Tampilkan postingan dengan label koperasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koperasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2013

Koperasi Bisa Bantu Stabilkan Harga Pangan

Jakarta. Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menyatakan koperasi pada dasarnya merupakan badan hukum yang sangat potensial yang berazaskan gotong-royong dan kekeluargaan untuk bisa membantu menstabilkan harga pangan di Tanah Air.
"Belajar dari kasus bawang putih dan bawang merah, serta komoditas lain, sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan untuk memperbesar koperasi dalam membantu menstabilkan harga pangan," kata Ketua Majelis Pakar Dekopin Teguh Boediyana di Jakarta, Rabu (27/3).

Ia mengatakan, melalui lembaga bernama koperasi,  masyarakat yang menjadi anggota dibina untuk mengedepankan kemandirian termasuk dalam hal optimalisasi produk pangan lokal. Selain itu, koperasi dapat memainkan peran sebagai badan logistik sekaligus mewadahi para petani lokal.
"Sementara di dalam negeri terus dipacu untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian. Kita tetap harus secara maksimal mengupayakan kedaulatan pangan melalui koperasi," katanya.
Sedangkan impor komoditas, kata dia, sifatnya harus diposisikan sebagai pelengkap atau komplementer. "Kekurangan pasokan dalam negeri juga dapat diimpor langsng oleh koperasi yang bersangkutan antara lain melalui koperasi pedagang pasar," katanya.

Menurut Teguh, melalui wadah koperasi maka pemerintah memiliki kemungkinan untuk lebih mudah mengendalikan pasar dan dapat menekan dengan cepat kondisi ketidakstabilan harga komoditas pangan.     "Seharusnya pemerintah kalau memang  memiliki komitmen untuk memberdayakan koperasi harus 'at all cost'  dan jangan atas nama globalisasi dan liberalisasi pasar mengorbankan kepentingan rakyat banyak," katanya.

Teguh prihatin terhadap seringnya terjadi lonjakan harga pangan padahal Indonesia adalah negeri agraris yang seharusnya menjadi lumbung produk pangan dan hortikultura bagi masyarakatnya.
Teguh juga menyesalkan masih sedikitnya pelibatan peran koperasi dalam persoalan pangan di tanah air. (ant)

Jumat, 04 Februari 2011

Berita Pertanian : Rp1,3 Triliun Kembangkan Usaha Mina Pedesaan

DENPASAR. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyetujui pengalokasian dana sebesar Rp1,3 triliun untuk pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) lewat sebuah bank milik pemerintah dalam tahun 2011, kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

"Alokasi dana Rp1,3 triliun itu salah satu kegiatan diantaranya mengenjot peningkatan produksi budidaya rumput laut dengan sasaran 10 juta ton hingga tahun 2014," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad didampingi anggota Dewan Pertimbangan Presiden Ginandjar Kartasasmita di Pantai Kutuh, Jimbaran, 30 kilometer selatan Denpasar, Jumat (4-2).

Ketika berdialog dengan ratusan anggota pembudidaya rumput laut dari lima kelompok di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung itu, ia menjelaskan, dana tersebut disalurkan dalam bentuk kredit berbunga ringan kepada petani pembudaya rumput laut yang menghimpun diri dalam kelompok.

Masing-masing pembudidaya rumput laut memperoleh kemudahan dalam bidang permodalan sebesar Rp20 juta per orang tanpa harus menyertai jaminan.

Menteri Fadel Muhammad yang juga didampingi Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali I Gusti Putu Nuriatha menambahkan, dana tersebut diperioritaskan untuk pengembangan rumput laut di seluruh daerah di Indonesia.

Sedangkan kelompok juga diberikan dana pinjaman lunak itu maksimal Rp500 juta untuk membeli hasil produksi para anggotanya untuk selanjutnya mengolah hingga siap menembus pasaran ekspor.

"Presiden selain menyetujui kredit lunak Rp1,3 triliun itu juga telah menunjuk salah satu bank untuk menyediakan dana penyangga sebesar Rp2 triliun," ujar Menteri Fadel Muhammad.

Ia mengajak petani pembudidaya rumput laut memanfaatkan kemudahan dan peluang tersebut dengan baik dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

Demikian pula pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, kata dia, ikut bertanggung jawab dalam memacu pembudidayaan rumput laut, dengan harapan mampu menjadikan Indonesia sebagai penghasil rumput laut serta produksi perikanan dan kelautan terbesar di dunia tiga atau empat tahun mendatang.

"Jika semua pihak bekerja keras dan mempunyai komitmen yang tinggi sasaran menjadi negara terbesar penghasil sektpr perikanan dan kelautan akan dapat direalisasi dengan baik," harap Menteri Fadel Muhammad. (ant)