Kamis, 30 Juni 2011

Tips Ampuh : Ramuan Alami Penjaga Mata Cerah







Mata yang segar dan berbinar menjadi daya tarik tersendiri bagi penampilan. Namun kurang tidur, asap rokok, hingga berjam-jam menatap layar komputer bisa membuat mata terlihat lelah dan sembab.

Mata merupakan indera yang lebih berharga dari perhiasan mana pun, itu sebabnya jagalah agar ia senantiasa cerah dan sehat. Ayo, buat mata berbinar kembali dengan ramuan alami dari kulkas ini.

- Kompres dingin.

Bila mata Anda terasa gatal dan merah, cobalah resep sederhana berikut ini: celupkan handuk kecil ke dalam air dingin dan kompres mata hingga handuknya terasa hangat. Ulangi hingga gatalnya mereda.

- Basuh dengan air dingin

Basuhlah mata dengan air dingin beberapa kali dalam sehari. Terapi ini akan mengurangi inflamasi, melembabkan mata, merilekskan mata dan mengatasi mata lelah.

- Potongan mentimun dan susu dingin.

Salah satu cara paling mudah untuk mengembalikan kesegaran mata adalah dengan membuat masker mentimun atau kentang. Potong bundar lalu letakkan di mata sekitar 15 menit. Cara lain, celupkan kapas ke dalam susu dingin lalu kompres mata.

- Sendok dingin untuk mata bengkak

Simpanlah sendok ke dalam freezer selama beberapa menit lalu saat masih dingin, tepuk-tepuk area sekitar mata yang bengkak.

- Stroberi untuk mata lelah

Ambil beberapa stroberi dan simpanlah di dalam kulkas selama beberapa menit lalu letakkan di kelopak mata. Cukup ampuh untuk mata yang lelah.

- Kantong teh

Didihkan air dalam wadah kecil dan taruhlah dua kantong teh celup. Setelah mendidih sekitar 5 menit, dinginkan. Setelah itu letakkan kantong teh di kelopak mata selama beberapa menit hingga mata terasa rileks. Cara ini juga efektif untuk mengurangi lingkaran hitam, bengkak, serta mengurangi kelelahan pada mata.

Berita Pertanian : Karantina Pertanian Optimalkan Perlindungan Komoditas Ekspor

Medan. Balai Besar Karantina Pertanian Sumatera Utara (Sumut) terus mengoptimalkan perlindungan terhadap komoditas ekspor dan impor untuk menjaga kesehatan produk-produk yang diekspor maupun diimpor oleh para pelaku usaha.

“Kami terus menjaga komoditas ekspor dan impor yang masuk dari berbagai penyakit hewan ataupun tanaman baik yang akan diekspor ataupun yang diimpor,” kata Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Arief Setyawan, dalam kegiatan Sosialisasi Peningkatan Karantina Pertanian dalam Perlindungan dan Akselerasi Ekspor Produk Pertanian di Hotel Grand Antares Medan, Kamis (30/6).

Hadir sebagai pembicara, Kepala Balai Karantina Kelas II Medan Guntur, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati dan Nabati BKP Pusat Arifin Tasrif, serta Kepala Dinas Pertanian Sumut M Roem S.

Dikatakan Arief, adapun persyaratan yang harus dipenuhi para eksportir maupun importir adalah, komoditas jenis apa pun yang akan diekspor harus melalui karantina dengan peraturan yang telah ditetapkan. Tidak hanya itu, para eksportir dan importir juga harus melengkapi sertifikat dari negara asal dan surat izin dari Kementerian Pertanian setempat.

Balai Karantina juga terus memasok benih baik tanaman maupun hewan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia seperti untuk budidaya, diperdagangkan atau untuk ditanam sendiri. "Sebagian besar benih tersebut masuk melalui Bandara Polonia Medan, seperti benih kelapa sawit, sayur-sayuran dan benih tanaman liar," paparnya.

Arifin mengaku dalam melaksanakan tugasnya, BKP juga berhak melakukan 8P dalam tindakan karantina, yakni tindakan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penolakan, pembebasan, pemusnahan dan penahanan. “Petugas BKP memiliki hak penuh untuk melakukan 8P tersebut, apabila terdapat produk-produk yang diekspor," ungkapnya.

Sementara, Kepala Balai Besar Karantina Kelas II Medan, Guntur, mengatakan, bagi eksportir ataupun importir harus memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku. Untuk hewan misalnya, wajib memiliki sertifikasi kesehatan, begitu juga dengan komoditas tumbuhan. Namun kalau untuk benih harus ada izin dari Dinas Pertanian.

"Kalau untuk pengusaha baru, akan diarahkan dalam waktu seminggu sebelum mengekspor atau mengimpor sudah mengetahui ketentuan dan persyaratan yang berlaku, sehingga memudahkan proses yang berjalan," tambahnya.

Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian acara yang tergabung dalam satu agenda besar Bulan Bhakti Sosial BKP, yang berlangsung dari 8 Juni hingga 8 Juli setiap tahunnya.

Berita Pertanian : Pemerintah Diingatkan Antisipasi Dampak Gagal Panen

Jakarta. Anggota Komisi IV DPR RI Ma"mur Hasanuddin mengingatkan pemerintah untuk siaga penuh dalam mengantisipasi gagal panen seperti halnya ketika bersiaga dalam menghadapi bencana.
Kepada pers di Gedung DPR Jakarta, Kamis (30/6), Ma"mur mengatakan bahwa gentingnya kegagalan panen pada suatu wilayah yang luas mesti memiliki kesiapan seperti dalam menghadapi bencana.

Kesiagaan Bencana yang diterapkan oleh pemerintah untuk menghadapi ancaman gagal panen, akan berdampak pada kecepatan, ketepatan dan terasanya tindakan pemerintah kepada masyarakat yang terkena musibah gagal panen. Masyarakat yang sangat terasa terhadap dampak gagal panen itu adalah petani yang dari segi ekonomi masih sangat perlu mendapat perhatian.

"Dahulu, ketika menteri Sosial masih di jabat oleh Bachtiar Chamsah, yang dimaksud dengan alokasi dana bencana selain penanganan bencana alam, juga merupakan penanganan bantuan ketika terjadi bencana alam. Pada waktu itu, kementrian sosial perlu menganggarkan sejumlah buffer stock beras pada tiap kabupaten," ujar Ma"mur.

Karenanya, ia menambahkan, jika Kementerian Sosial saja perlu ikut serta dalam menghadapi kemungkinan gagal panen, maka kementerian pertanian sebagai domain penanganan pangan tentunya harus lebih sigap lagi.

Untuk itu, perlu adanya kerjasama yang harmonis antara kementerian perekonomian dan kesra agar terjadi efektifitas anggaran dalam penanganan gagal panen.

Lebih lanjut politisi PKS itu mengatakan bahwa akibat mulai menurunnya curah hujan, di suatu wilayah tertentu berakibat gagal tanam, atau berlebihannya curah hujan pada wilayah sentra pertanian juga berakibat gagal panen, bisa membuat jutaan warga pada suatu wilayah mengalami ancaman kelaparan. Akibat keadaan demikian, tingkat kewaspadaan harusnya setara dengan terjadinya sebuah bencana alam.

Menurut dia, yang paling terasa akibat gagal panen atau gagal tanam adalah Nusa Tenggara Timur. Daerah ini terkena dampak sekitar 1,6 juta orang terancam kelaparan. Bahkan daerah Bogor yang sangat dekat dengan ibukota, 8 kelurahannya telah dinyatakan rawan pangan oleh Ketua Badan Ketahanan Pangan kota tersebut.

Selain gagal panen yang mengancam ketahanan pangan nasional, kewaspadaan terhadap perilaku pangan internasional juga perlu di antisipasi. Pemerintah perlu menyiapkan konsep respon strategis terhadap pangan dunia.

Di beberapa negara di dunia, harga pangan sangat berkontribusi terhadap angka inflasi, semisal di China, angka inflasi itu menembus angka 11,7 persen di bulan Mei 2011. Pola distribusi pangan juga akan sangat tidak stabil di dunia internasional akibat kebijakan kesepakatan 20 menteri pertanian dunia untuk membatasi larangan ekspor pangan dua pekan lalu di Roma.

"Untuk jangka pendek, memang kecil kemungkinan kita terjadi krisis pangan, namun untuk jangka panjang, jika kebijakan pangan tidak sinergi secara makro, maka terjadinya guncangan pangan di masa depan sangat terbuka lebar," demikian Ma"mur. (ant)

Berita Pertanian : PT Pertani Pinjamkan Saprodi untuk Lahan 7.500 Hektare

Tingkatkan Produksi Pangan
Medan. Dalam mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi di Sumatera Utara (Sumut), PT Pertani melalui program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) akan membantu sarana dan prasarana petani dengan luas lahan padi mencapai 7.500 hektare di empat wilayah kerja.

Ketua Kegiatan GP3K wilayah Sumbagut, Alhandi Yani melalui Sekretaris Edward Syam mengatakan, program GP3K merupakan kepedulian perusahaan BUMN kepada petani melalui penyediaan paket teknologi, model, saprodi sesuai dengan kalender tanan dan jaminan harga serta pembelian hasil.

"Dari luas lahan tanaman padi di Sumut, kami akan memberi pinjaman berupa benih dan pupuk yang akan dibayar petani setelah memasuki masa panen," ujarnya Kamis (30/6), di Medan.

Dikatakannya, pinjaman tersebut akan diberikan kepada kelompok tani dengan sebelumnya melakukan Rencana Definitif Kelompok Kerja (RDKK). Dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), KCD, pedagang pengumpul hingga penggilingan padi.

"Perusahaan BUMN seperti PT Pertani akan menyediakan benih unggul, sedangkan perusahaan lain ada yang menyediakan lahan serta menyerap hasil produksi," katanya.

Untuk wilayah kerja GP3K 2011 ini, tambah Edward ada di kabupaten Karo, Pakpak Bharat dan Dairi seluas 500 haktar, Kabupaten Asahan, Batubara, Simalungun dan Kabupaten Labuhanbatu Utara seluas 2.000 hektare.

Selanjutnya Kabupaten Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas dan Padang Lawas Utara dan Kota Sidempuan seluas 2.000 hektare. Wilayah kerja lainnya yakni Kabupaten Langkat, Deliserdang dan Serdang Bedagai seluas 3.000 hektare.

Saat ini, memang pinjaman berupa benih dan pupuk kepada petani dengan luas lahan mencapai 7.500 hektare tersebut belum ada diberikan karena masih menginventaris data-data yang masuk sebagai penerima pinjaman. "Kita masih mendata kelompok tani yang akan menerima pinjaman, ditargetkan memasuki musim tanam (MT) kedua pada Juli dan Agustus ini sudah diberikan," ucapnya seraya menambahkan pinjaman diprioritaskan pada kelompok tani yang memiliki tali air.

Dengan program GP3K tersebut dengan luas lahan 7.500 hektare di Sumut, kata Edward diharapkan dapat mencapai target produksi padi antara 10% hingga 15% atau sekitar satu ton. Sedangkan di wilayah Sumbagut luas pinjaman yang diberikan kepada petani mencapai 15.000 hektare.

"Tahun ini kita upayakan pada peningkatan produktivitas tanaman padi dulu, sedangkan selanjutnya akan diberikan pinjaman alat dan sarana pada tanaman kedelai dan jagung," tuturnya.

Berita Pertanian : Kenaikan Harga Beras Dorong Inflasi Juni

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni terjadi inflasi sebesar 0,55 persen yang disebabkan kenaikan harga beras dan daging ayam ras.

Kepala BPS Rusman Heriawan di Jakarta, Jumat (1/7) mengatakan laju inflasi juga disumbangkan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama pada minggu keempat Juni.

"Ini bukan kejutan, tapi sampai minggu ketiga, perkiraan masih 0,1-0,2 persen, namun pada minggu keempat ada kenaikan signifikan harga pangan pokok," ujarnya.

Rusman menjelaskan beras dan daging ayam ras menyumbang inflasi masing-masing sebesar 0,07 persen, bawang merah 0,06 persen dan telur ayam ras 0,05 persen dari keseluruhan 0,55 persen.

Kemudian, ikan segar juga ikut menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen serta rokok kretek filter dan emas perhiasan masing-masing 0,03 persen.

Sedangkan komoditas penyumbang deflasi adalah cabai merah 0,03 persen serta cabai rawit dan gula pasir yang masing-masing menyumbang 0,02 persen.

Secara keseluruhan, Rusman menambahkan kelompok bahan makanan menyumbang andil inflasi sebesar 0,30 persen, kelompok makanan jadi minuman rokok dan tembakau 0,08 persen, kelompok perumahan air listrik gas dan bahan bakar 0,07 persen.

Kemudian kelompok sandang 0,04 persen, kelompok transportasi komunikasi dan jasa 0,03 persen, kelompok kesehatan 0,02 persen dan kelompok pendidikan rekreasi olahraga 0,01 persen.

Dengan demikian laju inflasi tahun kalender Januari Juni 2011 mencapai 1,06 persen dengan inflasi yoy mencapai 5,54 persen dan inflasi inti yoy 4,63 persen.

"Inflasi yoy turun dari 5,98 persen karena inflasi Juni 2010 mencapai 0,97 persen dan ini bisa menurun lagi pada kisaran lima persen apabila inflasi Juli mendatang dibawah angka inflasi Juli 2010 yaitu 1,57 persen," ujar Rusman.

Dari 66 kota IHK, sebanyak 65 kota mengalami inflasi dan hanya satu kota yang menyumbang deflasi yaitu Tanjung Pinang sebesar 0,57 persen.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 3,76 persen dan Sorong 2,35 persen sedangkan inflasi terendah terjadi di Padang Sidempuan 0,04 persen. (ant)

Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi Kurangi Permintaan Beras

Medan. Program satu hari tanpa nasi (one day no rice) seharusnya dapat direalisasikan masyakarat Sumatera Utara (Sumut). Hal itu bukan hanya mempercepat diversifikasi pangan, namun dapat menurunkan beban permintaan beras.

Anggota Dewan Ketahanan Pangan Kota Medan, Prof Posman Sibuea, mengatakan, membiasakan anggota keluarga mengonsumsi selain beras, telah mendukung program pemerintah didalam melakukan percepatan diversifikasi konsumsi. “Sudah saatnya masyarakat, mahasiswa, dan pemerintah mendukung dan melakukan kampanye ‘Sehari Tanpa Nasi’ di tengah keluarga, dan tempat kerja untuk menurunkan beban impor beras, dan menolong petani lokal,” ujarnya, Rabu (29/6) di Medan.

Dikatakanya, masyarakat dapat mengganti nasi dengan mengonsumsi bubur jagung, pisang rebus, dan lainnya ketika sarapan pagi. Karena dengan begini, sudah menurunkan konsumsi beras di tengah keluarga. Gerakan ini, lanjutnya, sangat penting dan patut diwujudkan dengan menjadi gerakan yang kontinu dilaksanakan paling tidak sekali dalam seminggu. “Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi memerlukan sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus agar mendapat manfaat besar dari gerakan tersebut,” katanya.

Di masa pemerintahan orde baru kata Posman ada program pola hidup sederhana, dan ini mirip dengan gerakan satu hari tanpa nasi. Dengan menghilangkan image bahwa makan tidak harus mengonsumsi nasi, tapi bisa melalui berbagai makanan olahan dari bahan baku non beras, seperti singkong, jagung, sagu, ubi jalar, sukun dan talas.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kota Medan, Eka R Yanti Danil mengatakan, diversifikasi makanan harus digalakkan untuk mengurangi konsumsi nasi. “Saat ini Indonesia termasuk salah satu negara pengonsumsi beras tertinggi di dunia. Padahal di negeri ini berlimpah sumber bahan makanan selain beras. Jadi, butuh kerja keras dan kesabaran agar gerakan satu hari tanpa nasi dapat terwujud,” ujarnya.

Kendala yang terjadi menyangkut kebiasaan atau soal image yang sudah tertanam sejak kecil dan turun temurun bahwa nasi merupakan makanan pokok. Makanan lain selain nasi dianggap hanya makanan penunjang atau cemilan saja. “Sah-sah saja jika masyarakat berpandangan bahwa pemerintah ingin menutupi kelemahannya dalam menjaga ketersediaan beras,” ujarnya.

Melihat perkembangan yang terjadi, jelas Eka, alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan sawit dan perumahan, sepertinya sangat sulit untuk meningkatkan produksi beras. “Dengan semakin berkurangnya lahan pertanian produktif karena digunakan untuk membangun berbagai mall di kota-kota besar tanpa disadari masyarakat telah melakukan gerakan hidup konsumtif dan membuat para petani kita menangis,” imbuhnya.

Untuk itu, masyarakat harus memahami gerakan satu hari tanpa nasi ini upaya pemerintah untuk menyadarkan masyarakat. Saatnya semua pihak bersimpati dan berempati terhadap petani yang sudah memberikan pengabdiannya bagi negeri ini. “Dengan mengonsumsi singkong dan pangan lokal non beras lainya, kita telah membantu mereka yang menanam singkong dan ubi jalar,” tutur Eka.

Berita Pertanian : Pemerintah Tingkatkan Kualitas Data Ketahanan Pangan

Bogor. Pemerintah mendorong peningkatan kualitas data pertanian dari segala sektor guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia, Prof Dr Tahlim Sudaryanto mengatakan, kendala ketahanan pangan Indonesia terletak pada kualitas data yang belum optimal. "Kita belum memiliki data suplai dan demant yang akurat dari seluruh daerah, sehingga kita belum dapat mengukur kebutuhan dan produksi yang sesuai dengan pasokan yang kita miliki," katanya di Bogor, Selasa (28/6).

Menurut Tahlim, kualitas data sangat penting untuk sebagai acuan pengelolaan produksi pangan nasional. Oleh karena itu, pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah untuk mengkoordinasikan data pertanian di daerah masing-masing.

Tahlim mengatakan, secara umum ketersediaan pangan nasional sangat mencukupi. Hanya beberapa kendala diantaranya data dan infrastruktur menghambat pendistribusian pangan ke masyarakat.

Ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan kualitas hidup masyarakat dan pengentasan kemiskinan. "Selain itu, permasalahan pangan sangat berefek pada pemanasan suhu politik," katanya.

Oleh karena itu lanjutnya, pembangunan ketahanan pangan perlu diposisikan sebagai central of development bagi keseluruhan pencapaian target Millenium Development Goal"s (MDGs). "Pemerintah dan masyarakat, harus sepakat untuk bersama-sama membangun ketahanan pangan nasional," katanya.

Selain data dan infrastruktur, lanjut Tahlim, teknologi dan informasi juga perlu ditingkatkan. Sesuai dengan tema lokakarya yakni Peranan pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia : belajar dari pengalaman global dan nasional. "Ada baiknnya kita juga belajar dari negara lain yang sudah sukses mengelola ketahanan pangannya. Ini dapat menjadi input untuk kita ke depan belajar mengelola seperti mereka," kata Tahlim.

Tahlim mengatakan, Brasil sukses dengan program nasionalnya Zero Hunger dan China yang berhasil dengan food security analysis service serta pencapaian ketahanan pangan nasionalnya melalui cadangan biji-bijiannya.

Pengalaman tersebut ujar Tahlim, dapat mendorong Indonesia sebagai wilayah yang mampu mempertahankan ketahanan pangannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan nasional tapi ASEAN dan G 20.

Tahlim mengatakan, penyusunan data tersebut telah dilakukan secara bertahap dari seluruh wilayah. Untuk data dari pemerintahan, tidak terlalu sulit untuk dikumpulkan. Sementara untuk data dari swasta masih ada kendala karena belum terkoordinir. (ant)

Karo Miliki Potensi Besar Kembangkan Kambing di Kebun Jeruk











Medan
. Kabupaten Karo secara potensial dapat mengembangkan sekitar 680.000 ekor kambing mengingat luas tanaman jeruk di kabupaten itu mencapai 17.000 hektare dan merupakan milik perorangan dengan rata-rata pemilikan antara 0,5 hingga 5 hektare.

“Dengan asumsi daya tampung sekitar 40 ekor kambing per hektare lahan jeruk, maka di Karo dapat dikembangkan sekitar 680 ribu ekor kambing atau meningkatkan sekitar 91 persen populasi kambing di Sumatera Utara (Sumut),” kata staf penyuluh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumut Siti Suryani, Selasa (28/6) di Medan.

Namun demikian, usaha ternak yang baik didukung oleh tersedianya sumber pakan ternak yang berlimpah dengan jumlah dan kualitas yang tepat dan berkesinambungan. Salah satu jenis pakan ternak yang murah adalah hijauan pakan ternak (HPT) yang unggul.

HPT tersebut kata dia harus bersifat spesifik oleh sebab itu perlu diketahui jenisnya secara jelas. Dan, dari hasil pengujian terhadap 6 jenis HPT campuran di bawah tanaman jeruk yang sudah berproduksi di sentra produksi jeruk di Desa Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe menunjukkan tiga jenis rumput HPT unggul, yaitu Ruzi (Brachiaria ruziziensis), Steno (Stenotaphrum secundatum), dan Paspalum (Paspalum gueonarum). “Ketiga jenis rumput ini dapat dikembangkan di kebun jeruk sebagai sumber hijauan untuk ternak kambing,” katanya.

Secara keseluruhan hasil pengujian yang dilakukan selama 2 tahun (2009-2010) ini kata dia, menunjukkan produktivitas hijauan rumput introduksi mulai stabil sejak panen ke empat atau umur sekitar 6 bulan. Di mana hasil hijauan rata-rata berkisar antara 8,76 ton bahan kering (BK) sampai 15,4 ton BK per hektare per tahun atau 54,75 ton - 96,25 ton bahan segar per hektare per tahun.

Hasil hijauan ini cukup untuk menampung 56-97 ekor kambing dewasa per hektare. Dan, berdasarkan kepemilikan lahan jeruk 0,5 hektare per KK, skala usaha ternak kambing dapat mencapai 35 ekor per KK.

Dikatakan Siti, kandungan nutrisi hijauan rumput unggul seluruhnya cukup baik, seperti kandungan protein kasar (11,4 – 13,9 %) dan energi (3,12 – 3,23 Mkal/kg). “Dari ketiga jenis rumput introduksi, rumput steno memiliki kandungan nutrisi yang sedikit lebih baik dibandingkan lainnya. Ini ditunjukkan dengan tingginya kandungan protein kasar dan rendahnya serat kasar,” jelasnya.

Sementara mengenai komposisi botanis tanaman pakan ternak, Siti mengatakan, perkembangan komposisi botanis ditunjukkan oleh perkembangan gulma yang cenderung naik pada campuran rumput paspalum/legum atau steno/legum. Namun secara konsisten dapat ditekan oleh rumput ruzi.

Komponen rumput introduksi tetap mendominasi HPT campuran rumput/legum, dominasi terlihat jelas pada rumput ruzi yang berhasil menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, rumput ini begitu agresif sehingga menekan pertumbuhan legum. Karena itu rumput Ruzi sebaiknya ditanam secara monokultur sedangkan rumput Steno semakin menunjukkan toleransinya terhadap kondisi naungan sehingga cukup sesuai ditanam campur dengan legum arachis.

Berita Pertanian : Bawang Putih China Pukul Bawang Putih Domestik Di Batam











Batam
. Harga bawang putih di Kota Batam, Kepulauan Riau, anjlok sampai 50 persen seminggu terakhir setelah pasokan dari China membanjiri pasar.

"Harga bawang anjlok sampai 50 persen sepekan terakhir setelah bawang putih China masuk," kata pedagang di Pasar Mitra Raya Batam Centre, Sulaiman di Batam, Kamis.

Menurut Sulaiman, sebelumnya bawang putih dijual dengan harga sekitar Rp24.000 per kg. "Baru sekitar seminggu terakhir kami menjual pada konsumen dengan harga Rp12 ribu per kg," kata dia.

Sulaiman juga mengatakan, ia membeli bawang putih dari distributor dengan harga Rp75 ribu per kuintal.

"Sebenarnya kami bisa menjual dengan harga sekitar Rp10.000 per kg, namun kami menjual dengan harga Rp12.000 per kg untuk menutupi kerugian beberapa waktu lalu," kata dia.

Ia mengatakan, selama ini kebutuhan bawang putih di Batam dipenuhi dari China karena bawang lokal harganya justru jauh lebih mahal.

"Kami hanya menjual bawang putih dari Jawa kalau pasokan dari China tidak ada karena harganya sangat mahal," kata dia.

Pedagang lain di pasar Mega Legenda Batam Centre, Andi, mengatakan harga bawang terus mengalami penurunan beberapa bulan terakhir.

"Sekitar bulan April harganya masih Rp40.000 per kg. Harganya terus turun hingga sekitar Rp12.000 per kg seminggu terakhir," kata dia.

Selain harga bawang putih, harga bumbu-bumbu masakan seperti cabai, bawang merah, merica, ketumbar, masih stabil. "Harga bumbu lain cenderung stabil," kata dia.

Andi juga mengatakan, harga sayur-mayur yang sekitar dua minggu lalu naik sekitar 100 persen kini mulai turun.

"Harga sayur turun. Yang agak mengalami kenaikan hanya telur ayam ras saja," kata Andi.(ant)

Selasa, 28 Juni 2011

Peluang Usaha Pertanian : Memetik untaian laba rangkaian bunga







TAWARAN KEMITRAAN RANGKAIAN BUNGA

Siapa yang tak merasa senang bila menerima rangkaian bunga nan cantik. Selain untuk orang terkasih, rangkaian bunga juga sering dipakai sebagai pengganti hadiah di saat-saat istimewa, seperti ulangtahun, baik untuk individu maupun perusahaan.

Selain itu, beragam kegiatan formal ataupun nonformal juga sering menggunakan bunga-bunga sebagai hiasan pelengkap. Ini pula yang membuat bisnis florist atau rangkaian bunga makin semarak.

Berawal dari hobi, Rosita Suwardi Wibawa mendirikan Tar A Porter di Tangerang tahun 2010. Setahun kemudian, tepatnya, Februari 2011, ia menawarkan kemitraan usaha ini untuk mengembangkan jaringan di seluruh Indonesia.

Kini, Rosita sudah menggandeng lima mitra. Selain di Jakarta, gerai Tar A Porter sudah merambah wilayah Tangerang dan Yogyakarta. Bahkan, ke depan, gerai bunga ini juga buka di Semarang, Solo, Purwakarta, Bali, Padang, dan beberapa kota di Kalimantan. "Saat ini, kami sedang melalui tahap negosiasi dengan enam calon mitra," katanya.

Dalam mengembangkan usaha ini, Rosita selalu fokus pada tiga hal utama, yakni jaringan, kualitas kontrol, dan servis. "Ketiganya penting untuk menjamin pelayanan prima kepada konsumen," ujarnya dengan nada promosi.

Untuk bergabung menjadi mitra Tar A Porter, Rosita menawarkan tiga paket investasi kemitraan. Yakni, paket senilai Rp 15 juta, Rp 55 juta, serta paket Rp 250 juta. "Untuk paket usaha yang Rp 15 juta, mitra juga bisa memanfaatkan tempat tinggalnya sebagai lokasi bisnis," ujarnya.

Sementara, untuk paket senilai Rp 250 juta, Rosita menerapkan konsep butik. Ia akan membekali pula sang mitra dengan keterampilan merangkai bunga, beberapa modul desain rangkaian, serta pendampingan selama mitra membuka gerainya.

Dalam kemitraan ini, Rosita juga tidak mengutip biaya royalti maupun management fee. Namun, untuk pernak-pernik hiasan pendukung, Rosita menyarankan kepada mitra untuk membeli dari pusat. "Untuk menjaga kesegaran, ada baiknya mitra membeli bahan baku di daerah mereka masing-masing," jelas Rosita.

Kalaupun mitra tidak mampu menyediakan bunga-bunga segar, Rosita siap menyuplai bahan baku dari pusat. "Kami punya trik tersendiri agar bunga-bunga yang dikirim tak cepat layu," tambahnya.

Saat ini, Tar A Porter banyak menerima pesanan rangkaian bunga yang berasal dari korporat. "Perbandingan penjualan produk bunga kami adalah 80% korporat, sedangkan sisanya ritel atau pembeli biasa," tutur Rosita.

Harga rangkaian bunga Tar A Porter cukup bervariasi, mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 2 juta. Banderol harga ini tergantung ukuran, desain, serta banyak sedikitnya rangkaian bunga yang digunakan.

Rosita memperkirakan omzet mitra berkisar Rp 500.000 hingga Rp 2 juta per hari. Dengan perolehan omzet itu, ia pun menghitung masa balik modal selama empat bulan hingga enam bulan.
Salah satu mitra Tar A Porter yang baru bergabung sebulan lalu adalah Fufung Andiasih. "Saya melihat peluang bisnis ini bagus," ujarnya.

Ia merasakan pendampingan yang dilakukan pihak Tar A Porter cukup memuaskan. Maklum, wanita ini tak memiliki latar belakang atau mengenai seluk beluk-bisnis bunga. "Bisnis ini menjadi usaha sampingan saya sebagai marketing," tandas Fufung.(kontan)

Ulat Bulu Dengan Diameter Seukuran Kelingking Orang Dewasa di Padang







PADANG. Ulat bulu dengan diameter seukuran kelingking orang dewasa, Minggu (26/6/2011), merambati dinding tiga rumah dan sekolah di kawasan Kubu Dalam, Kelurahan Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat. Sejumlah warga mengatakan bahwa serangan ulat bulu itu sudah terjadi sejak empat hari terakhir dan belum kunjung berhenti.

Tiga rumah itu masing-masing ditempati Masni (51) berikut dua anggota keluarganya, Nurima (75) beserta lima anggota keluarga, serta Ani (54) dan tujuh anggota keluarganya. Selain rumah warga, ulat bulu juga mulai menyerang Sekolah Dasar Negeri 35 yang letaknya berseberangan.

Ulat-ulat bulu itu tampak merayapi dinding tembok dengan leluasa. Beberapa di antaranya bahkan bisa dengan tiba-tiba merayapi bagian tubuh orang, ini terbukti dengan sejumlah anak kecil yang merasakan dampak gatal-gatal.

Salah seorang warga, Defrizal (31), mengatakan, sejak empat hari lalu ulat bulu diketahui menyerang kawasan itu. "Tetapi yang parah terjadi dalam dua hari terakhir," katanya.

Ia menambahkan, serangan ulat bulu dalam jumlah banyak tersebut merupakan yang pertama kali terjadi sejak puluhan tahun terakhir. Defrizal mengatakan, ulat bulu dalam jumlah agak banyak sempat terlihat di kawasan itu sekitar dua bulan lalu.

Masni, warga yang lain, menuturkan, ulat-ulat bulu yang sempat masuk ke rumah warga itu pernah diberantas dengan racun semprot dan dibakar. "Sudah tiga kali dibakar dan disemprot oleh petugas dari kelurahan, tetapi tetap saja ulat bulu itu masih ada," ujarnya.

Metrizal (36), penjaga SDN 35, mengatakan, ulat-ulat bulu mulai memasuki ruang-ruang kelas pada Sabtu lalu. "Untungnya ulat-ulat bulu tersebut masuk setelah kegiatan bagi rapor selesai, setelah itu kan masuk musim liburan," katanya.

Serangan ulat bulu berasal dari lahan kosong yang ditumbuhi semak dan aneka pepohonan seperti mangga, durian, dan kwini. Lahan kosong yang mulai ada sejak dua tahun lalu tersebut memisahkan rumah-rumah warga dan bangunan belakang sekolah.

Dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang, Dr Yaherwandi, pada hari yang sama mengatakan bahwa ledakan populasi ulat bulu itu akan berhenti pada siklusnya. "Mungkin dikurangi saja dengan cara disemprot," ujarnya.

Menurutnya, upaya menghentikan serangan ulat bulu tidak bisa dilakukan dengan cara menebang pepohonan yang ada. "Karena dengan begitu, ulat-ulat akan masuk ke rumah-rumah karena mencari tempat yang teduh pada siang hari," ujar Yaherwandi.

Ia menambahkan, serangan ulat bulu terjadi menyusul perubahan alam akibat keadaan cuaca yang tidak menentu. "Semestinya hujan malah panas, dan sebaliknya," tutur Yaherwandi.

Perubahan alam itu lantas menyebabkan terjadinya perubahan sistem reproduksi. Menurut Yaherwandi, hal itu masih ditambah dengan berkurangnya sejumlah predator alami seperti burung dan semut.

Disemprotkan Cairan Cembunuh Ulat, Sempat Pingsan, Lalu Jalan Lagi

Rumah warga di RT 1 RW 8 Kubu Dalam, Kelurahan Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (26/6/2011), diserang ulat bulu. Setidaknya tiga rumah di kawasan itu dirambati ulat bulu berwarna coklat dengan setrip hitam, putih, dan jingga.

Selain itu, bangunan SD Negeri 35 yang berada di depan rumah-rumah warga tersebut juga dirambati ulat bulu pada bagian dindingnya. Rumah-rumah warga dan sekolah itu dipisahkan sebuah lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar dan sejumlah pohon seperti pohon mangga, kuini, durian, dan rambutan.

Sejumlah warga mengatakan serangan ulat bulu terjadi mulai empat hari lalu. Sejumlah petugas juga telah menyemprotkan cairan pembunuh ulat, tetapi tidak ada hasilnya.

"Ulat bulu hanya terlihat agak semaput sebentar, setelah itu berjalan lagi," kata Masni (51), salah seorang warga. Upaya pembakaran semak-semak juga belum membuahkan hasil.

Sapi Bali Disuntik Sperma Banteng Jawa










Perbaikan Genetik

PASURUAN. Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan, Jawa Timur, merintis program perbaikan genetik sapi Bali melalui Insemenasi Buatan dengan menggunakan sperma banteng jawa. Nantinya perkawinan silang tersebut diharapkan dapat melahirkan anakan sapi unggulan, yakni tahan dengan segala cuaca dan pakan, serta mempunyai daging sapi yang berkualitas.

Program Insemenasi Buatan (IB) digagas Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen bersama Dinas Peternanakan Provinsi Jawa Timur itu dengan mendatangkan 5 sapi bali betina dengan seekor banteng jawa pada April 2010. Mereka menilai antara sapi bali dan banteng jawa masih memiliki kekerabatan sehingga harapan program IB tersebut dapat berhasil.

"Karena sapi bali sendiri adalah dominifikasi dari banteng jawa. Jadi, nanti kita harapkan sapi bali hasilnya kualitas ketahanan hidup dan dagingnya lebih baik," ujar Michael Sumampau, Selasa (28/6/2011).

Untuk mempermudah proses kawin IB, pihak TSI II Prigen juga menyiapkan satu unit kandang banteng lengkap dengan tim pengawasnya yang di dalamnya ada tenaga ahli IB Singosari. Di kandang khusus tersebut, banteng tersebut akan dibuatkan gang way yang sesuai untuk pengambilan sperma.

"Dan hasil IB tersebut akan dicatat sebagai dasar breeding selanjutnya, termasuk catatan berat saat anakan sapi itu lahir," tuturnya.

Adapun untuk mengatasi adanya tudingan program IB tersebut akan merusak spesies hewan tertentu atau melahirkan spesies baru, pihak TSI II Prigen tidak akan memberikan nama pada hasil kawin IB tersebut. "Karena, hingga saat ini, kita belum memikirkan akan memberikan nama pada hasil insemenasi itu," ujar Ivan Chandra, General Manager Satwa TSI II Prigen.

Jika program IB antara sapi bali dan banteng jawa itu berhasil, aset anakan sapi akan dimanfaatkan bersama Dinas Peternakan Jawa Timur dan TSI II Prigen.

Gulma Titonia Pendongkrak Produksi







AKAR tanaman titonia, Tithonia diversifolia, yang dulu dianggap gulma ibarat reaktor pupuk dan hormon sekaligus. Di perakaran titonia ternyata hidup jutaan cendawan dan bakteri pelarut kalium dan fosfat.

Sebut saja bakteri kelompok Azotobacter sp dan Azospirillum sp. Makhluk supermini itu melarutkan kalium dan fosfat yang umumnya mengendap dalam tanah serta menambat nitrogen dari udara.

Anggota keluarga Asteraceae itu pun muncul menjadi tanaman ajaib. Ia mampu menolong pekebun yang kesulitan mendapatkan pupuk buatan pabrik karena langka dan mahal. Belakangan terungkap bakteri di zona perakaran titonia juga menghasilkan fitohormon, seperti auksin, giberelin, dan sitokinin. Akar titonia juga terinfeksi cendawan mikoriza yang mampu memperluas zona perakaran. Mikoriza ibarat penambang hara sehingga tanaman efektif menyerap hara.

Serangkaian riset di Universitas Andalas, Padang, selama 11 tahun membuktikan titonia tak sekadar pupuk hijau biasa. Anggota keluarga kenikir-kenikiran itu mengalahkan pupuk hijau dari keluarga legum yang kaya rhizobium bakteri penambat N. Selama ini keluarga legum disebut pupuk hijau terbaik. Kini titonia, dengan mikoriza, azospirillum, dan azotobacter, lebih unggul karena menyediakan nitrogen, kalium, fosfat, plus fitohormon sekaligus.

Lebih Unggul

Penelitian di Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, juga menunjukkan titonia lebih baik ketimbang pupuk kandang kotoran sapi dan kotoran ayam. Bahkan, kipahit itu lebih unggul daripada 100% pupuk pabrik. Tengok saja kombinasi 4 ton kompos titonia, 2 ton kapur, dan 50% pupuk pabrik yang biasa dipakai petani jagung, menghasilkan panen 9,8 ton biji/ha. Sementara tanpa titonia dengan 100% pupuk pabrik hanya 9,6 ton biji/ha. Artinya, titonia mampu menghemat 50% pupuk pabrik tanpa mengurangi hasil.

Hasil jagung memakai titonia itu jauh lebih tinggi daripada panen pekebun di daerah setempat yang hanya 4,6 ton biji/ha. Maklum, pekebun di sana umumnya belum mengenal kapur dan kompos titonia dalam menanam jagung. Ketika titonia pada kombinasi itu diganti 5 ton kotoran sapi dan 5 ton kotoran ayam, maka hasil panen masing-masing hanya 7,9 ton dan 9,2 ton.

Riset lain pada melon, padi, dan sawit pun menunjukkan hasil serupa: titonia lebih unggul daripada kotoran sapi, kotoran ayam, dan 100% pupuk pabrik. Ia juga dapat menghemat 50% pupuk pabrik.

Laporan beragam riset itu jelas kabar gembira buat pekebun. Selama ini penyediaan kotoran sapi dan kotoran ayam sebagai pupuk organik jadi kendala karena pasokan terbatas. Hanya kebun yang berdekatan dengan peternakan saja yang mudah memperolehnya. Mengangkut 5 ton, setara 1 truk, pupuk kandang dari peternakan ke kebun menjadi lebih mahal dibanding pupuk pabrik yang lebih sedikit, 100—200 kg. Berbeda dengan titonia yang dapat ditanam di sekeliling kebun dan dipanen setiap 2 bulan.

Mudah Tumbuh

Bunga matahari meksiko (mexico sunflower), sebutannya di mancanegara itu mudah tumbuh dengan setek atau biji. Pertumbuhannya cepat dengan biomassa yang besar: akar banyak, batang lembut, dan daun banyak. Ia dapat ditanam sebagai pagar di sekeliling kebun atau pagar lorong di antara guludan. Dengan luasan titonia 1/5 dari luas kebun dapat memasok pupuk untuk 4/5 kebun yang diusahakan. Sebagai contoh pada lahan seluas 1 ha ditanam pagar titonia seluas 2.000 meter persegi.

Dari lahan seluas itu dapat dipanen 30—35 ton titonia segar dalam setahun atau setara 6—7 ton bahan kering. Karena pertumbuhan tunas cepat, ia dapat dipanen bertahap setiap 2 bulan untuk dibuat kompos. Bahan organik itu setara 185 kg nitrogen, 20 kg fosfat, dan 186 kg kalium. Jumlah nitrogen itu jelas lebih tinggi daripada dosis rekomendasi pupuk urea pada jagung sebesar 300 kg per/ha atau setara 138 kg nitrogen.

Sayang, tanaman ajaib itu belum banyak dipakai sebagai pupuk organik di Tanah Air. Padahal, di Sumatera Barat titonia banyak tumbuh di tepi jalan dan lahan telantar sebagai gulma. Contohnya di sepanjang jalan dari Padang menuju Solok, Bukittinggi, serta Sitiung. Di tepi jalan banyak titonia tumbuh subur. Orang Minang menyebutnya sebagai bunga pahit. Sementara di Jawa Timur dikenal sebagai pahitan dan di Jawa Barat, kipahit. Laporan penelitian di mancanegara menyebut hanya Kenya, negara yang paling banyak menggunakan titonia sebagai pupuk hijauan.

Baru setahun belakangan Syamsul Asinar Radjam, pekebun sayur-mayur di Sukabumi, Jawa Barat, melaporkan di blog pribadi, kompos kipahit lebih unggul ketimbang kompos sayur-mayur, rerumputan, cebreng, dan jerami. Menurut dia, lahan yang disebarkan kipahit lebih gembur. Cacing yang dikenal memperbaiki kesuburan tanah pun lebih banyak ditemukan dibanding yang disebar pupuk organik lain. Kelak, anggota keluarga kenikir-kenikiran itu bakal menemani hijauan dari keluarga legume sebagai pupuk hijau sahabat pekebun. (TRUBUS)

Berita Pertanian : Waspadai Kutu Banci

Klaten. Para petani tembakau di Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah, sejak pagi terlihat sibuk membersihkan lahan mereka dari hama dan serangga yang menempel di bagian batang dan daun, untuk menghindari serangan hama kutu banci.

Suwito, petani tembakau di Desa Solodiro, Selasa, mengatakan, dirinya dan beberapa petani tembakau lain di sana tak mau kecolongan
hama sejenis ngengat itu.

"Kalau tanaman yang diserang kutu banci ini jumlahnya besar, maka ancamannya gagal panen. Kami tidak mau terlena oleh cuaca panas yang bisa dibilang sebagai sahabat petani tembakau, karena itu ancaman lain tanaman ini pun juga kami antisipasi," katanya.

Menurutnya, kutu banci sering menyerang tanaman yang ditanam di lahan berkondisi lembab, yang diakibatkan oleh banyaknya tanaman lain di sekitar lahan tanaman tembakau.

Sisa-sisa dari tanaman lain, juga menjadi penyumbang kelembaban lahan, sehingga sebelum tembakau mulai ditanam, lahan harus dipastikan bersih dari tanaman sebelumnya.

Rupanya kewaspadaan para petani akan serangan kutu banci ini cukup tinggi, karena hingga menjelang siang, mereka masih saja sibuk melakukan pengecekan tanaman tembakau satu persatu dengan cara mengurut daun-daunnya.

"Kalau daunnya diurut, kutu banci akan tertinggal di telapak tangan dan tak menyerang tanaman tembakau lain di sekitarnya," imbuh Trisno, petani lain yang tengah sibuk memeriksa tanaman tembakaunya satu per satu.

Kesibukan membersihkan tanaman tembakau dari kutu banci, juga terlihat di Desa Nangsri, Manisrenggo. Para petani di sana mengaku dalam dua hari ini hama pengganggu itu sering datang lantaran cuaca yang sering mendung.

Tips Ampuh : Tips Sehat agar Anak Makan Lahap










TAK
sedikit anak yang enggan makan. Bagi mereka, aktivitas makan menjadi sebuah kewajiban yang sulit dipenuhi. Maka itu, tak mengherankan pula banyak ibu yang akhirnya merasa kebingungan dan mencari berbagai siasat agar si buah hati bisa makan dengan lahap.

Namun, janganlah menyerah dan akhirnya memberikan anak makanan apa saja, asalkan disukainya, seperti memberikan mereka makanan cepat saji. Berikut beberapa tips yang perlu diingat untuk memberikan makanan kepada anak.

1. Sarapan adalah makanan yang penting untuk aktivitas anak seharian. Untuk itu, orang tua setidaknya mesti tetap menyisihkan waktu selama 10-15 menit untuk anak agar menyelesaikan sarapan sebelum ia pergi ke sekolah.

2. Buatlah anak berpikir makanan adalah sesuatu yang menyenangkan. Jangan membuat anak merasa makanan seperti halnya sebuah tugas. Tapi, tetap masukkan bahan substansial yakni karbohidrat dan protein dalam makanan untuk menjaga agar tingkat energi anak tetap tinggi.

3. Berikan menu makanan yang berbeda setiap hari di piring anak. Variasi makanan adalah resep untuk kesehatan yang baik. Cobalah memvariasikan bentuk sajian telur, roti, sereal, dan buah-buahan. Biarkan pula ia memilih menu kesukaannya.

4. Pada dasarnya, makanan untuk anak haruslah mencakup sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan.

5. Perlu diketahui, lemak jenuh kurang baik untuk kesehatan. Maka itu, hindari goreng-gorengan sebagai camilan di siang hari. Hindari pula memberikan permen secara berlebihan.

6. Karena aktivitas bermain akan membuat anak banyak berkeringat, pastikan ia minum banyak cairan. Berikan air jeruk nipis atau jus jeruk selain susu dan yoghurt.

Empat Strategi Sejahterakan Nelayan













INDRAMAYU.
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad saat bertemu dengan sejumlah nelayan di Tempat Pelelangan Ikan Eretan Indramayu memberikan empat strategi dalam mensejahterakan nelayan.

"Nelayan tradisonal yang berada di sepanjang pesisir utara pantai Indramayu merupakan kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung pada musim, cuaca, dan keberadaan sumber daya alam tanpa keahlian mereka hanya mengandalkan pengalaman secara turun-temurun," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad di Indramayu, Senin (27/6).

Menurut dia, keterbatasan kemampuan dalam meningkatkan hasil tangkapan perlu diutamakan untuk mensejahterakan mereka, dalam hal ini pihaknya akan menerapkan berbagai upaya meningkatkan hasil tangkapan.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus berusaha memperhatikan mereka, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaksanakan empat strategi untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, antara lain penguatan perubahan budaya nelayan, penguatan eliminasi hambatan usaha perikanan, penguatan perlindungan terhadap nelayan, dan penguatan sumber daya manusia nelayan.

Dia menjelaskan, peningkatan kehidupan nelayan sebagai bagian cluster keempat yang dimandatkan kepada KKP sebagai koordinator sejalan dengan misi kementerian dalam upaya peningkatan nelayan karena selama ini mereka terkendala berbagai faktor.

"Pemerintah akan terus memberikan perlindungan usaha nelayan dilakukan melalui peningkatan peran usaha perikanan, pendapatan nelayan, ketahanan pangan berbasis sumber daya perikanan dan pengembangan kegiatan ekonomi rakyat berbasis usaha perikanan harus didukung lintas sektor dan pemerintah pusat daerah," katanya.

Selain meninjau hasil tangkapan Menteri Kelauatan dan Perikanan Fadel Muhamad berdialog dengan sejumlah petani garam asal Indramayu. Dikatakannya, garis pantai sepanjang pantura Indramayu merupakan salah satu kabupaten potensial yang berkontribusi dalam memacu produksi garam nasional. saat Indramayu memiliki lahan seluas 1.533 hektare sebagai lahan produksi garam yang akan dikelola oleh 90 kelompok dengan melibatkan 1.020 petambak garam.

Lanjut dia, produksi garam Indramayu cukup membantu kebutuhan garam secara nasional, 24 ribu ton garam setidaknya akan dihasilkan dari Kabupaten Indramayu ini. Untuk merealisasikan target tersebut, dalam kesempatan tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan menyerahkan BLM PUGAR sebesar Rp5 miliar untuk Kabupaten Indramayu.

Sementara itu kelompok tani garam menyambut gembira bantuan dari Menteri Kelauatan dan Perikanan, dan berharap mereka dapat meningkatkan produksi garamnya, karena selama musim hujan hasil produksi garam di pantai utara Indramayu menurun. (ant)

Seperempat Penduduk Miskin Indonesia Adalah Nelayan










JAKARTA.
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad seperempat dari total penduduk miskin di Indonesia merupakan kelompok dan keluarga nelayan tradisional di pesisir pantai.

"Jumlah mereka (nelayan miskin dan anggota keluarganya) di pesisir sebanyak 7,87 juta orang atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional sebanyak 31,02 juta orang," kata Fadel di Gedung Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Jakarta, Selasa (28/6).

Fadel memaparkan, jumlah 7,87 juta orang tersebut berasal dari sekitar 10.600 desa nelayan yang terdapat di kawasan pesisir di berbagai daerah di Tanah Air. Sebagai perbandingan, jumlah desa miskin sebanyak 28.258 desa dari keseluruhan 73.067 desa di Indonesia.

Untuk itu, ujar dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tim Koordinasi Peningkatan dan Perluasan Program Pro-Rakyat.

Dalam Keppres tersebut, Fadel sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan ditampuk sebagai koordinator untuk mengarahkan berbagai program pengentasan kemiskinan di daerah pesisir.

Ia mengemukakan, melalui aturan ini diharapkan pendapatan nelayan dan usaha perikanan dapat ditingkatkan, serta mampu meningkatkan ketahanan pangan berbasis sumber daya ikan. Selian itu, diharapkan juga dapat mengembangkan kegiatan ekonomi yang berbasis kepada usaha perikanan rakyat.

Berita Pertanian : Kawanan Monyet di Lebak Rusak Kebun Warga












LEBAK.
Kawanan monyet di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, selama dua pekan terakhir merusak kebun milik warga. Kawanan monyet masuk ke desa karena diduga ketersediaan makanan mereka menipis di habitatnya.

"Kami tidak menyangka monyet itu merusak tanaman kacang tanah dan pisang. Mungkin karena makanan di habitatnya menipis," kata Mimin (45) warga Curug Lebak, Desa Cimangenteung, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Selasa (28/6).

"Apabila mereka dibiarkan, dipastikan akan lebih banyak tanaman milik warga yang rusak seperti pisang, jagung, pepaya, kacang, dan singkong," katanya.

Menurut dia, diperkirakan jumlahnya populasi monyet mencapai ratusan yang menyerang perkebunan warga. Saat ini, kata dia, warga mengalami kerugian akibat kerusakan tanaman tersebut. "Semestinya, kami sudah memanen kacang tanah, namun kini rusak akibat dimakan monyet," katanya.

Begitu pula Pardi (50) seorang petani mengaku serangan monyet ke perkebunan itu membuat warga khawatir karena tanamannya rusak dan tidak bisa dipanen.

Sebetulnya, kata dia, satwa kera itu sudah lama mengganggu dan merusak tanaman warga, namun serangan mereka tidak sebringas sekarang karena tingkat kerusakannya lebih parah. "Kami tidak berani membunuh karena binatang itu dilindungi pemerintah," katanya menjelaskan.

Kepala Bidang Produksi Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak Asep Mauladi mengaku pihaknya akan meninjau ke lokasi populasi monyet yang merusak tanaman milik warga. "Kami dalam waktu dekat ini akan berupaya menyelamatkan populasi monyet itu agar tidak punah," katanya.(ant)

Peranan Berita Pertanian : Perguruan Tinggi Diperlukan Ciptakan Sumber Pangan Alternatif

Medan. Peranan perguruan tinggi (PT) sangat diperlukan dalam menciptakan sumber pangan alternatif selain beras. Hal tersebut dapat memerangi rawan pangan dan kemiskinan di Kota Medan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kota Medan, Eka R Yanti Danil, mengatakan, pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang (3B) dan aman harus dapat dinikmati oleh masyarakat dalam jangka panjang dan berkesinambungan. Sehingga tidak akan ada kekhawatiran jika terjadi naiknya harga sari salah jenis pangan khususnya beras.

"Peran pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa dan media pers sangat dibutuhkan untuk mengubah pola pikir masyarakat agar pangan pokok bukanlah beras saja melainkan ada alternatif lainnya dengan potensi gizi yang sama," ujarnya kepada wartawan, Senin (27/6) di Medan.

Dikatakannya, dengan keadaan produksi beras 32 juta ton, singkong 19 juta ton, dan jagung 13 juta ton per tahunnya dapat membuat Indonesia surplus pangan. Sebab pangan non beras akan tercipta dan merangsang produksi pertanian sehingga dapat meningkatkan perekonomian pedesaan lokal.

Dicontohkannya, beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, makanan pokok masyarakat adalah tiwul. Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Madura biasa makan jagung dan pisang. Penduduk di Papua dan Maluku, Maluku Utara makanan pokoknya sagu dan umbi-umbian lokal.

Dewan Ketahanan Pangan Kota Medan, Prof Posman Sibuea menambahkan, sasaran percepatan peragaman konsumsi pangan adalah tercapainya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman yang dicerminkan tercapainya skor pola pangan harapan (PPH) sekurang-kurangnya 93 pada 2015 (saat ini 83) dan mendekati ideal 100 pada 2020.

“Konsumsi umbi-umbian, sayuran, buah-buahan pangan hewani ditingkatkan dengan mengutamakan produksi lokal. Dengan begitu konsumsi beras turun sekitar satu persen per tahun,” ujarnya.

Jika pangan pokok masyarakat lokal diartikan secara sempit atau hanya beras maka terciptalah dikotomi beras dan non beras. “Bagi masyarakat yang daya belinya rendah terhadap beras menyebabkan mereka kekurangan kalori dan protein. Padahal masih ada alternatif lainnya untuk mengganti sumber gizi selain beras tersebut,” terangnya.

Untuk itu, lanjutnya, jika mau bebas dari rawan pangan atau kelaparan, lingkaran setan kemiskinan harus diputus yakni bisa dengan proses pemberdayaan untuk memandirikan masyarakat agar mampu mengatasi persoalannya dengan memberikan akses terhadap sumber daya produktif, terutama di pedesaan. "Bukan dengan derma yang menciptakan kemalasan," tuturnya.

Senin, 27 Juni 2011

Tips Ampuh : 4 makanan sehat di malam hari











Makan malam
adalah hal yang tabu, itu anggapan kebanyakan pelaku diet. Padahal menahan rasa lapar di malam hari karena takut gemuk, adalah kebiasaan diet yang salah. Faktanya, Anda tetap bisa mengonsumsi makan malam selarut apapun tapi tetap bisa menjaga berat badan, bahkan membantu Anda membakar lemak.

Seperti dikutip dari become gorgeous, ini dia empat makanan yang aman Anda konsumsi sebelum tidur.

1. Sereal gandum utuh dan susu


Sereal gandum utuh dan susu bisa memberi tubuh Anda cukup nutrisi selama Anda tidur, tanpa menambah berat badan dan membuat tubuh gemuk. Sereal dari gandum menyuplai serat dan karbohidrat untuk tubuh, sementara susu menyediakan kebutuhan kalsium dan protein. Hanya saja, pilih sereal yang tidak mengandung gula tambahan dan susu skim atau susu rendah lemak.

2. Ikan Tuna

Ikan yang satu ini mengandung asam amino tinggi yang menambah energi dan meningkatkan kadar kolesterol baik dalam tubuh. Sepotong ikan tuna kukus, panggang atau semangkuk sup ikan tuna cukup untuk mengusir rasa lapar semalaman tanpa menambah sumbangan kalori yang tidak penting.

3. Tofu dengan Roti Gandum

Anda tidak perlu kelaparan semalaman hanya karena ingin mengurangi berat badan berlebih. Kenyangkan perut Anda dengan makanan sehat bergizi, seperti kombinasi tofu dan roti gandum. Padanan dua makanan ini akan menjaga massa otot tetap stabil dan 'menjinakkan' hasrat makan Anda yang menggila di malam hari. Protein nabati yang terkandung dalam tofu juga akan membantu membakar lemak dengan cara yang simpel.

4. Bubur Oatmeal

Karbohidrat yang dikandungnya membantu meningkatkan kadar triptofan dalam darah. Selain itu oatmeal merupakan makan berserat yang baik untuk pencernaan. Campurkan oatmeal dengan air atau susu skim panas, tambahkan beberapa kismis atau buah kering untuk menambah rasa.

Berita Pertanian : Kemarau, Produksi Pisang di Lamsel Turun






PALAS. Permintaan pasar terhadap pisang meningkat. Namun, produksi pisang di tingkat petani saat ini menurun akibat peralihan cuaca dari musim hujan ke kemarau.

Sunar, pedagang pengepul buah pisang di Kecamatan Palas, mengatakan saat ini buah pisang di tingkat petani sulit dicari. Hal ini disebabkan perubahan cuaca. Sehingga pertumbuhan buah pisang tidak normal.

"Sementara harga pisang sendiri masih tetap normal. Padahal, buah pisang sulit dicari dan permintaan pasar terus meningkat. Kami, membeli pisang di daerah ini langsung dari petani," kata Sunar yang biasa mengirim pisang ke Pulau Jawa dan Jakarta.

Ia menambahkan untuk harga pisang asalan yang berukuran sedang Rp6.000-Rp7.000/tandan, untuk kualitas satu mencapai Rp10 ribu-Rp11 ribu/tandan. Sementara untuk harga pisang yang dia beli di tingkat petani untuk jenis asalan Rp5.000-Rp5.500/tandan, pisang kualitas satu atau besar Rp10 ribu-Rp10.500/tandan.

Dengan kondisi tersebut, dia dan petani pisang berharap harga pisang saat ini bisa meningkat sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pasar. "Sejak musim kemarau ini, pisang di wilayah ini buahnya kecil-kecil tidak seperti pada beberapa bulan lalu. Kami juga tidak tahu, mengapa harga pisang ini masih saja normal. Padahal permintaan terhadap buah pisang cukup banyak," katanya.

Sementara itu, Agus, seorang petani pisang, mengatakan sejak musim kemarau ini tanaman miliknya tidak tumbuh normal. Di mana, akibat musim panas, banyak tanaman yang rusak dan patah batang. Sehingga, otomatis pisang yang dihasilkan sangat kecil.

"Bagaimana buahnya akan besar-besar jika cuacanya seperti ini terus. Sebagian pohon pisang di lahan perkebunan saya ini banyak yang patah batang dan roboh akibat musim kemarau dan angin kencang. Saya sangat berharap harga pisang bisa naik," katanya.

Fermentasi Kakao Hanya 72 Jam






BANDAR LAMPUNG. Ukuran tubuh lebih kecil daripada debu, tetapi perannya amat besar. Karena kehadirannya, fermentasi kakao hanya tiga hari, bukan enam hari seperti biasanya.

Itulah Saccharomyces cerevisiae. Dulu mikroorganisme itu bermanfaat untuk fermentasi barlet Hordeum vulgare menjadi bir. Dalam bahasa Latin, cerevisiae berarti bir. Namun, periset di Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Maria Erna Kutyawati, justru menggunakan jasa baik cendawan anggota famili Saccharomycetaceae itu untuk memfermentasi biji kakao.

Selama ini para pekebun kakao jarang memfermentasi biji hasil panen. "Petani enggan memfermentasi kakao karena membutuhkan waktu lama," kata periset di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Aloysius Adi Prawoto S.U.

Karena itu setelah panen dan menjemur biji, mereka pun menjual kepada pengepul. Padahal, tak selamanya fermentasi berlangsung sampai enam hari. Buktinya Maria mampu memfermentasi cuma tiga hari alias tiga hari lebih cepat. Andai saja pekebun menjual biji kakao fermentasi, keruan saja laba mereka membubung. Pada pekan pertama Mei 2011, harga biji kakao di tingkat pekebun di Lampung Timur Rp24 ribu; biji fermentasi Rp29 ribu/kg. Selisih Rp5.000/kg sangat signifikan. Jika pekebun menuai 2.000 kg/ha, potensi penambahan omzet mencapai Rp10 juta bila memfermentasi biji.

Lebih Cepat

Maria Erna memfermentasi kakao dengan tiga perlakuan. Pertama, fermentasi alami tanpa penambahan mikroorganisme seperti pada umumnya. Kedua, fermentasi terkontrol dengan penambahan mikroorganisme yang terdiri atas Saccharomyces cerevisiae, Lactobacillus lactis, dan Acetobacter aceti secara bersamaan pada awal fermentasi.

Ketiga, fermentasi dengan penambahan mikroorganisme secara bertahap, yaitu Saccharomyces cerevisiae pada hari ke-0, Lactobacillus lactis pada hari ke-1, dan Acetobacter aceti pada hari ke-2.

Saccharomyces cerevisiae dan Candida tropicalis memiliki tingkat ketahanan yang tinggi. Ketika suhu meningkat hingga 50 derajat Celsius, mikroorganisme itu mampu bertahan. Sedangkan jenis bakteri asam laktat Lactobacillus cellobiosus dominan sampai 48 jam. Acetobacter aceti aktif pada 24 jam pertama fermentasi. Jumlah mikroorganisme itu hanya 108 CFU (Colony Forming Unit) per spesies pada setiap kg biji.

Dalam riset itu, Maria memfermentasi biji kakao di dalam kotak berkapasitas 5 kg kakao segar atau tanpa melalui proses pengeringan, pada suhu ruang. Secara umum, fermentasi bertujuan menghilangkan daya hidup biji. Tujuan lain agar pulp atau selaput yang menyelimuti biji mudah dihilangkan. Selama fermentasi aktivitas mikrob dalam pulp akan memproduksi alkohol, asam, dan membebaskan panas.

Proses fermentasi berlangsung secara alami oleh mikroorganisme yang terdapat dalam atmosfer. Pada fermentasi hanya bakteri anaerob seperti Lactobacillus lactis dan Acetobacter aceti yang mampu bertahan. Mikroorganisme itu menghasilkan alkohol dalam kadar oksigen terbatas dan kadar gula tinggi. Selain itu, mereka juga merombak pulp sehingga terjadi aerasi dalam pulp.

Pada perlakuan kedua, produksi asam laktat oleh Lactobacillus lactis relatif tinggi, mencapai 1.010 CFU/g. Sedangkan pada perlakuan ketiga, melimpah bakteri asam asetat, yakni Acetobacter aceti. Kedua senyawa itu menyebar ke sekujur biji kakao sehingga terjadi perubahan rasa, warna, dan aroma. Warna biji kakao yang semula ungu berubah warna menjadi cokelat. Sedangkan citarasa cokelat lebih menonjol dan rasa sepat berkurang, serta aroma lebih harum pascafermentasi.

Tepung Kering

Kenaikan suhu yang tajam mengakibatkan kematian biji. Ketika itulah terjadi reaksi kimiawi di dalam kotiledon atau keping lembaga pada biji. Reaksi itu berperan dalam pembentukan citarasa biji kakao. Pada fermentasi dengan penambahan mikroorganisme secara bertahap, suhu turun setelah hari pertama. Itu karena penambahan mikrob dan pengadukan mengganggu proses aerasi.

Akibatnya terjadi kehilangan panas dari tumpukan biji kakao ke luar lingkungan. Oleh karena itu, penambahan bakteri pada fermentasi menyebabkan suhu maksimum pada waktu yang relatif awal. Fermentasi sempurna dicapai pada hari ketiga pada fermentasi dengan penambahan mikroba, sedangkan fermentasi alami pada hari keenam.

Biji kakao hasil fermentasi dengan penambahan mikroba pada awal fermentasi memiliki kadar lemak tertinggi. Kadar lemak salah satu tolok ukur penentuan harga dalam perdagangan. Maria menyimpulkan penambahan inokulum campuran pada awal fermentasi mempercepat waktu fermentasi dan menghasilkan biji berkualitas tinggi, antara lain kandungan lemak yang lebih baik daripada fermentasi spontan alias tanpa tambahan mikroba. Menurut Adi Prawoto, penambahan mikroba pada hari pertama dapat mempercepat proses fermentasi.

"Mikrob-mikrob itu berfungsi seperti starter. Pada metode konvensional, fermentasi hanya mengandalkan mikrob yang ada secara alami yang jumlahnya tidak pasti. Penambahan mikrob memacu fermentasi sehingga berjalan dengan lebih cepat," kata Adi Prawoto.

Dengan hasil itu, Maria berencana mengeringkan mikrob-mikrob dan mengemas seperti tepung ragi. Pekebun tinggal menaburkan mikrob saat fermentasi kakao. "Cara itu memudahkan penerapan bagi pekebun dan mengurangi waktu fermentasi," kata Maria. (TRUBUS)

Peluang Usaha pertanian : Jutaan Rupiah dari Sansiviera Mini

Pada awalnya hanya berjualan pot keramik, Edi Sah P Sitepu tidak mendapatkan keuntungan yang lebih. Namun sejak mengenal tanaman hias jenis sansiviera ia pun berhasil mendapatkan uang sekitar Rp 10 juta perbulannya. Tentu saja, sansiviera yang dipasarkannya bukan jenis biasa namun sudah mendapat sentuhan luar biasa dengan mengkreasikan bentuknya menjadi unik. Bukan hanya menaikkan nilai jual pot, namun dengan tanaman ukuran mini tidak lebih dari 10 centimeter tersebut, ia bisa menjual sansiviera mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 350.000 per tanaman.
Dengan dibantu mitranya, Mukhlis dan Iskandar di Namura Nursery, ia terus mengembangkan kreasi sansivera dengan sasaran pasar tertentu. Para pehobi tanaman hias bisanya menjadikan sansivera sebagai koleksi yang tidak menyita tempat sehingga dalam ruangan yang sempit pun, tetap dapat megoleksi banyak tanaman hias.

“Dengan tren perumahan gaya minimalis sangat cocok degan tanaman hias yang berukuran kecil seperti ini,” aku Edi sembari memperlihatkan tanaman sansiviera hasil kreasinya belum lama ini.

Dikatakannya, dengan sansivera kreasinya, Edi bisa menjualnya dengan harga 5 hingga 10 kali lipat lebih tinggi dari harga sansivera seumuran dengan penanaman konvensional dan penggunaan pot biasa. “Sansivera unik ini kalau dijual dengan pot biasa harganya hanya Rp 10.000, tapi kalau dikreasi seperti ini, kita bisa menjualnya jadi Rp 50.000 sampai Rp 350.000, karena ada sentuhan seni di sana,” katanya lagi.

Memang,kata Edi, untuk membuat satu tanaman sansivera unik, membutuhkan waktu yang relatif lama, paling tidak dibutuhkan waktu tiga hingga enam bulan untuk melengketkan tanaman sansivera kepada median tempatnya tumbuh.

Dicontohkannya, dengan satu batang sansivera ditanamnya di tanah khusus dalam waktu dua hingga tiga bulan akan tumbuh tanaman sansivera dalam rumpun yang banyak. Dari situ, tinggal dipindahkan ke median yang dikehendaki.

“Misalnya diletakkan pada batu alam, dalam waktu 3 - 6 bulan, akarnya akan lengket sehingga tidak bisa dicerabut darinya. Agar daun dan batangnya tidak menjadi besar, harus memotong beberapa daunnya. Kalau sudah tumbuh dalam rumpun sebanyak ini, kita bisa menjadikannya dalam beberapa pot, kita jual minimal Rp. 50.000 bisa, tinggal dikalikan saja," ujarnya.

Ditambahkan Edi, dalam menjual sansivera harus lebih kreatif karena dengan begitu orang yang tidak mengerti tanaman pun akan tertarik pada sansivera dan pada gilirannya bisa menaikkan pendapatan dari bisnis tanaman hias. "Seni bisa mengangkat yang biasa menjadi luar biasa.
Dengan kreasi seperti ini kita bisa menjualnya dengan lebih bernilai, tidak hanya dari sisi harga, tapi dari kepuasan mengoleksinya," jelasnya.

Karena itu, menurutnya ke depan, sansivera tidak akan kehilangan pembeli. Di rumahnya di jalan Titi Papan, Gang Rezeki Sei Kambing Medan kini terdapat ratusan tanaman sansivera dari ukuran kurang dari 10 cm sampai yang tingginya 1 meter dan tanaman hias lainnya.

Dari situ Edi bisa mendapatkan keuntungan jutaan rupiah hanya dari sansivera kreasinya yang berukuran mini, belum lagi dari sansivera yanh berukuran besar. "Sansivera tidak pernah kehilangan pasar, apalagi kalau bisa membuat kreasinya sehingga terlihat sangat unik," lanjutnya menjelaskan sembari mengaku peminat sansivera hasil kreasinya sampai luar negeri.

Dari sisi fisiknya, sansiviera nampak liat. Paling tidak bisa digambarkan bentuk sansiviera tipis, tebal dan bulat. Dengan varian yang banyak, ia menampilkan pesona sesuai dengan karakternya masing-masing. Tak hanya itu, sansiviera merupakan tanaman berkhasiat, yaitu sebagai penyerap polutan.

Tak heran jika tanaman yang cocok untuk indoor maupun outdoor ini banyak dicari karena bentuknya yang menawan dan manfaatnya. Sebagai tanaman yang bisa menyerap polutan, sansiviera dapat diletakkan di dalam ruangan sebagai tanaman hias karena menyerap asap rokok dan menghilangkan bau tak sedap.

Ini dikarenakan sansivera dapat mengeluarkan oksigen selama 24 jam secara terus menerus.
Tidak hanya itu, tanaman ini juga seperti dari daerah asalnya dengan cuaca yang ekstrem, mampu bertahan meskipun tidak disiram selama beberapa hari, apalagi di iklim tropis. Oleh karena itu tanaman ini juga sering ditanam di pinggir jalan sebagai ruang hijau yang meneyerap asap kendaraan dan memprosesnya menjadi oksigen.

Dari banyak literatur mengenainya, tanaman yang berasal dari Afrika ini dapat menyerap lebih dari 107 polutan yang ada di lingkungan sekitar. Antara lain karbon monoksida, timbal benzen formaldehide. Selain itu sansivera juga dapat dijadikan sebagai obat diabetes, ambeien dan penyakit kulit.

Bahkan ada yang menyebutkan bahwa tanaman ini mampu menghilangkan bau tak sedap di ruangan 100 meter per segi hanya dengan empat hingga lima helai daunnya. “Meski bila kita cium tanaman ini tidak mengeluarkan bau wangi, tapi sansiviera efektif sekali menyerap bau yang tidak sedap terutama di dalam ruangan,” kata Edi.

Namun, tambahnya, membuat sansivera tetap menjadi tanaman yang disukai oleh hampir semua kalangan tidak hanya dari fisiknya saja melainkan dari manfaatnya. "Mau diletakkan dalam ruangan sebagai tanaman hias, bagus, di luar ruangan juga tetap bagus. Yang jelastanaman ini tahan terhadap cuaca dan bisa membersihkan udara," kata lagi.

Untuk bagian-bagian tanaman sansivera, Edi mengatakan, yakni dari akar yang lazimnya tumbuhan berbiji tunggal, berbentuk serabut, berwarna putih dan tumbuh dari bagian pangkal daun serta menyebar ke segala arah di dalam tanah. Selain terdapat akar juga terdapat organ yang menyerupai batang.

Banyak yang menyebut organ ini sebagai rimpang atau rhizoma yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sari-sari makanan hasil fotosintesis. “Rimpang juga berperan dalam perkembangbiakan yang menjalar di bawah dan kadang-kadang di atas permukaan tanah. Ujung organ ini merupakan jaringan meristem yang selalu tumbuh memanjang,” ungkap Edi.

Bukan itu saja lanjut Edi, bagian daun sansivera yang tebal dan banyak mengandung air sehingga dengan struktur daun seperti ini membuat sansevieria tahan terhadap kekeringan. Pasalnya, proses penguapan air dan laju transpirasi dapat ditekan. Daun tumbuh di sekeliling batang semu di atas permukaan tanah. Bentuk daun penjang dan meruncing pada bagian ujungnya. Tulang daun sejajar dan beberapa jenis terdapat duri.

Ditambahkan Edi, bunga sansevieria terdapat dalam malai yang tumbuh tegak dari pangkal batang. Bunga sansevieria termasuk bunga berumah dua, putik dan serbuk sari tidak berada dalam satu kuntum bunga. Sedangkan dari biji sansivera dihasilkan dari pembuahan serbuk sari pada kepala putik dengan memilki peran penting dalam perkembangbiakan tanaman.

Saat ini sansevieria telah berkembang menjadi komoditas yanng sangat penting dalam bisnis tanaman hias dunia. Selain mempunyai nama lidah mertua (mother-in law tongue), sansivera juga sering mendapatkan julukan yang kerap diberikan pada tanaman tak berdahan ini. Bahkian ada juga yang menamainya tanaman pedang-pedangan karena bentuk daunnya yang runcing menyerupai pedang.

Beberapa yang lain menyebutnya tanaman ular (snake plant) karena pada beberapa jenis coraknya memang menyerupai sisik ular. Sansevieria sendiri adalah tumbuhan yang tumbuh menahun atau perennial.

Meskipun bukan tanaman asli Indonesia namun sansevieria ini telah ada sejak puluhan tahun lalu dan banyak menghasilkan serat rami. Mengingat kualitas serat yang baik, maka tumbuhan ini dibudidayakan. “Dengan kemampuan ini pula, ibu rumah tangga yang sering beraktivitas di dapur bisa memetik manfaat dari tanaman sansevieria. Peletakan sansevieria di dapur dapat menyegarkan udara dengan menyerap gas karbondioksida dan monoksida sisa pembakaran dari kompor,” pungkas Edi.

Sansiviera atau lebih dikenal dengan lidah mertua ini termasuk tanaman yang tahan dalam kondisi ekstrem. Sansiviera dengan arena daunnya meruncing di bagian ujungnya yang tajam, dapat diletakkan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Keistimewaan lainnya, tanaman hias ini tidak membutuhkan perawatan yang khusus.

Dengan kata lain perawatannya tidaklah serumit kebanyakan tanaman hias lainnya yang membutuhkan perhatian khusus. Sang lidah mertua ini bisa bertahan dalam tanah yang kering sekalipun. Dari tempat asalnya di Afrika, sansiviera tentunya bisa bertahan di cuaca tropis yang kadar kelembaban lebih tinggi. "Misalnya di dalam ruangan, dengan pancaran cahaya matahari yang minim pun, sansiviera tetap bisa hidup," kata Edi Sah P Sitepu.

Bahkan sansiviera merupakan tanaman yang rentang toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan, kondisi sedikit air dan cahaya matahari sehingga dapat ditanam di media apa saja dan bisa mengolah dan menyerap polutan menjadi asam organik, asam amino dan mampu menyerap polutan dan bau yang tidak sedap.

Menurutnya, hal tersebut menjadi kelebihan yang jarang ditemukan pada tanaman lain. Sansivera dapat menyimpan air di dalam seluruh bagian tubuhnya dengan jumlah yang banyak. "Memang kalau mau cantik, ia mesti ditanam dengan median tanah yang baik, tapi tidak harus karena memang jenis tanaman ini tidak butuh tanah khusus," ujarnya.

Namun, sansevieria membutuhkan cahaya matahari yang cukup untuk menjamin pertumbuhan yang baik. Meskipun di habitat aslinya tumbuhan ini hidup dengan cahaya matahari yang berlimpah. Bahkan tak disiram beberapa hari pun tetap bertahan hidup.

“Meskipun mudah ditanam, sansiviera ini tetap harus diperhatikan perawatannya, seperti faktor struktur, cuaca, media dan bibitnya. Dengan tidak membutuhkan tanah yang terlalu lembab, saya tidak terlalu sering menyiram sansivera, meskipun menyirami adalah bagian yang penting, itu di atas rumah masih ada banyak, dihajar hujan dan panas, tetap mampu bertahan," katanya.

Namun begitupun, ia menambahkan tetap pentingnya untuk menjaga kebersihannya agar bisa bertahan dari hama dan penyakit. Dengan pemeliharaan yang sederhana saja bisa bertahan, apalagi jika dirawat secara lebih baik. "Tentunya ia akan bernilai tidak hanya secara ekonomi melainkan dari sisi kualitas tanaman yang bandel terhadap cuaca," ujarnya.

Selain itu, hal unik lainnya dari sansevieria ini, jika dilakukan perbanyakan tanaman ini belum tentu mendapat hasil yang sama dengan indukannya, malah bentuknya bisa lain. “Jadi, bila kita menemukan varietas baru bisa dinamakan sendiri. Sebab itu pula, di pasaran tanaman sansiviera ini dikenal dengan banyak varietas,” tandasnya.

Ayo Makan Singkong

Oleh : Mei Rosseliny Gultom

Kemiskinan Negara Indonesia seperti kisah klasik yang jika didengar bagaikan hembusan angin lalu, terpatri dalam benak masyarakat untuk menikmati kondisi tersebut bukan menyelesaikannya.

Kondisi kemiskinan seperti ini hanya berujung pada pemikiran "ini salah siapa?" jawaban pun kembali menyalahkan pemerintah. Atau pemikiran lain, "Dasar rakyatnya yang bodoh, malas, tidak mau bekerja keras, sehingga kondisinya miskin dan kelaparan". Pemikiran ini telah menjadi paradigma di masyarakat sehingga tidak ada solusi dan keyakinan bahwa masalah kemiskinan dan kelaparan ini dapat teratasi.

Kelaparan, kemiskinan, kekurangan pangan dan ketertinggalan sudah menjadi kondisi yang dianggap biasa terjadi di Indonesia. Dan benarlah pepatah yang mengatakan "bagaikan tikus mati di lumbung padi". Gambaran tikus mati di lumbung padi sesungguhnya sangatlah tragis. Ada tikus yang mati di tempat yang berlimpah makanan. Kondisi tersebut merupakan deskriptif dari kondisi masyarakat sekarang. Banyak masyarakatnya miskin, kelaparan dan menderita kekurangan pangan di negara subur yang berlimpah kekayaan alamnya.

Beras vs Singkong

Rakyat dan pemerintah sangat menyibukkan diri dengan konsumsi beras yang berlebih. Bahkan pemerintah sibuk sekali dengan impor beras dengan jumlah yang sangat besar, Padahal wilayah kita dikenal sebagai wilayah subur dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani yang menanam padi. Kesuburan tanah kita juga telah membuahkan hasil yang baik sehingga beberapa tahun yang lalu, Negara Indonesia menjadi Negara swasembada beras. Namun, kini kita harus mengimpor beras dari negara lain agar kebutuhan akan beras terpenuhi. Alasan klasiknya adalah gagal panen yang disebabkan karena cuaca yang saat ini tidak dapat diprediksikan, serta maraknya hama tanaman padi. Selain itu, maraknya masyarakat mengubah lahan pertaniannya menjadi lahan tanaman produksi seperti kelapa sawit juga menjadi ancaman terbaru akan kekurangan beras.

Keadaan impor beras, bukanlah keadaan yang baik malah menjadi image yang buruk bagi Negara kita, mengingat tanah kita subur. Oleh karena itu, sudah seharusnya bahan pangan masyarakat beralih kemakanan alternatif yang setara kadar dan kegunaannya dengan beras (nasi). Kita juga telah tahu bahwa beberapa daerah di Negara ini bahan makanan pokoknya bukanlah beras tetapi sagu, jagung atau singkong. Beras (nasi) menjadi sumber karbohidrat utama bagi tubuh, sama halnya dengan sagu, jagung atau singkong. Sagu memang sangat jarang kita jumpai, demikian juga jagung yang perawatannya sedikit rumit. Namun, singkong dapat menjadi makanan alternatif pengganti beras.

Singkong juga sering menjadi tanaman yang ditanam diladang-ladang masyarakat. Perawatannya pun sederhana serta kecil kemungkinan terkena hama penyakit tanaman. Jika kita membandingkan singkong dan beras, sesungguhnya tidak terlalu banyak perbedaan yang didapat mengenai kelebihannya, justru singkong lebih banyak keuntungannya dilihat dari segi ekonomisnya. Untuk jenis-jenis kandungan yang ada didalamnya, beras dan singkong sama-sama sumber karbohidrat, air, fosfor, vitamin, protein walaupun hanya berbeda kadarnya saja. Jika beras harus dimasak dengan direbus, singkong juga bisa direbus ataupun dibakar.

Jika beras dapat dicampur dengan lauk pauk dalam penkonsumsiannya, seperti ikan dan sayur, singkong juga dapat dicampur dengan ikan, sayur, atau lauk pauk lainnya. Malah keunggulan singkong dari beras yaitu harganya yang cukup murah yaitu kurang lebih seperempat dari harga beras. Sehingga sejumlah uang yang seharusnya dibelikan beras dapat dialihkan menjadi membeli lauk pauk yang dapat menambah gizi bagi tubuh manusia. Singkong juga dapat divariasikan menjadi bahan pangan lain, sepeti jenis kue-kuean dan menjadi tepung. Sangat mungkin untuk mengkonsumsinya menggantikan beras sebagai bahan pokok, karena kondisi kehadiran beras yang semakin menyiksa masyarakat.

Dibatasi Gengsi

Masalahnya, masyarakat saat ini malah "ngotot" harus makan nasi dan mengorbankan dana yang besar untuk mendapatkannya, padahal sesunggunya dana itu bisa dialokasikan untuk hal yang lain. Misalnya untuk lauk pauknya. Lidah masyarakat telah dimanjakan oleh nasi dan menilai orang miskin apabila ia makan singkong. Akibatnya, demi gengsi tersebut rela kelaparan atau makan tidak menentu. Padahal, kita telah tahu bersama bahwa masyarakat Indonesia dikatakan miskin karena penghasilannya yang sangat rendah bukan karena ia makan singkong atau makan beras.

Andai saja masyarakat yang tergolong miskin mau sedikit rendah hati dengan menkonsumsi singkong sebagai bahan pangan pengganti beras maka masyarakat tidak kesulitan untuk makan pagi, siang atau malam. Masyarakat juga tidak perlu kelaparan atau menerapkan makan sehari dua kali, bahkan makan nasi aking. Akan tetapi, masyarakat dapat menikmati enaknya singkong ditambah lauk pauknya karena singkong sangat mudah terjangkau dan harganya relatif murah.

Selain harga singkong yang relatif murah, singkong juga sangat gampang didapat bahkan ditanam sendiri. Tidak ada kamus atau istilah gagal panen dalam menanam singkong. Jika saja rakyat miskin mau sedikit rendah hati dan sabar dengan menanam singkong di halaman depan, belakang, atau samping rumahnya (jika mereka tidak mempunyai lahan), kurang lebih empat bulan mereka sudah dapat memanen singkong tersebut dan dapat mereka konsumsi. Seperti sebuah lagu yang menggambarkan kesuburan tanah Indonesia, bahwa batang kayu diletakkan atau "dicocokkan" ke tanah saja akan tumbuh menjadi pohon karena suburnya tanah Indonesia. Sesungguhnya itu juga menggambarkan gampangnya menanam singkong. Hanya tinggal memotong–motong batangnya, lalu "mencocokkannya" ke tanah maka akan tumbuhlah pohon singkong dan menghasilkan umbi, yang dapat dikonsumsi. Dan kelaparan tidaklah menjadi masalah yang mengglobal bahkan sampai merenggut nyawa manusia.

Demi pemulihan perekonomian Negara, sudah sepatutnya pemerintah tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengimpor beras. Akan tetapi dapat mensosialisasikan singkong sebagai ganti beras. Pemerintah perlu belajar dari cara hidup orang tua dahulu yang setiap harinya hanya bisa makan singkong untuk memenuhi perutnya, namun tetap cerdas dan bertenaga. Beras (nasi) hanya dimakan pada saat-saat tertentu saja atau sebagai variasi dari singkong.

Jika memungkinkan seluruh masyarakat Indonesia yang lain (di luar rakyat yang tidak mampu tadi) sepakat untuk memvariasikan makanan pokoknya dengan singkong sekali dalam satu minggu untuk mengurangi konsumsi beras dan dapat mengurangi impor beras. Jika saja 350 juta jiwa penduduk tidak mengkomsumsi beras satu hari dalam satu minggu, yang rata–rata konsumsi beras per orang dalam satu hari (tiga kali makan) 500 gr, kita dapat menghemat beras sekitar 175 ribu ton dalam seminggu dan dalam setahun ada 2,1 juta ton beras yang bisa kita hemat. Jika dirupiahkan, kita dapat menghemat sekitar 1,47 triliun rupiah dengan asumsi harga beras Rp 7000 perkilogram.

Masyarakat sudah seharusnya mandiri dan bijaksana dalam mengatasi kekurangan pangan, jangan hanya menunggu subsidi dari pemerintah berupa raskin. Dengan memakan singkong selama satu hari dalam satu minggu, telah menolong pemerintah untuk lebih focus pada persoalan bangsa yang lain. Selama ini rengekan rakyat telah membuat pemerintah gamang dalam mengambil kebijakan, sehingga kebijakannya hanya sebatas jangka pendek saja sebagai respon atas rengekan rakyat.

Singsingkan gengsi, demi perbaikan perekonomian bangsa dan mulailah makan singkong hanya satu hari dalam seminggu. Mari kita tetapkan hari makan singkong nasional. Ayo makan singkong.

Penulis adalah Alumnus Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan dan Aktif di UKMKP UNIMED.

Berita Pertanian : Pupuk Bersubsidi ‘Menghilang’ Petani Tapteng Khawatir Gagal Panen

Pandan. Petani di Kabupaten Tapanuli Tengah belakangan ini kesulitan memeroleh pupuk bersubsidi. Jika kondisi ini tak diatasi segera, selain kekhawatiran petani bakal gagal panen, peluang kegagalan program peningkatan ketahanan pangan di daerah setempat pun semakin tinggi.

Demikian diungkapkan anggota DPRD Tapteng, Jamarlin Purba ditemui di Pandan, baru-baru ini. Jamarlin menilai, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Tapteng tak begitu serius menggairahkan ketahanan pangan di daerah tersebut.

Terbukti, penyaluran pupuk bersubsidi masih tetap tak merata kepada petani, sehingga tak sedikit petani kesulitan mendapatkan pupuk yang telah disubsidi pemerintah.

Beberapa hari lalu politisi asal PDI Perjuangan Tapteng ini menemukan, sekelompok petani padi sawah di Desa Simanosor, Kecamatan Sibabangun mengeluh menghilangnya pupuk bersubsidi di daerahnya. Padahal, saat ini memasuki masa pemupukan tanaman padi sawah petani, setelah melalui musim tanam.

"Keluhan ini satu dari puluhan keluhan petani lainnya yang sampai kepada kami. Banyaknya keluhan tersebut jelas menggambarkan bahwa hingga saat ini, persoalan pendistribusian pupuk bersubsidi, masih menjadi kendala utama pertanian di Tapteng. Distannak Tapteng tidak serius dan kurang mampu meningkatkan ketahanan pangan di Tapteng. Padahal, DPRD Tapteng sudah acapkali mengingatkan instansi tersebut agar memperhatikan masalah ini lebih serius," ujar Jamarlin.

Menurut Ketua DPC PDI Perjuangan Tapteng ini, dalam mengatasi persoalan pupuk bersubsidi, seharusnya Distannak lebih agresif dalam hal jemput bola. Artinya, Distannak Tapteng harus mengintensifkan pemantauan langsung ke lingkungan petani dan penyalur pupuk secara kuntiniu, khususnya tiap musim pemupukan tiba.

"Selama ini, distannak selalu beralasan bahwa penyaluran pupuk bersubsidi akan bisa dilaksanakan bila para kelompok tani membuat program Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), sebelum musim tanam tiba, agar para agen pupuk bisa menyediakannya. Bila hal ini yang menjadi kendala, kenapa Distannak Tapteng tidak turun langsung ke kelompok tani secara rutin untuk mengingatkan hal tersebut," tukasnya.

Praktik Spekulan

Kemudian, sambung Jamarlin, apa mutlak menjadi kesalahan petani yang tidak membuat RDKK itu benar, atau malah distributor dan kios pupuknya yang bermain atau tidak mau menampung pupuk bersubsidi dikarenakan keuntungannya yang mereka nilai sangat sedikit?

"Contoh nyata, para petani di Desa Simanosor, Kecamatan Sibabangun, petani mengaku sudah membuat RDKK-nya, tetapi hingga kini pupuk bersubsidi pesanan mereka tak kunjung diterima. Ini menunjukan adanya praktik spekulan yang memainkan pendistribusian pupuk bersubsidi kepada petani setempat," ujar wakil rakyat Tapteng ini.

Bila ternyata distributor atau kios penyalur pupuk ini yang tidak becus, Jamarlin menegaskan, agar Distannak Tapteng menindak tegas atau bila perlu mencabut izin penyalurannya.

Menanggapi permasalahan itu, Kadis Pertanian dan Peternakan Tapteng, Ir Happy Silitonga menyatakan, hingga kini pihaknya selalu berupaya meningkatkan ketahanan pangan di daerah setempat. Mengenai persoalan penyaluran pupuk bersubsidi yang kerap dikeluhkan petani, Happy Silitonga mengaku kerap mengimbau dan mengingatkan para petani agar selalu memesan pupuk bersubsidi di kios-kios pupuk yang telah dihunjuk di daerah masing-masing, dengan membuat RDKK, sekaligus membayar langsung pesanan tersebut sesuai kebutuhan kelompok masing-masing.

Berita Pertanian : BK CPO Picu Penurunan Harga TBS Petani

Medan. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Sumatera Utara kembali meminta pemerintah mencabut kebijakan bea keluar minyak sawit mentah yang akan dinaikan besarannya menjadi 20 persen untuk pengriman Juli 2011, karena selalu menyebabkan harga tandan buah segar petani tetap murah.

"Ini saja dengan rencana kenaikan BK (bea keluar) menjadi 20 persen mulai Juli, harga TBS (tandan buah segar) sawit petani sudah turun hingga Rp200 per kg," kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPW) Apkasindo Sumut H Ahmad Gunari, di Medan, Minggu (26/6).

Apkasindo Sumut meminta pemerintah mencabut BK CPO (crude palm oil) atau minyak sawit mentah, ujarnya.

Apkasindo Sumut bersamaan pelantikan pengurus melaksanakan seminar nasional petani kelapa sawit dalam pembangunan industri Indonesia dan Raker DPW/DPD Apkasindo se-Sumatera Utara yang dijadwalkan dibuka Plt Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho.

Dalam seminar dan rapat kerja Apkasindo itu antara lain akan membahas soal nasib petani sawit yang tidak pernah menikmati seutuhnya kenaikan harga ekspor karena selalu dibebani dengan berbagai pungutan baik langsung atau tidak langsung seperti BK CPO.

Akibat mau dinaikkannya BK CPO, harga TBS di Labuhan Batu akhir pekan ini tinggal Rp1.530 - Rp 1.681 per kg dari sebelumnya Rp1.700 - Rp1.800 per kg.

Harga diperkirakan akan turun lagi kalau nyatanya ekspor tertekan, padahal seharusnya saat musim trek atau kering seperti dewasa ini yang membuat produksi menurun, harga TBS mahal.

BK CPO yang dibebankan kepada pengusaha, kata dia, berimbas langsung ke petani karena pengusaha juga menurunkan harga belinya.

Sementara, dana BK yang dikutip pemerintah itu, nyatanya tidak juga bisa dinikmati petani atau pemerintah daerah penghasil sawit tersebut yang ditandai infrastruktur seperti jalan yang sangat jelek dari dan ke daerah sentra produksi sawit.

Sekretaris Umum Apkasindo Sumut, Gus Dalhari Harahap, menambahkan, harga sawit petani semakin murah karena biaya produksi seperti ongkos angkut menjadi lebih mahal.

Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksamana Adiyaksa, mengatakan, Gapki menilai kenaikan BK CPO menjadi 20 persen untuk pengiriman Juli mendatang tidak fair.

Keberatan itu juga, kata dia, sudah dilontarkan Gapki Pusat. Pemerintah, kata dia, selalu berpatokan hanya pada kenaikan harga sawit di pasar internasional dan langsung menaikkan BK dengan struktur yang progresif pula. (Ant)

Berita Pertanian : Kopi Arabika Toraja Berlabel Brasil

MAKASSAR. Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang mengaku menemukan kopi Arabika yang diproduksi petani di Tana Toraja memakai label brasil. Dia sangat menyayangkan kejadian tersebut.

Agus pun mengatakan, hal itu terjadi karena minimnya dukungan pemerintah pusat pada komoditas kopi Arabika Sulsel. "Padahal komoditas ini memiliki prospek pasar yang sangat bagus tetapi tidak didukung oleh pemerintah pusat sehingga brand-nya memakai negara lain," kata Agus.

Menurut dia, permasalahan yang dihadapi saat ini, yakni minimnya kemampuan pengusaha untuk membangun industri pengolahan kopi berskala besar. Meskipun sudah ada yang mengolah, namun masih dalam skala rumah tangga.

Atas kejadian tersebut, Agus mengaku, pemerintah Sulsel tengah menjajaki kerja sama dengan industri kopi besar di luar Sulsel, untuk mengolah kopi Toraja dan menetapkan branding.

Duta Besar Indonesia untuk Polandia, Hazairin Pohan, yang hadir dalam Seminar Pemanfaatan ASEAN dalam Pemasaran Kopi di Indonesia yang digelar di Hotel Santika, Kamis 23 Juni, mengungkapkan, on farm atau hulu, Indonesia memiliki potensi pertanian yang cukup besar dibanding negara lainnya di ASEAN.

Hanya saja, keunggulan tersebut diakui belum dapat dimanfaatkan secara optimal. "Jika tidak diantisipasi,maka pasar bebas ASEAN akan merugikan pengusaha dalam negeri," kata Hazairin.

Salah satu cara mengatasinya tentu saja harus bisa menjalin kerja sama dengan negara lain yang memiliki kemampuan lebih sebagai mitra kerja atau joint marketing. Di satu sisi, pemerintah perlu memperbaiki kinerja sektor perdagangannya dengan mendorong pengusaha meningkatkan kemampuannya dalam mengelola produk pertanian.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan Sulsel, Burhanuddin Mustafa mengaku pengembangan kopi di Sulsel mengalami banyak terkendala salah satunya, kini banyaknya petani beralih menanam komoditas lain.

Di sejumlah kabupaten yang sebelum adalah sentra pengembangan kopi arabika, seperti Toraja Utara, Luwu Utara, Enrekang, dan Luwu banyak petani yang lebih memilih mengembangkan komiditas lainnya seperti nilam.

Menyusul, membaiknya harga jual komoditas tersebut. Pemerintah Sulsel mengaku, pihaknya tidak dapat memaksa petani untuk tetap mengembangkan kopi, meskipun telah disiapkan benih gratis. Dalam UU No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, petani memiliki hak prerogatif untuk memanfaatkan lahannya.

"Kita sudah menyalurkan bantuan benih kopi sebanyak 430 ribu pohon, kurang lebih 230 ribu pohon diantaranya merupakan benih kopi jenis Arabika. Sisanya, benih kopi jenis Robusta yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat," kata Burhanuddin.

Dia menambahkan, bantuan benih kopi tersebut akan ditanam pada areal pengembangan kopi seluas 430 hektare di Tana Toraja, Sinjai, Enrekang, Luwu, dan sejumlah kabupaten lainnya. Dia berharap program tersebut bisa berjalan baik.

Mengenai target produksi, tahun ini, pihaknya mematok 37 ribu ton. Angka ini lebih besar dibanding tahun sebelumnya yang hanya 25 ribu ton.