Jumat, 03 Juni 2011

Juni-September Riau Rawan Kebakaran Lahan

Dumai. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Riau di Pekanbaru menyatakan bahwa pada Juni hingga awal September 2011, seluruh wilayah Riau mulai memasuki musim kemarau kering sehingga rawan kebakaran hutan dan lahan.

"Ancaman kebakaran lahan tahun 2011 ini cukup tinggi karena datangnya musim kemarau kering pada Juni hingga September. Upaya dini mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan oleh pemerintah daerah sebaiknya dilakukan dari sekarang," kata Analis BMKG Riau, Marzuki, kepada ANTARA News di Kota Dumai, Kamis.

Sepanjang Juni tahun ini, katanya, pembentukan awan hitan atau awan penghujan di seluruh wilayah Riau cendrung minim, sehingga potensi hujan tidak begitu tinggi.

Jika dilihat dari pergerakan angin yang mendorong pergerakan awan penghujan, ia mengemukakan, maka dalam beberapa hari ke depan cenderung bergerak ke Riau bagian utara dan selatan.

Meski demikian belum tentu menyulut datangnya hujan pada daerah-daerah yang dilintasi, kata dia. Kalau pun ada, ia menilai, intensitasnya ringan hingga sedang dan tidak terfokus pada satu wilayah. Memasuki musim kemarau kering tahun ini, sebaiknya masyarakat meningkatkan kewaspadaannya dengan tidak membuka lahan baru dengan cara membakar, katanya.

Aktivitas membakar lahan, menurut Marzuki, selain meningkatkan jumlah titik bara api (hotspot), juga sangat berpotensi menyulut suhu udara meningkat hingga berada di atas normal.

"Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu, tepatnya kalau nggak salah pada bulan Februari 2011, di mana suhu udara di seluruh wilayah Riau termasuk Kota Dumai sempat mencapai 35-36 derajat Celsius. Kondisi ini jauh diatas normal suhu udara Riau yang hanya berkisar 32-33 derajat Celsius," katanya.

Kepala Bidang Kehutanan pada Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kota Dumai, Hadiono menjelaskan bahwa guna mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya, dia bersama pihak-pihak terkait seperti Kantor Lingkungan Hidup dan sejumlah masyarakat peduli api terus berupaya menggencarkan sosialisasi tentang dampak pembakaran lahan.

"Upaya ini kita lakukan bersama-sama. Khusus pemantauan lapangan, kita berkoordinasi dengan masyarakat peduli api dimasing-masing kecamatan," jelasnya.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Dumai H Basri menambahkan, hingga pertengahan tahun 2011 tercatat telah terjadi lebih dari 10 kali insiden kebakaran lahan yang mengakibatkan kemunculan kabut asap di Kota Dumai.

Kondisi itu, kata dia, diperburuk lagi dengan banyaknya perusahaan atau industri di Dumai yang terbukti tidak disiplin dalam pengelolaan limbah udara sehingga pencemaran udara semakin mengkhwatirkan.

"Agar mengurangi tingkat polusi udara di Dumai, kita terus melakukan evaluasi dan verifikasi di lingkungan perusahaan dan industri," katanya.

"Mereka yang terbukti kurang efektif dalam pengelolaan limbah udara, kita tegur dan diminta untuk memperbaiki sistem pembuangannya," ujar Basri menambahkan.(ant)

Kamis, 02 Juni 2011

Kembalikan Pandeglang Jadi Penghasil Durian

Pandeglang. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten diminta untuk membagikan bibit pohon durian pada masyarakat, sebagai upaya mengembalikan daerah itu sebagai penghasil buah durian.

"Saya sudah memerintahkan dinas pertanian dan perkebunan (Distanbun), agar pada 2011 ini menyediakan bibit durian minimal 1.000 batang, dan dibagikan pada masyarakat," kata Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi di Pandeglang, Kamis.

Bibit tersebut, kata dia, dibagikan pada masyarakat, satu kepala keluarga satu batang, dan minimal untuk ditanam di dekat tempat tinggalnya.

"Kita tidak perlu muluk-muluk, satu keluarga memiliki satu batang saja, maka dalam beberapa tahun ke depan Pandeglang bisa kembali menjadi penghasil durian," katanya.

Menurut dia, pada beberapa tahun lalu Pandeglang sebagai penghasil durian tak terbantahkan, karena banyak bukti yang sampai sekarang masih bisa "dilihat".

Di Kabupaten Pandeglang, kata dia, saat ini terdapat lebih dari 500 perkempungan yang namanya diawali dengan nama "kadu" atau durian.

"Banyak sekali perkampungan yang di awali dengan nama kadu, seperti Kadugajah, Kaduhejo, Kadubumbang, Kadubadak, Kadudampit. Itu bukti kalau daerah kita dulunya memang penghasil durian," katanya.

Tapi sekarang, lanjut dia, sulit sekali mencari durian lokal. Buah durian yang banyak dijual di Pandeglang, sebagian besar didatangkan dari luar daerah, terutama dari Sumatera.

Masyarakat, kata dia, banyak yang menjual bantang durian pada panglong karena harganya cukup mahal, dan akibatnya pohon durian habis.

"Saya juga minta agar masyarakat jangan lagi menjual atau menebang pohon durian untuk dijadikan kayu guna membangun rumah dan keperluan furnitur lainnya. Yang masih ada harap dipertahankan," katanya.(ant)

Berita Pertanian : Peternak Lele di Pamekasan Merugi

PAMEKASAN. Peternak ikan lele di Pamekasan, Madura, Jawa Timur rugi, akibat harga jual ikan di tingkat petani turun.

Peternak lele di Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Fauzi Jumat (3/6/2011) menjelaskan, harga jual ikan lele di tingkat peternak saat ini Rp9.500 per kilogram, turun Rp2.500 per kilogram dibanding sebelumnya.

“Dulu harga ikan lele di tingkat peternak mencapai Rp12.000 per kilogram,” katanya menjelaskan.

Turunnya harga jual ikan lele di tingkat peternak ini membuat para peternak di wilayah itu rugi, hingga jutaan rupiah.

Sebab, sambung dia, turunnya harga ikan lele tersebut tidak diimbangi dengan harga pakan. Bahkan harga pakan terus meningkat, dari sebelumnya hanya Rp210 ribu per sak, kini menjadi Rp220 per sak.

Jika turunnya harga ikan lele di tingkat peternak seimbang dengan harga pakan, kemungkinan peternak tidak akan banyak mengalami kerugian.

Berita Pertanian : Juni, BPS Data Populasi Sapi–Kerbau

Medan. Mensukseskan program swasembada daging sapi dan kerbau (PSDSK) 2014, pemerintah akan mulai melakukan pendataan populasi hewan ternak tersebut yang dimulai dari tanggal 2 Juni hingga 30 Juni 2011.

Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Erwin Said, mengatakan, pendataan PSDSK 2014 akan mendapatkan data populasi sapi potong, sapi perah dan kerbau secara lengkap di seluruh Indonesia yang akurat, objektif, dapat terpercaya dan terkini.

"Swasembada daging sapi dan kerbau ini guna pemenuhan kebutuhan konsumsi daging yang berkualitas dan layak," ujarnya kepada wartawan, Rabu (1/6).

Menurutnya, metode pengumpulan data PSPK 2014 berdasarkan identifikasi dan getok ular (snowballing). Dimana, pengidentifikasian dilakukan terlebih dahulu mengkonfirmasi keberadaan rumahtangga yang terdapat pada file preprinted dengan narasumber utama seperti lurah dan kepala desa. Hasil konfirmasi yakni identifikasi rumah tangga/perusahaan yang memelihara atau memperdagangkan sapi potong, sapi perah dan kerbau.

Selanjutnya, petugas mengunjungi kemudian melakukan proses snowballing dengan menanyakan pada rumah tangga tersebut apakah ada yang memelihara hewan tersebut yang masih dalam satu desa.

“Metode yang dilakukan adalah penyisiran (sweeping) dan getok ular (snowballing). Penyisiran berdasarkan informasi yang diperoleh dari narasumber yang ada di desa. Selanjutnya, petugas melakukan proses snowballing untuk mendapatkan data,” jelasnya.

Dikatakan Erwin, penentuan desa yang berpotensi ternak sapi potong, sapi perah dan kerbau berdasarkan data sensus pertanian 2003 dan sensus penduduk tahun 2010.

Untuk jumlah petugas yang melakukan pendataan sebanyak 7.632 orang yang terdiri dari petugas lapangan (PCL) sebanyak 5.770 orang, petugas lapangan (PML) sebanyak 1.443 orang dan koordinator statistik kecamatan (KSK) 419 orang.

Memang, diakuinya, untuk data populasi sapi dan kerbau di Indonesia tidak diketahui dengan pasti. Untuk itu dari hasil data inilah nantinya menjadi referensi selanjutnya ditahun-tahun mendatang. Jumlah ternak sapi potong menurut umur, jenis kelamin dan rumpun ternak sehingga mempermudah prediksi sapi potong sebagai ketersediaan daging termasuk betina yang produktif.

"Belum ada data sebelumnya. Jadi ini yang akan kita lihat tentang stok dan populasi ternak di Indonesia termasuk juga Sumut," ungkapnya.

Kepala Bidang Budidaya Ternak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumut, Sudirman Pulungan mengakan, pendataan populasi yang dilakukan untuk mengetahui dengan pasti dan akurat tentang data dan keberadaan sapi dan kerbau untuk mendukung swasembada daging 2014.

"Selama ini pendataan ada, tapi dilakukan oleh tingkat 2 yang dikumulatif propinsi. Jadi pendataan ini nantinya juga diketahui secara nasional," ucapnya.

Untuk Sumut, tambahnya populasi sapi untuk konsumsi pangan masyarakat mencukupi yakni berkisar 387.337 ekor dan kebutuhan hanya mencapai 215 ekor. Selama ini sapi impor yang masuk hanya berkisar 40% saja memenuhi kebutuhan, selebihnya atau sekitar 60% berasal dari sapi lokal.

"Kita juga terus melakukan program penyebaran ternak, bantuan hewan produktif dan pencegahan pemotongan betina produktif kepada masyarakat untuk mendukung swasembada daging tahun 2014," tutur Sudirman.

Berita Pertanian : Aeksipi Nilai Pusri Abaikan Pengusaha Lokal

Jakarta. Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Importir Pupuk Indonesia (Aeksipi) Naldy Nazar Haroen, menilai kebijakan PT Pusri dalam penjualan pupuk urea sering mengabaikan keberadaan pengusaha nasional.

“Padahal, Pusri seharusnya memiliki tanggung jawab moral membina dan membesarkan pengusaha lokal, koperasi maupun UKM yang bergerak di bidang ini,” kata Naldy dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (1/6).

Menurut Naldy, BUMN tersebut sepertinya tidak bersedia melakukan pembinaan terhadap pengusaha lokal, apalagi menjadikan pengusaha lokal sebagai agen penjual (trader agent) pupuk.
Akibatnya dari 40 trader pupuk nasional yang menjadi anggota Aeksipi, saat ini tinggal tujuh anggota saja yang masih bertahan, sisanya ada yang berhenti dan melakukan PHK para pekerjanya, sebagian lagi masih melihat perkembangan.

“Jika setiap eksportir atau importir memperkerjakan minimal 20 tenaga kerja, dalam waktu singkat 660 pekerja kehilangan pekerjaan dan jika tiap pekerja menafkahi lima anggota keluarga, berarti tak kurang dari 3.300 jiwa sudah menjadi korban,” jelasnya.

Naldy yang juga menjabat sebagai Ketua Umum BUMN Watch, mengatakan dugaan penyimpangan, misalnya terlihat dari praktik penjualan pupuk urea tanpa tender ke pedagang asing pada Oktober 2010. "Setahu saya di negara manapun, trader asing tidak bisa membeli langsung ke pabrik yang ada di negara tersebut, tapi harus melalui trader agent, yang merupakan pengusaha lokal negara bersangkutan," tegasnya.

Dia berharap Kementerian BUMN segera turun tangan sebelum dugaan penyimpangan oleh oknum perusahaan diusut aparat penegak hukum. (ant)

Tips Ampuh : Khasiat Alternatif Lengkuas













Lengkuas
, tanaman herbal menyerupai jahe ini tergolong famili rhizoma. Tak hanya sedap sebagai bumbu dapur, khususnya pada masakan Asia, lengkuas juga memiliki khasiat kesehatan.

  • Lengkuas mengandung zat antiinflamasi sehingga bermanfaat sebagai bahan pengobatan arthritis dan rheumatoid arthritis
  • Lengkuas juga membantu memulihkan rasa tak nyaman akibat peradangan di perut maupun bisul
  • Untuk meredakan mabuk laut atau dalam perjalanan darat, kunyah beberapa iris lengkuas
  • Lengkuas juga memiliki kandungan antioksidan yang mampu meminimalisasi kerusakan tubuh akibat paparan racun dan radikal bebas
  • Untuk memperlancar aliran darah, tambahkan lengkuas ke dalam menu masakan sehari-hari
  • Bila mengalami diare, kunyah juga beberapa iris lengkuas untuk meredakan diarenya
  • Selain kaya akan zat besi, soduim, serta vitamin A dan C, lengkuas juga kaya akan flavanoid dan fitonutrien.

Lalat Vampire Hantui Warga Sragen


SRAGEN. Warga kawasan endemis anthraks di kabupaten Sragen gelisah lantaran diteror lalat penghisap darah bangkai ternak, yang akan membuat virus anthraks semakin meluas.

Selain sapi, kini kambing juga sudah terhinggapi dan bahkan sudah dua ekor yang mati, dengan tanda-tanda persis yang dialami korban-korban ternak sebelumnya. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sragen yang mendapat laporan telah bergerak cepat untuk menyemprotkan insektisida di kawasan endemis anthraks. Namun sebagian warga yang tidak puas dengan hasil semprotan, melakukan dengan cara sendiri, seperti membuat ramuan obat pembunuh lalat vampire itu dengan bahan dari pakan ternak yang dicampur kotoran hewan dan bahan lain, untuk dijadikan obat semprot.

"Lalat penghisap darah ini, di sini dikenal sebagai lalat pithak. Hewan ini seperti nyamuk, mampu menyedot darah hewan maupun bangkai. Celakanya, serangga yang di Eropa dikenal sebagai lalat vampire itu kini berkembang cepat di kawasan endemis, sehingga harus cepat diberantas agar tidak menjadi penyebar virus anthraks di banyak tempat, mengingat daya jelajahnya yang jauh," ungkap Agus Toto, staf kesehatan hewan Disnakkan Sragen, Kamis (1/6).

Sejumlah warga Desa Brojol, menyatakan, sejak wilayahnya menjadi daerah mengerikan yang menularkan anthraks, mereka semakin hati-hati dalam mengelola hewan ternaknya, dari mulai kambing hingga sapi. Kandang telah dibersihkan secara rutin, dan ternaknya diberikan suntikan untuk mencegah penularan anthraks.

"Tidak tahu, dari mana munculnya, tapi kini jumlahnya sangat banyak dan mulai menganggu ketenangan hewan ternak sapi, karena banyak dikerubuti. Para warga menyebut lalat vampire, karena jelas mereka itu menghisap darah ternak. Kalau tidak cepat diberantas, lalat berwarna hijau dengan garis merah itu akan membahayakan sekali," tukas Wanto, warga Brojol yang diamini tetangganya.

Selain menghisap darah ternak, ditakutkan lalat pithak ini juga akan menghinggapi makanan, sehingga manusia tentu akan mudah tertular serangan virus anthraks sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Pemkab harus cepat mengatasi dan membrantas, jangan lengah, karena jumlah lalat penghisap darah itu begitu banyak," ungkap Lasimin, pelajar SMP yang gemas dengan banyaknya lalat vampire yang mengerubuti ternak-ternak di desanya.


Antisipasi Antraks, Sapi Potong Diperiksa Ketat di Klaten

Mengantisipasi wabah antraks yang berkembang di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Dinas Pertanian Klaten melakukan pemeriksaan terhadap ternak sapi yang akan dipotong di rumah pemotongan hewan (RPH).

"Pemeriksaan sapi yang akan dipotong ini salah satu upaya antisipasi penyebaran antraks," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) RPH Dinas Pertanian Klaten Triyanto, di RPH Bendogantungan, Kamis (2/6).

Sapi yang akan dipotong di RPH, lanjutnya, harus disertai surat bukti pemeriksaan kesehatan hewan. Selain itu, petugas UPTD RPH juga masih melakukan pemeriksaan ketat terhadap kondisi hewan tersebut.

Jika dalam pemeriksaan ditemukan tanda-tanda terkena bakteri antraks, sapi langsung dikarantina dan tidak boleh dipotong. ?Sebab, bakter penyebab radang limpa itu bisa menular ke manusia,? imbuhnya.

Untuk antisipasi antraks, Dinas Pertanian memperketat pengawasan lalu lintas ternak sapi dan daging dari luar daerah. Sapi milik warga di daerah perbatasan dengan Sleman dan Boyolali pun divaksinasi.