Tampilkan postingan dengan label dana gagal panen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dana gagal panen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2011

Berita Pertanian : Petani Padi di Tanggabosi Terancam Gagal Panen

Panyabungan. Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengakibatkan Sungai Aek Badan di Desa Tanggabosi Kecamatan Siabu meluap. Luapan sungai tersebut mengakibatkan ribuan hektare tanaman padi petani terancam gagal panen.

“Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari ini menyebabkan Sungai Aek Badan meluap, dan mengancam tanaman padi di Desa Tangga Bosi dan sekitarnya," kata Camat Siabu Muklis, Rabu (25/5).

Sementara itu badan jalan yang menghubungkan ke 3 desa juga terancam putus akibat terkikis air sungai sehingga mengancam putusnya hubungan transportasi ke desa tersebut. "Kita khawatir Desa Hutagodang Muda, Tanung Sialang dan Desa Muara Batang Angkola terancam apabila jembatan ini putus ditambah badan jalan mulai longsor akibat terjangan sungai. Kondisi ini sudah kami laporkan kepada Dinas PU Madina untuk menurunkan alat berat guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.

Camat juga telah mengimbau masyarakat untuk hati-hati dengan kondisi cuaca sekarang. "Saya sudah umukan kepada para kepala desa untuk memberikan pengarahan kepada warganya masing-masing," ujarnya.

Kepala Dinas PU Madina Nasrin Lubis mengatakan, pihaknya sudah melihat langsung ke lokasi dan akan secepatnya menurunkan alat berat untuk memperbaikinya. “Kita sama-sama berdoa agar curah hujan jangan tinggi, karena kalau masih tinggi apa yang kita khawatirkan itu bisa terjadi,”katanya.(MB)

Rabu, 06 April 2011

Berita Pertanian : Dana Gagal Panen Bisa untuk Lahan 769.230 Hektar

Jakarta. Kapasitas dana pemerintah diharapkan mampu memulihkan kembali lahan pertanian yang gagal panen atau puso maksimal seluas 769.230 hektar tahun 2011. Hal itu karena anggaran dana pengolahan lahan gagal panen mencapai Rp 2 triliun, yang akan disalurkan Rp 2,6 juta per hektar.

”Pagu dana kontingensi Rp 2 triliun. Berdasarkan rangkaian data yang ada, lahan yang puso itu hanya sekitar 100.000 hektar sehingga untuk 100.000 hektar puso hanya diperlukan dana Rp 388 miliar,” ujar Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Rabu (6/4) usai menghadiri Rapat Koordinasi Pangan yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurut Suswono, pemerintah telah memutuskan untuk memberikan benih, pupuk, dan bantuan biaya pengolahan sebesar Rp 2,6 juta per hektar.

Bantuan itu hanya akan dicairkan jika memang ada laporan dari daerah. Pemerintah menetapkan pengawasan atas bantuan pengolahan lahan gagal panen ini di tingkat kecamatan.

”Jadi, kalau nanti terjadi kegagalan panen akibat puso, lahannya bisa ditanam kembali karena benihnya sudah disediakan, pupuknya ada, plus bantuan biaya pengolahan. Hasil evaluasi menunjukkan, petani tidak melanjutkan kembali menanam karena harus meminjam dana lagi,” ujarnya.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, produksi gabah pada angka ramalan I 2011 meningkat. Pada angka ramalan I 2010 tercatat masih tumbuh 0,88 persen, sedangkan pada angka ramalan I 2011 naik jadi 1,35 persen.

”Jadi trennya tetap naik dari tahun sebelumnya. Berdasarkan rangkaian data yang ada, pada 2011 kemungkinan Indonesia bisa tumbuh 4-5 persen. Namun, target kami sebenarnya adalah ada pertumbuhan produksi 2011 sebesar 7 persen. Banyak upaya yang harus dilakukan, antara lain, optimalisasi lahan agar bisa meningkatkan produksinya,” kata Suswono.

Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, harga beras ada di sekitar 10-15 persen di atas harga pembelian pemerintah dalam empat minggu terakhir ini. Atas dasar itu, Perum Bulog menggunakan semua cara agar tetap mampu melaksanakan tugas yang dibebankan pemerintah yakni memastikan stok beras 3,2 juta ton setiap saat.

”Untuk pengadaan beras, semuanya kami buka. Dari membeli ke petani, kelompok tani, dari penggilingan kecil, melalui mitra, kemudian Kontak Tani dan Nelayan Andalan, oleh satuan tugas Perum Bulog yang bekerja sama dengan BUMN, semua kami lakukan,” katanya.

Sementara itu, dari Banyuwangi, Jawa Timur, dilaporkan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengawasi langsung pemberian bantuan benih ke petani. Pengawasan tersebut dilakukan untuk mencegah manipulasi data dan tidak sampainya bantuan ke petani.

Ali Masykur Musa, anggota BPK Bidang Pertanian, Perkebunan, dan Kelautan, akhir pekan lalu, mengatakan, pemeriksaan tersebut dilakukan di seluruh daerah yang menerima bantuan pertanian. (kompas)