Tampilkan postingan dengan label HKTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HKTI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

Berita Pertanian : Penurunan 50% Impor Produk Pertanian Angkat Nasib Petani

Medan. Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Oesman Sapta Odan mengatakan, penurunan 50% dari nilai impor produksi pertanian Indonesia akan membantu petani Indonesia untuk mengatasi permasalahannya.
Menurut Oesman, saat ini nilai impor produk pertanian Indonesia mencapai US$ 12 miliar atau setara dengan Rp 110 triliun setiap tahunnya. Dari jumlahnya ini, jika 50%-nya dikurangi akan sangat membantu para petani untuk meningkatkan kesejahteraan, dan mengatasi masalah pertanian secara umum.

"Saya yakin dalam kurun waktu 3 tahun, jika kita benar-benar mampu mengurangi impor sebesar 50% maka ini akan berdampak positif bagi pertanian kita. Nasib petani akan terangkat, demikian juga dengan segala permasalahan yang ada saat ini," kata Oesman kepada wartawan di Medan, Selasa (26/4).

Menurut Oesman, saat ini Indonesia sangat bergantung dengan impor produk pertanian dari negara luar, akibatnya ini akan semakin mematikan pertanian di negeri ini. Oleh karena itu ia berharap, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) HKTI yang akan diselenggarakan hari ini (Rabu-red) akan membuka jalan bagi para petani Indonesia. "Setidaknya akan ada rekomendasi untuk tidak lagi memberikan fasilitas kepada produk-produk pertanian dari luar. Sebaliknya produk pertanian Indonesia harus segera dilindungi, sehingga akan tercipta petani yang makmur dan bermartabat," kata Oesman.

Oesman juga mengatakan, dalam Rakernas HKTI kali ini diharapkan muncul ide-ide baru yang bermanfaat bagi pertanian Indonesia yang nantinya akan menunjang sektor perekonomian negara ini.
"Akan ada pemecahan solusi terhadap masalah pertanian di Indonesia, akan ada penyesuaian kondisi pertaniannya dengan kebutuhan daerah," kata Oesman.

Pembukaan Rakernas HKTI dan Hut ke-8 akan dibuka oleh Menko Kesra Agung Laksono.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah menteri dan Dewan Penasehat dan Dewan Pengurus Nasional (DPN) Herri Suginaryo, Ali Hardi Kyia Demak, dan Benny Pasaribu.

Rabu, 06 April 2011

Berita Pertanian : Ratusan Peserta Ikuti Pesta Petani Muda Indonesia

Jakarta. Sebanyak 555 petani muda dan 110 Bintara Pembina Desa mengikuti Pesta Petani Muda Indonesia (Pestani) 2011 di Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat, dengan tujuan antara lain meningkatkan minat pemuda dan masyarakat dalam pengembangan usaha agribisnis.
"Kita harapkan mereka menjadi penggerak di desa dan membangun jaringan petani," kata Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi, Rabu (6/4), usai pembukaan acara yang juga dihadiri Rektor IPB, Herry Suhardiyanto, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI, Moeldoko dan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Oesman Sapta.

Para peserta dari Jawa Barat dan Banten tersebut akan mengikuti Pestani 5-9 April. Sektor yang tercakup dalam Pestani 2011 adalah Pertanian, Peternakan, dan Perikanan. Para peserta akan diberikan motivasi, wawasan dan pengetahuan maupun keterampilan di bidang pengembangan pertanian dalam arti luas. Bayu meminta para peserta mampu menyerap materi pelatihan dan kemudian menularkannya kepada masyarakat di desa.

Sementara itu, Ketua Umum HKTI Oesman Sapta mengatakan, kegiatan tersebut sangat penting untuk memajukan pertanian di Indonesia karena jumlah kaum tani Indonesia sangat besar, yakni tidak kurang dari 45% atau mendekati 50% dari jumlah penduduk Indonesia. Namun demikian, tingkat kesejahteraan petani relatif tertinggal dibanding kelompok lain. "Oleh sebab itu, pertanian memerlukan perhatian khusus," katanya.

Ia mengatakan, pertanian adalah sektor yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. "Namun kita juga menyadari masih banyak masalah dan kendala yang dihadapi sektor pertanian. Sebagian besar pengangguran dan golongan miskin berada di sektor pertanian.

Impor komoditas pertanian, kata Oesman, juga masih tinggi. Menurut informasi impor komoditas pertanian mencapai US$ 12 miliar setahun. HKTI, katanya, akan terus menerus berkomitmen mendukung dan menjadi mitra pemerintah dalam mengatasi berbagai kendsla di sektor pertanian.

Sementara itu, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI, Moeldoko yang juga menggagas acara tersebut mengatakan, salah satu alasan diadakan acara itu adalah kecemasan terhadap rendahnya minat pemuda terjun ke sektor pertanian.

Ia juga mengharapkan lahan-lahan tidak produktif dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk bidang pertanian sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (ant)

Selasa, 25 Januari 2011

Berita Pertanian : HKTI Tolak Pembebasan Bea Pangan Impor

Padang. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menolak rencana pemerintah membebaskan bea masuk pangan impor, karena dinilai merugikan negara.

"Kebijakan membebaskan bea masuk pangan impor tersebut selain akan merugikan negara karena kehilangan pendapatan dari bea masuk juga mengancam nasib dan masa depan petani Indonesia," kata Ismed Hasan Putro, Ketua Bidang Perdagangan DPN HKTI, periode 2010 -2015.

Rencana pemerintah yang disebut sebagai upaya membendung harga pangan agar tidak terus melonjak tersebut dipandang Ismed sebagai tergesa-gesa dan terkesan panik.

"Kebijakan membebaskan bea masuk pangan selain akan merugikan negara karena kehilangan pendapatan dari bea masuk juga mengancam nasib dan masa depan petani Indonesia," katanya.

Padahal negara liberal dan propasar seperti AS, Jerman dan Jepang saja sangat melindungi petaninya.

"Harus ada langkah komprehensif, tranparan serta tetap memperhatikan kepentingan nasional khususnya nasib para petani," katanya.

Pemerintah, sebutnya, perlu terlebih dahulu jujur dalam soal stok beras nasional dan jangan mengimpor demi kepentingan para pemburu rente.

Pemerintah, katanya lagi, juga perlu jujur mengenai siapa yang diuntungkan oleh kebijakan membebaskan bea masuk gandum. Dia menengarai sekelompok importir dan produsen mie kemasan yang mengekspor ke berbagai negara, termasuk Afrika, diuntungkan oleh kebijakan ini.

"Lantas bangsa dan negara ini harus mensubsidi bangsa-bangsa lain. Kebijakan pembebasan bea masuk pangan selain tidak bijak juga akan merugikan negara," katanya (antara)