Senin, 06 Februari 2012

Pemerintah Kaji Pembentukan BUMN Pangan Selain Bulog

Jakarta. Pemerintah akan mengkaji pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membidangi masalah pangan, selain Perum Bulog yang selama ini ditugasi menangani perberasan nasional.
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan di sela-sela Rapat Koordinasi Perum Bulog di Jakarta, Kamis (2/2), menyatakan, saat ini masih dalam perumusan kebijakan mengenai pembentukan BUMN pangan di luar Bulog tersebut.

Menurut dia, Kementerian BUMN menargetkan, kajian tersebut sudah dapat diselesaikan pada 2013. "Bisa saja berbentuk satu holding BUMN. Atau bisa mendirikan BUMN pangan lainnya. Negara Indonesia ini sangat besar, dan memiliki 240 juta jiwa penduduk. Kalau ada tiga BUMN pangan, cukup memadai untuk melayani penduduk," katanya.

Untuk peran Perum Bulog, menurut dia, BUMN ini tetap harus terfokus pada komoditas beras dan gula. "Ini korporasi, tentunya memiliki doktrin. Harus fokus, lebih baik menangani satu atau dua komoditas saja," katanya.

Pada kesempatan tersebut Menteri BUMN menyatakan, pemerintah juga meminta Perum Bulog untuk meningkatkan divisi komersial dan mengurangi ketergantungan pada jasa pelayanan publik (PSO). "Kita menginginkan Bulog terus didorong untuk memperbesar non-public service obligation (PSO). Kalau masih terus bergantung pada PSO, Bulog tidak tumbuh, malah sebagai korporasi akan melemah," katanya.

Menurut dia, masalah pangan menjadi persoalaan besar bangsa di manapun sehingga tantangan global ke depan harus dijawab secara taktis oleh Perum Bulog untuk turut bertanggung jawab menjaga ketahanan pangan nasional.

Dalam menjalankan peran jasa pelayanan publik, di antaranya Perum Bulog ditugasi menyerap gabah dan beras petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Selain itu BUMN pangan tersebut juga ditugaskan mendistribusikan raskin yang sumber pendanaannya berasal dari APBN. Sedangkan untuk membesarkan divisi komersial, lanjutnya, bisa melalui beberapa cara, seperti melakukan sistem resi gudang dan memperbanyak pembelian beras komersial. "Sekecil apapun bisnisnya, resi gudang harus dijalankan," kata mantan Dirut PLN tersebut. (ant)

Kenaikan Harga Beras di Malang tidak Terkendali














MALANG.
Harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Malang, Jawa Timur, terus mengalami kenaikan.

Diduga kenaikan itu semakin tidak terkendali. Soalnya, pantauan selama 10 hari terakhir tidak terlihat adanya kecenderungan bakal turun.

Survei harga yang dilakukan unit pelaksana teknis Pasar Lawang menyebutkan harga beras IR 64 Super sudah menyentuh Rp9 ribu per kilogram (kg), beras IR 64 medium Rp8.500, dan beras IR 64 kualitas tiga Rp8 ribu.

Kepala Tata Usaha Pasar Lawang Suyanto, Senin (6/2), mengatakan hasil survei harga beras pada Sabtu (4/2) sampai dengan hari ini cenderung terjadi kenaikan dibandingkan dengan survei hari sebelumnya.

"Harga beras stabil di kisaran itu," tegasnya.

Pantauan harga di Pasar Singosari juga terjadi kenaikan. Untuk harga beras IR 64 super Rp8.500, beras IR 64 medium Rp8 ribu, dan IR 64 kualitas tiga Rp7.800. Kenaikan harga di tingkat pedagang juga memicu kenaikan harga di tingkat pengecer.

Hasil survei dua pekan sebelumnya untuk IR64 Super sudah terjadi kenaikan dari Rp8 ribu menjadi Rp8.500 per kg, beras IR64 medium naik dari Rp7.800 menjadi Rp8 ribu, dan beras IR64 kualitas 3 dari Rp7.600 menjadi Rp7.800.

Petugas survei harga di Pasar Singosari Andalia mengatakan para pedagang menaikkan harga beras karena harga di tingkat petani sudah naik.

Penyebabnya pasokan beras ke pasar tidak banyak karena petani kesulitan menjemur gabah akibat hujan yang terjadi hampir setiap hari.

Berita Pertanian : Nilai tukar petani Sumsel 122,20 persen

Palembang. Nilai tukar petani padi dan palawija Sumatera Selatan mencapai 122,20 persen pada Januari 2012, berarti petani di daerah ini semakin sejahtera dibandingkan dengan tahun dasar 2007.

"Jika dibandingkan bulan sebelumnya, nilai tukar petani padi dan palawija Sumsel pada Januari 2012 turun 0,65 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Haslani Haris di Palembang, Sabtu.

Ia menjelaskan penurunan tersebut karena indek harga yang diterima petani dari komoditas palawija, mengalami penurunan sebesar 0,34 persen.

Menurut Haslani, perkembangan nilai tukar petani padi dan palawija cukup berfluktuasi, namun kemampuan nilai tukarnya masih lebih baik dibandingkan tahun dasar 2007.

Hal tersebut, kata dia, ditunjukkan dengan besaran nilai tukar petani padi dan palawija di atas 100. Nilai tukar petani padi dan palawija tersebut berasal dari perbandingan antara indek harga yang diterima petani padi dan palawija terhadap indek harga dibayar petani untuk konsumsi rumahtangga dan biaya produksinya.

Selanjutnya nilai tukar petani hortikultura yang merupakan indikator untuk menunjukkan kemampuan daya beli petani jenis komoditas tersebut. Sama halnya dengan petani padi dan palawija, perkembangan nilai tukar petani hortikultura juga cukup berfluktuasi, katanya.

Ia mengatakan nilai tukar petani hortikultura pada Januari 2012 sebesar 115,46 persen, bila dibandingkan dengan bulan Desember 2011, nilai tukar petani komoditas itu mengalami penurunan sebesar 0,91 persen.

Penurunan nilai tukar petani hortikultura itu karena indek harga diterima petani mengalami kemerosotan sebesar 0,34 persen.

Komoditas hortikultura, kata dia, meliputi sayuran dan buah-buahan, dimana pada Januari 2012 indek harga komoditas sayuran mengalami peningkatan sebesar 1,65 persen, sementara buah-buahan terjadi penurunan 0,91 persen.

Selanjutnya, nilai tukar pekebun yang dipantau selama setahun terakhir menunjukkan angka cukup berfluktuasi. Penurunan nilai tukar pekebun terjadi sejak Januari 2008, dan berlanjut hingga memasuki tahun 2010 dengan nilai tukarnya di bawah 100.

Dikemukakannya, pada awal tahun 2011, pekebun di Sumsel masih mengalami defisit, dan hal tersebut ditandai dengan rendahnya harga beberapa komoditas perkebunan seperti karet, kopi, dan kelapa sawit atau buah sawit dimana komoditas itu merupakan andalan rakyat.

Menurut Haslani, pada bulan Januari 2012 nilai tukar pekebun mengalami defisit dengan nilai sebesar 91,17 persen.

Namun, bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai tukar pekebun Sumsel pada Januari 2012 sebesar 119,44, dan pada bulan sebelumnya mencapai 119,77 atau terjadi penurunan karena merosotnya penerimaan petani dari komoditas karet dan kopi biji kering, katanya.

Penyebab lainnya, dari penurunan nilai tukar petani juga tergambar manakala pemerintah mengeluarkan kebijakan, seprti menaikkan harga bahan bakar minyak yang berdampak terhadap naiknya berbagai barang kebutuhan di masyarakat.

Hal tersebut, kata dia, tak terkecuali petanipun ikut merasakan dampak dari kebijakan pemerintah itu. Sementara kenaikan nilai tukar petani umumnya disebabkan karena harga komoditas hasil tanaman bahan makanan maupun hasil tanaman perkebunan rakyat naik.

Namun demikian, fluktuasi harga komoditas konsumsi rumahtangga dan biaya produksi serta penambahan barang modal juga mempengaruhi tinggi rendahnya nilai tukar petani, demikian Haslani.

Jumat, 03 Februari 2012

Mau nikah? Tanam pohon dululah...

Medan. Urusan pernikahan adalah ranah pribadi, urusan konservasi lingkungan beda lagi. Bagaimana memadukan kedua hal itu? Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, punya cara, yaitu mewajibkan pasangan calon suami-istri menanam pohon penghijauan kota.

"Setiap pengantin yang akan melangsungkan pernikahan diwajibkan menanam dua pohon," kata Kepala Kementrian Agama Kota Medan, Iwan Zulhami, saat beraudensi dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, Rabu.

Dua pohon per pasangan yang akan menikah, mungkin melambangkan kesatuan suami dan istri yang serasi dan harmonis sampai kakek-nenek.

Mungkin akan sangat efektif, karena saban bulan ada 2.000 pasangan yang mendaftarkan diri akan menikah ke banyak kantor urusan agama setempat. Artinya, akan ada 24.000 bibit pohon penghijauan akan merimbunkan Kota Medan yang ternama dengan wisata kulinernya itu.

Dijelaskan Zulhami, program wajib menanam pohon bagi pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan merupakan tindak lanjut penandatanganan kerjasama Kementerian Agama Kota Medan dengan Dinas Pertamanan dan Kadis Kehutanan.

Kerjasama dimaksud, lanjutnya, dalam rangka menyuksekan Gerakan Satu Miliar Pohon. Langkah ini juga dalam upaya mendukung program Walikota untuk menjadikan Kota Medan Hijau

"Dalam setiap bulan, ada sekitar 1.000 pasang calon pengantin yang akan menikah. Jka setiap pasangan calon pengantin menanam dua pohon maka akan sangat besar artinya bagi lingkungan," katanya.

Jadi, selamat menikah dan... selamat tanam pohon!

Beras penyumbang inflasi Januari

Jakarta. Badan Pusat Statisitik mencatat laju inflasi pada Januari 2012 mencapai 0,76 persen yang disebabkan oleh kenaikan harga beras.

Pelaksana tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Rabu, mengatakan laju inflasi juga disebabkan oleh harga bahan makanan lain seperti ikan segar, daging ayam ras dan telur ayam ras yang bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir.

Suryamin menjelaskan beras menyumbang laju inflasi tertinggi sebesar 0,18 persen, ikan segar 0,11 persen, daging ayam ras 0,09 persen dan telur ayam ras 0,04 persen.

Sedangkan tomat sayur juga ikut menyumbang inflasi 0,03 persen karena adanya cuaca buruk.

"Ini merupakan hal baru penyumbang inflasi, bahkan ada kota yang mengalami kenaikan harga tomat 96 persen," ujar Suryamin.

Secara keseluruhan bahan makanan menyumbang laju inflasi tertinggi yaitu 0,45 persen, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar yang sama-sama menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen.

Dengan demikian, laju inflasi year on year (yoy) pada Januari tercatat mencapai 3,65 persen.

Peluang Usaha Pertanian : Olahan Kacang Kedelai Bawa Rezeki

















APA yang terlintas dalam benak Anda jika mendengar kata kacang kedelai? Biasanya, Anda akan berpikiran tempe dan tahu. Namun tahukah Anda jika kacang kedelai bisa diolah menjadi berbagai makanan yang menggugah selera?

Di tangan Ibu Dewi, kacang kedelai bisa diolah menjadi berbagai makanan enak dan tentunya juga memiliki nutrisi dan vitamin yang cukup tinggi. Di samping juga bisa menjadi alternatif untuk mendulang rupiah.

"Pertamanya saya sering lihat lomba di kabupaten, kayaknya kalau olahan tempe dan tahu itu kan kita bosan. Apalagi anak-anak pasti susah makannya. Padahal kedelai itu banyak vitaminnya dan nutrisinya. Makanya saya mencari cara bagaimana olahan tersebut bisa diterima masyarakat luas," tutur wanita berkerudung ini kepada okezone, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kacang keledai ini dapat menjadi alternatif bagi orang yang tidak punya uang untuk membeli daging sapi dan ayam.

"Itu sudah ada nutirisinya di dalam kedelai. Selain bagus untuk kesehatan dan pengolahannya mudah, rasanya enak dan harganya juga terjangkau," jelas dia.

Wanita berusia 45 tahun ini terbukti dapat mengubah kacang kedelai menjadi beberapa makanan yang menggugah selera seperti nugget tempe, rolade tempe, steak galantin, sampai brownies tempe juga banyak diminati oleh banyak orang.

Selain itu, olahan satai pun bisa diolah menjadi satai tempe dan begitu juga keroket tempe bisa diolah dari bahan kedelai tersebut.

Tidak kurang sebanyak 16 hingga 20 macam makanan bisa dihasilkan dari kacang kedelai tersebut. "Semua bahan dari kacang kedelai ini bisa diolah. bahkan ampas kedelai pun bisa diolah menjadi kerupuk," ungkap ibu dua anak ini.

Dalam merintis usaha pengolahan tempe tersebut, Dewi bergabung dengan tiga orang temannya. dengan modal awal sekira Rp100 ribu saja. "Untuk modal awal kita ini masih kecil-kecilan sekali. awalnya modalnya Rp100 ribu karena kedelai kan per-Kg nya hanya Rp6 ribu saja," paparnya.

Dalam sehari, rata-rata Dewi mengolah 10 kilogram (kg) kedelai untuk dijadikan olahan-olahan yang lain selain tahu dan tempe. Dari modal awal hanya Rp100 ribu, kini Dewi dan teman-temannya dapat meraup omzet sekira Rp950 ribu hingga Rp1,5 juta per bulannya.

"Omzet kita bisa mencapai Rp1,5 juta kalau ramai. Dan yang paling banyak dipesan adalah nugget tempe, karena itu disukai oleh anak-anak," jelas Dewi.

Hingga saat ini, pemasaran produk-produk olahan kedelai ini masih terbatas di wilayah Bantul, Jogjakarta saja yaitu tempat tinggal daripada Dewi dan teman-temannya. Dewi pun ingin hasil kreasinya dapat dipasarkan ke luar Yogyakarta, namun karena terkendala modal yang masih kecil Dewi hanya bisa memasarkan produknya di sekitar wilayah Yogyakarta saja.

"Selama ini pemasarannya masih di sekitaran Yogya saja. Misalnya olahannya dititipkan ke pasar-pasar," tuturnya singkat.

Dalam menjalankan usaha ini pun, Dewi mengaku tidak ada suka dukanya karena semuanya dilakukan dengan senang hati dan juga gotong royong antara satu sama lainnya.

"Kita kan dalam satu kelompok ini barengan empat orang. Tapi saya bersyukur selama ini semuanya berjalan baik-baik saja karena kita semua gotong royong dalam melakukan ini," tuturnya.

Dewi pun berharap peran pemerintah untuk mendukung usaha yang tergolong kepada sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti miliknya agar kelak bisa berkembang dan tentunya bisa bersaing dengan usaha-usaha yang sudah memiliki omzet yang sangat besar.

"Selama ini dukungan pemerintah baik. kiuta selalu dibina, tapi kami juga mengharapkan pemerintah memberikan perhatian yang lebih lagi terhadap sektor usaha UKM tersebut. agar dapat mendongkrak perekonomian di daerah," pungkasnya.

Berita Pertanian : Program Keseriusan Sinergi Pertanian dan Peternakan Diluncurkan

Kabanjahe. Untuk meningkatkan pendapatan para petani, Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti melalui program Keseriusan Sinergi dengan Pola keterpaduan Tanaman dan Ternak akan menyalurkan pinjaman modal sebesar Rp 100 juta per jiwa. Program ini bekerja sama dengan Bank Sumut Cabang Kabanjahe.

“Dalam kesepakatan antara Pemkab Karo dan Bank Sumut, kedua belah pihak telah mengkaji bagaimana sistem yang diberlakukan untuk memproduktifkan lahan-lahan yang selama ini banyak ditelantarkan pemiliknya,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Agustoni Tarigan ketika ditemui, Selasa (31/1), di ruang kerjanya.

Dikatakannya, menindaklanjuti program di atas, Bupati Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti akan me-launching program ini pada hari Jumat (3/2) mendatang, dan direncanakan dipusatkan di Kantor Bupati. “Pada kesempatan tersebut pihak Bank Sumut akan langsung mengucurkan dana bagi petani yang sudah melengkapi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan pihak bank,” kata Agustoni.

Dijelaskan Agustoni, dari luas lahan setiap petani yang mengajukan permohonan, untuk lahan seluas satu hektare akan dibagi menjadi tiga bagian. Di mana satu bagian seluas 2.000 meter per segi ditanami jeruk sebanyak 56 batang, kemudian 400 meter persegi di alokasikan untuk pengembangan ternak sapi dan kelinci, dan selebihnya dialokasikan sebagai hutan panganan ternak seluas 6.400 meter persegi.

Dalam pembudidayaan baik itu tanaman maupun ternak, sudah digambarkan sesuai analisis usaha tani. Di mana luas lahan 2.000 meter bisa dimanfaatkan tanaman tumpang sari, seperti tanaman cabai, kentang, kol, tomat, dan stroberry. Semua jenis tanaman muda itu menggunakan pupuk organik, hasil kotoran sapi dan kelinci yang ada di lokasi.

Mengingat dari lima ekor sapi betina dan 25 ekor kelinci bisa memenuhi kebutuhan pupuk dan insektisida nabati dari air seni ternak sapi dan kelinci.

Sementara dari pihak Bank Sumut cabang Kabanjahe Usman Sinurat didampingi Syahruddin Hasibuan mengatakan, setiap petani yang tersebar di 17 kecamatan se-Kabupaten Karo berhak mengajukan program tersebut dengan ketentuan memiliki lahan maksimal satu hektare.

Di samping itu pihaknya sudah menyepakati lama pinjaman yang diberikan secara bertahap dikembalikan selama waktu dua tahun. Di mana bagi yang menerima pinjaman modal usaha tani dan ternak ini dikenakan jasa pinjaman sebesar 13% per tahun.

Di samping itu, ungkap Syahrudin Hasibuan, bagi petani yang mendapatkan pinjaman modal , cukup membayar setiap bulan jasa pinjaman di mana jasa pinjaman itu mendapat subsidi dari pemda sehingga petani hanya membayar sekitar Rp 500 ribu. “Tetapi, setelah jatuh tempo selama dua tahun maka petani wajib mengembalikan pokok pinjaman sebesar Rp100 juta seperti pinjaman di awal,” terang Syahrudin.