Kamis, 29 Maret 2012

Berita Umum : Besok Malam, Matikan Lampu Satu Jam!

EARTH HOUR

JAKARTA. Jangan lupa matikan lampu dan alat listrik yang tak diperlukan selama satu jam, Sabtu (1/4/2012) malam, mulai pukul 20.30 - 21.30 WIB. Hal ini sebagai bentuk dukungan perayaan Earth Hour yang diorganisasi oleh WWF Indonesia.

Earth Hour adalah kegiatan mematikan listrik selama satu jam setiap minggu terakhir di bulan Maret guna meningkatkan kesadaran pentingnya penghematan energi dan langkah nyata menangani perubahan iklim. Kegiatan ini pertama kali dirayakan di Sydney, Australia. Sebanyak 2,2 juta warga Sydney mematikan lampu selama satu jam untuk menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2007.

Saat ini, lebih dari 100 negara terlibat perayaan Earth Hour. Di Indonesia, perayaan tahun ini adalah yang keempat kali dilakukan. Jumlah kota yang terlibat perayaan juga bertambah dari, 7 kota menjadi 26 kota.

Direktur Program Energi dan Iklim WWF Indonesia Nyoman Iswarayoga mengatakan, Earth Hour di Indonesia menanamkan kesadaran pentingnya hemat energi dan pilihan gaya hidup ramah lingkungan. Jika tahun lalu Earth Hour bertema 60+, setelah satu jam jadikan gaya hidup, maka perayaan Earth Hour kali ini bertema "Ini Aksiku! Mana Aksimu".

"Kita mengajak individu, komunitas, perusahaan dan semua kalangan untuk memiliki gaya hidup hemat energi dan ramah lingkungan," kata Nyoman kepada Kompas.com, Jumat (30/3/2012).

Beberapa komunitas di Jakarta bakal ikut serta merayakan Earth Hour ini di antaranya Koalisi Indonesia Hijau, Bekasi Berkebun, serta Komunitas Ciliwung Condet. Pemerintah Kota Jakarta pun menunjukkan dukungannya melalui pemadaman lampu yang menjadi ikon Jakarta, seperti Monumen Nasional, Bundaran Hotel Indonesia, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, serta Patung Pemuda.

Maka, kini saatnya dukungan masyarakat ditunggu, untuk meramaikan Earth Hour dengan mematikan lampu dan peralatan listrik yang tak perlu. Seluruh masyarakat bisa saling mengomunikasikan tentang perlunya hemat energi dan melanjutkannya menjadi sebuah langkah nyata. Di Jakarta saja, mematikan lampu satu jam bisa menghemat 170 megawatt listrik atau setara 151 ton gas rumah kaca. Jumlah itu bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan di daerah lain yang memerlukan.

Berita Umum : "Seharusnya Atasi Kebocoran Anggaran Bukan Naikkan BBM"

BANDUNG. Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) mengungkapkan kelemahan pemerintahan SBY-Boediono dalam mengatasi membengkaknya subsidi BBM.

Menko Bidang Eksternal KM ITB Dani Ramadhani Pratama mengungkapkan, seharusnya pemerintah memiliki solusi yang cerdas dan simpatik.

"Sebenarnya banyak alternatif lain daripada harus menaikkan BBM. Pemerintah kan ingin hemat anggaran, tapi tiap tahunnya 30 persen anggaran kita bocor. Seharusnya pemerintah benahi kebocoran di internalnya," ungkap Dani di Bandung, Jumat (30/3/2012).

Contohnya, kasus pengemplang pajak Dhana yang hanya segelintir saja dari kebocoran anggaran. Lalu hal kecil lainnya, jika ingin menghemat BBM aparatur pemerintah harusnya menjadi teladan bagi masyarakat dengan tidak memakai kendaraan mewah yang cc-nya besar. Sebab, memakai mobil CC-nya besar akan pakai BBM besar pula.

Lanjut Dani, jika bentuk-bentuk kebocoran negara dibenahi, anggaran misalnya bisa dipakai untuk infrastruktur dan subsidi. Misalnya untuk menyiapkan konversi dari BBM ke gas, sehingga stasiun pengisian gas bisa dibangun di mana-mana.

"BBM memang tidak perlu dinaikan tapi perlu dihemat. Saat ini kita mengalami defisit minyak, konversi BBM ke BBG memang perlu. Dananya itu tergantung bagaimana pemerintah mengatasi kebocoran anggaran, bukan menaikkan harga BBM bersubsidi," pungkasnya.

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Salak Madu










Salak madu menjadi favorit petani

Budidaya salak madu kian marak. Banyak petani melirik varietas baru dari salak pondoh ini karena harganya yang mahal. Tanpa rasa sepet, salak ini memiliki rasanya yang manis. Omzet petani pun berasa manis di kantong, yakni berkisar antara Rp 36 juta hingga Rp 72 juta sekali panen.

Siapapun tentu sudah tidak asing dengan buah salak pondoh yang banyak dihasilkan di daerah Yogyakarta. Tapi mungkin belum banyak yang tahu kalau belakangan daerah ini juga menghasilkan varietas baru buah salak, yakni salak madu.

Salak madu memiliki keunggulan dibandingkan salak lainnya, termasuk salak pondoh. Salak madu yang berasal dari Sleman, Yogyakarta ini memiliki ukuran lebih besar dibandingkan ukuran salak pada umumnya.

Buah ini dinamakan salak madu karena rasanya manis seperti madu. Jadi tidak ada rasa sepet seperti banyak ditemukan pada buah salak pada umumnya. Daging buahnya juga tebal dengan tekstur lembut. Selain itu, kandungan air pada salak ini lebih banyak dari salak biasa.

Karena berbagai kelebihannya itu, harga buah salak ini jauh lebih mahal dari salak biasa. Jika harga salak biasa di tingkat petani hanya Rp 2.000 per kilogram (kg), dan salak pondoh Rp 5.000 per kg, maka harga salak madu mencapai Rp 15.000 per kg. Sementara harga di pasaran sekitar Rp 35.000 per kg- Rp 40.000 per kg.

Homsinum, petani salak madu asal Sleman, Yogyakarta mengklaim, salak madu pertama kali ditemukan orang tuanya bernama Rameli. Varietas baru dari buah salak ini baru ditemukan beberapa tahun silam. "Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu di tengah tanaman salak pondoh orang tua saya ada dua salak yang tumbuh berbeda," ceritanya.

Perbedaannya ada pada ukurannya yang lebih besar dan rasanya juga lebih manis seperti madu. "Salak madu memiliki pasar yang menjanjikan saat ini," ujar Homsinum.

Salak tersebut kemudian dikembangbiakkan dan akhirnya terkenal dengan sebutan salak madu. Saat ini, Homsinum bersama orang tuanya membudidayakan salak madu di lahan seluas dua hektare (ha).

Menurutnya, salak madu bisa dipanen dua kali dalam setahun. Panen raya biasanya terjadi di bulan November dan Maret. Masa panen raya ini berlangsung dua minggu lebih. Saat panen raya, ia bisa memanen 24 kuintal atau 2.400 kg dalam dua minggu.

Dari situ, omzetnya mencapai Rp 36 juta sekali panen, atau Rp 72 juta dalam dua kali panen dalam setahun. Bila tidak sedang panen raya, ia tetap bisa memanen 50 kg dalam dua hari, dengan omzet minimal Rp 12 juta per bulan.

Mansur Mashuri, asal Turi, Sleman, Yogyakarta juga mulai fokus membudidayakan salak madu. Meski pasarnya belum seluas salak pondoh, Mansur sudah memasarkan salak madu ke beberapa wilayah, seperti Malang, Riau, dan Kalimantan. Selain buah, ia juga menjual bibit salak madu, dengan harga Rp 65.000-Rp 100.000 per batang." Omzet saya sekitar Rp 60 juta sekali panen," ujarnya.

Mari panen salak madu asal pasokan air cukup

Salak madu termasuk jenis salak unggul dengan ukuran lebih besar dan rasa yang lebih manis. Karena kelebihannya itu harga salak madu lebih mahal dibandingkan salak lainnya, termasuk salak pondoh. Makanya, banyak petani melirik varietas baru dari buah salak ini.

Apalagi, budidaya salak madu ini tidak begitu sulit. Menurut Homsinum, salah seorang petani salak pondoh asal Yogyakarta, salak madu bisa dikembangbiakkan dengan cara mencangkok dari induk pohon salak madu.

Menurutnya, budidaya salak madu dengan cara mencangkok lebih baik ketimbang budidaya dari biji. Dengan mencangkok dari pohon induknya, maka hasil buah salak madu sama dengan hasil buah induknya.

Menurut Homsinum, salak madu cocok ditanam di daerah pegunungan yang lembap. Dengan banyak mendapatkan air, salak ini akan memiliki buah lebih lebat.

Pencangkokan salak madu dapat dilakukan pada tunas baru yang muncul dari pohon induk. Butuh waktu selama empat bulan setelah dicangkok baru muncul tunas. Lalu tunas tersebut dipotong dan dimasukkan dalam polybag selama dua bulan sebelum ditanam di tanah. Selama di polybag akan terlihat bibit yang memiliki akar kuat dan bisa menjadi bibit unggul. Sementara bibit yang akarnya lemah akan mati. "Biasanya 90% bibit bertahan dan sisanya mati," jelas Homsinum.

Selama masa pembibitan di polybag, sebaiknya perlu diberikan pupuk kandang supaya bisa bertumbuh dengan cepat. Setelah dua bulan, petani dapat memindahkan salak madu dari polybag di lahan dengan jarak tanam sejauh 1,5 meter.

Sebaiknya, salak madu mendapatkan sinar matahari yang cukup dan disiram tiga kali dalam seminggu. Dua tahun setelah ditanam, salak madu sudah bisa mulai panen. Dalam satu tangkai bisa menghasilkan hingga dua kilogram buah salak.

Biasanya sejak menghasilkan bunga sampai matang, membutuhkan waktu selama enam bulan. Dari petani, harga buah salak madu dibanderol mulai dari Rp 15.000, sementara di pasaran harganya bisa melonjak hingga Rp 40.000 per kg.

Mansur Manshuri, petani dan pembibit salak madu lainnya menambahkan, salak madu cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 400 meter - 600 meter di atas permukaan laut. Adapun jarak tanam ideal salak madu 2,5 meter.

Dengan jarak itu, setiap pohon bisa menghasilkan buah hingga 5 kg. Sementara di lahan yang luasnya 1.000 meter persegi, sebaiknya ditempatkan minimal lima orang yang tugasnya mengawasi secara rutin perkembangan tanaman, seperti pemberian pupuk kandang, pengairan dan penyiangan.

Salak madu sangat baik ditanam di musim kemarau. Sebab, risiko terserang hama dan penyakit lainnya lebih rendah. "Tapi pastikan tetap mendapat pasokan air yang cukup," ujarnya.
(KONTAN)

Berita Umum : Kesalahan Umum Berhubungan Seksual

KETIKA Anda di tempat tidur bersama pasangan untuk bercinta, sebaiknya hindari beberapa kesalahan umum berikut ini:

1. Tidak mencium
Percaya atau tidak, Anda dan pasangan tidak mencium pasangannya saat berhubungan seksual. Mungkin karena posisinya tidak sesuai untuk mencapai klimaks dan merasa melanggar irama. Namun sangat disarankan mencium pasangan agar menambah gairah.

2. Menggigit sebelum pasangan siap
Ada beberapa pasangan agresif yang menggigit bagian tubuh agar terangsang. Tetapi pastikan dahulu apakah pasangan Anda sepenuhnya senang. Jika tidak bisa menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan.

3. Mengabaikan bagian tubuh lain
Alat kelamin besar, mungkin tidak diragukan lagi. Namun Anda harus memperhatikan bagian lain dari tubuh pasangan, mulai dari lutut, pergelangan tangan, punggung, perut dan zona sensitif seksual lain. Dengan lembut belai bagian tersebut agar mencapai kepuasan.

4. Klimaks terlalu cepat atau lambat
Bagi pria perlu memiliki kontrol baik pada otot-otot untuk memastikan berejakulasi tepat waktu. Jika terlalu cepat atau lambat mungkin saja perasaan pasangan tidak puas. Untuk menghindari hal itu perbanyak waktu foreplay.

5. Tidak memperingatkan pasangan sebelum klimaks
Selama berhubungan seksual, selalu beritahu pasangan saat mencapai klimaks. Jadi pasangan Anda bisa melakukan hal sederhana seperti 'melepaskannya'.

6. Memperlakukan seks seperti hal porno
Secara bijaksana bicarakan kepada pasangan sebelum terlibat pada hubungan intim.

7. Terburu-buru
Jangan terburu-buru melakukan seks dan memperlakukan pasangan dengan kasar. Nikmatilah dan sebaiknya lakukan juga hal sederhana seperti sedikit merintih atau mengatakan sesuatu,"Di bagian ini terasa lebih baik". Selain itu Anda pun bisa mengerang.

Ketahanan Pangan di Tengah Ekstrimitas Iklim

Oleh : Arfanda Siregar.

Sebagai negara yang dilewati oleh khatulistiwa, serta diapit oleh dua
samudera dan dua benua, Indonesia tidak hanya memiliki tanah yang mengandung berbagai zat hara yang bisa menyulap "tongkat" menjadi tanaman.
Indonesia juga terpengaruh oleh ekstrimitas iklim. Sulit, bahkan hampir mustahil memerkirakan pola cuaca yang bakal terjadi di seluruh wilayah Indonesia yang memanjang dari Sabang sampai Merauke. Apalagi di tengah derita bumi yang digempur pemanasan global (global warning) kian lengkaplah perubahan iklim (climate change) di negeri ini.

Salah satu dampak nyata yang mengancam adalah ketahanan pangan. Di tengah ketidakpastian dan perubahan iklim membuat ketahanan pangan negeri ini kian rapuh dihantam oleh berbaga bencana alam yang sangat bergantung dengan perubahan cuaca yang terjadi.

Penurunan Produktivitas

Tahun 2010 lalu menjadi bukti tak terbantahkan ekstrimitas cuaca/iklim telah membuat kalang kabut dunia pertanian. Banjir yang merendam lahan pertanian yang berujung pada kerusakan tanaman dan meningkatnya risiko kekeringan (el nino) maupun kebanjiran (la nina) merupakan pengaruh langsung dari ekstrimitas iklim.

Perubahan iklim yang ekstrem, yang menurunkan hujan sepanjang tahun jelas mengkacaubalaukan prakiraan musim tanam dan panen, sistem distribusi pasokan benih dan hasil panen menjadi kacau balau, hingga menggerus sistem Ketahanan Pangan Nasional.

Seperti beberapa wilayah di Jawa, musim hujan yang ekstrem membuat areal padi menjadi puso (gagal panen). Pada wilayah pesisir perubahan iklim berpengaruh kepada nelayan, saat turun ke laut menjadi terbatas karena besarnya gelombang menyebabkan hasil tangkapan ikan dan hasil laut lain menjadi menyusut.

Sementara itu, di NTB dan NTT pengaruh musim kering yang berubah berpengaruh besar pada produksi pertanian yang ada. Akibat kekeringan membuat petani di daerah tersebut tak mampu menggarap lahannya, terpaksa mencari perkerjaan sampingan sebagai buruh kasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) membuktikan di tengah panjangnya musim hujan di tahun 2010, produksi padi hanya 66,68 juta ton gabah kering, jauh dibawah target perkiraan produksi. Produksi kedelai turun 7,13 persen atau turun 69.497 ton dari tahun lalu. Kondisi yang sama menimpa komoditas pertanian lainnya.

Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa peningkatan suhu udara di atmosfer sebesar 5ºC selalu diikuti oleh penurunan produksi jagung sebesar 40 persen dan kedelai sebesar 10-30 persen. Sementara itu, peningkatan suhu 1-3ºC dari kondisi saat ini menurunkan hasil padi sebesar 6,1-40,2 persen. Pengaruh ini juga terlihat pada tanaman kacang-kacangan yang mengindikasikan kaitan antara penurunan curah hujan sebesar 10-40 persen dari kondisi normal dengan penurunan produksi sebesar 2,5-15 persen. Data lainnya terkait dengan cekaman kekeringan memberikan informasi bahwa el nino yang terjadi pada tahun 1997 dan 2003 menyebabkan menurunnya hasil padi sebesar 2-3 persen. Penurunan tersebut dapat menjadi lebih ekstrem apabila el nino dibarengi dengan peningkatan suhu udara.

Perlu Strategi

Pepatah terkenal mengatakan bahwa "iklim tidak mengenal tapal batas". Hal itu berarti mengendalikan cuaca bukan pekerjaan mudah, hampir mustahil dilakukan. Sampai saat ini, kemampuan manusia mengendalikan iklim masih sangat minim. Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamik dan sulit dikendalikan dan diduga. Manusia hanya mampu mengantisipasi dengan meminimalkan dampak buruk ketidakpastian iklim.

Padahal, keberhasilan ketahanan pangan sangat bergantung dari kondisi cuaca. Bagaimana mungkin panen terjadi kalau hujan terus menerus membombardir sawah. Kegagalan panen tidak melulu disebabkan oleh kealpaan petani, iklim yang tak bersahabat sering kali meluluhlantakkan jerih payah petani.

Oleh sebab itu, langkah-langkah strategis perlu dilakukan demi menyelamatkan ketahanan pangan.

Pertama, diversifikasi pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam ketahanan pangan. Tidak menggantungkan diri kepada makanan pokok yang rentan terhadap pengaruh cuaca dapat dilakukan dengan melakukan penganekaragaman pangan (diversifikasi konsumsi pangan) merupakan salah satu aspek penting dalam ketahanan pangan.

Kita pasti menyepakati bahwa padi merupakan komoditas yang lekang di panas dan layu di hujan. Melakukan terobosan dengan beralih memakan makanan pokok yang tahan terhadap segala cuaca, seperti singkong, pisang, dan sagu harus segera dimulai.

Kedua, mengembangkan usaha tani komoditas unggulan sebagai "core of business" serta mengembangkan usaha tani komoditas lainnya sebagai usaha pelengkap untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam, modal, dan tenaga kerja keluarga serta memperkecil terjadinya resiko kegagalan usaha. Contoh bentuk komoditas unggulan ini adalah Jagung Agropolitan di Provinsi Gorontalo, Padi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Provinsi Sulawesi Utara.

Ketiga, pemanfaatan air hujan secara efisien melalui pemanenan air hujan (rain water harvesting) dan air banjir (flood water harvesting). Alih teknologi pemanenan air, seperti pembuatan embung dan dam parit harus segera dilakukan kepada petani kita yang masih tradisionil.

Keempat, sadar lingkungan ketika bertani. Banyak tingkah laku petani kita yang tidak bersahabat dengan alam, seperti membenamkan jerami atau bahan organik mentah ke dalam tanah tergenang (emisi gas CH4) dan menempatkan pupuk urea dalam keadaan teroksidasi (emisi gas N2O) dan memilih varietas padi yang mempunyai emisi kimia tinggi. Kebiasaan buruk bertani tanpa pengetahuan malah menjadi penyebab penipisan ozon yang memicu perubahan iklim.

Kelima, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) oleh petani, antara lain berupa perangkat lunak (software) Sistem Informasi Iklim yang berisi database iklim yang berkelanjutan. Database iklim harus selalu diperbaharui. Setiap perubahan iklim yang terjadi sepanjang waktu harus terdokumentasi agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai analisis iklim yang umumnya membutuhkan data seri dalam periode tertentu. Karenanya, pengayaan dan pemutakhiran data iklim yang didukung oleh sistem pengamatan harus berkelanjutan dilakukan.

Pembuatan Sistem Informasi Iklim tersebut juga harus mampu mengakomodasi interaksi antar unsur, kondisi iklim suatu lokasi yang saling berkorelasi dengan lokasi lainnya, baik skala lokal (meso) dan regional maupun global (makro). Untuk menghasilkan sistem informasi iklim dan analisis risiko iklim yang efektif dan akurat dibutuhkan data iklim dari berbagai stasiun pengamatan iklim yang saling melengkapi dan bersifat sinergis.

Agar dapat mengejawantahkan strategi tersebut dibutuhkan komitmen pemerintah mengalokasikan dana yang lebih besar kepada dunia pertanian. Dana tersebut, bukan saja digunakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang tak menentu, tapi juga digunakan untuk dana penelitian perubahan iklim. Bagaimanapun keberhasilan ketahanan pangan tak dapat dipisahkan dari kesuksesan lembaga penelitian membuat terobosan-terobosan baru yang mampu melepaskan berbagai persoalan yang mengancam kesuksesan program ketahanan pangan kita, terutama dari ancaman iklim yang ekstrem itu. Semoga.

Penulis Dosen Politeknik Negeri Medan

Dongkrak Produksi, Petani Perlu Remajakan Tanaman Kopi

Sidikalang. Peremajaan tanaman kopi sudah selayaknya dilakukan di Kabupaten Dairi, mengingat tanaman kopi masyarakat saat ini sudah memasuki masa tua, sehingga produksi kopi yang dihasilkan menurun setiap tahunnya. “Dengan adanya peremajaan produksi kopi dari Kabupaten Dairi bisa meningkat lagi,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dairi Agus Bukka didampingi Kabid Perkebunan Theresia Panggabean,kepada, Kamis (29/3) di kantornya.

Bukka mengatakan, penurunan produksi kopi di Kabupaten Dairi secara umum disebabkan minimnya peremajaan yang dilakukan para petani kopi di daerah ini. Untuk kopi arabika misalnya, idealnya petani sudah harus melakukan peremajaan maksimal tanaman berumur 10 tahun. “Tetapi, kita lihat di lahan petani, tanaman yang berumur sepuluh sampai lima belas tahun masih saja dipertahankan sehingga tidak produktif lagi,” sebutnya.

Di samping itu, pihaknya juga mengakui hal mendasar penurunan produksi kopi tersebut juga diakibatkan keterpurukan ekonomi yang dialami masyarakat saat ini. Misalnya, untuk pemupukan di mana petani sangat sedikit yang mampu melakukan pemupukan karena kesulitan ekonomi mereka sehingga tidak dapat meningkatkan hasil panen. “Saya yakin jika tanaman itu mendapatkan pupuk yang cukup produksi akan meningkat,” ujarnya.

Sementara mengenai, sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA), Bukka mengaku tidak ada kendala bahkan sangat mendukung. “Sebenarnya pemerintah Kabupaten Dairi telah merencanakan pembukaan perkebunan kopi di Kecamatan Parbuluan seluas 2.000 hektare, namun karena areal pembukaan lain (APL) yang sudah ditetapkan sebelumnya hingga kini belum jelas dari Kementerian Kehutanan maka saat ini belum dapat kita kembangkan,” akunya.

Tetapi, lanjut dia, melalui usulan dalam musrenbang kabupaten baru-baru ini, kemungkinan besar pada tahun 2013 mendatang pihaknya mendapat dana bantuan daerah bawaan (DBD) untuk membantu masyarakat meningkatkan taraf hidup melalui bantuan penerbitan sertifikat tanah sebanyak tiga ratus persil (bidang) khususnya bagi masyarakat ekonomi lemah (miskin).

Dengan demikian diharapkan, masyarakat dapat mempergunakan sertifikat tanah tersebut untuk meminjam uang ke bank demi pengembangan pertanian ataupun usaha mereka.

Untuk itulah, pada tahun 2012 ini Dinas Kehutanan Dairi melalui dana APBD akan memberikan bantuan bibit kopi khususnya jenis arabika kepada petani sebanyak 15 ribu batang guna membantu petani. Selain itu, pihaknya tetap menyosialisasikan kepada masyarakat untuk peremajaan tersebut sehingga dapat mendongkrak hasil panen.

Berdasarkan data yang didapat MedanBisnis dari Kabid Perkebunan Theresia Panggabean dari data tahun 2011 lalu disebutkan, luas areal tanaman kopi robusta di Dairi mencapai 8.495 hektare, arabika 10.411 hektare. Sedangkan produksi untuk kopi robusta sebanyak 2.861 ton per tahun, arabika 10.733,2 ton per tahun.

“Kecamatan sebagai penghasil ataupun areal terluas tanaman kopi robusta dan arabika ada di Kecamatan Sumbul dan Kecamatan Silima Pungga-Pungga, sedangkan untuk kopi arabika terluas dan penghasil terbesar adalah Kecamatan Sumbul dan Kecamatan Parbuluan,” jelasnya.

Pertanian Perkotaan Bangun Kemandirian Masyarakat Kota

Medan. Masyarakat perkotaan harus mampu memanfaatkan lahan seberapa pun sempitnya sebagai lahan pertanaman pertanian untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Dengan pertanian model tersebut, masyarakat perkotaan dapat membangun kemandirian khususnya dalam pemenuhan pangan. Hal tersebut mengemuka dalam acara bimbingan teknis pertanian pekarangan yang dilaksanakan di lahan milik Kelompok Petani Cempaka Indah di Jalan Bunga Cempaka, Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang. Acara tersebut dipandu oleh Forum Komunikasi Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian Kabupaten Langkat (THL - TBPP).

Menurut Ketua Forum Komunikasi THL - TBPP, Haminnudin Nasution, dengan pemanfaatan pekarangan di wilayah perkotaan yang semakin sempit dapat membantu masyarakat untuk memaksimalkan potensinya dalam pertanian. Ini dimungkinkan karena kultur masyarakat Indonesia pada umumnya yang agraris dan tingkat kesuburan tanah. "Lagipula dengan pertanian, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan akan komoditas pertanian misalnya sayuran," katanya, Kamis (29/3).

Karena itu, lanjut Haminnudin, masyarakat perkotaan yang mencoba untuk memanfaatkan lahan yang kian sempit pantas untuk diberi dukungan pendampingan agar pertanian yang diusahakannya dapat berkembang dengan baik.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Cempaka Indah, Tanjung Simanjuntak mengatakan, ide pemanfaatan lahan pekarangan untuk pertanian karena dorongan dari salah satu tokoh masyarakat sekitar yakni Arifin Siahaan yang mana telah membuktikan bahwa pengembangan pertanian sangat memungkinkan untuk dilakukan di lahan pekarangan.

Dengan pemanfaatan lahan pekarangan menurutnya dapat membantu masyarakat perkotaan yang mana berlatar belakang sangat beragam dapat berkumpul demi mengembangkan pertanian. Di lahan sekitar 2,5 rante, dikatakannya saat ini telah disiapkan bibit jeruk nipis, cabai, bayam, sawi dan tomat yang diharapkan dapat membantunya dalam memenuhi kebutuhannya.

Dikatakan bahwa tanaman sayur merupakan pertanian yang mudah dikembangkan dan menghasilkan keuntungan ekonomi khususnya bagi anggota kelompok. "Tahap pertama untuk memenuhi kebutuhan anggota, kemudian untuk masyarakat sekitar," katanya.

Ia menjelaskan, Kelompok Tani Cempaka Indah yang berdiri pada 29 Februari 2012 dan beranggotakan 20 orang dengan latar belakang beragam ini yakin bahwa dengan pertanian pekarangan akan sangat membantu perekonomian masyarakat. Selain itu, di lokasi tersebut dapat dijadikan tempat pendidikan pertanian bagi masyarakat perkotaan yang mulai tidak mengenal sistem dan pola bertani. "Manfaatkan lahan pekarangan untuk pertanian, itu akan lebih punya arti daripada dibiarkan sama sekali," ujarnya.