BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Selasa, 27 Maret 2012
Berita Pertanian : Harga Cabai Rawit Merah di Solo Melambung Tinggi
Jika saat turun sempat berada pada kisaran harga Rp24 ribu per kg, saat ini melambung menjadi Rp38 ribu, bahkan sampai pada konsumen ada yang mencapai Rp40 ribu per kg.
Salah satu penjual makanan di kawasan Manahan, Solo, Mas Kris, mengatakan dirinya membeli cabai rawit merah Rp38 ribu per kg. "Tadi pagi saya beli sekilogramnya sudah Rp38 ribu per kg. Padahal, empat hari lalu masih Rp25 ribu per kg," ungkapnya di sela-sela melayani pembeli, di SOlo, Selasa (27/3/2013).
Hal senada dikemukakan oleh Mbak Eli, penjual bebek goreng di kawasan Kartasura. "Sejak kemarin, saya beli cabai rawit merah sudah Rp40 ribu per kg. Sedang cabai merah besar cuma Rp15 ribu per kg. Empat hari lalu masih harga cabai rawit merah masih Rp24 ribu per kg. Padahal cabai rawit merah, saya butuhkan sekali sebagai pendamping bebek goreng," ungkapnya.
Sementara itu, Mas Santo, pedagang besar cabai di Pasar Legi Solo mengatakan bahwa beberapa hari ini pasokan cabai rawit merah memang sangat berkurang. Sehingga di pasaran relatif langka. "Saat ini saya jual ke pedagang sayur atau pedagang cabai di dalam pasar Rp36 ribu per kg. Kalaupun kemudian pedagang sayur menjualnya lagi ke konsumen rumahan mencapai Rp38 ribu per kg hingga Rp40 ribu per kg, lumrah," ujarnya.
Sedangkan salah satu pedagang sayur di Pasar Sidodadi, Solo, Bu Parni, mengatakan bahwa cabai rawit merah di Pasar Legi Solo sudah Rp37 ribu per kg. "Saya jual kepada pembeli Rp40 ribu per kg. Padahal harga sayuran seperti wortel, kubis, kacang panjang, dan sebagainya relatif turun," ungkapnya.
Senin, 10 Oktober 2011
Berita Pertanian : Cabai Rawit di Bandar Lampung Capai Rp. 30 Ribu

BANDARLAMPUNG. Harga cabai rawit disejumlah pasar Bandarlampung menembus
Rp 30.000 per kilogram. Di Pasar Pasir Gintung, Bandarlampung, Senin harga cabai rawit
Rp 30.000 harga tersebut melonjak sejak tiga hari lalu. Sebelumnya harga cabai itu hanya
Rp 14.000 per kilogram.
"Ketersediaan juga tidak begitu banyak, makanya harga cabai rawit belakangan terus meningkat," kata Eko, salah satu pedagang cabai, Senin. Cabe merah besar Rp25.000, sedangkan cabe hijau besar Rp20.000, untuk cabe rawit besar atau cabe jengki Rp18.000
dan cabe kriting Rp24.000.
"Kemungkinan harga cabai rawit akan terus meningkat karena kondisi cuaca yang tidak
memungkinkan, sementara harga cabai jenis lainnya cenderung stabil," ujar Eko.
Hal sama pun disampaikan Ponirah pedagang cabai di Pasar Tugu, menurutnya, minimnya
ketersediaan cabai membuat harga terus naik.
"Sementara pembeli kita inginnya harga terus stabil, padahal
kenaikan itu juga sudah dari penjual pertama," kata dia. Demikian juga dengan Titah,
pedagang cabai di Pasar Koga, dia mengatakan, mahalnya harga cabai rawit membuat
konsumen beralih membeli cabai jengki.
"Harga cabai rawit jengki memang murah, beberapa pelanggan saya yang jualan makanan kebanyakan memilih cabai itu untuk pengganti cabai rawit," tutur dia.
Titah menambahkan, atau pembeli mengoplos cabai rawit dengan cabai jengki, mengingat
harga cabai rawit yang cenderung tinggi.
"Makanya saat harga cabai rawit selangit, cabai jengki menjadi alternatif lain yang diburu
pembeli," imbuhnya.
Icha, salah satu pedagang makanan gorengan mengeluhkan kenaikan harga cabai rawit.
"Pembeli sih mau nya cabai yang disediakan cabai rawit, kalau kami beli cabai itu maka
keuntungan minim," imbuhnya.
Dia berharap harga cabai rawit bisa stabil kembali mengingat kondisi cuaca sudah sering
turun hujan dua hari terakhir.
Selasa, 25 Januari 2011
Berita Pertanian : Cabai China Pun Menyerbu Indonesia

JAKARTA. Sudah dua pekan terakhir cabai rawit merah impor dari China dan Thailand menyerbu pasar Jakarta dan sekitarnya. Para pedagang mencampur rawit impor yang harganya lebih murah dengan rawit lokal untuk menekan harga cabai, yang di pasar Depok mencapai Rp 120.000 per kilogram.
Rum (50), Nuryanto (28), Rudy (29), dan Totok (25), pedagang yang ditemui di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (24/1/2011), mengatakan, serbuan rawit impor ke pasar induk sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.
Menurut mereka, harga rawit merah dari Thailand yang berukuran kecil Rp 55.000 per kg, sedangkan yang lebih besar Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Para pedagang cabai yang membeli rawit dari para pedagang besar di pasar induk mencampur rawit Thailand dengan rawit merah lokal yang harganya masih Rp 90.000 per kg. Dengan demikian, harga jual rawit merah oplosan di tingkat konsumen bisa ditekan.
Rudy dan Rum mengatakan, konsumen paling menggemari rawit merah lokal. Mereka lebih baik tidak makan rawit kalau rawitnya dari jenis lain, seperti rawit hijau dan rawit putih. Itu sebabnya, sejak harga rawit merah melambung, pasar rawit dari semua jenis melemah.
Untuk membangkitkan pasar rawit, para pedagang menengah dan pengecer kemudian mencampur rawit merah lokal dengan rawit merah Thailand yang berukuran kecil.
”Itu sebabnya, rawit caplak (rawit merah Thailand) yang kecil lebih mahal harganya daripada rawit caplak yang besar. Rawit caplak yang besar tidak bisa disamar dalam rawit merah campuran, sedangkan rawit caplak yang kecil bisa,” ujar Rudy.
Pedagang pengecer, Herianto (42), mengaku menjual rawit merah campuran seharga Rp 85.000 per kg. ”Saat ini jauh lebih menguntungkan berdagang rawit merah campuran,” katanya.
Pedagang cabai di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, Sumiyatun, mengatakan, rawit merah China dijual Rp 60.000 per kg, sedangkan rawit merah lokal dijual Rp 80.000 per kg.
Di Pasar Kramat Jati, rawit hijau dari Wonosobo, Jawa Tengah, dijual Rp 35.000 per kg, sementara rawit putih (rawit berwarna krem kekuningan) dijual Rp 37.000 per kg.
Masih tinggi
Di Depok, kemarin, harga rawit merah mencapai Rp 120.000 per kg. Berdasarkan pengamatan Kompas, bentuk rawit merah ini sama dengan rawit merah Thailand dan China. Saat ditanya mengenai kemungkinan ini, para pedagang menjawab tak tahu. Meski demikian, mereka memastikan bahwa rawit merah itu produksi tanaman lokal.
Harga cabai rawit merah di Depok pada tiga hari sebelumnya masih mencapai Rp 90.000 per kg. Para pedagang pengecer tidak tahu apa pemicunya sehingga harga cabai rawit merah kembali melambung.
”Saya terpaksa menjual dengan harga ini karena harga dari bandar Rp 110.000 per kg,” tutur Wiji (38), pedagang bumbu di Pasar Depok Jaya, Kota Depok, Jawa Barat, Senin.
Menurut Wiji, rawit merah yang dia jual itu kualitas super sehingga harganya tinggi. Hal itulah yang membuat Wiji tak berani menjual bahan pokok tersebut dalam jumlah besar. Dalam sehari dia hanya berani menjual 1 kilogram rawit merah.
Hanya berjarak kurang dari 1 kilometer, di Pasar Kemiri Muka, Depok, Senin sore, harga cabai rawit merah Rp 100.000 per kg. Pedagang Pasar Kemiri Muka, Anis (50), yang menjual 3 kg cabai rawit merah, mengaku, cabai yang dia jual dari kemarin belum juga habis.
Anis menjual rawit yang berbeda jenis dengan pedagang lain, tetapi harganya sama dengan harga cabai rawit merah. ”Saya tidak tahu ini cabai dari mana. Saya beli di sini (Pasar Kemiri Muka) dari bandar dan saya jual di sini juga,” kata Anis.
Harga rawit merah lokal di Pasar Cengkareng masih berkisar Rp 80.000 per kg. Adapun cabai merah keriting dijual Rp 50.000 per kg, turun dari semula Rp 58.000 per kg. (kompas)