Tampilkan postingan dengan label sayur kol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sayur kol. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

Berita Pertanian : Harga Kol di Karo Masih Murah








KARO. Harga tanaman kol (kubis), beberapa bulan belakangan turun drastis hingga titik terendah. Bahkan beberapa pekan terakhir, petani memilih tidak lagi memanen salah satu hasil komoditi holtikultura andalan dataran tinggi Karo tersebut sebagai produk ekspor atau barang lokal.

Rendahnya harga jual petani di tingkat pasar tradisional atau lelang di areal peraladangan, memaksa petani kol harus merelakan tanamannya hingga pecah dan membusuk di ladang. Hal ini terpaksa dilakukan mengingat biaya produksi panen yang sangat tinggi dibanding hasil yang diterima.

Minimnya perhatian pemerintah untuk mendongkrak harga kol, semisal upaya yang dilakukan ketika harga cabai melonjak, tentunya membuat asumsi miring petani , khususnya yang bergerak di bidang budidaya kol. Itu dikarenakan, ekspor tanaman kol dari kawasan Karo, ke negeri jiran Malaysia dan Singapura, memiliki kapasitas cukup besar.

Petani kol, asal Desa Juma Raja, T Tarigan mengatakan, dulu pernah Pemkab Karo menyampaikan wacana pemasaran sayuran kol , tapi sejauh ini belum ada memberikan solusi dan langkah pasti guna menekan tingkat kerugian petani.

Menurutnya, kerugian yang dialami petani kol bukan yang pertama kali terjadi, namun kali ini merupakan hal yang paling buruk dalam sejarah tahun 2011. Itu karena kol saat ini hanya diterima dengan harga Rp200 hingga Rp300 per kg. Padahal harga harga produksi 1 batang kol mencapai Rp600 hingga 800/ batang.

Selasa, 01 Maret 2011

Harga Anjlok, Petani Kol di Karo Merugi










Berastagi
. Para petani kubis (kol) di Kabupaten Karo mulai kesulitan untuk memasarkan hasil panennya, mengingat harga jual komoditas tersebut anjlok.
Salah seorang petani kol, Jokia Tarigan warga Kecamatan Simpang Empat ketika di temui wartawan, Minggu (27/2), di ladangnya mengatakan, tanaman kol yang dikelolanya sebanyak 7.000 batang yang siap panen hanya dihargai sekitar Rp 2,3 juta. Padahal ia sudah mengeluarkan biaya produksi mencapai Rp 3 jutaan mulai dari pembelian bibit, pestisida dan pemupukan sejak tanam hingga panen atau dalam waktu sekitar tiga bulan.

“Sebelum Imlek pembeli yang umumnya mempunyai gudang di Simpang Gurusinga Berastagi berani menawar Rp 800 per pokok. Kalau dikalkulasikan maka waktu itu tanaman saya ditawar Rp 5 juta.

Tetapi saya masih mempertimbangkan karena kol tersebut juga masih belum siap dipotong (dipanen). Tapi, sekarang saya harus rugi sekitar 2,5 juta karena harha kol anjlok. Sementara masa panen telah tiba dan beberapa dari kol mulai pecah dan layu,” lirihnya.

Tarigan mengatakan, selama ini para pedagang membeli kol petani untuk dikirim ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia melalui gudang penyimpanan. Tetapi sekarang para pedagang tersebut mengatakan harga turun drastis karena gudang tidak buka sekaitan dengan imlek atau tahun baru Cina.

Sementara itu, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Karo melalui Kasi Perdagangan Dalam Negeri Sidarta Bangun ketika dihubungi, Senin (28/2) mengakui adanya penurunan harga sayur mayur termasuk harga kol. Namun, menurutnya hal itu wajar saja karena sifat pasar yang naik turun. “Petani kita memang begitu, jika harga turun mereka mengeluh tapi jika harga naik mereka diam,” ungkap Bangun tanpa memberikan solusi dalam mengatasi masalah petani tersebut.