dangkal selama seribu tahun.
Mangrove -- hutan bakau yang telah menghiasi garis-garis pantai di lebih 100 negara -- memberikan banyak manfaat kepada manasia yang tinggal di tengah-tengah mereka.
Air pasang-surut yang menyuburkan pertumbuhan pohon-pohon bakau merupakan pemelihara alami belasan species ikan dan udang yang penting bagi perikanan komersial di seluruh dunia.
Layanan Besar
"Layanan ekosistem" besar lain, dalam jargon sains lingkungan, adalah perlindungan dari badai dan terjangan topan.
Topan Nargis, yang menewaskan 138.000 orang di Myanmar pada 2008 lalu, mungkin tidak akan semaut itu andaikata separuh hutan bakau di negara tadi tidak ditebangi untuk kayu bakar atau dibersihkan untuk membuat tambak-tambak udang.
Daniel Donato dari US Departmen of Agriculture’s Forest Service di Hilo, Hawai dan tim periset internasional meneliti konten karbon di 25 mangroves yang tersebar di seluruh wilayah Indo-Pasifik.
Pohon-pohon bakau itu menyimpan CO2 dari atmosfer serta hutan tropis di darat. Di bawah garis air itu, pohon-pohon tersebut bahkan lebih efisien, menyimpan lebih lima kali lipat karbon daripada area permukaan sama.
"Mangroves tercatat di antara hutan paling kaya karbon di daerah tropis," ungkap Donato dan para koleganya dalam sebuah studi yang dipublikan dalam Nature Geoscience.
"Data kami menunjukkan bahwa pembahasan soal peranan kunci hutan tanah basah daerah tropis dalam perubahan iklim dapat diperluas secara signifikan yang meliputi hutan bakau."
Dalam sebuah komentar menyertai laporan hasil penelitian itu, Steven Bouillon dari Katholieke Universiteit Leuven dai Belgia mengatakan inventaris karbon yang diungkap riset tersebut "membeikan insentif kuat untuk mempertimbangkan ekosistem mangrove sebagai area prioritas konservasi."