Tampilkan postingan dengan label buah sukun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah sukun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

Peluang Usaha Pertanian : Gurih dan renyahnya keripik sukun datangkan omzet jutaan

















Meski bukan penganan jenis baru, keripik sukun memiliki banyak penggemar. Rasanya yang gurih dan renyah tak membosankan lidah. Pengusaha keripik sukun pun mampu mendulang omzet hingga jutaan rupiah. Mereka juga berinovasi mengembangkan produk baru.

Kudapan kecil bernama keripik memang sudah sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia. Maklum, camilan ini sangat cocok dinikmati di sela-sela waktu santai berteman kopi atau teh hangat.

Salah satu adalah keripik sukun. Lihat saja rezeki yang diperoleh Hasnah, produsen keripik sukun asal Manggar, Belitung. Perempuan ini telah mulai membuat keripik sukun sejak 1996.

Ia memanfaatkan buah sukun karena, meski tak banyak, pasokannya relatif stabil. Hasnah membuat tiga jenis produk keripik, yakni keripik biasa, keripik lebar, dan stik. Jika keripik biasa dibuat dari buah sukun yang sudah tua, keripik lebar dibuat dari buah sukun muda.

Selain keripik, buah sukun yang sudah tua juga dibuat menjadi stik. "Bagian luarnya dibuat keripik, bagian dalam dibuat stik," jelas Hasnah.

Kini, Hasnah mampu memproduksi hingga 500 bungkus keripik sukun per hari. Ia membubuhi kemasan keripik sukunnya itu dengan merek Nuansa Baru. Dengan harga jual Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per bungkus, Hasnah bisa mendulang omzet hingga Rp 50 juta sebulan.

Hanya, ia masih membatasi pemasaran keripiknya di sekitar Belitung dan Bangka. Pasalnya, ia belum bisa mendapatkan pasokan buah sukun secara rutin. Pasokan sukun sangat tergantung musim. "Jika musim hujan, kami bisa mendapatkan buah sukun yang lebih banyak dan bagus," timpal Ronal Indrawan, putra Hasnah.

Jika persoalan itu bisa teratasi, Hasnah ingin menjual keripik sukun Nuansa Baru ini ke pasar yang lebih luas. Apalagi, keripik ini memiliki daya tahan hingga tiga bulan.

Selain dari Belitung, banyak pula pengusaha keripik sukun asal Yogyakarta. Salah satunya Ronny Dahlan. Pemilik CV Gema Lestari ini mulai membuat keripik sukun sejak 2009.

Meski begitu, Ronni mengakui, berbagai olahan sukun ini merupakan makanan khas masyarakat Pulau Sumatra, khususnya dari Belitung. Ia mendapatkan ide membuat olahan sukun dari orang tuanya yang berasal dari Belitung.

Tak hanya keripik, Ronni juga mengolah sukun menjadi bolu. Bahkan, mulai tahun ini, ia menambah variasi produk berupa pizza sukun. "Saya terus berinovasi mengolah buah sukun, supaya konsumen tidak bosan," ujarnya.

Memang, dari berbagai olahan itu, keripik sukun menuai penggemar paling banyak. "Keripik lebih disukai karena merupakan camilan ringan, berbeda dengan roti dan pizza yang terkesan sebagai makanan berat," ujar Ronni.

Ia menjual keripik sukun ini dengan harga Rp 15.000 per bungkus. Dalam sebulan, dari penjualan keripik, Ronni mengaku mengantongi omzet hingga Rp 20 juta.

Pria berusia 30 tahun ini optimistis, produk olahan sukun akan terus berkembang. Sebab, buah yang banyak mengandung karbohidrat ini kaya akan serat, sehingga baik untuk kesehatan.

Selain itu, sukun juga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. "Sukun memiliki indeks glikemik yang rendah," katanya.

Ronni menjual produk olahan sukun ini di beberapa minimarket yang tersebar di Yogyakarta dan Semarang. Ia juga memasok keripik, roti dan pizza sukun ke kantin-kantin kampus. Ronni sengaja mengincar pasar mahasiswa karena biasanya kaum muda tertarik mencoba produk-produk baru.(KONTAN)

Senin, 04 Juli 2011

Sukun, Menopang Lingkungan dan Pangan












Tanaman sukun terkenal di seluruh dunia. Ia termasuk famili Moraceae yang berjuluk breadfruit atau buah roti. Selain menjadi makanan alternatif pengganti nasi, tanaman sukun berfungsi sebagai konservasi.

Nama itu cocok untuk sukun karena rasa daging buahnya yang pulen bagai roti. Apalagi buah yang dimanfaatkan sebagai makanan alternatif pengganti beras ini dijual dengan harga cukup terjangkau. Bahkan ke depan, buah tersebut akan memiliki posisi tawar.

"Selain untuk konservasi lahan, tanaman sukun juga berfungsi sebagai penopang cadangan pangan," kata Kepala Seksi Produksi dan Pengembangan Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Lampung Utara Murdoko, akhir pekan lalu.

Menurut Murdoko, tanaman sukun (Artocarpus altilis) memiliki multifungsi. Selain perakarannya kuat, tajuknya yang lebar dapat menahan erosi. Yang paling penting, buahnya mengandung karbohidrat dan protein, juga komponen gizi yang lain sehingga tanaman ini masuk kategori tanaman konservasi sekaligus tanaman yang dinilai mampu menopang ketahanan pangan.

"Tanaman sukun dikembangkan selain untuk konservasi, sekaligus juga untuk cadangan pangan," ujarnya sambil menikmati hidangan sukun goreng ditemani teh manis.

Penggunaan tanaman sukun sebagai tanaman konservasi sangat tepat. Di tengah hiruk pikuk isu pemanasan global yang menyebabkan turunnya produktivitas padi dan jagung di beberapa wilayah, seakan mendorong tanaman yang berbuah sepanjang tahun tersebut dikembangkan. Bukan hanya semata untuk penghijauan saja, melainkan lebih mengarah untuk persiapan cadangan makanan masa depan bila sewaktu-waktu terjadi kerawanan pangan.

"Pemanasan global memicu turunnya produktivitas padi dan jagung. Dampaknya, sudah terasa di Indonesia, termasuk Lampung yang ditandai dengan tidak menentunya musim. Hal ini mendorong pemerintah melakukan penghijauan sekaligus mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan. Dan, sukun menjadi salah tanaman alternatif yang masuk dalam program tersebut," kata Murdoko.

Bernilai Jual

Dari sisi ekonomi, pengolahan sukun masih cukup cerah. Salah satunya untuk bahan tepung dan bila dikreasi pembuatannya, dapat dijadikan kue atau mi yang memiliki cita rasa khas dan nilai jual. Dari sini saja, terbayang produk home industry yang akan menyerap banyak tenaga kerja.

"Prospek pengembangan sukun masih cukup cerah. Hanya saja, pengolahannya tidak didukung dengan sumber daya manusia yang memadai dan pasar yang menjanjikan," ujarnya.

Baginya, bila pengolahan sukun tidak disosialisasikan dan dikembangkan secara optimal, potensi sukun yang menjanjikan ini hanya berakhir di wajan penggorengan.

Budi Daya

Sebagai tanaman tropis, sukun hampir dapat tumbuh di semua daerah di Indonesia. Sukun dapat tumbuh di dataran rendah (0 m) hingga dataran tinggi (700 mdpl). Pertumbuhan optimal pada suhu dengan kisaran 20—40 derajat Celsius. Daerah dingin kurang mendukung pertumbuhan tanaman sukun. Kalaupun mampu tumbuh, sukun tidak akan berbuah optimal, tetapi cenderung menghasilkan daun rimbun.

Kelembapan udara yang diinginkan sukun ialah 70%—90%. Kelembapan penting untuk menunjang pertumbuhan, pembungaan, dan pembesaran buah. Sewaktu muda tanaman sukun lebih senang ternaungi, tetapi setelah dewasa sukun membutuhkan sinar matahari penuh.

Sukun dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, seperti podsolik merah kuning, tanah berkapur, dan rawa pasang surut. Namun, tanaman sukun akan berproduksi lebih baik pada tanah aluvial yang kaya humus.