Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2013

Inspirasi : Jualan Pisang Ijo, Perempuan Ini Raup Ratusan Juta

JAKARTA - Ungkapan kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda sepertinya cocok dengan Riezka Rahmatiana. Perempuan berdarah India kelahiran Mataram, Lombok, 21 Maret 1986 ini sempat mencicipi pahitnya kegagalan sebelum akhirnya menuai kesuksesan.

Dengan modal awal sekira Rp150 ribu dia mampu mengeruk omzet hingga ratusan juta, bisnis kuliner pisang ijo asal Makassar menjadi jalan kesuksesan yang diraihnya. Berawal dari kecintaannya kepada kuliner, Riezka yang saat itu tengah mencoba pisang ijo di salah satu rumah makan yang ada di kota Makasar, merasa bahwa campuran dalam makanan tersebut aneh namun rasanya enak. Dirinya menanyakan apakah resep dari makanan khas kota Makasar tersebut.

"Saya tanya resepnya apa, tapi mereka tidak kasih tahu karena itu resep rahasia rumah makan. Namun saya tidak menyerah. Dengan bermodal sisa uang hasil bisnis saya sebelumnya, saya akhirnya mencoba sendiri membuat makanan khas Makasar tersebut," katanya kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Namun, dalam menjalankan bisnisnya, Riezka pun mengalami berbagai kesulitan. Diantaranya mengenalkan makanan pisang ijo yang saat itu belum populer di Bandung. Selain itu, dirinya juga harus menghadapi orang tua dan teman-temannya yang menentang bisnisnya tersebut. Meski begitu, hal tersebut tidak lantas membuat dirinya berhenti untuk mencoba.

"Orangtua sempat menentang, karena saat itu kedua orang tua saya bekerja  dan semua kebutuhan saya bisa tercukupi oleh orangtua," ungkap wanita lulusan Sarjana Komunikasi Universitas Padjadjaran ini.

Sebelum akhirnya menekuni bisnis kuliner, dirinya sempat mencoba bisnis menjual pulsa hingga bakso. Belajar dari kegagalan sebelumnya, dalam mencoba bisnisnya kali ini, dirinya harus membuat inovasi dan meluncurkan produk baru serta mengemasnya secara menarik. Maka munculah ide Pisang Ijo “JustMine”.

Makanan ini merupakan makanan tradisional khas Makassar terbuat dari bahan dasar pisang raja yang dibalut dengan tepung beras dan diberi warna hijau alami dari daun suji. Namun dalam panyajiannya dirinya berinovasi dengan menambah cita rasa baru dengan berbagai varian rasa, yaitu fla cokelat, vanila, stoberi, durian dan rasa orisinal pisang ijo khas Makassar.

Dalam memasarkan produknya tersebut, tak jarang dirinya membagikan sampel kepada teman-teman, rekan bisnis dan keluarganya. Awalnya mereka mengatakan kurang enak. Namun, dengan usaha dan tekad yang kuat, akhirnya makanannya tersebut dapat diterima.
 
"Syukur akhirnya kami bisa menghasilkan produk yang optimal dan disukai banyak orang," jelas dia.

Sambutan yang baik dari konsumen ditambah dengan peluang pada usaha ini membuat banyaknya permintaan kerja sama dan waralaba. Ajakan ini tentu saja diterimanya, Riezka mengaku sangat ingin menularkan semangat berwirausaha kepada semua orang sejak dini.

Dengan strategi kemitraan ini, dirinya juga bisa memiliki waktu lebih banyak. Francise yang ditawarkannya adalah dengan sistem Business Oportunity (BO) dengan paket Rp5 juta, Rp15 juta hingga Rp55 juta. Dengan mengikuti sistem ini maka pay back periode kurang dari satu tahun, tanpa royalti fee, tanpa franchise, dan keuntungan untuk mitra 100 persen.

"Dengan modal Rp5 juta sudah termasuk semua peralatan dan booth, jadi siap jualan. Ini berbeda dengan franchise, BO adalah mekanisme yang ditawarkan bagi pemula yang ingin bebrbisnis dengan modal minim,"paparnya.

Berkat sistem franchise dan jaringan kemitraan yang dibangunnya, jangkauan usahanya juga terus membesar. Hingga kini, dirinya memiliki 250 outlet yang tersebar di Indonesia dan Malaysia yang baru dibuka Februari 2013. Berkat usahanya tersebut, orang tuanya yang dulu menentang usahanya, kini berbalik mendukung dan menyemangatinya.

Kamis, 15 September 2011

Eko tingkatkan ekonomi petani Karanganyar dengan SRI

Bagi Eko Istiyanto tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat petani Indonesia sejahtera. Karena itulah, dia kemudian mengajak petani Karanganyar dan beberapa kabupaten lain di Jawa Tengah untuk memakai teknik SRI dalam bertanam padi. Dia berharap, dengan SRI penggunaan pupuk kimia bisa semakin berkurang.

Sebagian besar pertanian di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, sangat bergantung pada penggunaan pupuk kimia untuk mempertahankan tingkat produktivitas. Para ahli pertanian melihat, penggunaan pupuk kimia tanpa penyeimbang pupuk organik akan menurunkan tingkat kesuburan tanah sehingga bisa memicu penurunan hasil panen dari tahun ke tahun.

Kekhawatiran inilah yang kemudian mendorong Eko Istiyanto untuk terus menyosialisasikan penggunaan pupuk organik atau pupuk kompos dalam pertanian tanaman padi di daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Mengemban tugas sebagai Direktur Pusat Pengembangan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan, Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Foundation, Eko berkeinginan untuk memberdayakan petani sehingga memiliki tingkat penghasilan lebih tinggi.

Untuk itu, sejak 2004 lalu, Eko mengenalkan metode pertanian padi SRI atau System of Rice Intensification ke petani Karanganyar. Tidak hanya Karanganyar, Eko juga bergerilya di delapan kabupaten lain di Jawa Tengah, seperti Sukoharjo, Surakarta, Boyolali, Demak, Pati, Grobogan, dan Sragen.

Eko mengklaim, SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi. Teknik SRI dilakukan dengan mengubah sistem pengelolaan tanaman padi. Jika biasanya tanaman padi membutuhkan banyak air, dengan SRI, yang penting tanah harus lembap untuk bisa ditanami padi.

Eko menjelaskan, air yang tergenang akan menghambat masuknya nutrisi dari sinar matahari ke tanah. "Pola tanam ini menjadi solusi bagi lahan pertanian yang kesulitan air," katanya. Selain menghemat air, SRI juga mengharuskan petani lebih banyak memakai pupuk organik dibandingkan dengan pupuk kimia buatan pabrik.

Upaya Eko mengenalkan SRI tak sia-sia. Sebagai petani tulen, dia juga telah merasakan manfaat teknik SRI dalam peningkatan produktivitas padi di sawahnya. Dengan masa tanam yang sama dengan metode penanaman konvensional, metode SRI terbukti berhasil meningkatkan hasil panen padi rata-rata 50% . "Bahkan di beberapa tempat meningkat 100%, menjadi 8,5 ton sampai 10 ton per hektare," katanya. Asal tahu saja, metode bertanam biasa menghasilkan padi rata-rata 6,5 ton per hektare.

Tak hanya meningkatkan produksi, SRI juga dapat memangkas biaya produksi hingga sebesar 30%. Jika biasanya petani membutuhkan dana tanam hingga panen Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per hektare, dengan menggunakan metode SRI bisa berhemat hingga Rp 1,8 juta. "Ini karena lebih banyak menggunakan pupuk organik," tambahnya.

Biaya produksi yang lebih rendah juga disebabkan pemakaian bibit yang lebih sedikit. Jika biasanya satu hektare lahan membutuhkan 50 kg bibit, dengan SRI hanya membutuhkan sekitar 10 kg sampai 15 kg bibit.

Dengan tingkat produksi yang tinggi namun biaya yang rendah, Eko menghitung petani akan mampu mengantongi hasil panen sebesar Rp 10 juta sampai Rp 13 juta per hektare.

Walaupun sudah terbukti, upaya Eko untuk mengenalkan SRI ke petani di Jawa Tengah tak selalu mulus. "Susah mengubah kebiasaan lama berupa metode tumpang sari dan pupuk kimia ke penggunaan pupuk organik," katanya.

Untuk meretas kendala itu, bagi Eko, satu-satunya jalan hanya dengan membuktikan keunggulan metode SRI ini kepada petani. Untuk itu, Eko merekrut kelompok petani di Karanganyar untuk menerapkan metode ini. Melalui bukti, akhirnya banyak petani di kabupaten lain di Jawa Tengah yang meniru teknik SRI ini.

Saat ini sebanyak 320 orang petani menjadi binaan LPTP. Mereka ini tersebar di delapan kabupaten di Jawa Tengah. "Gerakan ini didasari keinginan kami agar petani lebih sejahtera dan tidak tergantung dengan pupuk kimia," katanya.

Eko berharap, suatu hari nanti petani di Indonesia akan memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik. Karena itu, selain bertanam padi menggunakan metode SRI, Eko juga mengembangkan pembuatan bahan bakar briket dari kotoran sapi.


Teknik SRI

Metode SRI, sejatinya mudah dilakukan petani. Pertama, tentu harus menyiapkan bibit dengan merendam selama dua hari. Kedua, bibit kemudian ditabur dalam wadah berisi tanah dan pupuk organik dengan komposisi satu banding satu.

Setelah 15 hari, bibit bisa dipindah ke sawah. "Dalam memindahkan bibit harus sesegera mungkin dan hati-hati agar akar tidak putus dari batangnya," kata Eko.

Jarak tanam antar bibit agak renggang, yakni sekitar 20 cm sampai 25 cm. Lebarnya jarak tersebut memungkinkan akar berkembang tanpa harus berebutan nutrisi dengan tanaman lain, sehingga pertumbuhan padi menjadi optimal. Untuk pemupukan, metode SRI mensyaratkan pemupukan dengan pupuk organik.

Untuk pengairan, maksimal hanya dua cm dari batas tanah. Pada periode tertentu air harus dibuang dan tanah harus dikeringkan sampai pecah. "Kelemahan metode SRI adalah potensi tumbuhnya gulma atau rumput," urai pria berusia 36 tahun ini.

Dengan kelemahan ini, yang harus dilakukan petani adalah proses penyiangan sejak usia tanam 10 hari. Proses ini diulang dua sampai tiga kali dengan interval 10 hari sekali. (KONTAN)