Tampilkan postingan dengan label Peduli Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peduli Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Slank tanam pohon di lereng Merapi


 

Sleman, DIY . Melestarikan lingkungan itu milik siapa saja, termasuk personel grub band Slank, yang turut menghijaukan lereng Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu.

"Aksi sosial peduli lingkungan ini dalam rangka perjalanan X-Traligi Slank dan Ki Ageng Ganjur yang ke 41," kata produser Slank,  Arifah Fauzi.

Menurut dia, selain melakukan penanaman pohon, para personel Slank ini juga menyempatkan diri berdoa bagi para korban bencana erupsi Gunung Merapi 2010.

"Perjalanan religi Slank di kota Yogyakarta ini dimulai dengan ziarah ke makam Kiai Mufid Masud di komplek Pondok Pesantren Pandanaran, Ngaglik, Sleman. Ziarah ke makam Kiai Mufid ini untuk jasa-jasa beliau agar bisa ditiru," katanya.

Arifah mengatakan, perjalanan X-Traligi Slank bersama dengan Ki Ganjur ini sebelumnya juga dilakukan di 40 kota-kota besar yang ada di Sumatra dan Jawa.

"Kali ini giliran Slank hadir di Kota Yogyakarta. Saat ini Slank datang dengan personel lengkap yakni Bim-bim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Andee (gitar)," katanya.

Ngatawi Al-Zastrow atau Kiai Ganjur mengatakan, perjalanan yang dilakukan Slank ke pesantren-pesatren merupakan metamorfosis religius.

"Setiap orang mengalami perjalanan religius dan apa yang dialami Slank pada waktu-waktu sebelumnya, pada saat terkena narkoba, juga merupakan perjalanan religiusnya," katanya. (ant)

Senin, 27 Februari 2012

Menghijaukan Kota dari Hasil Membecak












SERING
kali kepedulian terhadap lingkungan kerap dijadikan media pencitraan dan kampanye oleh para politikus atau pejabat pemerintahan. Namun bagi seorang penarik becak seperti Ahmad Syamsudin HS, kepeduliannya terhadap lingkungan murni karena rasa prihatin terhadap kondisi alam yang semakin rusak dan diabaikan banyak orang.

Siang itu, di sela-sela padatnya arus lalu lintas Jalan Hasan Baseri, Kayu Tangi, Kota Banjarmasin, terselip sebuah becak yang mencoba keluar dari kemacetan. Jalan yang sedikit menanjak mengharuskan sang penarik becak turun dan mendorong becaknya.

Ahmad Syamsudin tidak sedang membawa penumpang. Di becaknya ada puluhan bibit pohon berbagai jenis yang akan ia tanam di sepanjang tepi Jalan Trans-Kalimantan sekitar Jembatan Barito, Kabupaten Barito Kuala. Lokasi penanaman pohon tersebut cukup jauh, mencapai belasan kilometer dari lokasi pengambilan bibit di kawasan Rawasari, Banjarmasin.

Bibit pohon seperti tanjung, trembesi, dan ketapang itu bukanlah pesanan orang, melainkan milik Syamsudin sendiri. Ya, sejak 2002, Syamsudin telah aktif melakukan 'penghijauan swakarsa' dengan menanam berbagai jenis pohon di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan, terutama Kota Banjarmasin.

Aktivitas menanam pohon itu dilakukan Syamsudin dengan penuh keikhlasan. Semua dengan modal sendiri, dari mencari bibit, menangkarkan, hingga menanam dan memelihara pohon-pohon yang sudah ia tanam. Sebagian penghasilannya yang tidak seberapa sebagai penarik becak bahkan disisihkan untuk membeli bibit, polibag, dan pupuk.

Menurut pria keturunan Jawa Timur ini, untuk mendapatkan bibit yang baik, ia harus menebus dari Balai Pengelolaan DAS Barito. Bibit aneka pohon penghijauan, juga pohon buah-buahan, itu ditangkarkan di lahan pinjaman dari keluarganya seluas setengah hektare.

Diperlukan waktu kurang lebih satu tahun untuk menunggu bibit pohon membesar seukuran 1 meter dan dinilai siap tanam.

Tidak sampai di situ, pohon yang ditanam pun perlu perawatan dengan sesekali siraman dan pupuk. Dengan profesi utamanya sebagai penarik becak, dapat dibayangkan penghasilan Syamsudin jauh dari cukup untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Karena itu, Syamsudin pun mencari pekerjaan sampingan antar-jemput anak sekolah, mengajar mengaji, dan berjualan pohon-pohon hias hasil penangkarannya sendiri.

"Saya tidak menghitung sudah berapa banyak pohon yang saya tanam, tetapi setahu saya mungkin sudah ratusan ribu pohon," tutur Syamsudin yang sudah menyabet berbagai penghargaan di bidang penyelamatan lingkungan berkat dedikasinya itu.

Dukungan

Mungkin tidak banyak orang yang mau menekuni aktivitas seperti yang dilakukan Syamsudin, menjadi seorang 'relawan pohon' terlebih tanpa ada penghasilan, bahkan justru menguras hasil jerih payahnya dari menarik becak.

Kegiatan menanam pohon itu juga tidak sepenuhnya berjalan lancar. Selain masalah keterbatasan dana, Syamsudin kerap mendapat protes dari warga. Alasan mereka pohon yang ditanam di depan pertokoan dan tepi jalan mengganggu aktivitas warga. Tak jarang pula, pohon-pohon yang ditanam dirusak warga. "Banyak orang yang senang dengan penghijauan, tetapi ada pula orang yang tidak suka," tutur peraih Good Citizen Award (penghargaan warga teladan) 2008 Kota Banjarmasin ini.

Kini setelah sepuluh tahun menjadi relawan pohon, aktivitas Syamsudin mulai banyak mendapat dukungan. Saat ini ada empat rekan seprofesinya sesama penarik becak bergabung menjadi relawan pohon.

Selain aktif melakukan penghijauan swakarsa, dalam dua tahun terakhir ini Syamsudin aktif menjadi relawan sungai. Dengan beranggotakan 16 orang, kelompok relawan sungai itu secara berkala membersihkan sampah di sepanjang Sungai Martapura dan Barito.

"Untuk kegiatan pembersihan sungai ini, kita didukung Dinas Sungai dan Drainase Kota Banjarmasin," ungkap Syamsudin.

Meski Syamsudin banyak mendapat pujian dan penghargaan, kepedulian pemerintah daerah masih dirasakan kurang. Hal itu terlihat dari usulan kelompok relawan pohon untuk mendapat bantuan sebuah kendaraan pengangkut roda tiga sudah sekian tahun lalu tidak mendapat respons.

Selama ini, untuk mengangkut bibit pohon Syamsudin dan kawan-kawan terpaksa menggunakan becak mereka dan sesekali menggunakan mobil bak terbuka pinjaman dari warga.