Sabtu, 24 September 2011

Petani Tidak Untung Meski Harga Sayuran Tinggi












Medan
. Tingginya harga sayuran di pasar tradisional di Kota Medan ternyata tidak menghasilkan untung yang berarti bagi petani di beberapa daerah penghasil sayuran seperti Berastagi dan Simalungun.

Harga sayuran di Kota Medan seperti cabai merah dijual dengan harga Rp25.000 hingga Rp27.000 per kg, cabai hijau dijual dengan harga Rp20.000 per kg, kubis dijual dengan harga Rp3.000 per kg, wortel Rp7.000 per kg, sawi putih Rp2.500 per kg.

Rata-rata semua jenis sayuran di sana memiliki selisih harga mencapai tiga kali lipat dari harga ditingkat petani atau dua kali lipat dari harga di pasar tradisional di pasar daerah penghasil sayuran.

Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir, harga sejumlah komoditas sayuran terus mengalami peningkatan hingga 20% dari harga semula. Salah satu pedagang di Pusat Pasar Medan, Rosmalia mengaku, tingginya harga sayuran lantaran pasokan yang masuk sangat minim padahal permintaan cenderung tinggi.

"Sejauh ini pasokan sebagian besar sayuran masih sangat sedikit, makanya harga agak naik, di tingkat pengumpul juga naik," kata Rosmalia, Jumat (23/9).

Sementara itu, salah satu petani di Berastagi, Kris Tarigan saat dihubungi mengatakan, sejauh ini produksi sayuran di sana masih stabil. "Produksi kami saat ini masih stabil, dan tidak ada kenaikan harga yang begitu berarti," kata Kris.

Menurut dia, harga pengambilan oleh para pengumpul untuk kubis misalnya, berkisar antara Rp1.000 hingga Rp1.500 per kg, sawi putih berkisar antara Rp1.000 hingga Rp1.500 per kg, kentang Rp4.500 hingga Rp5.000 per kg.

Mengenai perbedaan harga yang cukup tinggi antara pasar di Medan dan harga di daerah sentra penghasil, dia mengatakan, tidak terlalu memahami masalah tersebut dan memang hingga saat ini pihaknya dan beberapa petani di sana tidak menikmati tingginya harga sayuran di Kota Medan.

Keuntungan yang dia dapat juga sangat rendah, ditambah lagi dengan biaya pupuk dan benih yang cukup mahal sehingga biaya produksinya cukup tinggi, sedangkan harga jual di tingkat petani masih rendah.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Sumatera Utara (Sumut), Yulizar mengatakan, tingginya harga sayuran di Kota Medan kemungkinan besar karena masalah pendistribusian.

"Kemungkinan besar tingginya harga sayuran di Kota Medan karena proses distribusi kurang lancar, apalagi sekarang memasuki musim hujan,"kata Yulizar.

Hal tersebut diperparah lagi dengan kondisi ruas jalan dari daerah penghasil sayuran ke Kota Medan yang rusak masih banyak sehingga menambah hambatan pendistribusian sayuran. "Masalah infrastruktur ini memang sudah menjadi kendala utama setiap tahun dalam pendistribusian,"pungkasnya.

Berita Pertanin : Puluhan Ribu Hektare Lahan di Sulsel Kekeringan

MAKASSAR. Lahan pertanian, khususnya persawahan, mulai mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Hal ini mengakibatnya puluhan ribu lahan pertanian yang tersebar di beberapa kabupaten di Sulsel terancam mengalami puso.

Di Kabupaten Sidrap dan Pinrang yang luas areal persawahannya mencapai 103 ribu hektare, 48 ribu hektare mengalami kekeringan sejak.

"Artinya, dua kabupaten ini akan kehilangan 268,8 ribu beras. Tapi itu tidak seberapa," jelas Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Sulsel Rahman Tayang, Sabtu (24/9).

Padahal, dua daerah ini merupakan sentra produksi beras di Sulsel, yang mampu memproduksi beras sebanyak 20% dari total produksi beras Sulsel sebanyak 4,4 juta ton pada 2010 lalu. Produktivitas berasnya rata-rata 5,6 ton per hektare.

Sementara, di Kabupaten Jeneponto, dari ratusan hektare areal persawahan yang ada, 26 ribu hektare di antaranya mengalami kekeringan.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto menunjukkan gagal panen akibat kemarau yang berkepanjangan terjadi di 83 desa dari sebelas kecamatan di Jeneponto.

Kepala Dinas Pertanian Jeneponto Mahlil Sikki mengakui jika perairan di daerahnya tidak banyak membantu untuk mengaliri persawahan para petani, karena lahan yang ada di Jeneponto tidak hanya untuk persawahan tapi juga untuk lahan pertanian lainnya.

Sayangnya, pihaknya belum bisa menuturkan berapa besar penurunan produksi peras akibat kemarau ini.

Hal yang serupa terjadi di Kabupaten Pangkep, setidaknya 6 ribu hektare areal persawahan di sana mengalami kekeringan dan mengakibatkan puso.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Pangkep Muhammad Jafar mengatakan, pemerintah sudah mengimbau petani untuk tidak menanam padi dulu, tapi banyak yang memedulikan imbauannya.

"Akibatnya, ya gagal panen itu. Tapi dibandingkan musim sebelumnya, kualitas produksi di musim ini lebih baik. Cuma memang ada beberapa yang puso karena tidak dialiri air irigasi," ungkap Jafar.

Untuk musim tanam tahun ini, Pemkab Pangkep memprediksi, hanya sekitar 3 ribu hektare sawah yang bisa ditanami padi, tapi petani tetap menanam hingga mengakibatkan ada 6 ribu hektare yang puso.

Dijelaskan Jafar, selama ini, pemkab telah membantu petani dengan mesin pompa untuk mengantisipasi kekeringan itu, utamanya mereka yang dekat dengan sumber air seperti sungai atau danau.

"Yang masalah karena air yang akan disedot tidak ada," tandasnya.

Berita Pertanian : Jateng Impor 180.000 Ton Beras

SEMARANG. Stok beras di berbagai gudang Bulog Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan beras miskin (Raskin) masih berjumlah 321.847 ton, namun demi alasan untuk memenuhi kebutuhan raskin, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengimpor beras sebanyak 180.000 ton.

Impor beras itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan Raski hingga tiga bulan ke depan. Kebutuhan Raskin di Jateng rata-rata 60 ribu ton per bulan.

Kondisi tersebut ironis, karena persediaan beras miskin di berbagai gudang Bulog di Jateng masih mencapai 321.847 ton, karena hingga September ini baru berhasil menyerap 56,47% dari target penyerapan 2011 sebanyak 570.000 ton. Bahkan pada Oktober mendatang ada beberapa daerah yang mengalami panen.

Keputusan impor beras Provinsi Jateng tersebut diungkapkan Gubernur Jateng Bibit Waluyo usai mengikuti evaluasi pertebuan di

aula kantor Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

"Rencana impor beras untuk memenuhi kebutuhan Raskin ini karena stok raskin di gudang Bulog semakin menipis, sehingga memerlukan impor untuk menutupi kekurangan kebutuhan beras tersebut," kata Bibit Waluyo.

Bulog tidak menerapkan strategi yang tepat dalam pembelian gabah, padi atau beras milik rakyat, imbuh Bibit, seharusnya pembelian gabah maupun padi ini bisa dilaksanakan saat panen raya, tepatnya bulan Januari-Maret 2011, sebagian bisa disimpan di gudang, sedangkan sisanya dapat dibagikan dalam bentuk raskin dan cadangan beras untuk pemerintah daerah.

Namun langkah ini tak diambil Bulog, lanjut Bibit, hingga mengalami defisit raskin dan impor tersebut bakal dialokasikan untuk pembagian raskin mulai bulan Oktober hingga Desember 2011.

Kebutuhan beras masyarakat miskin di Jateng, menurut Bibit Waluyo, mencapai 60.000 ton per bulan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan untuk tiga bulan mendatang, maka total impor raskin untuk Jateng mencapai 180.000 ton.

Kamis, 22 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : Lepas Cita-cita Pelaut, Kini Tembus Pasar Ekspor











SAHRIL
Sidik berada di kebon mangganya di Cirebon, Jawa Barat. Berkat semangat pantang menyerah Sahril kini menjadi pembudi daya dan pedagang mangga beromzet miliaran rupiah.

Cita-citanya menjadi pelaut. Namun, ketertarikan menggeluti ilmu perkebunan telah membelokkan jalan hidup Sahril Sidik. Dari semula memimpikan berlayar di tengah samudera, Sahril kini menjadi pembudi daya dan pedagang mangga beromzet miliaran rupiah. Kesuksesan itu tentu tak datang begitu saja.

Merantau dari kampung halamannya di Takengon,Nanggroe Aceh Darussalam, Sahril datang ke Cirebon, Jawa Barat,untukmeraih cita-citanya sebagai pelaut.Dia masuk Akademi Maritim Cirebon, Kota Cirebon pada 1998. Tanpa seorang pun sanak saudara,dia memutuskan aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Dari sini pula dia terlibat jaringan pertemanan yang membuatnya tak lagi merasa sendiri. Jaringan itu selanjutnya berkembang dari sekadar internal kampus menjadi eksternal, bahkan nasional saat dirinya ditunjuk sebagai Ketua Presidium Forum Komunikasi Taruna Maritim se-Indonesia. Jalan hidupnya mulai berubah sekitar tahun 2000. Perkenalannya dengan Cucu Sumiyati membawa Sahril mengenal mangga dan dunia perkebunan.

"Istri saya orang Majalengka. Ketika beberapa kali datang ke rumahnya, saya disuguhi mangga gedong gincu,” kata Sahril. ”Saya juga mengetahui keluarga besarnya rata-rata bertani mangga gedong gincu. Namun, saat itu masih diperdagangkan secara tradisional, begitu panen langsung jual,” sambung dia. Perkenalan itu membuat Sahril jatuh cinta pada mangga gedong gincu.

Begitu melihat potensi luar biasa dari buah ini, dia memutuskan mempelajarinya. Sahril tanpa ragu mendatangi petani untuk belajar dan mengetahui seluk-beluk mangga gedong gincu dan perdagangannya. Ketika akhirnya menikah dengan Cucu, saat itu pula dia memutuskan melepas cita-citanya sebagai pelaut.

“Rasanya berat meninggalkan orang yang kita cintai untuk pergi berlayar. Akhirnya saya benar-benar memfokuskan diri pada dunia perkebunan mangga,”kata Sahril.

Meski tidak memiliki latar belakang sebagai petani mangga, Sahril yakin bisa sukses.Dia optimistis dapat memasarkan dengan mempertimbangkan jaringan pertemanan yang terbentuk selama di kampus.Agar berhasil, Sahril tak ragu untuk belajar bertanam mangga gedong gincu. ”Saya belajar autodidak, tanya petani,baca buku, tanya petani lagi, baca buku lagi, begitu terus,” ucapnya seraya terkekeh.

Memulai usahanya, Sahril mencari lahan perkebunan untuk pohon-pohon mangga yang akan ditanamnya. Namun, hal itu ternyata tidak mudah. Beruntung, pertemanan membuat pria kelahiran 1978 ini menemukan jalan. Seorang kawannya merekomendasikan lahan perkebunan di Desa Sindang Jawa, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.

Tanpa banyak berpikir Sahril menyewa lahan yang masih berupa hutan belantara tersebut. “Dulu saya bantu-bantu pekerjaan istri di perusahaan asuransi, jadi punya penghasilan sedikit untuk menyewa lahan dua hektare di Sindang Jawa itu.Pemiliknya mengajukan harga sewa Rp2,5 juta per tahun.Ditambah upah kawan yang memberi rekomendasi Rp1 juta, jadi modal awal Rp3,5 juta,”tuturnya.

Persoalan mulai muncul saat dia menyadari tak memiliki tenaga penggarap lahan perkebunan miliknya. Selain tak memiliki modal lagi, dia juga menghadapi krisis kepercayaan dari sejumlah orang yang hendak direkrutnya menjadi tenaga penggarap lahan.Penampilan luar Sahril kala itu dianggap tak meyakinkan, sampai-sampai calon tenaga penggarap tak yakin dia mampu membayar.

Kondisi itu sempat diperparah dengan sikap keluarganya di Aceh maupun keluarga dari pihak istri yang memandang pesimistismengingatlatarbelakang pendidikannya dianggap tak cocok untuk usaha berkebun mangga.Selama sekitar satu bulan,kebun tersebut menganggur. Sampai suatu hari, datang seorang teman lama yang menawarkan Sahril menjual lem serbaguna secara door to door.

Keuntungan yang lumayan besar membuatnya menerima pekerjaan tersebut. Kendati demikian, Sahril tetap memfokuskan pikirannya pada pengembangan kebun mangga yang belum tergarap. Karena itulah, pekerjaan menjual lem dipandangnya sebagai pekerjaan sementara. Tantangan kembali dihadapi saat dirinya tak memiliki kendaraan untuk menunjang pekerjaannya sebagai sales.Untuk menyiasati, Sahril menggunakan sepeda motor pinjaman.

Ketika sudah memperoleh keuntungan menjual lem ditambah hasil beberapa pinjaman,dia mampu mengumpulkan Rp2,5 juta yang kemudian dimanfaatkan untuk mengkredit sepeda motor. Memiliki sepeda motor menjadi modal awal kepercayaan dari tenaga-tenaga penggarap lahan yang direkrutnya kemudian hari.Sambil memfokuskan diri pada perkembangan perkebunan mangga,Sahril terus berkeliling menjajakan lem ke sejumlah kota seperti Majalengka,Tasikmalaya, Ciamis, maupun Sumedang.

Selama 1,5 tahun dia menekuni pekerjaan tersebut. Selain untuk menambah modal, pekerjaan itu juga meluaskan jaringan pertemanannya. Sementara itu, sesuai hasil analisisnya, panen mangga pertama kali menghasilkan keuntungan besar. Dari modal awal sekitar Rp10 juta, panen menghasilkan omzet Rp25 juta. Semakin optimistis, Sahril memutuskan mengembangkan lahan perkebunannya dengan menyewa dua hektare lagi di tahun kedua. Secara perlahan,perkebunan ini mulai tergarap lebih baik.

“Berapa pun punya uang, saya investasikan untuk perkebunan mangga ini.Saat itu juga saya melepaskan pekerjaan sebagai sales dan benar-benar mencurahkan diri di sini karena pasar mangga gedong gincu sangat bagus,”tutur dia. Pada tahun kedua, omzet penjualan mangga meningkat menjadi ratusan juta rupiah. Sekitar 2004, dia mengaku kepercayaan dirinya menguat sehingga berani mengirim sejumlah sampel mangga gedong gincu ke Singapura.

Meski mendapat respons positif, Sahri lsempat menemui persoalan ketika lalat buah menyerang dan menyebabkan mangganya busuk. Pengalaman ini membuat ayah tiga anak tersebut harus kembali mempelajari cara menghadapi serangan lalat buah serta penyakit lainnya. Usai menyerap banyak ilmu perkebunan, Sahril merasa sebagai petani sesungguhnya.Pada 2005 dia mulai menjajaki penggunaan teknologi.

Hasilnya,dia mampu memanen mangga di luar musim atau dengan kata lain, panen dua kali lebih cepat dari biasanya. Pada 2006, dia mengembangkan pasar ke Jakarta melalui kemitraan. Selain mangga gedong gincu, Sahril juga mengembangkan kebunnya dengan menanam mangga jenis lain seperti arum manis dan cengkir, serta durian dan jambu biji. Untuk jambu biji, Sahril bahkan mengaku tengah fokus mengembang kan agar dapat melahirkan buah jambu biji tanpa biji

Sahril juga menyewa areal perkebunan mangga di Jatitujuh, Kabupaten Majalengka dan di Sliyeg,Kabupaten Indramayu. Kedua perkebunan ini dikelola mitra kerjanya. Lebih dari itu, selain fokus pada pemasaran, Sahril juga mengusahakan kaderisasi bagi siapa saja yang ingin maju.Kaderisasi dianggapnya dapat membuat pasar mangga gedong gincu lebih besar. Untuk mendukung upaya kaderisasi itu, pada 2008 anak pertama dari lima bersaudara ini bekerja sama dengan BNI Syariah Cabang Cirebon.

“Perbankan yang bisa meng-cover besar usaha saya hanya BNI Syariah. BNI Syariah responsif dengan permintaan saya. Pinjaman awal Rp100 juta saya gunakan membantu mitra-mitra kerja dengan harapan terbentuk kaderisasi mangga gedong gincu,” ungkap pria yang memiliki falsafah hidup menjalani segala sesuatunya dengan semangat dan optimisme ini.

Dari modal awal sekira Rp10 juta, saat ini usaha Sahril mampu menghasilkan omzet miliaran rupiah. Dari hanya mampu mempekerjakan tenaga penggarap lahan harian, dia kini memiliki 10 karyawan dan mitra kerja. Dari hanya bekerja sendiri, dia kini mampu melakukan kaderisasi. Meski begitu, Sahril tetap tak menganggap pencapaiannya kini sebuah kesuksesan karena dia masih akan terus mengembangkan diri.

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Bunga Masih Merekah





















TIDAK
semua orang berani memutuskan keluar dari pekerjaan yang mapan dan mendapatkan penghasilan tetap. Namun, itulah yang dilakukan Rosita Suwardi Wibawa yang kini terbukti tidak keliru membuat keputusan untuk terjun menjadi wirausahawan.

Meski dianggap kurang populer, Rosita memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan BUMN yang didambakannya sekian lama. Ibu tiga orang anak ini pun terbilang berani untuk mencoba menjadi florist, mendirikan usaha karangan bunga yang terbilang sudah banyak pemainnya.

Akan tetapi, satu hal yang membuatnya percaya diri adalah sistem yang dipakai dalam menjalankan bisnis bunga. Dia menggunakan konsep business opportunity berupa franchise yang dianggapnya terbilang baru di Indonesia. Selain menjual rangkaian bunga untuk kalangan korporasi atau pun individu, Rosita memperkaya bisnisnya dengan beragam kegiatan formal atau pun nonformal yang tentu saja berkaitan dengan tanaman dan bunga-bungaan.

Dengan ini, jaringan bisnis rangkaian bunga Rosita semakin berkembang. Rosita mulai mendirikan usaha karangan bunga yang dinamakan "Tar A Porter" di daerah Tangerang pada awal 2010 lalu. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2011, dia menawarkan kemitraan usaha ini untuk mengembangkan jaringan di seluruh Indonesia.

Pada tahun pertamanya dia sudah memiliki standard operating procedure (SOP) tersendiri berdasarkan pengalaman usaha di bidang penyewaan tanaman hias dan karangan bunga segar di kurun waktu 2003-2005. Di tahun keduanya, perempuan yang juga bergelar magister kenotariatan itu menduplikasikan usaha melalui business opportunity.

Saat ini sudah ada empat mitra cabang yang dibukanya. Di tahun kedua ini pula dia mengembangkan cara pengolahan limbah berdasarkan hasil riset sederhananya. Tujuannya, Tar A Porter harus membuat limbah bunga menjadi bernilai ekonomis seperti potpourri atau bunga kering yang dijadikan bahan aroma terapi. Ketertarikannya terhadap usaha bunga dimulai Rosita 2003 silam.

Saat itu alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) ini merintis usaha sendiri berbendera “Rumah Daun” dengan bisnis utama penyewaan bunga. Bermodalkan Rp250 ribu, dia mendapatkan order pertama dengan menyewakan tanaman hias. Dari sana order bunga hiasnya terus berkembang dan mendapatkan klien perusahaan-perusahaan besar seperti Mitsubishi, Medco Energi, Bank Niaga,Auto Mall, Plaza, hingga pusat perbelanjaan seperti Plasa Semanggi.

Namun, setelah usahanya berjalan selama dua tahun, tiba-tiba kesabarannya teruji. Suaminya, Wibawa Prasetyawan, harus melanjutkan studi ke Inggris. Karena waktu persiapan hanya sedikit dan belum mempersiapkan manajemen untuk meninggalkan usahanya, Rosita merelakan menjual usaha beserta asetnya.“ Rasanya seperti menjual bayi sendiri,” ujarnya.

Rosita dan keluarga hidup di Inggris selama kurang lebih dua tahun.Di Negeri Ratu Elizabeth itu dia bekerja bergantian dengan suaminya karena harus menjaga anak-anak.Di samping bekerja, Rosita beruntung bisa mengambil kursus singkat di salah satu sekolah fashion terbaik di London, yaitu Central Saint Martin College, tempat desainer Alexander Mc Quinn dan Stella Mc Cartney belajar mode.

Hasil studinya di London diakuinya sangat berperan dalam mengenali taste dan kualitas desain dalam setiap rangkaian bunganya. Tak heran jika setiap rangkaian bunganya memiliki gaya dan model menarik konsumen. Sepulangnya dari Inggris, Rosita mendampingi suami keliling tugas di luar Jakarta.

Selama itu pula dia akhirnya merapat kepada teman-temannya yang menjadi pengusaha sekaligus mengambil Magister Kenotariatan di Universitas Airlangga. Barulah setelah suami kembali dinas di Jakarta, dia merintis kembali usaha dengan bendera Tar A Porter. Dua hari setelah membangun Tar A Porter Flower pada akhir Februari 2010, order datang bertubi- tubi dari klien-klien lamanya ketika masih mengelola Rumah Daun.

Berbekal pengalaman sebelumnya, pada tahun pertama Tar A Porter membuat SOP yang mendasari profesionalitas kerja karyawannya. Adapun, sistem business opportunity yang dikembangkannya memungkinkan mitra kerjanya menduplikasikan usaha dengan tujuan menjamin kualitas mutu dan desain produk bunga dari Tar A Porter.

Saat ini Tar A Porter Flower mempunyai empat cabang yakni di Alam Sutera (www.- taraporter.com/alamsutera), BSD (www.taraporter.com/bsd), BSD The Green (www.taraporter. com/bsd-thegreen) dan Jakarta Pusat. Ke depan, impiannya ingin memberikan servis dan kualitas terbaik di bidang bunga dan variannya.

Adapun, pengembangan potpourri diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada produk impor dari Jepang, India, China dan Thailand. “Dengan mengolah potpourri sendiri, Tar A Porter berharap dapat memberikan sumbangsih untuk Indonesia,” tukasnya.

Berita Pertanian : Peran Penyuluh Penting Tingkatkan Produktivitas Pangan

Medan. Peran penyuluh pertanian dalam peningkatan produktivitas tanaman pangan sangatlah penting agar ketahanan pangan nasional bisa tetap terjaga. Sebab melalui penyuluhan, pendampingan dan pelatihan yang diberikan para penyuluh pertanian, kalangan petani mendapat tambahan pengetahuan agar produksi tanaman pangan bisa meningkat. Hal tersebut diungkapkan Kabid Bina Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sumatera Utara, Bonar Sirait, saat ditemui di kantornya di Jalan AH Nasution, Medan, Rabu (21/9).

"Keberhasilan peningkatan produksi tanaman pangan petani diperoleh melalui tahapan-tahapan peningkatan kompetensi yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan petani dari upaya yang dilakukan dari penyuluhan pertanian," kata Bonar.

Menurut dia, penyuluh pertanian memiliki peran untuk mendorong para petani dapat meningkatkan produksi tanaman pangan baik melalui perluasan areal ataupun produktivitas yang diperoleh per satuan luas yang dimilikinya.

"Supaya produksi tanaman pertanian bisa meningkat diperlukan berbagai upaya, diantaranya kemampuan petani dalam mengelola usahataninya yang berhubungan dengan pancausaha, penerapan teknologi baru, pengelolaan yang bersifat agribisnis, pemasaran dan berbagai hal lainnya. Nah disinilah pentingnya pentingnya peran penyuluh pertanian itu," katanya.

Penyuluh pertanian, sebutnya, harus melakukan penyuluhan secara berkesinambungan kepada para petani tanaman pangan agar pengetahuan, sikap dan keterampilan petani bertambah baik dari sebelumnya. "Dari sini, para penyuluh pertanian juga akan mengenalkan semua teknologi dan inovasi baru dalam bidang pertanian,"ungkapnya.

Berita Pertanian : Pengusaha Diharapkan Dukung Ketahanan Pangan

Jakarta. Pemerintah mengharapkan kalangan pengusaha untuk mendukung upaya pencapaian ketahanan pangan nasional melalui kegiatan investasi. Peluang investasi yang ditawarkan dari sektor pertanian, lanjutnya, tidak hanya pada usaha budidaya namun juga usaha industri.
Salah satu bidang yang ditawarkan pemerintah terhadap para investor yakni pengembangan kawasan pangan dalam skala luas atau "food estate" guna mewujudkan ketahanan pangan.

Sementara itu Direktur UBM Indonesia (penyelenggara CWSEA 2011) Eko Prabowo menyatakan, melalui kegiatan pameran dan konferensi yang akan digelar pada 30 November-1 Desember 2011 itu diharapkan mampu meningkatkan volume perdagangan khususnya di sektor agribisnis.

Kegiatan ini, lanjutnya, dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada para pengusaha dan pemangku kepentingan pangan serta pertanian di kawasan ASEAN untuk bertemu dan membentuk jaringan usaha dan sinergi di bidang pangan dan pertanian.

Eko mengatakan, pameran yang akan diselenggarakan di Balai Kartini tersebut rencananya diikuti 250 peserta terutama dari negara-negara Asean serta menampilkan 40 stan pameran.

Menteri Pertanian Suswono yang dijadwalkan sebagai salah satu pembicara akan memberikan gambaran tentang peluang dan potensi kerjasama pemerintah dan swasta dalam memperkuat ketahanan pangan.

Selain itu juga akan dihadiri Sekjen Asean Surin Pitsuwan yang akan membahas hasil yang dicapai dalam pembicaraan Pertemuan Menteri Pertanian dan Kehutanan Asean (AMAF) yang rencananya dilaksanakan di Jakarta pada Oktober 2011. (ant)